Saturday, October 31, 2015

8th Spiral: Blind Vision



Pertama kalinya aku bertemu dengan nenek tua itu adalah di sebuah persimpangan jalan protokol yang membelah jantung kota Jakarta.
Tidak ada yang istimewa dari nenek itu, kecuali fakta bahwa dia buta. Sebelah tangan nenek itu tampak memegangi tongkat kayu belang warna merah dan putih. Kedua matanya tertutup selagi dia berjalan. Sesekali dia diam dan sekilas terlihat seperti sedang mengamati keadaan sekelilingnya dengan kedua telinganya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dilakukan nenek itu, tapi sedetik kemudian perhatianku teralih sepenuhnya.
Soalnya nenek tuna netra itu baru saja berniat menyeberangi salah satu jalanan paling padat kendaraan di kota Jakarta!
“AWAS!”
Tanpa pikir panjang, aku berlari menghampiri nenek itu dan mencengkeram kedua bahunya, kemudian menariknya mundur, tepat sebelum si nenek tersambar oleh sebuah mobil mewah yang melintas dengan kecepatan tinggi. Sepintas aku mendengar suara sumpah serapah dilontarkan dari jendela mobil yang nyaris merenggut nyawaku itu, tapi aku tidak memperdulikannya.
“Nenek tidak apa-apa?”
Aku bertanya pada nenek itu sambil menuntunnya menjauh dari jalan raya. Pada saat yang sama aku juga mengamati sekujur tubuhnya, kemudian bersyukur karena dia tidak terluka sama sekali. Begitu menyadari hal itu, aku langsung menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan detak jantungku yang masih berada di bawah pengaruh adrenalin.
Nyaris saja!
“Terima kasih, nak,” ujar nenek itu dengan suaranya yang agak bergetar. “Nenek tidak apa-apa kok.”
“Syukurlah.”
Aku menarik nafas lega.
“Nenek mau ke mana? Mau kuantar sampai ke tempat tujuan?” tanyaku lagi. 
Tapi sang nenek menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah. Nenek tahu bagaimana kesibukanmu, nak. Sebaiknya kamu segera kembali dan mengantar titipan orang yang ada padamu. Kalau kelamaan di sini, nanti yang menerima titipan itu keburu marah padamu,” ujar sang nenek lagi sambil tersenyum dengan bibirnya yang penuh keriput. “Sudah, tidak usah mengkhawatirkan nenek, kamu lanjutkan saja tugasmu, nak.”
Aku terdiam sejenak.
Ada yang aneh dengan dengan ucapan nenek ini barusan. Dia seolah-olah tahu kalau aku bekerja sebagai kurir titipan kilat, padahal aku kan sama sekali belum mengatakan apapun tentang diriku. Jangankan pekerjaan, berkenalan saja belum.
“Eeh ... tidak masalah. Saya antar sampai ke seberang saja ya? Bagaimana?”
Sekali lagi aku menawarkan bantuan pada si nenek, yang ternyata langsung ditolak mentah-mentah olehnya.
“Tidak usah. Nenek tahu jembatannya ada di sebelah sana.” Si nenek menunjuk ke arah jembatan penyeberangan orang, sekitar seratus meter dari tempat kami berada sekarang. “Nenek tahu jalan kok. Terima kasih.”
Aku memandangi si nenek dengan perasaan bingung.
Kok dia tahu ada jembatan penyeberangan dekat sini?
Padahal dia kan tidak bisa melihat?
Karena aku juga tidak mau memaksakan bantuan pada nenek ini, pada akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku. Tadi aku cuma mampir sebentar membeli makan siang dan harus segera kembali ke kantor untuk mengambil paket lain. Yah, walau pekerjaanku nanti siang tidak menuntut jadwal khusus, tapi kalau aku terlalu lama di sini, bisa-bisa aku pulang kemalaman setelah mengantar paket berikutnya.
“Sudahlah, kamu tidak usah lama-lama di sini, nak. Tugasmu kan masih banyak.” Si nenek kembali menepuk lenganku. “Kamu hati-hati ya kalau naik motor. Biar pun sudah biasa, tapi kamu tetap harus hati-hati ya, nak. Jangan ngebut.”
Sekali lagi aku kaget karena nenek ini sepertinya tahu kalau aku selalu bepergian dengan sepeda motor. Padahal aku tidak mengatakan apapun soal itu.
Aneh sekali.
“Kalau begitu, aku permisi dulu ya.” Aku akhirnya mengalah dan melangkah menjauh dari nenek itu. “Nenek juga hati-hati ya.”
“Iya, nak.”
Sang nenek membalas sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum dan berjalan meninggalkan sang nenek, yang masih berdiri sambil menghadap ke arahku. Tidak lama kemudian, nenek itu kembali berjalan sambil meraba-raba dengan tongkatnya. Kali ini dia berhasil sampai ke jembatan penyeberangan dan menyeberang jalan dengan aman.
Tadinya aku masih ingin memastikan dia sampai ke seberang dengan selamat, tapi rasanya itu tidak perlu. Lagi pula aku sudah hampir kehabisan waktu istirahat siang.
“Saatnya kembali bekerja!”
Aku berkata pada diriku sendiri sambil berjalan menuju ke tempat partner setiaku menunggu, atau dengan kata lain, tempat parkir motor.

****