Thursday, January 3, 2013

Fatamorgana: Spiral Staircases

Namaku Ria Rahmawati.

Dunia telah berubah sejak Dual Eclipse terjadi di akhir tahun 2012.

Error, makhluk-makhluk buas yang lahir dari kegelapan dan mimpi buruk manusia, mendadak muncul di berbagai belahan dunia pada awal tahun 2013. Tidak ada yang tahu pasti darimana mereka berasal dan mengapa mereka muncul di dunia ini, yang pasti mereka berbahaya. Sayangnya senjata modern yang dimiliki manusia saat ini pun tidak bisa membasmi mereka. Satu-satunya senjata yang bisa memusnahkan Error adalah Phantasm, makhluk-makhluk yang lahir dari imajinasi dan khayalan manusia. Kemudian orang-orang yang mampu menghasilkan Phantasm itu disebut sebagai Fantasia.

Sayangnya tidak semua Fantasia sadar dan bertanggung jawab atas kekuatan yang mereka miliki. Banyak juga yang berpikir mereka bisa seenaknya menggunakan Phantasm mereka untuk memenuhi semua keinginan mereka. Oleh karena itu dbentuklah organisasi IMAGE yang terdiri dari para Fantasia berbakat, demi melindungi manusia dari keganasan Error dan ulah para Fantasia yang semena-mena.

Seperti biasanya sore ini aku sedang berpatroli kedua orang temanku, Farhan Abdul Gani dan Lutfi Irwansyah. Mereka berdua juga Fantasia dan anggota IMAGE, sama sepertiku. Seharusnya sore hari yang cerah ini jadi sore yang menyenangkan. Sayangnya itu tidak terjadi karena baru saja seorang Fantasia nekat mengeluarkan Phantasm-nya di tengah keramaian.

Sekarang kami bertiga harus menghentikan ulah nekat Fantasia sinting itu sebelum ada orang yang terluka, atau terbunuh.

“Ria! Dia lari ke arahmu!!!”

Suara seruan Farhan langsung membuat lamunanku buyar, dan ketika aku tersadar, tahu-tahu pandanganku tertutup oleh sosok gorila raksasa berbulu perak. Makhluk itu meraung keras sambil mengayunkan tinjunya yang sama besarnya dengan sebuah wajan penggorengan ke arah kepalaku.

Untung gerak refleksku sudah terlatih, sehingga aku langsung menunduk dan membiarkan tangan raksasa itu melesat diatas kepalaku.

Menyebalkan sekali! Gumamku dalam hati. Aku lalu berguling ke kanan dan berdiri sambil merentangkan sebelah tanganku ke samping.

“Fatima!” seruku dengan tegas.

Sesosok gadis pirang berpakaian ketat berwarna hitam-merah langsung muncul di sampingku diiringi hembusan angin. Gadis itu adalah Fatima, Phantasm milikku. Begitu Fatima muncul, aku langsung memberi perintah pada Phantasm itu untuk menyerang si gorila.

“Terjang dia, Fatima!!” perintahku.

Fatima langsung melesat ke arah Phantasm berwujud gorila itu dan mengayunkan tangannya. Dengan pedangnya yang tidak terlihat, Fatima berhasil memotong sebelah tangan gorila itu, tapi gorila itu langsung mengayunkan sebelah tangannya yang tersisa ke arah Fatima. Tapi Fatima bukan Phantasm biasa, dia jauh lebih kuat dari Phantasm gorila yang dia lawan. Dengan perisai di tangan kirinya, yang juga tidak kasat mata, Fatima menahan pukulan gorila itu dengan mudah. Kemudian berputar dan mengayunkan pedang gaibnya ke arah pinggang si gorila. Tebasan Fatima telak mengenai si Phantasm gorila dan membelah makhluk itu jadi 2 tepat di pinggangnya. Diiringi suara raungan keras, Phantasm gorila itu lalu menghilang menjadi serpihan cahaya.

Begitu melihat lawanku sudah kalah, aku langsung menghembuskan nafas lega.

“Kerja bagus Fatima,” ujarku sambil memandang ke arah Fatima. Gadis pirang itu membungkuk memberi hormat lalu menghilang bersama dengan sebuah pusaran angin.

“Ria! Kau tidak apa-apa?!”

Aku langsung menoleh ke arah Lutfi yang terlihat khawatir. Pemuda itu berjalan menghampiriku didampingi oleh Phantasm-nya, Durandall, seekor centaur berbaju besi lengkap dengan sebuah pedang yang nyaris sama besar dengan tubuh Lutfi. Mereka berdua langsung menghampiriku.

“Aku tidak apa-apa,” balasku.

“Syukurlah,” ujar Lutfi sambil menghembuskan nafas lega.

Kami berdua lalu berpandangan sejenak, sebelum akhirnya aku memalingkan wajah duluan karena malu. Wajah Lutfi yang memang tampan, jadi makin tampan kalau dia sedang serius atau sedang mengkhawatirkan sesuatu. Sialnya itulah yang membuatku menyukainya, meski aku tidak pernah berterus terang padanya.

“Oi! Kalau kalian udah selesai bermesraan, kesini deh!”

Tiba-tiba Farhan berseru dari kejauhan. Pemuda bertampang cuek dengan rambut awut-awutan itu tampak berjongkok di samping seorang pria berjaket kulit yang tidak sadarkan diri. Pria itulah si Fantasia yang tadi memulai semua keributan ini. Anehnya setelah Phantasm-ku, Fatima, mengalahkan Phantasm pria itu, dia langsung jatuh pingsan.

“Kenapa dia?” tanyaku pada Farhan.

“Mana kutahu,” sahut Farhan sambil mencubit lengan si pria berjaket kulit dengan keras, tapi tidak ada respon. “Dia pingsan setelah Phantasm-nya kau bantai, Ria. Jujur nih, ini baru pertama kalinya terjadi....biasanya sih enggak begini.”

“Ngomong-ngomong siapa orang ini?” tanya Lutfi.

“Mana kutahu, emangnya aku ini bapaknya?” balas Farhan dengan nada ketus. Dia lalu merogoh ke dalam saku celana dan jaket yang dikenakan si Fantasia pembuat onar. Tidak lama kemudian Farhan tampaknya menemukan apa yang dicarinya.

“Apa yang kau temukan?” tanyaku penasaran.

Farhan lalu menunjukkan benda-benda yang dia temukan padaku dan Lutfi. Benda pertama adalah secarik kertas kumal yang tampaknya tidak berharga. Tapi begitu aku membuka lipatan kertas itu, aku bersiul karena rupanya kertas itu adalah sebuah peta Bandung. Hanya saja di beberapa tempat di peta itu tampak sebuah tanda lingkaran dan silang.

“Apalagi yang kau temukan?” tanya Lutfi, kini giliran dia yang merasa penasaran.

Farhan lalu melemparkan sebuah koin pada Lutfi. Begitu melihat koin apa itu, Lutfi tampak terkejut.

“Ada apa?” tanyaku begitu melihat perubahan ekspresi di wajah pemuda itu.

Lutfi lalu memberikan koin itu padaku. Koin itu tampak biasa saja, hanya sebuah koin yang disepuh dengan emas. Hanya saja lambang trisula terbalik yang diukir di koin itulah yang membuatku dan Farhan terkejut. Lambang itu adalah lambang milik Persaudaraan Tombak Langit, kelompok aliran sesat pemuja Error yang dibubarkan oleh IMAGE sekitar 3 bulan yang lalu. Kudengar tadinya kelompok itu berniat menggabungkan Error dan Phantasm untuk menciptakan sebuah Phantasm dengan kekuatan setara Dewa. Untungnya rencana mereka digagalkan oleh tim IMAGE yang terdiri dari 4 orang Fantasia yang sangat kuat. Sayangnya sisa-sisa anggota Persaudaran Tombak Langit sekarang sama sekali tidak diketahui keberadaannya, mereka seperti hilang ditelan bumi.

“Peta ini sepertinya menunjukkan lokasi pertemuan atau markas rahasia mereka,” gumam Lutfi sambil berpikir keras sambil memandangi peta kumal di tangannya. “Ini sepertinya masalah serius.....”

“Kalau emang serius, aku ogah terlibat,” balas Farhan sambil mendengus. “Serahkan aja masalah ini pada para elit di IMAGE. Biar mereka yang ngurus, bukan kita.”

Aku merasa agak jengkel dengan sikap Farhan. Kami bertiga memang bukan golongan elit di IMAGE, tapi kami juga tidak lemah. Masing-masing Phantasm kami memiliki level 3, diatas level rata-rata Fantasia lainnya.

Tiba-tiba saja aku mendapat ide gila.

“Hei! Bagaimana kalau kita saja yang pergi menyelidiki salah satu tempat yang di peta itu?” usulku dengan nada bersemangat. “Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di tempat itu!”

Farhan tentu saja tidak setuju dan langsung protes.

“Kau gila ya?!” protes pemuda itu sambil berdiri.

“Ayolah! Apa susahnya sih? Kita kan hanya melakukan penyidikan kecil-kecilan,” ujarku lagi.

Farhan baru akan protes lagi, tapi tidak jadi karena Lutfi tiba-tiba menepuk bahunya.

“Ria benar. Tidak ada salahnya kita menyelidiki paling tidak satu diantara banyak tempat di peta ini,” ujar Lutfi sambil tersenyum. “Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berguna untuk penyidikan lebih lanjut oleh para elit di IMAGE.”

Melihat Lutfi juga ikut-ikutan mendukungku, Farhan langsung menepuk dahinya.

“Terserah kalian aja!” balasnya dengan nada muram. Tapi dia lalu menambahkan. “Tapi kalau ada apa-apa, aku yang bakalan kabur duluan.”

Aku dan Lutfi langsung tertawa mendengar ucapan Farhan.

***