Wednesday, January 25, 2012

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Kinuta Sang Cerpelai Sakti


[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Kinuta Sang Cerpelai Sakti

KEYWORD: cerpelai, pasar malam, pohon pisang, gula-gula, rasi, rajah, polkadot, jelantah



Di suatu hutan yang damai dan tentram hiduplah seekor cerpelai sakti bernama Kinuta. Cerpelai tua itu hidup di sebuah rumah mungil yang dia bangun di bawah sebuah pohon pisang raksasa yang tumbuh di pinggiran hutan. Oleh seluruh penghuni hutan, Kinuta dikenal sebagai hewan yang murah hati, bijak dan suka menolong orang lain. Dia juga dikenal ahli sihir serta membaca petunjuk rasi bintang. Karena keahlian dan sifatnya itulah hewan – hewan yang tinggal di dalam hutan sering mengunjungi Kinuta untuk meminta bantuan. Kinuta tidak pernah meminta imbalan atas bantuan yang dia berikan, tapi para penghuni hutan tahu kalau cerpelai itu sangat menggemari gula-gula, sehingga mereka sering memberikan gula-gula pada Kinuta sebagai rasa terima kasih.


Hari ini seperti biasanya Kinuta berjalan-jalan di sekitar pohon pisang tempatnya tinggal. Suara kicauan burung terdengar bersahutan di dalam hutan. Matahari bersinar cerah dan angin pun berhembus lembut, membuat suasana pagi itu menjadi begitu menyejukkan hati.


“Pagi ini pun semuanya terasa damai,” ujar Kinuta sambil berjalan tertatih-tatih mengelilingi rumahnya sendiri.


Tapi hari itu ada yang berbeda. Biasanya pagi-pagi begini sudah ada hewan yang datang mengunjungi Kinuta untuk meminta bantuan atau saran. Tapi sampai matahari agak tinggi seperti ini, belum satupun tamu datang berkunjung ke rumahnya. Kinuta memang merasa heran, tapi cerpelai tua itu tidak ambil pusing dan melanjutkan acara jalan-jalan paginya.


Dengan langkahnya yang lamban, Kinuta berjalan menyusuri hutan dan semakin bingung karena tidak satupun hewan yang dia kenal menampakkan dirinya.


Ada apa ini? pikir Kinuta kebingungan. Ah sebaiknya aku pergi ke rumah Netsuki...


Monday, January 16, 2012

E-Magazine Aksarayana

Ahem.....kali ini saia mau promosi sebuah E-Magazine yg diterbitkan atas ide dan sokongan dari teman-teman di Le Chateau de Phantasm (LCDP), namanya Aksarayana.



Mengenai Aksarayana:

Aksarayana adalah sebuah majalah elektronik (E-Magazine) yang bermula dari gagasan dari teman-teman di LCDP untuk membuat sebuah media majalah khusus yang menampung cerita-cerita fantasi. Sesuatu yang sebelumnya (mungkin) belum ada di Indonesia.

Tuesday, January 10, 2012

[Tantangan Kencan Fantasi]: Cinta Tak Kenal Batas

Gie Yume berlari dengan langkah ringan menyusuri lorong istana. Gadis bertubuh mungil itu sedang merasa sangat gembira hari ini. Senyum manis terus tersungging di wajahnya yang cantik, meski terlihat kekanakan. Ekor Gie yang panjang dan berbulu lembut tidak henti-hentinya bergoyang ketika dia berlari.
Ketika Gie berlari menyusuri lorong istana, semua yang berpapasan dengannya langsung memberi hormat sambil menyapa dengan sopan. Gie segera membalas hormat mereka dengan senyuman manisnya, tapi dia sama sekali tidak mau memperlambat langkahnya.
Dia tidak mau sampai melewatkan salah satu saat-saat terbaik yang sudah tidak tunggu-tunggu selama beberapa hari ini.
Tidak butuh waktu lama sampai putri Kerajaan Gilvana itu tiba di pintu gerbang istananya. Di tempat itu rupanya sudah berkumpul para prajurit dan ksatria kerajaan yang mengenakan armor lengkap, serta memegang panji-panji kerajaan. Mereka semua berbaris berjajar di sisi kiri dan kanan jalan utama kastil. Diantara barisan itu, terlihat pula beberapa orang ksatria elit kerajaan yang duduk dengan gagah di atas kuda perang mereka.
Ketika Gie datang, seorang ksatria elit bertubuh besar tampak menghampiri gadis itu.
“Apa mereka sudah datang?” seru Gie pada ksatria itu.
“Belum. Anda datang tepat waktu, tuan putri,” ujar ksatria itu sambil menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.
Gie langsung bersorak gembira.
“Bagus!” Dia lalu memandangi barisan ksatria dan prajurit di hadapannya, kemdian gadis itu bertanya lagi pada si ksatria. “Ehm....dimana tempat aku bisa melihat iring-iringan nanti?”
Sang ksatria elit langsung melambaikan tangannya ke arah sebuah kuda perang yang tampak tanpa penunggang.
“Saya sudah mempersiapkan tunggangan untuk anda, tuan putri,” ujar ksatria elit itu sambil tersenyum ramah. “Anda pasti bisa melihat sosok yang anda kagumi lebih jelas, kalau anda menunggangi kuda saya.”
“Terima kasih!”
Gie segera berlari menghampiri kuda perang itu dan langsung menaikinya, tentu saja dengan dibantu oleh seorang prajurit yang memegangi tali kekang kuda tersebut.
Tepat ketika sang putri menaiki kuda perangnya, suara terompet kerajaan bergema di seluruh istana. Gie langsung menoleh ke arah gerbang istana dan melihat iring-iringan prajurit dan ksatria datang memasuki istana. Mereka semua tampak lelah dan beberapa bahkan terluka, tapi wajah para prajurit dan ksatria itu tetap terlihat tegar. Bahkan ekspresi lega, gembira dan bangga terlukis di masing-masing wajah mereka karena telah berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik.
Pasukan itu adalah pasukan yang dikirim untuk menumpas gerombolan bandit gunung yang sudah meresahkan warga di sisi Utara Kerajaan Gilvana. Tapi kini gerombolan bandit itu sudah tinggal sejarah karena Satuan Silveria, pasukan elit Kerajaan Gilvana, telah menghabisi sebagian besar dari mereka.
Sambil mengamati iring-iringan pasukan itu, Gie mencari-cari sosok yang telah dia tunggu-tunggu selama beberapa hari. Tidak sulit bagi putri itu untuk menemukannya, karena sosok yang dia cari itu adalah seorang ksatria muda yang mengenakan armor berwarna hitam.
Sosok ksatria muda itu terlihat gagah diatas kuda perangnya, yang juga mengenakan armor serba hitam. Sebilah pedang tampak terselip di sabuk pinggangnya, sementara sebuah kapak perang tergantung di sisi kiri kuda perang sang ksatria.  Ekspresi wajah ksatria muda itu memang terlihat keras, tapi tatapan matanya tampak lembut.
“Bing~!!”
Gie berseru pada sang ksatria muda sambil melambaikan tangannya. Ketika Gie berseru, kuping kucing sang ksatria muda itu langsung bergerak. Dia lalu tersenyum tipis ke arah Gie, tapi ksatria bernama Bing itu terus berderap dengan kudanya menuju ke arah halaman aula utama.
Ketika melihat sosok Bing yang tampak sehat, tanpa luka sedikitpun, Gie langsung bersyukur pada para Dewa. Dia bersyukur karena sosok ksatria yang dia kagumi, dan dia cintai itu, kembali dari medan pertempuran dengan selamat.
Perlahan-lahan Gie menyentuh liontin yang dia kenakan di balik gaunnya.
Syukurlah kau kembali dengan selamat, Bing, ujar Gie dalam hati.
****

Friday, January 6, 2012

[Culinary Challenge]: Jamuan Makan Tamu

Culinary Challenge: Jamuan Makan Tamu


Kau terbangun dengan tiba-tiba.

“Dimana aku?” kau bertanya pada dirimu sendiri sambil memandang ke segala arah, berharap bisa mengingat bagaimana kau bisa sampai di tempat aneh ini.

Ya. Saat ini kau sedang berbaring terlentang di sebuah hutan lebat yang dipenuhi deretan pohon-pohon setinggi gedung pencakar langit, serta semak belukar dengan bunga dan buah yang berwarna-warni. Dengan kata lain...kau saat ini sedang berada di tengah hutan belantara di sebuah tempat antah-berantah.

“Kenapa aku bisa ada disini!” Kau perlahan-lahan bangkit sambil menepuk-nepuk tubuhmu yang dipenuhi tanah dan biji-bijian asing yang melekat di pakaianmu.

Masih sambil memandang ke segala arah, kau mulai mengingat apa yang terjadi sebelum kau pingsan.

Seingatmu, kau sedang berlibur ke tempat kakekmu, seorang pemahat patung, yang tempat tinggalnya berada jauh di pinggiran kota tempatmu tinggal. Kau sebenarnya tidak suka berada di rumah tua yang menyeramkan itu, terlebih karena letaknya yang persis di dekat hutan kecil yang terkenal angker. Tapi kau tidak punya pilihan lain karena kedua orang tuamu harus berpergian keluar kota.

Oke...aku sedang berlibur di tempat kakek...lalu apa lagi? 

Kau bertanya pada dirimu sendiri sambil terus mengingat-ingat. Kemudian kau ingat. Baru setengah hari berada di rumah tua itu, kau sudah tidak betah. Tidak ada yang bisa kau kerjakan sementara kakekmu sibuk sendiri dengan pahatan patung yang sedang dia kerjakan. Karena bosan, kau memutuskan untuk jalan-jalan ke hutan kecil di dekat rumah.

Sang Putri dan Sang Naga

Sang Putri dan Sang Naga

Di suatu kerajaan, jauh di masa lalu, hiduplah seorang putri yang cantik dan baik hati bernama Rhiena. Kecantikan dan kebaikan hati sang putri telah memikat semua orang yang tinggal di kerajaan tersebut. Bahkan kabar mengenai sosoknya yang anggun dan menawan telah tersebar jauh ke kerajaan lain. Akibatnya tidak terhitung jumlah pangeran dan ksatria terkenal yang datang untuk meminangnya. Tapi sang putri tidak pernah mau menerima cinta mereka semua. Semua pangeran dan ksatria terkenal itu selalu dia tolak dengan halus dan disertai senyuman menawannya yang khas. Bertahun-tahun sang putri melakukan hal itu, tapi tidak pernah surut minat para pria yang ingin meminangnya.

[Pegadaian Semesta]: Pertukaran Setara?

Pegadaian Semesta: Pertukaran Setara?

 

 

“Kami bisa memberikan apapun padamu, asalkan kau mau menggadaikan sesuatu yang kurang lebih setara dengan apa yang kau minta. Sebut saja. Uang? Ketenaran? Kekuasaan? Bakat? Apapun itu kami bisa memberikannya.”

Rendra hanya bisa terbaring lemah sambil mendengar ucapan yang terdengar tidak masuk akal itu. Pemuda itu memandangi seorang gadis asing yang berdiri di kamarnya.

Gadis cantik dan seksi itu berdiri dengan tampang cuek. Dia sama sekali tidak merasa bersalah meski sudah seenaknya masuk ke dalam kamar Rendra tanpa permisi. Bukannya meminta maaf, gadis itu malah mengatakan hal yang tidak masuk akal.

“Apa?” tanya Rendra setelah terdiam cukup lama.

“Aduuh! Masa kau tidak mengerti ucapanku tadi? Aku bilang kami bisa memberikan apapun yang kau minta, asal kau menggadaikan sesuatu yang bernilai setara dengan permintaanmu itu.” protes si gadis seksi sambil menunjuk ke arah Rendra. “Apa terlalu lama di rumah sakit membuat otakmu jadi kurang beres?”

“Jangan sembarangan bicara! Tubuhku memang lemah, tapi otakku tidak!”

Rendra langsung tersinggung begitu si gadis berkata seperti itu. Dia sadar kalau dirinya menderita penyakit langka yang mengacaukan sistem kekebalan tubuhnya, sehingga Rendra harus dirawat beberapa bulan di rumah sakit, setiap kali penyakitnya kambuh. Meski demikian, Rendra memang memiliki otak yang cerdas dan bakat musik yang luar biasa.

“Siapa kau ini?! Seenaknya saja masuk ke kamar orang!” seru Rendra geram sambil meraih bel pemanggil perawat di samping bantalnya. “Akan kupanggilkan suster dan satpam biar kau diusir dari sini?!”

Ancaman Rendra rupanya cukup ampuh.

“Oke. Maafkan aku kalau perkataanku tadi sudah menyinggung perasaanmu. Jadi jangan tekan tombol itu, oke? Aku tidak mau dapat masalah,” ujar si gadis sambil menunjuk ke arah tombol bel di tangan Rendra. “Mungkin penawaranku tadi terlalu tiba-tiba, jadi kau bingung. Namaku Rena dari Pegadaian Semesta. Salam kenal, Rendra Irwansyah.”

Rendra terkejut ketika gadis itu menyebut nama lengkapnya, padahal dia sama sekali belum sempat menyebutkan namanya.

“Darimana kau tahu namaku?!” balas Rendra semakin curiga.

Rena langsung menunjuk ke arah pintu masuk kamar Rendra.

“Dari papan nama yang ada di depan pintu kamarmu,” sahut Rena. “Oke. Sebelum kau semakin bingung, aku datang karena diutus Manajer Pegadaian Semesta untuk menemuimu. Katanya kau ingin menggadaikan sesuatu di tempat kami ya?”

Rendra semakin terkejut ketika mendengar nama Pegadaian Semesta disebut dua kali oleh gadis misterius itu.

Pegadaian Semesta? Tidak mungkin....gumam Rendra dalam hati.

Dia memang pernah mendengar cerita dan rumor mengenai Pegadaian Semesta, tempat untuk menggadaikan apapun untuk mendapatkan apapun yang diinginkan seseorang. Tapi selama ini Rendra yakin kalau Pegadaian Semesta itu hanya sekedar urban legend di kotanya. Dia tidak pernah menyangka kalau tempat itu sepertinya benar-benar ada.

“Ah! Kau tidak percaya dengan ucapanku ya?” ujar Rena sambil berjalan mendekati tempat tidur Rendra. “Kalau begitu ayo ikut aku ke Pegadaian Semesta. Nanti kau akan paham kalau sudah bertemu manajerku.”

Sebelum Rendra sempat mengatakan atau berbuat apapun, Rena tahu-tahu meraih tangan Rendra. Genggaman tangan Rena yang hangat dan lembut membuat jantung Rendra berdebar kencang.

Sedetik kemudian seluruh dunia seakan-akan berputar dan melebur. Pemandangan kamar rumah sakit di sekitar Rendra, tiba-tiba meleleh begitu saja dan digantikan dengan sebuah ruangan luas. Ruangan itu dipenuhi bangku-bangku kayu dan sebuah meja resepsionis besar di ujung ruangan. Tempat itu mengingatkan Rendra dengan sebuah bank....atau pegadaian.

“A....apa!!?” seru Rendra kaget setengah mati, apalagi setelah menyadari kalau dirinya sudah berdiri tegak dengan kedua kakinya. Padahal selama sebulan ini dia bahkan tidak sanggup berdiri tanpa bantuan orang lain.

“Selamat datang di Pegadaian Semesta!”

Rena langsung berseru sambil membungkuk memberi hormat. Gadis itu lalu menunjuk ke arah meja resepsionis.

“Pergilah kesana dan temui manajerku,” desak Rena.

Karena shock dan bingung setengah mati, Rendra menurut saja dan berjalan ke depan meja resepsionis. Di balik meja itu sudah berdiri seorang pria tinggi dan tegap, dengan rambut hitam yang disisir rapi. Ekspresi wajah pria itu terlalu datar hingga Rendra nyaris mengira kalau pria itu adalah sebuah manekin.

“Selamat datang di Pegadaian Semesta, Rendra Irwansyah. Aku tahu kenapa kau ada disini.”

Rendra terkejut bukan main. Dia belum memperkenalkan diri, tapi pria misterius di hadapannya ini sudah menyebutkan nama lengkapnya.

“Perkenalkan, ini Alex. Dia manajer tempat ini. Silahkan katakan apapun keinginanmu, nanti dia yang akan menjelaskan prosedur pegadaian ini padamu,” ujar Rena dengan riang.

Rendra menelan ludahnya. Semua ini terasa tidak nyata. Tapi kalau ini mimpi, semua ini terasa terlalu nyata. Rendra sudah mencoba mencubit tangannya sendiri dan cubitannya memang terasa sakit.

“A....anu...tempat apa ini?” tanya Rendra.

“Pegadaian Semesta. Tempat kau menggadaikan milikmu untuk mendapatkan apapun keinginanmu,” sahut Alex dengan nada terlalu datar, sehingga Rendra merasa sedang bicara dengan sebuah robot.

“Ehm....kenapa aku bisa ada disini?” tanya Rendra lagi.

“Karena kau memohon dalam hati agar bisa datang ke Pegadaian Semesta ini,” sahut Alex lagi. “Apa aku salah?”

Rendra terkejut mendengar ucapan Alex, karena dirinya memang pernah berharap kalau Pegadaian Semesta itu benar-benar nyata, sehingga dia bisa mewujudkan keinginannya.

Sambil menelan ludahnya lagi, Rendra bertanya pada Alex.

“Apa benar di tempat ini aku bisa menggadaikan apapun yang kumiliki....walaupun itu bukan dalam bentuk fisik....seperti bakat atau kecerdasan misalnya?”

“Benar. Kau bisa menggadaikan apapun disini. Barang-barang berharga, organ tubuh, bakat, jiwa. Apapun yang kau miliki bisa kau gadaikan untuk ditukarkan dengan sesuatu yang kau inginkan,” jawab Alex. “Jadi...Rendra Irwansyah, apa kau bersedia menggadaikan sesuatu yang kau miliki, untuk mendapatkan tubuh sehat yang tidak pernah kau miliki? Supaya kau bisa bersama dengan Yulia Irawati, gadis yang kau cintai?”

Kali ini Rendra terkejut bukan main, hingga dia tersentak mundur ke belakang. Bukan hanya Alex bisa menebak apa yang dia inginkan, tapi dia bahkan bisa menebak siapa orang yang paling Rendra cintai.

“Ba...bagaimana kau tahu soal itu??!!” seru Rendra kaget. Wajahnya langsung pucat seketika.

Yulia Irawati adalah teman sejak kecil dan merupakan gadis yang dicintai Rendra. Sudah lama Rendra menyukai gadis itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena terganjal kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan. Karena itulah Rendra menginginkan tubuh yang sehat dan normal, sehingga dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Yulia.

“Jangan pikirkan darimana aku tahu soal itu. Jadi....bagaimana?” balas Alex tanpa emosi. “Memberikanmu tubuh yang tidak bisa sakit adalah sesuatu yang mudah bagiku. Asalkan kau menggadaikan sesuatu yang setara dengan itu.”

Rendra terdiam begitu mendengar ucapan Alex. Meski dia masih tidak percaya dengan ucapan pria itu, tapi dia benar-benar menginginkan tubuh yang sehat. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Rendra mengambil keputusan.

“Baiklah. Aku menginginkan tubuh sehat yang tidak bisa sakit seperti ucapanmu tadi,” ujar Rendra. Kemudian dia buru-buru bertanya pada Alex. “Apa yang harus kugadaikan untuk mendapatkan permintaanku itu?”

Sebelum Alex sempat bicara, Rena sudah menepuk pundak Rendra.

“Berhubung tubuh sehat yang tidak bisa sakit itu harganya cukup mahal, kurasa kau bisa menggadaikan bakat atau kecerdasanmu. Sebenarnya sih kau bisa juga menggadaikan jiwa atau masa depanmu. Tapi itu tidak kami rekomendasikan,” ujar Rena sambil mengacungkan telunjuknya. “Kalau aku sih, aku akan menggadaikan bakatku. Kau kan punya bakat musik yang luar biasa. Kenapa tidak menggadaikan itu saja?”

Rendra terdiam cukup lama ketika mendengar ucapan Rena. Dia memang memiliki bakat alami untuk memainkan hampir semua jenis alat musik. Tapi dia jarang sekali bermain musik karena kondisi tubuhnya yang lemah. Rendra berpikir kalau bakatnya itu cukup pantas digadaikan untuk membayar kesehatannya.

Sambil menarik nafas panjang, Rendra akhirnya memutuskan pilihannya.

“Aku akan menggadaikan bakatku untuk mendapatkan tubuh yang sehat!”

Tanpa mengubah ekspresinya sama sekali, Alex mengangkat sebelah tangannya dan menjentikkan jarinya. Suara jentikan jarinya bagaikan suara letusan senapan, hingga Rendra menutup kedua telinga dan memejamkan matanya karena kaget.

“Pertukaran sudah terlaksana. Nikmatilah tubuh sehat yang tidak bisa sakit itu.”

Suara Alex terdengar bergema di dalam benak Rendra. Saat itu juga dia kehilangan kesadarannya.

*****

Ketika Rendra membuka matanya lagi, tahu-tahu dia sudah kembali ke ruangan tempatnya dirawat. Pemuda itu memandang sekelilingnya dengan bingung, kemudian tatapannya terpaku ke sosok gadis yang duduk di pinggir jendela.

Gadis itu berambut coklat dengan panjang sebahu, serta memiliki mata hitam yang berkilat penuh semangat. Gadis itu tidak lain adalah Yulia Irawati, sosok gadis yang dicintai Rendra.

“Ah. Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Yulia sambil berbalik menatap Rendra.

“Buruk....rasanya aku baru saja bermimpi aneh....” gumam Rendra sambil mengusap wajahnya.

“Mimpi aneh? Seperti apa mimpinya?” tanya Yulia penasaran.

“Yah. Aku didatangi seorang gadis cantik dan seksi, lalu dibawa ke sebuah ruang pegadaian yang entah ada dimana. Lalu aku ditawarkan untuk menggadaikan bakatku dengan tubuh yang sehat,” jawab Rendra jujur. “Aneh sekali kan?”

Yulia tertawa kecil mendengar ucapan Rendra. Gadis itu lalu menarik kursinya dan duduk di samping tempat tidur Rendra.

“Memang aneh. Kurasa minum obat membuatmu berhalusinasi yang aneh-aneh,” balas Yulia sambil mengulurkan potongan apel yang tadi sedang dia kupas. “Nih, biar kondisimu cepat membaik.”

Rendra meraih potongan apel itu dan dengan cepat memakannya.

“Therimua ghasih....” ujar Rendra dengan mulut penuh.

“Hei! Makan dulu baru bicara!” celetuk Yulia.

Rendra buru-buru menelan apel yang dia makan dan mengulangi ucapannya. “Terima kasih”

“Sama-sama,” balas Yulia sambil tersenyum manis.

Untuk beberapa saat, keduanya tiba-tiba saja terdiam.

“Yulia. Bolehkah aku bertanya padamu...” ujar Rendra dengan nada ragu.

“Hah? Tentu saja boleh!” sahut Yulia spontan.

“Aku benar-benar berterima kasih sekali karena kau selalu menemaniku setiap kali aku dirawat seperti ini,” ujar Rendra sambil memandangi gadis itu. “Tapi apakah selama ini kau merasa....terpaksa....atau....kerepotan....setiap kali menjagaku? Maksudku....karena aku, kau jadi tidak punya banyak waktu untuk bergaul dengan teman-temanmu.”

Yulia langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyentil dahi Rendra cukup keras, hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

“Jangan konyol! Aku sama sekali tidak merasa terpaksa atau kerepotan! Aku malah senang karena bisa selalu berada disamping orang yang kucintai seperti ini!”

“Hah?!” sahut Rendra spontan begitu mendengar ucapan Yulia. “Kau bilang apa tadi?!”

Yulia langsung menyadari kalau dia baru saja mengucapkan isi hatinya. Gadis itu langsung buru-buru berdiri dan membalikkan tubuhnya.

“Lu...lupakan saja ucapanku tadi! Ah! Coba lihat jam berapa sekarang! Waktu besuk sudah berakhir! Saatnya aku pulang!” seru Yulia sambil buru-buru menyambar tasnya yang diletakkan diatas meja. Gadis itu lalu berlari ke arah pintu kamar dan menoleh sekilas ke arah Rendra. “Sampai besok!”

Rendra melongo melihat sikap Yulia. Tapi setelah Yulia pergi, barulah pemuda itu menyadari kalau gadis itu tadi keceplosan mengatakan perasaannya. Begitu menyadari hal itu, Rendra langsung merasa melayang. Kali ini bukan karena pengaruh obat yang dia minum, tapi karena dia benar-benar merasa luar biasa senang.

Rendra lalu memandangi langit diluar jendela kamarnya.

“Pegadaian Semesta.....seandainya saja mimpi tadi itu benar-benar nyata....aku pasti sudah bisa keluar dari rumah sakit sekarang...” gumam Rendra pada dirinya sendiri. “Apa boleh buat. Mana ada tempat yang menyediakan pelayanan pegadaian semacam itu. Ada-ada saja!”

Pemuda itu lalu memejamkan matanya dan segera tertidur.

*****

“Ini sungguh sebuah keajaiban!” seru Yulia.

 “Yah...begitulah,” sahut Rendra singkat. Baginya ini bukanlah sebuah keajaiban, tapi karena dia sudah menggadaikan sesuatu di Pegadaian Semesta.

Namun bagi Yulia, kesembuhan Rendra yang begitu tiba-tiba adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Sehari sebelumnya Rendra masih terbaring lemah di rumah sakit, tapi hari ini dia sudah benar-benar sehat. Dokter yang menangani Rendra saja sampai heran dengan kesembuhannya yang terlalu tiba-tiba.

“Kenapa bisa begitu? Tadi saja dokter sampai memaksamu untuk melakukan pemeriksaan lengkap!” ujar Yulia sambil memandangi Rendra dengan seksama. “Mana ada orang yang tiba-tiba sehat dalam waktu sehari!”

Rendra mengangkat bahunya. Dia sebenarnya ingin menceritakan tentang pertukaran yang dia lakukan di Pegadaian Semesta. Tapi pada akhirnya dia mengurungkan niatnya. Rendra sebenarnya tidak menyangka kalau transaksinya di Pegadaian Semesta itu benar-benar terjadi. Tadinya dia pikir semua itu hanya mimpi belaka.

“Yah. Kurasa yang namanya keajaiban itu memang ada” balas Rendra. Dia benar-benar bahagia. Bukan hanya karena kondisi tubuhnya yang membaik secara tiba-tiba, tapi karena saat ini dia sedang berjalan bersama Yulia.

“Ah! Jangan konyol!” balas Yulia sambil menepuk pundak Rendra. “Tapi biar bagaimanapun, aku ikut gembira karena kau sudah sembuh sekarang. Nah, mulai saat ini kau harus menjaga kesehatanmu.”

“Iya. Iya. Aku tahu. Aku akan menjaga kesehatanku,” ujar Rendra dengan santai.

Sikap Rendra membuat Yulia menyikut pinggang pemuda itu, hingga Rendra mengaduh kesakitan.

“Jawabanmu terdengar sangat tidak serius,” gerutu Yulia. “Aku tidak mau kau sampai masuk rumah sakit lagi!”

Rendra langsung tersenyum mendengar ucapan Yulia. Rendra merasa gembira sekali karena Yulia benar-benar mengkhawatirkan dirinya.

“Oke! Oke!” ujar Rendra sambil nyengir dan menutup sebelah matanya lalu mengangkat sebelah tangannya. “Mulai sekarang aku berjanji untuk selalu menjaga kesehatanku dan berusaha agar tidak membuatmu repot lagi! Bagaimana?”

Yulia langsung mendengus dan memalingkan wajahnya. Rendra berani sumpah kalau dia sekilas melihat rona merah di wajah Yulia.

“I...itu lebih baik!” seru Yulia singkat. Gadis itu lalu menarik lengan Rendra, hingga membuat jantung pemuda itu berdetak 3 kali lebih kencang. “Ayo! Karena kau sudah sehat sekarang, kenapa kita tidak jalan-jalan dan mampir ke beberapa tempat sebelum pulang?”

Tanpa berpikir sama sekali, Rendra langsung menyahut “Tentu saja! Kenapa tidak?”

Ucapan Rendra membuat Yulia langsung berseri-seri. Gadis itu lalu berjalan cepat sambil menarik Rendra menyebrangi sebuah persimpangan jalan di depannya. Rendra dengan segera menyamakan langkahnya agar bisa mengimbangi kecepatan Yulia.

Sekilas ketika dia tengah melewati rambu lalu lintas yang ada di pinggir jalan, Rendra menangkap ada sesuatu yang salah pada lampu yang menyala di rambu lalu lintas itu.  

  Hijau? gumam Rendra dalam hati.

Butuh waktu beberapa detik sampai Rendra menyadari apa artinya itu. Sayangnya ketika dia menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Sebuah bayangan hitam-besar, tampak melesat cepat ke arah dirinya dan Yulia.

“Hah?”

Rendra hanya sempat mengucapkan sepatah kata sebelum seluruh dunia terasa runtuh dan kemudian kehilangan kesadarannya.

*****

Ketika Rendra sadar kembali, dia tahu-tahu sudah dikelilingi oleh banyak orang. Ekspresi wajah orang-orang yang mengerumuninya itu bercampur antara takjub, takut, heran dan mual.

Perlahan-lahan Rendra berusaha menggerakkan tubuhnya. Tapi anehnya, tindakannya itu membuat orang-orang di sekelilingnya langsung bergerak menjauh, bahkan ada yang langsung lari.

Ada apa ini? tanya Rendra dalam hati.

Sambil mengerang pelan, Rendra bangkit dengan bertumpu dengan kedua tangannya. Pemuda itu lalu tertegun melihat pemandangan di sekitarnya. Seluruh aspal tempatnya berbaring tadi tampak berwarna merah karena darahnya sendiri. Rendra lalu memandangi tubuhnya yang juga berlumuran darah.

Apa yang terjadi.....pada....ku....?

Perlahan-lahan Rendra ingat apa yang baru saja terjadi padanya. Dia dan Yulia tadi sedang berlari menyebrang jalan, tapi mereka tidak menyadari kalau lampu lalu lintas masih berwarna hijau. Tapi setelah itu semuanya kabur. Rendra lalu melihat sebuah truk yang tampak parkir melintang di tengah jalan. Seketika itu juga, Rendra menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.

Dia dan Yulia baru saja ditabrak truk!

“YULIA!!!”

Rendra langsung berlari menghampiri kerumunan orang yang berkumpul di satu sisi jalan. Jantung Rendra nyaris berhenti saat itu juga, ketika mendapati Yulia terbaring di atas aspal dengan luka parah di sekujur tubuhnya.

“YULIA!!!” sekali lagi Rendra memanggil nama gadis itu.

Sayangnya Yulia sudah tidak bisa mendengar panggilan Rendra. Tapi Rendra tahu kalau gadis itu masih hidup.

“Apa yang kalian lakukan!? Kenapa bengong saja!!! Panggil ambulans!!!!!” jerit Rendra sambil memeluk tubuh Yulia.

Beberapa orang disekitar Rendra tampak buru-buru mengeluarkan ponsel masing-masing. Sementara itu Rendra terus berusaha memanggil nama Yulia. Rendra saat itu tidak bisa memikirkan apapun kecuali Yulia.

Yulia!! Jangan tinggalkan aku!!!

*****

Rendra berjalan mondar-mandir di dalam lorong rumah sakit. Baru tadi siang dia pergi meninggalkan tempat ini, tapi sekarang dia harus kembali lagi ke tempat itu.

Pikiran Rendra semakin tidak karuan, terutama karena kondisi Yulia sudah sangat kritis saat datang ke ruang UGD. Hal itu membuat hati pemuda itu terasa diiris-iris. Menyaksikan gadis yang dia cintai meregang nyawa di depan matanya adalah sesuatu yang mengerikan.

Tapi di sisi lain Rendra juga bertanya-tanya, kenapa dia selamat tanpa luka sama sekali? Padahal pakaiannya tampak robek-robek tidak karuan dan berlumuran darah.

Kenapa aku bisa selamat!? Aku yakin aku juga tertabrak truk itu! Pakaianku juga jadi tidak karuan seperti ini! Darah juga ada dimana-mana! Tapi kemana semua luka yang seharusnya kuderita? Rendra bertanya pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka di belakang Rendra. Pemuda itu langsung berbalik dan berhadapan dengan seorang dokter yang bertampang murung.

“Dokter! Bagaimana kondisi Yulia?!” seru Rendra tanpa basa-basi.

“Kau harus tabah. Kami sudah berusaha....tapi dengan kondisi separah itu, dia mungkin tidak akan bertahan sampai besok pagi. Kami sudah menghubungi orangtuanya melalui nomor telepon yang kau berikan tadi. Mereka akan segera sampai disini,” ujar dokter itu sambil berjalan melewati Rendra dan menepuk pundak pemuda itu dengan lembut. “Pergilah ke sisinya. Aku yakin dia ingin bertemu denganmu.”

Alih-alih menuruti perkataan dokter itu, Rendra justru berlari melintasi lorong lalu menghambur keluar dari rumah sakit. Begitu sampai diluar, Rendra langsung berseru sekuat tenaga.

“KALAU KALIAN MENDENGARKU!!!! DATANGLAH PADAKU!!! PEGADAIAN SEMESTA!!!”

Rendra menunggu cukup lama. Dia mengabaikan tatapan heran dan takut dari orang-orang di sekitarnya. Tapi tidak terjadi apa-apa.

“Sialan! Kenapa ini bisa terjadi!!??” seru Rendra marah bercampur sedih. Air mata kesedihan mulai mengalir di pipinya. Dia tidak sanggup membayangkan dirinya akan kehilangan Yulia.

“Loh? Kau datang kesini lagi? Ada apa?”

Tiba-tiba Rendra mendengar suara familiar di belakangnya. Dengan segera dia berbalik dan mendapati dirinya sedang berhadapan dengan Renda dan Alex. Pemuda itu juga menyadari kalau dirinya tahu-tahu sudah berada di dalam ruangan Pegadaian Semesta.

“Kalian!!” seru Rendra sambil bergegas menghampiri Alex. “Apa aku bisa menggadaikan sesuatu untuk orang lain?! Apa aku bisa?!”

“Tentu saja bisa. Selama apa yang kau gadaikan dan yang kau minta itu setara,” ujar Alex dengan datar. “Tapi sebelum kau meminta apapun, biar kuberitahu sesuatu padamu. Kejadian yang baru saja menimpa Yulia itu adalah sesuatu yang tidak terelakkan.”

“Apa maksudmu?!” seru Rendra heran.

“Ehm...begini. Beberapa saat setelah kau datang ke Pegadaian Semesta, gadis yang bernama Yulia itu datang ke tempat kami. Dia berniat untuk menggadaikan masa depannya dengan kesembuhanmu. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia bersikeras untuk melakukan pertukaran itu,” ujar Rena sambil berjalan mendekati Rendra. “Jadi kami menukarkan masa depannya untuk mendapatkan tubuh yang tidak bisa sakit milikmu itu. Tubuhmu itu tidak akan pernah sakit dan terluka. Tidak peduli separah apapun penyakit dan luka yang akan kau derita, tubuhmu itu akan segera pulih dalam waktu singkat.”

Rendra tersentak kaget dan mundur perlahan.

“A...apa? Ja...jadi?!”

“Benar. Tubuhmu itu hasil pertukaran yang dilakukan oleh Yulia. Hanya saja dengan menukarkan masa depannya, itu artinya dia menukarkan nyawanya sendiri. Gadis itu sudah kehilangan masa depannya, jadi dia itu bisa mati dalam waktu dekat,” sahut Alex tanpa emosi sama sekali. “Ternyata kematiannya terjadi terlalu cepat. Sayang sekali.”

Rendra langsung berang dan merenggut kerah baju Alex.

“Kurang ajar!!! Kembalikan masa depannya!!!” bentak Rendra.

“Tidak bisa. Dia harus menebus sendiri apa yang dia gadaikan,” balas Alex singkat.

Ucapan Alex membuat Rendra nyaris menghajar pria itu, untung saja Rena buru-buru mencegahnya.

“Jangan mengamuk dulu! Kau masih punya kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya!” seru Rena sambil meraih tangan Rendra. “Ingat! Tubuhmu itu hasil pertukaran yang dilakukan Yulia. Itu artinya kau masih bisa menggadaikan bakatmu untuk kesembuhannya!”

Begitu mendengar perkataan Rena, Rendra langsung melepaskan kerah baju Alex. Ekspresi wajah pemuda itu langsung berubah menjadi lebih cerah.

“Be...benarkah?! Apa aku benar-benar bisa melakukan itu?! Apa dengan menggadaikan bakatku, aku bisa menyelamatkan nyawanya?!” tanya Rendra penuh harap.

“Tentu saja,” ujar Rena sambil nyengir lebar. “Yang perlu kau lakukan adalah meminta pada kami.”

Rendra tidak perlu berpikir dua kali untuk melakukan transaksi kali ini.

“Aku akan menggadaikan bakat musikku supaya Yulia kembali sehat dan bisa bersamaku lagi!” ujar Rendra.

Begitu mendengar ucapan Rendra, Alex langsung mengangkat sebelah tangannya. Pria itu lalu menjentikkan jarinya dan suara letupan keras itu kembali terdengar. Suara itu kembali membuat Rendra menutup kedua telinga dan matanya. Kemudian suara Alex kembali terdengar menggema di dalam kepalanya.

“Pertukaran sudah terlaksana. Nikmatilah sosok Yulia yang sudah sehat kembali.”

Rendra langsung membuka matanya dan segera berlari masuk ke dalam rumah sakit, lalu menghambur ke dalam ruang UGD tempat Yulia berada. Tapi sesampainya dia di ruangan itu, Rendra terpaku ditempat.

Di ruangan itu terdapat beberapa orang perawat, seorang dokter, serta kedua orang tua Yulia. Orang tua Yulia tampak menangis sedih, sementara dokter yang menangani gadis itu tampak muram.

Seketika itu juga Rendra sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi. Kepalanya langsung berputar-putar. Dia lalu menatap ke arah dipan, ke arah sosok Yulia yang terbaring kaku, dengan sepotong kain putih yang menutupi wajahnya.

Tidak! Tidak! TIDAK!! Ini tidak mungkin terjadi!! Aku baru saja meminta agar nyawanya bisa diselamatkan! Ini tidak mungkin!!

 “YULIA!!” seru Rendra pilu sambil berlari menghampiri tubuh Yulia yang sudah kaku.

 “Tidak usah teriak-teriak. Aku tidak tuli!” ujar Yulia dari balik kain putih yang menutupi wajahnya. Gadis itu lalu bangun perlahan-lahan.

Seketika itu juga, semua orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget. Salah seorang perawat malah langsung pingsan. Tapi Rendra justru menghambur ke arah Yulia dan memeluknya, tanpa mempedulikan kalau di sampingnya ada orang tua dari gadis itu. Rendra tidak bisa menahan rasa bahagia karena harapannya benar-benar terwujud. Yulia benar-benar kembali sehat! Seluruh luka di tubuh Yulia kini sudah menghilang, meski bercak-bercak darah masih memenuhi tubuh gadis itu.

“Hei! Lepaskan! Disampingmu itu ada ayah dan ibuku! Dasar bodoh!” seru Yulia sambil berusaha melepaskan pelukan Rendra. Tapi pada akhirnya dia malah balas memeluk tubuh Rendra dengan lembut. “Aku senang kau selamat. Tadinya kupikir kau akan mati bersama diriku. Tapi rupanya apa yang kuminta Pegadaian Semesta itu benar-benar terwujud ya.”

Rendra mengangguk. Dia benar-benar bersyukur karena Pegadaian Semesta itu benar-benar nyata. Tapi ketika Rendra memeluk tubuh Yulia, dia merasakan ada sesuatu yang salah dengan tubuh gadis itu. Perlahan-lahan Rendra melepaskan pelukannya.

“Yulia? Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan tubuhmu?” tanya Rendra sambil meraih pergelangan tangan gadis itu.

“Hah? Apa maksudmu?” balas Yulia keheranan. “Aku baru saja bangkit dari kematian dan seluruh lukaku sembuh seketika. Apa kau pikir itu tidak cukup aneh?”

Rendra masih terdiam dan perlahan-lahan wajahnya menjadi pucat ketika menyadari apa yang salah pada tubuh Yulia. Dengan suara bergetar, pemuda itu berkata pada gadis yang dia cintai itu.

“Yu....Yulia.....tanganmu dingin. Nadimu tidak berdenyut. Dan ketika memelukmu tadi....a....aku tidak mendengar suara detak jantungmu....” ujar Rendra terbata-bata karena shock. “A...apa yang terjadi pada tubuhmu?!”

Yulia hanya bisa melongo ketika mendengar perkataan Rendra.

*****

“Apa maksudnya ini!!!??”

Rendra berseru keras sambil menggebrak meja resepsionis di depannya. Pemuda itu benar-benar jengkel karena merasa dipermainkan oleh Alex, sang manajer Pegadaian Semesta.

“Kenapa? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?” tanya Alex dengan nada datar seperti biasa. “Yulia Irawati sudah sehat kembali, bahkan bangkit dari kematiannya. Apa itu tidak cukup? Kalau itu tidak cukup, kau harus menggadaikan lebih banyak benda lagi.”

Rendra ingin sekali melompat ke balik meja resepsionis itu dan menghajar Alex hingga babak belur, tapi dia masih berusaha menahan diri.

“Tenang...tenang! Jangan marah-marah begitu dong,” ujar Rena dengan santai.

“Apa yang sebenarnya kalian lakukan pada Yulia?! Dia memang hidup kembali dan sudah sembuh dari semua lukanya! Tapi kenapa tubuhnya tetap ‘mati’?! Jantungnya tidak berdetak, nadinya tidak berdenyut, dan tubuhnya terasa dingin?!” seru Rendra pada Rena.

Rena langsung terlihat salah tingkah. Begitu mendengar ucapan Rendra.

“Ehm...begini....ada.....sedikit masalah waktu kau meminta agar Yulia sehat kembali. Kau tahu? Saat kau selesai melakukan pertukaran dengan kami, gadis itu baru saja meninggal. Tapi berhubung kami tidak bisa membatalkan kontrak denganmu, jadi kami berikan gantinya. Yulia tetap kami bangkitkan kembali dari kematian, tapi tidak sepenuhnya ‘hidup’, berhubung harga nyawa seseorang itu mahal sekali dan hanya bisa dibayar dengan nyawa, atau yang setara. Bakat yang kau gadaikan tentu tidak cukup untuk membayar nyawa gadis itu,” ujar Rena dengan nada ragu, tapi dia lalu nyengir lebar. “Yah, lihat sisi baiknya! Dengan tubuh yang seperti itu, kau kan jadi abadi. Dan berhubung Yulia juga tidak sepenuhnya ‘hidup’, dia juga tidak bisa mati lagi dengan cara biasa. Bukankah itu bagus sekali?”

Rendra langsung menggebrak meja lagi dengan marah.

“Apanya yang bagus?! Kami jadi seperti monster sekarang!!!” bentak Rendra lagi, tapi kali ini suaranya mulai bergetar karena sudah bingung, apakah ingin marah atau ingin menangis.

“Apa kau ingin mendapatkan tubuhmu dan nyawa Yulia kembali?”

Tiba-tiba Alex berbicara dengan nada datarnya yang khas.

“Hah?” balas Rendra.

“Kalau kau menggadaikan 100 tahun pengabdianmu dan pengabdian Yulia padaku, aku akan mengembalikan kondisi tubuhmu dan nyawa gadis itu seperti semula. Tapi tentu saja setelah masa pengabdian kalian berdua berakhir,” ujar Alex sambil menatap mata Rendra.

Rendra membalas pandangan Alex dengan tatapan marah bercampur pasrah. Pemuda itu akhirnya menunduk lesu dan berkata dengan nada muram. “Ba.....baiklah....aku akan menggadaikan 100 tahun pengabdianku dan Yulia untukmu.....”

Mendengar ucapan Rendra, Alex langsung mengangkat sebelah tangannya ke udara. Sambil menjentikkan jarinya dengan keras, Alex berbicara lagi. Tapi kali ini Rendra berani sumpah kalau dia mendengar nada gembira atau penuh kemenangan dalam nada bicara pria itu.

“Selamat datang di Pegadaian Semesta, Rendra Irwansyah dan Yulia Irawati. Selamat menikmati waktu 100 tahun pengabdian kalian pada kami berdua.”

Dengan ngeri Rendra menyaksikan senyum menakutkan terukir di wajah Alex.

*****

~FIN???~

 

 

Tuesday, January 3, 2012

[FF-2011] Lampu

Lampu

 

 

Mimpi itu datang lagi.

Dalam mimpi itu, aku melihat diriku sendiri bersama seorang anak kecil yang tidak kukenal, berlari menyusuri sebuah lorong yang panjang dan sempit. Ada yang mengejar kami dari belakang, dan mereka ingin kami berdua mati. Kami mencoba mempercepat laju kami, tapi percuma. Mereka terlalu cepat dan kami terlalu lambat. Namun sebelum mereka menangkap kami, aku pasti merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan di tubuhku.

Kemudian aku pasti terbangun sambil menjerit-jerit seperti orang gila, hanya untuk diumpati oleh tetangga sebelah yang baru saja tidur. Mimpi ini berulang beberapa hari sekali dan selalu muncul pada saat yang salah.

Seperti malam ini.

Aku mengusap wajahku yang dipenuhi keringat dingin lalu mendesah dan mendengarkan tetangga sebelah melemparkan kata-kata yang tidak bisa kuucapkan kembali. Awalnya aku juga balas mengumpatinya, tapi tetanggaku yang lain ikut bangun dan mulai menggedor pintuku. Tapi aku jadi stress sendiri, akhirnya aku membiarkan tetanggaku yang pemarah itu terus berteriak hingga dia lelah.

Aku menoleh ke arah jam dindingku.

Pukul 3 dini hari....bagus sekali....

Aku menguap lalu berjalan ke arah kulkas yang ada di dapur.

“Kulkas sial! Pintunya macet lagi!!!”

Aku menggerutu sambil menarik pintu kulkas sekuat tenaga, tapi pintu benda sial ini sama sekali tidak bergeming. Memang kulkas tua ini punya banyak masalah. Mulai dari pendingin yang sering bocor, pintu yang susah dibuka, dan yang paling parah, bau menyengat yang tertinggal berminggu-minggu kalau aku lupa mengeluarkan sisa makanan basi dari dalam kulkasku.

“*@&#*%&!@)#*%!&%%$!@~/?*^&%!!!!”

Aku mengumpati kulkas itu dan menendang pintunya sekuat tenaga. Seperti mengejekku, pintu kulkas itu sama sekali tidak terbuka.

Akhirnya aku menyerah dan menyambar botol air yang kuletakkan diatas meja, lalu meneguk isinya. Setelah memuaskan dahagaku, aku duduk di sofa dan menyalakan televisi.

Sepertinya pagi ini memang benar pagi sial bagiku.

Televisi kuno-ku memutuskan untuk berhenti menyala pagi ini. Aku menekan tombol remote dengan frustasi, tapi televisi bodoh itu sama sekali tidak menyala.

Kalau aku kalap, aku bisa saja melemparkan benda rongsokan itu keluar jendela apartemenku. Tapi akal sehatku masih bekerja dan menghentikanku melakukan hal-hal bodoh.

Aku mendesah dan menutup mata lagi.

Setiap kali mimpi itu datang, aku pasti tidak bisa tidur lagi sampai pagi.

“Aaaah! Kenapa sih mimpi itu selalu muncul? Kalau itu pertanda, kenapa tidak memberikan gambaran yang lebih jelas!?”

Aku menggerutu sendiri dan bangkit dari sofa.

Mungkin angin dingin di pagi buta bisa membuatku lebih tenang sedikit.

Sambil bersenandung pelan, aku melangkah keluar dari apartemenku dan berjalan menuruni langkan tangga yang sempit dan gelap. Apartemen ini memang kondisinya sangat menyedihkan. Aku sendiri heran kenapa aku bisa tahan hidup di tempat seperti ini. Daripada sebuah apartemen, tempat ini lebih mirip kandang merpati. Parahnya, kadang baunya memang seperti itu. Awalnya aku juga tidak tahan, tapi lama-lama aku terbiasa.

Kemampuan beradaptasi itu memang mengerikan. Aku dulu sama sekali tidak pernah membayangkan diriku hidup diantara orang-orang pemarah, pemabuk, pecandu obat, maniak, dan jenis-jenis lain yang tidak bisa kuceritakan.

Intinya....tempatku tinggal sekarang lebih mirip neraka.

Meski begitu, aku harusnya lebih bersyukur karena masih punya atap dan kasur saat tidur. Masih banyak orang lain yang harus tidur beralas aspal dan beton, serta beratapkan langit kota yang suram.

Sambil berjalan menyusuri komplek perumahan di dekat apartemenku, aku memandang ke sekelilingku.

Hari masih sangat gelap dan matahari belum sama sekali menampakkan wujudnya. Sesekali aku memperhatikan sudut-sudut gang dan bangunan yang gelap. Berhati-hati terhadap apapun yang bisa tiba-tiba muncul dan menyerangku.

Yah....zaman sekarang memang tidak sebaik zaman dulu. Sekarang orang bisa saja ditemukan mati di dalam rumahnya, atau lebih buruk lagi, hilang begitu saja tanpa jejak.

Aku menengadah dan memandangi langit malam yang tidak berbintang.

Terkutuklah polusi cahaya dan asap di kota ini. Berkat itu tidak ada bintang yang mau bersinar di atas kota padat ini.

Aku mendesah lagi.

Seharusnya aku berhenti menggerutu dan mengutuki segala sesuatu.

Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang sangat menarik perhatianku.

Di sudut jalan, tepatnya di bawah sorotan lampu jalan yang temaram, aku melihat seorang anak kecil berdiri ketakutan. Dari tempatku berdiri, aku memang tidak bisa melihat jelas wajahnya, tapi dari sikapnya, aku tahu dia ketakutan.

Aku tahu ini akan terdengar bodoh. Tapi aku langsung menghampiri anak itu. Begitu aku mulai mendekat, anak itu langsung gemetar ketakutan. Wajar saja.

“Nak, aku tidak akan menyakitimu.”

Aku berusaha meyakinkannya untuk tidak takut padaku. Tapi dia semakin ketakutan dan berusaha bersembunyi di balik tiang lampu.

Aneh. Kalau dia begitu ketakutan, kenapa dia tidak lari saja?

Aku mendekat lagi, dia langsung berjongkok. Masih sambil memeluk tiang lampu di depannya. Anak itu menutup matanya dan menutupi kepalanya dengan sebelah tangan, seolah-olah aku akan memukulnya. Ajaibnya, dia tidak menjerit atau berteriak ketakutan.

Yah untung saja begitu. Kalau tidak akan ada banyak orang yang langsung keluar rumah dan mulai menyerbuku.

“Nak, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Jangan takut.”

Sekali lagi aku berusaha meyakinkan anak itu dan sepertinya usahaku mulai membuahkan hasil.

Perlahan-lahan anak itu membuka matanya dan menatapku dengan tatapan heran bercampur takut. Tapi dia masih tidak mau melepaskan tiang lampu dari pelukannya.

“Siapa namamu nak?”

Anak itu hendak membuka mulutnya dan menjawab, tapi dia terdiam lagi dan menggelengkan kepalanya. Kemudian menatapku dengan tatapan memelas.

Aku menggaruk belakang leherku dan mendesah lagi.

“Oke....jadi kau tidak punya nama atau kau tidak mau menjawabku?”

Anak itu menatapku kebingungan. Lalu menggelengkan kepalanya.

“Oke...aku bingung sekarang. Jadi dia ini tidak punya nama, tidak mau menjawab, atau sekedar tidak mengerti ucapanku?”

Aku tidak ambil pusing dan menyapanya lagi.

“Kalau begitu kau akan kupanggil Lampu. Kenapa bingung? Kan aku tidak tahu namamu dan karena kau terus memegangi tiang lampu itu, aku memanggilmu Lampu. Bagaimana?”

Anak itu terdiam dan sepertinya sedang berusaha memahami perkataanku. Lalu tanpa terduga, dia menatapku dan tersenyum manis.

Sebenarnya senyumannya seharusnya lebih dari cukup untuk membuatku tersenyum, tapi sebaliknya. Aku justru ketakutan setengah mati ketika pandanganku bertemu dengan pandangan anak itu.

Mata anak itu berwarna hitam pekat. Benar-benar pekat. Sampai bayanganku atau sinar lampu jalan diatasnya tidak terpantul di mata anak itu. Ketika melihat matanya, aku merasakan seolah-olah diriku ditarik masuk ke dalam mata anak itu.

Aku langsung merinding, tapi aku memutuskan untuk membawa anak itu kembali ke apartemenku.

Oke. Sebelum ada yang berpikir aku pedofil. Kutegaskan kalau aku hanya tidak tega melihat anak itu berdiri seorang diri dipinggir jalan. Sama sekali tidak ada niat lain.

Ketika aku membawa anak itu kembali ke apartemenku. Nasibku sedang sial.

Aku bertemu 3 orang junkies yang tinggal satu apartemen denganku. Ketiganya langsung melotot waktu melihatku naik, mata mereka nyaris keluar dari kepala mereka ketika melihat anak kecil yang kubawa.

“Apa lihat-lihat?!!”

Aku menggeram dan mengusir mereka. Ketiganya langsung kembali ke kamar mereka dan membanting pintu.

Lampu menatapku heran.

Aku mengusap kepalanya dan menjelaskan siapa ketiga orang itu. Mereka hanya sekelompok sampah yang hidupnya bergantung pada obat yang mereka pakai setiap saat.

Lampu tersenyum lagi melihatku menggerutu. Tapi senyumannya lagi-lagi tidak membuatku senang.

Aku mendengus dan mendorong anak itu agar kembali berjalan hingga kami tiba di depan kamarku. Aku langsung membuka pintu itu dan membiarkan Lampu masuk terlebih dahulu.

Anak itu langsung berkeliling kamar apartemenku yang sempit dengan gembira. Dia terlihat kagum melihat televisi rongsokanku yang baru saja mati, kulkas sial yang pintunya belum juga mau terbuka, serta kompor listrik butut yang tidak mau menyala tanpa membuatku tersetrum.

“Kau lapar?”

Aku bertanya pada Lampu. Anak itu memiringkan kepalanya lagi.

Oke. Jadi dia tidak mengerti apa yang kuucapkan. Bagus sekali.....

Aku menggerutu lagi dan mengusap perutku, lalu menunjuk ke arah perutnya. Lampu tampaknya mengerti dan menepuk perutnya sendiri dan membuka mulutnya.

Oke. Itu artinya dia lapar. Kalau begitu akan kucoba membuka pintu kulkas sialan itu. Kalau dia tidak mau terbuka juga, besok aku akan melemparkan benda itu ke tong sampah!

Sambil mengumpat lagi, aku menarik pintu kulkas tuaku. Tapi pintu itu tidak mau terbuka. Aku menarik-narik pintu itu berkali-kali, menendang, dan meninjunya. Tapi kulkas itu tetap keras kepala.

“Kulkas sial!!! Besok kau akan pergi ke tong sampah!!!”

Aku berseru marah sambil menendang pintu kulkas itu sekali lagi.

Ajaibnya, pintu benda tua itu perlahan-lahan terbuka. Aku bersorak gembira dan buru-buru membuka pintu itu dan mengeluarkan beberapa potong daging beku yang kusimpan. Kemudian mulai memasak daging itu diatas kompor listrik, setelah melontarkan beberapa umpatan lagi karena tersetrum kompor butut itu.

Setelah matang, aku menyajikan daging itu bersama salad sayuran layu yang masih ada di dalam kulkasku. Aku sudah lupa berapa lama aku menyimpan sayuran itu, tapi aku tidak peduli. Baunya masih oke dan warnanya belum berubah, jadi kupikir masih aman dimakan.

Aku meletakkan daging itu diatas meja di depan sofa dan menggiring Lampu untuk duduk di sofa.

Anak itu memandangiku dan daging diatas meja dengan bingung.

Aku memperagakan gerakan orang makan pada anak itu dan menunjuk ke arah daging diatas meja makan. Anak itu menatapku dengan matanya yang hitam pekat, hingga membuatku berpaling lagi.

“Makanlah! Ini enak!”

Aku mencuil sedikit daging yang kusediakan dan memakannya. Sekedar untuk menunjukkan kalau daging ini enak dan tidak kuracuni.

Lampu masih memandangku dengan tatapan bingung. Perlahan-lahan dia mencuil daging yang kumasak dan memakannya. Tapi tidak sampai menelannya, dia lalu memuntahkan lagi daging itu. Anak aneh itu lalu menatapku dan menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak bisa makan daging? Kenapa? Apa masakanku segitu tidak enaknya??”

Lampu tidak menjawab, dia lalu mulai mengambil sayuran yang kusajikan bersama daging itu dan memakannya dengan lahap. Heran bercampur lega, aku memperhatikan anak itu makan dengan lahap.

Selesai makan, Lampu tiba-tiba merebahkan tubuhnya diatas sofa dan memejamkan matanya. Dia lalu tertidur begitu saja.

Aku mengambil daging yang kusajikan untuknya dan memakannya. Rasanya sih seperti daging, walau tidak bisa dibilang lezat. Yang penting masih bisa dimakan. Setelah selesai makan, aku memperhatikan anak yang kini tertidur pulas di sofaku.

Oke....sekarang apa yang harus kulakukan dengan anak ini? Aku kan tidak bisa menjaganya seharian....aku harus kerja. Lagipula....siapa yang tega meninggalkan anak ini sendirian di tengah pagi buta? Orangtuanya pasti sudah gila!

Aku sendiri bingung kenapa aku membawanya ke apartemenku, padahal aku tahu ini akan jadi masalah besar. Kadang aku heran kenapa sesekali otakku tidak bisa bekerja dengan benar. Sambil terus menggerutu aku mengambil piring kosongnya dan meletakkannya diatas bak cuci, lalu berjalan ke arah jendela, membuka tirai, dan membuka jendela kamarku.

Cahaya matahari langsung menyapaku, disertai angin yang membawa debu dan polusi.

Sambil batuk-batuk dan mulai menggerutu lagi, aku memandang ke bawah. Seperti biasanya orang-orang sudah memulai hari mereka dan berjalan dengan tergesa-gesa. Pemandangan ini sudah kulihat setiap hari selama 8 tahun lebih.

Tapi hari ini pandanganku langsung terpaku pada sebuah mobil van hitam yang diparkir tepat di depan pintu apartemen.

Instingku langsung bilang ada yang tidak beres pada mobil van itu.

Tepat ketika aku berpikir seperti itu, pintu depanku digedor dengan kuat.

“Buka pintunya! Kami tahu kau dan anak itu ada di dalam!!”

Suara seruan dari balik pintu itu langsung membuatku berlari ke kamar tidur dan meraih ke balik kasur. Sebuah benda hitam dan berat langsung berada di genggamanku. Aku menyelipkan benda itu ke balik punggungku, lalu berlari ke ruang utama dan membangunkan Lampu.

“Bangun!”

Satu guncangan sudah membuat anak itu terbangun dan duduk dengan tiba-tiba.

Suara gedoran dan seruan di balik pintu apartemenku semakin keras. Aku sudah tahu kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi kuputuskan untuk melarikan diri sebelum itu terjadi.

Lampu memandangku dengan tatapan bingung bercampur ketakutan.

“Jangan lihat aku seperti itu! Kita harus pergi dari sini! Ikuti aku!!!”

Aku menarik Lampu ke arah jendela dan melongok ke bawah.

Bagus! Tidak ada yang berjaga di bawah sana.

Lampu memandangku lagi dan jendela, bergantian. Wajahnya langsung memucat ketika dia sepertinya sadar apa yang akan kulakukan.

Anak itu menyilangkan tangannya dan mulai berseru ketakutan. Tapi aku tidak peduli. Ini urusan hidup dan mati.

Tanpa basa-basi aku merangkul tubuh anak itu dan melompat keluar jendela.

Tindakan bodoh?

Memang. Tapi aku tahu apa yang kulakukan.

Meski kamarku berada di lantai 13, aku tahu fisikku masih sanggup bertahan kalau hanya melompat dari ketinggian seperti itu. Dan aku sengaja mengarahkan lompatanku tepat diatas van hitam yang diparkir di depan pintu apartemen.

Berat tubuhku, ditambah berat tubuh Lampu, langsung meremukkan atap mobil van malang itu. Orang-orang di kamarku langsung sadar aku sudah melarikan diri dan langsung melompat keluar jendela, sementara aku sudah berlari masuk ke sebuah lorong.

Nafasku memburu. Aku mengutuki diriku karena tidak sering-sering olahraga. Tapi sekarang tidak ada waktu untuk berhenti dan menarik nafas. Aku harus segera lari atau mereka akan menangkapku dan Lampu.

Jarak kami pada awalnya cukup jauh, tapi lama kelamaan kami tersusul juga. Aku tahu tidak lama lagi mereka akan segera menyusulku.

“Berhenti!!!!”

Aku mendengar orang-orang dibelakangku berseru marah. Tentu saja aku tidak berhenti begitu saja, meski otakku terus menjerit dan menyuruhku berhenti berlari.

Kemudian aku mendengar suara desing samar, lalu sebuah lubang sebesar piring makan langsung muncul di tong sampah yang baru kulewati.

“GILA!!!”

Aku berseru dan melompat ke gang di sampingku, tepat ketika lebih banyak lagi suara desing dan lubang-lubang muncul di sekitar tempatku berdiri tadi.

Sekarang jantungku berdegup terlalu kencang dan nyaris meledak. Aku menoleh dan melihat Lampu meringkuk ketakutan di sampingku. Aku mengelus kepalanya dengan lembut.

“Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Aku berusaha menenangkan anak itu, sekaligus diriku sendiri karena saat ini aku juga sedang ketakutan setengah mati.

Perlahan-lahan aku meraih ke balik pinggangku dan mengambil benda hitam yang kuselipkan disana. Benda itu adalah sebuah senjata. Senjata yang sama seperti yang digunakan orang-orang yang mengejarku.

Aku memandangi alat pembunuh itu dengan ngeri. Tidak terbayang akan datang hari dimana aku akan menggunakan benda itu. Tapi tidak ada pilihan lain.

Sambil mendengarkan langkah kaki mereka yang perlahan-lahan mendekat, aku menggenggam erat senjataku.

Tuhan....aku tahu aku terlalu banyak mengutuk dan mengumpat. Tapi setidaknya jangan tinggalkan aku sekarang.....

Aku memohon dalam hati dan mengambil ancang-ancang. Lalu melompat ke arah lorong tadi dan menembakkan senjataku pada siapapun yang kulihat di lorong itu.

Beberapa pengejarku langsung roboh dengan tubuh berlubang-lubang. Tapi yang lain sempat menghindar dan berlindung di ceruk dan tumpukan sampah logam yang ada di lorong itu. Kemudian mereka balas menembak.

Adu senjata berlangsung singkat karena peluruku sangat terbatas. Baru beberapa detik saja, aku sudah kehabisan peluru dan terpaksa mundur.

“!&@$!(~&!! Kenapa aku tidak sekalian beli peluru cadangan waktu membeli senjata sial ini!!!!!”

Sambil mengumpat dan mengutuki kebodohanku, aku berlari dan menyambar tubuh Lampu yang masih meringkuk ketakutan. Kemudian aku membawanya lari lagi.

Sayangnya aku tidak bisa lari jauh, karena di belakangku terdengar lagi suara desing-desing samar. Kemudian aku terjatuh begitu saja.

Aku kebingungan setengah mati karena tiba-tiba saja kakiku kehilangan tenaga dan tubuhku mendadak membentur jalanan. Sambil berbaring aku mulai menyadari satu fakta tidak terelakkan.

Aku baru saja tertembak.

Aku bisa merasakan cairan hangat mengalir dari lubang-lubang di tubuhku. Seiring dengan mengalirnya darahku, aku bisa merasakan nyawaku juga perlahan meninggalkan tubuhku.

Aku tahu aku akan segera mati.

Aku menatap Lampu yang kini mulai menangis dan menggucang-guncangkan badanku yang sudah mulai kaku. Suaranya mulai terasa bergema, seakan-akan dia berbicara dari kejauhan.

“Lampu....larilah! Jangan biarkan orang-orang itu menangkapmu! Lari! LARI!!!”

Dengan sisa tenagaku, aku membentaknya untuk segera melarikan diri. Anak itu perlahan-lahan bangkit dan mulai berlari menjauh, meski masih terus menoleh ke belakang.

Aku bisa mendengar orang-orang yang mengejarku berseru marah dan mulai mengejar Lampu. Aku tahu anak itu tidak akan bisa lari. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan olehku.

Aku mengambil benda lain kusimpan di saku dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi.

Orang-orang yang baru saja melewatiku langsung berhenti dan terpaku di tempat. Wajah mereka langsung memucat seputih kapur ketika melihat silinder metalik di tanganku.

Aku tahu apa yang mereka pikirkan, jadi aku langsung tersenyum lebar dan mengacungkan jari tengahku pada mereka.

Mampus!

Aku menekan ujung silinder itu sambil tertawa lepas.

Kemudian semuanya menjadi putih. Tapi bersamaan dengan itu, aku juga merasa sangat damai.

Aaaah....akhirnya damai.....

 

 

Pagi itu aku bangun karena suara dentuman hebat yang membuat kaca-kaca jendela kamarku berderak nyaring.

Aku langsung lompat dari tempat tidur dan berlari ke pintu keluar.

Tadinya kukira ada gempa, tapi setelah tidak terasa getaran lain, aku kembali ke dalam kamar.

“@&#!^$*!&!!!”

Aku mengumpat dan membanting pintu hingga tertutup.

Sudah cukup tadi malam aku dibangunkan tengah malam oleh tetangga gilaku yang berteriak-teriak. Kemudian aku dibangunkan lagi oleh suara gedoran pintu di kamar tetanggaku beberapa menit yang lalu. Sekarang....apalagi?!

Sambil menggaruk kepalaku, aku menyalakan televisi dan menonton berita.

Tayangan berita yang kulihat benar-benar membuatku ternganga.

Sebuah ledakan dahsyat baru saja terjadi di area pemukiman padat penduduk, hanya berjarak 3 blok dari apartemenku. Ledakan itu meruntuhkan 5 apartemen, dan merusak 10 rumah lain di sekitarnya.

Tapi bukan itu yang membuatku rahangku nyaris jatuh ke lantai, melainkan foto pelaku yang terpampang di layar televisi.

Orang di foto itu sudah kulihat selama 8 tahun lebih dan selalu kukutuki serta kuumpati beberapa minggu terakhir ini.

Ya. Orang di foto itu adalah tetangga gilaku yang sering teriak-teriak tengah malam.

Aku mendengarkan pembawa berita menyiarkan kronologi kejadiannya.

Aku makin ternganga lagi ketika mendengar ucapan pembawa berita di televisi itu.

“.....pelaku diketahui berusaha melarikan diri dari kejaran polisi sambil membawa barang terlarang. Sempat terjadi baku tembak antara polisi dan pelaku yang menewaskan 4 orang personil, dan melukai 2 lagi. Pelaku tewas dalam ledakan, namun barang terlarang yang dilarikan tersangka diduga selamat dan kini berkeliaran di tengah kota. Bagi siapapun yang melihatnya, diharap segera melaporkan ke pos polisi terdekat....”

Aku mematikan televisi dan menelan ludahku.

Gambar barang terlarang yang kulihat di televisi langsung terbakar di dalam benakku.

Gambar seorang anak manusia bermata hitam pekat tadi membuatku nyaris tercekat. Cepat-cepat aku berjalan ke arah kamar mandi dan mencuci mukaku. Aku lalu menatap ke arah bayanganku sendiri di cermin.

Wajahku terlihat agak kacau gara-gara kurang tidur dan berita tadi membuatnya makin buruk. Aku mengusap tanduk kananku dan menyeringai, memperlihatkan gigi-gigiku yang runcing. Ekorku yang tebal dan bersisik kuangkat lalu kuperiksa. Gara-gara kurang tidur, sisik di ekorku jadi agak kusam.

Aku menggerutu lagi dan mengutuki tetanggaku, berikut keributan yang sudah dibuatnya.

Manusia.

Tidak kusangka aku akan melihat mereka lagi. Kukira mereka semua sudah punah di alam, dan sisanya hanya hidup di penangkaran saja. Rupanya ada yang lepas dan membuat keributan.

Aku tidak peduli apa yang dipikirkan tetanggaku itu. Setidaknya sekarang aku tidak akan terganggu lagi dengan jeritannya di tengah malam.

Sambil tersenyum puas, aku berbalik dan kembali menyalakan televisi. Berita tadi kusingkirkan jauh-jauh dari benakku.

Bah! Kuharap hari ini tidak akan lebih buruk lagi. Naga tua sepertiku tidak butuh kejutan-kejutan lagi seperti tadi.

Aku menggerutu lagi dan mulai menonton televisi.

 

~FIN~

 


Ini adalah entry saia di FF-2011 yg gagal menang + gagal masuk 100 besar. Akhirnya saia posting saja disini (=___=)'a

http://kastilfantasi.com/2011/07/lampu/