Monday, August 31, 2015

5th Spiral: Midnight Ship



Kata orang hujan itu membawa berkah.
Kurasa sih begitu ... kalau turunnya di tempat lain, bukan di Jakarta. Di kota Megapolitan ini hujan lebat selama beberapa jam berturut-turut tidak pernah gagal membawa masalah.
Air yang tumpah dari langit, tidak bisa lagi ditahan oleh aliran sungai yang menyempit dan tergusur oleh megahnya bangunan-bangunan kota Jakarta. Lahan-lahan hijau yang dulunya berfungsi bagaikan spons, kini sudah tertutup oleh lapisan aspal dan beton tebal. Pohon-pohon yang dengan senang hati menyerap kelebihan air, sudah lama sekali hilang dan digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit.
Tentu saja akibatnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi.
Banjir.
Hampir setiap beberapa tahun sekali Jakarta selalu lumpuh akibat banjir yang melanda sebagian besar wilayahnya. Genangan air yang bertahan berhari-hari di berbagai sudut kota seolah mengingatkan penduduknya akan wujud asli kota ini sebelum manusia datang. Aliran sungai-sungai yang telah lama hilang dan terlupakan, kini seolah terbangun dari tidurnya dan kembali mengalir dengan penuh semangat melintasi sudut-sudut kota Jakarta.
Pada masa-masa seperti ini, alam seolah-olah kembali berkuasa menyingkirkan pengaruh manusia dari kota terbesar di Indonesia itu. Dalam beberapa hari selanjutnya, air adalah penguasa kota Jakarta, bukan lagi manusia.
Biasanya sih kalau banjir melanda seperti ini, aku akan santai-santai saja. Kebetulan aku tinggal di wilayah Bekasi yang posisinya agak tinggi, sehingga nyaris bebas banjir. Kalaupun air menggenangi jalan, tidak pernah sampai masuk ke rumah kos dan tidak pernah sampai bertahan lebih dari sehari.
Biasanya sih begitu. Tapi kali ini lain.
Entah karena nasib buruk atau apa, pagi itu aku masih berusaha mengantar sebuah paket kilat khusus yang katanya ‘urgent’ ke salah satu klienku di pusat kota. Tapi sayangnya aku tidak tahu kalau hari ini adalah hari di mana kota Jakarta kembali tergenang banjir. Tadinya kupikir hujan di pagi hari akan berhenti di siang hari. Tapi sampai tengah hari ini hujannya masih saja deras dan air dengan cepat menggenangi jalanan. Jalan raya yang baru beberapa menit yang lalu masih terlihat, kini sudah tertutup oleh genangan air yang semakin meninggi.
Tidak usah ditanya lagi, aku dan puluhan karyawan di kantor klienku akhirnya terjebak banjir yang dengan cepat mengepung gedung tempat kami berada saat ini. Sialnya karena genangannya sudah terlalu tinggi, aku tidak mungkin menerobos banjir untuk pulang ke rumah. Soalnya mesin motorku pasti mati karena kemasukan air. Belum lagi beberapa jalur pulangku melintasi kawasan rawan banjir dan dekat dengan aliran sungai besar. Kalau nekat, bisa-bisa aku terseret arus banjir dan jadi makanan ikan di Teluk Jakarta sana.
“Lupakan saja. Kalau sudah begini bisa berhari-hari sampai airnya surut. Kita beruntung kalau ada tim SAR atau TNI yang datang dengan kapal karet.”
Salah seorang pegawai kantor klienku menepuk pundakku. Dia sepertinya mengira kalau aku berniat untuk menembus banjir yang mengepung kami. Tentu saja aku tidak sebodoh, atau senekat itu. Genangan air di sekitar kantor tempatku berada terlihat semakin tinggi. Aku juga yakin kalau arus aliran banjir sekarang sudah cukup kencang di beberapa jalur yang harus kutempuh untuk pulang. Itu belum ditambah fakta bahwa matahari pastinya sudah lama terbenam, bahkan sebelum aku setengah jalan sampai ke rumah.
Menembus genangan banjir kota Jakarta di malam hari tentu saja merupakan tindakan bunuh diri.
Jadi karena sudah tidak punya pilihan lain, aku pun akhirnya menunggu bantuan datang bersama para karyawan lainnya. Tidak banyak yang bisa kami lakukan sekarang, terlebih lagi kini aliran listrik sudah padam. Walaupun kami jadi terpaksa duduk dalam kegelapan, itu harusnya lebih aman daripada tersengat listrik gara-gara banjir yang menggenangi lantai dasar.
Karena tidak banyak yang bisa dilakukan, kami akhirnya hanya mengobrol soal berbagai macam hal. Aku tadinya ingin menceritakan sebagian pengalaman aneh yang pernah kualami, tapi kurasa waktunya tidak tepat. Pendengarnya juga tidak tepat. Kalau aku mulai bercerita, bisa-bisa aku dikira orang sinting dan ditendang keluar dari gedung. Tentu saja itu hal terakhir yang kuinginkan sekarang ini.
Jadi aku memilih untuk diam dan duduk tenang di pojok ruangan.

 ****

Tuesday, August 25, 2015

Extra Adventure II: Piece of Memory



Sejauh mata memandang, yang bisa dilihat Celes hanyalah deretan pepohonan dan semak belukar yang tumbuh lebat di antara reruntuhan bangunan. Kedua matanya yang berwarna keemasan dengan seksama meneliti kondisi sekitarnya, sementara kedua telinganya yang tajam selalu siaga untuk mendeteksi bahaya yang mendekat. Wajar saja dia bersikap siaga, sebab di dalam hutan reruntuhan kota semacam ini, sering kali berdiam makhluk-makhluk buas yang muncul sebagai efek samping Catastrophy yang terjadi lebih dari 600 tahun lalu.
Sejak bencana misterius itu terjadi, dunia yang dikenal Celes berubah drastis.
Manusia yang dulu menguasai Bumi, kini musnah tanpa sebab yang jelas. Tidak banyak yang tersisa dari mereka, kecuali bekas-bekas kejayaan mereka di masa lalu. Beberapa bekas kejayaan itu tetap hidup dan membuat sebuah kota besar di sisi lain benua ini. Sisanya hidup tersebar sebagai mutan dan robot liar yang berbahaya.
“Ketemu enggak?”
Celes menoleh ke arah gadis kecil bertelinga dan berekor mirip rubah yang berdiri di sampingnya. Gadis itu tampak mengenakan pakaian sederhana, kontras sekali dengan set pakaian petualang yang dikenakan oleh Celes.
“Harusnya ada di sekitar sini,” balas Celes. “Kau menemukan sesuatu, Pekoe?”
Gadis yang bernama Pekoe itu menggelengkan kepalanya.
“Enggak,” balasnya. Dia lalu menunjuk ke arah kantung jaket yang dikenakan Celes. “Kompasnya bilang apa?”
Celes merogoh ke dalam saku jaket yang dia kenakan, kemudian mengeluarkan sebuah benda logam berbentuk pipih. Dengan satu sentuhan ringan, benda di tangan Celes itu terbuka dan mengeluarkan hologram anak panah disertai suara senandung ringan. Melodi merdu itu langsung mengisi kesunyian yang menggantung di sekitar Celes dan Pekoe. Suara dari kompas milik Celes itu terpantul di reruntuhan bangunan dan pepohonan, sehingga seolah-olah kota kuno itu ikut bernyanyi mengikuti alunan melodi.
Sambil mendengarkan suara senandung itu, Celes menutup matanya.
Saat melakukan itu, Celes seolah-olah berpindah ke dunia lain. Reruntuhan kota yang ada di sekelilingnya menghilang begitu saja, kemudian digantikan oleh pemandangan sebuah kota Megapolitan yang dulu pernah berdiri megah di tempat ini. Deretan pepohonan di sekeliling Celes kini berubah menjadi gedung-gedung tinggi yang menjulang menantang langit. Tidak hanya itu, kesunyian reruntuhan kota kini berganti dengan sibuknya sebuah pusat kota, lengkap dengan kerumunan orang yang berjalan lalu-lalang.

Thursday, August 13, 2015

Everyday Adventure X


Everyday Adventure X
(Sahabat)

Buggy merayap melintasi jaringan pipa-pipa logam yang terbentang sepanjang puluhan kilometer di bawah kota Bravaga. Robot dengan wujud mirip kecoa raksasa itu sesekali berhenti dan memeriksa kondisi kabel serat optik yang berada tepat di tengah pipa logam yang sedang dia jelajahi. Beberapa kali dia juga sempat memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil yang mulai terlihat di jaringan kabel yang sudah berumur ratusan tahun itu.
Sebagai robot yang dirancang untuk melakukan perbaikan di area yang sulit dijangkau robot lainnya, setiap beberapa hari sekali Buggy dan teman-temannya melakukan penjelajahan menembus labirin pipa dan terowongan di bawah kota Bravaga. Meskipun tugasnya terkesan sepele, tapi kerusakan-kerusakan kecil di jaringan pipa seperti ini dapat berakibat fatal. Bayangkan saja bila kerusakan itu terjadi di jaringan pipa energi. Kalau tidak segera diperbaiki, bisa-bisa kerusakan kecil itu kelak akan menimbulkan masalah besar.
“Buggy, sudah selesai dengan sektor E-137?”
Buggy menoleh dan melihat sebuah robot serangga merayap menghampirinya. Berbeda dengan dirinya yang berwujud mirip kecoa raksasa, robot yang satu ini berwujud mirip laba-laba raksasa bertubuh hitam, lengkap dengan lukisan tengkorak merah di atas perutnya.
“Belum. Nanti kukerjakan habis yang ini,” sahut Buggy. “Kau sendiri gimana, Nigel?
“He he he... kalau aku sih sudah selesai,” balas Nigel sambil memainkan beberapa buah sekrup kecil dengan kaki-kakinya. “Jadi sekarang aku boleh pulang duluan kan?”
Buggy menepuk kepala Nigel dengan satu kakinya.
“Ya udah, pulang sana! Jangan lupa kasih salam pada Rover dan Surkesh kalau ketemu mereka ya~!” Buggy berkomentar sambil mendorong Nigel menjauh darinya. “Nah, sekarang jangan ganggu aku lagi ya, nanti kerjaanku ini enggak selesai – selesai nih.”
“Siap, bos~!” Nigel menyahut sambil merayap pergi melewati salah satu terowongan di atas Buggy. Tidak lama kemudian, sosok robot bekas serdadu perang kimia itu sudah menghilang di kegelapan sana. Tinggallah Buggy sendirian yang masih saja sibuk menyambungkan beberapa kabel serat optik yang terputus, entah karena apa.
Sejenak Buggy berhenti bekerja dan menarik nafas panjang. Dia ingin segera menyelesaikan tugasnya secepat mungkin. Walaupun hari masih siang, tapi dia tidak mau berlama-lama berada di bawah tanah seperti ini. Soalnya dia sudah janji pada Maria untuk bertemu di perpustakaan kuno kota Bravaga.
Beberapa waktu lalu, Maria dan Ryouta pergi menemui Ganymedes untuk mengantarkan pesanan Automa di dalam pesawat penjelajah angkasa itu. Ketika pulang, Maria langsung menceritakan semua yang dialaminya pada Buggy, kemudian memintanya untuk membantu mencari semua buku-buku tua yang berhubungan dengan sejarah perjalanan luar angkasa ras manusia.
Tentu saja itu membuat Buggy jadi semakin bersemangat. Sebenarnya sejak Maria menemukan perpustakaan kuno di salah satu sudut kota Bravaga, dia jadi lebih kalem dan banyak menghabiskan hari-harinya bersama Trisha sang penjaga perpustakaan. Sebenarnya memang bagus kalau gynoid itu mulai berhenti membuat masalah, tapi diam-diam Buggy merindukan saat-saat ketika dirinya dan Maria membuat onar bersama-sama. Meskipun tahu tindakan mereka itu tidak baik, Buggy menyukai sensasi mendebarkan yang membuat generator tubuhnya berdentum-dentum penuh semangat.
Ah, ayo kerja biar cepat selesai dan cepat main! Seru Buggy dalam hati.
Dia lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya secepat dan secermat yang dia bisa. Kaki-kaki Buggy bergerak cepat selagi dia menyambungkan serat demi serat kabel yang putus dengan ketepatan tinggi. Hanya butuh beberapa menit baginya untuk menyelesaikan tugas itu.
“Nah, sekarang tinggal pergi ke sektor E-137, mengecek pipa energi Sol di sana, terus pulang deh~!”
Buggy berseru gembira pada dirinya sendiri. Dia lalu bergegas merayap menuju lokasi pekerjaan selanjutnya. Namun belum jauh dia pergi, tiba-tiba seluruh terowongan tempatnya berada mulai bergetar. Awalnya pelan, namun beberapa detik kemudian getaran itu berubah menjadi begitu dahsyat, sehingga langit-langit terowongan mulai runtuh.
Tanpa basa-basi, Buggy menerjang maju dan mengaktifkan mesin terbangnya. Dia tidak peduli meskipun tubuhnya berkali-kali terbentur dan jungkir balik, yang penting dia bisa segera keluar dari dalam terowongan ini. Tubuh robot kecoa itu melesat cepat di dalam terowongan sempit, namun tiba-tiba saja Buggy merasa ada sesuatu yang membentur tubuhnya. Dia pun terpelanting keras dan langsung tidak sadarkan diri.

****

Friday, August 7, 2015

4th Spiral: Forgotten Scenery



“Jadi kau bilang kalau ikan peliharaanmu bisa bicara?”
“Yap.”
“Dan kau melihat pemandangan alam kota Bekasi sebelum jadi pemukiman padat penduduk seperti ini?”
“Yap.”
“Dan kau pikir kau masih waras?”
“Tentu saja. Kalau tidak aku pasti sudah berkeliaran bersama puluhan pasien sakit jiwa lainnya di RSJ sana.”
“Orang gila biasanya tidak merasa kalau dia gila kan?”
Aku menepuk pundak pria berambut cepak di sampingku. Namanya Irvan dan kami berdua bekerja di bawah perusahaan yang sama, perusahaan kurir kilat khusus yang beroperasi di sekitar kota Jakarta. Aku mengenalnya sejak pertama kali aku bekerja di perusahaan, dan itu tiga tahun yang lalu. Dan sejauh yang kutahu, Irvan adalah orang yang masih mau mendengarkan ceritaku dengan (agak) sedikit sabar ... meskipun dia tidak pernah berhenti mempertanyakan tingkat kewarasanku.
Seperti sekarang misalnya.
“Aku yakin aku tidak bermimpi. Dan kau boleh lihat ikan hitam yang kuterima dari kakek misterius di pinggiran BKT waktu itu.”
“Tidak terima kasih,” sahutnya sambil nyengir lebar. “Ngomong-ngomong ke mana kita sekarang?"
Aku membuka komputer tablet yang sedari tadi kupegang untuk bernavigasi di tengah keruwetan kota Jakarta ini. Saat ini kami berdua sedang mengantar beberapa buah paket yang dipesan oleh perusahaan IT di pinggiran kota Jakarta. Masalahnya alamat yang kami tuju berada di luar wilayah operasi normal kami berdua, jadi wajar saja kalau kami tidak begitu tahu jalan mana yang harus ditempuh.
Dulu pastinya sulit sekali bagi seorang kurir untuk mencari alamat tujuan di tengah kekacauan kota seperti ini, tapi sekarang mudah saja. Hanya tinggal beberapa sentuhan di layar ponsel atau tablet, maka alamat tujuan ku langsung muncul dalam waktu nyaris seketika, lengkap dengan detail jalur tercepat yang bisa dilalui.
Sungguh praktis sekali.
Viva revolusi teknologi!

Monday, August 3, 2015

3rd Spiral: Beyond The Coffee Taste



Sore hari.
Matahari baru saja terbenam dan hari pun mulai gelap, namun itu semua tidak menghentikan derap kehidupan yang nyaris tanpa henti di kota Jakarta. Teriknya sinar matahari yang telah menghilang, dengan sigap telah digantikan oleh gemerlap lampu-lampu kota yang terkadang kelewat terang, hingga mengalahkan cahaya dingin bulan purnama di atas sana. Itu belum ditambah dengan sinar lampu ratusan –kalau tidak ribuan– kendaraan yang terjebak macet di hampir sebagian besar jalanan ibukota. Bagaikan barisan kunang-kunang, kendaraan dengan berbagai jenis memadati jalanan dan bergerak perlahan, nyaris dengan ritme lambat yang teratur.
Rush hour kedua.
Saat di mana warga yang sebagian besar tinggal di kota-kota satelit sekitar Jakarta, berjuang untuk bisa kembali ke rumah masing-masing sebelum larut malam. Saat di mana banyak dari mereka harus menempuh berjam-jam perjalanan penuh kemacetan sebelum akhirnya bisa kembali ke rumah masing-masing.
Biasanya sih aku juga jadi bagian dari iring-iringan malam di jalanan kota, tapi hari ini agak sedikit berbeda. Di hari-hari biasa kalau sudah jam segini, aku akan berkendara di atas partner tuaku sambil sesekali menggerutu karena terjebak macet yang rasanya semakin parah tiap tahunnya.
Biasanya begitu ... tapi tidak untuk sore ini.
“Baiklah. Di mana aku sekarang?”
Aku duduk di atas motorku sambil memandang ke sekeliling, kemudian ke arah smartphone tua yang baru saja kehabisan baterai pada saat yang sangat tidak tepat. Ponsel pintar yang sudah berumur beberapa tahun itu hampir selalu sukses mematikan dirinya sendiri pada saat aku paling membutuhkan bantuannya.
Sungguh pintar.
“Gawat ... ini di daerah Jakarta yang sebelah mana sih?”
Aku menggaruk kepalaku sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel yang sudah kehabisan baterai, berharap alat canggih itu kembali menyala dengan suatu keajaiban. Tapi tentu saja tidak ada yang terjadi. Layarnya tetap gelap, dan aku pun masih tersesat.
Biasanya kalau sudah begini, aku akan mencari pedagang kaki lima terdekat, kemudian menanyakan arah tujuanku. Tapi entah kenapa, daerah yang kukunjungi kali ini begitu sepi, sehingga seolah-olah ini bukan bagian dari kota Jakarta lagi.
Jalanan yang terbentang di hadapanku benar-benar kosong dan dibatasi oleh dinding-dinding batako tinggi. Sepertinya sih ini daerah yang baru dikembangkan oleh pengembang properti, sehingga tidak ada bangunan lain di sekitar sini.
Masalahnya sepinya itu sungguh kelewatan! Sudah lebih dari setengah jam aku melintasi jalanan yang agak mirip labirin ini, tapi aku belum sekalipun melihat ada kendaraan lain yang melintas. Saking sepinya, aku jadi ngeri kalau ini sebenarnya tempat paling ampuh bagi para begal untuk menjalankan aksinya.
Maklum saja, akhir-akhir ini ulah begal kendaraan bermotor semakin mengerikan. Mereka tidak segan-segan melukai, ataupun menghabisi nyawa korbannya. Tapi jujur saja, aku agak ragu mereka akan mencoba merampok motor tua yang kukendarai ini. Toh mau dijual ke tukang loak pun, harganya tidak seberapa.
“Aduh! Ini benar-benar menyebalkan!”
Sambil menghela nafas panjang, aku kembali menyalakan mesin motorku. Deru mesin empat tak tua langsung terdengar menggetarkan udara malam yang mulai mendingin. Setelah sekali lagi memastikan kalau tidak ada orang di sekitarku, aku pun melaju perlahan-lahan tanpa petunjuk arah sama sekali.
Seperti tadi, yang kulihat dari tadi hanyalah jalanan sempit yang diapit oleh tembok batako tinggi. Tidak ada bangunan lain. Hanya sesekali ada pohon-pohon tua yang terlihat menyembul dari balik tembok beton yang memagari pinggiran jalan. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Belum lagi ditambah fakta sekarang pandanganku agak kabur karena terhalang kabut tipis yang mulai muncul di sekitarku.
Ini benar-benar masih di kota Jakarta kan?
Kok perasaan aku seperti sudah berada di daerah pinggiran pedesaan begini?
Pakai ada kabut segala! Ini sebenarnya di mana sih?!
Dengan perasaan yang semakin tidak karuan, aku mempercepat laju motorku. Sebenarnya itu tindakan konyol, karena bisa saja aku menabrak sesuatu atau terperosok lubang di jalanan yang juga nyaris gelap total ini.
Setelah beberapa menit berkendara tanpa arah, tiba-tiba saja aku mencium aroma yang begitu khas, dan begitu kukenal.
Aroma kental khas kopi yang baru saja diseduh.