Wednesday, June 6, 2012

[Fantasy Fiesta 2012]: Planetarium

Illustration by: Mukhlis Nur

“Kenapa sih ada orang yang membangun gedung di puncak bukit?”
Aku menggerutu sambil melangkahkan kaki menaiki ribuan anak tangga di depanku. Kotak logam yang kubawa jadi terasa semakin berat seiring dengan tiap langkahku. Matahari yang bersinar terik di atas sana membuat penderitaanku semakin lengkap.
Sesekali aku menyeka keringat yang mengucur di wajahku.
“Kalau ini bukan urusan penting, aku tidak mau susah payah begini!”
Aku menggerutu lagi sambil terus melangkah naik. Butuh waktu 15 menit hingga akhirnya aku sampai di puncak bukit. Sambil berteduh kelelahan di bawah pohon, aku memandang ke arah Planetarium di depanku. Bangunan tua itu sudah ditinggalkan tidak terpakai selama beberapa tahun, dan ada tanda larangan masuk di pintunya. Tapi beberapa hari yang lalu aku berhasil mendapat izin untuk menggunakan tempat itu.
“Cyrus!! Kenapa lama sekali?!”
 Seorang gadis terlihat berdiri di pintu masuk Planetarium sambil mencibir ke arahku.
“Kau pikir mudah membawa kotak ini sampai kesini, Iona? Benda ini lebih berat dari kelihatannya!” protesku. “Coba kau angkat sendiri kalau tidak percaya!”
Aku langsung mengangkat kotak logam yang kubawa. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tapi percayalah, benda ini berat sekali!
“Aku percaya,” balas Iona tanpa memperdulikan seruan protesku. “Jadi itu barangnya?”
“Galaksi-Dalam-Kotak, bagian terpenting dari proyek musim panas kita,” ujarku sambil memamerkan logo spiral di permukaan kotak itu. “Ngomong-ngomong ini kudapatkan dengan susah payah loh.”
“Ya, ya, bagus! Bawa masuk ke dalam biar kita bisa mulai bekerja!”
Dengan seenaknya Iona meninggalkanku dan masuk ke dalam Planetarium. Dia benar-benar mengabaikan usaha keras yang sudah kulakukan demi mendapatkan dan membawa Galaksi-Dalam-Kotak ini.
“Cyrus!!!”
Aku mendengar Iona berseru dari dalam Planetarium. Sambil menghela nafas, aku berjalan masuk ke ruang utama Planetarium yang berbentuk silinder dan beratap kubah tinggi. Ruangan itu nyaris kosong, hanya ada beberapa peralatan milik Iona yang ditempatkan di salah satu sisi ruangan. Begitu masuk, aku langsung meletakkan kotak logam yang kubawa di lantai.
“Apa yang kau tunggu? Ayo buka!”
Iona berseru sambil memandangiku dengan mata berbinar-binar.
Sambil membalas senyumannya, aku membuka tutup Galaksi-Dalam-Kotak di depanku. Sebuah bola hitam pekat langsung melayang naik dan berhenti tepat sejajar dengan dadaku. Bola aneh itu berpendar sambil mengeluarkan semacam gelombang energi, membuatku geli karena merasakan energi asing mengalir di tubuhku.
“Apa itu Material Dasar Semesta?” tanya Iona penuh semangat.
“Benar sekali.”
Aku menjawab sambil merentangkan kedua tanganku kesamping. Setelah menarik nafas panjang, aku menyalurkan energi dari dalam tubuhku ke kedua telapak tanganku. Kemudian aku menoleh ke arah Iona.
“Sudah siap?”
Iona mengangguk dengan bersemangat.
“Kalau begitu....MULAI!!”
Dengan sekuat tenaga aku menepuk bola hitam di depanku dan melepaskan energi yang sudah terkumpul di kedua tanganku. Seketika itu juga muncul sebuah kilatan cahaya menyilaukan, diiringi suara gelegar yang memekakkan telinga. Walaupun hanya berlangsung beberapa detik, fenomena itu dengan sukses membuat mataku perih dan telingaku berdenging. Aku jadi menyalahkan diri sendiri karena tidak membawa kacamata pelindung atau penutup telinga.
“Aduh! Aku tidak tahu suaranya akan begitu keras....” gerutuku sambil menepuk telingaku, berusaha menghilangkan suara denging yang masih tertinggal.
“Namanya juga Big-Bang,” celetuk Iona sambil mengusap matanya yang berair. Dia lalu berseru kegirangan. “Lihat! Cantik sekali!”
Aku membuka mataku dan terpana melihat kabut berpendar yang memenuhi seluruh ruangan. Kabut aneh itu terasa lembut, hangat, serta bergerak mengikuti arah gerakan tanganku.
“Ini yang dinamakan Awan Gas Primordial ya?” tanya Iona sambil membuat pusaran kabut dengan sebelah tangannya. “Indah sekali.”
Aku setuju. Kabut di sekitar kami memang terlihat indah, terlebih karena kabut itu kini mulai menampakkan warna-warni yang menakjubkan. Aku lalu menyadari kalau Iona sekarang sedang menari ringan mengitari ruang Planetarium dengan gembira. Meskipun dia jadi terlihat sangat menawan, tapi sekarang aku harus fokus pada tujuan kami melakukan semua ini.
“Oke. Bisa kita mulai bekerja sekarang? Ada banyak hal yang harus dikerjakan dan libur musim panas tinggal 3 minggu lagi,” ujarku sambil memutar kabut di tanganku menjadi sebuah spiral. “Galaksi Tiruan ini harus selesai dalam waktu seminggu, supaya kita punya waktu mengamati semua fenomena angkasa yang terjadi sampai akhir liburan.”
Iona berhenti menari dan memandangiku dengan tatapan jengkel.
“Apa?” tanyaku.
“Tidak. Ayo kita mulai bekerja,” balas Iona sambil mengambil papan pencatat holografis yang sudah dia siapkan. Dia lalu mengedip nakal ke arahku. “Dan tentu saja bagian yang susah-susah kuserahkan padamu.”
Aku langsung mendengus kesal dan menepuk wajahku.

****

 Cerita lengkap sudah bisa dibaca di Kastil Fantasi!