Everyday Adventure XXV: Mereka Yang Mengembara

 Hari itu suasana kota Bravaga tidak terlihat seperti biasanya.

Kota yang merupakan rumah bagi ratusan ribu robot dari berbagai generasi itu kini dihiasi oleh berbagai ornamen yang tampak mencolok dengan berbagai warna dan bentuk. Hiasan lampu warna-warni pun terlihat malang-melintang di antara gedung-gedung di kota Bravaga. Bangunan kota yang biasanya dibiarkan kusam dan sering kali terlihat kurang terawat itu pun sekarang sudah dicat dan dihias dengan berbagai warna dan pola-pola rumit.

Uniknya, meskipun memiliki warna-warni dan variasi pola yang beraneka ragam, namun semua hiasan yang kini bertebaran di hampir seluruh penjuru kota Bravaga itu terlihat memiliki satu tema yang serupa, yaitu adanya pola, ukiran, atau ornamen yang berbentuk mirip sayap, atau sosok bersayap yang sedang terbang di angkasa.

Sementara itu, para robot yang tinggal di kota Bravaga pun terlihat menghias diri dan mengenakan jubah warna-warni seperti halnya hiasan-hiasan yang kini bertebaran di kota tersebut. Meskipun model jubah yang mereka kenakan juga terlihat bervariasi dengan kombinasi aneka warna, namun semuanya terlihat memiliki bentuk seperti sayap jika dikembangkan.

Ya.

Hari ini adalah hari yang spesial.

Karena hari ini adalah hari di mana para Pengembara akan pergi meninggalkan kota Bravaga dan melanjutkan perjalanannya mengelilingi dunia. Dan tentu saja kawanan robot penjelajah dunia itu tidak begitu saja dibiarkan pergi oleh warga kota Bravaga. Sebuah festival meriah yang diikuti oleh seluruh warga Bravaga pun selalu digelar untuk mengantarkan kepergian mereka.

Seperti yang sedang berlangsung meriah sejak pagi hari tadi hingga malam ini.

Bagi Ryouta yang sudah berkali-kali mengikuti festival untuk mengantar para Pengembara itu, kemeriahan dan keceriaan yang mengepungnya dari segala arah ini bukanlah hal yang baru.

Begitu pula dengan Buggy, dan juga Maria.

Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ada hawa kesedihan yang menggantung di atas ketiga robot itu, terutama karena kali ini mereka akan mengantarkan kepergian sesosok robot yang, meskipun baru mereka kenal dalam waktu singkat, namun telah menjadi bagian dari kehidupan Ryouta, Maria, dan Buggy.

Robot itu tidak lain adalah Orabelle, yang belum lama ini memutuskan untuk bergabung bersama para Pengembara atas ajakan dari Arslan, android mantan Machina yang merupakan pimpinan dari para robot terbang penjelajah dunia itu.

“Di mana dia? Seharusnya dia sudah datang dari tadi!”

Ryouta menggerutu sambil mengecek jam internal yang tertanam di tubuhnya untuk yang ke sekian kalinya. Kalau melihat dari angka yang tampak di salah satu sudut penglihatannya itu, dia sudah menunggu setidaknya satu jam di depan Menara Memori yang berdiri tegak tidak jauh dari Central Tower. Sama seperti hampir semua bangunan di Bravaga, salah satu bangunan tertua di kota para robot itu pun tampak dihias dengan warna-warna mencolok dan dengan berbagai ornamen berbentuk mirip sepasang sayap.

“Sabar~~!” sahut Buggy, robot mirip kecoak raksasa yang tengah bertengger di atas kepala Ryouta. “Walaupun robot, tapi kan kau tahu sendiri kalau wanita itu kalau berdandan bisa lama sekali.”

Ryouta menghela nafas panjang, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan robot yang tampak berjalan lalu lalang. Sesekali tatapan matanya terfokus ke satu-dua robot yang dia kenali, atau yang terlihat unik dengan ornamen dan aksesoris beraneka warna yang menghiasi tubuhnya.

Tentu saja seperti para robot lain di Bravaga, Ryouta pun juga menghiasi dirinya. Tentu saja tidak sampai seheboh robot yang baru saja melintas, yang mengenakan topi sombrero lebar yang berhiaskan gantungan metal berbentuk planet dan benda antariksa lainnya. Meskipun demikian, sosok Ryouta terlihat berbeda dengan jubah panjang yang menutupi tubuh kekarnya. Jubah yang, tentu saja akan membuat mantan Guardia itu seolah memiliki sepasang sayap ketika dibentangkan itu, terlihat elegan dengan warna hijau metalik yang akan menampakkan kilau pelangi setiap kali helainya bergerak.

“Kamu masih saja menyimpan benda ini,” komentar Buggy sambil memainkan tudung jubah yang dilipat ke belakang kepala Ryouta.

Ryouta mengangkat tangannya, lalu mengibaskannya dengan lembut sehingga jubah yang dia kenakan itu terlihat berpendar indah dengan kilau pelangi di atas warna hijau metaliknya. Pada saat yang sama, pola-pola elektrik tampak mengalir samar di balik jubah, yang jelas-jelas menunjukkan kalau jubah yang dikenakan mantan Guardia itu bukan sekedar aksesoris pesta biasa. Dengung elektrik samar pun terdengar sesaat ketika jubah unik itu berkibar. Beberapa robot yang melintas di dekat Ryouta, terlihat melirik ke arah android bermata satu dan bertubuh kekar itu, terutama karena sensor sensitif mereka sepintas memberikan tanda bahaya akan adanya lonjakan energi yang datang dari tubuh Ryouta.

“Kenang-kenangan lama,” ujar Ryouta sambil kembali merapikan jubahnya dan menutupi tubuhnya lagi. “Lagi pula, Jubah Anti-Senjata Elektromagnetik ini juga tidak terlihat janggal dan tetap pantas dikenakan untuk festival ini kan?”

Buggy mengangkat dua kakinya yang ramping.

“Yah, terserah kamu sih. Asal jangan sering-sering bikin robot lain senewen aja. Soalnya barusan sensorku juga teriak gara-gara jubahmu itu mendadak aktif dan ...” Buggy berhenti bicara dan langsung menoleh ke atas. Dia lalu menepuk kepala Ryouta yang menjadi tempat bertenggernya itu. “Hoi~! Itu mereka datang~!”

Ryouta pun menoleh ke atas dan menyaksikan dua sosok ramping yang sedang meluncur turun dengan anggun dari langit malam yang bertabur bintang dan pecahan bulan. Salah satu dari keduanya tidak lain adalah Maria. Gynoid berambut hitam panjang itu terlihat begitu cantik di bawah sinar bintang dan pecahan bulan. Serupa dengan Ryouta, Maria juga mengenakan jubah panjang yang kini berkibar dan membuatnya seolah-olah memiliki sebuah sayap lebar yang berpendar dengan warna hijau lembut yang senada dengan warna matanya. Senyuman lebar terkembang di wajah gadis robot itu ketika melihat Ryouta dan Buggy yang tampak terpana menyaksikannya turun dari langit.

“Maaf kami terlambat~~~~!”

Maria langsung melompat memeluk Ryouta begitu kedua kakinya menginjak tanah. Ryouta yang masih terpana dengan kecantikan Maria tampak tidak bereaksi ketika tubuh besarnya mendadak dipeluk oleh gynoid itu. Melihat sikap Ryouta, Maria lalu melepaskan pelukannya, melangkah mundur, lalu berputar sekali untuk memamerkan jubah indah yang membalut tubuhnya itu.

“Bagaimana menurutmu? Bagus kan?” ujar Maria riang, masih sambil merentangkan tangannya dan membuat sosoknya terlihat seperti memiliki sayap lebar yang tipis dan terlihat anggun. Tanpa menunggu respons dari Ryouta, atau pun Buggy, robot gadis itu kemudian membalikkan tubuh dan mendorong sosok lain yang sama-sama turun dari langit tadi.

“Eh! Ma ... Maria! Tunggu dulu!” protes sosok yang tidak lain adalah Orabelle itu.

“Bagaimana? Orabelle juga cantik kan?”

Maria langsung memamerkan pakaian yang dikenakan oleh Orabelle pada Ryouta dan Buggy, yang masih berdiri mematung. Sementara itu, Orabelle terlihat salah tingkah ketika tahu-tahu dia didorong ke depan Ryouta. Gadis robot bertubuh mungil itu tampak berusaha merapikan jubah berwarna biru elektrik yang senada dengan warna rambutnya itu. Sama seperti jubah yang dikenakan semua robot di kota Bravaga malam ini, jubah milik Orabelle juga membentuk siluet mirip sebuah sayap lebar bila dikembangkan. Bedanya, bagian belakang jubah gynoid itu terbuka dan menampilkan sebagian punggungnya yang dihiasi oleh tiga pasang sayap transparan yang berpendar biru.

Sekilas pandang, sosok Orabelle benar-benar mirip seperti seorang malaikat agung yang baru saja turun dari surga.

Buggy, entah bagaimana caranya, bersiul kagum melihat sosok Orabelle. Sedangkan Ryouta tampak terkejut ketika melihat sosok gynoid di hadapannya itu, namun perlahan-lahan dia bisa mengendalikan diri, kemudian menepuk kepala Orabelle dengan lembut.

“Kau terlihat sangat menawan malam ini, Orabelle,” ujar Ryouta lembut. Dia lalu melirik ke arah Maria yang jelas-jelas terlihat iri mendengar pujian yang diberikan pada Orabelle. “Kau juga, Maria. Kalian berdua tampak cantik malam ini.”

Mendengar ucapan Ryouta, Maria pun langsung tersenyum lebar.

“Ehehehe~~! Tentu saja!” ucap gynoid itu sambil meraih sebelah tangan Orabelle. “Nah, ayo kita bergabung dengan yang lainnya di Central Tower. Aku yakin para Pengembara lain juga bakalan terkagum-kagum dengan penampilanmu!”

Sebelum Orabelle sempat protes, tahu-tahu Maria sudah menarik gadis robot itu dan membawanya pergi tanpa mengucapkan sepatah-kata pun pada Ryouta dan Buggy. Kedua robot generasi lama itu masih berdiri terpaku di tempat karena tingkah Maria dan Orabelle yang datang dan pergi tiba-tiba bagaikan angin ribut itu.

“Hei, Ryouta ...” Buggy akhirnya bicara sambil menepuk kepala temannya itu. “Aku ngerti Orabelle sekarang jadi kayak Machina yang pernah kamu hancurkan waktu perang dulu. Tapi jangan bikin itu jadi alasan untuk merusak harinya, dan juga harimu yak. Ini bukan saatnya untuk mengenang tragedi masa lalumu, oke?”

Ryouta mendongak dan mengelus tubuh Buggy dengan lembut. Robot mirip kecoak itu seolah-olah baru saja membaca dan mengutarakan apa yang baru saja terlintas di dalam pikirannya. Dalam hati mesin perang kuno itu pun tersenyum.

Buggy benar. Malam ini adalah malam yang sangat penting bagi Orabelle yang baru saja bergabung bersama para Pengembara. Sebab ini adalah malam terakhir sebelum dia, dan para Pengembara lainnya, akhirnya pergi melanjutkan perjalanan berat mereka, ujar Ryouta dalam hati. Dan akan kupastikan ini akan jadi malam yang tidak terlupakan baginya.

Tanpa basa-basi lagi, Ryouta pun mulai berjalan menyusul Maria dan Orabelle yang kini sudah kembali menghilang ditelan kerumunan masyarakat robot yang tengah larut dalam perasaan penuh suka cita itu.

 ****

 Sama seperti festival yang telah lalu, perayaan untuk mengantarkan kepergian para Pengembara pun berpusat di area sekitar Central Tower. Tidak kalah dengan bangunan lain di sekitarnya, menara yang merupakan bangunan tertinggi di tengah-tengah kota Bravaga itu juga tampak dihias dengan meriah. Gambar-gambar siluet sosok-sosok bersayap telah dicat dengan seksama di sekeliling menara dan melambangkan sosok para Pengembara yang sedang terbang mengitari bangunan pencakar langit itu. Dan tentu saja, ada cukup banyak Pengembara sungguhan yang sedang terbang menari atau berakrobat mengitari Central Tower. Sementara itu, robot-robot lain yang sudah berkumpul memadati lapangan di sekitar Central Tower juga tampak bergembira dengan caranya masing-masing.

Tentu saja di antara mereka, ada dua sosok yang menjadi pusat perhatian. Keduanya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Maria dan Orabelle, yang sejak tadi terlihat sibuk menari berputar sembari mengembangkan jubah yang mereka kenakan. Dua gynoid Generasi Baru itu tampak tertawa riang, sementara para robot di sekitar mereka ada yang terpaku di tempat karena terpukau, namun ada juga yang ikut menari bersama Maria dan Orabelle. Suasana meriah pun terpancar dari kerumunan mesin-mesin humanoid dengan kecerdasan tinggi itu.

Ryouta yang juga sudah berada di depan Central Tower pun ikut menyaksikan kegembiraan itu dari kejauhan. Sementara Buggy, yang tadi selalu bertengger di atas kepalanya, kini sudah ikut bergabung bersama para Pengembara dan beberapa robot penerbang lain di langit sana. Robot-robot dengan berbagai bentuk yang sejak tadi berseliweran di langit kota Bravaga itu memperlihatkan seni akrobatik cahaya dengan lampu dan sinar laser, serta sedikit sentuhan tembakan senjata energi atau senjata tipe lainnya, yang sudah diatur sedemikian rupa untuk menambah kemeriahan suasana festival malam itu.

“Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka dan hanya diam di sini saja?”

Ryouta menoleh ke arah datangnya suara dan melihat sosok Arslan sedang melangkah santai menembus kerumunan robot yang sedang bergembira di sekitarnya. Sedikit berbeda dengan para Pengembara lain, Arslan mengenakan jubah yang terlihat dihias dengan ornamen dan aksesoris yang rumit. Berbagai macam ornamen yang disematkan, atau tergantung di tubuh pimpinan para Pengembara itu mengeluarkan suara berdenting setiap kali Arslan berjalan. Robot yang dulunya juga sebuah mesin perang seperti Ryouta itu kini lebih mirip seperti toko aksesoris berjalan.

Tentu saja itu membuat Ryouta geli.

“Hei, Arslan,” sapa Ryouta. Dia lalu menambahkan dengan nada mengejek. “Pakaianmu bagus juga. Heboh!”

Arslan mendengus kesal dan meninju lengan Ryouta dengan sebelah tangannya.

“Bukan mauku untuk berpakaian seperti ini, kau tahu itu kan?” protes Arslan sambil berdiri di samping teman lamanya, sekaligus bekas musuh bebuyutannya itu. “Bagaimana menurutmu dengan modifikasi Orabelle?”

Ryouta memandang sekilas ke arah Orabelle yang terlihat masih berdansa dengan gembira, kali ini dengan sebuah robot yang sekilas mirip orang-orangan sawah, hanya saja robot itu memiliki delapan lengan yang tampak dihiasi dengan manik-manik berwarna merah terang. Pandangan Ryouta lalu kembali ke arah Arslan yang berdiri di sampingnya.

“Aku menghargai usaha Mother untuk tidak mengubah wujud Orabelle terlalu jauh ... hanya saja ...”

“... dia jadi mirip Yellow Canary kan?” potong Arslan. Dia mengabaikan lirikan tajam dari Ryouta dan kembali bicara lagi. “Aku juga terkejut ketika akhirnya Mother selesai memindahkan Cyberbrain Orabelle ke tubuh baru. Kukira wujudnya akan jadi lebih mirip seperti ... yah ... sebagian dari para pengembara lainnya. Yang boleh dibilang terlihat agak menakutkan. Tapi ternyata Mother mempertahankan hampir seluruh wujud Orabelle dan hanya mengganti material dasar tubuhnya, menambahkan mesin terbang, sayap dan ...”

“... dan menambahkan Pseudo-Machina Core yang sama seperti mu?”

Kali ini giliran Ryouta yang memotong ucapan Arslan, membuat pimpinan para Pengembara itu jadi terdiam. Dan sebelum Arslan sempat mengatakan apa pun, Ryouta sudah keburu bicara lagi.

“Aku paham kalau perjalanan kalian mengelilingi dunia yang sudah rusak akibat perang dan Catastrophy ini penuh dengan bahaya. Sehingga butuh tubuh khusus dengan spesifikasi militer tingkat tinggi untuk bisa bertahan hidup di luar sana.” Ryouta berhenti sejenak untuk memandangi pecahan bulan di langit, yang konon dihancurkan oleh salah satu Machina legendaris pada era Perang Bulan Kedua. “Tapi tidak seharusnya Mother membuat lagi satu robot serupa Machina ... apalagi Orabelle belum tahu banyak tentang senjata dan ...”

“... perang? Pertikaian?” potong Arslan untuk kedua kalinya. Dia lalu menghela nafas panjang dan menepuk punggung Ryouta cukup keras, hingga terdengar suara dentang nyaring, sementara jubah khusus yang dikenakan android bermata satu itu langsung berpendar seolah-olah baru saja dipaksa untuk aktif.

“Seperti biasanya. Kau ini terlalu overprotective,” ujar Arslan sambil tertawa kecil. “Jangan meremehkan Orabelle. Aku yakin dia bisa beradaptasi dengan tubuh dan kehidupan barunya dengan cepat. Biar bagaimana pun, dia kan robot Generasi Baru yang serupa dengan Maria. Dari spesifikasi dasar sebelum jadi Pengembara saja, Orabelle sudah jauh lebih canggih dari kita berdua, Ryouta. Lagi pula ... semua ciptaan Mother tidak ada yang sia-sia. Kita tahu dia selalu membuat robot, mesin, atau alat baru dengan tujuan tertentu yang ... yah ... terkadang sering tidak kita pahami.”

Arslan terdiam sejenak dan memandangi Orabelle yang masih menari di tengah kerumunan para robot. Mantan Machina itu lalu kembali bicara lagi.

“Tapi kupikir mungkin inilah alasan mengapa Mother tiba-tiba saja menciptakan satu lagi gynoid Generasi Baru setelah sekian lama sejak Maria diciptakan,” ujarnya sembari kembali menoleh ke arah Ryouta. “Sebagai yang pertama dari generasinya untuk keluar dari tembok kota ini dan melihat seperti apa realitas dunia yang ada di luar sana.”

Ryouta terdiam sejenak. Dia pun langsung paham apa maksud dibalik ucapan teman lamanya itu. Pikiran dan pandangan Ryouta pun langsung melayang ke arah Maria yang tengah berdansa melingkar dengan empat robot lainnya. Gynoid berambut hitam panjang itu tengah tertawa lepas dan terlihat begitu bahagia.

Meskipun wajah Ryouta tidak bisa menunjukkan ekspresi, tapi Arslan yang sedang berdiri di samping gynoid bertubuh kekar itu seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh temannya.

“Pikirkan baik-baik dan segera tanyakan padanya ... apa yang sebenarnya ingin dia lakukan? Apakah dia sudah menemukan atau menentukan jalan hidupnya?” Arslan berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya lagi. Kali ini dengan tegas. “Dan kalau ternyata dia sudah membuat keputusan bulat seperti Orabelle, kau tidak boleh menghalanginya. Oke?!”

Kali ini ucapan Arslan membuat Ryouta langsung melotot ke arahnya, tapi pimpinan para Pengembara itu sama sekali mengabaikan tatapan marah dari temannya itu dan mulai berjalan menjauh, kemudian merentangkan kedua sayap lebarnya. Dia lalu mendongak ke arah para Pengembara yang sedang melakukan aksi akrobatik di langit kota Bravaga, beberapa di antara mereka tampak menyadari kehadiran pimpinannya itu dan memberi isyarat agar Arslan segera bergabung bersama mereka.

“Baiklah, aku sudah terlalu lama di sini dan sudah saatnya aku ikut bergabung untuk memamerkan aksiku bersama yang lainnya,” ujar Arslan sambil merapikan jubahnya. Dia lalu menatap lurus ke arah Ryouta, yang masih diam di tempat. “Kalau saatnya tiba, ingat pembicaraan kita hari ini, kemudian ingat juga soal Orabelle dan bagaimana dia akhirnya menentukan jalan hidupnya sendiri.”

Sebelum Ryouta sempat mengatakan apa pun, Arslan keburu melesat cepat ke langit dan meninggalkan jejak kilatan cahaya berwarna ungu, serta percikan listrik statis yang membuat beberapa robot yang ada di dekatnya bergidik ngeri.  

“Ryouta~~~~!”

Tepat ketika Arslan sudah melesat pergi, Maria tampak melangkah riang sambil menyusup di antara kerumunan robot yang menghalangi jalannya. Ekspresi yang terpampang di wajah gynoid itu begitu ceria, hingga bisa membuat siapa pun yang melihatnya, ikut tertular dengan keceriaannya.

Tidak terkecuali Ryouta. Perasaan murung yang sejak tadi melanda dirinya, seolah lenyap seketika ketika melihat Maria datang.

“Arslan ke mana?” tanya Maria bingung. “Barusan dia ada di sini enggak sih?”

Ryouta menunjuk ke langit, Maria pun langsung mendongak mengikuti arah yang ditunjuk temannya itu. Dia lalu melihat Arslan sedang mengembangkan sayapnya dan memercikkan gelombang energi berwarna ungu dan biru ke segala arah, mirip seperti kembang api. Melihat atraksi itu, Maria pun langsung berseru kagum.

“Wah~! Indah sekali!!!” seru Maria kegirangan. “Ini pertama kalinya aku lihat aksi Arslan yang kayak gitu!”

Tanpa mengatakan apa pun, Ryouta tahu-tahu mengusap lembut kepala gynoid di sampingnya itu dengan lembut, dan membuat Maria menoleh ke arahnya.

“Masih kepikiran soal Orabelle?” tanya Maria, seolah-olah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan temannya itu.

Ryouta mengangguk, tapi dia masih diam seribu bahasa.

“Ah~! Enggak usah khawatir! Mother kan sudah membuat Orabelle jadi lebih tangguh!” ujar Maria lagi. Dia lalu menunjuk ke arah para Pengembara yang sedang berakrobat di langit. “Lagi pula dia akan berada di tengah-tengah para Pengembara yang sudah sangat berpengalaman dalam menjelajahi dunia. Terus, kan ada Arslan juga di sana. Jadi enggak usah khawatir deh!”

Untuk kesekian kalinya, ucapan Maria hanya disahut dengan tatapan lembut dari mata bulat Ryouta.

“Bagaimana denganmu?” tanya Ryouta setelah tadi diam cukup lama. “Apa kau tidak ingin bergabung bersama para Pengembara juga? Aku tahu kau selalu ingin pergi melihat isi dunia jauh di luar area Bravaga ini. Aku juga tahu kau juga ingin menemukan jejak keberadaan manusia, atau bila memungkinkan, bertemu dengan manusia-manusia yang tersisa setelah Catastrophy melanda planet ini. Lalu ... kenapa kau tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan impianmu itu?”

Maria terbelalak kaget mendengar ucapan Ryouta, namun gynoid Generasi Baru itu lalu tersenyum lembut dan menyenderkan bahunya ke tubuh temannya itu. Selama beberapa saat keduanya hanya terdiam dan menyaksikan para robot yang sedang menikmati kemeriahan suasana festival malam itu.

“Kau tahu, dulu aku emang sering membayangkan gimana rasanya pergi menjelajahi dunia luar seperti para Pengembara. Aku juga selalu bermimpi kalau suatu saat aku akan bertemu dengan manusia sungguhan yang mungkin masih tersisa di sudut-sudut tersembunyi dunia ini.” Maria berhenti sejenak untuk merapikan rambut hitam panjangnya. “Tapi semakin lama, aku makin ngerasa itu bukan panggilan hidupku. Yah ... memang pastinya hebat sekali kalau aku bisa melakukan itu. Tapi sepertinya bukan itu alasanku dilahirkan ke dunia ini. Ada tujuan lain yang ... gimana ya ... terus terang aku sendiri belum tahu apa.”

Maria lalu merentangkan kedua tangannya ke depan dan mengamati jemarinya yang lentik.

“Aku yakin suatu saat aku bakalan menemukan tujuan hidupku. Dan waktu itu terjadi, pastinya bakalan bikin heboh semuanya deh!,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Dia lalu menoleh ke arah Ryouta, yang kini balas menatap ke arahnya. “Tapi untuk malam ini, kita pastikan yuk kalau Orabelle tahu kita akan mengantarkan kepergiannya dengan gembira, supaya dia selalu ingat rumah dan suatu saat nanti ... dia bakalan kembali lagi dan bercerita tentang semua hal yang dia temui dalam perjalanannya ...”

Maria menarik nafas panjang, kemudian menyeka bulir air mata yang sempat mengalir di pipinya. Setelah berhasil menenangkan diri, gynoid itu lalu menarik lengan Ryouta sembari nyengir lebar.

“Nah ... udahan dong seriusannya, sekarang saatnya bergembira!” serunya riang. “Ayo kita ke sana dan menari bersama!”

Tanpa menunggu respon dari Ryouta, Maria sudah keburu menarik android bertubuh kekar itu ke tengah-tengah kerumunan robot, yang kini jelas-jelas memberi ruang kepada dua robot yang berbeda generasi itu. Mereka semua tampak antusias dan menunggu bagaimana tanggapan Ryouta atas ajakan Maria barusan. Sayangnya Ryouta masih terlihat ragu dan malah diam di tempat sambil mengamati perkembangan situasi canggung yang sedang dihadapinya itu.

Karena melihat Ryouta yang masih kikuk, Maria menghela nafas panjang, lalu mengibaskan jubahnya dan mengulurkan sebelah tangannya.

“Wahai Pangeran, maukah Tuan meluangkan sedikit waktu dan berdansa denganku di malam yang penuh suka cita ini?” ujar Maria sembari meniru adegan dari salah satu buku yang pernah dia baca di Perpustakaan kota Bravaga.

Sikap Maria langsung disambut dengan seruan riuh rendah dari robot-robot yang berkerumun di sekitarnya. Sikap gynoid itu juga membuat Ryouta akhirnya pasrah dan dia sadar kalau dia tidak bisa menghindar lagi dari ajakan gadis robot berparas menawan, yang masih mengulurkan sebelah tangannya sembari nyengir lebar itu.

“Dengan senang hati, Tuan Putri,” sahut Ryouta sambil menerima uluran tangan Maria.

Seketika itu juga suara sorak-sorai pun bergema dari para robot yang sedari tadi berkerumun di sekitar Maria dan Ryouta. Dan dengan diiringi suara tepuk tangan berirama riang ... keduanya pun mulai berdansa.

****

 Matahari baru saja terbit, namun hampir seluruh warga kota Bravaga sudah berkumpul di sekitar Central Tower. Setelah selesai berpesta dan bergembira semalaman suntuk, kini tiba waktunya untuk menghadiri acara utama dari festival meriah kali ini.

Sangat berbeda dengan suasana ramai semalam, meskipun ada ribuan robot yang telah berkumpul di sekitar Central Tower, tapi mereka semua hadir dalam diam. Semua mata elektronik mesin-mesin dengan kecerdasan tinggi itu tertuju ke arah barisan rapi para Pengembara yang melayang membentuk lingkaran besar di sekeliling menara tertinggi di kota Bravaga. Robot-robot penerbang tangguh itu kini terlihat gagah dengan berbagai peralatan, mesin, dan perbekalan pendukung yang sudah dipersiapkan dengan matang untuk pengembaraan mereka kali ini. Sama seperti robot-robot lain yang berkumpul di bawah, para Pengembara itu pun melayang dalam diam. Mereka semua tampak serius memandangi beranda dan podium kecil di salah satu lantai tertinggi di Central Tower. Di tempat itu kini telah berdiri Arslan, sebagai Pimpinan sekaligus Perwakilan para Pengembara, dan kakek Tesla, sebagai Tetua dan Perwakilan dari kota Bravaga. Kakek Tesla, terlihat berdiri tegak hingga sepertiga bagian tubuhnya yang berwujud mirip kelabang raksasa terlihat mencolok jika dibandingkan dengan sosok ramping Arslan yang sedang berlutut di hadapannya.

“Saya Arslan, perwakilan Pengembara, menyerahkan kembali Ingatan Leluhur kepada kota Bravaga. Semoga Ingatan Leluhur ini terus abadi dan tersimpan sebagai catatan akan keberadaan dan segala cerita yang kami bawa dari dunia luar.”

Arslan lalu menyerahkan sebuah kubus kristal berisi awetan otak manusia kepada Kakek Tesla, yang langsung diterima oleh Tetua kota Bravaga itu. Pada saat yang bersamaan, robot mirip kelabang raksasa itu juga menyerahkan sebuah bola kristal berisi tujuh batu hitam mengkilat kepada Arslan.

“Saya Tesla, perwakilan kota Bravaga, kembali menyerahkan Batu Langit kepada para Pengembara. Semoga batu ini akan membawa dan menuntun kalian semua pulang kembali ke kota ini.”

“Dengan ini, lingkarannya pun dimulai kembali.”

“Dengan ini, lingkarannya pun dimulai kembali.”

Kakek Tesla dan Arslan lalu mengucapkan kalimat tersebut pada saat yang bersamaan, sembari mengangkat benda-benda unik yang baru saja mereka tukarkan itu.

Seketika itu juga, suara sorak-sorai pun bergema nyaring di seluruh penjuru kota Bravaga. Semua robot yang hadir di sekitar Central Tower, maupun yang menyaksikan via saluran komunikasi terbuka, langsung berseru nyaring mengantarkan untuk mengantarkan kepergian para Pengembara yang akan segera memulai kembali perjalanan berat mereka.

Tentu saja Ryouta, Maria, Buggy, dan juga Orabelle, yang berada di lapangan Central Tower pun ikut bersorak nyaring. Keempat robot itu lalu saling pandang selama beberapa saat, sebelum akhirnya tatapan Ryouta, Maria, dan juga Buggy, akhirnya tertuju pada sosok Orabelle, yang kini benar-benar terlihat seperti salah satu Pengembara yang sudah berkumpul di langit di atas kota Bravaga. Orabelle kini terlihat mengenakan pakaian mirip pakaian penjelajah wanita di jaman dahulu kala, lengkap dengan rompi dan celana kargo yang dihiasi kantung-kantung kecil berisi berbagai peralatan lapangan, serta terlihat sedang menggendong dua tas selempang yang sekilas terbuat dari bahan mirip kulit sintetis di pinggang kanan dan kirinya.

“Kurasa sudah saatnya kita berpisah,” ujar Orabelle sambil tersenyum meskipun kedua matanya yang jernih terlihat berkaca-kaca. “Terima kasih atas bantuan dan dukungan kalian semua selama ini ... dan maafkan segala masalah yang pernah kubuat selama bersama kalian bertiga ...”

Maria menyambut ucapan Orabelle dengan memeluk tubuh gynoid termuda itu dengan erat.

“Sama-sama,” balas Maria, masih sambil memeluk Orabelle. Dia lalu melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke arah mata Orabelle, yang kini berurai air mata. Sembari tersenyum, Maria mengusap air mata Orabelle dengan lembut. “Kamu hati-hati di jalan ya. Dan kalau sudah kembali ke kota ini lagi, jangan lupa ceritakan semua yang kamu alami selama berpetualang di luar sana ya. Kami akan selalu menunggumu di sini. Di kota ini.”

Orabelle tidak bisa mengucapkan apa-apa karena dia masih berusaha mengendalikan Simulasi Emosi-nya yang terus-menerus membuatnya ingin menangis keras. Gynoid itu lalu menoleh ke arah Ryouta, yang kini menatapnya dengan tatapan lembut.

Seolah bisa mengerti apa maksud Orabelle, Ryouta pun melangkah maju, lalu mengusap kepala Pengembara bertubuh mungil itu dengan lembut.

“Jaga dirimu baik-baik,” ujar Ryouta singkat, dia lalu mendongak dan melihat para Pengembara yang tampak sudah membentuk formasi terbang mereka yang khas. Android itu lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Orabelle, yang masih menatap lurus ke arahnya. “Jangan ragu untuk meminta bantuan pada Pengembara lainnya kalau kau mengalami masalah. Kalian adalah satu kesatuan, jadi masalah yang dialami oleh satu Pengembara, juga akan jadi masalah semua Pengembara yang lainnya. Jadi ... kau tidak akan pernah sendiri selama mengembara di luar sana. Mereka semua ada juga untukmu.”

Orabelle lalu memeluk Ryouta dengan erat selama beberapa saat, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.

“Hey, Orabelle,” sapa Buggy, yang sedari tadi bertengger di atas kepala Ryouta. Robot mirip kecoak raksasa itu lalu melayang rendah di depan Orabelle sambil mengulurkan dua buah benda yang mirip seperti komponen sebuah alat elektronik. “Aku enggak tahu apa ini berguna atau enggak, tapi ini Quantum Transponder. Sekarang ini cuma ada dua sih, tapi simpan yang satu dan berikan yang satu lagi pada Arslan. Kalau pakai ini, Arslan bakal bisa mencari di mana pun kamu berada. Asal dua alat ini sama-sama aktif.”

Orabelle tersenyum sembari menerima pemberian dari Buggy. Dia lalu mengelus lembut tubuh robot kecoak yang melayang di depannya itu.

“Terima kasih, Buggy,” ujarnya lembut sambil menyimpan benda pemberian Buggy itu ke dalam salah satu kantung di rompi yang dia kenakan. Gynoid itu lalu mendongak ke atas sesaat, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke arah Maria, Ryouta, dan Buggy secara bergantian. Dia lalu memejamkan mata sejenak dan enam pasang sayap transparan muncul dari punggung gynoid itu dengan diiringi kilatan listrik dan percikan energi berwarna kebiruan. Pada saat yang sama, pasir dan batu-batu kerikil di sekitar Orabelle terlihat melayang berputar di sekeliling tubuh gynoid itu.

“Sepertinya sudah saatnya aku pergi,” ujar Orabelle lagi, masih sambil berusaha mengendalikan diri agar tidak menangis lagi. Dia lalu memaksakan diri untuk tersenyum kepada ketiga robot yang sudah dia anggap seperti keluarga sendiri itu.

“Sampai jumpa lagi, Maria, Ryouta, Buggy.”

Setelah mengucapkan kalimat perpisahannya itu, Orabelle pun melesat ke angkasa dengan diiringi suara dengung nyaring. Dengan segera dia pun bergabung dengan para Pengembara yang tampaknya sudah menunggu kehadirannya di atas sana.

Begitu Orabelle bergabung ke dalam formasinya, para Pengembara yang tadinya melayang di angkasa pun satu persatu melayang pergi dan menghilang dari pandangan semua robot yang hadir untuk mengantarkan kepergian mereka. Dalam waktu singkat, para Pengembara yang selama beberapa waktu ini hidup bersama di tengah-tengah para robot di kota Bravaga itu pun menghilang. Tidak banyak jejak yang tersisa dari kehadiran mereka di kota para robot itu kecuali kenangan akan kebersamaan dengan mereka, cerita-cerita perjalanan, dan juga artefak-artefak kuno yang mungkin akan menjadi bagian dari kehidupan warga di kota Bravaga suatu hari nanti.

Namun untuk saat ini, yang bisa dilakukan oleh warga Bravaga hanyalah berharap agar hari ketika semua Pengembara itu kembali dengan selamat itu segera tiba. Dan itulah yang dilakukan oleh Maria, Ryouta, dan juga Buggy saat ini. Ketiganya hanya bisa menatap langit biru di atas sana sembari berharap kalau Orabelle, anggota keluarga mereka itu, suatu hari nanti akan kembali dari pengembaraan panjangnya dan menceritakan semua suka-duka yang dirasakannya sebagai Pengembara.

Hanya saja, perjalanan para Pengembara selalu dipenuhi bahaya yang tidak terduga, dan tentu saja ada kemungkinan kalau Orabelle tumbang di tengah-tengah pengembaraannya. Meskipun Orabelle sendiri sudah dimodifikasi oleh Mother hingga cukup tangguh untuk menjaga dirinya sendiri, dan tentu saja ada Arslan yang siap membantu, tapi kemungkinan buruk itu tetap saja ada.

Ketika membayangkan kalau gynoid yang sudah seperti adiknya sendiri itu mungkin tidak akan kembali lagi, kedua mata Maria pun kembali berkaca-kaca. Namun sebelum dia sempat menangis lagi, Ryouta sudah keburu mendekap kepala gynoid berambut hitam panjang itu.

“Tidak usah khawatir. Aku yakin mereka semua akan pulang dengan selamat suatu hari nanti. Begitu juga dengan Orabelle,” ujar Ryouta seolah dia bisa membaca pikiran Maria. “Lagi pula tidak ada gunanya kita terus khawatir seperti ini kan?”

Ketika mendengar kalimat itu, Maria pun mengusap air mata yang mulai menggenang lagi. Dia lalu menoleh ke arah Ryouta, yang terlihat masih memandangi langit, seolah masih berusaha melihat ke mana para Pengembara tadi pergi.

Maria pun tersenyum lebar sambil menyikut pinggang android bertubuh besar yang berdiri di sampingnya itu.

“Kau benar~! Tidak bagus kita bersedih begini terus~!” serunya riang sembari menunjukkan senyuman khasnya. “Nah, ayo kita pulang sekarang~!”

Ryouta pun balas menatap ke arah Maria, lalu membalas ucapannya.

“Ya. Ayo kita pulang,” sahut Ryouta.

 

~FIN?~

 

red_rackham 2020

Comments

Aditya Santoso said…
Bang, ini kapan novel ke-5 nya cetak?