Monday, August 29, 2016

10th Spiral: Primordial Beats



Ketika aku mengendarai motorku menyusuri sudut-sudut kota Jakarta, aku menyadari kalau tidak banyak orang yang mengingat kalau kota ini sudah sangat tua. Maklum saja, kemegahan gedung-gedung pencakar langit, barisan kendaraan bermotor di jalanan, serta semua ingar-bingar kehidupan modern telah menutupi usianya yang sesungguhnya. Laju kehidupan yang begitu cepat dan tak kenal ampun juga membuat orang jarang berhenti dan memikirkan masa lalu ibukota Indonesia ini.
Biarpun begitu, tapi setidaknya kota yang menjadi ibukota negara Indonesia ini sekarang sudah berusia lebih dari empat ratus delapan puluh tahun. Usia yang sangat tua bagi ukuran manusia, tapi masih begitu muda bagi kota ini. Hanya saja, terkadang aku merasa kalau itu bukan usianya yang sesungguhnya. Kota ini, bukan, seluruh wilayah ini jauh, jauh lebih tua dari seluruh peradaban manusia.
Sayang tidak banyak yang menyadari soal itu.
Ah, tapi itu tidak penting sekarang. Soalnya yang penting adalah setiap kali kota ini merayakan ulang tahunnya, selalu ada kemeriahan yang berbeda dari biasanya. Berbagai acara menarik diadakan bergantian selama satu bulan ini, mulai dari pagelaran seni, pentas artis terkenal, bazar besar, dan berbagai acara meriah lainnya.
Tapi tahun ini agak berbeda, pemerintah kota menyatakan akan mengadakan pawai pada hari kelahiran kota Jakarta, yang jatuh pada tanggal 22 Juni. Dari selebaran yang beredar, pawai itu akan dimeriahkan dengan panggung berjalan dan kendaraan hias.
Yang jelas, acara pawai itu pasti menarik sekali untuk disaksikan. Soalnya jarang-jarang ada acara semacam ini di kota Jakarta. Iring-iringan kendaraan yang dihias dengan berbagai ornamen unik, lampu-lampu berwarna-warni, dan tentu juga atraksi lain pastinya tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Itu sebabnya aku sekarang berkendara melintasi jalanan yang padat kendaraan menuju pusat kota Jakarta. Walaupun harusnya pada jam-jam ini aku sudah mengendarai partner tuaku kembali ke rumah, tapi hari ini berbeda. Demi menyaksikan pawai –yang digaungkan sebagai pawai terheboh se-Asia Tenggara itu– aku sampai bersedia bermacet-macet ria di waktu rush-hour kedua ini.
Sialnya terlalu banyak warga yang juga antusias untuk menyaksikan acara pawai itu, sehingga jalanan yang biasanya macet, sekarang jadi luar biasa macet. Soalnya aku sudah duduk diam di atas motorku selama kurang lebih lima belas menit, tanpa bergerak sama sekali. Kalau dari perhitunganku, rasanya aku tidak akan bergerak banyak selama satu-dua jam ke depan.
Itu kalau aku pengendara motor biasa.
Sebagai kurir, aku sudah terbiasa mengatasi kemacetan yang menggila seperti ini, dan kebetulan hari ini aku terjebak kemacetan di jalanan yang sudah sangat akrab denganku. Sehingga tidak lama kemudian aku sudah melaju lagi menyusuri lorong dan gang-gang tikus yang tersebar bagai labirin di sudut dan sela-sela kota Jakarta. Salah satu keuntungan mengendarai motor kecil seperti partner tuaku ini adalah kemampuannya menyusup ke jalan-jalan kecil untuk menghindari kemacetan parah di jalan utama.
Yah ... walau kuakui kadang itu juga tidak selalu berhasil. Soalnya kadang aku benar-benar terjebak di tengah daerah yang tidak memiliki jalan pintas sama sekali. Kalau sudah begitu sih tidak ada jalan lain kecuali bersabar menghadapi kemacetan yang semakin parah setiap tahunnya ini.
Tapi itu cerita lain.
Pokoknya sekarang aku sudah terbebas dari kemacetan dan dari perhitunganku, aku akan sampai di Kota Tua dalam waktu kurang dari setengah jam saja. Tepat sebelum pawai dimulai.
Sesuai perhitunganku, aku sudah berhasil mencapai kawasan kota Jakarta yang dipenuhi oleh bangunan kuno dari jaman kolonial Belanda itu. Sesuai dugaanku juga, tempat itu sudah dipenuhi oleh warga yang juga ingin menyaksikan keberangkatan arak-arakan pawai yang titik mulanya ada di alun-alun Kota Tua. Ratusan –atau mungkin ribuan warga– sudah berkumpul berdesakan dan berusaha untuk mendapatkan tempat terbaik untuk menyaksikan pawai.
Sialnya aku terlambat dan yang bisa kulihat di depanku adalah dinding manusia yang berlapis-lapis. Aku sama sekali tidak bisa melihat jalanan di depan, apalagi iring-iringan pawai yang sepertinya mulai bergerak. Hanya sesekali aku melihat melalui celah dinding manusia di depanku dan melihat berbagai kendaraan yang dihias dengan meriah.
Suara musik yang nyaring, lampu-lampu yang bersinar kelap-kelip, serta sorak-sorai warga tiba-tiba saja mengiringi pergerakan iring-iringan pawai ulang tahun kota Jakarta. Sayangnya aku hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat dengan jelas.
“Sial, kalau begini sih ngapain aku tadi capek-capek datang ke sini?”  
Aku menggerutu sambil melangkah mundur, bersiap untuk pulang ke rumah dengan perasaan kecewa.
Tapi kemudian aku mendengar suara-suara itu.
Suara dentam gendang.
Suara gemerencing tamborin.
Suara gesekan biola bernada tinggi.
Suara berat Tuba yang menggetarkan dada
Suara denting gamelan yang bening dan jernih.
Ketika mendengarkan suara-suara bernada khas itu, aku langsung mengenali itu sebagai alunan musik khas Betawi. Meskipun kombinasi alat musik yang dimainkan terdengar janggal, namun alunan nadanya begitu khas sehingga aku tidak mungkin salah mengenali jenis musik yang sedang dimainkan itu.
Anehnya, berbeda dengan suara-suara dari panggung bergerak di pawai meriah yang menggelegar nyaris memekakkan telinga, suara-suara yang kudengar itu jauh lebih halus, lembut, jernih, dan murni. Entah bagaimana caranya, suara-suara itu berhasil mengalahkan suara ingar-bingar dari pawai di jalanan.
Karena penasaran, aku pun langsung menutup mata dan mendengarkan dengan seksama. Untungnya suara musik Betawi tadi masih terdengar cukup jelas dan aku tahu dari mana asalnya. Tanpa memperdulikan pawai yang masih terus bergerak dengan iringan kemeriahannya, aku menghidupkan mesin motor tuaku, kemudian melaju ke arah datangnya suara musik yang kudengar.
Untungnya karena keramaian sedang benar-benar terpusat di kawasan Kota Tua dan jalan Raden Saleh yang dijadikan rute utama pawai, jalanan lain ke arah utara kota Jakarta jadi benar-benar sepi. Sama sekali tidak ada kemacetan atau antrian kendaraan saat aku melintasi jalanan berliku di sekitar Kota Tua.
Walaupun kalau jalanan sepi begini suasananya jadi menakutkan, tapi untuk saat ini aku tidak terlalu peduli dan bahkan bersyukur. Soalnya aku tidak perlu berhadapan dengan kepadatan yang sehari-hari menyapaku di tengah kota Jakarta. Berkat itu, tidak butuh waktu lama bagiku untuk bisa menemukan sumber suara orkes tradisional yang kudengar tadi.
Hanya saja asal datangnya suara sama sekali tidak kuperkirakan sebelumnya.