Wednesday, August 24, 2011

Yurika

Yurika

 

 

Rasa bersalah selalu menghantuiku setiap kali aku berdiri di depan pintu ini.

Entah sudah berapa lama aku berdiri disini.

Mungkin sudah setengah jam.

Aku hampir tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan padanya kali ini. Aku sudah terlalu banyak berbohong padanya. Entah berapa banyak lagi kata-kata manis yang harus kuucapkan untuk menghibur dan meyakinkan dirinya.

Aku tidak tahu.

Ayo....lakukan saja tugasmu seperti biasa!

Aku bergumam untuk menenangkan diri, lalu menarik nafas panjang. Setelah merasa cukup tenang, aku meletakkan telapak tanganku di atas biometric sensor dan membiarkan benda itu memastikan identitas diriku. Begitu aksesku diterima, pintu logam di depanku menggeser terbuka.

“Ah! Profesor!”

Begitu pintu itu terbuka, aku langsung disambut oleh sapaan ramah dari seorang anak perempuan.

“Halo Yurika. Bagaimana kondisimu pagi ini?” tanyaku dengan nada ramah yang dibuat-buat.

Anak perempuan itu lalu tersenyum manis diatas sofa empuknya.

“Uhm....kurasa cukup baik profesor. Hanya sedikit pusing. Tapi tidak apa-apa. Biasanya juga akan segera hilang kalau aku minum obat yang diberikan profesor.”

Aku hanya tersenyum tipis ketika mendengar ucapannya.

Bagaimana bisa dia mempercayaiku begitu saja? Aku tidak tahu apakah dia memang sepolos itu, atau dia selalu menyembunyikan rasa curiganya dariku dibalik kedua matanya yang berwarna biru cerah itu.

“Wah. Apa itu?” tanyaku ketika menyadari apa yang sedang dilakukan oleh gadis kecil itu.

Dengan mata berbinar-binar gadis itu langsung bangkit dari sofanya dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Ini adalah hasil karyaku hari ini profesor! Lihatlah! Cantik bukan?”

Aku tersenyum sekaligus merasa bersalah. Gadis itu telah membuat sebuah karangan bunga yang indah dari tumpukan mainan bunga plastik yang kuberikan padanya 3 hari yang lalu.

“Cantik sekali Yurika,” pujiku sambil berjalan mendekat dan mengamati karangan bunga itu.

Benar-benar cantik....gumamku dalam hati.

Ketika aku sedang sibuk mengamati karangan bunga buatan Yurika. Tiba-tiba anak itu menarik dan memegangi sebelah tanganku. Aku langsung menoleh dan menatap ke arahnya.

“Profesor. Bisa tidak hari ini kita berjalan-jalan ke taman?” pinta gadis itu dengan nada memelas.

Aku langsung tersenyum dan mengelus kepalanya.

“Tentu saja. Kenapa tidak?” sahutku.

Yurika langsung bersorak gembira dan berlari menjauh. Gadis itu lalu membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah topi lebar berwarna biru cerah. Topi itu juga merupakan pemberianku saat dia pertama kali masuk ke tempat ini.

“Ayo profesor! Kita berangkat sekarang!” seru Yurika sambil menunjuk ke arah pintu.

Akupun tersenyum dan berjalan menghampiri gadis kecil itu.

Tuhan memang tidak adil. Kenapa gadis periang dan cerdas seperti dia harus dikurung di dalam tempat mengerikan ini.

Tempat dimana dia akan menghabiskan seluruh hidupnya, dan tempat dimana hidupnya itu akan berakhir dengan tragis. Sama seperti lebih dari 200 orang anak lain seperti dirinya.

 

***

 

“Profesor! Ini sudah batasnya! Kita tidak bisa terus!”

“Lupakan batas! Kalau kita tidak bisa menghasilkan apapun hari ini, habis sudah proyek penelitian ini. Lanjutkan!”

“Tapi profesor....”

Aku memotong dan mengabaikan peringatan asisten penelitianku itu, lalu memberikan perintah selanjutnya.

“Lanjutkan! Lompati Protokol no.12 dan langsung lanjut ke Protokol no.18. Stabilkan dulu biorithym subjek sebelum masuk ke Fase Heigermann. Pastikan rasio gelombang otaknya tidak keluar dari Rasio Herman-Tyndall! Lakukan sekarang!”

Aku langsung menepuk bahu asisten penelitiku dengan keras. Dia langsung mengangguk dan mulai mengetikkan perintah-perintah matematis di komputernya. Teman-temannya langsung mengikutinya dan mulai mengetikkan perintah, atau membaca data-data dan informasi dari instrumen-instrumen canggih di depan mereka.

Aku lalu menatap ke arah para subjek penelitian di bawah sana. Rasanya salah sekali kalau aku berdiri disini seperti seorang dewa yang sedang mengamati orang-orang dibawah sana yang menderita. Tapi itulah yang sedang kulakukan.

Aku berdiri di ruangan kontrol ini, sementara dibawah sana, ada 4 orang anak kecil yang masing-masing tubuhnya dihubungkan dengan berbagai macam kabel dan selang. Kepala mereka juga ditutupi sebuah helm yang dilengkapi sensor-sensor canggih yang hanya bisa ditemukan di tempat ini. Tangan dan kaki mereka diikat erat dengan belenggu titanium untuk memastikan mereka tidak berbuat macam-macam ditengah eksperimen.

Ya. Yang kulakukan disini saat ini adalah sebuah eksperimen manusia yang sangat tidak manusiawi.

Aku tahu itu.

Aku sadar itu.

Tapi aku tetap tidak bisa berhenti melakukannya. Ada 2 milyar nyawa yang kupertaruhkan dalam penelitian ini. Gagal atau berhasilnya apapun yang kami lakukan sekarang bisa sangat menentukan apakah ras kami akan bertahan, atau punah. Oleh karena itu...aku tidak boleh gagal.

Biorithym subjek stabil! Status organ-organ vital berada di bawah batas kritis. Semua normal! Rasio gelombang otak 1:1.34...rasionya berada dalam rasio normal Herman-Tyndall. Subjek baru saja memasuki Fase Heigermann tingkat pertama!”

“Mulai!” ujarku dengan nada pahit.

“Siap! Mulai!”

Asistenku langsung mengulangi sambil mendorong sebuah tuas di panel kontrol di depannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara dengungan mesin.

Dengan jantung berdebar tidak karuan, aku mengamati informasi dan data-data yang terpampang di layar holografis di depanku.

Ayolah.....biarkan percobaan yang ini berhasil!

“Profesor...sepertinya kita akan berhasil kali ini!”

Semoga saja......

Sepuluh menit berlalu.

Dua puluh menit berlalu.

Empat puluh menit berlalu.....dan belum ada masalah. Sepertinya kali ini kami berhasil!

Baru saja aku merasa kalau percobaan kami pada akhirnya akan membuahkan hasil yang menggembirakan, tiba-tiba saja alarm peringatan berbunyi. Lampu di dalam ruang kontrol langsung padam dan digantikan lampu berwarna merah.

“Apa yang terjadi?!” tanyaku pada salah satu asistenku.

“Status organ vital subjek no.213 anjlok! Rasio gelombang otak subjek no. 215 berada diluar batas normal, ini berbahaya! Profesor?!”

“Subjek no.217 baru saja mengalami kejang! Biorithym-nya tidak beraturan. Ini reaksi penolakan, profesor!! Kita harus berhenti!”

Aku langsung menghantam kaca tebal di depanku dengan jengkel.

Gagal lagi! Ini sudah yang kesekian ratus kalinya kami gagal! Sialan!!!

“Profesor!”

Aku langsung berjalan ke arah panel kontrol salah seorang asistenku dan menekan sebuah tombol. Terdengar suara desis diiringi derak mengerikan dari arah ruang percobaan. Aku tidak berani melihat ke bawah karena aku tahu apa yang sedang terjadi.

Setiap kali kami gagal melakukan percobaan, kami harus memusnahkan subjek penelitian yang bermasalah. Aku tahu ini sangat kejam dan tidak manusiawi. Dengan seenaknya aku....kami telah menghabisi nyawa anak-anak itu setelah melakukan banyak hal tidak manusiawi lainnya.

Tapi tidak ada pilihan lain.

Kalau mereka dibiarkan hidup, mereka tidak akan hidup lama. Terlebih lagi mereka akan menimbulkan masalah serius kalau dibiarkan hidup setelah kami gagal melakukan eksperimen pada mereka. Otak mereka yang baru saja kami evolusikan secara paksa bisa mengakibatkan perubahan tidak terkendali pada tubuh mereka. Membuat mereka berubah jadi monster, atau sekedar menjadi onggokan makhluk hidup tanpa wujud yang jelas.

Purging telah selesai profesor.....sepertinya kita gagal lagi....”

Aku terdiam begitu mendengar ucapan asistenku itu. Dengan ini, artinya penelitian kami selesai sampai disini. Dukungan terhadap penelitian kami akan dicabut dan dialihkan ke peneliti lainnya. Aku menggertakkan gigiku lalu bertanya pada salah satu asistenku.

“Bagaimana dengan Yurika......maksudku....subjek no. 149?”

Perlahan-lahan asistenku itu menoleh dan menelan ludahnya.

“Subjek no. 149 selamat....biorithym dan organ-organ vitalnya stabil. Rasio gelombang otaknya juga berada di dalam rasio normal. Dia....dia selamat lagi...profesor...”

Aku tidak tahu harus bersyukur atau merasa ngeri dengan kemampuan bertahan hidup Yurika. Gadis itu sudah melewati puluhan percobaan mengerikan yang biasanya akan mengakhiri nyawa subjek lainnya.

Tapi setiap kali Yurika selamat, aku selalu kebingungan.

Yurika.....kebohongan apalagi yang harus kuucapkan hari ini padamu?

 

***

 

Seperti biasanya, setelah menjalani eksperimen, Yurika selalu bisa ditemukan sedang duduk sendirian dibawah pohon yang ada di tengah taman. Dia sedang menungguku yang datang membawakan makanan untuknya.

Yurika selalu ingin makan dibawah pohon di tengah taman itu setiap selesai menjalani eksperimen.

Itu adalah permintaan sederhana yang selalu dia ajukan padaku setiap kali aku ingin menjalankan eksperimen pada tubuh gadis itu.

Tapi hari ini tidak seperti biasanya.

Biasanya Yurika langsung terlihat gembira ketika aku datang membawakan makanan kesukaannya. Tapi hari ini Yurika tampak duduk bersandar pada pohon sambil termenung.

Aku jadi penasaran apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

“Kenapa kau termenung seperti itu Yurika?” tanyaku sambil mengulurkan kotak makanan yang kubawa padanya.

Yurika tersenyum pahit dan mengambil bungkusan makanan itu. Dia lalu membuka kotak makanan itu dan mulai makan. Tapi baru beberapa suap dia lalu berhenti.

“Profesor....apa Yurika akan mati?”

Ucapan Yurika membuatku tersentak.

“Profesor?” ujar Yurika lagi.

Aku langsung terdiam karena tidak tahu harus berkata apa. Bagaimanapun penelitian kami sudah gagal. Itu artinya aku akan kehilangan pekerjaanku dan Yurika akan kehilangan nyawanya. Sudah jadi protokol keamanan standar dalam fasilitas ini, bahwa semua subjek penelitian yang gagal harus dimusnahkan.

Jadi cepat atau lambat hidup Yurika pasti akan berakhir. Aku sebenarnya tidak mau menjawab pertanyaan Yurika, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak berbohong lagi pada gadis itu.

Aku langsung memeluk Yurika dengan erat.

“Maafkan aku, Yurika. Aku tidak bisa berbuat apapun untukmu! Aku sungguh manusia yang tidak berguna!” ujarku dengan nada sedih. Tidak terasa air mataku mengalir tanpa bisa kutahan.

Tadinya kupikir Yurika juga akan menangis bersamaku. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Gadis itu langsung mengelus kepalaku dengan lembut.

“Profesor tidak usah sedih. Yurika tahu kalau Yurika pada akhirnya akan mati seperti teman-teman Yurika,” ujar Yurika sambil tersenyum. “Yurika sudah pasrah pada nasib Yurika kok.”

Mau tidak mau aku merasa malu karena aku yang seharusnya lebih dewasa dari Yurika, justru bertingkah seperti anak kecil.

“Apa kau membenciku Yurika? Aku sudah membawamu ke tempat mengerikan ini dan melakukan berbagai hal mengerikan lainnya pada dirimu.....apa kau membenciku?” tanyaku pada gadis itu.

Yurika menggelengkan kepalanya.

“Yurika tidak benci profesor. Itu bukan salah profesor. Profesor hanya melakukan pekerjaan profesor. Yurika bisa paham itu. Yurika juga tahu kalau profesor membenci apa yang sudah profesor lakukan pada Yurika dan teman-teman Yurika,” ujar Yurika dengan nada riang seperti biasanya. Dia lalu melanjutkan ucapannya lagi. “Yurika malah berterima kasih pada profesor. Kalau tidak ada profesor, Yurika pasti sudah lama mati diluar sana.”

Yurika lalu tersenyum padaku. Senyuman Yurika selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Tapi kali ini senyuman tulus gadis itu membuatku membulatkan tekad.

Malam ini juga aku akan pergi meninggalkan tempat terkutuk ini bersama Yurika!

Aku lalu memandang ke arah gadis itu lagi dan bertanya.

“Yurika. Malam ini aku akan pergi dari tempat ini. Apa kau mau pergi bersamaku keluar dari fasilitas penelitian ini?” tanyaku.

Kedua mata Yurika langsung berbinar-binar, dia lalu mengangguk penuh semangat.

“Yurika mau ikut profesor! Yurika mau!!”

Aku langsung tersenyum mendengar ucapan Yurika.

 

***

 

Sayangnya rencana pelarian kami tidak berjalan mulus seperti yang kuperkirakan sebelumnya. Rencanaku membawa Yurika keluar dari fasilitas ini entah bagaimana sudah diketahui dan kini, sekelompok tentara bersenjata lengkap sudah menghadangku tepat sebelum aku mencapai pintu keluar.

Mereka berbaris dan membentuk barikade sambil menodongkan senjata berat mereka ker arah kami berdua. Aku bisa melihat salah seorang asisten penelitianku berdiri dibelakang barisan tentara itu.

Sial! Sepertinya dia yang sudah bisa menebak apa rencanaku.....gumamku jengkel.

“Profesor. Apa yang sebenarnya ingin profesor lakukan?” tanya asistenku itu dengan nada merendahkan. “Jangan bilang kalau profesor ingin kabur sambil membawa subjek penelitian itu keluar dari tempat ini. Jangan bercanda profesor. Anda tahu itu pelanggaran berat.”

Aku tetap diam dan mendorong tubuh Yurika ke belakang. Gadis itu anehnya tidak terlihat ketakutan. Dia justru terlihat santai seperti biasanya. Aku jadi heran sekaligus takut melihat sikap tenang Yurika.

“Profesor! Saya peringatkan sekali lagi. Ini pelanggaran berat, profesor! Tapi kalau profesor mau mengembalikan subjek no.149 ke tempatnya semula. Saya tidak akan melaporkan profesor ke atasan,” ujar asisten itu lagi. “Dengan begitu profesor tidak perlu menanggung hukuman berat karena telah mencoba melarikan subjek penelitian keluar fasilitas ini.”

Tapi aku tetap diam. Kami benar-benar terjepit dan tidak ada tempat melarikan diri lagi. Kalau para tentara itu mulai menembak. Kami berdua pasti mati. Di lorong panjang ini sama sekali tidak ada tempat berlindung atau bersembunyi.

Tiba-tiba Yurika menarik tanganku. Aku langsung menoleh ke arah gadis itu dan melihat dia tersenyum ke arahku.

“Profesor tidak usah takut. Yurika akan membantu profesor,”

Ucapan Yurika langsung membuatku tertegun. Tapi sebelum aku bisa berbuat apapun gadis itu sudah berjalan dengan santainya ke depan para tentara bersenjata itu.

Asistenku yang melihat gelagat aneh dari Yurika langsung berseru padaku.

“Profesor! Suruh subjek no.149 berhenti bergerak!!”

Bersamaan dengan seruan asistenku itu, para tentara di depannya langsung mengokang senjata masing-masing. Seketika itu juga lorong itu dipenuhi suara denting ringan senapan mesin yang sedang disiapkan untuk menembak.

Tapi Yurika tetap tidak berhenti. Gadis itu sekarang malah merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum.

“Profesor!!!” seru asistenku lagi dengan nada mengancam, dia lalu mengangkat sebelah tangannya.

Aku langsung bergegas menghampiri Yurika sambil berseru. “Yurika!! Kembali!!”

Tapi Yurika tetap berjalan mendekati para tentara itu sambil tersenyum.

“Tenang saja profesor, Yurika tahu apa yang sedang Yurika lakukan,” ujar Yurika dengan santainya. Dia lalu mengarahkan sebelah tangannya ke arah para tentara itu.

“Sudah cukup!” seru asistenku dengan nada marah. Dia lalu memberikan perintah pada para tentara di depannya. “Tembak gadis itu sekarang!!!”

Tentara-tentara yang mengepung kami langsung membidik ke arah Yurika dan melepaskan tembakan. Senapan-senapan mesin mereka langsung menyalak dan melontarkan peluru-peluru timah ke arah Yurika.

Aku langsung memejamkan mataku karena tidak kuasa melihat sosok mungil Yurika tewas dengan mengenaskan. Suara rentetan senjata itu hanya berlangsung beberapa menit, tapi bagiku rasanya seperti beberapa jam.

Ketika akhirnya suara rentetan senapan itu berhenti, aku memberanikan diri untuk membuka mataku. Tadinya aku mengira akan melihat sosok Yurika terkapar dengan luka mengenaskan di tubuhnya. Tapi yang kulihat justru sebaliknya.

Yurika masih berdiri sambil mengarahkan sebelah tangannya ke depan. Aku langsung melongo bukan hanya karena tidak percaya dia masih hidup, tapi karena melihat butiran-butiran logam melayang di depan Yurika.

Aku langsung menyadari kalau butiran-butiran logam itu tidak lain adalah peluru timah yang ditembakkan oleh para tentara yang mengepung kami. Para tentara itu juga sama terkejutnya denganku. Aku yakin mereka sama sekali tidak pernah bertemu dengan seorang anak kecil yang bisa menghentikan peluru timah di udara.

“Lihat Yurika profesor!” seru Yurika dengan riang. Dia lalu menurunkan tangannya dan membiarkan peuru-peluru timah itu jatuh dengan suara berdenting ke lantai. Dia lalu menatap ke arah tentara-tentara di depannya dan kembali berkata. “Yurika dan profesor mau lewat. Jangan menghalangi kami!”

Yurika lalu kembali mengangkat sebelah tangannya. Tentu saja tentara di depannya tidak tinggal diam, mereka langsung bersiap menembak lagi. Tapi belum sempat mereka melakukan apapun, tiba-tiba mereka semua menjerit kesakitan.

Para tentara itu langsung menjatuhkan senjata mereka dan terjatuh di lantai. Kemudian Yurika mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi di udara, lalu menjentikkan jari mungilnya.

Seiring dengan suara jentikan jari Yurika, suara memuakkan langsung terdengar bersahutan ketika satu persatu tentara yang mengepung kami meletus. Tubuh mereka meletus bagaikan sebuah balon yang ditembak dengan senapan angin. Dalam sekejap mata lorong yang dicat putih itu sudah dihiasi dengan warna merah.

Aku hanya bisa menyaksikan kejadian itu tanpa berkedip sama sekali.

Dalam waktu sekejap saja, semua tentara yang mengepung kami sudah mati. Satu-satunya yang tersisa dari orang-orang yang mengepung kami adalah asisten penelitianku. Dia langsung terpuruk di lantai sambil memegangi wajahnya. Jelas telihat kalau dia sangat shock setelah menyaksikan kejadian mengerikan barusan.

Aku juga sama shocknya dengan asistenku itu.

Aku sama sekali tidak tahu dan tidak pernah membayangkan kalau Yurika bisa melakukan hal itu. Tapi kemudian aku menyadari sesuatu.

Ini mungkin efek dari evolusi paksa yang kami lakukan pada otaknya. Setelah bertahan hidup melewati beberapa puluh eksperimen serupa, kurasa entah bagaimana caranya Yurika telah mengembangkan kemampuan mengerikan itu.

Tiba-tiba aku mendengar suara berderit nyaring ketika pintu baja tebal yang menjadi gerbang masuk fasilitas penelitian ini terbuka lebar. Pintu baja setebal 10 centimeter itu baru saja terpilin dan terbuka paksa ketika Yurika menjentikkan jarinya ke arah pintu itu.

Seketika itu juga aku merasa bimbang dengan keputusanku untuk membawa Yurika keluar dari tempat ini. Karena aku baru menyadari kalau secara tidak sengaja, penelitian kami telah melahirkan monster mengerikan. Monster yang jauh lebih berbahaya dari apapun yang pernah diciptakan fasilitas penelitian ini.

Aku langsung mencabut sepucuk pistol yang kusembunyikan di balik jas labku dan mengokangnya. Suara denting ringan ketika pistol itu dikokang menarik perhatian Yurika. Dia langsung menoleh ke arahku dan menatapku kebingungan.

“Profesor?” tanyanya.

Aku tidak bisa dan tidak berani mengatakan apapun.

Pikiranku dipenuhi berbagai macam hal yang saling campur aduk.

Kemudian tatapan mata Yurika yang kebingungan, digantikan dengan tatapan kecewa dan sedih, ketika dia menyadari apa yang akan kulakukan padanya.

“Kenapa profesor? Apa profesor membenci Yurika?” tanya gadis itu lagi dengan nada memelas.

Aku tidak membencimu Yurika....tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu dan kemampuan berbahayamu keluar dari tempat ini.

“Profesor!” rengek Yurika. Kali ini air mata mulai menggenangi matanya yang berwarna biru cerah itu. Aku langsung menahan nafas karena tidak sanggup menatap matanya, tapi aku bertahan.

Ini adalah tanggung jawabku.

Aku yang telah menciptakan ‘Yurika’, jadi aku jugalah yang harus menghapuskan keberadaan ‘Yurika’ dari dunia ini.

Pada akhirnya aku hanya mengatakan satu kalimat.

“Maafkan aku Yurika......”

Aku langsung menarik pelatuk di senjataku. Tapi pada saat yang sama Yurika juga menjentikkan jarinya ke arahku.

Dalam waktu sepersekian detik itu, kami berdua mengatakan satu kalimat dalam waktu yang bersamaan.

“Aku menyayangimu, anakku...”

“Aku menyayangimu, ayah....”

 

***

~FIN~

Red_Rackham 2011

Saturday, August 20, 2011

Perpustakaan Glanvnore

Perpustakaan Glanvnore

 

Pada awalnya aku sama sekali tidak percaya akan keberadaan perpustakaan ajaib itu. Tapi setelah aku melihat dan merasakan ‘keajaiban’ perpustakaan itu, barulah aku percaya kalau tempat seperti itu memang benar-benar ada di dunia ini.

Glanvnore.

Itulah nama perpustakaan yang akhir-akhir ini sering dibicarakan oleh orang itu. Perpustakaan itu konon bisa muncul dimana saja dan kapan saja, sehingga hampir tidak ada orang yang tahu lokasi pasti dari perpustakaan gaib itu. Kata orang perpustakaan itu bahkan bisa berpindah tempat hanya dalam hitungan jam saja.

Dari rumor yang sering kudengar, di dalam perpustakaan itu tersimpan buku-buku dalam jumlah yang nyaris tidak terbatas. Konon buku-buku yang ada di dalam perpustakaan Glanvnore merupakan buku-buku yang telah ditulis jauh di masa lampau dan buku-buku yang akan ditulis jauh di masa depan. Dengan kata lain, perpustakaan itu tidak mengenal waktu dan konon bisa muncul di masa depan, atau masa lalu. Bahkan ada yang mengatakan kalau perpustakaan itu bahkan tidak mengenal dunia dan bisa saja muncul di dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia tempat kita tinggal saat ini. Aku bahkan pernah mendengar cerita tentang orang yang keluar dari Glanvnore dan mendapati dirinya berada di sebuah dunia asing, dimana terdapat banyak kereta besi tanpa kuda melaju kencang di jalan-jalan dan sebuah burung besi raksasa melintas di langit.

Memang kalau hanya mendengarkan rumor dan cerita yang beredar saja, sulit rasanya untuk mempercayai kalau perpustakaan ajaib itu benar-benar nyata.

Tapi percayalah. Perpustakaan itu ada.

Kalau tidak, untuk apa saat ini aku ada di tengah-tengah padang tandus seperti ini?

“Panas.....”

Aku menggerutu sambil melirik ke arah langit.

Hari ini benar-benar panas. Dua buah matahari yang bersinar di langit seakan-akan menertawakan tingkah konyolku yang berjalan di atas tanah bersuhu lebih dari 50 derajat celsius ini.

Sudah 4 hari aku berjalan mengitari padang tandus tanpa kehidupan ini, hanya untuk memastikan kebenaran informasi yang belum lama ini kuterima dari sumber terpercaya.

Informasi itu tidak lain adalah informasi mengenai keberadaan perpustakaan Glanvnore. Konon perpustakaan gaib itu kini sering muncul di padang tandus ini. Hanya saja informasi yang kudapat tidak menyebutkan dengan jelas KAPAN dan DIMANA pastinya perpustakaan itu akan muncul.

Kalau kupikir-pikir lagi...rasanya aku seperti dibohongi saja....

Aku menggerutu dalam hati sambil berhenti berjalan dan memandang ke sekelilingku. Tapi tidak ada apapun sejauh mata memandang, kecuali hamparan padang tandus kering kerontang dengan beberapa buah bukit karang menjulang tinggi. Tidak satupun hewan atau tumbuhan yang bisa tumbuh di tempat terkutuk semacam ini. Sepertinya satu-satunya makhluk hidup konyol yang ada di sini adalah aku seorang.

“Sial!” Aku mengumpat sambil melemparkan barang bawaanku ke tanah.

Aku sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, sehingga kuputuskan untuk berhenti dan melanjutkan perjalanan lagi pada malam hari.

Dengan cepat aku membongkar tasku dan mengeluarkan peralatan untuk membuat tenda. Dalam waktu singkat, sebuah tenda kecil berkapasitas 1 orang sudah berdiri di tengah-tengah padang tandus itu.

Di dalam tenda, aku segera berbaring dan memejamkan mata. Berharap hari ini cepat berlalu dan malam segera tiba agar aku bisa melanjutkan pencarianku yang tampak minim harapan ini.

****

“Demi Tuhan! Apa yang....!?”

Aku sama sekali tidak percaya dengan yang kulihat sekarang.

Saat ini aku sedang berdiri memandangi sebuah lorong panjang yang nyaris tidak berujung. Di sisi kiri dan kanan lorong tempatku berdiri ini terlihat deretan rak buku yang begitu tinggi sehingga puncak rak tersebut nyaris tidak terlihat. Dan tentu saja di rak buku tersebut tersusun buku-buku dalam berbagai ukuran dan bentuk. Saking banyaknya aku hampir yakin kalau jumlah buku di rak-rak itu sudah lebih dari cukup untuk mengisi lautan.

Aku menampar pipiku sekali.........dua kali.........tiga kali.......dan setelah tamparan yang keempat, kini aku yakin bahwa sekarang aku tidak sedang bermimpi.

Aku benar-benar berada di tempat yang kucari-cari selama 4 hari ini.

“Perpustakaan Gaib...Glanvnore...” gumamku dengan suara lirih.

Aku memegangi kepalaku yang terasa sakit karena saat ini aku sedang bingung setengah mati. Aku ingat sekali semalam aku berkemah di tengah padang tandus. Tapi saat ini aku dan kemahku berada di dalam perpustakaan ajaib itu.

Meski sedang kebingungan setengah mati, aku sebenarnya juga gembira setengah mati, karena aku berhasil mencapai tujuanku.

Sambil berusaha menenangkan diri, aku sekali lagi mengamati ke sekelilingku.

Sejauh mata memandang yang ada hanya lautan rak kayu yang dipenuhi buku. Perlahan-lahan aku mulai melangkahkan kaki menyusuri lautan rak buku di sekitarku.

Pikiranku terus melayang kemana-mana.

Sejujurnya aku bukan maniak buku atau seorang treasure hunter, aku hanyalah petualang biasa yang punya semangat tinggi untuk menjelajahi tempat-tempat yang tidak pernah dijamah orang lain. Jadi sebenarnya kecuali hanya sekedar untuk memastikan bahwa perpustakaan Glanvnore itu benar-benar ada, aku tidak punya tujuan untuk mencari ilmu, informasi, atau buku tertentu dari perpustakaan gaib itu.

Jujur saja, aku kurang suka membaca buku. Menurutku membaca buku itu hanya buang-buang waktu saja dan membosankan. Daripada duduk diam membaca buku, aku lebih baik berkelana dan berpetualang saja.

Tapi berhubung aku sudah sampai disini, tidak ada salahnya aku coba membuka salah satu buku di sekitarku.

Buku yang akan kubuka itu bersampul kulit tebal dan ditulis dengan bahasa yang sama sekali tidak kukenal. Hurufnya, kalau bisa dibilang huruf, merupakan campuran garis-garis saling tumpang-tindih yang membentuk pola tertentu.

Buku apa ini? pikirku sambil membuka lembaran buku itu perlahan-lahan.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak akan kulupakan.

Begitu aku membuka buku itu, aku langsung bisa melihat apa isinya.

Maksudku....ISI dari buku itu benar-benar muncul di sekitarku.

Ratusan makhluk mirip jamur raksasa bermata satu dan bermulut lebar langsung muncul begitu saja di kiri dan kananku. Makhluk-makhluk yang tidak jelas darimana asalnya itu tampak bergoyang-goyang dan satu hal yang pasti....mata mereka menatapku dengan pandangan lapar.

OH SHIT!

Aku mengumpat sambil mencabut pedangku dan tanpa pikir panjang, berlari menembus kerumunan makhluk-makhluk itu sambil mengayunkan pedangku kesegala arah, berusaha memotong apapun yang nekat menghalangi jalanku.

Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari monster-monster jamur itu. Sambil mengatur nafasku yang sudah putus-putus, aku bersandar ke rak di belakangku.

 “Apa itu barusan!?” seruku pada diriku sendiri.

Makhluk-makhluk mengerikan tadi tiba-tiba saja muncul ketika aku membuka sebuah buku.

“Jangan-jangan....”

Aku bergumam sendiri sambil berdiri lalu berbalik dan mengambil sebuah buku lain bersampul logam di rak yang berada paling dekat denganku.

Aku menelan ludah ketika memegangi buku berat dan tebal itu.

Kalau dugaanku benar....maka.....

Perlahan-lahan aku membuka buku itu.

Dan DUGAANKU BENAR!

Begitu aku membuka buku bersampul logam itu, sosok-sosok manusia timah langsung bermunculan di sekitarku. Mereka memiliki wujud yang beragam dan sepertinya memegang alat-alat pertukangan...hanya saja bentuknya absurd dan mengerikan.

 Tanpa pikir panjang aku menerjang ke arah manusia timah terdekat dan menjatuhkannya dengan pedangku. Tapi gara-gara aku nekat mengayunkan pedangku ke tubuhnya, pedangku langsung terbelah dua.

Tapi aku tidak peduli.

Prioritas utamaku sekarang adalah melarikan diri!

Tanpa berpikir sama sekali, aku menyingkirkan para manusia timah itu dari jalanku. Beruntung latihan fisik yang rutin kujalani membuatku cukup kuat untuk melawan mereka, meski tidak untuk waktu yang lama.

Setelah berjuang mempertahankan nyawaku cukup lama, aku sekali lagi berhasil lolos dari maut dan bersembunyi di sederetan rak buku yang tampak tersusun melingkar.

Aku duduk diam dan merenungi semua kejadian yang baru saja kualami. Sayangnya otakku serasa macet karena masih shock dengan dua kejadian tidak masuk akal barusan.

“Sialan! Tempat macam apa ini!?” seruku pada diriku sendiri sambil berbaring di atas lantai, yang anehnya, ditumbuhi rumput tebal.

Tadinya kupikir akan hebat sekali kalau aku bisa menemukan perpustakaan ajaib ini. Tapi sekarang aku jadi menyesali keputusan dan tekad gilaku untuk bisa mencapai perpustakan Glanvnore ini. Karena rupanya isi perpustakaan ini sama sekali berbeda dengan yang kubayangkan sebelumnya.

Sepertinya rumor-rumor jelek dan menyeramkan tentang perpustakaan Glanvnore ini memang benar....tempat ini lebih mirip NERAKA daripada sebuah surga bagi pecinta buku.

Kalau beberapa hari yang lalu keinginan terbesarku adalah untuk masuk ke dalam perpustakaan Glanvnore, sekarang keinginan terbesarku adalah untuk KELUAR dari perpustakaan terkutuk ini.

Begitu aku berpikir demikian, semangat juangku bangkit lagi.

Aku langsung berdiri dan memandang ke sekelilingku.

Tadi aku sudah cukup lama berlari menjelajahi labirin rak-rak buku ini tapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda jalan keluar. Namun tentu saja aku tidak akan menyerah begitu saja.

Biar begini-begini, aku ini terkenal sangat gigih dalam berjuang dan pantang menyerah begitu aku sudah memutuskan sesuatu.

“Baiklah! Sudah saatnya aku pergi dari tempat terkutuk ini!!!” sekali lagi aku berseru pada diriku sendiri.

“Wah...kenapa buru-buru pergi?”

Tanpa terduga, aku tiba-tiba mendengar suara seseorang dari belakangku.

Secara refleks aku berbalik dan mengacungkan pedangku, lupa bahwa senjata itu sudah patah dan nyaris tidak berguna.

Aku terkejut ketika melihat seorang kakek tua berdiri di hadapanku. Umur kakek misterius ini tampaknya sudah sangat tua hingga seluruh rambut dan janggut panjangnya sudah berwarna putih semua. Wajahnya juga dipenuhi keriput, meski kedua matanya masih memancarkan semangat hidup yang luar biasa.

“Siapa kau!” seruku sambil memandang ke arah kakek tua itu dengan tatapan penuh selidik. Belajar dari dua pengalaman burukku barusan, aku jadi curiga kalau kakek ini juga monster seperti yang muncul dari buku tadi.

“Hohoho....tidak perlu bersikap tegang seperti itu. Aku bukan orang jahat,” ujar kakek itu sambil terkekeh dan mengelus janggut panjangnya. “Aku Curio, penjaga perpustakaan ini. Nah anak muda...selamat datang di Glanvnore, pusat informasi lintas-dunia.”

“Pusat.....apa!?”

Spontan aku langsung balas bertanya begitu aku mendengar nama lain dari perpustakaan Glanvnore itu.

“Hohoho....Pusat informasi lintas-dunia. Tempat ini adalah gudang informasi yang memuat segala sesuatu yang ada di dunia-dunia dalam alam semesta ini. Glanvnore ini adalah tempat dimana kau bisa ‘melihat’ dan ‘merasakan’ informasi mengenai duniamu dan dunia lainnya,” ujar kakek tua bernama Curio itu dengan maksud menjelaskan, meski sudah jelas kalau aku masih tidak paham. “Disini semua buku ‘hidup’ dan memiliki ‘kehidupannya’ sendiri. Kurasa kau pasti sudah ‘melihat’ dan ‘merasakan’ sendiri informasi yang tersimpan dalam 1-2 buku disini.”

Aku mengangguk sambil menggeram pelan. Yang jelas informasi yang baru saja ‘kulihat’ dan ‘kurasakan’ sama sekali tidak menyenangkan. Informasi itu baru saja mencoba membunuhku.

“Jadi....sebenarnya tempat apa ini?” tanyaku, meski tadi si kakek sudah menjelaskan apa sebenarnya perpustakaan Glanvnore ini. Sayangnya aku masih belum paham karena semua ini masih terasa sangat tidak masuk akal dan tidak nyata.

“Hohoho....kau masih bingung?” tanya kakek Curio sambil berjalan mendekati sebuah rak. Dia lalu mengambil sebuah buku dan membukanya sebelum aku sempat melakukan apapun.

Begitu si kakek membuka buku yang dia pegang, tiba-tiba pemandangan di sekitarku berubah begitu saja. Dalam sekejap aku dan si kakek sedang berada di tengah medan pertempuran dahsyat. Ratusan orang berpakaian aneh dan bersenjatakan tongkat panjang yang sesekali melontarkan bola-bola api, tampak bertempur dengan sengit. Ratusan benda-benda besi bergerak dengan ganas sambil sesekali melontarkan semacam bola api yang bisa meratakan sebuah rumah dalam sekali tembak.

“APA INI?!” seruku sambil tiarap, berusaha melindungi kepalaku dari sambaran sebuah bola api yang baru saja melintas.

“Ini contoh dari informasi yang disimpan di Glanvnore. Kalau aku tidak salah ini adalah potongan informasi mengenai peristiwa perang besar yang terjadi di sebuah dunia bernama Gaea, atau Bumi,” ujar kakek Curio dengan tenangnya. Dia lalu menambahkan sambil menoleh padaku. “Jangan khawatir. Kalau kau bersamaku, ‘dunia’ ini tidak bisa melukaimu.”

Meski dia bilang begitu, aku tetap saja tidak percaya. Masalahnya tadi monster jamur dan manusia timah yang muncul dari buku, sudah berusaha membunuhku dan membuat pedangku patah.

“Aku mengerti! Sekarang hentikan semua ini!” seruku dengan nada memohon.

Si kakek tersenyum dan menutup buku yang dia pegang. Seketika itu juga kami kembali lagi ke tengah lautan rak buku perpustakaan Glanvnore.

“Hohoho....bagaimana anak muda?” tanya kakek itu lagi.

Bagaimana apanya?! Gerutuku dalam hati.

“Bukankah ini menarik? Hanya dengan membuka lembaran-lembaran kertas ini, kau bisa mendapatkan informasi mengenai sesuatu yang belum pernah kau lihat, atau bahkan tidak pernah terbayangkan sama sekali,” ujar kakek Curio sambil tersenyum lebar. “Tentu saja hanya di Glanvnore saja buku bisa seperti ini. Kalau di duniamu atau dunia lain, informasi yang ada di dalam buku tidak akan melompat keluar dan jadi nyata seperti tadi. Tapi tetap saja. Di dalam setiap buku yang ada di seluruh alam semesta ini, terdapat sebuah dunia di dalamnya. Dunia yang mungkin saja dianggap tidak nyata di alam semesta ini, tapi nyata di alam semesta lainnya.”

Aku semakin bingung. Ini semua benar-benar membuat kepalaku pusing tujuh keliling.

Tapi setidaknya aku paham satu hal.

Dalam setiap buku terdapat sebuah dunia. Dunia yang berwujud rangkaian kata-kata dan terkadang, rangkaian gambar-gambar saja.

Meski aku tidak terlalu suka buku, terkadang aku memang membaca kalau sedang bosan. Harus kuakui, terkadang aku kagum dengan cara seorang penulis menuangkan dunia dalam pikirannya. Malah kadang kupikir para penulis itu bisa melihat dunia yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa.

Sambil berpikiran seperti itu, aku bertekad akan membaca lebih banyak buku lagi. Dengan catatan aku bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup.

“Oke...oke...aku mengerti. Harus kuakui...aku jadi penasaran dengan isi buku-buku yang ada di tempat ini. Tempat ini memang sangat menarik dan menakjubkan, tapi jujur saja...aku ingin pulang,” ujarku sambil memandang ke arah lautan buku yang tersusun rapi di rak. “Apa kau bisa menunjukkan padaku dimana jalan keluarnya?”

Kakek Curio langsung tersenyum ramah ketika aku bertanya seperti itu.

“Pintu keluar? Hohohoho....Mudah saja. Dari tadi pintu itu sudah ada di belakangmu,” ujar si kakek sambil terkekeh.

Aku langsung berbalik dan benar saja. Sebuah pintu raksasa tiba-tiba saja sudah berdiri kokoh di belakangku, seakan-akan pintu itu sudah ada disana sejak lama. Meski aku yakin 100% tadi di belakangku sama sekali tidak ada apa-apa.

Begitu melihat pintu itu, aku langsung menarik nafas lega.

Akhirnya aku bisa pulang. Tapi sebelum aku pulang, aku harus membawa sesuatu dari tempat ini sebagai bukti kalau aku pernah datang ke perpustakaan Glanvnore.

Baru saja aku berniat meminta sebuah buku sebagai kenang-kenangan, si kakek Curio sudah menyodorkan sebuah buku padaku. Seakan-akan dia bisa membaca pikiranku.

“Hohoho...bawalah buku ini sebagai kenang-kenangan. Buku ini berisi informasi menarik yang sangat sesuai untuk duniamu. Ambilah,” ujar kakek Curio sambnil terkekeh. “Dengan buku itu, kau akan mengetahui banyak hal menarik dari duniamu.”

Aku langsung menerima buku itu dengan senang hati.

“Terima kasih banyak...” ujarku sambil menerima buku pemberian kakek Curio. Buku itu sangat tebal dan berat serta bersampul kulit berwarna hitam. Tulisan di sampul buku itu ditulis dengan tinta perak yang sangat kontras dengan warna sampulnya.

Tapi begitu aku membaca tulisan yang tertera pada sampul buku itu, aku terdiam.

Dunia Aglarim: Awal dan Akhir.

“Apa?!” seruku kaget setengah mati.

Aglarim adalah nama dunia tempatku tinggal sekarang. Dan kalau judul buku ini sesuai dengan isinya, maka kalau aku membaca buku ini, aku bisa mengetahui awal terjadinya Aglarim dan tentu saja.....bagaimana dunia ini akan berakhir.

Menyadari bahwa aku sedang memegang sebuah benda yang sangat luar biasa, tanganku tanpa sadar bergetar karena takut sekaligus gembira.

Ini.....ini benar-benar harta karun sekaligus senjata mematikan! Seruku dalam hati.

“Kakek apa benar aku boleh....menerima.....buku........ini?!”

Ucapanku melambat ketika aku mengalihkan pandanganku dari buku yang kupegang. Seketika itu juga aku langsung melongo.

Bagaimana tidak? Tahu-tahu aku sudah berada di tengah padang tandus, tempatku tidur semalam. Lautan rak buku yang ada di dalam perpustakaan Glanvnore sudah tidak terlihat lagi, atau dengan kata lain, aku sudah tidak berada di dalam perpustakaan gaib itu.

Aku berdiri mematung cukup lama sampai hembusan angin dingin membuatku tersadar.

Apa ini semua mimpi?! Seruku dalam hati. Tapi sayangnya berat buku Dunia Aglarim: Awal dan Akhir yang sedang kupegang membuatku sadar kalau ini semua bukan mimpi.

 Sekali lagi aku menatap ke buku yang sedang kupegang.

“Oke....saatnya aku pulang dan mulai membaca buku ini,” ujarku pada diriku sendiri.

****

Sudah lewat 20 tahun sejak aku berhasil mencapai perpustakaan Glanvnore dan mendapatkan harta karun berupa sebuah buku tebal.

Meski sudah kubaca entah berapa ribu kali, tetap saja aku kagum sekaligus takut dengan isi buku yang kuterima dari kakek Curio itu.

Kakek Curio memang benar tentang keberadaan sebuah dunia di dalam sebuah buku.

Buku berjudul Dunia Aglarim: Awal dan Akhir ini benar-benar memuat segala sesuatu mengenai duniaku sendiri. Mulai dari bagaimana dunia ini berawal, hingga bagaimana dunia ini akan berakhir. Semuanya tertulis dengan singkat, padat, namun sangat jelas hingga terasa tidak masuk akal. Tidak seperti buku ramalan yang isinya belum tentu akan terjadi...semua hal yang tertulis di buku yang kumiliki ini benar-benar akan terjadi.

Kalau saja aku belum pernah masuk ke perpustakaan Glanvnore, aku pasti menganggap semua yang tertulis di buku ini tidak nyata. Sayangnya tidak banyak orang yang percaya dengan isi buku yang berhasil kubawa pulang dari perpustakaan gaib itu.

Hampir semuanya menganggapku gila atau menganggap isi buku ini hanya bualan belaka.

Yah...aku tidak menyalahkan mereka.

Yang pasti sejak kembali dari perpustakaan Glanvnore, hidupku berubah. Aku berhenti jadi petualang dan putar haluan menjadi seorang pedagang buku. Kupikir ini pekerjaan yang sangat menarik, karena selain bisa mendapatkan uang aku jadi bisa mengetahui lebih banyak lagi dunia di dalam buku-buku yang kujual.

Tapi ada satu pertanyaan yang terus mengusikku selama puluhan tahun ini. Pertanyaan ini muncul setelah aku merenungi perkataan kakek Curio, sang penjaga perpustakaan Glanvnore.

Aku ingat sekali si kakek tua itu berkata begini.

“Di dalam setiap buku yang ada di seluruh alam semesta ini, terdapat sebuah dunia di dalamnya. Dunia yang mungkin saja dianggap tidak nyata di alam semesta ini, tapi nyata di alam semesta lainnya.”

Gara-gara itu, aku jadi punya satu pertanyaan besar yang mungkin tidak akan terjawab oleh siapapun di dunia ini.

Apakah dunia tempatku tinggal ini memang sebuah dunia ‘nyata’....ataukah dunia bernama Aglarim beserta isinya ini hanyalah sebuah dunia dalam sebuah buku?

Pertanyaan itu terus terngiang dalam kepalaku ketika aku mendongak ke atas, ke arah siapapun yang mungkin sedang ‘menyaksikan’ informasi mengenai diriku dan duniaku ini.

Ke arah pembaca lain, di dunia lain, di alam semesta lainnya.

Kepada kalian....kuucapkan: Selamat Membaca,  ujarku dalam hati sambil tersenyum lebar.

****

~FIN~

 

 

 

Thursday, August 18, 2011

Pembela Kebenaran

Pembela Kebenaran

 

Hai.

Namaku Andrian Hermansyah.

Kali ini aku ingin menceritakan sebuah pengalaman menakjubkan yang pernah kualami dalam hidupku. Pengalaman yang tidak pernah kulupakan dan tentu saja, telah mengubah hidupku selamanya.

Oke. Biar tidak terlalu banyak basa-basi, sebaiknya langsung saja kumulai ceritanya.

Seperti biasanya, hari itu aku juga melakukan pekerjaan yang sudah kugeluti selama 5 tahun terakhir ini. Pekerjaan yang biasanya tidak akan dilakukan oleh orang biasa. Pekerjaan yang terkadang sangat berbahaya dan menantang maut, sehingga satu kesalahan kecil saja bisa membuatku terbang ke surga...atau ke neraka...

“Hari ini akan kupastikan kau kalah, hai Masked Knight!”

Di hadapanku sekarang, berdiri seekor makhluk yang tampaknya merupakan campuran antara manusia, bebek, dan ikan lele. Jelas sekali makhluk itu bukan sesuatu yang bisa kalian temui setiap hari, tapi bagiku, itu adalah sosok makhluk yang biasa berdiri menantangku.

“Aku tidak akan pernah kalah dari makhluk-makhluk jahat sepertimu, dasar utusan Death Slum!” balasku sambil memasang pose siap tempur. “Sekarang sebelum kau kuhajar, lepaskan wanita itu!”

Aku menunjuk ke arah seorang wanita kantoran yang didekap oleh si monster bebek-lele dengan tangannya yang bebulu dan berlendir. Wanita itu tampak sangat ketakutan dan tampak akan pingsan sewaktu-waktu. Wajar saja, tidak ada orang waras yang tidak ketakutan kalau bertemu, apalagi sampai disandera oleh monster sejelek itu. Sungguh jelek nasib wanita kantoran itu hari itu.

“Ahahahaha....!!!! Tidak akan kulepaskan!” balas si monster bebek-lele. “Wanita ini calon yang sempurna untuk tumbal bagi Death Slum!”.

Aku menghela nafas.

Selalu saja begini!

“Kalau begitu! Bersiaplah untuk menghadapi kemarahanku!”

Aku berseru sambil berlari ke arah si monster. Monster bebek-lele itu tampak terkejut karena aku mengabaikan wanita kantoran yang sedang dia sandera. Tapi tentu saja aku tidak berniat menghajar monster itu tanpa menyelamatkan si wanita.

Dengan gerakan cepat, aku menendang kepala si monster bebek-lele, lalu menyambar si wanita dari dekapan si monster dan segera membawanya menjauh.

“Pergilah!” perintahku sambil mengibaskan tangan. Si wanita kantoran langsung mengangguk dan mengambil langkah seribu.

Begitu aku yakin wanita itu sudah aman, aku kembali berpaling ke arah si monster.

Habis kau sekarang!

Diam-diam aku tersenyum dibalik helm berat dan tebal yang kukenakan.

Tanpa basa basi aku mengambil pose untuk melancarkan serangan maut. Sebelum si monster bebek-lele sempat menghindar atau menyerang, aku segera berlari ke arah monster jelek itu dan melompat.

“Terima ini!! TENDANGAN MAUT~!!!”

Aku berseru nyaring sambil melancarkan tendangan andalanku ke arah dada si monster bebek-lele. Tentu saja tendanganku kena telak dan membuat si monster terjengkang ke belakang, lalu jatuh terguling di tanah. Monster bebek-lele itu tampak mengerang kesakitan, lalu terdiam.

Mati kau! Ujarku dalam hati.

Aku tahu tendanganku itu pasti akan membuat monster apapun yang berhadapan denganku, tidak berkutik setelah mencicipi rasanya.

Begitu si monster bebek-lele berhenti bergerak, aku langsung berbalik memunggungi tubuhnya yang tergeletak di tanah.

Sambil berkacak pinggang dan menengadah ke arah langit, aku berseru keras “Kejahatan akan selalu takluk oleh kebenaran! Selama ada kejahatan, aku, Masked Knight, tidak akan berhenti berjuang hingga titik darah penghabisan.”

Ya. Aku tahu. Memang kata-kataku itu terdengar sangat...sangat memalukan, belum ditambah lagi poseku yang terlihat bodoh ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus mengatakan itu dan berpose seperti ini, setiap kali aku berhasil mengalahkan lawan-lawanku.

Yak ini bagus sekali! Lagi-lagi lancar!

Dalam hati aku benar-benar gembira karena semua ini telah berakhir.

****

Aku masih berdiri dengan pose memalukan itu selama beberapa menit sampai akhirnya aku mendengar suara tepukan keras dan seruan.

“CUT~!!!!”

Aku langsung mendesah dan berbalik menghadapi kru film yang menyambutku dengan tepukan tangan. Aku membalas tepukan tangan mereka dengan lambaian dan segera berjalan menghampiri si monster bebek-lele yang sedang melepas kepalanya.

“Kerja bagus seperti biasa,” ujar pria di balik kostum monster jelek itu.

Aku ikut membuka helm berat dan pengap yang kukenakan, kemudian balas tersenyum ke arahnya.

“Kau juga. Kerja bagus, Rudi,” balasku sambil membantunya berdiri. Kostum monster bebek-lele itu memang berat  dan tebal sehingga dia agak sulit berdiri, tapi berkat itu dia juga hampir tidak merasakan sakit ketika aku sungguh-sungguh menendangnya tadi.

Hah? Apa?

Kalian pikir aku ini benar-benar seorang pembela kebenaran berkekuatan super bernama Masked Knight?

Jangan konyol!

Yang seperti itu sih hanya ada di film dan anime saja!

Mana ada manusia super seperti itu di dunia ini!

Aku ini bekerja sebagai seorang suit aktor, seorang pemeran pengganti yang mengenakan kostum pahlawan super dan memperagakan adegan-adegan aksi yang kadang sangat berbahaya. Ah. Kadang-kadang aku juga seperti si Rudi, ganti mengenakan kostum monster kalau Rudi sedang memerankan Masked Archer, rekan sekaligus rival dari Masked Knight.

“Ada rencana apa sepulang kerja?” tanya Rudi sambil berkutat melepaskan diri dari kostum monster konyolnya.

Sambil membantu menarik kostum monster yang terlalu ketat menempel di tubuhnya, aku menjawab “Tidak ada. Memangnya kenapa?”

“HAH! Akhirnya lepas juga!” seru Rudi ketika dia akhirnya bisa melepaskan diri dari kostumnya. Dia lalu menjawab pertanyaanku. “Eh...gimana kalau kita mampir ke warteg Bu Joni di samping stasiun nanti malam. Aku lapar nih.”

Sambil bercanda, aku menepuk kepalanya.

“Bukannya tadi kau baru saja menghabiskan 2 box jatah makan siang kita?” ujarku sambil nyengir lebar. “Kalau lebih gendut dari ini, nanti kau benar-benar nyangkut di dalam kostum monster atau pahlawanmu loh.”

Rudi balas menyikut pinggangku sambil tertawa. Tentu saja aku tidak merasakan sikutannya karena pinggangku masih tertutup kostum armor Masked Knight yang terbuat dari plastik tebal dan berat.

 “Nah. Ayo kita pulang!” ajak Rudi sambil menenteng kostum monster bebek-lele yang dikenakannya tadi.

Aku tersenyum dan berjalan mengikutnya, sambil berusaha melepaskan kostumku yang juga berat dan pengap.  

Makan di warteg Bu Joni di samping stasiun ya? Sudah lama juga tidak mampir disana. Kuharap nanti bakwan udang dan lalap jengkolnya masih ada.

****

Baiklah.

Seharusnya malam itu aku dan Rudi bisa makan di warteg Bu Joni dengan tenang dan damai. Tapi sepertinya aku sedang dihinggapi pembawa sial. Aku juga tidak ingat semalam aku mimpi apa hingga aku mengalami hal sesial hal yang kualami waktu itu.

Baru saja kami berdua mulai makan di warteg yang cukup besar itu, tiba-tiba saja 3 orang pria berotot dan bertampang sangar masuk ke dalam warteg. Tadinya sih aku cuek-cuek saja karena preman seperti mereka memang banyak mangkal di sekitar stasiun. Mereka memang biasa makan di warteg-warteg yang banyak dibuka di sekitar stasiun. Tapi kali ini ketiga orang pria itu sama sekali tidak berniat untuk makan.

Baru saja mereka masuk ke dalam warung makan Tegal itu, tiba-tiba dua diantara mereka langsung mengeluarkan pisau lipat yang disembunyikan di balik jaket kulit mereka.

“Semuanya diam di tempat! Kalau ga ada yang mau mampus, jangan ada yang macam-macam!!”

Salah seorang pria sangar yang berkepala botak berseru pada semua pelanggan warteg itu sambil mengacung-ngacungkan pisaunya, siap untuk menyembelih siapa saja yang tidak mematuhi ancamannya.

Oh...sial!

Aku mengumpat dalam hati sambil memandangi sekelilingku. Semuanya terdiam dan tampak ketakutan. Seorang tukang ojek yang baru saja akan menyantap makanannya bahkan membeku ditempat dengan sendok setengah jalan memasuki mulutnya.

Tidak ada yang berani bergerak ketika ketiga orang bertampang sangar itu mulai mengancam satu persatu pelanggan untuk menyerahkan semua harta bendanya.

“Ssst....Andri....gimana nih?” bisik Rudi yang duduk di sampingku. Dia juga tidak berani bergerak, takut ditusuk atau disabet oleh pisau para perampok itu.

“Diam saja! Bersyukurlah ini bukan hari gajian, jadi uang di dompet kita tidak banyak...kalau handphone....ah...relakan saja ponsel jangkrik milikmu itu!” bisikku sambil melirik ke arah para perampok. Rudi tampak jengkel tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan tampang jengkel campur pasrah, Rudi mengeluarkan semua miliknya. Mulai dari ponsel tua, dompet tebal berisi bon tagihan, dan jam tangannya.

Aku juga melakukan hal yang sama. Hanya saja dompetku tidak tebal karena bon tagihan. Meski uangku tidak banyak dan ponselku bukan ponsel mahal, tapi tetap saja jengkel sekali rasanya melihat orang lain dengan seenaknya merampas hartamu.

Sialnya justru di saat seperti inilah aku benar-benar berharap kalau diriku adalah Masked Knight. Dengan kekuatan super yang dimiliki tokoh khayalan itu, aku pasti bisa dengan mudah membekuk para perampok itu.

“Kyaa~! Hentikan!!”

Aku terkesiap ketika mendengar jeritan seorang gadis. Dengan segera aku menoleh dan melihat ketiga perampok bertampang sangar itu mengelilingi seorang gadis cantik. Mereka tampaknya tidak puas dengan harta yang dimiliki gadis itu dan berniat berbuat yang tidak-tidak.

Nekat juga mereka. Padahal warteg ini berada di pusat keramaian. Kalau gadis itu mulai menjerit-jerit, sudah pasti akan ada banyak warga yang datang menyerbu sambil membawa berbagai macam senjata.

“DIAM! Jangan menjerit lagi kalau ingin wajah manismu itu tetap utuh!!”

Salah seorang perampok itu mengancam si gadis dengan menempelkan pisaunya ke wajah gadis malang itu. Seketika itu juga si gadis langsung terdiam. Air mata menggenangi wajahnya ketika si botak, yang sepertinya pimpinan ketiga perampok itu, mulai menggerayangi tubuhnya.

Aku menggeram dalam hati dan mengepalkan tanganku dengan dipenuh kebencian.

Benci pada diriku sendiri karena tidak punya cukup keberanian untuk menghentikan mereka. Aku hanya bisa terdiam dan menyaksikan gadis malang itu mengalami hal yang seharusnya tidak dialami gadis manapun.

Tiba-tiba saja gadis itu memandangiku.

Tatapan mata dan wajahnya yang terlihat benar-benar ketakutan membuat jantungku berhenti berdetak sedetik, lalu berdetak lagi lebih keras. Adrenalin mulai membanjiri darahku. Membuat emosiku mulai memanas sekaligus membuat otakku mulai tidak bisa berpikir dengan baik. Sebelum akal sehatku

“Baiklah! Sudah cukup! Dasar perampok brengsek!!!”

Tiba-tiba saja aku berdiri sambil menggebrak meja, membuat piring dan gelas yang ada di atas mejaku berderak nyaring. Suara itu membuat semua orang di dalam warteg, termasuk ketiga perampok itu memandangiku dengan tatapan marah.

“Apa katamu!!?”

“Kubilang... Sudah cukup! Dasar perampok brengsek!!!”

Begitu aku berkata begitu, ketiganya langsung berbalik dan melepaskan si gadis malang yang sedang mereka permainkan. Lalu kutu ampus, HA!?"ya, kupret! KAu ngiku dengan pisau teracung. Dengan gaya sok garang, pria itu menepuk pipiku, masih sambil memesalah seorang dari tiga perampok itu langsung mendatangiku dengan pisau teracung. Dengan gaya sok garang, pria itu menepuk pipiku, masih sambil memegangi pisaunya di dekat wajahku.

“Jangan coba-coba ya, kutu kupret! Kau mau mampus? HA!?”sekn marah.

teg, termasuk ketiga perampok itu mem gelas yang ada di atas mejaku berderak nyaring. Suara itu

Peraturan pertama dalam pertarungan melawan orang bersenjata: ‘Jangan takut dengan senjatanya!’

Tanpa pikir panjang aku menepis tangan si perampok yang memegang pisau di depanku, kemudian mengangkap dan memuntir lengannya hingga pisaunya terlepas dari genggaman. Tanpa berhenti bergerak aku menjegal kaki preman itu hingga dia kehilangan keseimbangan. Tentu saja aku tidak langsung melepaskan tangannya, aku justru membalikkan tubuhku, lalu melakukan judo throw hingga hingga tubuh perampok amatir itu membentur meja dan tidak sadarkan diri.

“Keparat!!!”

Si botak yang berbadan paling besar diantara teman-temannya, langsung menyerbu ke arahku sambil mengayun-ayunkan pisaunya. Dia tampak tersenyum penuh kemenangan karena merasa yakin bisa mengalahkanku yang tidak bersenjata.

Salah besar!

Peraturan kedua dalam pertarungan melawan orang bersenjata: ‘Kalau kau tidak punya senjata, ciptakan sendiri senjatamu!’

Melihatnya menyerbu ke arahku sambil mengayunkan pisaunya ke arahku, aku langsung mundur selangkah dan mengambil piring makanku. Lalu tanpa berpikir, aku melemparkan piring kaca, yang masih berisi campuran lalap jengkol dan bakwan udang itu, ke arah lawanku.

Tentu saja perampok botak itu sama sekali tidak menyangka akan dilempar dengan piring, sehingga dia tidak sempat menghindar.

Piring kaca itu pecah tepat di kepala si botak itu dan membuatnya menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya. Pisau yang tadi dia genggam tanpa sadar dia lepaskan begitu saja ketika dia menahan rasa sakit akibat dilempar piring makan.

Dasar bodoh! Ujarku dalam hati melihat tingkah lawanku.

Melihat kesempatan emas itu, aku langsung melesat ke depan dan mendaratkan sebuah tendangan telak ke dahi si perampok botak itu. 

“Makan nih!!! TENDANGAN MAUT~!!!!”

Tanpa sadar aku menyerukan seruan khas ala Masked Knight ketika melayangkan serangan penghabisannya.

Tendanganku membuat si perampok botak terjungkal ke belakang, membentur tembok, dan merosot ke lantai. Tentu saja dia sudah tidak sadarkan diri ketika dia terjungkal kebelakang. Meski kekuatan tendanganku tidak sehebat Masked Knight, sang tokoh pahlawan khayalan itu, tapi aku tahu tendanganku lebih dari cukup untuk membuat lawanku itu tidur pulas 2 hari 2 malam.

Huh! Rasakan! Ujarku sambil mendengus ke arah si perampok botak yang terkapar di lantai.

“AWAS!!”

Seruan dari belakang membuatku tersentak dan berputar, hanya untuk bertemu dengan tinjuan keras dari satu-satunya lawanku yang tersisa.

Untung saja hanya tinjuan. Kalau itu pisau, aku pasti sudah bertemu dengan penciptaku. Biar begitu, tinju perampok itu membuatku terlempar ke belakang dan menghantam meja. Membuat meja kayu itu jatuh ke lantai beserta apapun yang ada diatasnya.

“Keparat!!! Mampus kau!!!”

Si perampok itu lalu lalu mengambil pisau yang dijatuhkan temannya dan menerjang ke arahku yang masih berusaha bangkit. Aku bisa melihat serangannya, tapi tubuhku tidak cukup cepat untuk bereaksi.

Sial! Tidak sempat! 

Aku nyaris pasrah ketika melihat pisau berkilat itu mengarah ke arah dadaku.

Berhubung aku belum pernah ditusuk, aku tidak tahu seperti apa rasanya. Tapi kurasa itu  bakal sakit sekali. Dalam hati aku berdoa semoga rasanya tidak sesakit yang kubayangkan, karena aku sudah tidak bisa menghindar lagi.

“AGH!??”

Tiba-tiba si perampok itu terhempas ke belakang, ketika Rudi menghantam kepalanya dengan botol besar kecap dan saus tomat. Kedua botol kaca itu langsung pecah di kepala si perampok dan membuatnya pingsan seketika. Perampok malang itu langsung ambruk di lantai dengan wajah berlumur kecap, saus tomat, dan darahnya sendiri.

“Waw! Nyaris saja!”

Rudi menghela nafas lega sambil melemparkan potongan botol yang masih dia pegang. Dia lalu menoleh ke arahku.

“Tidak apa-apa?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya.

Aku mengangguk dan menerima uluran tangannya. Setelah aku berdiri tegak, aku langsung menoleh ke arah si gadis malang yang tadi nyaris jadi korban pelecehan seksual.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku sambil berjalan ke arahnya.

Gadis itu masih tampak shock dan memadangiku dengan tatapan bingung. Baru beberapa saat kemudian gadis itu menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

“Apa?” tanyaku spontan.

“KEREN~!!”

Tiba-tiba gadis itu berseru sambil berdiri, dan tanpa kuduga sama sekali, langsung memelukku. Membuat wajahku langsung memerah seketika dan jantungku nyaris loncat keluar dari mulut.

Kalau aku punya penyakit jantung, mungkin aku akan mati sekarang.

“Curang!”

Aku mendengar Rudi berseru protes di belakangku.

Sepertinya si gadis itu mendengar seruan Rudi dan dia langsung melepaskan pelukannya. Berbeda denganku yang tampak malu setengah mati, dia malah terlihat sangat bersemangat. Gadis itu lalu menggenggam kedua tanganku, sekali lagi dia mengulangi ucapannya.

“KEREN! Keren sekali!”

Aku langsung berpikir gadis itu jadi gila gara-gara nyaris diperkosa. Biasanya dalam situasi seperti ini, gadis yang baru saja diperlakukan seperti itu akan pingsan, menangis, atau paling tidak tampak ketakutan. Tidak langsung bersemangat seperti gadis yang satu ini.

Dan lagipula....apanya yang keren?

“Tendangan barusan itu...bukannya itu Jurus Tendangan Maut milik Masked Knight? Luar biasa sekali kau bisa menggunakannya untuk mengalahkan perampok-perampok itu!” puji si gadis.

HA?!

Baiklah...Aku makin bingung.

“Kau yakin kepalamu tidak apa-apa?”

Aku malah bertanya pada si gadis.

Gadis itu balas mengangguk dengan penuh semangat.

“Tentu saja tidak apa-apa!” balas si gadis. “Ngomong-ngomong! Namaku Ayu Permata. Kau pasti penggemar berat serial Masked Knight. Sampai-sampai kau hapal dengan gerakannya seperti itu!”

Aku terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Ucapan dan tingkah gadis ini benar-benar tidak masuk akal!

“Benar nona! Temanku si Andri ini memang penggemar Masked Knight. Lebih dari sekedar penggemar malah. Dialah aktor dibalik kostum pahlawan super itu! Ah! Ngomong-ngomong, perkenalkan, aku Rudi. Aku ini aktor dibalik kostum Masked Archer loh!”

Sebelum aku sempat mengatakan apapun, Rudi sudah memperkenalkan dirinya dan diriku, dengan menambahkan kenyataan bahwa kami berdua adalah seorang suit actor. Aku ingin sekali menghantamkan piring ke kepala temanku itu, tapi kuurungkan niatku karena Ayu, si gadis aneh itu langsung mengguncang-guncangkan tanganku yang sedari tadi dia genggam dengan erat.

Wajahnya yang berbinar-binar membuatnya terlihat sangat manis di mataku. Sekali lagi wajahku langsung memerah karena malu.

“Hebat! Hebat! Aku ini penggemar berat aksimu!” seru Ayu sambil menatapku lekat-lekat. Dia langsung menambahkan dengan nada bersemangat “Tidak pernah kubayangkan suatu hari aku akan diselamatkan oleh pemeran kostum Masked Knight yang kukagumi!!”

Aku tidak tahu lagi harus berkata apa pada gadis yang satu ini.

Satu hal yang langsung kusadari dari si gadis.

Dia itu sepertinya maniak berat tokusatsu, atau film-film superhero lainnya.

“Ehm.....maaf menganggu....tapi perampok-perampok ini mau diapakan?”

Aku, Rudi dan Ayu langsung menoleh dan melihat bu Joni, si pemilik warteg ini berdiri kebingungan sambil memandangi ketiga perampok yang terkapar tidak sadarkan diri di lantai.

“Panggil polisi saja. Biar mereka yang urus,” ujarku sambil berjalan dan hendak mengambil ponselku yang tergeletak diatas meja, bersama barang-barang milik pelanggan yang lain.

“Terima kasih karena telah menyelamatkanku. Kau benar-benar seorang Pembela Kebenaran!”

Ucapan tulus penuh semangat dari Ayu membuatku terpaku ditempat.

Aku? Pembela Kebenaran?..... Tidak buruk juga.

****

Selesai. Sekian ceritaku.

Apa?

Kau ingin tahu kelanjutannya?

Baiklah.....tapi berhubung ceritanya akan panjang sekali....jadi kusingkat saja.

Intinya setelah pertemuanku yang benar-benar tidak terduga dengan Ayu, aku jadi jatuh cinta dengan gadis nyentrik itu. Terutama setelah Ayu sering sekali datang berkunjung ke lokasi syuting dan menggangguku. Meski Ayu seringkali bertingkah kekanakan dan jalan pikirannya kadang tidak masuk akal, tapi dia gadis yang baik dan penuh perhatian.

Yah. Berkat dia juga aku jadi tetap semangat menjalani pekerjaanku sebagai suit actor. Meski dulu aku sempat merasa malu karena pekerjaanku ini tidak normal dan menurutku tidak ‘bergengsi’, tapi sekarang aku menikmatinya.

Akhirnya setelah berhubungan selama kurang-lebih 1,5 tahun, aku memberanikan diri melamar Ayu.

Tidak terduga, gadis itu langsung menerima lamaranku tanpa pikir panjang dan tidak lama kemudian kami pun menikah. Dari pernikahan itu, kami dikaruniai 2 orang putra yang kini sudah berumur 6 tahun dan 4 tahun.

Saat ini aku benar-benar bahagia. Hidupku terasa sudah lengkap sekarang.

Tapi tahukah kalian apa yang membuatku paling bahagia?

Ketika aku menceritakan kisah ini kepada kedua anakku dan bertanya “Kalau kalian sudah besar, kalian mau jadi apa?”

Tahukah kalian apa jawaban mereka?

Kedua anakku itu menjawab dengan riang “Aku ingin jadi Pembela Kebenaran seperti ayah~!”

Kalian tidak akan bisa membayangkan betapa bangganya aku saat itu.

****

~FIN~

Monday, August 15, 2011

Agustusan 2011: Pahlawan Dibalik Jeruji Besi

Agustusan 2011: Pahlawan Dibalik Jeruji Besi

 

Tanggal tujuh belas Agustus.....

Tanggal yang bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Tanggal yang bahkan dianggap sakral oleh sebagian orang dan disebut-sebut memiliki banyak makna selain sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Tanggal yang merepresentasikan hasil perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan yang telah direnggut oleh bangsa asing selama lebih dari 3,5 abad.

Tanggal yang menandakan bahwa pada akhirnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang bebas, lepas dari tekanan para penjajah rakus yang bercokol bagai parasit di atas bumi pertiwi.

Setidaknya itulah makna tanggal 17 Agustus bagi hampir seluruh warga yang tinggal di zamrud khatulistiwa ini.

Tapi tidak bagiku.

Bagiku tanggal 17 Agustus adalah momok menakutkan yang ingin sekali kuhindari. Kalau bisa, aku ingin sekali menghapuskan angka 17 dari kalender bulan Agustus, meski aku sadar itu tidak mungkin terjadi. Kecuali kalau aku pergi ke masa lalu dan membunuh atau mengancam siapapun yang membuat kalender itu agar menghapus tanggal 17 dari bulan Agustus. Tapi sekali lagi aku menyadari itu hanyalah khayalan belaka. Tidak mungkin jadi kenyataan.

Aku menghela nafas lagi sambil memandang langit di balik batang-batang baja yang kokoh membatasi antara diriku dan dunia luar.

Sudah hampir 3 bulan ini aku tinggal di tempat ini. Tempat yang bagi sebagian orang merupakan sebuah momok menakutkan, hingga mereka bersedia menghalalkan segala cara untuk menghindari tempat ini. Tapi tempat ini juga merupakan semacam ‘villa pribadi’ bagi sebagian orang yang punya cukup uang untuk menikmati fasilitas tidak masuk akal yang seharusnya tidak ada disini.

Ya.

Tempat ini bernama penjara.

Dan karena aku ada disini, tentu saja itu artinya aku adalah seorang narapidana. Tapi aku bukan seorang narapidana biasa....aku adalah seorang terpidana mati.

MATI.

Kata-kata yang menakutkan bagi setiap orang, termasuk diriku.

Memang semua orang pada akhirnya akan mati, tapi akan lebih tidak menakutkan kalau kita tidak tahu kapan kita akan mati. Kalau kita sudah tahu kapan kita akan mati....yah......rasanya luar biasa menakutkan.

Mati.

Ya.

Pada tanggal 17 Agustus nanti nyawaku akan berakhir.

Berhubung di Indonesia tidak ada hukuman gantung, sudah bisa dipastikan aku tidak akan berakhir di tiang gantungan. Mungkin nyawaku nanti akan berakhir di tangan regu tembak atau dokter yang akan menyuntik mati diriku.

Kalau bisa sih...aku pilih mati disuntik karena sepertinya aku tidak perlu lama-lama merasa sakit....atau mungkin aku tidak akan merasakan sakit sama sekali.

Sayangnya aku tidak bisa memilih jalan kematianku sendiri. Pengadilan yang akan memutuskan bagaimana aku mati nantinya.

Untuk kesekian kalinya hari ini, aku kembali menghela nafas panjang.

Kalau sudah begini...rasanya hidup juga sia-sia. Apapun yang kulakukan sekarang rasanya percuma saja karena toh 5 hari lagi, aku akan mati.

Sekilas aku melirik ke arah kalender yang tergantung di sel tahananku yang kecil dan gelap.

Tanggal 12 Agustus....ya.....hidupku tinggal 5 hari lagi.

Kalau berita acara pengadilan yang kuterima itu benar....maka aku akan mati pada tanggal 17 Agustus 2011, tepatnya pada pukul 18.00, tidak lama setelah matahari terbenam.

Hah....lucu sekali kalau nyawaku harus berakhir akibat suatu perbuatan yang tidak pernah kulakukan.

Terorisme....teroris....

Itulah stigma yang dilekatkan pada diriku ketika mereka menyerbu rumahku dan memenjarakan diriku. Kemudian tidak lama kemudian...mereka memutuskan untuk menghukum mati diriku.

Hanya karena sebuah paket nyasar yang sampai di rumahku 3 bulan yang lalu. Harusnya sejak awal aku langsung mengembalikan paket itu ke perusahaan jasa pengiriman barang yang mengirimnya. Tapi apa boleh buat....kemalasanku waktu itu berakibat fatal.

Aku sama sekali tidak tahu paket nyasar itu berisi ratusan butir amunisi dan beberapa kilogram bahan peledak berdaya ledak tinggi.

Gara-gara menerima paket itu, aku jadi dikait-kaitkan dengan jaringan terorisme yang sedang marak menjalankan aksinya di Indonesia. Memang wajar orang berpikiran seperti itu, tapi jadi tidak wajar kalau aku tiba-tiba saja dituduh menjadi dalang dibalik peristiwa pemboman yang mengakibatkan nyawa puluhan orang melayang beberapa bulan yang lalu.

Media massa juga tidak membantu. Mereka mengipasi berita dan rumor-rumor yang beredar di masyarakat mengenai diriku hingga pada akhirnya orang-orang mengenalku sebagai seorang teroris ahli bom.

Hah! Padahal aku sama sekali tidak tahu menahu soal bom dan alat-alat pembunuh semacam itu. Toh aku ini hanya tamatan SMA yang bekerja sebagai buruh pabrik. Tahu apa aku soal bom, terorisme, radikalisme, dan semua isme-isme lainnya? Kalaupun aku tahu, aku tidak peduli. Yang kupedulikan tiap hari adalah bagaimana aku bisa makan besok tanpa diusir dari rumah kosku.

Sekali lagi aku menghela nafas panjang.

Menggerutu, mengumpat, mengomel, atau berargumen sendiri sudah tidak ada gunanya. Apapun yang kulakukan dan kukatakan, hukuman itu sudah ditetapkan. Kecuali ada suatu keajaiban....aku hampir pasti tidak akan bisa melihat matahari terbit pada tanggal 18 Agustus nanti.

“Kenapa murung?”

Aku menoleh karena ada yang memanggil dan berhadapan dengan teman sesama narapidana di penjara tempatku dikurung.

Diantara semua narapidana di penjara ini, dialah satu-satunya orang yang menyapaku dan mau berbicara denganku. Semua narapidana yang lain berusaha menghindar dan enggan berinteraksi dengan orang yang nyawanya tinggal kurang dari seminggu ini. Hanya narapidana bernama Alvin ini yang sering berbicara denganku.

“Gimana ga murung? Bentar lagi gue bakalan mokat....” balasku sambil bersandar ke pintu sel yang dingin dan keras. “Emangnya enak mikirin nyawa gue bakal dicabut 5 hari lagi?”

“Yah....aku bisa paham sih....tapi kan masih ada waktu 5 hari lagi. Siapa tahu pengadilan berubah pikiran dan akhirnya membebaskanmu,” balas Alvin dengan santainya. Kadang-kadang aku ingin sekali menghajar orang ini karena sifatnya yang santai dan cengengesan itu. Lagipula...waktu 5 hari itu akan terasa berlalu cepat sekali kalau kau ada dalam posisiku.

“Loe kira gue ini tajir mampus sampe bisa nyuap hakim dan jaksa pengadilan?!” bentakku sambil memukul jeruji besi di belakangku. “Cuma duit yang bisa bikin gue bebas dari semua fitnah ga masuk akal ini!! Dan GUE INI KAGAK PUNYA DUIT, TAHU!!!!”

Alvin mengangkat kedua tangannya dan tersenyum kecut mendengar seruanku.

Tapi apa yang kukatakan ini tidak salah. Sejak awal aku ditahan, pengadilan seakan-akan berusaha memastikan kalau aku adalah seorang teroris, seorang jenius gila pelaku pemboman, seorang bajingan yang seharusnya mati di tiang gantungan....atau di lapangan tembak.....Apapun yang kukatakan, saksi apapun yang dihadirkan, fakta apapun yang ditampilkan, sama sekali tidak membuat putusan pengadilan goyah. Tentu saja kecuali aku punya cukup uang untuk memutar balikkan fakta pengadilan dan menggoyahkan putusan absolut mereka.

Tapi berhubung aku tidak punya uang....semua perjuanganku sia-sia saja. Seakan-akan aku ini cuma tumbal untuk memuaskan rasa ‘keadilan’ masyarakat atau segelintir orang saja. Sama sekali tidak ada keadilan untukku.

“Yah...kalau sudah begini sih kamu cuma bisa berdoa saja,” ujar Alvin lagi sambil duduk di lantai, tepat di sampingku. Pria bertampang menyebalkan itu lalu mendongak ke arahku. “Setidaknya kau sudah sempat berusaha mati-matian untuk membela diri. Kalau itu semua tidak berhasil...yah...apalagi yang bisa kau lakukan selain berdoa pada Tuhan?”

Aku menggeram lagi dan ingin sekali mengamuk. Tapi aku juga sadar Alvin benar.

Kekuatan apalagi yang kumiliki untuk mempertahankan nyawa dan kemerdekaanku kalau sudah begini? Tidak ada. Satu-satunya kekuatan yang bisa kuandalkan saat ini hanyalah kekuatan dari Tuhan dan mentalku sendiri.

Kalau kupikir-pikir....hebat juga aku tidak jadi gila atau memutuskan bunuh diri setelah semua yang kulalui ini. Aku baru tahu sekarang kalau aku bermental baja. Mungkin daripada buruh pabrik, dari dulu aku sebaiknya melamar jadi tentara saja.

Yah......tapi itu lagi-lagi hanyalah angan-angan kosong.

Toh sekali lagi aku mengingatkan diriku sendiri.....nyawaku tinggal 5 hari lagi.

“Tapi aku tetap berpendapat kalau kau belum boleh menyerah hingga tiba waktu eksekusi itu.”

Tiba-tiba Alvin berbicara lagi sambil berdiri dan memandang keluar jendela sel yang dilapisi jeruji baja yang kokoh dan tebal. Ketika melakukan itu, sekilas dia terlihat begitu sedih, aku sempat penasaran kenapa. Tapi ucapannya berikutnya membuat rasa penasaranku menguap begitu saja.

“Sifat pantang menyerah, gigih, dan percaya pada kekuatan Tuhan adalah 3 sifat yang dulu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka. Bukankah begitu?” tanya Alvin sambil nyengir lebar. “Sebagai bangsa Indonesia harusnya kau juga punya sifat seperti itu dong! Mau jadi apa bangsa ini kalau orang-orangnya sepertimu semua? Apa kata dunia?”

Aku mendengus kesal dan menyikut pinggang pria itu.

“Jiaaah! Emangnya loe kira lo siapa? Bung Karno? Sok banget loe nyeramahin gue kayak gitu!” balasku sambil tertawa pelan. “Loe harusnya kagak jadi napi ‘vin! Loe harusnya jadi jendral atau politisi kalo loe jago ngomong kayak gitu!”

Alvin lalu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku dan aku ikut tertawa bersamanya. Dia lalu berdiri dan pergi meninggalkanku sambil melambaikan tangannya dengan riang.

Aku tersenyum tipis.

Seperti kata Alvin tadi. Aku belum boleh menyerah kecuali kalau aku sudah berdiri di lapangan tembak dengan regu penembak mati ada di depanku. Sampai saat itu tiba...masih ada harapan....meski harapan itu sangat kecil sekali.

Tuhan....jangan biarkan aku mati begitu saja!

****

Hari berikutnya kulalui seperti biasanya.

Aku berusaha melakukan aktivitasku di penjara seperti biasanya, tanpa memikirkan kalau jatah hidupku sudah berkurang 1 hari lagi.

Kalau sudah begini...aku jadi sangat paham bahwa setiap hari itu berharga. Sekarang aku jadi heran sendiri kenapa dulu kulihat ada banyak orang yang menyia-nyiakan hari-harinya yang berharga itu dengan berbuat jahat. Seakan-akan jatah hidup mereka itu tidak terbatas.....padahal mereka bisa saja mati sewaktu-waktu.

Seperti biasanya, aku memilih aktivitas berkebun sebagai bagian dari ‘program rehabilitasi’ di penjara. Meski tahu kalau ini semua sia-sia saja karena keahlian yang kupelajari ini akan kubawa ke liang kubur, aku tetap melakukannya dengan tekun dan sungguh-sungguh.

Setidaknya kalaupun aku mati nanti, aku sudah membantu memberikan kehidupan pada tanaman-tanaman hias dan herbal yang kutanam ini.

Sambil bersenandung pelan, aku menyirami tanaman-tanaman yang kurawat dengan hati-hati sejak 3 bulan yang lalu. Beberapa tanaman sudah mulai tumbuh dengan baik, meski akan makan waktu beberapa bulan lagi sampai ada yang berbunga atau ada yang bisa dipanen. Tapi aku senang.

Tidak disangka pekerjaan remeh seperti ini bisa sangat menyenangkan, karena hanya disaat inilah aku merasa seperti orang bebas.....orang merdeka.

“Hm?”

Tiba-tiba aku bergumam pada diriku sendiri ketika menyadari ada yang tidak biasa. Aku lalu berdiri dan memandang ke sekelilingku.

Kecuali beberapa orang napi yang menekuni program yang sama denganku, aku tidak melihat sosok Alvin. Pria itu juga memilih program rehabilitasi yang sama denganku dan dia biasanya selalu ada di kebun sebelum aku datang. Tapi hari ini aku tidak melihatnya sama sekali.

“Heran....kemana tuh orang?” tanyaku pada diriku sendiri. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya dan meneruskan pekerjaanku.

Berbeda denganku yang masuk penjara karena fitnah...Alvin dipenjara karena suatu perbuatan kriminal kelas berat. Sayangnya dia sendiri tidak mau menceritakan perbuatan kriminal macam apa yang sudah dia lakukan. Yang pasti dia sudah ada di penjara ini cukup lama akibat perbuatannya itu.

Kadang-kadang aku heran dengan sikap napi lain yang terkesan menghindari Alvin. Aku sih tidak tahu apa alasannya karena baik Alvin maupun napi lainnya enggan bicara padaku. Kalau aku paksa dia bercerita, Alvin selalu mengatakan kalimat yang sama.

“Ah. Aku tahu yang kulakukan dulu itu benar-benar salah dan aku siap menanggung akibat dari perbuatanku itu. Aku bahkan siap menebus nyawaku untuk membayar akibat perbuatanku dulu.”

Tapi pria itu tidak pernah menceritakan perbuatannya padaku dan hanya tersenyum kecut setelah mengucapkan kalimat itu.

Orang yang aneh....

Aku bergumam sendiri kalau mengingat-ingat sikap Alvin yang terkadang terasa sangat misterius itu.

****

Peristiwa itu datang begitu saja tanpa kuduga sama sekali.

Hanya 2 hari sebelum aku dihukum mati, tiba-tiba saja datang surat panggilan dari pengadilan untukku.

Tadinya aku hampir yakin kalau itu adalah panggilan pengadilan yang pada akhirnya akan memutuskan bagaimana nyawaku akan diakhiri.

Apakah di tangan regu tembak atau di tangan seorang dokter?

Aku sudah pasrah saja ketika aku digiring keluar penjara dengan pengawalan super-ketat dan duduk di kursi terdakwa dengan kawalan pasukan khusus bersenjata lengkap.

Tadinya aku sudah membayangkan wajah hakim dengan tenangnya mengetuk palu kematian untukku dan berkata. “Hukuman mati saudara adalah hukuman tembak!”

Tapi alih-alih kalimat yang menentukan akhir nyawaku, aku malah mendengar sebuah kalimat yang benar-benar membuatku melongo. Sebenarnya sih hakim sudah bicara panjang lebar mengenai pasal-pasal dan sebagainya, tapi aku abaikan semuanya karena aku hanya mendengar kalimat akhirnya.

“.....dengan ini pengadilan memutuskan untuk menangguhkan hukuman mati saudara sampai ada bukti-bukti lebih lanjut mengenai keterlibatan saudara dengan....”

Kalimat selanjutnya tidak kudengar sama sekali dan kuanggap tidak penting.

Hanya sepotong kalimat saja yang kudengar dengan jelas.

“...pengadilan memutuskan untuk menangguhkan hukuman mati saudara....”

Hanya sepenggal kalimat yang bagi orang lain terdengar sangat sederhana, tapi bagiku sepotong kalimat itu berarti segalanya.

Spontan aku langsung turun dari kursi terdakwa yang kududuki sejak tadi dan bersujud pada Tuhan.

Kekuatan Tuhan itu memang ada!!

Alvin benar! Aku belum boleh menyerah sampai titik darah penghabisan untuk memperjuangkan nyawa dan kebebasanku.....kemerdekaanku! Sama seperti para penjuang kemerdekaan pada jaman dahulu!

Tapi aku lalu sadar kalau aku belum boleh bergembira berlebihan.

Pengadilan hanya menangguhkan hukuman matiku. Memang itu artinya aku tidak jadi mati di hari kemerdekaan Indonesia, tapi tetap saja aku masih terancam hukuman mati.

Hanya saja keputusan ini memberikanku peluang dan harapan untuk bisa hidup.....dan aku sudah tidak peduli lagi meski aku harus menghabiskan lebih banyak waktu di penjara. Yang penting nyawaku tidak jadi dicabut 3 hari lagi!

Dengan perasaan gembira, aku bangkit dan kembali duduk di kursi terdakwa dengan tenang.

****

Ketika aku kembali ke penjara aku langsung mencari-cari sosok Alvin.

Tapi anehnya aku tidak bisa menemukan dimana dia berada.

Karena penasaran, aku berjalan ke blok sel lain, tempat pria itu ditahan. Harus kuakui, selama 3 bulan berada disini aku tidak banyak berkeliaran ke blok-blok lain. Bukan hanya karena aku merasa itu tidak perlu, tapi juga karena aku takut dengan napi lain di penjara ini. Yah...mau bagaimana lagi...sebagian dari mereka bertampang sangar dan jelas terlihat tidak bersahabat.

Tapi setelah berputar-putra cukup lama dan tidak menemukan sosok Alvin, aku jadi memberanikan diri dan bertaya pada seorang napi di blok itu. Kebetulan sekarang ini jam bebas dan para napi boleh keluar dari selnya.

“Ma...maaf...apa ada napi yang bernama Alvin di blok ini?” tanyaku pada seorang napi botak bertato yang duduk di depan pintu selnya.

Napi itu memandangiku dengan tatapan heran, lalu menoleh ke arah teman-temannya di dalam sel.

Aku langsung mendapat kesan kalau dia enggan bicara denganku.

“Emangnya loe ga tau ya?” tanya teman pria botak itu dari dalam sel.

“Tau apa?” balasku bingung.

“Alvin udah ga disini lagi,” jawab napi itu.

“Eh? Yang bener? Emangnya dia udah bebas?” tanyaku lagi.

“Bebas?” tanya si napi botak. Dia lalu menghela nafas panjang sambil menatapku dengan tatapan sedih. “Dia ga bebas. Dia udah mati.”

Aku seakan-akan mendengar suara gelegar guntur dalam kepalaku.

“Ma...mati? Ko...kok bisa?” tanyaku dengan nada terbata-bata.

“Emangnya loe ga tau? Alvin itu sama kayak loe, terpidana mati. Cuman dia ga dapet perpanjangan nyawa kayak loe. Emangnya lo bener-bener ga tau siapa dia? Dia itu Alvin ‘Si Tukang Potong’, pembunuh berantai yang udah bunuh orang selusin lebih!” ujar si napi botak. “Udah lama gue denger dia bakalan dihukum mati, tapi ga tau kapan. Baru sebulan yang lalu gue denger hukuman matinya itu udah pasti dan bener aja..... dia mati ditembak algojo 3 hari yang lalu, kalo ga salah sih dia ditembak pas tengah malam.”

Ketika aku mendengar ucapannya, aku terdiam.

Selama aku mengenalnya....tidak sekalipun Alvin mengeluh soal hukuman matinya. Aku bahkan tidak tahu kalau dia itu juga seorang terpidana mati seperti diriku. Terlebih soal Alvin yang ternyata adalah seorang pembunuh berantai.

Alvin yang kukenal adalah orang yang santai, periang, cengengesan, dan terkadang menyebalkan. Tapi meski demikian, dia adalah orang yang selama ini berusaha meringankan beban pikiranku. Dia juga yang selalu memberiku semangat untuk tetap menjalani sisa hidupku dengan tegar dan tenang, meski sebenarnya nyawanya sendiri juga tidak lama lagi akan hilang.

Sambil berjalan meninggalkan blok sel tempat Alvin dulu ditahan, aku terus terdiam.

Itu artinya pertemuanku dengan Alvin 3 hari yang lalu itu adalah pertemuan terakhirku dan hari itu juga adalah hari terakhirnya bisa melihat matahari.

Aku lalu berhenti berjalan.

Ucapan terakhir Alvin kembali terngiang di telingaku.

“Sifat pantang menyerah, gigih, dan percaya pada kekuatan Tuhan adalah 3 sifat yang dulu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka. Bukankah begitu? Sebagai bangsa Indonesia harusnya kau juga punya sifat seperti itu dong! Mau jadi apa bangsa ini kalau orang-orangnya sepertimu semua? Apa kata dunia?”

Aku terdiam dan tersenyum miris dalam hati.

Bagi orang lain Alvin hanya seorang pembunuh berantai terpidana mati, yang nyawanya berakhir di lapangan eksekusi.

Tapi bagiku dia adalah seorang pahlawan yang keberadaannya tidak tergantikan.

Dialah orang yang membuatku menyadari betapa berharganya arti hidup, ketika mengetahui kalau hidup ini akan berakhir.

Dia juga orang yang dengan semangat 45-nya, terus memberiku semangat agar tegar menghadapi cobaan yang sedang kualami ini.

Aku lalu memandang ke langit, kearah Sang Saka Merah Putih yang berkibar di langit biru.

Dengan sepenuh hati aku memberi hormat, bukan untuk sepotong kain merah-putih yang ada di tiang itu, tapi untuk jiwa tegar seorang pahlawan yang telah gugur di bumi pertiwi.

Alvin! Kau adalah seorang pahlawan!

****

~FIN~

Thursday, August 11, 2011

Proyek Eksperimen LCDP: Balas Dendam Itu Gurih!

Proyek Eksperimen LCDP: Balas Dendam Itu Gurih!


Sudah hampir 20 tahun berlalu sejak aku mengalami kejadian yang membuat seluruh hidupku jungkir-balik tidak karuan. Berarti sudah 20 tahun juga aku menerima nasib dan berusaha menjalani hidup baruku ini dengan lapang dada.

Meski harus kuakui, aku merindukan saat-saat dimana semuanya begitu normal dan biasa-biasa saja.

Yah....memang benar kata orang. Manusia itu baru sadar dia memiliki sesuatu yang berharga kalau sesuatu itu sudah tidak dimilikinya lagi.

Begitu pula denganku.

Tadinya aku selalu berpikir hidupku sebagai seorang pemuda siswa SMA biasa sangat membosankan. Tidak terhitung berapa kali aku berharap suatu hari hidupku akan berubah menjadi lebih menarik dan tidak membosankan seperti waktu itu.

Ketika akhirnya harapanku itu terkabul, aku sama sekali tidak menduga kalau akhirnya akan seperti ini.

Yah....apa boleh buat. Yang sudah terjadi...terjadilah.

Aku meregangkan tubuhku sambil membuka mulutku dan berkata.

“Nyaaaw~!”

Aku lalu mulai menjilati cakar dan tubuhku sendiri yang berbulu hitam pekat. Aku melakukan ritual ‘mandi’ yang selalu kulakukan setiap pagi. Sambil ‘mandi’, aku memandangi sekelilingku.

Saat ini aku tinggal di sebuah gang sempit diantara dua buah ruko yang berdiri berdampingan. Tempat inilah yang sudah kujadikan sebagai ‘rumah’ selama 10 tahun belakangan ini. Sebelumnya aku selalu hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hidup sebagai kucing memang tidak mudah.

Terkadang aku harus berhadapan dengan maut, seperti anjing liar yang berniat mencabik-cabikku, anak-anak nakal yang ingin menangkap dan menjadikanku sasaran lemparan batu, dan tentu saja bahaya terlindas kendaraan bermotor ketika aku menyeberangi jalan. Ah...untuk bahaya yang terakhir sih, tidak terlalu masalah. Kalau ingin menyebrangi jalan protokol, aku tinggal jalan diatas jembatan penyebrangan saja.

“Pagi!”

Aku memalingkan wajahku dan melihat seekor kucing gemuk berbulu oranye-belang putih, berjalan menghampiriku.

“Pagi juga,” balasku malas.

“’Gimana kabarmu pagi ini? Sudah makan?” tanya kucing gemuk itu sambil duduk di sampingku, diatas tong sampah besar yang menempel di dinding ruko.

Aku menggelengkan kepala.

“Belum. Memangnya kenapa?” tanyaku sambil memuntahkan satu-dua bola bulu, hasil dari menjilati tubuhku sendiri.

“Ha~! Kebetulan kalau begitu. Aku juga belum. Apa kau mau ikut aku? Ada tempat makan baru di dekat sini. Pemiliknya seorang wanita paruh baya yang ramah dan suka memberi kucing makanan enak,” ujar temanku itu sambil menjilati bibirnya sendiri. “Bagaimana? Mau ikut tidak?”

Aku berpikir sejenak.

Tidak ada salahnya mengikuti temanku dan melihat seperti apa tempat makan baru yang dia temukan. Kalau memang pemilik tempat makan itu suka memberi makanan enak, kupikir itu akan jadi lebih baik.

Setidaknya itu lebih baik daripada mengais-ngais tempat sampah di samping restoran fast-food di seberang jalan. Yah...memang aku sering mendapatkan makanan enak disana karena selalu saja ada orang bodoh yang menyisakan banyak makanan yang dibelinya, lalu membuangnya begitu saja.

“Oke...aku ikut deh. Tunjukkan padaku dimana tempatnya,” ujarku sambil meregangkan tubuh sekali lagi.

Temanku, si kucing gemuk langsung berbalik dan berjalan dengan langkah berat. Sambil berjalan mengikutinya, aku membiarkan pikiranku berkelana ke masa lalu.

Ke masa ketika aku masih jadi manusia.

Ke masa ketika aku menemukan bando terkutuk itu dan akhirnya jadi seperti ini.

****

Semua ini berawal ketika aku sedang mencari hadiah untuk temanku dekatku. Daripada teman, sebenarnya sih aku lebih senang menyebutnya ‘calon’ pacarku. Kenapa calon? Karena aku belum menyatakan cintaku padanya. Bukan karena tidak berani, tapi karena aku merasa belum ada waktu yang tepat untuk menyatakannya.

Dan kebetulan datanglah waktu yang sangat tepat ini.

Hari ulang tahunnya besok.

Nah, aku sudah merencanakan akan memberikan sesuatu yang sederhana namun berguna dan (kuharap) akan selalu dia gunakan. Setelah berpikir cukup lama, aku tetap tidak bisa memutuskan dan akhirnya pergi ke toko aksesoris di pusat perbelanjaan di tengah kota.

Toko aksesoris itu menjual barang-barang bagus dengan harga yang murah, sehingga tempat itu cukup terkenal di kalangan gadis-gadis. Aku sudah bertanya pada beberapa gadis-gadis teman sekelasku dan mereka semua merekomendasikan tempat itu.

Yah....meski aku agak ragu karena mendengar rumor miring tentang pemilik toko itu, yang katanya suka makan daging kucing mentah. Rumornya sih itu ritual wajib untuk menjaga ‘Aji Penglaris’ yang dipasang di tokonya.

Tapi aku tidak percaya soal yang begituan, karena kurasa itu hanya rumor miring yang dihembuskan oleh pesaing pemilik toko aksesoris itu, yang iri karena kemajuan bisnisnya yang terlalu pesat.

Setelah berganti kendaraan umum sebanyak 2 kali, akhirnya aku sampai di depan toko aksesoris itu.

Jelas saja toko ini laku keras. Pemilik toko ini benar-benar memperhatikan aspek estetika dalam menampilkan barang dagangannya...pikirku sambil mengamati bagian depan toko.

Di etalase toko tampak terpajang manekin yang mengenakan berbagai macam contoh aksesoris yang dijual di toko tersebut. Selain manekin, aksesoris-aksesoris yang terbuat dari logam dan batu mulia tiruan tampak ditata seakan-akan toko itu adalah sebuah toko perhiasan mahal. Jelas-jelas tatanan seperti itu membuat orang penasaran dan tertarik untuk masuk ke dalam toko tersebut.

Ketika aku masuk ke dalam, rupanya toko itu cukup ramai. Ada banyak sekali pengunjung yang sedang membeli atau sekedar melihat-lihat aksesoris yang dijual di toko tersebut.

“Selamat datang~!”

Suara sapaan itu membuatku terkejut dan langsung berbalik.

Begitu berbalik aku melihat seorang wanita paruh baya yang tersenyum padaku. Wanita itu mengenakan celemek yang dibordir dengan pola-pola bunga. Dari pakaiannya aku tahu dia bekerja di toko ini.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya wanita itu lagi dengan suara ramah.

“Erh....aku mencari hadiah untuk..ehm..pacarku,” ujarku agak terbata-bata. Memang terasa agak aneh kalau seorang pemuda datang ke toko aksesoris seperti ini, sehingga aku merasa tidak nyaman dan agak salah tingkah.

“Ah~! Kebetulan sekali. Aku tahu sesuatu yang bagus untuk pacarmu itu,” ujar si wanita penjaga toko itu dengan ramah. “Ayo ikuti aku.”

Aku langsung mengikuti wanita itu ke sudut lain toko, tepatnya ke gudang di belakang toko, dimana dia membongkar beberapa buah kotak hingga akhirnya dia menemukan yang dia cari.

Sebuah bando berwarna merah dengan hiasan bunga mawar, yang kurasa akan cocok sekali kalau dikenakan oleh ‘calon’ pacarku nanti.

“Ini dia. Ini benda yang pasti cocok sekali untuk pasanganmu. Ya. Mawar merah selalu disukai gadis-gadis,” ujar wanita itu lagi sambil tersenyum manis.

Aku mengambil bando itu dan mengamatinya.

Yah...harus kuakui bando ini cantik sekali dan kurasa akan sangat pantas berada di kepala gadis idamanku itu. Sekilas terlihat bando ini benar-benar seperti sebuah barang mahal. Ketika aku memegangnya, bando ini sama sekali tidak terasa seperti terbuat dari plastik, bahkan benda ini rasanya terbuat dari permata atau semacamnya. Karena bando itu terlihat bening, berkilau, dan jelas terlihat sangat mahal.

“Euh...aku tidak yakin aku sanggup membayar benda semahal ini...” ujarku dengan nada ragu.

“Wah. Tidak perlu khawatir. Itu benda tua dan sudah lama sekali tidak laku terjual. Jadi akan kuberikan harga khusus yang sesuai dengan kantongmu anak muda,” ujar wanita paruh baya itu lagi.

Aku masih ragu dan menimang-nimang bando itu di tanganku.

“Ehm...aku tidak tahu apakah benda ini cocok untuknya...” ujarku lagi.

“Tidak mungkin tidak cocok anak muda. Coba kau kenakan sendiri dan lihat apakah kira-kira bando itu akan cocok dipakai oleh pasanganmu nanti,” ujar wanita paruh baya itu lagi sambil menunjuk ke arah kaca rias besar di sampingku, lalu mengambil bandonya dari tanganku.

Yang terjadi selanjutnya benar-benar konyol, sekaligus merupakan awal dari semua penderitaan yang akan kualami nantinya.

Aku membiarkan wanita itu meletakkan bando itu di kepalaku, dan ketika dia selesai melakukannya, wanita itu berjalan mundur sambil tersenyum puas. Tadinya aku yakin kalau dia tersenyum puas karena telah mengerjaiku, tapi aku segera sadar kalau senyumannya itu bermaksud lain.

“Nah...bando itu rupanya cocok sekali denganmu,” ujar si wanita paruh baya itu sambil terus tersenyum lebar.

Ketika bando itu berada di kepalaku, segalanya langsung berputar-putar dan aku merasa pusing.

A....apa-apaan ini!??? Seruku dalam hati.

Tidak lama kemudian aku terjatuh ke lantai. Tapi sebenarnya aku tidak sedang ‘terjatuh’, lebih tepatnya tubuhku menyusut dengan cepat hingga aku merasa seakan-akan aku sedang jatuh. Aku lalu terbaring tidak berdaya di lantai dan hanya memandangi si wanita paruh baya dengan tatapan lemah.

Kemudian aku tidak sadarkan diri.

Ketika aku sadar lagi, aku sudah tidak lagi jadi manusia.

Aku sempat panik setengah mati ketika menyadari aku sudah berdiri dengan empat kaki, seluruh tubuhku berbulu, punya ekor panjang berbulu, sepasang telinga yang mencuat dari kepalaku, dan satu-satunya suara yang bisa kubuat dengan mulut berkumis tipisku adalah: “Nyaaaw~!”

AKU SUDAH JADI KUCING!!!???

“Nah....sudah kubilang kalau bando itu cocok sekali denganmu,” ujar si wanita paruh baya di depanku sambil tersenyum lebar, kali ini senyumannya tidak lagi terlihat ramah, tapi terlihat begitu jahat dan mengerikan. Wanita itu lalu mengulurkan tangannya ke arahku, bermaksud untuk menangkapku. Sorot mata wanita itu terlihat liar, buas, dan........lapar...........!?

Tiba-tiba dalam benakku aku teringat rumor miring mengenai pemilik toko aksesoris ini yang suka makan kucing untuk menjaga agar sihir di tokonya tidak hilang. Bagimana kalau wanita paruh baya ini adalah si pemilik toko yang memang benar suka makan kucing?! Bagaimana kalau kucing-kucing yang dia makan sebenarnya adalah orang-orang malang sepertiku?! Bagaimana kalau.....

Aku tidak sempat berpikir lagi karena tangan si wanita sudah mencengkram tubuhku dengan begitu erat, hingga aku nyaris tidak bisa bernafas. Aku berusaha berontak tapi percuma saja, cengkraman tangan wanita itu bagaikan cengkaraman penjepit baja. Aku sama sekali tidak bisa bergerak.

“Sssst.....tenanglah ‘pus sayang. Tidak perlu berontak seperti itu. Aku akan merawat dan memeliharamu dengan baik,” ujar wanita itu sambil terus menyunggingkan senyum jahatnya. Dia lalu menambahkan dengan suara berbisik yang parau dan serak. “Tentu saja sampai kau berakhir di meja makanku....”

Mendengar ucapannya, aku langsung mengerahkan seluruh tenaga ‘kucing’ yang kumiliki dan menggigit jarinya, lalu mencakar wajahnya yang terlalu dekat dengan kedua cakarku.

Karena terkejut, wanita itu melepaskan tangannya dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melarikan diri. Aku berlari secepat yang kucing bisa dan dengan segera aku berada jauh diluar toko aksesoris terkutuk itu.

Dengan telinga kucingku yang jauh lebih peka daripada telinga manusia, aku bisa mendengar si wanita gila itu melontarkan sumpah serapah dan makian ke arahku.

Tapi aku tidak peduli dan terus berlari sekuat tenaga.

****

Yah...pokoknya cerita selanjutnya tidak terlalu bagus untuk didengar.

Hidupku jadi tidak karuan setelahnya.

Aku segera mendatangi rumahku, hanya untuk dikejar dengan sapu oleh ibuku sendiri. Maklum, ibuku alergi dengan kucing dan ayahku tidak suka ada binatang berbulu di dalam rumahnya. Aku lalu berbalik dan pergi ke rumah ‘calon’ pacarku, hanya untuk diusir karena aku mencuri ikan di dapur, padahal itu kulakukan karena lapar. Ketika aku kembali lagi kesana, ‘calon’ pacarku itu malah mengusirku dengan lemparan kerikil.

Ironis sekali kan?

Tentu saja aku tidak menyerah begitu saja dan berniat mendatangi lagi toko aksesoris milik wanita paruh baya gila itu. Apa niatku itu terdengar bodoh? Memang. Tapi aku berharap aku bisa menemukan sesuatu petunjuk untuk bisa mengembalikanku lagi jadi manusia.

Kalau wanita penyihir gila itu bisa mengubahku jadi kucing, seharusnya ada cara agar aku bisa kembali jadi manusia lagi.

Sialnya....ketika aku sampai disana, toko itu sudah disegel oleh polisi dan si wanita gila itu kabarnya sudah dipenjara. Dari orang-orang yang menonton acara penangkapan itu, aku mengetahui kalau si wanita gila itu dituduh sudah membunuh dan menyembunyikan mayat seorang pemuda. Pakaian pemuda itu ditemukan di ruang belakang tokonya, tapi tubuh si pemuda yang dibunuh tidak pernah ditemukan.

Belakangan aku tahu kalau pemuda yang dimaksud itu adalah aku. Tentu saja tubuh si pemuda itu tidak akan ditemukan, karena dia masih hidup, hanya saja bukan dalam bentuk ‘pemuda’ lagi.

Sejak saat itu aku terus berusaha bertahan hidup sebagai seekor kucing.

Aku harus amat sangat bersyukur kepada Tuhan karena setidaknya aku masih hidup. Karena beberapa hari setelah toko itu disegel, aku menerobos masuk dan menemukan tumpukan tulang kucing, serta tumpukan pakaian yang disembunyikan di dalam sebuah bak plastik besar di belakang toko.

Kupikir itu tumpukan pakaian milik orang-orang yang dijadikan kucing, dan akhirnya disantap.

Melihat tumpukan itu, baru kali itu aku merasakan darahku bergolak dan aku baru tahu kalau ‘dendam’ itu terasa begitu mengerikan....sekaligus menyenangkan karena aku jadi bersemangat.

“Oi~! Jangan bengong terus. Kita sudah sampai nih!”

Seruan si kucing gemuk berbulu oranye-putih itu langsung membuatku terbangun dari lamunanku.

Aku langsung memandang berkeliling dan terkejut melihat kerumunan kucing yang sudah berkumpul di sekitarku. Mereka sibuk bicara dan mengobrol hingga tidak menyadari kami berdua datang. Tapi salah satu diantara mereka, seekor kucing besar berbulu abu-abu langsung melompat turun dari tumpukan bata di pinggir lorong dan menyapa kami berdua.

“Wah...nambah lagi. Kalau begini terus nanti jatahku berkurang banyak,” gerutu kucing itu sambil memandangi kami berdua dengan tatapan jengkel dan dengan bulu tengkuk berdiri tegak. Jelas dia tidak bermaksud baik.

Benar saja, kucing itu langsung menerkamku yang berbadan lebih kecil dibandingkan temanku, si kucing gemuk. Dia pikir aku pasti jauh lebih lemah dan mudah dikalahkan.

Tapi dia memilih lawan yang salah.

Hanya dalam waktu singkat aku berhasil mengalahkannya dan mengusirnya. Kurasa kehidupan keras yang kujalani selama 20 tahun sebagai kucing jalanan membuatku jadi petarung yang handal...setidaknya diantara para kucing.

“Seperti biasa...kau kuat sekali untuk ukuran tubuh sekecil itu,” puji temanku sambil menjilati tubuhnya, tapi kemudian kedua telinganya berdiri tegak dan dia berbalik sambil berseru gembira. “Nah~! Itu dia makanan kita datang~!!!”

Benar saja, pintu belakang toko yang sedari tadi dipenuhi kucing itu mendadak terbuka dan sesosok manusia melangkah keluar dengan dua piring besar di tangannya.

“Saatnya makan anak-anak~!”

Manusia itu berseru riang sambil meletakkan piring besar yang dia bawa, yang rupanya berisi potongan daging ayam dan sapi. Tentu saja baunya sedap sekali dan tanpa menunggu aba-aba, semua kucing yang ada disana langsung menyerbu piring itu. Termasuk diriku.

Aku langsung makan dengan lahap. Maklum saja, aku sudah lapar sekali.

“Makan yang banyak dan cepat gemuk ya~! Aku jadi tidak sabar untuk menikmati kalian semua~!”

Tadinya aku tidak peduli dengan ucapan si manusia itu. Tapi begitu dia mengatakan hal itu. Aku langsung terdiam dan berhenti makan seketika.

Perlahan-lahan aku menengadahkan wajahku dan terpaku ditempat.

Wajah manusia itu sangat familiar bagiku, begitu juga dengan suaranya.

Di hadapanku saat ini, berdiri sesosok wanita paruh baya yang mengenakan celemek penuh aksesoris berbagai bentuk dan warna. Sosok yang tidak pernah akan kulupakan selamanya. Sosok wanita penyihir gila pemakan kucing yang sudah menghancurkan hidupku.

Tadinya aku sudah melupakan kejadian itu dan membiarkan hidupku mengalir apa-adanya. Tapi detik ini juga, aku bisa merasakan darahku kembali bergolak dan api dendam yang kukira sudah lama padam, mendadak berkobar hebat di dalam tubuhku.

KETEMU JUGA KAU!!!!!

Aku menjerit dalam hati penuh rasa benci, dendam, dan kemarahan.

Sudah 20 tahun aku berkelana dari kota ke kota untuk menemukan dimana wanita gila itu ditahan, tapi akhirnya aku tidak menemukannya. Siapa sangka orang itu rupanya ada di kota ini dan cukup sinting untuk membuka toko aksesoris lagi, dan kurasa.....dia masih cukup sinting untuk tetap suka makan kucing.

Tanpa sadar aku nyengir lebar, persis seperti tokoh Chessire Cat di cerita Alice in Wonderland.

Kucing tidak bisa nyengir? Siapa bilang? Toh aku sedang melakukannya. Ya, aku benar-benar nyengir lebar ketika melihat sosok orang yang kubenci itu kini ada di depan mataku.

Saatnya balas dendam! Pikirku penuh kebencian.

****

Malam itu juga aku akan melaksanakan rencanaku.

Kebetulan sekali, sama seperti sebelumnya, si pemiliki toko itu memang tinggal di tokonya sendiri yang merangkap sebagai tempat tinggalnya. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengikutinya sampai ke rumahnya.

Kurasa jadi kucing itu ada enaknya juga.

Maling sehebat apapun dalam menyelinap tidak ada yang sehebat seekor kucing, karena aku sama sekali tidak menimbulkan suara apapun ketika aku menyelinap masuk ke dalam tokonya tadi sore. Aku lalu bersembunyi di tumpukan kardus yang diletakkan di gudang belakang toko dan menunggu hingga malam tiba.

Ketika matahari akhirnya terbenam dan toko akhirnya tutup, aku segera keluar dari tempat persembunyianku.

Sekilas aku menoleh ke arah jendela gudang yang berteralis baja.

Cahaya bulan purnama yang dingin dan pucat tampak memancar melewati jendela.

Bulan purnama? Bagus sekali! Ujarku gembira dalam hati.

Ketika bulan purnama, kekuatanku akan memuncak dan ini akan membuat usaha balas dendamku menjadi jauh lebih mudah. Kalaupun wanita tukang sihir gila itu mencoba menggunakan kekuatannya, aku bisa dengan mudah meredamnya dengan kekuatanku sendiri.

Saatnya bangun! Penyihir jelek!

Aku bergumam dalam hati sambil melepaskan apa yang selama ini kutahan selama tahun-tahun panjangku menjadi seekor kucing.

Dalam waktu singkat tubuhku membesar berkali-kali lipat. Awalnya hanya sebesar seekor anjing, tapi itu tidak cukup, tubuhku terus bertambah besar dan kekar hingga akhirnya aku tumbuh lebih besar daripada seekor kerbau. Ukuran tubuhku kini sudah jauh lebih besar dari harimau atau singa manapun di dunia ini.

Yah. Ada hikmahnya juga aku bertahan hidup jadi seekor kucing selama 20 tahun lebih.

Apa kau tahu kalau seekor kucing hidup lebih panjang dari umurnya yang seharusnya, kucing itu sudah bukan ‘kucing’ lagi?

Itulah yang terjadi padaku. Setelah menjalani tahun ke-15 sebagai seekor kucing, tiba-tiba saja aku merasa berbeda dan begitu kuat. Ketika aku menyadarinya, tahu-tahu saja aku bisa berubah jadi kucing raksasa seperti ini.

Aku merasa bersyukur dengan kekuatan aneh yang kumiliki ini, karena aku bisa melampiaskan dendam yang kumiliki ini dengan lebih mudah lagi.

Sambil menggeram rendah, aku mengayunkan ekorku yang kini sudah bertambah jadi 3 buah ke rak kaca yang ada di dekatku.

Suara ribut ketika aku memecahkan rak aksesoris itu langsung membuat si wanita penyihir pemakan kucing terbangun dari tidurnya. Menyadari kalau ada orang yang masuk ke dalam tokonya dan sepertinya berniat merampok, wanita itu langsung turun ke lantai bawah sambil menggenggam keris pusaka, sumber kekuatannya.

Wanita itu berniat untuk menghukum berat siapapun orang bodoh yang nekat merampok tokonya itu dengan sihir yang dia miliki.

Tapi begitu dia sampai di tokonya, wanita penyihir itu melongo tidak percaya karena melihat sesosok kucing raksasa berbulu hitam pekat tampak berdiri dengan pose mengancam.

“Apa yang....!?”

Sebelum penyihir itu sempat bicara sepatah katapun, aku menerkamnya hingga dia melepaskan senjata pusakanya dan terjatuh di lantai. Tanpa basa-basi aku menekankan cakar kiriku ke atas dadanya, membuat wanita penyihir itu tidak bisa bergerak.

“Kita bertemu lagi! Apa kau masih ingat aku!?”

Seruku dengan suara geraman rendah, hingga kata-kataku jadi agak sulit didengar. Maklum saja, kucing memang tidak seharusnya bicara bahasa manusia.

Kedua mata wanita penyihir itu terbelalak lebar.

“Ya! Aku adalah korban terakhirmu yang kau jadikan kucing dan nyaris kau santap!!” geramku lagi sambil menekan cakarku lebih keras lagi. Wanita penyihir itu menjerit kesakitan ketika merasakan tulang-tulang rusuknya mulai berderak mengerikan. “Apa kau tahu bagimana rasanya derita hidup seorang manusia yang diubah jadi kucing?!! Aku diusir keluarga dan ‘calon’ pacarku sendiri, terpaksa hidup di jalanan, makan makanan sisa, bertarung sampai hampir mati hanya untuk sepotong makanan busuk, dikejar-kejar anjing dan orang-orang sinting yang ingin membunuhku hanya untuk bersenang-senang!!! Apa kau tahu bagaimana rasanya?!!”

Wanita itu menjerit lebih keras ketika aku menekan cakarku lebih keras lagi. Kurasa aku baru saja meremukkan dua atau tiga tulang rusuknya.

“A....ampun! Ampuni aku!! Aku....aku....aku minta maaf!!” seru wanita penyihir itu dengan suara lirih karena kesakitan. “Kumohon jangan bunuh aku!!!”

Aku langsung tertawa terbahak-bahak hingga mulutku mengeluarkan suara yang sangat aneh dan janggal untuk seekor kucing. Tanpa pikir panjang aku menghantamkan sebelah cakarku ke tangannya dan meremukkan tangan rapuh wanita penyihir itu seketika.

Wanita itu menjerit lagi.

Aah....jeritannya bagaikan musik yang indah di telingaku.

“Am...ampuun!!! Ja...jangan bunuh aku!! Kumohon!!! Aku.....aku bisa mengubahmu kembali jadi manusia kalau kau mau!!!” pinta wanita malang itu sambil menahan rasa sakit di tangan dan dadanya.

Seketika itu juga aku terkesiap dan tanpa sadar melepaskan cakarku dari dada dan tangannya yang sudah remuk. Aku terdiam begitu mendengar ada kesempatan bagiku untuk kembali jadi manusia.

“Be.....benarkah?” tanyaku dengan suara bergetar penuh harap. “Kau benar-benar bisa melakukannya???”

Tapi wanita penyihir itu tidak menjawab, dia malah bangun dan melesat dengan cepat mengambil keris pusakanya. Dia lalu menikamkan senjata sihir itu ke sisi kiri tubuhku.

Aku meraung keras karena rasa sakit tidak tertahankan dari tusukan benda itu, kemudian aku terhuyung-huyung ke samping lalu jatuh menimpa rak-rak kaca lainnya.

“Rasakan itu kucing busuk!!! Siapa memangnya yang mau mengubahmu lagi jadi manusia? Setelah bertahun-tahun menghilang dari hadapanku, tidak kusangka kau berubah jadi kucing sebesar ini!!!” seru wanita penyihir itu dengan suara melengking sambil menjilati kerisnya yang berlumur darahku. “Daging yang empuk dan luar biasa banyak! Aku bisa pesta pora seminggu penuh kalau begini!”

Wanita itu melangkah ke depanku dengan gaya penuh kemenangan, seakan-akan dia sudah berhasil mengalahkanku.

Tapi dia salah.

Peraturan pertama dalam pertarungan dengan seekor kucing: Kalau lawanmu belum mati atau berbalik lalu kabur, kau belum benar-benar menang!

Lagipula apa yang wanita gila itu pikirkan? Memangnya keris kecil seperti itu bisa mengalahkanku hanya dengan satu tusukan?

Begitu dia ada tepat di depan wajahku dan mengangkat kerisnya tinggi-tinggi, aku mengayunkan sebelah cakarku dan membuatnya terbang ke sisi lain toko, menghantam rak kaca, lalu tergolek tidak berdaya.

Dengan lemah, wanita itu memandang ke arahku yang berjalan mendekatinya dengan tatapan penuh nafsu membunuh.

“A........a........a.........ampuni....a....ak....aku.......” pinta wanita itu lagi.

Tentu saja aku tidak mau mengampuninya. Tadinya aku sempat berpikir untuk membiarkannya hidup kalau dia mau mengubahku jadi manusia lagi. Tapi sepertinya sia-sia saja. Wanita ini benar-benar gila!

“Mengampunimu? Bagaimana ya???” ujarku sambil nyengir lebar.

Kemudian aku membuka mulutku lebar-lebar dan mencabik tubuhnya jadi dua dalam sekali gigitan. Darah segar langsung membasahi lantai dan wajahku, tapi aku sama sekali tidak merasa jijik. Aku menikmatinya.

Aku menikmati gurihnya ‘rasa’ balas dendam yang sedang kulakukan ini.

Tidak butuh waktu lama sampai aku selesai melahap habis seluruh tubuh wanita penyihir itu. Kini yang tersisa dari wanita-penyihir-gila-penikmat-kucing itu hanyalah genangan darah dan keris yang tadi dia gunakan untuk melukaiku.

Aku menjilati bibir dan gigiku sendiri, menikmati rasa dari apapun yang tertinggal disana.

Ah....ngomong-ngomong daging manusia itu memang gurih sekali ya. Seharusnya aku lebih sering lagi makan daging manusia, ujarku dalam hati sementara aku nyengir lebar dan memandangi bulan purnama yang bersinar pucat di langit.

****

~FIN~

red_rackham 2011