Friday, June 27, 2014

Tantangan Teen-lit: Pelindung Bumi?



Tantangan Teen-lit: Pelindung Bumi?

            “Kamu adalah orang yang terpilih sebagai Pelindung Bumi. Sekarang, bangun dan terima takdirmu!”
            Alvian Cahyadi tertegun menyaksikan seekor burung berbulu merah bertengger di jendela kamarnya, kemudian mengucapkan kalimat barusan. Dia mengucek mata beberapa kali, mengorek telinga, kemudian mencubit pipinya. Sekedar memastikan kalau dia sudah benar-benar bangun, bukan sedang bermimpi.
            “Aku masih mimpi ya? Masa sih ada burung bisa bicara?” Alvian bergumam sendiri sembari berbaring, kemudian menarik kembali selimutnya. “Selamat tidur.”
            “HEI!” Si burung merah berseru protes, kemudian meloncat ke atas tubuh Alvian. “Ini bukan mimpi, dan aku serius! Hei! BANGUN!”
            “Berisik ah! Ini kan cuma mimpi,” gerutu Alvian dari balik selimutnya. “Sudah deh, pergi sana! Aku mau tidur.”
            Mendengar ucapan Alvian, si burung merah tiba-tiba saja mematuk tubuh pemuda itu dengan paruhnya yang panjang dan tajam. Tindakannya itu membuat Alvian berteriak kaget, meloncat ke samping, kemudian jatuh dari tempat tidur.
            “SAKIT!”
Alvian berseru protes sambil mengusap belakang kepalanya yang terasa sakit setelah menghantam lantai keramik yang keras.
            “Huh! Rasakan!” dengus si burung merah. Dia lalu mengibaskan sayapnya dan menunjuk ke arah Alvian. “Dengarkan aku baik-baik, dunia tempat tinggalmu dalam masalah, dan hanya kamu yang bisa menyelamatkannya! Jadi, bangkitlah dan jadilah Pelindung Bumi!”
            “Ogah!” jawab Alvian tanpa pikir panjang.
            “HEI!” protes si burung merah. “Ini serius!”
            “Aku juga serius,” balas Alvian sambil berdiri, namun tetap menjaga jarak dari burung ganjil di atas kasurnya itu. “Memangnya siapa sih kau ini? Tahu-tahu muncul dan seenaknya bilang aku ini penyelamat atau semacamnya...”
            Si burung merah terlihat berpikir sejenak, dia lalu menepuk dada dengan sebelah sayapnya.
            “Namaku Vermeil, sang Penjaga Keseimbangan,” ujar si burung merah. Dia lalu menunjuk lagi ke arah Alvian. “Dan kau adalah Pelindung Bumi yang terpilih.”
            “Pelindung Bumi?” ulang Alvian bingung.
            “Ya, Pelindung Bumi. Orang terpilih yang akan melindungi dunia ini dari kekacauan yang dibawa oleh Utusan Kegelapan, Eldive. Dengan kekuatanmu, kau bisa menyelamatkan dunia ini sebelum seluruhnya ditelan kekuatan gelap,” ujar Vermeil lagi. “Apa kau mengerti?”
            Alvian menatap burung ajaib di depannya itu sambil memegangi kepalanya dengan sebelah tangan. Dia masih berusaha mencerna arti ucapan Vermeil barusan.
            “Sebentar... siapa yang seenaknya menunjukku jadi Pelindung Bumi?” tanya Alvian. “Tuhan?”
            Vermeil tiba-tiba saja mengalihkan pandangannya ke arah lain.
            “Eeh... bukan,” jawabnya.
            “Terus, siapa?” desak Alvian.
            “Aku,” jawab Vermeil dengan nada riang dan polos.
            “Kalau begitu, lupakan!” geram Alvian. “Aku enggak tahu kau ini sebenarnya apa, tapi jangan ganggu kehidupan normalku! Lagi pula, paling ini semua cuma lelucon. Pasti kau ini burung beo terlatih yang sengaja dikirim untuk membuatku bingung, iya kan?”
            Vermeil terdiam mendengar ucapan Alvian. Tiba-tiba saja sorot mata burung merah itu berubah menjadi tajam. Pada saat yang bersamaan, suhu kamar kos Alvian terasa meningkat tajam. Seolah-olah ada yang sedang menyalakan alat pemanas di dalam ruangan sempit itu.
            “Jadi, kau perlu bukti ya? Baiklah.”
            Nada bicara Vermeil mendadak berubah menjadi dingin. Alvian langsung merinding karena merasa baru saja membuat sebuah kesalahan fatal.
            “Akan kutunjukkan wujud asliku agar kamu tahu, aku tidak main-main!”
Vermeil bicara sambil mengangkat kedua sayapnya. Pada saat yang sama, pusaran api mendadak muncul entah dari mana dan melahap tubuh mungil burung merah itu. Hawa panas yang dihasilkan kobaran itu membuat Alvian menjerit ketakutan. Dia mengira tubuhnya akan habis terbakar oleh api ajaib yang mendadak berkobar itu. Namun anehnya, tidak satu pun barang di kamar Alvian yang ikut terbakar, begitu pula tubuhnya. Meskipun hawa panasnya nyaris tidak tertahankan, tapi tubuh Alvian masih utuh.
“Cukup! Maaf! Aku tadi enggak sopan! Jangan bakar aku!”
Akhirnya Alvian tidak tahan lagi dan memohon agar Vermeil menghentikan apinya.
Nyaris sama mendadak dengan kemunculannya, kobaran api di sekitar Vermeil menghilang begitu saja dan menampilkan wujud asli burung ajaib itu. Begitu perubahan wujudnya selesai, dia langsung berkata dengan bangga pada Alvian.
“Nah? Bagaimana? Hebat kan?” seru Vermeil.
Kali ini Alvian hanya bisa melongo.
Soalnya kali ini yang di hadapannya berdiri seorang gadis cantik berambut merah dan bersayap mungil. Gadis itu berdiri berkacak pinggang tanpa mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya... alias telanjang bulat.

****

Thursday, June 12, 2014

Everyday Adventure VII



Everyday Adventure VII
(Tersesat)

“Ini amat sangat tidak bagus ... !”
Buggy berseru sambil berpegangan erat di punggung Maria, sementara hembusan angin disertai debu partikel nano-material bertiup kencang di sekitar kedua robot itu. Saking kuatnya tiupan angin itu, langkah Maria berkali-kali oleng karena tidak kuat menahan terjangannya.
“Kau benar! Ini tidak bagus!” sahut Maria sambil berjalan maju dengan susah payah. Meskipun sudah mengerahkan semua tenaga yang dia punya, tapi gynoid itu tetap saja kesulitan untuk melangkah maju melawan arah angin. Dia lalu memicingkan mata, berusaha untuk melihat menembus kabut tebal berlapis debu nano-material berwarna keperakan dan kilatan listrik yang sesekali muncul di udara. Sayangnya pandangannya nyaris tertutup total oleh debu keperakan yang menerpa wajahnya.
“Kau tidak apa-apa, Buggy?!” Maria berteriak pada Buggy yang masih berusaha berpegangan di bajunya.
“Tidak! Semua sistem navigasi dan komunikasiku mati dengan sukses, tapi selain itu aku baik-baik saja!” balas Buggy dengan suara agak gemeresik. Sepertinya serbuan medan elektromagnet yang mengikuti fenomena Kabut Elektrik ini juga mengganggu sistem pengeras suaranya.
Robot-robot berteknologi cyber-brain, seperti Maria dan Buggy, memang dirancang untuk dapat bertahan menghadapi gelombang elektromagnetik dahsyat. Namun tetap saja kekuatan alam jauh lebih dahsyat lagi. Meskipun belum terlalu parah, tapi semua sistem navigasi dan komunikasi yang dimiliki Maria ataupun Buggy sekarang mati total. Karena itulah, kini mereka berdua benar-benar tersesat. Belum lagi ditambah fakta bahwa badai yang membawa debu nano-material itu benar-benar menutupi pandangan mereka. Bagi Maria dan Buggy, berjalan di tengah kabut seperti ini, sama seperti berjalan menembus badai salju tebal. Bedanya, dalam badai salju sedahsyat apapun, robot dengan teknologi navigasi canggih seperti Buggy tetap bisa menemukan arah yang benar.
“Apa kau tahu ke mana kita harus pergi?” Maria bertanya pada Buggy yang bergelantungan di belakang punggungnya. “Semua sistem navigasiku mati total!”
“Mana kutahu!” balas Buggy putus asa. “Kan sudah kubilang tadi, semua sistem navigasiku juga mati total! Entah ada di mana kita sekarang! Semuanya keliatan sama saja... putih mengerikan!”
Andai saja aku tadi tidak berlama-lama pergi keluar di cuaca seperti ini...
Maria kini menyesali keputusannya untuk pergi jauh dari Bravaga hari ini, padahal Ryouta sudah melarangnya. Namun kepergiannya itu bukan tanpa alasan, Maria sengaja keluar kota demi menyaksikan kemunculan sebuah ‘pesawat hantu’ legendaris. Konon hari ini pesawat itu akan melintasi bekas pangkalan tua yang berada jauh di timur kota Bravaga. Tidak ada yang tahu pasti benda apa itu sebenarnya, bahkan robot-robot kuno seperti kakek Tesla atau Ryouta juga tidak tahu. Yang pasti pesawat itu berwarna putih bersih, nyaris transparan, serta memiliki rentang sayap lebih lebar daripada sebuah stadion olahraga. Meskipun pesawat raksasa itu melintas cukup dekat dengan daratan, sama sekali tidak ada suara yang terdengar. Seolah pesawat itu hanya terbuat dari bayangan atau sekedar ilusi belaka.
Walau akhirnya Maria bisa melihat pesawat hantu itu dengan kepalanya sendiri, tapi sekarang dia malah terjebak Kabut Elektrik. Padahal badai itu memang diramalkan akan turun gunung hari ini.
“AWAS! Menunduk!”
Seruan Buggy membuat Maria tersentak dari lamunannya. Tanpa pikir panjang, dia merunduk tepat ketika sebuah potongan metal melesat cepat di atas kepalanya. Telat sedikit saja, benda itu pasti membentur wajah Maria. Benda tebal dan berat itu baru saja terbang dengan kecepatan yang sulit dipercaya, kemudian membentur sesuatu di kejauhan. Dengan ngeri, Maria membayangkan apa jadinya kalau potongan logam itu tadi menghantam kepalanya. Pastinya itu akan terasa sakit sekali.
“Maria! Berbahaya nih kalau kita jalan tanpa arah kayak begini. Sebaiknya kita buru-buru cari tempat berlindung yang aman!” Buggy kembali berseru dari balik punggung Maria. “Aku enggak mau jadi besi rongsokan gara-gara badai ini!”
Maria mengangguk setuju.
“Setuju!” serunya.
Masalahnya sekarang... di mana mereka bisa menemukan tempat berlindung yang aman dalam cuaca seperti ini? Bagi Maria, rasanya hanya sebuah keajaiban mereka menemukan bisa gedung atau ruang berlindung bawah tanah, yang setidaknya aman dari terjangan angin.
Namun sepertinya keajaiban itu memang ada.
“Oi, Maria! Kau lihat tidak? Di sebelah sana ada bangunan!”
Buggy mendadak berseru sambil mati-matian merayap ke pundak Maria. Robot kecoa itu kemudian menunjuk ke arah bangunan yang samar-samar terlihat di sela-sela angin dan kabut tebal. Memang bentuknya tidak jelas, tapi sekilas bangunan itu terlihat utuh dan bisa dipakai berlindung dari badai mengerikan ini.
“Tunggu apa lagi!”
Maria menyahut sambil berusaha keras berjalan menerobos angin. Namun kekuatan angin, terjangan debu-debu nano-material, dicampur badai elektromagnetik, sepertinya membuat sistem tubuh Maria mulai bertingkah aneh. Kesadarannya mulai goyah dan dia pun seolah-olah sedang berjalan dalam alam mimpi. Langkahnya terasa ringan dan dia pun jadi sulit berpikir jernih.
Bagi Maria saat ini, segalanya mendadak terasa tidak nyata... setidaknya sampai seluruh sistem tubuhnya mendadak menyerah dan mati begitu saja.

****