Monday, February 27, 2012

Selamat Datang Di Kastil Kami~!



“Selamat datang di Kastil kami, wahai pengembara yang tersesat. Silahkan masuk. Kami sudah menunggu kedatangan anda.”
“A....apa? Dimana ini? Apa yang terjadi disini?”
Aku bertanya pada sosok pria yang berdiri di depanku itu.
“Ugh!” aku mengerang.
Kepalaku terasa ringan. Aku juga sulit berpikir dan anehnya aku tidak bisa mengingat apapun. Rasanya seperti ada yang menghapus ingatanku dengan penghapus. Semuanya nyaris putih bersih. Kecuali namaku, aku tidak ingat apa-apa sama sekali. Aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi padaku hingga aku sampai di tempat ini. Aku bahkan tidak ingat dimana aku tinggal, siapa nama orang tuaku dan sebagainya.
 “Ah. Kulihat anda masih bingung. Tidak masalah. Semuanya juga begitu pada awalnya,” ujar pria misterius itu sambil membungkuk dengan hormat. “Tapi jangan khawatir, saya akan memandu anda.”
Dia lalu mengetuk pintu gerbang raksasa dari kayu yang ada di belakangnya. Ajaib. Hanya dengan ketukan ringan, pintu gerbang itu mengayun terbuka dengan perlahan. Ketika pintu itu sudah terbuka lebar, pria misterius itu membungkuk sekali lagi.
“Sekali lagi. Selamat datang di Kastil kami,” ujar pria itu. “Perkenalkan, nama saya Losta, saya adalah penjaga gerbang Kastil sekaligus pemandu anda.”
Aku tidak bisa berkata apapun lagi karena terpana melihat pemandangan yang ada di balik pintu berat di depanku itu. Sebuah Kastil yang luar biasa megah dan besar tampak berdiri dengan kokoh. Menara-menara Kastil itu tampak menjulang menantang langit dan dihiasi dengan berbagai macam bendera serta umbul-umbul. Di halaman Kastil yang sangat luas, terlihat ada banyak orang berkerumun. Beberapa orang yang mengenakan seragam aneh tampak sibuk, sementara ada lebih banyak lagi orang yang hanya bergerombol sambil mengobrol.
“Nah. Masuklah,” ujar Losta sambil mendorongku dengan lembut.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain melangkah maju dan melewati gerbang Kastil. Tapi ketika aku baru menginjakkan sebelah kakiku di Kastil itu, tiba-tiba saja aku mendengar suara bisikan entah darimana asalnya.
Berhenti!
Seketika itu juga aku berhenti di tempat sambil memandang ke segala arah, berusaha mencari darimana asalnya suara misterius itu. Tapi selagi aku melakukan itu, suara bisikan misterius itu kembali terdengar.
Berbaliklah! Jangan masuk ke tempat ini! Pergilah!
“Hah? Apa?” tanyaku bingung.
“Ada masalah apa?”
Losta bertanya padaku sambil tersenyum. Karena bingung, aku menggelengkan kepala dan terdiam sejenak. Tapi karena suara itu tidak terdengar lagi, aku memutuskan kalau itu hanya khayalanku saja.
“Tidak. Tidak ada apa-apa.....” gumamku sambil terus berjalan. Namun begitu aku sudah berjalan cukup jauh melewati gerbang Kastil, tiba-tiba saja, pintu berat itu terayun tertutup dengan perlahan. Tentu saja aku kaget dan langsung berbalik.
“Ke.....kenapa gerbangnya tertutup?!” tanyaku dengan suara bergetar.
Aku mulai ketakutan dan itu sebenarnya wajar saja. Saat ini aku terjebak di tempat antah berantah, dengan seorang pria misterius memanduku, dan kini aku berada di dalam sebuah Kastil aneh yang gerbangnya baru saja tertutup. Lengkap sudah.
“Ah. Kita tidak ingin ada tamu tidak diundang datang ke Kastil ini. Lagipula dengan begini sekarang kau aman.” Losta menjelaskan padaku sambil tetap tersenyum. Tapi anehnya, kali ini aku merasa ada yang tidak beres dengan senyuman pria misterius itu.
Aku menelan ludah, lalu memberanikan diri bertanya pada Losta.
“Tempat apa ini? Dimana ini sebenarnya?”
Losta tampaknya sudah menunggu-nunggu pertanyaan itu. Dia langsung menepukkan kedua tangannya dan dengan nada riang langsung menjawab pertanyaanku.
“Ah. Saya senang anda bertanya,” ujar Losta. “Ini adalah Kastil. Tempat para pengembara yang tersesat berkumpul. Tempat dimana anda bisa merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Tempat tujuan akhir dari pengembaraan yang anda lakukan seumur hidup anda. Disini hanya ada 1 hukum utama...anda harus tunduk, hormat, dan patuh terhadap titah Yang Mulia Ratu. Selain hukum itu, disini anda bebas melakukan apapun, selama itu tidak mengganggu orang lain. Anda pasti akan menyukai kehidupan anda disini.”
Penjelasan Losta sama sekali tidak menjelaskan apapun. Aku malah semakin bingung gara-gara mendengar ucapannya.
“Aku tidak mengerti...” sahutku spontan.
“Ah. Semuanya begitu pada awalnya. Tapi pada akhirnya anda akan terbiasa dengan tempat ini,” ujar Losta lagi, masih sambil tersenyum. “Ayo. Kita jalan lagi.”
Pada awalnya aku cukup menyukai senyuman pria itu, tapi lama kelamaan senyumannya jadi terasa sangat....menakutkan. Tanpa sadar aku melangkah mundur tapi gara-gara itu aku jadi menabrak seseorang.
“Auw!” seru orang itu.
Aku langsung berbalik dan bermaksud meminta maaf. Tapi aku malah terpaku ditempat dengan mulut terbuka lebar. Memang aku pasti terlihat seperti orang idiot, tapi aku yakin ini reaksi yang wajar. Soalnya orang yang kutabrak tadi itu bukan benar-benar ‘orang’, melainkan seekor panda yang berdiri dengan dua kaki dan mengenakan pakaian layaknya manusia.
“Ati-ati kalau jalan! Dacal manucia!” protes manusia panda itu sambil berlalu.
Aku masih melotot ke arah makhluk aneh itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh lagi ke arah Losta. Pria itu mengangkat kedua bahunya dan tampak biasa saja melihat ada manusia panda lewat di depannya.
“Yah. Panda yang itu memang agak pemarah, walau sebenarnya dia baik hati,” sahut Losta. “Nah. Sekarang biar saya memandu anda ke sekeliling Kastil dan memperkenalkan anda pada beberapa orang penting di tempat ini. Mari.”
Meski masih shock, aku menurut saja dan mengikuti Losta. Sambil berkeliling aku baru menyadari kalau makhluk-makhluk aneh di tempat ini tidak hanya manusia panda saja. Sambil berjalan aku sempat melihat sebuah ‘pohon hidup’, yang tampak sedang mengajari sesuatu pada sekelompok orang yang duduk diam di hadapannya. Selain itu, aku sempat melihat sebuah danau besar di belakang Kastil, yang tampak dipenuhi berbagai jenis ‘manusia ikan’ yang sedang mengobrol sambil berjemur di pinggiran danau. Pemandangan yang sungguh absurd dan tidak masuk akal.
“Te....tempat yang aneh.....” gumamku dengan suara lirih pada Losta.
“Memang. Tapi jangan khawatir. Anda akan segera menemukan ‘tempat’ anda di Kastil ini. Jangan terburu-buru, nikmati saja waktu anda disini,” balas Losta, masih dengan senyuman di wajahnya.
Aku kembali terdiam dan terus bertanya-tanya dalam hati.
Sebenarnya tempat apa ini?!

****

Saturday, February 25, 2012

I'm Home


Angin kuat disertai partikel debu radioaktif mendera tubuhku, membuatku sulit berjalan maju ke depan. Meskipun sudah mengenakan exoskeleton suit, tapi tetap saja kekuatan baju canggih itu tidak sanggup melawan kekuatan alam.
“George!! Berapa lama lagi kita harus berjalan?! Aku sudah tidak sanggup bergerak lagi!”
Aku berseru ke arah rekanku yang berjalan di depan. Terlihat jelas kalau dia juga kesulitan untuk bergerak menembus badai pasir ganas ini. Langkahnya yang tadi begitu tegap, kini terlihat limbung karena hempasan angin yang begitu kuat.
“Tinggal sedikit lagi!! Kalau kita bisa berjalan melewati badai ini, kita akan sampai di checkpoint selanjutnya!!”
George membalas perkataanku melalui jaringan komunikasi di pakaian canggihnya.
“Bertahanlah! Aku tahu kau bisa bertahan! Jangan menyerah!”
George berseru lagi padaku. Aku langsung berusaha melangkah maju dan memaksa mesin di sendi-sendi exoskeleton suit-ku bekerja lebih keras. Suara dengung generator dan derak samar roda gigi di pakaian canggihku itu langsung memenuhi telingaku.
Ayolah! Jangan sampai ada part yang rusak!!
Aku berdoa semoga pakaianku tidak memutuskan untuk rusak sekarang. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan nyawaku akan melayang dalam hitungan menit. Tidak ada manusia yang bisa bertahan dalam badai yang tercemar debu radioaktif seperti ini. Kalau tidak karena exoskeleton suit yang kukenakan, aku tidak akan bisa berjalan di luar seperti ini.
Sejak perang nuklir 40 tahun yang lalu, udara dan tanah di bumi sudah tercemar berat oleh berbagai jenis radioaktif dan bahan-bahan berbahaya lainnya. Akibatnya manusia sekarang dipaksa untuk tinggal di shelter-shelter di bawah tanah, serta hanya bisa keluar kalau mengenakan exoskeleton suit seperti ini.
Langkahku semakin berat, meski sudah ditopang dan dibantu oleh sendi-sendi mekanik exoskeleton suit-ku. Kami terus berjalan dan akhirnya tiba di sebuah gunung karang raksasa, yang memiliki sebuah gua di bawahnya. Aku melihat George masuk ke dalam gua itu dan segera mengikutinya.
Gua itu tidak luas, tapi setidaknya terlindung dari badai pasir yang mengamuk diluar. Aku langsung duduk di lantai gua dan menghembuskan nafas lega. Sudah 4 hari kami berjalan kaki seperti ini dan paling tidak sudah 3 kali kami menghadapi ganasnya kekuatan alam, seperti badai pasir ini.
“Akhirnya bisa istirahat...” ujar George sambil mengambil sebuah piramida metalik dari dalam ranselnya. Dia segera meletakkan piramida itu di tanah, lalu memutar puncaknya. Sebuah selubung mirip jeli langsung keluar dari piramida metalik itu, kemudian membentuk semacam piramida kenyal yang melindungi kami berdua. Pada saat yang sama, suara mendesis terdengar ketika mekanisme air purifier di piramida itu bekerja.
Setelah menunggu beberapa saat, aku menekan sebuah tombol di sisi kiri helm exoskeleton suit-ku. Dengan suara mendesis dan berderak pelan, helm titanium yang kukenakan akhirnya terbuka. Aku membiarkan rambut panjangku tergerai keluar, lalu menoleh ke arah George, yang juga sudah membuka helmnya.
“Badai yang menakutkan,” celetuk George. “Untung kita bisa bertahan sampai di checkpoint ini.”
Aku langsung mencibir ke arah George.
“Yeah. Tapi kalau badai ini tidak berhenti besok, aku tidak bisa bergerak,” gerutuku sambil mengambil bungkusan makanan dari tasku. “Persediaan energi di exoskeleton suit-ku tinggal seperempat. Kalau kita tidak melihat matahari besok, aku tidak akan bisa membuat SOL untuk bajuku ini.”
“Kalau begitu berdoa saja semoga besok badai ini sudah reda,” balas George sambil tersenyum. “Dengan begitu kita bisa melanjutkan perjalanan lagi dan kau bisa membuat SOL untuk bajumu itu.”
Aku mendengus kesal. Kadang-kadang sikap optimis George bisa membuatku jengkel.
“Berapa jauh lagi kita dari tujuan kita?” tanyaku sambil membuka bungkusan makanan yang kupegang, lalu mulai memakan isinya. “Dan yang lebih penting lagi....apa tempat yang kau bicarakan itu benar-benar ada?”
“Kalau dengan berjalan kaki. Kita seharusnya akan sampai ke tujuan 4 hari lagi,” balas George sambil menekan beberapa tombol di komputer mini, yang ada di pergelangan tangannya. Sebuah peta holografis langsung muncul di depan pria itu. Dia lalu menunjuk ke arah sebuah titik merah di peta itu. “Ini tempat yang akan kita tuju, unknown area no.25. Tempat ini benar-benar ada. Setidaknya di peta...”
Aku memandangi peta holografis itu sejenak. Kalau saja George tidak menerima sinyal misterius dari area itu, kami tidak akan melakukan perjalanan yang terkesan konyol ini. Isi sinyal komunikasi yang dia terima itu sangat sederhana.
Kami ada disini...
Hanya satu kalimat singkat itulah isi pesan yang ter-encode dalam sinyal misterius yang diterima George. Setelah memaksaku melacak asal sinyal itu, kami menemukan sinyal ini dikirim dari unknown area no. 25, area yang seharusnya tidak ada apa-apanya itu.
Tadinya kupikir ini hanya ulah iseng seseorang, tapi setelah mengamati sistem kode sinyal yang digunakan untuk mengirimkan pesan itu, aku terkejut. Sistem kode dalam sinyal itu terlalu canggih dan rumit untuk ukuran keisengan yang dilakukan seseorang. Bahkan kalau melihat dari tipe sinyalnya, sinyal ini hanya bisa ditangkap oleh peralatan penerima sinyal canggih, seperti yang ada di fasilitas penelitian dalam shelter tempat kami tinggal.
“Irene, tidurlah. Malam ini biar aku yang berjaga. Kau pasti lelah setelah berjuang menembus badai pasir tadi.”
Ucapan George membuyarkan lamunanku. Aku langsung melotot ke arah pria itu.
“Jangan meremehkanku! Biar aku perempuan, tapi aku tidak lemah!” protesku.
George mengabaikan protesku dan melambaikan tangannya.
“Ya..ya..aku tahu. Sekarang tidur sana! Besok perjalanan kita bisa saja lebih berat dari hari ini,” balas George sambil nyengir lebar.
Aku melemparkan bungkus makanan ke arahnya, kemudian bangkit dan mengambil sebuah silinder hitam dari ranselku. Dengan satu sentuhan ringan, silinder itu mendesis membuka dan berubah menjadi sebuah kapsul seukuran tubuh manusia, yang terbuat dari serat nano-carbon.
“Selamat tidur!”

Aku berkata dengan nada ketus sambil membungkus tubuhku dengan kapsul itu. Tidak lama kemudian aku sudah tertidur pulas.

****

Tuesday, February 7, 2012

[Cerpen EAT 2011]: Perjalanan Sang Penjaga Labirin


[Cerpen EAT 2011]: Perjalanan Sang Penjaga Labirin
Oleh: kyuukou okami

            Niehls di malam hari penuh pendaran lampu kekuningan, seperti kawanan kunang-kunang. Kota tua itu hampir runtuh dilalap putaran sang waktu. Udara pagi selalu menebarkan wangi masam di perkebunan dan bau asap penuh kerja keras di pertambangan. Sementara saat matahari terbenam, hanya tersisa aroma peluh pekerja tambang batu bara.
            Gadis itu berdiri di kegelapan bukit tempatnya dapat merengguk pemandangan kota di bawah. Angin malam berhembus mengacak rambut dan mengibarkan jasnya. Matanya berkilau memantulkan sinar purnama. Lonceng kecil yang dikalungkan di lehernya berdenting jernih dan pilu. Dihirupnya udara malam yang membawa aroma keringat, dan derita hari itu. Aroma penuh kehidupan nyata yang dirindukannya.
            Dialihkan pandangan pada batu granit yang bertebaran tak beraturan di sekitar reruntuhan tempatnya berdiri. Sebagian kelabu kehitaman, sebagian hijau dirambah lumut, namun kebanyakan menampakkan warna abu-abu pucat, tanpa nyawa.
            Betapa menyedihkan. Tak terbayang kemegahan Kerajaan Galena di jaman jayanya dulu. Ada masa di mana bangunan ini berdiri kokoh di atas bukit tertinggi Niehls ini. Dengan prajurit berbaju zirah menjaga di gerbang istana, taman indah dengan air mancur besar berhias patung keluarga kerajaan, dan ruang singgasana menakjubkan dengan taburan kristal dan permata yang dihuni oleh Raja Erasmus, Ratu Dorinda beserta keempat putri mereka yang bijaksana dan disegani rakyatnya
            Namun di masa itulah portal penghubung bumi dengan neraka terbuka. Deimos menyebar dari sana, merajalela membuat kerusakan, penderitaan, dan merampas hal paling berharga dari semua orang. Galena yang terparah. Makhluk-makhluk itu menghancurkannya hingga serpih terkecil, tak menyiksakan apa pun kecuali kematian dan kesengsaraan.
            Kedua gadis itulah, yang merasa terpanggil takdir, akhirnya bertekad menukar kelemahan demi mendapatkan kekuatan dan menjual batas hidup mereka demi mendapat keabadian—dengan beberapa ketentuan—pada roh leluhur suci untuk mengakhiri kejayaan para Deimos. Lalu mereka ciptakan labirin luas penuh tipu daya di kedalaman tanah Niehls dan memerangi para Deimos dari seluruh penjuru dunia kemudian menyegelnya di sana.
            Yuki dan Lena, kedua gadis penjaga labirin bawah tanah itu, hidup hingga ratusan tahun, hingga kini.
            Tiba-tiba denting lonceng lain degan suara kuat dan tegas membuyarkan lamunan Yuki. Lena berdiri di sampingnya, menatap lurus pada kerlipan Niehls. Terlihat mengagumkan saat angin mengibarkan syal dan rambut keperakan serta menampar lonceng yang disambungkan dengan seutas tali tipis di pergelangan tangannya.
Yuki terdiam, menjelajah wajah Lena di sampingnya. Mata yang, walau tajam, selalu membuatnya nyaman, bibir tipis yang selalu berkata dingin namun mampu membuat hatinya hangat, serta lonceng itu, simbol janji yang tak pernah dilepaskannya. Tanda bahwa mereka akan mengabdi bersama, selamanya.
            Tapi kini, sesuatu mengusik dada Yuki. Ada keinginan untuk mendobrak keluar dari batas hidupnya. Berkubang menjinakkan kegelapan telah membuatnya muak. Mereka telah berjanji, tapi ia ingin kebebasan. Ia ingin pergi dari hari-hari yang telah begitu lama dijalaninya. Tak bisakah ia merengguk kehidupan manusia lagi, seperti dulu?
            Egois, Yuki mengakuinya. Semua makhluk menginginkan kekuatan dan keabadian. Ia memiliki keduanya, namun kini hati kecilnya menolak. Bukankah ia sudah terlalu lama melawan Deimos? Bukankah ia sudah terlalu lama mengecap rasa dunia di bawah tanah? Bukankah ia sudah terlalu lama menjalani semuanya, bersama Lena?
            Dibalik rasa itu, Yuki tahu ada alasan lebih kuat yang menguasainya. Sosok pemuda itu telah mencuri hatinya. Dialah alasan terbesar yang membuat hati kecilnya mulai rindu kebebasan dan kehidupan normal. Pemuda itu telah membuatnya merasa berbeda. Segala hal yang semula menjadi bagian terpenting hidupnya—Lena dan segala macam tentang Labirin Ilusi—kini mulai bergeser. Bayangan pemuda itu menganggunya. Hampir tak tertahan keinginannya untuk pergi dari kehidupan seperti ini, bahkan meninggalkan Lena, untuk bersamanya. Ia hanya manusia biasa dengan senjata bumerang raksasa, tapi Yuki merasa diperbudak. Seakan pemuda itu adalah segala baginya, hidup matinya dan ia tak dapat bernapas tanpanya.
            ‘Pengkhianat!’ Yuki memaki dirinya. Tapi ia tahu, betapa pun ia sadar mencaci diri, hati kecilnya memiliki pemikiran sendiri.
            “Lena, maafkan aku…”
Lena beralih menatap Yuki. Nada gadis itu penuh rasa tertekan. Lena tak bisa menerka karena mata biru cemerlang Yuki terus memandang ke bawah, seakan menghindarinya.
            “Untuk apa?”
            Suara Lena sedingin salju. Menusuk pendengaran Yuki, menyesakkan napasnya, membuatnya tertimbun dengan perasaan bersalah dan tertekan yang sama besarnya. Ia terombang-ambing antara tak dapat memilih apa yang harus dikatakan dan ketakutan akan pengakuan yang mungkin diucapkannya.
Angin malam itu berhembus lagi. Kini hanya lonceng merekalah yang bicara dengan dentingan-dentingan berbeda.
            “Deimos!!”.
Tiba-tiba seruan Lena yang bercampur semangat dan kebencian terdengar merobek keheningan, disertai seulas senyum tajam yang terlukis di wajahnya.
            “Yuki! Ayo!!” Serunya lalu tanpa menoleh lagi, melompat tinggi dari bukit tempatnya berdiri, menyongsong udara malam.
Sementara Yuki terpaku, diliputi keraguan. Ini tidak benar, dia seharusnya menyusul Lena. Tapi mengapa hatinya memberontak?
            Sementara Lena sudah tak terlihat, ditelan bangunan kota, Yuki menatap pohon ek tak jauh dari sana. Daunnya berwarna keperakan ketika ditimpa sinar bulan dan mengangguk anggun. Pohon itu, tempat pertemuannya dengan si pemuda. Mendadak jantungnya terasa sakit. Tiap debarannya seakan sanggup merobek tulang-tulangnya.
            Ia merindukannya sekarang.

-o0o-
           

[Cerpen EAT 2011]: Pengembaraan Sang Penjaga Labirin

[Cerpen EAT 2011]: Pengembaraan Sang Penjaga Labirin
Oleh: red_rackham

Lena menatap tajam ke arah kota Niehls, sebuah kota pertambangan tua yang nyaris runtuh dimakan waktu dan dilupakan para dewa. Kota yang menjadi saksi kebangkitan dan keruntuhan Kerajaan Galena yang dulu pernah menguasai separuh benua ini. Namun keserakahan para penguasa kerajaan itu telah membuka portal menuju dunia para Deimos, makhluk-makhluk yang akhirnya meruntuhkan kejayaan Kerajaan Galena dan menebar teror di seluruh benua pada masa lalu. Kini yang tersisa dari Kerajaan Galena adalah cerita-cerita mengenai kejayaan dan kemegahan di masa lampau.
Kota ini begitu suram sekarang....gumam Lena dalam hati sambil memandangi sebuah pabrik bertenaga uap di kejauhan.
Dalam benaknya Lena masih bisa mengingat kemegahan kota Niehls, ibukota Kerajaan Galena. Dia masih bisa mengingat saat-saat dirinya masih manusia biasa. Saat-saat dirinya bukanlah penjaga gerbang Labirin Ilusi, labirin raksasa di bawah kota Niehls yang dibangun untuk menahan keganasan para Deimos.
Hembusan angin lembut berputar di sekitar Lena, membuat lonceng kecil di pergelangan tangannya berdenting dengan suara jernih namun tegas. Pada saat yang sama, suara denting lonceng lain juga terdengar namun suaranya terdengar jauh ringan dan lembut.
Lena menoleh ke samping dan melihat sosok Yuki yang berdiri di sampingnya. Ketika memandangi gadis itu, Lena menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Wajah Yuki yang biasanya cerah dan penuh senyum, akhir-akhir ini terlihat muram. Tentu saja ini membuat Lena khawatir.
“Kenapa kau?” tanya Lena.
“Lena, maafkan aku....” balas Yuki dengan lirih.
“Untuk apa?” sahut Lena dengan nada agak ketus.
Yuki terdiam dan tampak tidak berani melanjutkan perkataannya. Gadis itu akhirnya membisu, membuat Lena semakin bertanya-tanya.
Dia ingin bertanya lagi pada Yuki, namun sosok-sosok makhluk yang tidak seharusnya berkeliaran di kota telah menarik perhatiannya.
“Deimos!” seru Lena penuh kebencian. Tanpa sadar senyum mengerikan tersungging di bibir tipisnya.
Sambil mengeratkan lilitan syal di lehernya, Lena mengambil ancang-ancang.
“Yuki! Ayo!”
Lena langsung melompat tinggi ke udara, meninggalkan Yuki yang tetap terdiam di tempat. Mata gadis itu tampak terarah ke tempat lain, bukan ke arah para Deimos yang sedang mengendap-endap di antara kegelapan kota Niehls.
Sejenak Lena bertanya-tanya mengenai keanehan sikap Yuki akhir-akhir ini. Tapi Lena tahu dirinya tidak boleh memikirkan itu sekarang. Sekarang ada beberapa ekor Deimos yang berhasil keluar dari Labirin Ilusi.
Sebagai penjaga kota Niehls, sudah menjadi tugas Lena dan Yuki untuk ‘mengirim’ iblis-iblis itu pulang ke labirin, atau menghabisi mereka. Sebuah tugas yang mereka emban demi menyelamatkan orang-orang yang mereka sayangi. Sebuah tanggung jawab sekaligus kutukan yang telah dijalani Lena dan Yuki selama ratusan tahun.
Lena tidak pernah menyesal karena menukar sisi ‘manusia’ miliknya dengan kekuatan untuk melawan para Deimos. Selama ada Yuki disampingnya, dia tidak akan kesepian dan merasa sedih. Yuki selalu ada di sampingnya dan selalu menjadi penopang bagi Lena setiap saat.
Tapi ada satu pertanyaan yang selama ini selalu mengganggu pikiran Lena.
Apakah Yuki bahagia dengan hidup seperti ini?
Meski selalu menganggu pikirannya, Lena tidak berani menanyakan itu pada Yuki. Gadis itu takut tidak bisa menerima jawaban yang akan diberikan oleh orang yang paling dia sayangi itu.
Lena menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif dalam kepalanya. Saat ini dia harus berkonsentrasi penuh agar perburuannya malam ini tidak gagal.
“Kalian bisa lari, Deimos. Tapi tidak bisa sembunyi dariku!” Lena berseru nyaring sambil mendarat di atap sebuah rumah. Sambil bersiul pelan, Penjaga Labirin itu membunyikan lonceng kecil di tangannya dan memulai perburuannya.

****