Tuesday, February 19, 2013

[FdC-JU] Para Pemburu Maut


Aku melangkah masuk ke dalam area TKP sambil menutup hidung dengan sebelah tangan. Bau anyir darah selalu membuatku tidak nyaman. Meski tidak sampai membuatku mual dan ingin muntah, tetap saja aku tidak suka mencium bau itu. Tapi apa boleh buat. Ini bagian dari pekerjaanku sebagai anggota tim penyidik di kepolisian.
“Bagaimana kondisinya?”
Aku menyapa seorang polisi yang berjongkok sambil menutupi sesuatu dengan kain hitam. Dia langsung menoleh dan mencermati sosokku sejenak, sebelum memberi hormat singkat, kemudian menjawab pertanyaanku.
“Buruk, kolonel Dika. Aku belum pernah lihat yang seperti ini sebelumnya,” ujarnya dari balik masker bedah yang dia kenakan. “Ada tiga korban dan semuanya mati karena mutilasi. Tapi jujur saja, selama 10 tahun jadi petugas olah TKP, aku belum pernah melihat situasi seperti ini. Beberapa juniorku yang datang tadi langsung sibuk menguras isi perut mereka di pojokan sana.”
Aku memandang ke segala arah. Wajar saja kalau ada petugas yang sampai muntah-muntah begitu datang ke tempat ini, karena gang lebar tempat terjadinya pembunuhan sadis ini sudah berubah jadi neraka. Darah dan potongan daging korban ada dimana-mana, membuat dinding dan tanah berlapis beton menjadi berwarna merah gelap. Pandanganku lalu teralih ke potongan-potongan besar tubuh korban yang sudah ditutupi dengan kain hitam.
“Jadi...kira-kira siapa pelakunya?” tanyaku lagi pada si petugas olah TKP.
“Monster,” sahutnya singkat. “Setidaknya itu yang ada di pikiranku begitu sampai disini. Semua korban mati mengenaskan dengan cara dikoyak sampai hancur, kemudian potongan tubuh mereka dihempaskan ke segala arah, hingga membuat darahnya menghiasi dinding dan tanah. Kecuali ada beruang atau gorila raksasa kebun binatang Ragunan lepas di tengah kota Jakarta, aku tidak percaya ada makhluk lain yang bisa membuat kekacauan seperti ini.”
Masuk akal, gumamku.
“Yah...tapi tentu saja makhluk seperti itu tidak sungguh-sungguh ada dan berkeliaran di tengah kota kan?” ujar si petugas lagi sambil mengangkat bahunya. “Itu cuma pendapatku saja, pak. Jangan terlalu dipikirkan.”
Sambil tersenyum, aku menepuk ringan bahunya. “Benar. Tentu saja mereka tidak ada,” ujarku. “Lanjutkan tugasmu. Hubungi aku kalau ada perkembangan lain.”
Sang petugas tidak menjawab dan hanya memberi salam hormat singkat, kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sambil memperhatikan dengan seksama, aku menghampiri potongan tubuh salah satu korban dan menyingkapkan kain hitam yang menutupinya.
Aku mengernyit jijik melihat kondisi potongan tubuh yang terkoyak itu. Seperti kata petugas olah TKP tadi, korban sepertinya dikoyak oleh sesosok makhluk yang sangat kuat. Tidak ada bekas potongan, artinya makhluk itu tidak merobek tubuh korban dengan cakar, melainkan dengan kekuatan fisik semata.
Makhluk apa yang bisa melakukan ini? Aku bergumam dalam hati sambil memeriksa potongan tubuh lainnya. Hasilnya sama. Semua korban memang disobek sampai mati oleh sang pelaku.
“Kolonel Dika.”
Aku mendengar ada yang menyapaku, jadi aku langsung berbalik dan berhadapan dengan kapten Bayu dari tim olah TKP kepolisian. Ekspresi wajahnya jelas-jelas menunjukkan kalau dia tidak mau lama-lama di tempat ini.
“Kapten Bayu, senang bertemu anda,” ujarku sambil berjabat tangan dengannya. “Ada saksi mata?”
Kapten muda itu menggaruk kepalanya sejenak, kemudian mengangkat buku saku yang dia pegang sejak tadi. “Ada...tapi rasanya keterangannya tidak bisa dipercaya,” ujarnya ragu.
“Kenapa?” tanyaku.
“Yah...soalnya saksi mata itu mengaku dia melihat sesosok makhluk tinggi-besar-berotot dan bermata tiga, membunuh ketiga korban dengan merobek tubuh mereka...katanya semudah merobek roti dengan tangan kosong...” jawab kapten Bayu sambil membaca catatannya. “Ada dua saksi mata yang menyebutkan hal serupa...tapi rasanya itu mustahil...makhluk seperti itu tidak mungkin berkeliaran di tengah kota metropolitan seperti ini kan?”
Mungkin saja, pikirku sambil menghela nafas panjang.
Mendengar keterangan kapten Bayu, kini aku tahu siapa, atau lebih tepatnya, apa yang kuhadapi sekarang. Dan dengan begitu, aku membutuhkan bantuan seseorang.
Sebenarnya aku lebih memilih tetap tinggal dan bekerja bersama tim olah TKP untuk mengumpulkan potongan tubuh korban, daripada bertemu orang itu. Tapi aku tidak punya banyak pilihan...
Semoga dia tidak langsung menembakku begitu melihatku muncul di depan pintu rumahnya...gumamku dalam hati.
****