Wednesday, May 27, 2015

1st Spiral: Road To Nowhere



Sama seperti hari-hari biasanya, hari ini pun aku berkendara melewati jalanan padat merayap yang begitu akrab bagiku. Saking akrabnya, aku sampai yakin kalau aku bisa melewatinya dengan mata tertutup.
Yah... sebenarnya tidak sampai segitu juga sih.
Soalnya begitu aku melakukannya, pastinya aku akan segera menabrak sesuatu, atau tertabrak sesuatu. Dan aku tidak cukup berani –atau gila– untuk mencoba mengendarai motor dengan mata tertutup di tengah jalanan kota metropolitan seperti ini. Itu sama saja meminta malaikat maut buru-buru turun dari langit dan mencabut nyawaku.
Sore itu situasi jalanan sama seperti sebelumnya.
Macet.
Mobil, motor, truk, bis, sepeda, becak, semuanya berdesakan dalam satu alur jalanan yang sama. Semuanya terlihat dipaksa untuk berada dalam situasi yang sama.
Ada berbagai ekspresi yang bisa kulihat di wajah-wajah mereka.
Lelah, gembira, jengkel, sedih, sampai yang membiarkan emosinya hilang ditelan asap kendaraan yang menggantung di udara.
Kebetulan aku termasuk yang membiarkan emosiku hilang begitu saja. Pandanganku nyaris kosong, hanya sesekali terfokus ketika melihat ada ruang gerak sedikit saja di depan sana.
Bagaikan prajurit berkuda terlatih, tubuh manusia dan seluruh bagian mekanik motorku sudah menjadi satu.
Gerakan kami selaras.
Tidak ada pertentangan.
Satu putaran tuas gas yang lembut membuat motorku melaju perlahan, sementara kedua kakiku dengan sigap naik-turun menjaga keseimbangan kami berdua.
Pokoknya dalam kondisi seperti ini, aku adalah motorku, dan motorku adalah aku. Kami tidak terpisahkan.
Oke ... aku tahu aku mulai meracau. Tapi maafkan aku, soalnya hari ini bukan hari yang baik bagiku. Soalnya pagi ini aku terlambat masuk kantor, kemudian ada paket yang harus kuantar ke tempat yang jauhnya bukan main, hingga nyaris di luar area operasiku. Sudah begitu ... tentu saja ada kemacetan jalanan kota Jakarta yang memang menyebalkan.
“Kenapa sih tidak ada jalan yang kosong?! Kenapa semuanya penuh kendaraan begini sih?!”
Aku berseru protes pada siapa pun yang bisa mendengar. Kebetulan seorang pengendara motor yang sama-sama mengantri di sampingku langsung menoleh. Dia hanya tersenyum tipis, sepertinya dia juga berpikiran sama denganku. Sama-sama lelah dan benci berada di tengah-tengah kemacetan parah seperti ini.