Wednesday, November 20, 2013

Extra Adventure: Star Childs




Extra Adventure: Star Childs


“Titania~!”
Seorang anak perempuan berambut hitam dan bermata cerah langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Dia melihat seorang anak laki-laki berlari-lari kecil sambil menghampiri dirinya yang sedang sibuk melakukan pengecekan sistem kapsul hibernasi.
“Apaan sih, Eugene? Enggak usah teriak-teriak gitu dong. Kan cuma ada aku di sini,” gerutunya sambil menekan sebuah tombol di panel kendali komputernya. “Ada masalah?”
Anak laki-laki itu menggeleng.
“Enggak, aku bosan karena dari tadi aku cuma sendirian memeriksa ruang mesin,” jawabnya enteng. Dia lalu menyunggingkan senyuman lebar. “Jadinya aku kepingin gangguin orang lain.”
Titania mendengus kesal. Ini rotasi kelima baginya sejak pertama kali dia dan ribuan anak lainnya menaiki wahana Starchild ini. Rasanya sulit dipercaya sudah lebih dari 500 tahun mereka berkelana menjelajahi kedalaman luar angkasa untuk mencari planet tempat tinggal baru.
Meskipun enam belas wahana dalam armada Starchild ini dapat beroperasi secara mandiri, tetap saja ada sistem yang secara bergilir memaksa lima orang anak untuk bangun dari kapsul hibernasi, kemudian bekerja sebagai awak kapal selama satu tahun. Dan walaupun ada ribuan anak yang tertidur dalam kapal raksasa ini, Titania dan Eugene sudah lima kali kena giliran jaga.
“Kapal ini kayaknya suka sekali denganku,” gerutu Titania sambil menutup layar-layar holografisnya, namun menyisakan satu layar yang menunjukkan gambar tiga dimensi planet asal kelahirannya, bumi.
Planet yang terlihat dalam layar holografis itu terlihat indah dengan campuran warna biru, putih, hijau, dan kecoklatan. Sama sekali berbeda dengan warna planet cokelat kemerahan yang terakhir kali dilihat Titania saat pesawat yang ditumpanginya ini meninggalkan bumi lebih dari 500 tahun yang lalu.
“Sudah lama sekali ya ... rasanya enggak bisa dipercaya.” Eugene berkomentar ketika melihat planet kelahirannya itu di layar. Tanpa sadar air mata menggenang di kedua matanya yang berwarna cokelat tua. Dia lalu bicara dengan suara bergetar “Aku rindu ayah dan ibu ...”
Ucapan Eugene membuat dada Titania terasa sesak. Gadis itu tanpa sadar meraih sebuah boneka yang diletakkan di sisi panel komputernya, dan memeluk erat boneka itu. Sama seperti Eugene dan ribuan anak lainnya di pesawat ini, Titania juga terpaksa harus meninggalkan kedua orang tuanya dan pergi mencari planet baru, sebagai bagian dari Project Starchild, usaha terakhir manusia untuk menyelamatkan rasnya dari kepunahan.
“Kamu enggak usah nangis, Eugene,” ujar Titania sambil mengelus bahu temannya itu. “Papa mama bilang kita harus tegar, soalnya kita loh yang jadi anak-anak bintang pertama. Katanya juga kita yang bakalan menyelamatkan ras manusia. Jadi kita enggak boleh sering-sering nangis.”
Eugene mengusap air matanya dan mengangguk.
“Titania benar,” ujarnya sambil menghela nafas. “Ngomong-ngomong, aku pergi lihat adikku dulu di ruang hibernasi 110. Nanti aku balik lagi, ya!”
“Hei! Bentar lagi kita masuk ke fold-cycle loh, jangan jauh-jauh dari kursi anti-gravitasi!” seru Titania pada temannya itu.
“Iyaa~!” sahut Eugene.
Sambil berlari-lari kecil, Eugene pergi meninggalkan Titania yang duduk sendirian, dengan ditemani sebuah boneka putih yang dia bawa dari bumi. Selama beberapa saat, anak perempuan itu memandangi boneka yang berwujud sosok robot bermata satu dan bertubuh kekar. Sosok itu dulu begitu dikaguminya dan ingatan akan sosok itulah yang membuatnya selalu tegar menjalani hari-harinya sekarang. Sosok itu adalah sebuah Guardia, mesin perang yang diciptakan untuk melindungi umat manusia dari serangan musuh. Dulu Titania benar-benar mengagumi dan mengidolakan satu Guardia, yang dia beri nama robot putih, meskipun nama asli mesin itu adalah Ryouta. Sosok sang Guardia yang selalu berdiri tegak menjaga kompleks Project Starchild, telah membuat Titania sampai sekarang bertekad untuk juga menjadi seorang pelindung.  
Titania menarik nafas panjang dan memeluk erat boneka yang merupakan satu-satunya peninggalan dari kedua orang tuanya itu.
“Papa, mama, robot putih, di sini Titania. Aku tahu kalian sudah lama tiada, jadinya aku mau lapor dari sini ke surga saja,” ujarnya sambil menatap ke arah bintang-bintang gemerlap di luar jendela ruang tempatnya bekerja. “Di sini kami sehat-sehat saja, walaupun aku mulai khawatir sama Eugene yang lama-lama bikin makin ngeselin. Teman-teman yang lain juga sehat-sehat saja, walau aku cuma ketemu 3 orang lagi sih tiap giliran jaga tiba. Yang pasti aku enggak kesepian di sini.”
Sejenak Titania berhenti bicara dan menutup kedua matanya. Dia lalu tersenyum ketika membayangkan kedua orang tua, dan sosok yang dikaguminya muncul dalam benaknya. Mereka tampak bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Titania sampai saat ini.
Ketika dia membuka matanya lagi, Titania mengusap sedikit air mata yang sempat menetes di pipinya, kemudian menekan sebuah tombol di panel kendali komputernya.
“Eugene! Kasih tahu yang lainnya, kita masuk fold-cycle sejam lagi!” seru Titania pada salah satu layar holografis di dekatnya.
Sambil mulai melakukan pekerjaan rutin mempersiapkan wahana untuk terbang melebihi kecepatan cahaya, Titania menatap bintang-bintang di kejauhan.
Di sini Titania, si pengembara bintang, gumamnya dalam hati. Wahai Tuhan, lindungilah kami selama perjalanan ini.
****
-Fin?-

Thursday, October 31, 2013

Everyday Adventure V





Adventure V: Ingatan

Ryouta berdiri di tengah reruntuhan bangunan yang sedang terbakar. Android bertubuh besar itu memandang ke sekelilingnya dan bertatap mata dengan ratusan robot berbagai bentuk yang mengarahkan senjata ke arahnya.
Meskipun dikepung oleh sekian banyak robot bersenjata, Ryouta tidak gentar. Dia adalah Guardia. Robot pelindung. Benteng pertahanan manusia. Bagi sebuah robot sepertinya, gempuran ratusan robot bersenjata maut sama sekali bukan masalah, terlebih karena saat ini dia sedang melindungi sesuatu yang sangat berharga.
Di belakang sosok raksasa Ryouta, terlihat sebuah pesawat luar angkasa yang sedang bersiap mengudara. Di dalam pesawat putih itulah bibit-bibit manusia akan berkelana ke seluruh penjuru galaksi, mencari tempat baru untuk tinggal dan membangun kembali ras mereka yang hampir punah. Sejak terjadinya perang besar yang menyapu sebagian besar manusia, dan bahkan menghancurkan setengah bulan, manusia harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Terlebih karena ternyata masih banyak manusia yang haus darah akan manusia lainnya, dan terus berperang, meskipun tahu itu justru akan mempercepat kepunahan mereka.
“Aku tidak akan membiarkan satu pun dari kalian lewat!”
Ryouta meraung murka sambil membuka semua sistem persenjataannya. Puluhan tabung misil dan belasan katup homing laser langsung tersingkap dari sekujur tubuhnya, membuat sosoknya yang sudah menakutkan menjadi semakin mengerikan. Namun bersamaan dengan itu, robot-robot yang mengepungnya juga melepaskan tembakan dari senjata-senjata mereka.
Seketika itu juga seluruh dunia menjadi putih bersih. Ryouta tidak bisa melihat apapun dan tidak bisa mendengar apapun. Yang dia tahu adalah dia harus terus menembak dan menghancurkan apapun yang berani mencoba melewati pagar pembatas area peluncuran di belakangnya. Hanya berbekal sensor-sensor panas dan gerak di tubuhnya, Ryouta mengamuk dan menembak ke arah apapun yang bergerak di dekatnya. Tidak peduli apakah itu robot, ataukah itu manusia.
Dia tidak tahu berapa lama dia bertarung membabi-buta seperti itu. Yang dia tahu, dia harus bertahan selama mungkin, selagi pesawat di belakangnya itu bersiap meluncur ke angkasa, membawa harapan baru bagi ras manusia.
Di tengah kekacauan yang melanda sekitarnya, Ryouta mendadak mendengar suara deru nyaring dan menoleh sekilas ke belakang. Pesawat putih yang tadi ada di belakangnya, kini sudah mengudara dengan diiringi semburan mesin ion berkekuatan dahsyat, dan suara menggelegar yang menghancurkan semua kaca jendela gedung di sekitarnya. Melihat pesawat itu lepas landas, Ryouta tersenyum lebar dalam hati. Dia tahu tugasnya sudah selesai sekarang dan dia pun akhirnya bisa merasakan kedamaian.
Dan hal terakhir yang di ingat Ryouta adalah sebuah tembakan laser yang dengan telak menembus dadanya.
****

Friday, October 4, 2013

Everyday Adventure IV



Adventure IV: Backpacker

 “Bosan~!” gerutu Maria.
Tadinya seperti biasa, dia berniat untuk mengganggu Ryouta yang sedang bekerja di lokasi proyek pembangunannya. Tapi hari itu Ryouta sedang tampak sangat sibuk sehingga Maria akhirnya tidak jadi mengganggu temannya itu. Gagal menggoda Ryouta, Maria tadinya ingin berbuat onar dengan mencuri atau mengerjai robot lainnya. Tapi niat itu juga dia urungkan karena dia sedang tidak mood untuk berbuat jahil. Pada akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan di kota.
“Aah~! Daripada mati bosan, lebih baik hari ini aku menjelajah kota saja!” Maria berseru pada dirinya sendiri, sambil menepukkan tangannya.
Dengan santai Maria berjalan menyusuri salah satu jalan utama yang membelah kota Bravaga. Gynoid itu tampak mengamati situasi di sekitarnya sambil sesekali berhenti di depan toko yang menjual asesoris dan suku cadang tubuh. Maria juga sesekali mengamati berbagai sosok robot yang berjalan lalu-lalang di sekitarnya. Mereka semua tampak sibuk dengan urusan masing-masing, meskipun ada juga beberapa robot yang seperti Maria, hanya berjalan mengitari kota untuk menghabiskan waktu.
Dia lalu berpikir sejenak.
“Dipikir-pikir ... kota ini luas sekali ya.”
Maria bergumam pada dirinya sendiri sambil memandang ke arah ujung jalan utama kota Bravaga. Jalan lebar itu tampak membentang hingga puluhan kilometer, hingga menghilang di batas kota yang juga berbatasan dengan kota megapolitan kuno di selatan Bravaga. Kota Bravaga sendiri setidaknya memiliki luas lebih dari 3000 kilometer persegi dan kota itu terus tumbuh ke arah utara dan timur, hingga membuat ukuran kota jadi jauh lebih luas lagi. Saking luasnya kota itu, masih banyak tempat yang tidak diketahui oleh Maria, padahal dia adalah salah satu robot yang paling gemar menjelajahi pelosok kota Bravaga.
Sambil terus berjalan, Maria teringat kata-kata yang pernah dia dengar dulu.
Kota ini sudah tua dan ada banyak lagi bangunan-bangunan dan tempat-tempat yang jauh lebih tua daripada kota ini.
Mother, ibu dari sebagian besar robot di Bravaga, pernah memberitahu Maria soal itu. Namun Mother tidak mau memberitahu Maria di mana saja letak bangunan-bangunan dan tempat-tempat kuno itu. Sikap Mother justru memicu rasa ingin tahu Maria yang memang sangat besar dan membuatnya menjadi penjelajah kota.
Tiba-tiba saja Maria berhenti berjalan. Kedua mata android itu terpaku pada sebuah gedung berkubah yang tampak menjulang di sela-sela bangunan tinggi yang berdiri di sisi jalan.
“Tempat apa itu?” gumam Maria.
Dia lalu memicingkan matanya dan menyadari kalau bangunan itu terlihat jauh lebih tua dari bangunan di sekitarnya. Sekilas dia melihat cat di dinding bangunan itu sudah terkelupas dan noda-noda jamur serta tanah terlihat menghiasi permukaannya. Dari bentuknya, sepertinya bangunan itu sudah ada sebelum kota Bravaga berkembang sampai sejauh ini. Dan yang pasti, Maria belum pernah pergi ke bangunan itu. Begitu menyadari itu, dia langsung tersenyum lebar.
Jangan-jangan itu salah satu bangunan kuno yang dimaksud Mother waktu itu! Seru Maria dalam hati. Kalau begitu, aku harus ke sana!
Maria berjalan mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, lalu berlari dan langsung melompat tinggi ke atap gedung terdekat. Tanpa basa-basi, gynoid
 itu segera berlari ke arah gedung tua yang menjadi tujuannya itu.
Jantungnya berdebar karena bersemangat dan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Semoga tempat itu adalah tempat yang menarik!

****

Sunday, September 8, 2013

Everyday Adventure at AFAID 2013 (After Story)



Tidak terasa Anime Festival Asia Indonesia (AFAID) 2013 telah berakhir. Rasanya waktu berlalu begitu cepat dan 3 hari terasa begitu singkat. Meskipun demikian, selama 3 hari festival berlangsung, saya merasa gembira. Bagaimana tidak? Light Novel (walaupun sebenarnya lebih mirip kumcer) Everyday Adventure yang saya coba tawarkan selama festival berlangsung telah terjual lebih dari 100 eksemplar, jumlah yang awalnya tidak saya perkirakan sebelumnya. Sungguh luar biasa karena cerita yang awalnya hanyalah sebuah cerpen tunggal, dapat berkembang menjadi sebuah Light Novel, dan ternyata laku terjual! Ini benar-benar membuat saya merasa gembira dan semakin bersemangat untuk membuat lanjutan dari LN tersebut.
Nah, berikut adalah beberapa momen yang saya abadikan selama AFAID 2013:


 



Sebagai informasi, cerita Everyday Adventure ini kini telah berkembang menjadi sebuah proyek kerja sama cerita antara saya dan Sinlaire, yang kami sebut sebagai Present Future Project. Sinlaire sendiri pada AFAID 2013 ini meluncurkan cetakan kedua dari komiknya yang berjudul Only Human, yang memiliki universe dan timeline yang sama dengan Everyday Adventure. Sehingga pada chapter-chapter selanjutnya dari Everyday Adventure, tokoh-tokoh dari Only Human (Dokter, Yurika, Ely) akan muncul dan berinteraksi dengan Maria, Buggy, dan Ryouta. Begitu pula dalam chapter-chapter selanjutnya dari Only Human, ketiga robot tersebut akan muncul dan memiliki peran dalam cerita tersebut.

 Only Human, komik karya Sinlaire (Mukhlis Nur)
 yang memiliki universe serta timeline yang sama dengan Everyday Adventure

Mengenai permintaan dari beberapa pengunjung dan teman yang menginginkan adanya sistem Pre-Order (PO), saya informasikan bahwa PO Light Novel Everyday Adventure akan dibuka pada pertengahan Oktober 2013. Jadi, jangan lupa cek terus blog ini untuk informasi lebih lanjut mengenai PO LN ini.

Akhir kata, sepertinya petualangan sehari-hari Ryouta, Buggy, dan Maria akan terus berlanjut hingga beberapa chapter lagi. Dan semoga, kehidupan mereka akan selalu dipenuhi berbagai petualangan menarik yang menambah warna hidup ketiga robot tersebut.

 red_rackham 2013


Saturday, August 31, 2013

Everyday Adventure at AFAID 2013



Setelah berkutat cukup lama dan bersemedi, akhirnya saia memberanikan diri untuk kembali mencoba menerbitkan salah satu kumpulan karya saia secara indie di ajang Anime Festival Asia - Indonesia (AFAID) 2013. Temukan Everyday Adventure di Booth PUINE no. 20 (o__<)b

Everyday Adventure, seperti yang bisa dibaca di blog ini, adalah kumpulan cerpen mengenai petualangan sehari-hari tiga robot di dunia tanpa manusia: Ryouta, sebuah android perang kuno dari jaman sebelum kepunahan manusia; Buggy, robot kecoak yang kadang bertingkah aneh; dan tentu saja Maria, gynoid generasi baru yang suka sekali membuat masalah.

Simak dan ikuti petualangan sehari-hari mereka di kota para robot Bravaga.

See you at AFAID 2013 soon ~! \(^____^)/

(Dalam buku ini, terdapat 2 chapter baru yang belum dipublikasikan dalam blog ini + ilustrasi-ilustrasi spesial dari Mukhlis Nur (aka Sinlaire)

Tuesday, February 19, 2013

[FdC-JU] Para Pemburu Maut


Aku melangkah masuk ke dalam area TKP sambil menutup hidung dengan sebelah tangan. Bau anyir darah selalu membuatku tidak nyaman. Meski tidak sampai membuatku mual dan ingin muntah, tetap saja aku tidak suka mencium bau itu. Tapi apa boleh buat. Ini bagian dari pekerjaanku sebagai anggota tim penyidik di kepolisian.
“Bagaimana kondisinya?”
Aku menyapa seorang polisi yang berjongkok sambil menutupi sesuatu dengan kain hitam. Dia langsung menoleh dan mencermati sosokku sejenak, sebelum memberi hormat singkat, kemudian menjawab pertanyaanku.
“Buruk, kolonel Dika. Aku belum pernah lihat yang seperti ini sebelumnya,” ujarnya dari balik masker bedah yang dia kenakan. “Ada tiga korban dan semuanya mati karena mutilasi. Tapi jujur saja, selama 10 tahun jadi petugas olah TKP, aku belum pernah melihat situasi seperti ini. Beberapa juniorku yang datang tadi langsung sibuk menguras isi perut mereka di pojokan sana.”
Aku memandang ke segala arah. Wajar saja kalau ada petugas yang sampai muntah-muntah begitu datang ke tempat ini, karena gang lebar tempat terjadinya pembunuhan sadis ini sudah berubah jadi neraka. Darah dan potongan daging korban ada dimana-mana, membuat dinding dan tanah berlapis beton menjadi berwarna merah gelap. Pandanganku lalu teralih ke potongan-potongan besar tubuh korban yang sudah ditutupi dengan kain hitam.
“Jadi...kira-kira siapa pelakunya?” tanyaku lagi pada si petugas olah TKP.
“Monster,” sahutnya singkat. “Setidaknya itu yang ada di pikiranku begitu sampai disini. Semua korban mati mengenaskan dengan cara dikoyak sampai hancur, kemudian potongan tubuh mereka dihempaskan ke segala arah, hingga membuat darahnya menghiasi dinding dan tanah. Kecuali ada beruang atau gorila raksasa kebun binatang Ragunan lepas di tengah kota Jakarta, aku tidak percaya ada makhluk lain yang bisa membuat kekacauan seperti ini.”
Masuk akal, gumamku.
“Yah...tapi tentu saja makhluk seperti itu tidak sungguh-sungguh ada dan berkeliaran di tengah kota kan?” ujar si petugas lagi sambil mengangkat bahunya. “Itu cuma pendapatku saja, pak. Jangan terlalu dipikirkan.”
Sambil tersenyum, aku menepuk ringan bahunya. “Benar. Tentu saja mereka tidak ada,” ujarku. “Lanjutkan tugasmu. Hubungi aku kalau ada perkembangan lain.”
Sang petugas tidak menjawab dan hanya memberi salam hormat singkat, kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sambil memperhatikan dengan seksama, aku menghampiri potongan tubuh salah satu korban dan menyingkapkan kain hitam yang menutupinya.
Aku mengernyit jijik melihat kondisi potongan tubuh yang terkoyak itu. Seperti kata petugas olah TKP tadi, korban sepertinya dikoyak oleh sesosok makhluk yang sangat kuat. Tidak ada bekas potongan, artinya makhluk itu tidak merobek tubuh korban dengan cakar, melainkan dengan kekuatan fisik semata.
Makhluk apa yang bisa melakukan ini? Aku bergumam dalam hati sambil memeriksa potongan tubuh lainnya. Hasilnya sama. Semua korban memang disobek sampai mati oleh sang pelaku.
“Kolonel Dika.”
Aku mendengar ada yang menyapaku, jadi aku langsung berbalik dan berhadapan dengan kapten Bayu dari tim olah TKP kepolisian. Ekspresi wajahnya jelas-jelas menunjukkan kalau dia tidak mau lama-lama di tempat ini.
“Kapten Bayu, senang bertemu anda,” ujarku sambil berjabat tangan dengannya. “Ada saksi mata?”
Kapten muda itu menggaruk kepalanya sejenak, kemudian mengangkat buku saku yang dia pegang sejak tadi. “Ada...tapi rasanya keterangannya tidak bisa dipercaya,” ujarnya ragu.
“Kenapa?” tanyaku.
“Yah...soalnya saksi mata itu mengaku dia melihat sesosok makhluk tinggi-besar-berotot dan bermata tiga, membunuh ketiga korban dengan merobek tubuh mereka...katanya semudah merobek roti dengan tangan kosong...” jawab kapten Bayu sambil membaca catatannya. “Ada dua saksi mata yang menyebutkan hal serupa...tapi rasanya itu mustahil...makhluk seperti itu tidak mungkin berkeliaran di tengah kota metropolitan seperti ini kan?”
Mungkin saja, pikirku sambil menghela nafas panjang.
Mendengar keterangan kapten Bayu, kini aku tahu siapa, atau lebih tepatnya, apa yang kuhadapi sekarang. Dan dengan begitu, aku membutuhkan bantuan seseorang.
Sebenarnya aku lebih memilih tetap tinggal dan bekerja bersama tim olah TKP untuk mengumpulkan potongan tubuh korban, daripada bertemu orang itu. Tapi aku tidak punya banyak pilihan...
Semoga dia tidak langsung menembakku begitu melihatku muncul di depan pintu rumahnya...gumamku dalam hati.
****

Thursday, January 3, 2013

Fatamorgana: Spiral Staircases

Namaku Ria Rahmawati.

Dunia telah berubah sejak Dual Eclipse terjadi di akhir tahun 2012.

Error, makhluk-makhluk buas yang lahir dari kegelapan dan mimpi buruk manusia, mendadak muncul di berbagai belahan dunia pada awal tahun 2013. Tidak ada yang tahu pasti darimana mereka berasal dan mengapa mereka muncul di dunia ini, yang pasti mereka berbahaya. Sayangnya senjata modern yang dimiliki manusia saat ini pun tidak bisa membasmi mereka. Satu-satunya senjata yang bisa memusnahkan Error adalah Phantasm, makhluk-makhluk yang lahir dari imajinasi dan khayalan manusia. Kemudian orang-orang yang mampu menghasilkan Phantasm itu disebut sebagai Fantasia.

Sayangnya tidak semua Fantasia sadar dan bertanggung jawab atas kekuatan yang mereka miliki. Banyak juga yang berpikir mereka bisa seenaknya menggunakan Phantasm mereka untuk memenuhi semua keinginan mereka. Oleh karena itu dbentuklah organisasi IMAGE yang terdiri dari para Fantasia berbakat, demi melindungi manusia dari keganasan Error dan ulah para Fantasia yang semena-mena.

Seperti biasanya sore ini aku sedang berpatroli kedua orang temanku, Farhan Abdul Gani dan Lutfi Irwansyah. Mereka berdua juga Fantasia dan anggota IMAGE, sama sepertiku. Seharusnya sore hari yang cerah ini jadi sore yang menyenangkan. Sayangnya itu tidak terjadi karena baru saja seorang Fantasia nekat mengeluarkan Phantasm-nya di tengah keramaian.

Sekarang kami bertiga harus menghentikan ulah nekat Fantasia sinting itu sebelum ada orang yang terluka, atau terbunuh.

“Ria! Dia lari ke arahmu!!!”

Suara seruan Farhan langsung membuat lamunanku buyar, dan ketika aku tersadar, tahu-tahu pandanganku tertutup oleh sosok gorila raksasa berbulu perak. Makhluk itu meraung keras sambil mengayunkan tinjunya yang sama besarnya dengan sebuah wajan penggorengan ke arah kepalaku.

Untung gerak refleksku sudah terlatih, sehingga aku langsung menunduk dan membiarkan tangan raksasa itu melesat diatas kepalaku.

Menyebalkan sekali! Gumamku dalam hati. Aku lalu berguling ke kanan dan berdiri sambil merentangkan sebelah tanganku ke samping.

“Fatima!” seruku dengan tegas.

Sesosok gadis pirang berpakaian ketat berwarna hitam-merah langsung muncul di sampingku diiringi hembusan angin. Gadis itu adalah Fatima, Phantasm milikku. Begitu Fatima muncul, aku langsung memberi perintah pada Phantasm itu untuk menyerang si gorila.

“Terjang dia, Fatima!!” perintahku.

Fatima langsung melesat ke arah Phantasm berwujud gorila itu dan mengayunkan tangannya. Dengan pedangnya yang tidak terlihat, Fatima berhasil memotong sebelah tangan gorila itu, tapi gorila itu langsung mengayunkan sebelah tangannya yang tersisa ke arah Fatima. Tapi Fatima bukan Phantasm biasa, dia jauh lebih kuat dari Phantasm gorila yang dia lawan. Dengan perisai di tangan kirinya, yang juga tidak kasat mata, Fatima menahan pukulan gorila itu dengan mudah. Kemudian berputar dan mengayunkan pedang gaibnya ke arah pinggang si gorila. Tebasan Fatima telak mengenai si Phantasm gorila dan membelah makhluk itu jadi 2 tepat di pinggangnya. Diiringi suara raungan keras, Phantasm gorila itu lalu menghilang menjadi serpihan cahaya.

Begitu melihat lawanku sudah kalah, aku langsung menghembuskan nafas lega.

“Kerja bagus Fatima,” ujarku sambil memandang ke arah Fatima. Gadis pirang itu membungkuk memberi hormat lalu menghilang bersama dengan sebuah pusaran angin.

“Ria! Kau tidak apa-apa?!”

Aku langsung menoleh ke arah Lutfi yang terlihat khawatir. Pemuda itu berjalan menghampiriku didampingi oleh Phantasm-nya, Durandall, seekor centaur berbaju besi lengkap dengan sebuah pedang yang nyaris sama besar dengan tubuh Lutfi. Mereka berdua langsung menghampiriku.

“Aku tidak apa-apa,” balasku.

“Syukurlah,” ujar Lutfi sambil menghembuskan nafas lega.

Kami berdua lalu berpandangan sejenak, sebelum akhirnya aku memalingkan wajah duluan karena malu. Wajah Lutfi yang memang tampan, jadi makin tampan kalau dia sedang serius atau sedang mengkhawatirkan sesuatu. Sialnya itulah yang membuatku menyukainya, meski aku tidak pernah berterus terang padanya.

“Oi! Kalau kalian udah selesai bermesraan, kesini deh!”

Tiba-tiba Farhan berseru dari kejauhan. Pemuda bertampang cuek dengan rambut awut-awutan itu tampak berjongkok di samping seorang pria berjaket kulit yang tidak sadarkan diri. Pria itulah si Fantasia yang tadi memulai semua keributan ini. Anehnya setelah Phantasm-ku, Fatima, mengalahkan Phantasm pria itu, dia langsung jatuh pingsan.

“Kenapa dia?” tanyaku pada Farhan.

“Mana kutahu,” sahut Farhan sambil mencubit lengan si pria berjaket kulit dengan keras, tapi tidak ada respon. “Dia pingsan setelah Phantasm-nya kau bantai, Ria. Jujur nih, ini baru pertama kalinya terjadi....biasanya sih enggak begini.”

“Ngomong-ngomong siapa orang ini?” tanya Lutfi.

“Mana kutahu, emangnya aku ini bapaknya?” balas Farhan dengan nada ketus. Dia lalu merogoh ke dalam saku celana dan jaket yang dikenakan si Fantasia pembuat onar. Tidak lama kemudian Farhan tampaknya menemukan apa yang dicarinya.

“Apa yang kau temukan?” tanyaku penasaran.

Farhan lalu menunjukkan benda-benda yang dia temukan padaku dan Lutfi. Benda pertama adalah secarik kertas kumal yang tampaknya tidak berharga. Tapi begitu aku membuka lipatan kertas itu, aku bersiul karena rupanya kertas itu adalah sebuah peta Bandung. Hanya saja di beberapa tempat di peta itu tampak sebuah tanda lingkaran dan silang.

“Apalagi yang kau temukan?” tanya Lutfi, kini giliran dia yang merasa penasaran.

Farhan lalu melemparkan sebuah koin pada Lutfi. Begitu melihat koin apa itu, Lutfi tampak terkejut.

“Ada apa?” tanyaku begitu melihat perubahan ekspresi di wajah pemuda itu.

Lutfi lalu memberikan koin itu padaku. Koin itu tampak biasa saja, hanya sebuah koin yang disepuh dengan emas. Hanya saja lambang trisula terbalik yang diukir di koin itulah yang membuatku dan Farhan terkejut. Lambang itu adalah lambang milik Persaudaraan Tombak Langit, kelompok aliran sesat pemuja Error yang dibubarkan oleh IMAGE sekitar 3 bulan yang lalu. Kudengar tadinya kelompok itu berniat menggabungkan Error dan Phantasm untuk menciptakan sebuah Phantasm dengan kekuatan setara Dewa. Untungnya rencana mereka digagalkan oleh tim IMAGE yang terdiri dari 4 orang Fantasia yang sangat kuat. Sayangnya sisa-sisa anggota Persaudaran Tombak Langit sekarang sama sekali tidak diketahui keberadaannya, mereka seperti hilang ditelan bumi.

“Peta ini sepertinya menunjukkan lokasi pertemuan atau markas rahasia mereka,” gumam Lutfi sambil berpikir keras sambil memandangi peta kumal di tangannya. “Ini sepertinya masalah serius.....”

“Kalau emang serius, aku ogah terlibat,” balas Farhan sambil mendengus. “Serahkan aja masalah ini pada para elit di IMAGE. Biar mereka yang ngurus, bukan kita.”

Aku merasa agak jengkel dengan sikap Farhan. Kami bertiga memang bukan golongan elit di IMAGE, tapi kami juga tidak lemah. Masing-masing Phantasm kami memiliki level 3, diatas level rata-rata Fantasia lainnya.

Tiba-tiba saja aku mendapat ide gila.

“Hei! Bagaimana kalau kita saja yang pergi menyelidiki salah satu tempat yang di peta itu?” usulku dengan nada bersemangat. “Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di tempat itu!”

Farhan tentu saja tidak setuju dan langsung protes.

“Kau gila ya?!” protes pemuda itu sambil berdiri.

“Ayolah! Apa susahnya sih? Kita kan hanya melakukan penyidikan kecil-kecilan,” ujarku lagi.

Farhan baru akan protes lagi, tapi tidak jadi karena Lutfi tiba-tiba menepuk bahunya.

“Ria benar. Tidak ada salahnya kita menyelidiki paling tidak satu diantara banyak tempat di peta ini,” ujar Lutfi sambil tersenyum. “Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berguna untuk penyidikan lebih lanjut oleh para elit di IMAGE.”

Melihat Lutfi juga ikut-ikutan mendukungku, Farhan langsung menepuk dahinya.

“Terserah kalian aja!” balasnya dengan nada muram. Tapi dia lalu menambahkan. “Tapi kalau ada apa-apa, aku yang bakalan kabur duluan.”

Aku dan Lutfi langsung tertawa mendengar ucapan Farhan.

***