Saturday, June 10, 2017

13th Spiral: Glimpse Out of Time



Semua orang yang tinggal di kota Jakarta pasti menyadari kalau laju kehidupan di ibukota negara itu begitu cepat. Orang-orang saling berpacu satu sama lainnya untuk menggapai tujuan masing-masing. Waktu pun seolah berlalu lebih cepat bagi siapa pun yang tinggal ataupun bekerja di Jakarta. Seolah-olah sang Waktu tidak ingin melambat, apalagi berhenti sejenak dan membiarkan penghuni kota untuk beristirahat melepas lelah dan beban kehidupan mereka. Sehingga tidak jarang ada yang bilang kalau orang-orang yang tinggal di Jakarta jadi lebih cepat tua ketimbang mereka yang tinggal di kota lainnya.
Dan tentu saja aku juga merasakan hal itu.
Terkadang rasanya aku baru saja memejamkan mata sejenak di malam hari, tahu-tahu matahari sudah terbit dan aku pun harus kembali melanjutkan rutinitasku setiap hari. Meskipun pada dasarnya aku menikmati pekerjaanku sebagai kurir barang, tapi ada waktu-waktu tertentu ketika aku mempertanyakan tujuan hidupku sendiri. Pasalnya rutinitas hidupku sehari-hari terasa begitu-begitu saja. Bahkan Terkadang rasanya begitu hambar dan stagnan.
Yah, meskipun belakangan ini hidupku jadi sedikit lebih menarik gara-gara aku lumayan sering mengalami berbagai macam hal aneh. Walaupun kejadian semacam itu membuatku ketakutan, tapi jauh di lubuh hatiku, aku malah berterima kasih. Berkat berbagai kejadian supranatural yang kualami itu, hidupku jadi terasa lebih bermakna dan aku pun jadi merasa sedikit lebih istimewa.
Biarpun begitu, aku tetap tidak bisa berhenti memikirkan sebenarnya apa tujuanku tetap hidup di dunia ini?
Padahal sebenarnya aku seharusnya sudah tewas dalam kecelakaan maut setahun yang lalu. Yah ... sejujurnya sih aku sempat mati suri selama beberapa menit waktu itu, tapi pada akhirnya aku bangkit lagi. Seolah-olah malaikat maut belum sudi mengambil nyawaku.
Kenapa aku masih dibiarkan hidup?
“Entah ya. Mungkin memang belum waktunya kau mati?”
Dengan entengnya Irvan menjawab pertanyaanku itu. Saat ini kami berdua sedang mengendarai mobil melintasi kota Jakarta untuk mengantarkan paket dan surat titipan klien perusahaan. Seperti biasanya, Irvan yang menyetir sementara aku bertindak sebagai navigatornya.
“Mungkin juga kau punya peranan penting di dunia ini. Entah apa. Yang pasti kau tidak boleh mati dulu sebelum kau memenuhi perananmu itu,” ujar Irvan lagi sambil membetulkan letak spion tengah mobil boks yang kami naiki. Dia lalu melirik ke arah daftar pengiriman barang di tanganku. “Ngomong-ngomong paket kita berikutnya kemana?”
Sekilas aku membaca daftar yang ada di tanganku, kemudian tersenyum lebar.
“Sudah habis,” ujarku senang. “Sekarang kita bisa mampir dulu untuk beristirahat sebelum kembali ke kantor. Tugas kita sudah selesai hari ini.”
Alih-alih ikut senang, Irvan malah mengernyitkan dahinya.
“Yakin sudah selesai? Sudah dicek semua belum?” tanyanya kebingungan.
“Sudah dan tidak ada lagi paket yang harus dikirim hari ini,” jawabku. “Memangnya kenapa?”
“Coba lihat di belakang sana. Masih ada satu lagi tuh!”
Irvan memberi isyarat dengan jempolnya dan menunjuk ke arah ruang kargo di belakang kabin pengemudi. Aku pun melepaskan sabuk pengamanku sejenak dan mengintip dari balik jendela kecil yang terhubung ke ruang kargo, atau boks, di belakang mobil. Dan ternyata memang benar! Masih ada satu paket lagi yang belum kami antar. Tapi masalanya, kenapa paket itu tidak ada di daftar?
“Coba minggir dulu, biar aku cek,” ujarku.
Irvan pun bergegas mencari area kosong di tepi jalanan untuk parkir sejenak. Tidak lama kemudian kami pun sudah berhenti di depan sebuah minimarket. Tanpa menunda-nunda lagi, aku pun membuka pintu ruang kargo dan mengambil satu-satunya paket yang tersisa disana. Paket itu berukuran tidak terlalu besar dan sepertinya muat untuk memasukkan sebuah bola sepak. Tidak ada yang istimewa dari paket berbungkus coklat itu ... kecuali nama dan alamat pengirimnya.
Glibert.
Koffie Zonder Grenzen.
“AH!” seruku terkejut.
“Kenapa?!” Irvan langsung buru-buru turun dari mobil dan menghampiriku. Wajahnya terlihat khawatir. “Ada apa? Ada yang aneh?”
Aku pun menunjukkan stiker bertuliskan nama dan alamat pengirimnya pada Irvan. Dia pun ikut terbelalak kaget. Soalnya aku sudah pernah bercerita soal kafe misterius bernama Koffie Zonder Grenzen, tempat aku tersesat beberapa waktu lalu dan mendapatkan mesin ‘ajaib’ untuk motorku. Tentu saja aku juga sudah bercerita soal Gliber, si manajer kafe yang tidak kalah misteriusnya itu.
“Ini paket dari kafe aneh itu?” tanya Irvan. “Kok bisa ada disini? Sejak kapan? Padahal aku sendiri yang memasukkan semua paket kita hari ini ke dalam kargo, tapi ... sumpah! Aku sama sekali tidak ingat pernah memasukkan yang satu ini.”
Aku mengangkat bahu.
Kalau kafe Koffie Zonder Grenzen itu bisa muncul dan hilang secara misterius, aku sama sekali tidak heran kalau apa pun yang berkaitan dengan tempat itu juga bisa begitu saja nongol di tempat tidak terduga. Seperti paket ini misalnya.
“Kira-kira apa isinya?” tanya Irvan penasaran.
Aku mengguncang paket di tanganku itu dengan lembut, takut isinya ada yang rusak atau pecah. Tapi aku tidak mendengar suara apa pun. Selain itu, paket ini terasa ringan dan beratnya mungkin tidak lebih dari satu atau dua kilogram saja.
“Entahlah, tapi aku tidak mau seenaknya membuka paket orang,” ujarku. “ Apalagi dari kafe itu.”
Irvan mengangguk setuju.
“Pilihan yang tepat,” timpalnya. “Lalu, kemana paket itu harus diantar?”
“Monas” jawabku singkat.
“Monas?” tanya Irvan lagi.
“Monas,” tegasku.

****

Sunday, June 4, 2017

Everyday Adventure XIII: Musik dan Emosi



Catastrophy.
Sebuah nama yang diberikan kepada peristiwa besar yang melanda dunia lebih dari 500 tahun yang lalu. Sebuah peristiwa yang menandai akhir dari peradaban manusia yang telah menguasai bumi selama ribuan tahun. Peristiwa itu juga merupakan awal dari era generasi baru pengganti manusia, yang kini hidup dengan mengais sisa-sisa peradaban mantan penguasa bumi tersebut.
Mereka adalah para robot. Mesin-mesin canggih berteknologi tinggi yang memiliki kesadaran individu, serta dibekali dengan simulasi emosi yang, ironisnya, membuat mereka bersifat lebih manusiawi ketimbang para penciptanya.
Belajar dari masa lalu yang kelam, para robot berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan para penciptanya dan berusaha mengembalikan kondisi dunia yang telah rusak paska kepunahan manusia.
Namun tentu saja hidup mereka tidak mudah.
Karena banyaknya teknologi yang hilang atau rusak setelah Catastrophy terjadi, sebagian besar masyarakat robot yang tersisa harus berjuang keras untuk sekedar tetap hidup. Karena kerasnya kondisi alam saat ini, terbatasnya sumber energi, serta tidak lagi tersedianya suku cadang untuk mendukung kehidupan mereka, banyak robot yang akhirnya mati, atau rusak dan berubah menjadi robot liar. Tidak jarang pula ada robot yang sengaja mengakhiri hidupnya, terutama karena mereka tidak ingin berubah menjadi robot liar yang buas dan tidak lagi memiliki sistem kesadaran yang utuh.
Dan Arslan sudah sering kali menjumpai robot-robot yang seperti itu dalam perjalanannya mengelilingi dunia.
Sebagai bagian dari kelompok Pengembara, mantan Machina itu sudah berpergian ke seluruh penjuru bumi untuk mencari sisa-sisa teknologi manusia, untuk kemudian diberikan kepada Mother di Central Tower, Bravaga. Di menara tinggi yang berada di tengah kota para robot itulah, teknologi kuno itu dirombak dan diperbaharui agar dapat dipergunakan oleh masyarakatnya. Kemudian, adalah bagian dari tugas para Pengembara untuk menyebarkan teknologi itu ke masyarakat robot lain yang masih tersisa dan tersebar di seluruh penjuru dunia.
Tentu itu bukan tugas yang mudah, tapi bagi Arslan, itu adalah bagian dari cara dirinya bisa menebus kesalahan masa lalunya. Sebagai robot yang dulunya diciptakan sebagai senjata pemusnah massal, Arslan telah melakukan terlalu banyak hal yang kini sangat dia sesali.
Sambil menopang dagu, Arslan bersandar di pinggir pagar tua sebuah beranda yang berada di puncak Menara Memori. Kedua sayapnya sesekali dibiarkan terbentang, seolah-olah dia sudah gatal untuk segera terbang meninggalkan menara tua tempatnya berada saat ini. Matanya yang tajam menerawang jauh ke arah deretan pegunungan tinggi yang menjulang di sisi utara kota Bravaga.
“Arslan~!”
Mendengar namanya dipanggil, Arslan berbalik dan berhadapan dengan sesosok robot gadis berambut hitam yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Dia tidak lain adalah Maria, satu dari sekian banyak robot generasi baru yang tinggal di kota Bravaga. Di pundak gadis itu, bertengger sebuah robot berwarna kecoklatan dengan tubuh mirip seekor kecoak raksasa, yang tidak lain adalah Buggy.
“Maria, Buggy,” sapa Arslan. “Sedang apa kalian di sini?”
“Kamu sendiri ngapain?” Maria malah balas bertanya pada Arslan sambil nyengir lebar. “Tidak bareng dengan Pengembara lain?”
Arslan menggelengkan kepala sambil mengangkat bahunya.
“Sebagian dari mereka sedang pergi mengunjungi reruntuhan kota di selatan Bravaga. Sebagian lagi sedang mengantar kiriman barang dari Mother ke Colony di seberang pegunungan sana,” ujarnya dengan nada malas. “Aku sedang tidak ingin pergi ke reruntuhan kota, dan barisan penjaga kota para Automa itu pasti akan dengan senang hati mengubahku jadi rongsokan, bahkan sebelum aku sampai satu kilometer di depan gerbangnya.”
Mendengar ucapan Arslan soal Colony, Maria langsung tertarik. Dia memang sudah pernah mendengar soal kota yang sepenuhnya dihuni oleh Automa itu, tapi dia sendiri belum pernah kesana. Meskipun senang menjelajah, tapi Maria tahu jalan ke kota itu sangat berbahaya dan dijaga ketat oleh pasukan droid dari era Perang Bulan Kedua. Salah langkah, bahkan robot yang berasal dari kota Bravaga sekalipun akan berakhir sebagai seonggok rongsokan.
“Memangnya mereka tidak suka denganmu?” tanya Maria lagi, dia masih penasaran dengan maksud perkataan Arslan barusan.
“Kenapa?” timpal Buggy. Tapi kemudian dia pun menyadari apa alasannya. “Oh! Benar juga ...”
Arslan mengangkat bahunya melihat reaksi Buggy.
“Yah, biar begini-begini, aku kan dulunya Machina,” ucapnya dengan nada getir. “Banyak di antara Automa itu yang kehilangan keluarga dan teman-temannya dalam serangan Machina di zaman perang dulu. Tidak heran mereka takut dan sangat membenci bekas mesin perang sepertiku.”
Maria terdiam mendengar penuturan Arslan. Ya. Memang saat ini Arslan terlihat tidak jauh berbeda dari robot-robot lain yang tinggal di kota Bravaga. Namun itu tidak lain karena tubuhnya sudah dirombak ulang oleh Mother puluhan tahun yang lalu. Arslan yang sekarang, bukanlah Arslan sang Machina, melainkan Arslan sang Pengembara. Meski demikian, tidak sedikit juga robot di kota Bravaga yang masih takut dengan kehadiran mantan mesin pemusnah masal itu. Maria yang sudah sering membaca dan melihat beberapa rekaman ingatan serangan Machina tahu persis seberapa mengerikannya mesin perang itu di masa lalu.
“Dari pada bicara soal Colony, aku yakin kau tahu kalau di kota ini ada cukup banyak peninggalan peradaban manusia,” ujar Arslan, sembari mengalihkan pembicaraan dari soal dendam kesumat para Automa kepada Machina.
Seketika itu juga kedua mata Maria langsung berbinar-binar dan dia pun mengangguk penuh semangat. Segala sesuatu terkait manusia, ras pencipta para robot yang telah punah itu, selalu saja membuatnya tertarik.
“Tentu saja~!” ujar gynoid itu. Dia lalu merentangkan kedua tangannya. “Menara Memori ini salah satunya kan?”
Melihat ekspresi penuh semangat di wajah Maria, Arslan ingin sekali tersenyum lebar, walaupun sebenarnya android itu tidak memiliki wajah yang bisa menampilkan emosi.
“Benar. Tapi setidaknya ada selusin lagi bangunan dan bekas-bekas peradaban manusia yang tersebar di sekitar Bravaga,” balas Arslan sambil berkacak pinggang. “Apa kau sudah pernah melihat semuanya?”
Seandainya wajah Maria dilengkapi dengan lampu LED, sudah pasti wajah gynoid itu akan terlihat begitu menyilaukan. Sebab begitu mendengar penuturan Arslan, kedua mata Maria langsung dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang luar biasa besar. Senyuman lebar juga langsung terkembang di wajah cantiknya itu.
“Ayo kita kesana!” seru Maria penuh semangat. Dia lalu menoleh ke arah Buggy yang masih bertengger santai di pundaknya. “Kamu ikutan kan?”
“Tentu saja~!” sahut robot kecoak raksasa itu, dengan tidak kalah semangatnya dari Maria.

****