Wednesday, August 6, 2014

Everyday Adventure VIII




Everyday Adventure VIII
(Para Pengembara)



Hari itu kota Bravaga tidak terlihat seperti biasanya. Kota yang dihuni oleh ratusan ribu robot dari berbagai generasi itu tampak lengang, seolah-olah seluruh kota memutuskan untuk menghentikan semua aktivitasnya. Jalanan kota yang biasanya dipadati berbagai jenis robot, kini sama sekali kosong. Begitu pula dengan berbagai pusat aktivitas lainnya.
Seolah-olah kehidupan di kota Bravaga mendadak lenyap begitu saja.
Namun tentu saja bukan itu yang terjadi. Hari ini adalah hari spesial bagi para robot di kota Bravaga, karena merupakan hari di mana mereka akan kedatangan tamu spesial yang hanya datang setahun sekali. Mereka adalah para Pengembara, robot-robot penerbang tangguh yang hidup dengan berkelana ke seluruh penjuru dunia. Setiap tahunnya, mereka akan datang dan singgah di kota Bravaga untuk melepas lelah, memperbaiki diri, serta berbagi pengalaman dan teknologi kuno yang berhasil mereka dapatkan. 
Tidak bisa dipungkiri, banyak dari warga kota yang menantikan kedatangan mereka. Itu alasan mengapa saat ini nyaris seluruh warga kota telah berkumpul di sekitar Central Tower, menara tinggi tempat tinggal Mother, sekaligus pusat kota Bravaga. Sebuah panggung kecil tampak berdiri di depan menara tersebut, dan di situlah tempat kakek Tesla berdiri tegak sembari menengadahkan tangan-tangannya ke udara.
“Demi mereka yang telah pergi, dan untuk mereka yang akan datang, kami hidup dari bayangan masa lalu untuk masa depan!”
Suara kakek Tesla bergema di seluruh sistem pengeras suara kota Bravaga.
“Demi leluhur dan pencipta kami yang telah lama hilang, dan demi generasi baru yang telah dan akan lahir!”
Kakek Tesla membungkuk, kemudian mengangkat sebuah kubus kristal yang menyelimuti sebuah awetan otak manusia. Ketika dia melakukan itu, para robot dan Automa yang hadir di sekitarnya ikut menengadahkan tangan-tangan atau tentakel-tentakel masing-masing. Pada saat yang sama, mereka memejamkan mata, seolah sedang membayangkan masa-masa ketika manusia masih menjadi penguasa bumi.
“Kami warga Bravaga, bersumpah untuk tidak mengulangi kesalahan leluhur kami di masa lalu, dan menjaga bumi dengan penuh kasih sayang. Demi masa kini, dan demi masa depan!”
Kali ini seruan kakek Tesla disambut dan diikuti oleh semua yang hadir di sekitar Central Tower itu. Mereka yang tidak memiliki sistem pengeras suara, mengikuti seruan itu dengan menggunakan sistem komunikasi nirkabel mereka. Akibatnya bunyi sumpah itu tidak hanya terdengar bergema di udara, namun juga bergaung dalam kepala masing-masing robot dan Automa yang hadir.
 Di antara mereka yang hadir di sana, berdiri Ryouta, Buggy, dan juga Maria. Ketiganya turut hadir dalam upacara menyambut kehadiran kembali para Pengembara di kota Bravaga. Mereka berdiri di antara kerumunan warga kota, yang kini, nyaris serempak menatap jauh ke arah langit berawan di atas sana. Seolah-olah mereka semua sedang mencari sesuatu yang bisa muncul sewaktu-waktu dari balik awan.
<Sudah selesai belum?> Maria bertanya pada Ryouta melalui saluran komunikasi nirkabel, agar tidak mengganggu robot lainnya.
Ryouta tidak menjawab, tapi dia mengangguk pelan.
<Terus? Kapan Para Pengembara itu akan datang?> tanya Maria lagi.
Kali ini Ryouta menoleh ke arah gynoid itu, kemudian menunjuk ke langit.
<Mereka sudah di sini,> sahutnya singkat.
Maria langsung menengadah mengikuti arah yang ditunjuk Ryouta. Kedua mata elektroniknya langsung menangkap ratusan titik-titik yang terbang tinggi di udara, kemudian berputar turun dalam lingkaran besar. Tidak perlu waktu lama bagi Maria dan warga kota Bravaga untuk mengetahui mereka adalah robot-robot penerbang dalam berbagai wujud dan ukuran. Mereka melayang turun dalam gugusan dinamis yang selalu berubah-ubah, dan akhirnya mendarat di atap bangunan-bangunan kota. Salah satu dari ratusan Pengembara, kini mendarat di depan kakek Tesla, kemudian melipat sayap logamnya yang berwujud mirip sayap seekor elang.
“Para Pengembara kembali hadir di hadapan Tetua Tesla,” ujar robot bersayap elang itu sembari berlutut di depan kakek Tesla. “Saya Arslan, perwakilan Pengembara, kembali membawakan Batu Langit ke kota ini.”
Arslan kemudian mengangkat sebuah bola kristal berisi tujuh buah batu hitam mengkilat ke hadapan kakek Tesla. Kakek Tesla mengambil bola kristal itu, kemudian balik menyerahkan kotak kristal berisi awetan otaknya kepada Arslan.
“Saya Tesla, perwakilan Bravaga, kembali membawakan Ingatan Leluhur kepada Para Pengembara,” ujar kakek Tesla.
“Dengan ini, lingkarannya sudah lengkap.”
“Dengan ini, lingkarannya sudah lengkap.”
Kakek Tesla dan Arslan mengucapkan kalimat itu pada saat yang bersamaan, sembari mengangkat benda-benda yang mereka bawa. Saat itu juga, suara sorak-sorai bergema di seluruh kota Bravaga. Saking kerasnya suara itu, rongga dada Maria serasa bergetar dan dia pun tiba-tiba merasakan luapan perasaan gembira, sehingga dia akhirnya ikut bersorak bersama seluruh warga Bravaga.

****