Monday, September 21, 2015

7th Spiral: Kingdom of Cats



Konon katanya kucing itu kalau hidup terlalu lama, dia akan berubah jadi siluman.
Yah ... setidaknya itu kata orang Jepang sih. Sejujurnya aku tidak pernah ambil pusing soal itu. Setidaknya tidak sampai aku benar-benar mengetahui kalau ungkapan itu bukan cuma omong kosong belaka.
Pagi itu seperti biasanya aku pergi ke kantor, kemudian meluncur kembali ke jalanan padat kota Jakarta untuk mengantar paket-paket klienku. Setelah berkutat dengan kegilaan dan kengerian lalu lintas kota, sorenya aku pulang ke rumah. Tapi tidak seperti biasanya, sewaktu aku melintasi jalan yang biasa kulalui, aku menyadari ada sesuatu yang lain.
Tepat di tengah jalan, aku melihat seekor kucing tergolek lemas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya dia baru saja ditabrak oleh kendaraan yang melintas di jalanan. Dari kondisinya, lukanya sih tidak terlihat parah, tapi kucing itu tidak bisa bergerak. Entah karena syok, atau memang ada luka dalam yang tidak terlihat dari luar.
Yak. Aku tahu tindakanku bisa dengan mudah membuatku jadi perkedel, tapi aku tidak bisa membiarkan kucing itu mati begitu saja. Jadi aku melakukan hal yang bisa dibilang konyol oleh sebagian besar orang: aku berhenti di tengah jalan, turun dari motor, mengangkat tubuh lemas sang kucing, kemudian kembali ke atas motorku.
Aksiku tentu saja mengundang serentetan sumpah serapah disertai suara klakson yang bersahut-sahutan dari kendaraan lain yang terpaksa menghindar, atau bahkan berhenti di tengah jalan akibat ulahku. Tapi aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak mau membiarkan kucing itu terbaring di tengah jalan menunggu ajalnya.
Tentu saja aku tidak lalu meninggalkan kucing itu untuk pulih dengan sendirinya, aku membawanya ke dokter hewan terdekat yang kutahu. Untung saja luka kucing itu tidak parah, sehingga dia seharusnya akan segera pulih dengan perawatan yang tepat.
Setelah mendapat perawatan, aku membawa kucing malang itu pulang ke rumahku. Aku hanya berharap kalau kucing itu sudah sehat nanti, dia sanggup untuk pulang ke tempat tinggalnya. Bukannya aku tidak mau memeliharanya, tapi aku sudah punya peliharaan seekor ikan.
Ikan dan kucing kan bukan pasangan peliharaan yang tepat.
Tapi ternyata dugaanku salah.
Si kucing terlihat sama sekali tidak tertarik dengan ikan peliharaanku. Sesekali dia mendekat ke akuarium, tapi tidak pernah terlalu dekat sampai aku khawatir kucing itu bakal mencoba memakan ikan peliharaanku. Anehnya, kadang aku merasa kucing itu malah takut dengan ikanku, entah apa sebabnya.
Tidak terasa, tapi sudah hampir seminggu aku memelihara kucing itu.
Dari kondisi fisiknya, kurasa dia sudah cukup sehat untuk pergi. Aku tahu tindakanku tidak tepat, tapi pada akhirnya aku sengaja berhenti memberi makan kucing itu. Dengan begitu, aku berharap dia mengerti kalau tempat ini sudah tidak nyaman lagi baginya dan memutuskan untuk pergi.
Sayang sepertinya usahaku tidak berjalan dengan baik.
Dia memang pergi di malam hari, tapi di siang hari, kucing itu pasti kembali dan tidur di kursi teras rumahku. Aku selalu menemukan kucing belang hitam itu sedang tidur pulas saat aku pulang kerja. Dan setiap aku datang, kucing itu pasti terbangun dan mengeong pelan, seolah-olah dia ingin menyambut kedatanganku.
Apa boleh buat, pada akhirnya aku memutuskan untuk memelihara kucing itu, sampai dia memutuskan saat yang tepat untuk pergi. Toh, tidak ada salahnya juga. Selama aku merawatnya, kucing ini tidak pernah membuat masalah, bahkan menurutku, dia ini malah kelewat kalem untuk seekor kucing.
Terkadang, aku malah mengira kalau kucing ini bukan kucing biasa. Soalnya setiap kali aku menatap matanya, ada kilat kecerdasan di mata kucing itu.
Kilatan yang sama dengan yang kadang muncul di mata ikan peliharaanku.
Tapi ... yah ... pokoknya selama kucing ini tidak membuat onar, tidak ada salahnya aku tetap memeliharanya. 

****

Wednesday, September 9, 2015

6th Spiral: Lady of The Trees



Setiap kali aku melihat jalan protokol yang menjadi halaman depan kota Jakarta, aku tidak pernah berhenti untuk merasa takjub dengan pemandangan yang kulihat. Deretan gedung-gedung tinggi berdiri kokoh menentang langit, seolah-olah benar-benar ingin menggapai awan jauh di atas sana. Jalanan lebar yang tidak pernah lengang dari berbagai jenis kendaraan yang melintas, dan tidak jarang, berhenti total selama berjam-jam karena kepadatan lalu lintas yang luar biasa. Kalau terus berjalan menyusuri jalanan ini, aku pasti akan sampai ke sebuah tanah lapang yang dihiasi sebuah monumen dengan puncak emas.
Monas.
Salah satu ikon ibukota negara ini. Di hari-hari biasa, tempat itu tidak terlalu ramai dikunjungi orang. Tapi begitu memasuki akhir pekan atau hari libur nasional, bisa ratusan orang tiba-tiba tumpah ruah memadati lapangan itu.
Aku pun demikian.
Hampir setiap akhir pekan aku datang ke lapangan Monas untuk berolahraga, kemudian duduk-duduk santai menyaksikan keramaian di sekitarku. Terkadang aku membawa buku untuk kubaca sambil bersantai, bersama sedikit camilan atau bekal makan siang yang sengaja kubawa dari rumah.
Itu kalau cuacanya bagus. Tapi kalau sedang hujan, tentu saja aku tidak akan repot-repot berkendara dari rumahku di Bekasi sampai ke sini. Hari ini sih seharusnya cuacanya bagus, sebab tadi pagi kulihat matahari bersinar dengan gembira di langit. Selain itu tidak ada awan yang terlihat di atas sana. Jadinya kupikir hari ini akan jadi hari yang cerah.
Tapi nyatanya dugaanku salah.
Tidak lama setelah aku sampai ke lapangan Monas, cuaca berubah dengan kecepatan yang nyaris sulit dipercaya. Awan gelap dengan cepat menutupi langit, suhu udara pun menurun, dan tidak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya.
Sialnya aku sedang tidak bawa payung atau jas hujan.
Jadi mau tidak mau aku sekarang harus mencari tempat berteduh dari hujan. Masalahnya, satu-satunya tempat berteduh terbaik bagiku saat ini adalah di kawasan perkemahan yang berada tidak jauh dari tempatku duduk tadi. Tidak ada bangunan tempat berlindung di sana, tapi setidaknya pohon-pohon rindang yang tumbuh di kawasan itu bisa mengurangi jumlah tetesan air hujan yang mengenai tubuhku.
Dan di sanalah aku sekarang ini. Seorang pria bertampang memelas yang setengah basah kuyup karena hujan.
“Aduh! Kok tiba-tiba saja hujan deras begini sih?!”
Aku menggerutu sambil bersandar pada pohon di belakangku. Untung saja pohon ini kanopinya tertutup lapisan dedaunan yang cukup lebat, sehingga tetesan air hujan tidak sampai ke tubuhku dengan kekuatan penuh. Tapi tetap saja aku jadi semakin basah kuyup. Parahnya lagi, aku tidak bawa pakaian ganti. Tentu saja tidak, soalnya aku kan tidak berniat untuk basah-basahan seperti ini.
Kalau cuaca tidak segera berubah jadi cerah, mau tidak mau aku terpaksa pulang dengan pakaian basah kuyup. Aku tahu itu bukan ide bagus. Soalnya berkendara dengan baju basah sama saja mengundang penyakit. Terutama paru-paru basah. Aku pernah mengalaminya sekali dan tidak mau lagi kena penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Tapi kalau dilihat dari situasinya, kemungkinannya cukup besar aku akan sakit kalau mencoba pulang sekarang.
“Sungguh sial!”
Aku menggerutu lagi sambil memandangi langit yang dihiasi awan gelap, dan petir yang menyambar di langit dengan diiringi suara menggelegar. Kalau melihat kondisinya sih hujan ini tidak akan berhenti sampai setidaknya satu jam ke depan.
“Hoi langit, jangan plin-plan dong! Kalau cerah, ya harusnya cerah!”
Aku menggerutu sambil memandang ke arah langit gelap, yang sesekali dihiasi kilatan halilintar. Sulit dipercaya kalau tadi pagi langitnya begitu cerah dan matahari sungguh-sungguh bersinar dengan teriknya.
“Jangan seenaknya menyalahkan langit ah.”