Monday, May 29, 2017

12th Spiral: Me and My New (Old) Motorbike



Bagi kebanyakan orang, sebuah sepeda motor itu tidak lebih dari kendaraan beroda dua yang meminum bensin jenis premium atau pertamax. Hanya sekedar alat untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Alat untuk membawa barang, atau alat untuk bisa terlihat keren di hadapan teman dan pacar.
Tapi bagiku, sepeda motor tua yang sudah kumiliki selama bertahun-tahun itu lebih dari sekedar alat transportasi belaka.
Motor ini adalah temanku.
Partnerku.
Itu sebabnya aku hampir tidak bisa menahan air mataku ketika melihat sosoknya yang begitu mengenaskan di hadapanku ini. Sekujur tubuh motor hitamku itu hancur berantakan akibat kecelakaan beruntun yang nyaris merenggut nyawaku beberapa minggu lalu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sungguh sebuah keajaiban aku masih selamat dari kecelakaan itu, meskipun aku sempat mati suri. Soalnya waktu aku melihat-lihat foto-foto kecelakaan itu di media online, aku merinding sendiri. Terlebih karena konon katanya aku terjepit diantara mobil Ferarri yang jadi biang kecelakaan, dan sebuah truk tanah. Satu-satunya yang menyelamatkanku dari jepitan maut itu adalah motorku, yang melintang menahan seluruh bobot mobil sport itu dan membuatku tubuhku masih cukup utuh.
“Terima kasih banyak ...”
Aku bergumam sambil berjongkok di samping bangkai motorku. Rasanya sedih melihat partner yang telah menemaniku selama bertahun-tahun ini kini bernasib malang seperti ini. Tanpa sadar jariku mengelus sisa jok motor berwarna hitam, yang dilapisi sarung kulit dengan pola tribal yang dulu kubeli waktu berkendara lintas Jawa. Kemudian aku mengetuk mesin motor yang berubah jadi luar biasa efisien sejak diperbaiki di sebuah kafe misterius beberapa waktu lalu. Pandangan mataku kemudian terpaku ke arah beberapa stiker yang kubeli waktu aku berpetualang dengan motor hitam ini bertahun-tahun yang lalu.
Begitu banyak kenangan bersama motor tua ini dan rasanya sedih sekali melihat partnerku itu kini bernasib seperti ini.
“Parah sekali ya.”
Aku menoleh ke arah seorang pria paruh baya yang membawa seperangkat alat pertukangan. Wajahnya yang dihiasi kumis tebal memang terlihat penuh kerutan, tapi kedua matanya masih menunjukkan nyala api penuh semangat.
“Pak Andika,” sapaku. Kemudian buru-buru meralat ucapanku karena melihat wajahnya merengut. “Ehm ... maksudku, paman Andika.”
Saat ini aku sedang berada di sebuah bengkel motor yang jadi langgananku, dan pak Andika ini adalah montir terbaik se-Bekasi. Konon katanya pria berkumis tebal itu dulunya montir di tim balap motor kelas dunia, sebelum akhirnya pensiun dan membuka waralaba bengkel motor sendiri. Keahliannya dalam memperbaiki dan memodifikasi kendaraan bermotor nyaris tidak ada tandingannya di kota ini. Kebetulan saja pak Andika ini adalah paman dari keluarga ayahku, jadi bisa dibilang aku hampir selalu mendapatkan perlakuan istimewa kalau datang ke bengkelnya.
“Yo. Sudah sehat?” tanya pak Andika sambil menepuk-nepuk pundakku dengan ramah. “Sudah boleh jalan-jalan keluar nih?”
Aku mengangguk.
“Ya. Begitulah,” balasku sambil mengetukkan salah satu kruk-ku ke lantai. “Tapi aku belum kuat berdiri sendiri. Kakiku masih sakit kalau dipakai berjalan.”
Memang baru seminggu sejak aku diperbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat-jalan, tapi sepertinya kondisiku sudah cukup baik sehingga aku sudah bisa berjalan. Walaupun aku masih harus bertopang pada dua bilah kruk, atau alat bantu jalan. Tapi selain itu, aku merasa sudah jauh lebih sehat.
“Dibawa santai saja ya. Tidak usah terlalu memaksakan diri,” ujar pak Andika lagi. “Jadi ini motormu?”
“Apa yang bisa diperbaiki?” tanyaku sambil berdiri memandangi partnerku yang rusak parah. “Lebih tepatnya ... apa masih bisa diperbaiki?”
 “Wah, gimana ya?” gumam pak Andika sambil memeriksa kondisi motorku. “Rangkanya sih jelas rusak parah dan kurasa mustahil dipakai lagi. Aku enggak ngerti kondisi mesinnya ya, soalnya waktu terakhir kali kamu bawa kemari, aku bahkan tidak bisa membuka satu pun bagian dari mesin aneh motormu ini. Terus, enggak usah tanya gimana nasib fairing motormu ini, soalnya udah tidak berbentuk lagi. Kurasa sudah saatnya kamu beli motor baru.”
Seketika itu juga aku langsung menghela nafas panjang. Sesuai dugaanku, motor tua ku itu sudah benar-benar mati ... Kalau kuingat-ingat lagi kejadian dalam ‘mimpiku’ waktu aku mati suri, aku kan memang meninggalkan motorku di seberang sungai, yang menurut Irvan adalah sungai Styx. Kalau legenda soal sungai dunia kematian itu memang benar, maka waktu itu aku tidak membawa ‘motorku’ kembali ke dunia.
“Benar-benar tidak bisa diperbaiki?” tanyaku sekali lagi.
Pak Andika mengangkat bahunya.
“Aku benar-benar tidak menyarankan kau menggunakan lagi rangka motormu ini. Sudah terlalu parah rusaknya. Kalau mesinnya ... yah ... mungkin saja bisa dipakai lagi. Kelihatannya sih blok-blok utama mesinnya masih utuh,” jawab pamanku itu. “Tapi entah ya, aku tidak bisa jamin sih.”
“Tidak masalah,” sahutku. “Walau pun cuma mesinnya, aku ingin bagian dari motorku yang lama dipakai lagi untuk motor baruku nanti. Kuserahkan semuanya pada paman ya.”
Mendengar ucapanku, pak Andika lalu berdiri dan menepuk-nepuk bahuku.
“Serahkan saja padaku!” balasnya penuh semangat, sembari memainkan kunci pas besar di tangannya. “Kali ini bakal kubongkar mesin aneh di motormu itu!”
Mendengar ucapan pak Andika perasaanku bercampur antara lega dan ngeri.
Mudah-mudahan saja tidak terjadi hal-hal aneh pada pamanku ini. 

****