Thursday, December 13, 2012

Murid Ke-Tujuh

Aku hanya terdiam menyaksikan situasi ganjil yang sedang terjadi di hadapanku ini.

Enam orang murid duduk menunduk dalam diam, sementara tangan mereka sibuk menuliskan sesuatu di atas meja. Entah apa yang mereka tuliskan di atas meja kayu mereka, tapi yang jelas mereka tampak terobsesi dengan apa yang mereka tuliskan.

Aku menatap sekilas ke arah meja salah satu murid dan melihat simbol-simbol aneh sudah tertera disana. Tapi karena berulang kali dituliskan, simbol-simbol itu kini sudah terukir di meja yang terbuat dari kayu itu.

Suara goresan pena yang terus menerus tanpa henti membuat suasana semakin terasa mencekam. Tapi diantara mereka, ada satu orang murid yang hanya diam dan memandangiku sambil tersenyum.

Dia adalah murid ke-tujuh.

Wajahnya sekilas terasa familiar bagiku, tapi aku tahu pasti dia bukan bagian dari kelasku. Aku yakin 100% kalau aku belum pernah melihatnya sebelumnya di sekolah, tapi entah kenapa aku merasa mengenal siapa dirinya.

Pandanganku teralih ke arah Irfan, guru pelajaran matematika, yang berdiri di sebelah kiriku. Biasanya dia selalu terlihat galak dan tegas, tapi kali ini dia jelas-jelas ketakutan. Kebiasaan lamanya menggigiti kuku kalau gelisah kembali, meskipun sudah tiga tahun aku tidak pernah melihatnya melakukan itu. Di sampingnya ada bu Nadia, guru pelajaran fisika. Kalau dia sih tidak usah ditanya. Bu Nadia benar-benar panik. Air mata masih saja mengalir di pipinya.

Aku kembali mengalihkan pandangan ke depan. Keenam murid di hadapanku masih saja sibuk menulis, sementara si murid ke-tujuh tetap memandangiku. Lama kelamaan aku jadi ngeri dengan caranya menatap langsung ke mataku. Rasanya seperti dia berusaha menatap langsung ke dalam jiwaku.

"Baiklah. Ada apa ini sebenarnya?"

Aku akhirnya bertanya, entah pada siapa. Tapi tidak ada yang menjawab.

Sambil menghela nafas, aku menoleh ke arah Irfan. Tadi dialah yang memanggilku kemari dengan tergesa-gesa,  tapi sayangnya Irfan tidak sekalipun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya mengatakan satu kalimat pendek. "Darurat!"

"Irfan. Bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanyaku sekali lagi.

Irfan tampak terkesiap dan berhenti menggigiti kukunya.

"A..aku tidak tahu. Tadinya bu Nadia memanggil keenam anak ini untuk melakukan tes remedial dan kemudian meninggalkan kelas setelah membagikan lembaran soal..." Irfan terdiam sejenak. "Tapi ketika dia kembali....mereka semua sudah seperti itu."

Aku melirik ke arah bu Nadia. Dia masih gemetar dan menangis karena ketakutan.

"Sudah ada yang mencoba bicara pada mereka?" tanyaku lagi.

Kulihat Irfan mengangguk ragu. "Su...sudah....pak Indra sudah mencoba bicara....tapi....."

"Tapi apa?"

Aku langsung punya firasat buruk soal apa yang akan diucapkan Irfan  selanjutnya.

Irfan menggigiti kukunya lagi. Jelas telah terjadi sesuatu pada pak Indra, guru pelajaran kimia itu.

"Irfan!"

"Pak Indra sekarang ada di rumah sakit!" ujar Irfan setengah berteriak.

"Kenapa?"

Dia lalu menunjuk ke arah gadis yang duduk di bangku paling pinggir. "Di...dia menusuk mata pak Indra dengan pena!" sahut Irfan. "Kemudian gadis itu duduk lagi di bangkunya dan kembali menulis."

Aku menatap ke arah gadis yang dimaksud.

Ara. Namanya Ara. Gadis itu memang tidak terlalu pintar, tapi dia bukan tipe anak yang bisa melakukan hal mengerikan seperti itu.

Satu persatu aku memandangi deretan anak-anak yang duduk di sampingnya.

Rudi. Fahru. Ahmad. Linda. Mahmud.

Aku kenal mereka semua. Mereka semua anak yang baik. Tidak satupun dari mereka pernah terlibat masalah besar di sekolah, ataupun di luar sekolah. Rasanya tidak mungkin mereka tiba-tiba berubah seperti ini.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" tanya Irfan.

Aku mengangkat bahu.

"Entahlah. Tapi kurasa dia tahu jawabannya."

Aku menunjuk ke arah murid ke-tujuh yang duduk manis di depan keenam murid lainnya.

"Dia satu-satunya murid yang tidak gila menulis," ujarku. "Dan dari tadi dia terus memandangiku dengan tatapan yang tidak mengenakkan."

Aku kaget karena Irfan kini mengernyitkan dahinya ke arahku dan memandangiku dengan tatapan bingung.

"Ja...jangan bercanda! Kau menunjuk kemana?" ujar Irfan kebingungan.

Giliran aku yang bingung.

"Bicara apa kau? Tentu saja aku menunjuk ke arah murid laki-laki yang duduk paling depan itu," sahutku.

Wajah Irfan semakin memucat. Aku bisa melihat kedua matanya menyapu seluruh isi ruangan dengan bingung. Seketika itu juga, aku sadar...dia tidak bisa melihat murid ke-tujuh ini! Dan itu berarti sang murid ke-tujuh ini bukan manusia.

Oke.....sialan!

"Baiklah. Kalian semua tunggu di luar. Ini urusanku."

Aku menepuk bahu Irfan dan bu Nadia, lalu perlahan-lahan mendorong mereka agar keluar ruangan. Bu Nadia yang sudah tidak bisa menahan tangisnya langsung menangis sejadi-jadinya di lorong, sedangkan Irfan memandangiku dengan tatapan ngeri.

"Jangan memandangiku seperti itu! Semuanya akan baik-baik saja. Aku jamin!"

"Ta...tapi...!"

Aku mengabaikan protes Irfan dan membanting pintu kelas di belakangku.