Friday, December 2, 2016

11th Spiral: End of Dream



“Kalau kau membaca surat ini, itu artinya kau tahu ini adalah saat yang tepat untuk membaca pesan terakhir, sekaligus satu-satunya bantuan yang bisa kuberikan untuk membalas jasa-jasamu. Tidak perlu bersedih atau merasa bersalah. Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku tahu kalau akhir hidupku sudah dekat dan aku tahu kau akan membutuhkan bantuanku di saat aku sudah tidak lagi bisa membantumu secara langsung.
Saat ini kau pasti sedang bingung karena tiba-tiba saja kau terbangun dan mendapati dirimu sedang berdiri di peron kereta api yang berada di tengah hutan rimba. Tidak perlu takut. Tidak lama setelah kau selesai membaca pesanku, sebuah kereta uap akan datang dan menawarkan tumpangan. Berikan karcis yang ada di saku kanan celanamu kepada sang kondektur, kemudian naiklah ke dalam kereta, lalu kau akan sampai di tempat tujuanmu selanjutnya.
Aku tahu ini membingungkan. Aku tahu kau juga ketakutan. Tapi percayalah, kau tidak pernah sendirian dan bantuan akan datang pada saatnya nanti. Tapi untuk saat ini, menolehlah ke kiri, dan kau akan mendapati kereta yang akan kau tumpangi sudah tiba.”
Aku berhenti membaca, kemudian menoleh ke kiri. Tepat seperti yang tertulis di surat aneh yang sedang kubaca ini, sebuah kereta yang ditarik oleh lokomotif uap kuno melaju cepat menghampiri peron kereta tempatku berdiri sekarang. Asap putih tebal mengepul dari dua cerobong asap, sementara suara deru nyaring terdengar mengiringi lajunya. Sekilas pandang, kereta api kuno itu terlihat begitu menakjubkan, apalagi karena dia melaju di atas rel yang diapit oleh pepohonan dan semak belukar.
“Yang benar saja ...”
Dengan diiringi suara berderit nyaring yang menyakitkan telinga, kereta api kuno itu berhenti di depan peron stasiun tempatku berdiri. Dari dekat, kendaraan tua ini terlihat lebih menakjubkan, sekaligus menakutkan.
Selama beberapa saat aku memandangi lokomotif dan gerbong yang sepertinya berasal dari jaman perang dunia kedua itu. Sepintas rasanya tidak ada yang aneh dengan kereta kuno ini, kecuali fakta bahwa tidak ada seorang pun di dalamnya. Gerbong-gerbong dan juga ruang masinisnya kosong. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia di dalam kereta antik ini. Meskipun demikian, seluruh bagian kereta api yang menunggu dengan sabar di depanku ini tampak bersih dan sangat terawat.
Aku menelan ludahku.
Tentu saja sebagai orang normal yang masih waras, aku tidak mau naik ke atas kereta hantu yang entah muncul dari mana dan entah akan ke mana ini. Tapi kalau mengingat satu-satunya petunjuk yang kupunya menyuruhku untuk naik kereta ini, aku tidak punya pilihan lain. Lagi pula aku bisa mempercayai petunjuk yang dulu kuterima dari cucu seorang nenek berpenglihatan gaib. Rasanya tidak akan mencelakakanku dengan petunjuknya.
Sambil berharap ini tidak akan berakhir buruk, aku melangkahkan kaki memasuki salah satu gerbong yang berada di tengah rangkaian. Namun begitu aku naik, semuanya berubah dalam sekejap mata.

Monday, August 29, 2016

10th Spiral: Primordial Beats



Ketika aku mengendarai motorku menyusuri sudut-sudut kota Jakarta, aku menyadari kalau tidak banyak orang yang mengingat kalau kota ini sudah sangat tua. Maklum saja, kemegahan gedung-gedung pencakar langit, barisan kendaraan bermotor di jalanan, serta semua ingar-bingar kehidupan modern telah menutupi usianya yang sesungguhnya. Laju kehidupan yang begitu cepat dan tak kenal ampun juga membuat orang jarang berhenti dan memikirkan masa lalu ibukota Indonesia ini.
Biarpun begitu, tapi setidaknya kota yang menjadi ibukota negara Indonesia ini sekarang sudah berusia lebih dari empat ratus delapan puluh tahun. Usia yang sangat tua bagi ukuran manusia, tapi masih begitu muda bagi kota ini. Hanya saja, terkadang aku merasa kalau itu bukan usianya yang sesungguhnya. Kota ini, bukan, seluruh wilayah ini jauh, jauh lebih tua dari seluruh peradaban manusia.
Sayang tidak banyak yang menyadari soal itu.
Ah, tapi itu tidak penting sekarang. Soalnya yang penting adalah setiap kali kota ini merayakan ulang tahunnya, selalu ada kemeriahan yang berbeda dari biasanya. Berbagai acara menarik diadakan bergantian selama satu bulan ini, mulai dari pagelaran seni, pentas artis terkenal, bazar besar, dan berbagai acara meriah lainnya.
Tapi tahun ini agak berbeda, pemerintah kota menyatakan akan mengadakan pawai pada hari kelahiran kota Jakarta, yang jatuh pada tanggal 22 Juni. Dari selebaran yang beredar, pawai itu akan dimeriahkan dengan panggung berjalan dan kendaraan hias.
Yang jelas, acara pawai itu pasti menarik sekali untuk disaksikan. Soalnya jarang-jarang ada acara semacam ini di kota Jakarta. Iring-iringan kendaraan yang dihias dengan berbagai ornamen unik, lampu-lampu berwarna-warni, dan tentu juga atraksi lain pastinya tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Itu sebabnya aku sekarang berkendara melintasi jalanan yang padat kendaraan menuju pusat kota Jakarta. Walaupun harusnya pada jam-jam ini aku sudah mengendarai partner tuaku kembali ke rumah, tapi hari ini berbeda. Demi menyaksikan pawai –yang digaungkan sebagai pawai terheboh se-Asia Tenggara itu– aku sampai bersedia bermacet-macet ria di waktu rush-hour kedua ini.
Sialnya terlalu banyak warga yang juga antusias untuk menyaksikan acara pawai itu, sehingga jalanan yang biasanya macet, sekarang jadi luar biasa macet. Soalnya aku sudah duduk diam di atas motorku selama kurang lebih lima belas menit, tanpa bergerak sama sekali. Kalau dari perhitunganku, rasanya aku tidak akan bergerak banyak selama satu-dua jam ke depan.
Itu kalau aku pengendara motor biasa.
Sebagai kurir, aku sudah terbiasa mengatasi kemacetan yang menggila seperti ini, dan kebetulan hari ini aku terjebak kemacetan di jalanan yang sudah sangat akrab denganku. Sehingga tidak lama kemudian aku sudah melaju lagi menyusuri lorong dan gang-gang tikus yang tersebar bagai labirin di sudut dan sela-sela kota Jakarta. Salah satu keuntungan mengendarai motor kecil seperti partner tuaku ini adalah kemampuannya menyusup ke jalan-jalan kecil untuk menghindari kemacetan parah di jalan utama.
Yah ... walau kuakui kadang itu juga tidak selalu berhasil. Soalnya kadang aku benar-benar terjebak di tengah daerah yang tidak memiliki jalan pintas sama sekali. Kalau sudah begitu sih tidak ada jalan lain kecuali bersabar menghadapi kemacetan yang semakin parah setiap tahunnya ini.
Tapi itu cerita lain.
Pokoknya sekarang aku sudah terbebas dari kemacetan dan dari perhitunganku, aku akan sampai di Kota Tua dalam waktu kurang dari setengah jam saja. Tepat sebelum pawai dimulai.
Sesuai perhitunganku, aku sudah berhasil mencapai kawasan kota Jakarta yang dipenuhi oleh bangunan kuno dari jaman kolonial Belanda itu. Sesuai dugaanku juga, tempat itu sudah dipenuhi oleh warga yang juga ingin menyaksikan keberangkatan arak-arakan pawai yang titik mulanya ada di alun-alun Kota Tua. Ratusan –atau mungkin ribuan warga– sudah berkumpul berdesakan dan berusaha untuk mendapatkan tempat terbaik untuk menyaksikan pawai.
Sialnya aku terlambat dan yang bisa kulihat di depanku adalah dinding manusia yang berlapis-lapis. Aku sama sekali tidak bisa melihat jalanan di depan, apalagi iring-iringan pawai yang sepertinya mulai bergerak. Hanya sesekali aku melihat melalui celah dinding manusia di depanku dan melihat berbagai kendaraan yang dihias dengan meriah.
Suara musik yang nyaring, lampu-lampu yang bersinar kelap-kelip, serta sorak-sorai warga tiba-tiba saja mengiringi pergerakan iring-iringan pawai ulang tahun kota Jakarta. Sayangnya aku hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat dengan jelas.
“Sial, kalau begini sih ngapain aku tadi capek-capek datang ke sini?”  
Aku menggerutu sambil melangkah mundur, bersiap untuk pulang ke rumah dengan perasaan kecewa.
Tapi kemudian aku mendengar suara-suara itu.
Suara dentam gendang.
Suara gemerencing tamborin.
Suara gesekan biola bernada tinggi.
Suara berat Tuba yang menggetarkan dada
Suara denting gamelan yang bening dan jernih.
Ketika mendengarkan suara-suara bernada khas itu, aku langsung mengenali itu sebagai alunan musik khas Betawi. Meskipun kombinasi alat musik yang dimainkan terdengar janggal, namun alunan nadanya begitu khas sehingga aku tidak mungkin salah mengenali jenis musik yang sedang dimainkan itu.
Anehnya, berbeda dengan suara-suara dari panggung bergerak di pawai meriah yang menggelegar nyaris memekakkan telinga, suara-suara yang kudengar itu jauh lebih halus, lembut, jernih, dan murni. Entah bagaimana caranya, suara-suara itu berhasil mengalahkan suara ingar-bingar dari pawai di jalanan.
Karena penasaran, aku pun langsung menutup mata dan mendengarkan dengan seksama. Untungnya suara musik Betawi tadi masih terdengar cukup jelas dan aku tahu dari mana asalnya. Tanpa memperdulikan pawai yang masih terus bergerak dengan iringan kemeriahannya, aku menghidupkan mesin motor tuaku, kemudian melaju ke arah datangnya suara musik yang kudengar.
Untungnya karena keramaian sedang benar-benar terpusat di kawasan Kota Tua dan jalan Raden Saleh yang dijadikan rute utama pawai, jalanan lain ke arah utara kota Jakarta jadi benar-benar sepi. Sama sekali tidak ada kemacetan atau antrian kendaraan saat aku melintasi jalanan berliku di sekitar Kota Tua.
Walaupun kalau jalanan sepi begini suasananya jadi menakutkan, tapi untuk saat ini aku tidak terlalu peduli dan bahkan bersyukur. Soalnya aku tidak perlu berhadapan dengan kepadatan yang sehari-hari menyapaku di tengah kota Jakarta. Berkat itu, tidak butuh waktu lama bagiku untuk bisa menemukan sumber suara orkes tradisional yang kudengar tadi.
Hanya saja asal datangnya suara sama sekali tidak kuperkirakan sebelumnya.

Sunday, March 27, 2016

Everyday Adventure XII: Mother



Everyday Adventure XII
(Mother)

Kalau ada satu hal yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun yang pernah berkunjung ke kota Bravaga, pastinya itu adalah sebuah menara tinggi besar yang berdiri tepat di pusat kota.
Central Tower.
Menara yang sekaligus menjadi jantung kehidupan kota Bravaga adalah salah satu karya terakhir dari ras manusia yang sudah lama punah akibat Catastrophy. Menara tinggi yang menantang langit itu adalah bukan hanya sekedar sebuah monumen. Jauh di dasar bangunan megah itu, terdapat sebuah pabrik canggih yang dikendalikan oleh sebuah kecerdasan buatan yang disebut oleh warganya dengan panggilan: Mother.
Tentu saja nama itu bukan hanya sekedar panggilan sayang dari warga kota, nama itu juga menunjukkan bahwa Mother adalah ibu dari sebagian besar robot berteknologi Cyberbrain yang hidup di Bravaga. Pasalnya banyak robot yang tinggal di kota itu merupakan generasi lama yang dibangkitkan kembali, diperbaiki, atau bahkan dibuat ulang oleh Mother. Itu belum ditambah fakta bahwa Mother juga ‘melahirkan’ robot-robot generasi baru yang memiliki bentuk lebih mirip manusia.
Salah satunya adalah Maria, walau ada beberapa warga yang sering bertanya-tanya apakah Mother sebenarnya melakukan kesalahan saat mendesain gynoid itu. Pasalnya dari sekian banyak robot yang tinggal di Bravaga, hanya Maria yang secara rutin membuat onar. Mulai dari sesuatu yang sepele, seperti mencuri baterai Sol, sampai yang lebih serius seperti saat dia tidak sengaja mematikan suplai energi ke setengah bagian kota Bravaga. Kalau sudah begitu, biasanya Ryouta akan sibuk mengejar atau menyelamatkan Maria dari masalah yang ditimbulkannya sendiri. 
Tapi tidak untuk kali ini. Soalnya saat ini Maria sedang berada di dalam Central Tower. Meskipun senang membuat onar, setidaknya gynoid itu tahu kalau di tempat ini dia sama sekali tidak boleh iseng. Masalahnya, Central Tower jauh lebih berharga daripada sekedar ladang energi Sol yang pernah dia kacaukan beberapa waktu lalu. Bisa dibilang kalau menara tinggi di pusat Bravaga merupakan ‘nyawa’ bagi kota para robot itu.
“Sudah siap?”
Kakek Tesla, sebuah robot berwujud mirip kelabang raksasa bertanya pada Ryouta yang sedang berbaring di atas dipan. Sementara itu Maria memperhatikan temannya itu dari balik tembok kaca tebal yang menghalanginya masuk ke dalam ruang perawatan. Kedua mata gynoid berambut hitam itu tampak memancarkan rasa ingin tahu. Meskipun dia sudah sering melihat Ryouta diperbaiki oleh Mother, dia tetap saja bersemangat menyaksikan aksi ibu dari para robot kota Bravaga itu. Sementara itu, Buggy asyik bertengger di atas kepala Maria. Robot dengan wujud mirip kecoak raksasa itu ikut memperhatikan sosok Ryouta yang sedang bersiap untuk menerima perbaikan dari Mother.
“Siap.”
Ryouta menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
“Seperti biasa, aku akan mematikan sebagian besar sistemmu selagi Mother bekerja.” Kakek Tesla bicara lagi, kali ini sambil menghadap ke arah layar-layar monitor holografis yang melayang di sekitarnya. “Kau tidak keberatan kan?”
Ryouta menggelengkan kepalanya. Memang sudah begitu prosedurnya. Setiap robot yang menerima perbaikan besar akan dimatikan sementara selagi tubuh mereka diperiksa dan dibongkar oleh Mother. Namun anehnya, beberapa robot mengaku mereka seolah bermimpi saat sistem tubuh dan Cyberbrain mereka dimatikan, dan Ryouta adalah salah satunya.
“Berapa lama aku akan tidur?” tanya Ryouta, dia lalu melirik dengan gelisah ke arah Maria yang balas menatapnya dengan mata berbinar-binar. “Soalnya kalau melihat ekspresi wajah Maria yang seperti itu, aku jadi tidak tenang.”
Kakek Tesla ikut melirik ke arah Maria, kemudian tertawa lepas.
“Kau tidak perlu khawatir. Maria tahu pasti kok kalau dia tidak boleh macam-macam di Central Tower ini. Lagipula ada Buggy,” ujar Kakek Tesla dengan nada geli. “Baiklah, aku mulai sekarang ya.”
Seiring dengan ucapannya, Kakek Tesla mengetikkan beberapa perintah di layar holografisnya dan tidak lama kemudian, Ryouta pun sudah ‘tertidur’ pulas. Begitu bekas mesin perang itu sudah tidak sadarkan diri, panel-panel lantai di sekitar dipan tempatnya berbaring pun terbuka. Lengan-lengan mekanik dengan berbagai bentuk dan ukuran muncul dan mulai bekerja dengan kecepatan dan ketepatan yang mengagumkan.
Tidak lama kemudian, pelat-pelat pelindung tebal yang terbuat dari logam bercampur nanotech-carbon di tubuh Ryouta sudah dijajarkan dengan rapih di atas lantai. Kini mesin-mesin canggih di dalam tubuh mantan Guardia itu pun bisa terlihat dengan jelas. Satu bagian yang paling menonjol di antara mesin-mesin lain di tubuh Ryouta tentu saja adalah reaktor nuklir mini yang berada di tengah dadanya. Berbeda dengan sebagian besar robot yang tinggal di kota Bravaga, Ryouta adalah satu dari sedikit robot dari zaman sebelum Catastrophy yang masih menggunakan reaktor nuklir sebagai sumber energi, alih-alih baterai atau generator Sol.
“Tidak peduli berapa kali pun kulihat, tubuh Ryouta itu memang menakjubkan ya.” Maria berkomentar pada Buggy yang bertengger di atas kepalanya. “Apa semua robot generasi lama itu sama hebatnya dengan Ryouta?”
“Tidak juga. Soalnya dia itu spesial,” balas Buggy sambil ganti bertengger di pundak kiri Maria. “Tapi generasi baru sepertimu itu juga tidak kalah hebat kok. Kata Mother sih kalian punya cyberbrain yang lebih bagus dari kami.”
Maria tersenyum mendengar ucapan Buggy. Dia memang pernah mendengar jawaban seperti itu waktu dia bertanya pada kakek Tesla dan Mother. Tapi Maria jadi makin bertanya-tanya ... sebenarnya apa yang membedakan dirinya dengan robot-robot yang diciptakan pada era sebelum Catastrophy?

****