Thursday, October 31, 2013

Everyday Adventure V





Adventure V: Ingatan

Ryouta berdiri di tengah reruntuhan bangunan yang sedang terbakar. Android bertubuh besar itu memandang ke sekelilingnya dan bertatap mata dengan ratusan robot berbagai bentuk yang mengarahkan senjata ke arahnya.
Meskipun dikepung oleh sekian banyak robot bersenjata, Ryouta tidak gentar. Dia adalah Guardia. Robot pelindung. Benteng pertahanan manusia. Bagi sebuah robot sepertinya, gempuran ratusan robot bersenjata maut sama sekali bukan masalah, terlebih karena saat ini dia sedang melindungi sesuatu yang sangat berharga.
Di belakang sosok raksasa Ryouta, terlihat sebuah pesawat luar angkasa yang sedang bersiap mengudara. Di dalam pesawat putih itulah bibit-bibit manusia akan berkelana ke seluruh penjuru galaksi, mencari tempat baru untuk tinggal dan membangun kembali ras mereka yang hampir punah. Sejak terjadinya perang besar yang menyapu sebagian besar manusia, dan bahkan menghancurkan setengah bulan, manusia harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Terlebih karena ternyata masih banyak manusia yang haus darah akan manusia lainnya, dan terus berperang, meskipun tahu itu justru akan mempercepat kepunahan mereka.
“Aku tidak akan membiarkan satu pun dari kalian lewat!”
Ryouta meraung murka sambil membuka semua sistem persenjataannya. Puluhan tabung misil dan belasan katup homing laser langsung tersingkap dari sekujur tubuhnya, membuat sosoknya yang sudah menakutkan menjadi semakin mengerikan. Namun bersamaan dengan itu, robot-robot yang mengepungnya juga melepaskan tembakan dari senjata-senjata mereka.
Seketika itu juga seluruh dunia menjadi putih bersih. Ryouta tidak bisa melihat apapun dan tidak bisa mendengar apapun. Yang dia tahu adalah dia harus terus menembak dan menghancurkan apapun yang berani mencoba melewati pagar pembatas area peluncuran di belakangnya. Hanya berbekal sensor-sensor panas dan gerak di tubuhnya, Ryouta mengamuk dan menembak ke arah apapun yang bergerak di dekatnya. Tidak peduli apakah itu robot, ataukah itu manusia.
Dia tidak tahu berapa lama dia bertarung membabi-buta seperti itu. Yang dia tahu, dia harus bertahan selama mungkin, selagi pesawat di belakangnya itu bersiap meluncur ke angkasa, membawa harapan baru bagi ras manusia.
Di tengah kekacauan yang melanda sekitarnya, Ryouta mendadak mendengar suara deru nyaring dan menoleh sekilas ke belakang. Pesawat putih yang tadi ada di belakangnya, kini sudah mengudara dengan diiringi semburan mesin ion berkekuatan dahsyat, dan suara menggelegar yang menghancurkan semua kaca jendela gedung di sekitarnya. Melihat pesawat itu lepas landas, Ryouta tersenyum lebar dalam hati. Dia tahu tugasnya sudah selesai sekarang dan dia pun akhirnya bisa merasakan kedamaian.
Dan hal terakhir yang di ingat Ryouta adalah sebuah tembakan laser yang dengan telak menembus dadanya.
****

Friday, October 4, 2013

Everyday Adventure IV



Adventure IV: Backpacker

 “Bosan~!” gerutu Maria.
Tadinya seperti biasa, dia berniat untuk mengganggu Ryouta yang sedang bekerja di lokasi proyek pembangunannya. Tapi hari itu Ryouta sedang tampak sangat sibuk sehingga Maria akhirnya tidak jadi mengganggu temannya itu. Gagal menggoda Ryouta, Maria tadinya ingin berbuat onar dengan mencuri atau mengerjai robot lainnya. Tapi niat itu juga dia urungkan karena dia sedang tidak mood untuk berbuat jahil. Pada akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan di kota.
“Aah~! Daripada mati bosan, lebih baik hari ini aku menjelajah kota saja!” Maria berseru pada dirinya sendiri, sambil menepukkan tangannya.
Dengan santai Maria berjalan menyusuri salah satu jalan utama yang membelah kota Bravaga. Gynoid itu tampak mengamati situasi di sekitarnya sambil sesekali berhenti di depan toko yang menjual asesoris dan suku cadang tubuh. Maria juga sesekali mengamati berbagai sosok robot yang berjalan lalu-lalang di sekitarnya. Mereka semua tampak sibuk dengan urusan masing-masing, meskipun ada juga beberapa robot yang seperti Maria, hanya berjalan mengitari kota untuk menghabiskan waktu.
Dia lalu berpikir sejenak.
“Dipikir-pikir ... kota ini luas sekali ya.”
Maria bergumam pada dirinya sendiri sambil memandang ke arah ujung jalan utama kota Bravaga. Jalan lebar itu tampak membentang hingga puluhan kilometer, hingga menghilang di batas kota yang juga berbatasan dengan kota megapolitan kuno di selatan Bravaga. Kota Bravaga sendiri setidaknya memiliki luas lebih dari 3000 kilometer persegi dan kota itu terus tumbuh ke arah utara dan timur, hingga membuat ukuran kota jadi jauh lebih luas lagi. Saking luasnya kota itu, masih banyak tempat yang tidak diketahui oleh Maria, padahal dia adalah salah satu robot yang paling gemar menjelajahi pelosok kota Bravaga.
Sambil terus berjalan, Maria teringat kata-kata yang pernah dia dengar dulu.
Kota ini sudah tua dan ada banyak lagi bangunan-bangunan dan tempat-tempat yang jauh lebih tua daripada kota ini.
Mother, ibu dari sebagian besar robot di Bravaga, pernah memberitahu Maria soal itu. Namun Mother tidak mau memberitahu Maria di mana saja letak bangunan-bangunan dan tempat-tempat kuno itu. Sikap Mother justru memicu rasa ingin tahu Maria yang memang sangat besar dan membuatnya menjadi penjelajah kota.
Tiba-tiba saja Maria berhenti berjalan. Kedua mata android itu terpaku pada sebuah gedung berkubah yang tampak menjulang di sela-sela bangunan tinggi yang berdiri di sisi jalan.
“Tempat apa itu?” gumam Maria.
Dia lalu memicingkan matanya dan menyadari kalau bangunan itu terlihat jauh lebih tua dari bangunan di sekitarnya. Sekilas dia melihat cat di dinding bangunan itu sudah terkelupas dan noda-noda jamur serta tanah terlihat menghiasi permukaannya. Dari bentuknya, sepertinya bangunan itu sudah ada sebelum kota Bravaga berkembang sampai sejauh ini. Dan yang pasti, Maria belum pernah pergi ke bangunan itu. Begitu menyadari itu, dia langsung tersenyum lebar.
Jangan-jangan itu salah satu bangunan kuno yang dimaksud Mother waktu itu! Seru Maria dalam hati. Kalau begitu, aku harus ke sana!
Maria berjalan mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, lalu berlari dan langsung melompat tinggi ke atap gedung terdekat. Tanpa basa-basi, gynoid
 itu segera berlari ke arah gedung tua yang menjadi tujuannya itu.
Jantungnya berdebar karena bersemangat dan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Semoga tempat itu adalah tempat yang menarik!

****