Saturday, April 12, 2014

Everyday Adventure VI




Everyday Adventure VI
(Kembang Api)





“Hore~! Laut~!!”
Maria bersorak kegirangan ketika melihat hamparan air yang terlihat nyaris tanpa batas itu. Tanpa pikir panjang, gynoid berambut hitam itu berlari meninggalkan Ryouta dan Buggy yang masih berdiri di atas tembok pembatas area pantai. Keduanya saling pandang sejenak. Kalau saja keduanya bisa tersenyum, Ryouta dan Buggy pasti sudah tersenyum lebar saat ini. Melihat tingkah Maria yang selalu bersemangat memang tidak pernah gagal untuk membuat keduanya merasa senang.
“Ayo! Sedang apa kalian disana?! Ini pantai loh! Laut!” Maria kembali bersorak sambil melambaikan kedua tangannya. “Ayo ke sini, terus kita main di dalam sana!”
“Iya! Aku ke sana!” sahut Ryouta sambil balas melambaikan tangannya. Dia lalu berjalan menuruni tangga tembok tebal yang dibangun beberapa puluh tahun yang lalu. Tembok beton setebal beberapa inci itu dibuat untuk mencegah serbuan air laut yang tiap tahun masih saja naik.
Sambil berjalan, dia melirik ke arah kondisi reruntuhan kota Megapolitan yang dulu berdiri megah di sisi selatan kota Bravaga. Sejak Catastrophy melanda dunia beberapa ratus tahun lalu, kota itu kini berubah menjadi kota mati. Kini tempat itu dihuni oleh tetumbuhan yang bisa bergerak, mutan, dan robot liar, sehingga jarang sekali ada robot yang pergi ke sana. Kecuali Maria dan Buggy tentunya. Keduanya secara rutin menjelajahi tempat itu dan mengabaikan segala macam bahaya yang mungkin mengincar mereka.
Semenjak manusia punah setelah Catastrophy, tepian laut yang selama ini tertahan oleh kokohnya bangunan buatan manusia, kini mulai kembali menguasai sebagian daratan. Nyaris sepertiga kota sudah kembali tenggelam ke dasar lautan dan menjadi hunian berbagai jenis makhluk laut, yang anehnya, selamat dari Catastrophy. Bahkan banyak diantara makhluk-makhluk itu yang kini telah bermutasi menjadi monster laut ganas.
Semoga saja nanti Maria tidak membuat masalah dengan makhluk-makhluk semacam itu... gumam Ryouta dalam hati.
Meskipun ini sudah ke sekian kalinya dia membawa Maria pergi ke pantai, tapi gadis robot itu tetap saja membuat masalah baru. Terakhir kali, Ryouta harus bergulat selama beberapa jam melawan seekor gurita dengan tentakel berduri di dasar laut. Kali ini dia tidak mau lagi menghadapi monster laut semacam itu, sebab dia sendiri baru tahu kalau kekuatan lengan gurita bisa merusak sendi-sendi lengannya.
“Hei!? Jam berapa sih acara puncak festivalnya?”
Maria berdiri di hadapan Ryouta sambil nyengir lebar. Ryouta balas menatap Maria sejenak. Ternyata gynoid itu sudah melepas pakaiannya dan berganti dengan baju renang model one-piece suit. Gaya Maria saat ini mengingatkan Ryouta akan atlet renang manusia yang pernah dia lihat di masa lalu.
“Setelah matahari terbenam,” jawab Ryouta.
Hari ini memang ada sebuah festival khusus yang hanya diadakan 10 tahun sekali, dan hanya diadakan di satu-satunya pantai aman yang ada di pinggiran reruntuhan kota. Karena ini adalah peristiwa spesial, pantai berpasir putih yang biasanya lengang itu, hari ini menjadi padat oleh berbagai tipe robot yang datang dari kota Bravaga. Ryouta bahkan bisa mengenali beberapa Automa yang sengaja datang dari kota asalnya jauh di utara sana. Mereka semua datang terutama untuk menyaksikan peluncuran 2 kembang api akbar yang menjadi puncak festival hari ini.
Starburst dan Moonflower.
Dua nama kembang api legendaris yang hanya bisa disaksikan setiap 10 tahun sekali.
“Masih ada banyak waktu sampai festivalnya benar-benar dimulai. Jadi kau dan Buggy bisa bermain sepuas kalian. Tapi ingat! Jangan bikin masalah!” Ryouta kembali bicara sambil mengangkat telunjuknya. “Nah, sekarang kalian boleh pergi.”
Maria kembali nyengir lebar, dan sikapnya itu langsung membuat Ryouta menepuk wajahnya. Dia tahu itu artinya Maria tidak akan repot-repot mengindahkan peringatan yang baru didengarnya itu.
“Kuralat ucapanku. Aku akan ikut kalian,” ujarnya dengan enggan.
“Nah, begitu dong! Masa sudah jauh-jauh ke sini kau cuma mau duduk berjemur di pinggir pantai?” goda Buggy yang dari tadi menumpang di punggung Ryouta.
Ryouta tidak membalas. Perhatiannya teralih ke arah dua robot berkaki empat berukuran besar, yang sedang sibuk bermain bola di atas pasir. Dia mengenali keduanya sebagai Rachnoss 15 dan Rachnoss 291, dua robot yang sama-sama dibuat pada masa perang sebelum Catastrophy. Melihat sikap kekanakan bekas mesin penghancur itu, Ryouta mau tidak mau merasa geli. Aneh rasanya melihat robot yang dulu dirancang untuk meratakan sebuah kota, kini asyik bermain seperti itu. Namun rasanya lebih aneh lagi bagi Ryouta, sebab di masa lalu, entah sudah berapa ratus seri Rachnoss yang dia hancurkan dalam pertempuran.
Maria yang melihat perubahan sikap Ryouta, langsung tahu kalau mood temannya itu pasti akan berubah lagi. Dan kalau sudah begitu, biasanya bekas android perang itu akan mulai mengeluh dan menggerutu. Tentu saja itu akan membuat Maria merasa kesal.
“Buggy! Ayo kita lomba siapa yang duluan sampai ke air!”
Tanpa pikir panjang lagi,  Maria berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah deburan ombak di depannya. Buggy yang segera terpancing, langsung melompat dari punggung Ryouta dan berlari dengan kaki-kaki kecilnya mengejar Maria.
Melihat kedua temannya mulai bersikap hiperaktif, Ryouta tidak punya pilihan kecuali mengejar mereka sebelum salah satu, atau keduanya, terlibat dalam masalah. 

****