Friday, July 27, 2012

Everday Adventure III



Everyday Adventure III: For The Future

“Baron! Ambilkan bor listrik dan kunci pas nomor 8, cepat!”
Seruan Airi terdengar nyaring, mengalahkan suara riuh rendah yang sejak pagi terdengar di sekitarnya.
Baron yang sedang sibuk merakit sebuah kaki, segera berdiri dan mengambilkan alat-alat yang diminta oleh Airi. Android itu lalu mengamati sosok mungil Airi yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa seorang android. Tubuh android itu tampak rusak parah di beberapa bagian dan sepertinya nyaris mustahil dipulihkan. Kedua mata robot berteknologi cyber-brain itu terlihat tidak fokus ketika dia memandang ke sekelilingnya. Sesekali cahaya di mata elektroniknya itu berkedip, menandakan kalau kerusakan yang dialaminya sudah sangat parah.
“Bagaimana? Bisa diselamatkan?”
Baron bertanya sambil sesekali membantu Airi mengambilkan peralatan atau suku cadang yang mereka buat dari barang rongsokan.
“Pasti bisa!” sahut Airi tanpa menoleh. Kedua mata wanita asia itu terfokus pada pekerjaannya, sementara tangan terampilnya tidak berhenti bergerak.
Baron menghela nafas dan memandang ke sekelilingnya. Saat ini dirinya sedang berada di sebuah gudang setengah runtuh, yang dipenuhi oleh puluhan robot dengan berbagai bentuk dan model. Mereka semua tampak menyedihkan karena masing-masing terlihat penuh goresan dan kusam, beberapa diantara mereka malah terlihat mengalami kerusakan. Meskipun begitu, mata mereka tampak masih bersinar penuh harap, terutama ketika melihat sosok Airi yang sedang berjuang menyelamatkan sebuah android.
Wajar saja robot-robot itu berkumpul di sini. Sejak tiga tahun yang lalu, tempat ini disulap menjadi rumah sakit bagi robot yang tinggal di reruntuhan kota Bravaga. Sejak Baron secara tidak sengaja menemukan Airi di dalam sebuah bunker cold-sleep capsule, kehidupan android serba guna itu benar-benar berubah. Dulu dia hanya menghabiskan waktu dengan menjelajahi reruntuhan kota bersama robot lipan raksasa bernama Tesla. Mereka melakukan itu untuk mencari sisa-sisa teknologi yang bisa digunakan untuk memperbaiki diri dan robot lainnya. Namun sejak Airi memutuskan untuk membangun rumah sakit bagi warga Bravaga, kini mereka jadi sibuk melayani para robot yang mengalami kerusakan.
“Baron!!”
Seruan Airi membuat Baron terkejut dan bergegas menghampiri wanita itu. Dia terkejut melihat android yang sedang diperbaiki oleh Airi tampak terkulai lemas. Dia tahu kondisi ini jelas sangat tidak baik.
“Aku butuh kick starter! Siapkan generatormu!” perintah Airi. Dia lalu mengulurkan dua buah kabel yang terhubung ke tubuh pasiennya. “Cepat!”
Tanpa pikir panjang dan banyak tanya, Baron meraih kabel itu dan membuka bajunya. Dengan cepat android itu menancapkan kabel itu ke dua buah soket yang ada di sisi kiri dan kanan pinggangnya.
“Siap!”
Baron berseru ketika dia siap memberikan sebuah kick starter pada tubuh pasien Airi.
Clear!” sahut Airi sambil memukul sebuah tombol di mesin yang terhubung dengan tubuh Baron, dan tubuh sang pasien.
Suara denging nyaring terdengar sekejap ketika generator tubuh Baron berusaha menyalakan generator di tubuh sang pasien yang berhenti bekerja. Namun tidak ada yang terjadi. Android malang itu tetap tidak bergeming dan tidak ada tanda aktivitas elektronik di tubuhnya.
“Sekali lagi!” seru Airi. “Naikkan tenaganya!”
Baron ingin sekali protes. Dia tahu kapasitor pada generator sang pasien tidak akan sanggup menahan sentakan tenaga dari generator miliknya. Tapi Baron tidak punya pilihan lain dan segera menaikkan tenaga yang akan dikeluarkan dari generator tubuhnya.
“Siap!” seru Baron.
Airi kembali memukul tombol starter di sampingnya, sambil berseru nyaring. “Clear!”
Suara denging nyaring kembali terdengar, tapi sang pasien masih juga diam. Generator tubuhnya tidak mau menyala.
“Baron! Sekali lagi!”
“Sudahlah. Dia sudah tidak bisa diselamatkan. Hentikan saja. Ini sia-sia. Kalau dipaksakan, nanti generator tubuhnya bisa meledak.”
Baron menyentuh lembut pundak Airi. Android itu tahu kalau pasien yang sedang mereka tangani sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Generator tubuhnya sudah mati dan tidak akan menyala kalau tidak diperbaiki total, atau diganti.
“Tidak! Kita bisa memindahkan cyber-brain-nya ke tubuh lain! Masih ada harapan!” bantah Airi.
“Sudahlah. Relakan saja. Kita tidak punya teknologi untuk itu dan kita juga tidak punya tubuh cadangan untuknya. Kau sudah berusaha.”
Baron menarik tubuh Airi mendekat dan memeluknya. Awalnya Airi berontak, tapi wanita itu kemudian diam dan meneteskan air mata. Dia marah dan sedih karena dia tidak mampu menyelamatkan android malang itu. Meskipun dirinya adalah seorang ahli robotik jenius dari jaman sebelum Catastrophy, tapi dia tidak bisa berbuat banyak tanpa dukungan teknologi dan peralatan yang memadai.
Sejak Catastrophy melanda seluruh dunia sekitar 200 tahun lalu, segalanya berubah. Peradaban manusia yang telah bertahan dan berkembang selama ribuan tahun, runtuh begitu saja dalam waktu singkat. Yang tersisa dari kejayaan manusia sekarang hanya reruntuhan bangunan dan masyarakat robot yang berhasil bertahan. Namun bersamaan dengan runtuhnya peradaban manusia, banyak teknologi penunjang hidup para robot yang hilang. Akibatnya robot berteknologi tinggi, seperti Baron dan Tesla, tidak lagi bisa memperbaiki diri ketika ada bagian tubuh yang rusak. Umumnya para robot hanya bisa menunggu ajal mereka tiba, tapi Baron dan Tesla tidak seperti itu. Mereka terus mencari cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat mesin, khususnya di Bravaga. Pencarian itulah yang membawa Baron dan Tesla ke sebuah bunker bawah tanah, tempat Airi tertidur selama ratusan tahun.
Baron dan Tesla sangat beruntung karena manusia yang mereka bangunkan itu ternyata seorang ahli robotik. Sayangnya meskipun Airi bisa memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil, dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau ada bagian penting yang rusak, seperti generator tubuh atau cyber-brain misalnya. Itulah yang dialami android yang baru saja mati di depan mata Airi dan Baron.
“Sial! Seharusnya android itu tidak perlu mati!”
Airi melepaskan diri dari pelukan Baron dan duduk lemas di kursi terdekat. Tatapan mata wanita itu terpaku pada deretan pasien lain yang menunggu dengan sabar. Beberapa dari mereka terlihat sedih melihat salah satu dari mereka baru saja kehilangan nyawanya.
“Jangan menyalahkan dirimu. Kemampuanmu terbatas ... kemampuan kita terbatas,” hibur Baron. Dia lalu memandang ke arah robot dan droid lain yang ada di dalam ruangan. “Airi. Kau harus tegar. Kita masih punya banyak tugas.”
Airi mengusap matanya, berusaha menghapus air mata yang menggenang disana. Wanita itu lalu menepuk pipinya cukup keras dan berdiri sambil memandang ke deretan pasiennya.
“Selanjutnya!” serunya lantang.
Baron tersenyum tipis sambil mengangkat tubuh sang android yang sudah tidak berfungsi lagi. Ketika mengangkat android itu, tiba-tiba Baron bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kapan dia akan bernasib sama seperti android malang ini?
****
Kesibukan di rumah sakit milik Baron dan Airi terus berlanjut hingga menjelang sore. Ketika pasien terakhir pergi meninggalkan ruangan, Airi langsung melemparkan tubuhnya ke atas dipan.
Dia kelelahan. Demi membantu para robot, Airi sering sekali mengabaikan waktu istirahatnya. Padahal tidak seperti mesin yang bisa bekerja terus-menerus, dia seharusnya banyak beristirahat. Hidup diantara robot yang bisa berekspresi seperti manusia, membuat Airi sering lupa kalau dirinya berbeda dengan mereka. Dia sering lupa kalau dirinya hanyalah manusia biasa.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Baron sambil menyerahkan secangkir air hangat pada Airi. “Ini, minumlah.”
“Hanya sedikit lelah,” sahut Airi sambil meneguk isi cangkirnya. Ekspresi wajah wanita itu tampak kembali muram. Sepertinya dia masih saja menyalahkan diri atas kegagalannya menyelamatkan sebuah android tadi pagi.
“Tidak perlu dipikirkan. Kami sudah tahu suatu saat kami akan rusak dan mati,” ujar Baron. “Sama seperti manusia kan? Mesin juga tidak abadi. Suatu saat waktu kami untuk berhenti bekerja juga akan tiba, jadi jangan terlalu kau pikirkan kejadian tadi pagi.”
Airi mendongak dan memandangi Baron.
“Aku tahu. Tapi seharusnya aku bisa melakukan lebih banyak hal untuk membantu android malang itu,” balas Airi dengan muram.
“Yah. Mau bagaimana lagi. Kau sudah ...”
“Ya~Ho~!”
Ucapan Baron terpotong oleh suara seruan nyaring dari pintu masuk gudang. Airi dan Baron menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Tesla merayap masuk ke dalam ruangan. Wujud robot penyelamat itu memang menakutkan, sehingga waktu pertama kali Airi beremu dengannya, dia sempat menjerit histeris. Tapi setelah terbiasa, Airi sudah tidak takut lagi pada Tesla yang berwujud seperti seekor lipan logam raksasa.
“Ada apa? Kau terlihat muram, Airi,” sapa Tesla sambil bergerak mendekati wanita itu. “Ada yang terjadi saat aku pergi?”
Airi dan Baron saling pandang sejenak, kemudian menggelengkan kepala mereka.
“Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah,” jawab Airi. Dia lalu menyadari kalau Tesla tampak membawa sebuah kotak logam tua yang sudah berkarat. “Apa itu?”
Pertanyaan Airi membuat keempat mata Tesla berbinar-binar.
“Aku senang kau bertanya,” balas Tesla.
Dengan cepat dia membuka kotak logam yang dia bawa dan menunjukkan isinya. Isi kotak logam itu ternyata adalah tumpukan beberapa buah kristal memori kuno. Benda itu merupakan alat kristal khusus yang digunakan untuk menyimpan data digital. Ukurannya memang kecil, hanya sebesar jari telunjuk pria dewasa, tapi benda itu bisa menyimpan beberapa terrabyte data.
“Kristal memori? Apa isinya?” tanya Airi heran. “Dimana kau temukan ini?”
“Aku tidak tahu apa isinya, tapi kurasa itu penting. Aku menemukannya di sebuah fasilitas militer kuno yang ada di sisi timur sana,” jawab Tesla sambil memainkan sekeping kristal memori di tangannya. “Sayangnya aku tidak bisa baca benda itu, karena tubuhku tidak punya slot-nya. Kalau tidak salah Baron bisa baca kan, benar tidak?”
Baron mengangguk membenarkan. Dia lalu mengambil sekeping kristal memori dan menancapkan benda itu di sebuah lubang kecil yang kini terbuka di tengkuknya. Selama beberapa saat, cyber-brain miliknya sibuk menganalisa data yang terkandung dalam benda canggih itu. Tapi karena beberapa bagian dari kristal memori itu sudah rusak, ada beberapa bagian yang sulit diterjemahkan oleh Baron. Setelah mencoba beberapa kali, dia akhirnya bisa memperbaiki bagian yang rusak itu sebisanya.
Ketika analisisnya itu selesai, Baron terkejut bukan main.
“Astaga!” serunya.
“Apa? Apa?” tanya Tesla penuh semangat.
“Apa isinya?” timpal Airi penasaran.
Baron terdiam lagi selama beberapa detik, sebelum akhirnya berbicara dengan nada kagum.
“Isi benda ini adalah cetak biru dari sebuah mesin yang menakjubkan! Kalau dilihat sepintas dari keterangan yang ada dalam memory ini, mesin ini mampu membuat suku cadang tubuh robot dari barang-barang bekas!” seru Baron. “Kalau digunakan dengan baik ... sepertinya mesin ini bahkan bisa menciptakan robot baru!”
Baik Airi maupun Tesla terkejut bukan main mendengar penuturan Baron.
“Jangan bercanda!” celetuk Airi dengan nada tidak percaya.
“Airi benar! Jangan bercanda deh,” timpal Tesla.
Baron memandangi kedua temannya itu dan tersenyum lebar.
“Aku tidak bercanda! Aku bisa buktikan!” balas Baron.
Android itu dengan segera menyalakan sistem nirkabel tubuhnya, kemudian menghubungkannya ke mesin cetak yang teronggok di seberang ruangan. Dalam waktu singkat, mesin cetak itu mulai bekerja dan mencetak diagram mesin yang dilihat Baron dalam kepalanya.
Airi segera menghampiri mesin cetak itu. Awalnya dia masih bingung karena hasil cetakan mesin cetak tua itu hanya berupa diagram-diagram rumit. Tapi setelah mengamati lebih lanjut, Airi segera menyadari kalau Baron memang benar. Isi kristal memori yang ditemukan Tesla itu adalah rancang bangun sebuah mesin yang bernama clone replicator. Menyadari hal itu, kedua mata Airi langsung terbelalak lebar.
“I....ini! INI LUAR BIASA!!” jerit Airi kegirangan. Wanita itu lalu berlari menghampiri Tesla dan Baron, lalu memeluk keduanya dengan erat. “Ini bisa menyelamatkan kalian semua! Mesin ini adalah harapan bagi masyarakat mesin di Bravaga!! Kita harus membuatnya!”
Baron dan Tesla saling pandang selama beberapa saat.
“Tunggu sebentar,” ujar Baron sambil mencabut kristal memori dari tengkuknya. “Mesin ini sangat rumit dan ukurannya juga tidak kecil. Kita tidak punya bahan dan tenaga yang cukup untuk membuat mesin ini. Ditambah lagi kita tidak dilengkapi dengan peralatan pabrik yang canggih.”
Airi menggoyangkan telunjuknya di depan wajah.
“Bicara apa kau, Baron? Kalau soal bahan baku, kita punya sebuah reruntuhan kota seluas lebih dari lima ribu kilometer persegi yang bisa digunakan!” ujar Airi dengan tegas. “Selain itu, kita punya lebih dari sepuluh ribu robot dengan berbagai wujud dan fungsi. Apa itu tidak cukup?”
“Entahlah....” ujar Baron. Dia lalu melirik ke arah Tesla yang juga sedang berpikir. “Bagaimana menurutmu, Tesla?”
Tesla mengangkat tangan-tangan rampingnya yang sedang memegang lembaran-lembaran cetak biru dari clone replicator. 
“Aku pikir ... mesin ini mustahil kita wujudkan. Selain butuh tenaga pembantu yang banyak, butuh waktu sampai puluhan tahun untuk membangun mesin ini. Apalagi dengan teknologi yang tersisa saat ini ...” jawab Tesla. “Jadi ... ya ... lebih baik tidak usah saja.”
Airi tidak menyangka kalau Tesla akan menolak idenya membangun mesin itu. Tadinya dia berharap kalaupun Baron menolak membantu, Tesla setidaknya akan membantunya. Ternyata tidak.
“Ayolah! Kalian ini bagaimana sih? Ini adalah kesempatan kita untuk mengubah kondisi hidup yang buruk ini. Apa kalian mau hidup dengan penuh ketakutan, terutama karena kalian tidak tahu kapan tubuh kalian berhenti bekerja?” ujar Airi, dengan harapan bisa membujuk Tesla dan Baron.
“Bukannya itu sama saja denganmu?” celetuk Tesla. “Kau juga tidak tahu kapan tubuhmu akan berhenti bekerja kan?”
Airi langsung melotot ke arah robot lipan itu, membuat Tesla merangkak mundur dan agak bergulung sedikit. Dia lalu menatap tajam ke arah Baron.
“Pikirkan!” ujar Airi lagi. “Dengan mesin ini, kita bisa menyelamatkan robot-robot yang mengalami kerusakan tubuh! Dengan mesin ini, kau dan Tesla tidak perlu khawatir berlebihan kalau mengalami kerusakan. Semua suku cadang tubuh kalian berdua bisa disediakan oleh mesin clone replicator ini.”
Baron dan Tesla terdiam sejenak. Ucapan Airi memang masuk akal, tapi ada satu hal yang membuat Baron enggan membuat mesin ‘ajaib’ itu.
“Bagaimana denganmu?” tanya Baron. “Bagaimana dengan kehidupanmu, Airi? Kau satu-satunya manusia di kota ini. Kau sadar kan kalau kami para mesin tidak bisa menyediakan suku cadang tubuh untukmu, atau memperbaiki mu kalau kau rusak. Kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri?”
“Lupakan soal kehidupanku!” sahut Airi tanpa pikir panjang. “Era manusia sudah berakhir, setidaknya di kota ini. Ini adalah era bagi kalian, para robot. Kalian adalah generasi penerus peradaban umat manusia. Kalau kalian musnah juga, maka jejak peradaban manusia akan sepenuhnya hilang dari muka bumi.”
Baron dan Tesla saling pandang. Setelah hidup bersama Airi selama tiga tahun, keduanya tahu sekali wanita itu memutuskan sesuatu, keputusannya tidak akan berubah. Airi memang seorang wanita yang keras kepala dan pantang menyerah, tapi itu juga merupakan kelebihannya.
“Baiklah. Aku dan Tesla akan membantu,” ujar Baron pada akhirnya. Tapi dia segera menambahkan. “Tapi kau tidak boleh bekerja terlalu berat. Serahkan semua urusan pekerjaan berat pada kami, para mesin. Kau cukup awasi pekerjaan kami dan pastikan kami tidak melakukan kesalahan saat membuat clone replicator ini.”
Airi mengangkat sebelah tangannya.
“Aku janji,” ujar Airi, tapi dia lalu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal. “Aku janji akan jadi mandor yang baik dan tegas pada kalian semua.”
Baron dan Tesla langsung balas tersenyum lebar dengan caranya masing-masing.
****
Seperti yang sudah diperingatkan oleh Baron dan Tesla, pekerjaan membangun mesin clone replicator sangat tidak mudah. Pertama-tama mereka membutuhkan sebuah tempat baru untuk membangun menara yang akan digunakan untuk meletakkan mesin itu. Airi kemudian mengusulkan untuk membangun mesin itu di puncak sebuah bukit di padang rumput, yang berada di sisi utara reruntuhan kota. Menara itu juga nantinya akan digunakan sebagai pabrik suku cadang, tempat pembuatan droid atau robot baru, serta rumah sakit bagi masyarakat mesin di reruntuhan Bravaga.
Setelah memutuskan lokasinya, kini tibalah Airi, Baron dan Tesla di bagian yang tersulit, yaitu membangun menara dan clone replicator itu sendiri.
Tentu saja Airi, Baron dan Tesla tidak melakukannya sendirian. Dengan gigih ketiganya berusaha membujuk warga reruntuhan kota Bravaga untuk membantu. Meyakinkan para robot yang sudah hampir kehilangan harapan dan semangat hidup memang tidak mudah. Namun Airi tidak pernah mau menyerah dan terus membujuk warga untuk membantunya. Awalnya tidak banyak yang mau membantu mereka, tapi lama kelamaan jumlah robot yang bergabung dalam proyek itu semakin bertambah. Sehingga meskipun pekerjaan membangun menara dan clone replicator sangat sulit, tapi proyek itu mulai berjalan secara bertahap dan perlahan-lahan.
Seperti yang diyakini Airi, mereka tidak akan kekurangan bahan bangunan ataupun bahan baku mesin. Semuanya bisa didapatkan di reruntuhan kota Bravaga. Yang perlu mereka lakukan adalah mengolah rongsokan dan logam-logam tua yang berserakan di sekitar kota menjadi bahan baku menara dan clone replicator. Memang tidak mudah, tapi bisa dikerjakan bila warga kota mau bekerja sama.
Tahun demi tahun berlalu dengan cepat selagi Airi, Baron, Tesla dan warga reruntuhan kota Bravaga membangun mesin impian mereka. Tanpa terasa sudah hampir 10 tahun berlalu sejak menara dan clone replicator mulai dibangun. Sayangnya proses pembangunannya tidak selamanya lancar. Ada banyak halangan yang muncul, terutama akibat kurangnya dukungan teknologi dalam pembangunan menara itu.
“Gagal lagi!”
Airi menggerutu sambil melangkah mundur dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Saat ini dirinya sedang berada di ruang bawah tanah yang dibangun untuk menampung pusat kendali dari clone replicator. Mesin yang bisa melahirkan mesin itu sudah nyaris selesai dibangun, hanya saja ada bagian yang masih saja gagal dibuat oleh Airi dan kawan-kawannya.
Bagian itu adalah modul kendali. Bagian utama yang akan mengendalikan kerja seluruh mesin yang menjadi bagian dari clone replicator.
“Kenapa? Kenapa masih tidak bisa juga?” tanya Airi pada dirinya sendiri.
“Sudahlah. Sebaiknya kau istirahat dulu, baru dilanjutkan lagi nanti.” Tesla yang sedang bekerja mengelas sebuah pipa langsung berkomentar. Robot lipan raksasa itu lalu menyodorkan sebuah botol minuman kepada Airi. “Nih.”
“Terima kasih,” sahut Airi sambil duduk di lantai.
“Aku tidak mengerti” komentar Tesla. “Sudah setahun ini kau berusaha mengaktifkan modul kendali ini. Tapi masih saja gagal. Padahal semuanya sudah sempurna. Apa kau tahu penyebabnya?”
Dia lalu menoleh ke arah Baron yang sedang memasang pelat baja ke sebuah panel kendali di sisi lain ruangan. “Hei, Baron! Apa kau tahu sesuatu soal ini?” tanyanya lagi.
Baron mengangkat bahunya.
“Tidak! Kalau aku tahu, sudah dari dulu modul kendali ini berfungsi!” balas Baron.
“Begitulah,” ujar Tesla pada Airi. “Tapi apa memang tidak ada yang salah dengan sistem kendalinya? Maksudku ... pada otak mesin ini?”
Airi memandangi Tesla dengan tatapan heran.
“Kurasa tidak. Aku sudah memastikan itu,” balas Airi. “Memangnya kenapa?”
“Apa tidak mungkin otak mesin yang kau gunakan ini tidak cukup canggih untuk mengatur seluruh bagian dari clone replicator ini?” tanya Tesla lagi.
Airi terdiam. Dia tidak mau menjawab pertanyaan itu. Airi tahu kalau otak elektronik yang saat ini digunakan sebagai pusat pengendali clone replicator, sebenarnya tidak memiliki kemampuan yang memadai. Hanya ada satu solusi yang sejak dulu terpikir oleh Airi untuk mengatasi masalahnya ini, yaitu menggunakan cyber-brain sebagai pusat kendali. Tapi tidak bisa sembarang cyber-brain, dia membutuhkan otak elektronik yang memiliki kecepatan proses jauh lebih tinggi dari yang biasanya. Selain itu, kondisi cyber-brain itu juga harus sangat terjaga, tidak boleh ada kerusakan sedikit pun, sehingga cyber-brain milik robot yang sudah mati tidak dapat digunakan.
“Airi? Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari kami.”
Baron yang sejak tadi mengamati sikap wanita itu langsung berkomentar. Karena sudah tinggal bersama Airi cukup lama, dia jadi mengerti bagaimana sikap wanita itu kalau sedang menyembunyikan sebuah rahasia.
“Tidak. Aku tidak menyembunyikan apapun!”
Airi langsung membantah, tapi dia jadi tidak berani menatap ke arah mata Baron.
“Ayolah! Katakan saja pada kami. Kau bisa percayakan rahasia apapun pada kami berdua. Kau kan tahu itu,” desak Tesla. “Jadi ... apa kau sebenarnya tahu masalah apa yang dihadapi modul kendali mesin ini?”
Airi mengangguk perlahan, tapi dia tidak mengatakan apapun.
“Nah! Kalau kau sudah tahu, kenapa tidak diatasi saja?” ujar Baron.
Airi masih terdiam, tapi wajahnya tampak sedih. Tentu saja ini membuat Baron dan Tesla semakin penasaran.
“Ayolah. Jangan menyimpan rahasia seperti ini,” desak Tesla lagi. “Jadi apa sebenarnya masalah yang membuat modul kendali clone replicator ini tidak juga berfungsi?”
Meskipun enggan, Airi akhirnya bicara juga.
“Ucapan Tesla tadi memang benar. Otak elektronik yang kugunakan untuk mengatur clone replicator, dan seluruh fasilitas di menara ini, tidak cukup canggih,” ujar Airi muram.
“Kalau itu masalahnya, solusinya mudah. Cari saja otak elektronik yang lebih canggih lagi,” balas Baron. Tapi dia lalu menyadari sesuatu. Kalau hanya itu saja masalahnya, Airi pasti sudah mengatasi itu sejak lama. “Tunggu dulu. Jangan-jangan yang kau maksudkan itu ... kau butuh sebuah cyber-brain sebagai pusat kendali?”
 Airi mengangguk.
“Benar,” sahutnya singkat.
“Kalau begitu kenapa tidak bilang dari dulu? Kita kan bisa berkeliling kota untuk mencari cyber-brain yang bisa kita gunakan,” balas Tesla.
Airi menggelengkan kepalanya.
“Tidak bisa sembarang cyber-brain. Butuh cyber-brain dengan kecepatan proses lebih tinggi dari normal, serta memiliki kondisi yang sangat terjaga. Cyber-brain dari robot yang sudah mati tidak bisa dipakai karena alasan itu,” ucap Airi dengan nada muram. Dia lalu menambahkan dengan suara semakin lirih sambil memandang ke arah Baron. “Dan ... dari semua robot yang kukenal di Bravaga ini...satu-satunya kandidat yang memiliki cyber-brain paling cocok untuk clone replicator ini adalah Baron.”
Baron dan Tesla terkejut mendengar penuturan Airi. Rupanya itu sebabnya Airi terus berkutat untuk menggunakan otak elektronik biasa untuk clone replicator-nya.
“Kalau memang harus begitu, kenapa tidak kau katakan padaku? Aku akan dengan senang hati memberikan cyber-brain milikku ini,” sahut Baron tanpa pikir panjang. “Kau tidak perlu khawatir. Bagiku ini sama saja dengan mengganti seluruh tubuhku. Tidak masalah.”
Airi kembali terdiam. Inilah alasan sebenarnya kenapa dia tidak mau menjelaskan kalau dia butuh cyber-brain untuk menyelesaikan clone replicator-nya. Dia tahu bagaimana sifat Baron. Android itu pastinya tidak akan ragu untuk membongkar tubuhnya sendiri dan menyerahkan otaknya kepada Airi untuk dia gunakan.
“Tidak bisa! Kalau cyber-brain mu kugunakan sebagai pusat kendali clone replicator, aku harus menghapus semua isinya! Kalau itu kulakukan, kepribadian buatan dan ingatanmu akan hilang! Itu artinya Baron akan hilang! Kau akan mati!” seru Airi sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Baron terdiam sejenak. Selama hidupnya yang panjang, Baron sudah lama bertanya-tanya bagaimana hidupnya akan berakhir. Sebelum bertemu dengan Airi, android itu selalu berpikir dirinya akan berakhir sebagai tumpukan logam tidak berguna di sudut reruntuhan kota Bravaga. Tapi sejak bertemu Airi pertama kalinya dan melihat kemampuannya, Baron tahu nyawanya akan berakhir di tangan wanita itu. Hanya saja Baron yakin nyawanya tidak akan berakhir dengan sia-sia. Dan keyakinannya itu benar-benar terbukti sekarang.
“Tidak masalah bagiku. Aku siap,” balas Baron dengan tegas. “Kalau nyawaku dibutuhkan untuk menyelamatkan masa depan masyarakat mesin di Bravaga, aku siap memberikannya.”
Airi menggelengkan kepalanya lagi. Air mata mulai menggenang di kedua matanya.
“Aku tidak mau itu terjadi!” seru Airi dengan penuh kesedihan.
“Kalau begitu pakai saja cyber-brain punyaku,” sela Tesla sambil mengetuk kepalanya. “Mungkin tidak sebagus punya Baron, tapi aku yakin otakku akan berguna.”
“Kalian tidak mengerti!” jerit Airi pilu. “Aku tidak ingin kehilangan satu pun dari kalian! Kalian adalah keluargaku! Mana mungkin aku mengorbankan kalian untuk membangun mesin ini!”
Baron langsung memeluk Airi dan membelai kepalanya dengan lembut. Dia bisa memahami perasaan wanita itu. Biar bagaimanapun, dirinya juga sudah kehilangan terlalu banyak robot yang dianggapnya sebagai saudara. Dia tidak mau hal yang sama terjadi pada robot lain di Bravaga. Oleh karena itu, dia tidak berpikir panjang ketika Airi mengatakan akan menggunakan cyber-brain-nya.
“Aku senang kau menganggap kami berdua sebagai keluarga,” ujar Baron pada Airi. “Sejak bertemu denganmu, hari-hariku dan Tesla tidak pernah sama lagi. Kami menemukan harapan untuk hidup. Kami menemukan harapan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Mungkin sebenarnya kami sangat egois. Kau adalah satu-satunya manusia yang tersisa di Bravaga, dan mungkin juga di seluruh daratan ini, tapi kami tidak pernah memikirkan masa depanmu.”
“Tapi ... !”
Ucapan Airi terhenti ketika Baron menempelkan telunjuknya ke bibir wanita itu.
“Tidak usah ragu lagi. Lakukan saja. Aku tahu kalau pengorbananku tidak akan sia-sia,” ucap Baron dengan lembut. “Kalau nyawaku diperlukan demi masa depan masyarakat mesin di Bravaga, aku rela memberikannya.”
Airi masih memandangi Baron cukup lama. Tapi akhirnya dia mengusap air matanya dan melepaskan diri dari pelukan android itu.
“Baiklah. Kalau itu keputusanmu ...” gumam Airi sedih. “Aku akan melakukannya. Jangan khawatir, kau tidak akan merasakan apapun.”
Baron tersenyum sambil menutup matanya.
“Terima kasih.”
Bersamaan dengan ucapannya itu, Baron mematikan seluruh sistem di tubuhnya. Android itu bisa merasakan satu persatu komponen tubuhnya berhenti bekerja. Tidak lama kemudian, Baron tidak bisa merasakan apapun lagi. Tapi di saat yang sama, dia merasakan sebuah kedamaian yang sudah lama dia cari.
Kutitipkan masa depan kami ditanganmu, Airi.
****
“Jadi begitulah ceritanya. Berkat pengorbanan Baron dan kerja keras Airi selama bertahun-tahun, maka kehidupan masyarakat mesin di kota Bravaga sekarang jadi nyaman seperti ini. Berkat clone replicator yang dibuat oleh Airi, kita tidak perlu lagi takut tidak bisa pulih kalau mengalami kerusakan. Berkat itu juga jumlah robot di kota ini jadi bertambah banyak dan berkat itu kami berhasil membangun kembali kota Bravaga hingga jadi seperti ini. Dengan kata lain, mereka berdua telah memberikan masa depan bagi kita semua.”
Tesla mengakhiri ceritanya dengan beberapa kali tepukan tangan. Saat ini dia tengah bergulung di lapangan berumput, tepat di depan sebuah menara tinggi menjulang di puncak sebuah bukit, yang letaknya persis di tengah kota Bravaga. Di hadapan robot lipan raksasa itu, duduk sebuah gynoid berambut hitam panjang dan sebuah android besar bermata satu. Keduanya sedari tadi tampak mendengarkan cerita Tesla dengan seksama. Kedua mata sang gynoid bahkan terlihat berkilat penuh rasa kagum ketika mendengarkan cerita Tesla. Sikap mesin berbentuk gadis remaja itu mengundang reaksi dari sang android bermata satu.
“Oi Maria. Cerita ini kan sudah kau dengar entah berapa ribu kali. Kenapa kau masih saja terlihat kagum dan bersemangat mendengarnya?” tanya sang android bermata satu.
“Memangnya kau tidak merasa kagum, Ryouta?” balas Maria, sang gynoid. “Ini kan cerita tentang asal usul Mother ... maksudku ... clone replicator di Bravaga! Bayangkan saja, kalau tidak ada mesin itu, kita berdua tidak akan lahir!”
“Ralat! Kau yang tidak akan lahir. Aku sudah ada sejak jaman Catastrophy,” balas Ryouta dengan nada mengejek.
“Tapi kalau tidak ada Mother, kau tidak akan hidup lagi,” Maria balas mengejek temannya itu. “Kan tubuhmu itu hampir setengahnya diciptakan kembali oleh Mother.”
Ryouta mendengus jengkel setiap kali Maria berhasil membuatnya kesal. Dia lalu menoleh ke arah Tesla yang masih dengan sabar menunggu. Sekilas Ryouta bisa melihat kilatan kesedihan di keempat mata Tesla.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ryouta khawatir.
Tesla menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku hanya merasa sedikit sedih mengingat semua itu.”
Ryouta dan Maria saling pandang. Mereka jadi merasa bersalah karena sudah memaksa Tesla mengingat semua semua kejadian yang terjadi selama pembangunan Central Tower dan clone replicator.
Tesla masih ingat bagaimana wajah pedih Airi ketika wanita itu membongkar kepala Baron untuk mengambil cyber-brain-nya. Dia juga tidak akan pernah bisa melupakan wajah bahagia Airi menjelang akhir hayatnya, ketika wanita itu duduk di depan Central Tower sambil melihat kota Bravaga baru yang dibangun di sekitar menara ciptaannya itu. Tesla tahu Airi begitu bahagia melihat hasil kerja kerasnya, serta pengorbanan Baron, sama sekali tidak sia-sia.
“Kakek Tesla, maafkan kami karena telah membuatmu sedih,” ujar Maria.
Tesla menggelengkan kepalanya lagi.
“Kau tidak perlu minta maaf. Justru aku senang sekali kalau diminta menceritakan sejarah Central Tower dan Mother kepada generasi baru seperti kalian. Sebab dengan begitu, Airi dan Baron tidak akan pernah mati, mereka akan tetap hidup dalam ingatan kalian,” ujar Tesla dengan lembut. “Mereka akan tetap hidup dan diingat sebagai dua sosok yang berjasa besar memberikan masa depan bagi masyarakat mesin di Bravaga ini.”
Maria dan Ryouta kembali saling pandang, kemudian Maria tersenyum lebar.
“Kau benar, kakek! Selama masih ada yang mengingat mereka, Airi dan Baron akan tetap hidup!” seru Maria girang.
“Nah. Ceritanya sudah selesai. Kurasa sekarang sudah saatnya kalian kembali ke rumah masing-masing. Aku masih ada pekerjaan lain di dalam Central Tower,” ujar Tesla sambil bangkit dan mulai merayap kembali ke dalam menara. “Sampai jumpa lagi.”
“Sampai jumpa lagi, kakek!” sahut Maria dengan riang.
“Sampai ketemu lagi,” ujar Ryouta.
Setelah Tesla masuk ke dalam Central Tower, Ryouta dan Maria memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Keduanya memandang sejenak ke arah menara yang menjadi pusat kota baru Bravaga, kemudian pandangan mereka beralih ke arah jalanan utama yang membentang hingga ke reruntuhan kota tua di selatan. Pemandangan kota yang disirami cahaya keemasan dari matahari terbenam tampak begitu indah dan mengagumkan. Sebuah pemandangan yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh robot dan droid yang dulu tinggal di reruntuhan kota Bravaga. Memang kalau tidak karena jasa Airi, Baron dan Tesla, pemandangan seperti ini tidak akan pernah ada.
“Ryouta.” Akhirnya Maria berbicara setelah terdiam cukup lama.
“Ada apa?” balas Ryouta singkat.
“Manusia yang bernama Airi dan android bernama Baron itu benar-benar hebat. Mereka tidak ragu mengorbankan kepentingan diri mereka sendiri demi masa depan yang lainnya,” ujar Maria dengan nada serius.
“Ya. Mereka memang orang-orang hebat.” Ryouta mengangguk mengiyakan. “Apa yang mereka lakukan benar-benar mengubah segalanya.”
“Ryouta? Apa kita bisa seperti mereka?” tanya Maria sambil mendongak ke arah temannya itu.  “Maksudku ... apa mungkin droid biasa seperti kita menjadi seperti Airi dan Baron? Apa kita bisa menjadi sosok yang membukakan jalan masa depan bagi generasi selanjutnya?”
Ryouta terdiam sambil menatap lembut ke arah Maria. Kalau saja wajahnya didesain untuk bisa tersenyum, Ryouta pasti sudah tersenyum lebar. Android itu lalu menepuk kepala Maria dengan lembut.
“Tentu saja bisa, Maria. Tentu kita bisa seperti Airi dan Baron.”
Kali ini Maria tidak menjawab. Dia hanya menyunggingkan sebuah senyuman manis kepada Ryouta.
Tentu saja bisa ... karena masa depan generasi selanjutnya ada di tangan kita.
****
-FIN?-

By: red_rackham 2012