Saturday, October 31, 2015

8th Spiral: Blind Vision



Pertama kalinya aku bertemu dengan nenek tua itu adalah di sebuah persimpangan jalan protokol yang membelah jantung kota Jakarta.
Tidak ada yang istimewa dari nenek itu, kecuali fakta bahwa dia buta. Sebelah tangan nenek itu tampak memegangi tongkat kayu belang warna merah dan putih. Kedua matanya tertutup selagi dia berjalan. Sesekali dia diam dan sekilas terlihat seperti sedang mengamati keadaan sekelilingnya dengan kedua telinganya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dilakukan nenek itu, tapi sedetik kemudian perhatianku teralih sepenuhnya.
Soalnya nenek tuna netra itu baru saja berniat menyeberangi salah satu jalanan paling padat kendaraan di kota Jakarta!
“AWAS!”
Tanpa pikir panjang, aku berlari menghampiri nenek itu dan mencengkeram kedua bahunya, kemudian menariknya mundur, tepat sebelum si nenek tersambar oleh sebuah mobil mewah yang melintas dengan kecepatan tinggi. Sepintas aku mendengar suara sumpah serapah dilontarkan dari jendela mobil yang nyaris merenggut nyawaku itu, tapi aku tidak memperdulikannya.
“Nenek tidak apa-apa?”
Aku bertanya pada nenek itu sambil menuntunnya menjauh dari jalan raya. Pada saat yang sama aku juga mengamati sekujur tubuhnya, kemudian bersyukur karena dia tidak terluka sama sekali. Begitu menyadari hal itu, aku langsung menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan detak jantungku yang masih berada di bawah pengaruh adrenalin.
Nyaris saja!
“Terima kasih, nak,” ujar nenek itu dengan suaranya yang agak bergetar. “Nenek tidak apa-apa kok.”
“Syukurlah.”
Aku menarik nafas lega.
“Nenek mau ke mana? Mau kuantar sampai ke tempat tujuan?” tanyaku lagi. 
Tapi sang nenek menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah. Nenek tahu bagaimana kesibukanmu, nak. Sebaiknya kamu segera kembali dan mengantar titipan orang yang ada padamu. Kalau kelamaan di sini, nanti yang menerima titipan itu keburu marah padamu,” ujar sang nenek lagi sambil tersenyum dengan bibirnya yang penuh keriput. “Sudah, tidak usah mengkhawatirkan nenek, kamu lanjutkan saja tugasmu, nak.”
Aku terdiam sejenak.
Ada yang aneh dengan dengan ucapan nenek ini barusan. Dia seolah-olah tahu kalau aku bekerja sebagai kurir titipan kilat, padahal aku kan sama sekali belum mengatakan apapun tentang diriku. Jangankan pekerjaan, berkenalan saja belum.
“Eeh ... tidak masalah. Saya antar sampai ke seberang saja ya? Bagaimana?”
Sekali lagi aku menawarkan bantuan pada si nenek, yang ternyata langsung ditolak mentah-mentah olehnya.
“Tidak usah. Nenek tahu jembatannya ada di sebelah sana.” Si nenek menunjuk ke arah jembatan penyeberangan orang, sekitar seratus meter dari tempat kami berada sekarang. “Nenek tahu jalan kok. Terima kasih.”
Aku memandangi si nenek dengan perasaan bingung.
Kok dia tahu ada jembatan penyeberangan dekat sini?
Padahal dia kan tidak bisa melihat?
Karena aku juga tidak mau memaksakan bantuan pada nenek ini, pada akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku. Tadi aku cuma mampir sebentar membeli makan siang dan harus segera kembali ke kantor untuk mengambil paket lain. Yah, walau pekerjaanku nanti siang tidak menuntut jadwal khusus, tapi kalau aku terlalu lama di sini, bisa-bisa aku pulang kemalaman setelah mengantar paket berikutnya.
“Sudahlah, kamu tidak usah lama-lama di sini, nak. Tugasmu kan masih banyak.” Si nenek kembali menepuk lenganku. “Kamu hati-hati ya kalau naik motor. Biar pun sudah biasa, tapi kamu tetap harus hati-hati ya, nak. Jangan ngebut.”
Sekali lagi aku kaget karena nenek ini sepertinya tahu kalau aku selalu bepergian dengan sepeda motor. Padahal aku tidak mengatakan apapun soal itu.
Aneh sekali.
“Kalau begitu, aku permisi dulu ya.” Aku akhirnya mengalah dan melangkah menjauh dari nenek itu. “Nenek juga hati-hati ya.”
“Iya, nak.”
Sang nenek membalas sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum dan berjalan meninggalkan sang nenek, yang masih berdiri sambil menghadap ke arahku. Tidak lama kemudian, nenek itu kembali berjalan sambil meraba-raba dengan tongkatnya. Kali ini dia berhasil sampai ke jembatan penyeberangan dan menyeberang jalan dengan aman.
Tadinya aku masih ingin memastikan dia sampai ke seberang dengan selamat, tapi rasanya itu tidak perlu. Lagi pula aku sudah hampir kehabisan waktu istirahat siang.
“Saatnya kembali bekerja!”
Aku berkata pada diriku sendiri sambil berjalan menuju ke tempat partner setiaku menunggu, atau dengan kata lain, tempat parkir motor.

****

Monday, September 21, 2015

7th Spiral: Kingdom of Cats



Konon katanya kucing itu kalau hidup terlalu lama, dia akan berubah jadi siluman.
Yah ... setidaknya itu kata orang Jepang sih. Sejujurnya aku tidak pernah ambil pusing soal itu. Setidaknya tidak sampai aku benar-benar mengetahui kalau ungkapan itu bukan cuma omong kosong belaka.
Pagi itu seperti biasanya aku pergi ke kantor, kemudian meluncur kembali ke jalanan padat kota Jakarta untuk mengantar paket-paket klienku. Setelah berkutat dengan kegilaan dan kengerian lalu lintas kota, sorenya aku pulang ke rumah. Tapi tidak seperti biasanya, sewaktu aku melintasi jalan yang biasa kulalui, aku menyadari ada sesuatu yang lain.
Tepat di tengah jalan, aku melihat seekor kucing tergolek lemas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya dia baru saja ditabrak oleh kendaraan yang melintas di jalanan. Dari kondisinya, lukanya sih tidak terlihat parah, tapi kucing itu tidak bisa bergerak. Entah karena syok, atau memang ada luka dalam yang tidak terlihat dari luar.
Yak. Aku tahu tindakanku bisa dengan mudah membuatku jadi perkedel, tapi aku tidak bisa membiarkan kucing itu mati begitu saja. Jadi aku melakukan hal yang bisa dibilang konyol oleh sebagian besar orang: aku berhenti di tengah jalan, turun dari motor, mengangkat tubuh lemas sang kucing, kemudian kembali ke atas motorku.
Aksiku tentu saja mengundang serentetan sumpah serapah disertai suara klakson yang bersahut-sahutan dari kendaraan lain yang terpaksa menghindar, atau bahkan berhenti di tengah jalan akibat ulahku. Tapi aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak mau membiarkan kucing itu terbaring di tengah jalan menunggu ajalnya.
Tentu saja aku tidak lalu meninggalkan kucing itu untuk pulih dengan sendirinya, aku membawanya ke dokter hewan terdekat yang kutahu. Untung saja luka kucing itu tidak parah, sehingga dia seharusnya akan segera pulih dengan perawatan yang tepat.
Setelah mendapat perawatan, aku membawa kucing malang itu pulang ke rumahku. Aku hanya berharap kalau kucing itu sudah sehat nanti, dia sanggup untuk pulang ke tempat tinggalnya. Bukannya aku tidak mau memeliharanya, tapi aku sudah punya peliharaan seekor ikan.
Ikan dan kucing kan bukan pasangan peliharaan yang tepat.
Tapi ternyata dugaanku salah.
Si kucing terlihat sama sekali tidak tertarik dengan ikan peliharaanku. Sesekali dia mendekat ke akuarium, tapi tidak pernah terlalu dekat sampai aku khawatir kucing itu bakal mencoba memakan ikan peliharaanku. Anehnya, kadang aku merasa kucing itu malah takut dengan ikanku, entah apa sebabnya.
Tidak terasa, tapi sudah hampir seminggu aku memelihara kucing itu.
Dari kondisi fisiknya, kurasa dia sudah cukup sehat untuk pergi. Aku tahu tindakanku tidak tepat, tapi pada akhirnya aku sengaja berhenti memberi makan kucing itu. Dengan begitu, aku berharap dia mengerti kalau tempat ini sudah tidak nyaman lagi baginya dan memutuskan untuk pergi.
Sayang sepertinya usahaku tidak berjalan dengan baik.
Dia memang pergi di malam hari, tapi di siang hari, kucing itu pasti kembali dan tidur di kursi teras rumahku. Aku selalu menemukan kucing belang hitam itu sedang tidur pulas saat aku pulang kerja. Dan setiap aku datang, kucing itu pasti terbangun dan mengeong pelan, seolah-olah dia ingin menyambut kedatanganku.
Apa boleh buat, pada akhirnya aku memutuskan untuk memelihara kucing itu, sampai dia memutuskan saat yang tepat untuk pergi. Toh, tidak ada salahnya juga. Selama aku merawatnya, kucing ini tidak pernah membuat masalah, bahkan menurutku, dia ini malah kelewat kalem untuk seekor kucing.
Terkadang, aku malah mengira kalau kucing ini bukan kucing biasa. Soalnya setiap kali aku menatap matanya, ada kilat kecerdasan di mata kucing itu.
Kilatan yang sama dengan yang kadang muncul di mata ikan peliharaanku.
Tapi ... yah ... pokoknya selama kucing ini tidak membuat onar, tidak ada salahnya aku tetap memeliharanya. 

****

Wednesday, September 9, 2015

6th Spiral: Lady of The Trees



Setiap kali aku melihat jalan protokol yang menjadi halaman depan kota Jakarta, aku tidak pernah berhenti untuk merasa takjub dengan pemandangan yang kulihat. Deretan gedung-gedung tinggi berdiri kokoh menentang langit, seolah-olah benar-benar ingin menggapai awan jauh di atas sana. Jalanan lebar yang tidak pernah lengang dari berbagai jenis kendaraan yang melintas, dan tidak jarang, berhenti total selama berjam-jam karena kepadatan lalu lintas yang luar biasa. Kalau terus berjalan menyusuri jalanan ini, aku pasti akan sampai ke sebuah tanah lapang yang dihiasi sebuah monumen dengan puncak emas.
Monas.
Salah satu ikon ibukota negara ini. Di hari-hari biasa, tempat itu tidak terlalu ramai dikunjungi orang. Tapi begitu memasuki akhir pekan atau hari libur nasional, bisa ratusan orang tiba-tiba tumpah ruah memadati lapangan itu.
Aku pun demikian.
Hampir setiap akhir pekan aku datang ke lapangan Monas untuk berolahraga, kemudian duduk-duduk santai menyaksikan keramaian di sekitarku. Terkadang aku membawa buku untuk kubaca sambil bersantai, bersama sedikit camilan atau bekal makan siang yang sengaja kubawa dari rumah.
Itu kalau cuacanya bagus. Tapi kalau sedang hujan, tentu saja aku tidak akan repot-repot berkendara dari rumahku di Bekasi sampai ke sini. Hari ini sih seharusnya cuacanya bagus, sebab tadi pagi kulihat matahari bersinar dengan gembira di langit. Selain itu tidak ada awan yang terlihat di atas sana. Jadinya kupikir hari ini akan jadi hari yang cerah.
Tapi nyatanya dugaanku salah.
Tidak lama setelah aku sampai ke lapangan Monas, cuaca berubah dengan kecepatan yang nyaris sulit dipercaya. Awan gelap dengan cepat menutupi langit, suhu udara pun menurun, dan tidak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya.
Sialnya aku sedang tidak bawa payung atau jas hujan.
Jadi mau tidak mau aku sekarang harus mencari tempat berteduh dari hujan. Masalahnya, satu-satunya tempat berteduh terbaik bagiku saat ini adalah di kawasan perkemahan yang berada tidak jauh dari tempatku duduk tadi. Tidak ada bangunan tempat berlindung di sana, tapi setidaknya pohon-pohon rindang yang tumbuh di kawasan itu bisa mengurangi jumlah tetesan air hujan yang mengenai tubuhku.
Dan di sanalah aku sekarang ini. Seorang pria bertampang memelas yang setengah basah kuyup karena hujan.
“Aduh! Kok tiba-tiba saja hujan deras begini sih?!”
Aku menggerutu sambil bersandar pada pohon di belakangku. Untung saja pohon ini kanopinya tertutup lapisan dedaunan yang cukup lebat, sehingga tetesan air hujan tidak sampai ke tubuhku dengan kekuatan penuh. Tapi tetap saja aku jadi semakin basah kuyup. Parahnya lagi, aku tidak bawa pakaian ganti. Tentu saja tidak, soalnya aku kan tidak berniat untuk basah-basahan seperti ini.
Kalau cuaca tidak segera berubah jadi cerah, mau tidak mau aku terpaksa pulang dengan pakaian basah kuyup. Aku tahu itu bukan ide bagus. Soalnya berkendara dengan baju basah sama saja mengundang penyakit. Terutama paru-paru basah. Aku pernah mengalaminya sekali dan tidak mau lagi kena penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Tapi kalau dilihat dari situasinya, kemungkinannya cukup besar aku akan sakit kalau mencoba pulang sekarang.
“Sungguh sial!”
Aku menggerutu lagi sambil memandangi langit yang dihiasi awan gelap, dan petir yang menyambar di langit dengan diiringi suara menggelegar. Kalau melihat kondisinya sih hujan ini tidak akan berhenti sampai setidaknya satu jam ke depan.
“Hoi langit, jangan plin-plan dong! Kalau cerah, ya harusnya cerah!”
Aku menggerutu sambil memandang ke arah langit gelap, yang sesekali dihiasi kilatan halilintar. Sulit dipercaya kalau tadi pagi langitnya begitu cerah dan matahari sungguh-sungguh bersinar dengan teriknya.
“Jangan seenaknya menyalahkan langit ah.”

Monday, August 31, 2015

5th Spiral: Midnight Ship



Kata orang hujan itu membawa berkah.
Kurasa sih begitu ... kalau turunnya di tempat lain, bukan di Jakarta. Di kota Megapolitan ini hujan lebat selama beberapa jam berturut-turut tidak pernah gagal membawa masalah.
Air yang tumpah dari langit, tidak bisa lagi ditahan oleh aliran sungai yang menyempit dan tergusur oleh megahnya bangunan-bangunan kota Jakarta. Lahan-lahan hijau yang dulunya berfungsi bagaikan spons, kini sudah tertutup oleh lapisan aspal dan beton tebal. Pohon-pohon yang dengan senang hati menyerap kelebihan air, sudah lama sekali hilang dan digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit.
Tentu saja akibatnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi.
Banjir.
Hampir setiap beberapa tahun sekali Jakarta selalu lumpuh akibat banjir yang melanda sebagian besar wilayahnya. Genangan air yang bertahan berhari-hari di berbagai sudut kota seolah mengingatkan penduduknya akan wujud asli kota ini sebelum manusia datang. Aliran sungai-sungai yang telah lama hilang dan terlupakan, kini seolah terbangun dari tidurnya dan kembali mengalir dengan penuh semangat melintasi sudut-sudut kota Jakarta.
Pada masa-masa seperti ini, alam seolah-olah kembali berkuasa menyingkirkan pengaruh manusia dari kota terbesar di Indonesia itu. Dalam beberapa hari selanjutnya, air adalah penguasa kota Jakarta, bukan lagi manusia.
Biasanya sih kalau banjir melanda seperti ini, aku akan santai-santai saja. Kebetulan aku tinggal di wilayah Bekasi yang posisinya agak tinggi, sehingga nyaris bebas banjir. Kalaupun air menggenangi jalan, tidak pernah sampai masuk ke rumah kos dan tidak pernah sampai bertahan lebih dari sehari.
Biasanya sih begitu. Tapi kali ini lain.
Entah karena nasib buruk atau apa, pagi itu aku masih berusaha mengantar sebuah paket kilat khusus yang katanya ‘urgent’ ke salah satu klienku di pusat kota. Tapi sayangnya aku tidak tahu kalau hari ini adalah hari di mana kota Jakarta kembali tergenang banjir. Tadinya kupikir hujan di pagi hari akan berhenti di siang hari. Tapi sampai tengah hari ini hujannya masih saja deras dan air dengan cepat menggenangi jalanan. Jalan raya yang baru beberapa menit yang lalu masih terlihat, kini sudah tertutup oleh genangan air yang semakin meninggi.
Tidak usah ditanya lagi, aku dan puluhan karyawan di kantor klienku akhirnya terjebak banjir yang dengan cepat mengepung gedung tempat kami berada saat ini. Sialnya karena genangannya sudah terlalu tinggi, aku tidak mungkin menerobos banjir untuk pulang ke rumah. Soalnya mesin motorku pasti mati karena kemasukan air. Belum lagi beberapa jalur pulangku melintasi kawasan rawan banjir dan dekat dengan aliran sungai besar. Kalau nekat, bisa-bisa aku terseret arus banjir dan jadi makanan ikan di Teluk Jakarta sana.
“Lupakan saja. Kalau sudah begini bisa berhari-hari sampai airnya surut. Kita beruntung kalau ada tim SAR atau TNI yang datang dengan kapal karet.”
Salah seorang pegawai kantor klienku menepuk pundakku. Dia sepertinya mengira kalau aku berniat untuk menembus banjir yang mengepung kami. Tentu saja aku tidak sebodoh, atau senekat itu. Genangan air di sekitar kantor tempatku berada terlihat semakin tinggi. Aku juga yakin kalau arus aliran banjir sekarang sudah cukup kencang di beberapa jalur yang harus kutempuh untuk pulang. Itu belum ditambah fakta bahwa matahari pastinya sudah lama terbenam, bahkan sebelum aku setengah jalan sampai ke rumah.
Menembus genangan banjir kota Jakarta di malam hari tentu saja merupakan tindakan bunuh diri.
Jadi karena sudah tidak punya pilihan lain, aku pun akhirnya menunggu bantuan datang bersama para karyawan lainnya. Tidak banyak yang bisa kami lakukan sekarang, terlebih lagi kini aliran listrik sudah padam. Walaupun kami jadi terpaksa duduk dalam kegelapan, itu harusnya lebih aman daripada tersengat listrik gara-gara banjir yang menggenangi lantai dasar.
Karena tidak banyak yang bisa dilakukan, kami akhirnya hanya mengobrol soal berbagai macam hal. Aku tadinya ingin menceritakan sebagian pengalaman aneh yang pernah kualami, tapi kurasa waktunya tidak tepat. Pendengarnya juga tidak tepat. Kalau aku mulai bercerita, bisa-bisa aku dikira orang sinting dan ditendang keluar dari gedung. Tentu saja itu hal terakhir yang kuinginkan sekarang ini.
Jadi aku memilih untuk diam dan duduk tenang di pojok ruangan.

 ****

Tuesday, August 25, 2015

Extra Adventure II: Piece of Memory



Sejauh mata memandang, yang bisa dilihat Celes hanyalah deretan pepohonan dan semak belukar yang tumbuh lebat di antara reruntuhan bangunan. Kedua matanya yang berwarna keemasan dengan seksama meneliti kondisi sekitarnya, sementara kedua telinganya yang tajam selalu siaga untuk mendeteksi bahaya yang mendekat. Wajar saja dia bersikap siaga, sebab di dalam hutan reruntuhan kota semacam ini, sering kali berdiam makhluk-makhluk buas yang muncul sebagai efek samping Catastrophy yang terjadi lebih dari 600 tahun lalu.
Sejak bencana misterius itu terjadi, dunia yang dikenal Celes berubah drastis.
Manusia yang dulu menguasai Bumi, kini musnah tanpa sebab yang jelas. Tidak banyak yang tersisa dari mereka, kecuali bekas-bekas kejayaan mereka di masa lalu. Beberapa bekas kejayaan itu tetap hidup dan membuat sebuah kota besar di sisi lain benua ini. Sisanya hidup tersebar sebagai mutan dan robot liar yang berbahaya.
“Ketemu enggak?”
Celes menoleh ke arah gadis kecil bertelinga dan berekor mirip rubah yang berdiri di sampingnya. Gadis itu tampak mengenakan pakaian sederhana, kontras sekali dengan set pakaian petualang yang dikenakan oleh Celes.
“Harusnya ada di sekitar sini,” balas Celes. “Kau menemukan sesuatu, Pekoe?”
Gadis yang bernama Pekoe itu menggelengkan kepalanya.
“Enggak,” balasnya. Dia lalu menunjuk ke arah kantung jaket yang dikenakan Celes. “Kompasnya bilang apa?”
Celes merogoh ke dalam saku jaket yang dia kenakan, kemudian mengeluarkan sebuah benda logam berbentuk pipih. Dengan satu sentuhan ringan, benda di tangan Celes itu terbuka dan mengeluarkan hologram anak panah disertai suara senandung ringan. Melodi merdu itu langsung mengisi kesunyian yang menggantung di sekitar Celes dan Pekoe. Suara dari kompas milik Celes itu terpantul di reruntuhan bangunan dan pepohonan, sehingga seolah-olah kota kuno itu ikut bernyanyi mengikuti alunan melodi.
Sambil mendengarkan suara senandung itu, Celes menutup matanya.
Saat melakukan itu, Celes seolah-olah berpindah ke dunia lain. Reruntuhan kota yang ada di sekelilingnya menghilang begitu saja, kemudian digantikan oleh pemandangan sebuah kota Megapolitan yang dulu pernah berdiri megah di tempat ini. Deretan pepohonan di sekeliling Celes kini berubah menjadi gedung-gedung tinggi yang menjulang menantang langit. Tidak hanya itu, kesunyian reruntuhan kota kini berganti dengan sibuknya sebuah pusat kota, lengkap dengan kerumunan orang yang berjalan lalu-lalang.

Thursday, August 13, 2015

Everyday Adventure X


Everyday Adventure X
(Sahabat)

Buggy merayap melintasi jaringan pipa-pipa logam yang terbentang sepanjang puluhan kilometer di bawah kota Bravaga. Robot dengan wujud mirip kecoa raksasa itu sesekali berhenti dan memeriksa kondisi kabel serat optik yang berada tepat di tengah pipa logam yang sedang dia jelajahi. Beberapa kali dia juga sempat memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil yang mulai terlihat di jaringan kabel yang sudah berumur ratusan tahun itu.
Sebagai robot yang dirancang untuk melakukan perbaikan di area yang sulit dijangkau robot lainnya, setiap beberapa hari sekali Buggy dan teman-temannya melakukan penjelajahan menembus labirin pipa dan terowongan di bawah kota Bravaga. Meskipun tugasnya terkesan sepele, tapi kerusakan-kerusakan kecil di jaringan pipa seperti ini dapat berakibat fatal. Bayangkan saja bila kerusakan itu terjadi di jaringan pipa energi. Kalau tidak segera diperbaiki, bisa-bisa kerusakan kecil itu kelak akan menimbulkan masalah besar.
“Buggy, sudah selesai dengan sektor E-137?”
Buggy menoleh dan melihat sebuah robot serangga merayap menghampirinya. Berbeda dengan dirinya yang berwujud mirip kecoa raksasa, robot yang satu ini berwujud mirip laba-laba raksasa bertubuh hitam, lengkap dengan lukisan tengkorak merah di atas perutnya.
“Belum. Nanti kukerjakan habis yang ini,” sahut Buggy. “Kau sendiri gimana, Nigel?
“He he he... kalau aku sih sudah selesai,” balas Nigel sambil memainkan beberapa buah sekrup kecil dengan kaki-kakinya. “Jadi sekarang aku boleh pulang duluan kan?”
Buggy menepuk kepala Nigel dengan satu kakinya.
“Ya udah, pulang sana! Jangan lupa kasih salam pada Rover dan Surkesh kalau ketemu mereka ya~!” Buggy berkomentar sambil mendorong Nigel menjauh darinya. “Nah, sekarang jangan ganggu aku lagi ya, nanti kerjaanku ini enggak selesai – selesai nih.”
“Siap, bos~!” Nigel menyahut sambil merayap pergi melewati salah satu terowongan di atas Buggy. Tidak lama kemudian, sosok robot bekas serdadu perang kimia itu sudah menghilang di kegelapan sana. Tinggallah Buggy sendirian yang masih saja sibuk menyambungkan beberapa kabel serat optik yang terputus, entah karena apa.
Sejenak Buggy berhenti bekerja dan menarik nafas panjang. Dia ingin segera menyelesaikan tugasnya secepat mungkin. Walaupun hari masih siang, tapi dia tidak mau berlama-lama berada di bawah tanah seperti ini. Soalnya dia sudah janji pada Maria untuk bertemu di perpustakaan kuno kota Bravaga.
Beberapa waktu lalu, Maria dan Ryouta pergi menemui Ganymedes untuk mengantarkan pesanan Automa di dalam pesawat penjelajah angkasa itu. Ketika pulang, Maria langsung menceritakan semua yang dialaminya pada Buggy, kemudian memintanya untuk membantu mencari semua buku-buku tua yang berhubungan dengan sejarah perjalanan luar angkasa ras manusia.
Tentu saja itu membuat Buggy jadi semakin bersemangat. Sebenarnya sejak Maria menemukan perpustakaan kuno di salah satu sudut kota Bravaga, dia jadi lebih kalem dan banyak menghabiskan hari-harinya bersama Trisha sang penjaga perpustakaan. Sebenarnya memang bagus kalau gynoid itu mulai berhenti membuat masalah, tapi diam-diam Buggy merindukan saat-saat ketika dirinya dan Maria membuat onar bersama-sama. Meskipun tahu tindakan mereka itu tidak baik, Buggy menyukai sensasi mendebarkan yang membuat generator tubuhnya berdentum-dentum penuh semangat.
Ah, ayo kerja biar cepat selesai dan cepat main! Seru Buggy dalam hati.
Dia lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya secepat dan secermat yang dia bisa. Kaki-kaki Buggy bergerak cepat selagi dia menyambungkan serat demi serat kabel yang putus dengan ketepatan tinggi. Hanya butuh beberapa menit baginya untuk menyelesaikan tugas itu.
“Nah, sekarang tinggal pergi ke sektor E-137, mengecek pipa energi Sol di sana, terus pulang deh~!”
Buggy berseru gembira pada dirinya sendiri. Dia lalu bergegas merayap menuju lokasi pekerjaan selanjutnya. Namun belum jauh dia pergi, tiba-tiba seluruh terowongan tempatnya berada mulai bergetar. Awalnya pelan, namun beberapa detik kemudian getaran itu berubah menjadi begitu dahsyat, sehingga langit-langit terowongan mulai runtuh.
Tanpa basa-basi, Buggy menerjang maju dan mengaktifkan mesin terbangnya. Dia tidak peduli meskipun tubuhnya berkali-kali terbentur dan jungkir balik, yang penting dia bisa segera keluar dari dalam terowongan ini. Tubuh robot kecoa itu melesat cepat di dalam terowongan sempit, namun tiba-tiba saja Buggy merasa ada sesuatu yang membentur tubuhnya. Dia pun terpelanting keras dan langsung tidak sadarkan diri.

****

Friday, August 7, 2015

4th Spiral: Forgotten Scenery



“Jadi kau bilang kalau ikan peliharaanmu bisa bicara?”
“Yap.”
“Dan kau melihat pemandangan alam kota Bekasi sebelum jadi pemukiman padat penduduk seperti ini?”
“Yap.”
“Dan kau pikir kau masih waras?”
“Tentu saja. Kalau tidak aku pasti sudah berkeliaran bersama puluhan pasien sakit jiwa lainnya di RSJ sana.”
“Orang gila biasanya tidak merasa kalau dia gila kan?”
Aku menepuk pundak pria berambut cepak di sampingku. Namanya Irvan dan kami berdua bekerja di bawah perusahaan yang sama, perusahaan kurir kilat khusus yang beroperasi di sekitar kota Jakarta. Aku mengenalnya sejak pertama kali aku bekerja di perusahaan, dan itu tiga tahun yang lalu. Dan sejauh yang kutahu, Irvan adalah orang yang masih mau mendengarkan ceritaku dengan (agak) sedikit sabar ... meskipun dia tidak pernah berhenti mempertanyakan tingkat kewarasanku.
Seperti sekarang misalnya.
“Aku yakin aku tidak bermimpi. Dan kau boleh lihat ikan hitam yang kuterima dari kakek misterius di pinggiran BKT waktu itu.”
“Tidak terima kasih,” sahutnya sambil nyengir lebar. “Ngomong-ngomong ke mana kita sekarang?"
Aku membuka komputer tablet yang sedari tadi kupegang untuk bernavigasi di tengah keruwetan kota Jakarta ini. Saat ini kami berdua sedang mengantar beberapa buah paket yang dipesan oleh perusahaan IT di pinggiran kota Jakarta. Masalahnya alamat yang kami tuju berada di luar wilayah operasi normal kami berdua, jadi wajar saja kalau kami tidak begitu tahu jalan mana yang harus ditempuh.
Dulu pastinya sulit sekali bagi seorang kurir untuk mencari alamat tujuan di tengah kekacauan kota seperti ini, tapi sekarang mudah saja. Hanya tinggal beberapa sentuhan di layar ponsel atau tablet, maka alamat tujuan ku langsung muncul dalam waktu nyaris seketika, lengkap dengan detail jalur tercepat yang bisa dilalui.
Sungguh praktis sekali.
Viva revolusi teknologi!

Monday, August 3, 2015

3rd Spiral: Beyond The Coffee Taste



Sore hari.
Matahari baru saja terbenam dan hari pun mulai gelap, namun itu semua tidak menghentikan derap kehidupan yang nyaris tanpa henti di kota Jakarta. Teriknya sinar matahari yang telah menghilang, dengan sigap telah digantikan oleh gemerlap lampu-lampu kota yang terkadang kelewat terang, hingga mengalahkan cahaya dingin bulan purnama di atas sana. Itu belum ditambah dengan sinar lampu ratusan –kalau tidak ribuan– kendaraan yang terjebak macet di hampir sebagian besar jalanan ibukota. Bagaikan barisan kunang-kunang, kendaraan dengan berbagai jenis memadati jalanan dan bergerak perlahan, nyaris dengan ritme lambat yang teratur.
Rush hour kedua.
Saat di mana warga yang sebagian besar tinggal di kota-kota satelit sekitar Jakarta, berjuang untuk bisa kembali ke rumah masing-masing sebelum larut malam. Saat di mana banyak dari mereka harus menempuh berjam-jam perjalanan penuh kemacetan sebelum akhirnya bisa kembali ke rumah masing-masing.
Biasanya sih aku juga jadi bagian dari iring-iringan malam di jalanan kota, tapi hari ini agak sedikit berbeda. Di hari-hari biasa kalau sudah jam segini, aku akan berkendara di atas partner tuaku sambil sesekali menggerutu karena terjebak macet yang rasanya semakin parah tiap tahunnya.
Biasanya begitu ... tapi tidak untuk sore ini.
“Baiklah. Di mana aku sekarang?”
Aku duduk di atas motorku sambil memandang ke sekeliling, kemudian ke arah smartphone tua yang baru saja kehabisan baterai pada saat yang sangat tidak tepat. Ponsel pintar yang sudah berumur beberapa tahun itu hampir selalu sukses mematikan dirinya sendiri pada saat aku paling membutuhkan bantuannya.
Sungguh pintar.
“Gawat ... ini di daerah Jakarta yang sebelah mana sih?”
Aku menggaruk kepalaku sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel yang sudah kehabisan baterai, berharap alat canggih itu kembali menyala dengan suatu keajaiban. Tapi tentu saja tidak ada yang terjadi. Layarnya tetap gelap, dan aku pun masih tersesat.
Biasanya kalau sudah begini, aku akan mencari pedagang kaki lima terdekat, kemudian menanyakan arah tujuanku. Tapi entah kenapa, daerah yang kukunjungi kali ini begitu sepi, sehingga seolah-olah ini bukan bagian dari kota Jakarta lagi.
Jalanan yang terbentang di hadapanku benar-benar kosong dan dibatasi oleh dinding-dinding batako tinggi. Sepertinya sih ini daerah yang baru dikembangkan oleh pengembang properti, sehingga tidak ada bangunan lain di sekitar sini.
Masalahnya sepinya itu sungguh kelewatan! Sudah lebih dari setengah jam aku melintasi jalanan yang agak mirip labirin ini, tapi aku belum sekalipun melihat ada kendaraan lain yang melintas. Saking sepinya, aku jadi ngeri kalau ini sebenarnya tempat paling ampuh bagi para begal untuk menjalankan aksinya.
Maklum saja, akhir-akhir ini ulah begal kendaraan bermotor semakin mengerikan. Mereka tidak segan-segan melukai, ataupun menghabisi nyawa korbannya. Tapi jujur saja, aku agak ragu mereka akan mencoba merampok motor tua yang kukendarai ini. Toh mau dijual ke tukang loak pun, harganya tidak seberapa.
“Aduh! Ini benar-benar menyebalkan!”
Sambil menghela nafas panjang, aku kembali menyalakan mesin motorku. Deru mesin empat tak tua langsung terdengar menggetarkan udara malam yang mulai mendingin. Setelah sekali lagi memastikan kalau tidak ada orang di sekitarku, aku pun melaju perlahan-lahan tanpa petunjuk arah sama sekali.
Seperti tadi, yang kulihat dari tadi hanyalah jalanan sempit yang diapit oleh tembok batako tinggi. Tidak ada bangunan lain. Hanya sesekali ada pohon-pohon tua yang terlihat menyembul dari balik tembok beton yang memagari pinggiran jalan. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Belum lagi ditambah fakta sekarang pandanganku agak kabur karena terhalang kabut tipis yang mulai muncul di sekitarku.
Ini benar-benar masih di kota Jakarta kan?
Kok perasaan aku seperti sudah berada di daerah pinggiran pedesaan begini?
Pakai ada kabut segala! Ini sebenarnya di mana sih?!
Dengan perasaan yang semakin tidak karuan, aku mempercepat laju motorku. Sebenarnya itu tindakan konyol, karena bisa saja aku menabrak sesuatu atau terperosok lubang di jalanan yang juga nyaris gelap total ini.
Setelah beberapa menit berkendara tanpa arah, tiba-tiba saja aku mencium aroma yang begitu khas, dan begitu kukenal.
Aroma kental khas kopi yang baru saja diseduh.

Tuesday, July 28, 2015

Everyday Adventure IX



Everyday Adventure IX
(Penjelajah Angkasa)

Central Tower tetap saja terlihat begitu megah, tidak peduli berapa kali pun Maria melihatnya. Apalagi bila dilihat dari dekat, menara yang tingginya serasa menjangkau langit itu tampak begitu luar biasa. Itu belum ditambah fakta bahwa sebenarnya isi menara itu adalah sebuah pabrik robot yang sangat kompleks dan canggih, sehingga mampu menciptakan robot berteknologi cyber-brain dalam waktu singkat.
Sambil menarik nafas dan tersenyum lebar, Maria melangkahkan kaki memasuki Central Tower. Dengan segera dia disambut oleh ruangan luas berbentuk lingkaran yang merupakan lobi depan menara itu. Seperti biasanya, ruangan itu dipenuhi beberapa robot yang ingin mendapatkan perawatan, atau penggantian suku cadang oleh Mother. Meskipun sebenarnya saat ini sudah cukup banyak robot ahli reparasi di kota Bravaga, sebagian besar robot generasi lama masih bergantung pada perawatan dari Mother, terutama mereka yang dibuat pada era sebelum Catastrophy.
Melihat Maria datang, beberapa robot yang sedang mengantre langsung menyapa gynoid berambut hitam itu.
“Halo, Maria~!”
“Loh? Mau dirawat juga ya?”
“Pagi, Pembuat Masalah.”
“Sendirian saja? Mana Ryouta dan Buggy? Biasanya kalian bertiga?”
Dalam waktu singkat Maria sudah dikerumuni oleh berbagai jenis robot yang ingin menyapanya. Meskipun Maria adalah biang onar di kota Bravaga, tapi dia juga cukup tenar, bukan hanya karena ulahnya, tapi juga karena sifatnya yang energik dan supel. Tidak heran banyak robot yang langsung mengenali gynoid itu begitu dia datang.
“Eeh... ada yang lihat Ryouta? Harusnya dia sudah datang duluan ke sini.”
Maria mengangkat kedua tangan, berusaha untuk keluar dari kepungan para robot yang masih ingin menyapa dan berbicara dengannya. Mendengar pertanyaan itu, sebuah robot berkepala tabung dan bermata satu, langsung menjawab.
“Ah, kalau sang Guardia sih tadi masuk ke level bawah, ke pabrik.” ujar robot itu sambil menunjuk ke arah pintu elevator di seberang lobi. “Ada satu Pengembara yang juga ikut bersamanya. Entah mau apa mereka berdua.”
“Begitu? Kalau begitu aku pergi dulu ya!”
Tanpa banyak bicara lagi, Maria melompat tinggi di atas kerumunan yang mengelilinginya, kemudian mendarat ringan di lantai. Gerakannya yang anggun membuat beberapa robot berseru kagum, beberapa di antara mereka bahkan sempat bertepuk tangan.
Senyum lebar tersungging di bibir Maria selagi dia menekan tombol di dalam elevator. Tidak butuh waktu lama bagi Maria untuk sampai ke pabrik yang berada di bawah tanah Central Tower. Begitu pintu elevator terbuka, dia langsung melihat sosok Ryouta yang sudah berdiri menantinya. Di samping android bertubuh besar itu berdiri Arslan sang Pengembara, yang beberapa waktu lalu mampir ke kota Bravaga.
“Oh! Akhirnya kau datang juga.”
Arslan menyapa Maria dan berjalan menghampiri gynoid itu.
“Kenapa sih kalian tiba-tiba memanggilku ke sini? Ada apa nih?”
Maria bertanya penuh semangat. Dia sama sekali tidak tahu kenapa Ryouta dan Arslan tiba-tiba menyuruhnya datang ke pabrik bawah tanah Central Tower. Padahal biasanya Ryouta melarang Maria untuk seenaknya masuk ke pabrik ini, dan itu adalah satu-satunya larangan yang tidak pernah dilanggarnya. Soalnya dia tahu kalau ada banyak mesin sensitif di bawah Central Tower, sehingga kalau Maria nekat berbuat onar, bisa-bisa fungsi seluruh menara itu bisa lumpuh.
“Ada sedikit tugas dari Mother, dan kupikir tugas kali ini pastinya menarik bagimu.” Arslan menjawab pertanyaan Maria sambil menyikut pinggang Ryouta. “Ayo, tunjukkan padanya.”
Ryouta menghela nafas, kemudian berjalan menyingkir dan memperlihatkan sebuah kotak logam besar yang tadi berada di belakangnya. Kotak yang sepenuhnya berwarna hitam itu tampak kokoh dan juga terlihat sangat berat. Di permukaan kotak itu, tertera sebuah tulisan besar ‘G5’ dengan tinta putih.
“Apa itu?” tanya Maria penasaran.
“Ini suku cadang untuk mesin sebuah Space Battleship,” sahut Ryouta singkat. “Beberapa waktu lalu Mother akhirnya bisa mereplikasi komponen rumit ini. Jadi sekarang kita diminta untuk mengantarkan benda ini pada yang membutuhkannya.”
Maria memiringkan kepala karena bingung.
Space Battleship? Memangnya di Bravaga ada robot yang butuh komponen mesin pesawat luar angkasa?” tanyanya heran. Dia lalu ganti menatap Arslan. “Apa ada anggota Pengembara butuh suku cadang seperti itu?”
Mendengar ucapan Maria, Arslan langsung menoleh ke arah Ryouta, yang segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Kau belum cerita soal itu ya?” tanya Arslan.
“Belum,” sahut Ryouta singkat. Sebelum Arslan sempat bertanya lagi, Ryouta buru-buru bicara. “Aku tahu kau mau tanya apa. Jadi langsung saja kujawab: belum waktunya.”
Arslan mendengus. “Selalu saja begitu,” ujarnya sambil melirik ke arah Maria. “Ini komponen yang diminta oleh Mei beberapa tahun yang lalu. Tapi waktu itu Mother belum punya cetak birunya. Baru sekarang komponen itu bisa dibuat berkat cetak biru yang kami temukan beberapa waktu lalu.”
 “Mei? Siapa itu?” tanya Maria penasaran.
Arslan tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu.
“Automa di Space Battleship G5, Ganymedes. Dia itu satu di antara sekian banyak kapal pelindung armada Project Starchild ratusan tahun yang lalu.”

****

Saturday, July 18, 2015

2nd Spiral: Old Man on The River Bank



Matahari bersinar terik dengan sepenuh tenaga, seolah-olah sedang berusaha memanggang apapun yang berada di bawahnya. Udara panas bergelombang menghiasi jalanan kota Jakarta yang dilalui berbagai kendaraan bermotor tanpa henti. Meskipun demikian, frekuensi kendaraan yang melintas tampak lebih rendah dari biasanya. Kemacetan yang biasanya mengular di hampir sebagian besar jalanan protokol ibukota negara itu, siang ini tidak banyak terlihat.
Salahkan serangan udara panas yang baru-baru ini melanda Indonesia. Konon katanya sih karena efek pemanasan global atau semacamnya. Yang jelas hanya orang gila yang mau keluar di jalanan kota Jakarta yang sedang panas membara seperti sekarang ini.
Sialnya aku termasuk dalam golongan orang gila itu.
Sembari terengah-engah karena kepanasan, aku memacu motorku melintasi jalanan yang cukup sepi untuk ukuran kota metropolitan seperti Jakarta. Tentu saja sepi, sebab sebagian orang yang lebih waras akan memilih untuk berteduh sampai udara panas siang hari ini mereda.
Kalau lebih panas dari ini ... otakku bisa matang!
Aku menggerutu sambil mendahului sebuah bus kota yang melaju santai di sisi kiri jalan. Tapi berkat udara panas ini, pekerjaanku mengantar paket jadi sedikit lebih cepat. Kemacetan yang biasanya menghiasi jalanan sepanjang kanal raksasa ini hilang bagaikan di sihir oleh tukang sulap kawakan.
Udara terasa semakin panas saja, terutama karena aku mengenakan balutan jaket kulit yang sengaja kupakai untuk menghindari masuk angin dan penyakit paru-paru basah. Sayangnya dalam kondisi semacam ini, jaket itu justru malah membuatku merasa semakin terpanggang. Rasanya aku ingin sekali melepaskan semua pakaianku dan berkendara dalam keadaan telanjang bulat.

Wednesday, May 27, 2015

1st Spiral: Road To Nowhere



Sama seperti hari-hari biasanya, hari ini pun aku berkendara melewati jalanan padat merayap yang begitu akrab bagiku. Saking akrabnya, aku sampai yakin kalau aku bisa melewatinya dengan mata tertutup.
Yah... sebenarnya tidak sampai segitu juga sih.
Soalnya begitu aku melakukannya, pastinya aku akan segera menabrak sesuatu, atau tertabrak sesuatu. Dan aku tidak cukup berani –atau gila– untuk mencoba mengendarai motor dengan mata tertutup di tengah jalanan kota metropolitan seperti ini. Itu sama saja meminta malaikat maut buru-buru turun dari langit dan mencabut nyawaku.
Sore itu situasi jalanan sama seperti sebelumnya.
Macet.
Mobil, motor, truk, bis, sepeda, becak, semuanya berdesakan dalam satu alur jalanan yang sama. Semuanya terlihat dipaksa untuk berada dalam situasi yang sama.
Ada berbagai ekspresi yang bisa kulihat di wajah-wajah mereka.
Lelah, gembira, jengkel, sedih, sampai yang membiarkan emosinya hilang ditelan asap kendaraan yang menggantung di udara.
Kebetulan aku termasuk yang membiarkan emosiku hilang begitu saja. Pandanganku nyaris kosong, hanya sesekali terfokus ketika melihat ada ruang gerak sedikit saja di depan sana.
Bagaikan prajurit berkuda terlatih, tubuh manusia dan seluruh bagian mekanik motorku sudah menjadi satu.
Gerakan kami selaras.
Tidak ada pertentangan.
Satu putaran tuas gas yang lembut membuat motorku melaju perlahan, sementara kedua kakiku dengan sigap naik-turun menjaga keseimbangan kami berdua.
Pokoknya dalam kondisi seperti ini, aku adalah motorku, dan motorku adalah aku. Kami tidak terpisahkan.
Oke ... aku tahu aku mulai meracau. Tapi maafkan aku, soalnya hari ini bukan hari yang baik bagiku. Soalnya pagi ini aku terlambat masuk kantor, kemudian ada paket yang harus kuantar ke tempat yang jauhnya bukan main, hingga nyaris di luar area operasiku. Sudah begitu ... tentu saja ada kemacetan jalanan kota Jakarta yang memang menyebalkan.
“Kenapa sih tidak ada jalan yang kosong?! Kenapa semuanya penuh kendaraan begini sih?!”
Aku berseru protes pada siapa pun yang bisa mendengar. Kebetulan seorang pengendara motor yang sama-sama mengantri di sampingku langsung menoleh. Dia hanya tersenyum tipis, sepertinya dia juga berpikiran sama denganku. Sama-sama lelah dan benci berada di tengah-tengah kemacetan parah seperti ini.