Thursday, September 8, 2011

Sahabatku Seekor Kucing?!

Sahabatku Seekor Kucing?!

 

Pertama kali aku melihatnya adalah ketika aku pulang sekolah.

Ketika itu aku sedang bersepeda melewati jalan yang biasa kulewati setiap hari. Biasanya sih jalanan itu selalu ramai, terutama pada sore hari. Tapi entah kenapa hari itu jalanan itu tampak sepi. Tidak ada seorangpun yang berjalan di jalan itu.

Wah....tumben sepi? ujarku dalam hati.

Aku mempercepat laju sepedaku.

Jalanan lurus yang di kiri-kanannya ditumbuhi pepohonan lebat itu terkadang membuatku takut. Apalagi di saat seperti ini.

Suara desir dedaunan yang ditiup angin seakan-akan terdengar seperti bisikan gaib di telingaku. Membuat bulu kudukku berdiri dan aku jadi semakin takut. Apalagi ketika aku teringat kalau aku pernah mendengar cerita seram yang berkaitan dengan jalan ini.

Aduuh....kenapa sepi sekali sih! keluhku dalam hati sambil mati-matian memacu sepedaku melewati tanjakan.

Jalanan yang kulalui ini memang terkadang menyebalkan. Meski jalannya sudah diaspal halus, tapi entah kenapa jalan yang naik-turun melewati bukit-bukit itu tetap dibiarkan apa adanya. Kadang aku heran kenapa jalanan ini tidak dibuat rata saja, setidaknya itu akan membuatku lebih mudah melewatinya setiap hari.

Ketika akhirnya aku sampai di puncak tanjakan, aku berhenti sejenak. Dari tempat ini, kota kecil tempatku tinggal bisa terlihat cukup jelas. Deretan bangunan berbagai bentuk dan warna tampak berdiri tegak, menghiasi langit yang masih berwarna biru cerah karena belum terlalu tercemar oleh polusi udara.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

Benar-benar pemandangan yang indah, gumamku dalam hati.

Kemudian aku menoleh ke samping.

Di sisi kiri dan kanan tanjakan tinggi ini sengaja dibuat semacam pelataran yang lumayan luas, serta dilengkapi bangku-bangku taman yang terbuat dari beton. Pelataran itu biasanya ramai saat sore ketika orang-orang sekedar berjalan-jalan menikmati sore, sambil menikmati pemandangan indah matahari terbenam dari puncak bukit ini.

Tapi anehnya....hari ini hampir tidak ada orang. Hanya ada setidaknya 6 orang saja yang sedang bersantai di pelataran itu. Meski begitu, aku langsung menarik nafas lega begitu melihat kalau di tempat ini masih ada orang lain.

Kemudian...aku melihatnya.

Sosok itu terlalu mencolok untuk bisa diabaikan, sehingga mau tidak mau pandanganku terpaku ke sosok misterius itu.

Sosok yang kumaksud itu tidak lain adalah seorang gadis kira-kira seumuran denganku, tapi bertubuh agak mungil dan berwajah manis, meski terlihat agak murung. Gadis itu tampak bersandar pada pagar pengaman sambil memandang menewarang ke arah kota. Jarak gadis itu tidak terlalu jauh dariku sehingga aku bisa mengamati penampilannya, yang benar-benar menarik perhatian itu, dengan jelas.

Satu hal yang membuat gadis itu benar-benar mencolok adalah rambutnya. Rambut gadis itu berwarna putih bersih seperti salju dan memiliki panjang yang mengagumkan, panjang rambut gadis itu hampir melebihi pinggangnya. Gadis itu tampak mengenakan seragam SMA, sama seperti yang kukenakan. Hanya saja dia tampak mengenakan syal beludru berwarna merah yang tampak sangat kontras dengan warna rambutnya. Sosok gadis misterius itu benar-benar membuatku melongo. Dalam arti yang sesungguhnya.

Mulutku tanpa sadar terbuka dan aku yakin ekspresiku pasti terlihat seperti orang idiot. Tapi sosok gadis itu benar-benar menawan, sekaligus sangat misterius. Meski harus kuakui, dia sangat cantik sekali. Bahkan aku yang sama-sama perempuan saja kalah cantik, padahal aku ini tergolong siswi yang populer dengan kecantikannya di sekolah.

Rambut hitamku yang cuma sebahu jelas-jelas kalah dengan pesona rambut putih gadis itu. Tapi sayangnya tubuh gadis itu agak mungil dan sepertinya belum berbentuk. Aku jadi sedikit bangga karena itu.

Tanpa sadar, aku terus memandangi gadis misterius itu.

Gadis misterius berambut putih itu sepertinya sadar kalau dia sedang dipandangi. Dia perlahan menoleh ke arahku.

Kemudian gadis itu tersenyum manis.

“Hai.”

Sapa gadis misterius itu dengan suara merdu, masih sambil tersenyum manis.

Tanpa sadar aku langsung balas menyapanya “Hai juga.”

“Sedang istirahat?” tanya gadis itu lagi.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Ya...tapi cuma sebentar aja. Lumayan capek juga mengayuh sepeda dari bawah sana,” balasku sambil menunjuk ke arah jalanan tempatku datang tadi, yang berada di kaki bukit.

Gadis misterius itu tertawa kecil.

“Sudah pasti kau lelah. Tanjakan bukit ini lumayan panjang dan curam,” ujar gadis itu lagi. “Ah. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Namaku Felis.”

“Aku Aisyah,” balasku singkat sambil tersenyum.

“Aisyah? Nama yang bagus,” puji Felis sambil membalas senyumanku.

Dia lalu berhenti bicara dan memandang ke arah mataku sejenak, lalu memandang ke arah rambut putihnya. Sepertinya dia sadar kalau dari tadi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari rambutnya.

“Penasaran?” tanya gadis misterius bernama Felis itu, sambil memainkan rambut panjangnya. Kilau matahari senja yang berwarna keemasan tampak terpantul dari rambutnya, membuat sosok Felis semakin menawan, sekaligus misterius.

Tanpa sadar aku mengangguk dan berbicara sebelum sempat kucegah.

“Tentu saja. Enggak tiap hari bisa ketemu orang sepertimu,” ujarku dengan polosnya.

Felis kembali tertawa lagi. Dia lalu berjalan mendekatiku.

“Rambutku begini ini asli loh. Bukan dicat atau wig,” ujarnya sambil menarik beberapa helai rambutnya, untuk menunjukkan kalau rambut putihnya itu asli.

Asli?! Tapi kok warnanya bisa putih begitu ya? Tanyaku lagi dalam hati karena penasaran. Sialnya, aku keceplosan mengatakan apa yang kupikirkan itu.

“Asli?! Tapi kok warnanya bisa putih begitu ya?” tanyaku pada gadis itu.

Gadis misterius itu kembali tersenyum manis. Tapi jawabannya akan membuatku makin terperangah.

“Yah...mau bagaimana lagi. Aku kan bukan manusia....”

Begitu dia mengatakan itu, jantungku langsung berdebar kencang. Aku hampir saja mengambil langkah seribu kalau gadis berambut putih panjang itu tidak segera bicara lagi.

“Aku ini seekor kucing,” ujarnya sambil nyengir lebar, memperlihatkan gigi taringnya yang berjumlah lebih banyak dari manusia normal.

****

Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang kudengar dan kulihat, kalau dia tidak benar-benar menunjukkan kalau dia bukan manusia. Bukan hanya memiliki rambut panjang berwarna putih dan taring-taring tajam di mulutnya, kalau mau Felis bahkan bisa memunculkan sepasang kuping kucing dan ekor kucing di tubuhnya.

Dan dia benar-benar melakukannya tepat di depan mataku!

Begitu dia melakukan itu, seketika itu juga aku langsung percaya kalau dia benar-benar bukan manusia, melainkan semacam jelmaan seekor kucing...atau kucing jadi-jadian yang bisa berubah jadi manusia.

“Oke...jadi kau ini kucing?” tanyaku sambil memijat batang hidungku. Kebiasaan yang selalu kulakukan setiap kali aku mulai pusing.

Felis mengangguk bersemangat.

“Benar. Aku ini kucing~!” sahutnya sambil nyengir lebar.

Kepalaku langsung terasa semakin berputar-putar. Semua ini terasa tidak nyata dan tentu saja tidak masuk akal. Tadinya kupikir ini mimpi, sampai kutampar pipiku sendiri dan rasanya lumayan sakit. Jadi kesimpulannya...ini semua nyata!

“Oke...kalau kau ini kucing...kenapa kau bisa berubah jadi manusia!?” tanyaku sambil memandangi gadis-kucing itu.

“Emangnya salah kalau kucing bisa berubah jadi manusia?” tanya Felis dengan polosnya.

TENTU SAJA SALAH!

Aku berseru dalam hati, tapi untung kali ini aku tidak keceplosan teriak di depan Felis.

“Erhm...jadi kau ini sejenis kucing ajaib begitu?” tanyaku lagi. Meski aku masih takut berhadapan dengan makhluk yang tidak jelas ini, aku memaksakan diri bertahan. Walaupun akal sehatku sudah dari tadi berusaha menyeretku menjauh dari hadapan Felis.

Mendengar pertanyaanku, Felis tampak berpikir sejenak.

“Bukan tuh. Aku ini kucing biasa. Enggak ada yang istimewa,” balas Felis. Aku nyaris protes kalau Felis tidak buru-buru menambahkan ucapannya lagi. “Tapi emang di malam gerhana bulan kayak begini, kami para kucing kadang-kadang bisa berubah jadi manusia. Kami sih enggak tahu kenapa bisa begitu. Tapi menyenangkan sekali jadi manusia. Ada banyak hal yang bisa kulakukan pas jadi manusia, tapi enggak bisa kulakukan pas jadi kucing. Aku benar-benar bersyukur deh kami punya kekuatan aneh begini.”

Aku langsung memegangi kedua kepalaku.

Ini semakin tidak masuk akal saja! Seruku dalam hati.

“Tapi kekuatan aneh kami ini hanya bertahan 2 hari saja,” ujar Felis lagi dengan nada agak muram. Dia terdiam sejenak sebelum berbicara lagi dengan nada sedih. “Dan kalau kami balik lagi jadi kucing...kami lupa hampir semua yang terjadi saat jadi manusia...jadi rasanya pengalaman jadi manusia itu seperti mimpi aja. Jadi kayaknya percuma aja aku merasakan enaknya jadi manusia kayak begini.”

Aku terdiam mendengar ucapannya.

Ketika aku melihat ekspresi wajah Felis, aku jadi paham kenapa dia tampak muram. Felis merasa senang menjadi manusia dan sepertinya enggan kembali menjadi seekor kucing.

Aku mendengus jengkel ketika suatu pikiran terlintas dalam benakku.

Ketika seekor binatang seperti kucing merasa senang ketika menjadi manusia, sebaliknya manusia malah lebih senang menjadi binatang. Bahkan banyak juga yang senang sekali bersikap jauh lebih rendah dari binatang.

Tiba-tiba aku berdiri dan membuat Felis tersentak kaget. Aku lalu memegang kedua tangannya dan berkata dengan suara tegas.

“Jangan sedih Felis! Malam ini kita akan bermain sepuasnya! Aku jamin kau akan merasakan pengalaman yang tidak akan pernah kau lupakan selamanya!” ujarku sambil menepuk dadaku dengan penuh percaya diri, lalu menambahkan sambil mengedipkan sebelah mataku. “Serahkan padaku!”

Felis langsung tersenyum manis begitu mendengar ucapanku, lalu mengangguk penuh semangat.

****

Pada akhirnya kami berdua menghabiskan malam hari dengan berjalan-jalan mengelilingi kota. Aku mengajak Felis pergi ke tempat-tempat bermain yang biasa kukunjungi.

Felis tampak begitu senang ketika aku mengajaknya ke pusat perbelanjaan. Gadis yang mengaku sebagai ‘kucing’ itu tidak henti-hentinya berlarian kesana-kemari dan menanyakan hampir segala sesuatu yang dia lihat. Penampilan Felis yang jelas sangat mencolok membuatnya jadi pusat perhatian di tempat itu, ditambah lagi tingkahnya yang tidak bisa diam itu.

Mungkin karena dia memang benar-benar seekor ‘kucing’, Felis hampir tidak bisa menahan diri setiap kali mencium atau melihat makanan yang dipajang di etalase restoran. Berkali-kali aku harus menghentikan gadis itu agar tidak menyerbu masuk ke dalam restoran dan membuat keributan. Hingga akhirnya aku putuskan untuk membawanya makan di salah satu restoran fast-food yang terkenal murah dan enak.

Begitu aku mengajaknya masuk, Felis hampir menangis saking bahagianya.

Aku tersenyum geli melihat tingkah Felis yang benar-benar seperti orang ‘udik’. Meski Felis sering membuat keributan dan menarik perhatian, tapi aku bisa maklum. Toh sepertinya ini pertama kalinya dia datang ke mall.

Selesai makan, aku kembali mengajaknya berkeliling dan akhirnya kami berdua mampir di toko aksesoris dan pernak-pernik kecil yang cukup terkenal di pusat perbelanjaan itu. Aku lalu membelikan Felis sebuah kalung sederhana dengan bandul berbentuk seekor kucing gemuk yang sedang nyengir lebar. Felis sempat cemberut ketika aku memilihkan kalung itu untuknya, tapi kemudian gadis itu menerimanya dengan mata berbinar-binar ketika melihat kalau aku juga membeli kalung yang sama.

Setelah pergi ke pusat perbelanjaan, aku mengajak Felis berjalan mengelilingi kota. Gadis itu tetap tampak bersemangat meski aku sudah mulai lelah dan mengantuk.

Kurasa memang benar kucing itu paling aktif di malam hari.

Sepanjang jalan, aku baru menyadari kalau ada sosok-sosok asing yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Mereka semua memiliki warna rambut yang mencolok. Ada yang berwarna putih seperti Felis, ada juga yang berwarna coklat terang, ada yang abu-abu, ada juga yang hitam tapi bercorak putih, bahkan ada yang sangat nyentrik dengan warna kuning tua bercampur putih dan hitam.

“Ah...mereka semua juga kucing loh.”

Itu jawaban yang diucapkan Felis ketika aku bertanya-tanya siapa sebenarnya orang-orang bergaya nyentrik itu.

Tentu saja aku makin melongo karena jelas jawaban Felis itu sangat tidak masuk akal. Tapi mengingat sekarang ini aku sedang memberikan tumpangan pada gadis jelmaan seekor kucing, aku percaya 100% pada ucapan Felis.

“Sama sepertiku. Mereka juga bisa jadi manusia hanya malam ini saja,” jelas Felis sambil memandangi seorang gadis berambut pirang-belang-putih. “Kalau malam ini sudah berakhir...kami semua akan balik lagi jadi kucing biasa.”

Ketika dia mengatakan hal itu, dia terdengar sedih.

“Felis...” ujarku.

Tiba-tiba Felis menepuk pundakku.

“Belok kanan!” seru gadis itu tiba-tiba.

Spontan aku langsung membelokkan setang sepedaku dan berbelok tajam ke arah jalan di kananku.

“Kita mau kemana?” tanyaku penasaran sambil terus mengayuh sepeda.

Felis hanya tersenyum dan berkata “Tenang aja. Aku mau menunjukkan sesuatu yang hebat. Sesuatu yang istimewa bagiku dan kayaknya sih bakal jadi istimewa bagimu juga.”

“Apa itu?” tanyaku makin penasaran.

Tapi Felis tidak menjawab dan hanya tertawa kecil.

Jalanan yang ditunjukkan Felis rupanya menanjak cukup tajam, hingga akhirnya aku tidak kuat mengayuh dan akhirnya kami berdua berjalan kaki. Tentu saja aku berjalan sambil menuntun sepedaku.

Setibanya kami di puncak tanjakan, Felis berjalan keluar dari jalan raya, ke arah kerimbunan hutan kecil yang tumbuh liar di kiri jalan.

Awalnya aku ragu untuk mengikutinya, tapi akhirnya Felis berhasil mendesakku untuk mengikutinya.

Setelah merantai sepedaku di tiang lampu di samping jalan, aku berjalan mengikuti Felis menembus semak-semak dan kerimbunan hutan.

Kami berjalan cukup lama hingga akhirnya hutan kecil itu berakhir dan kami sampai di sebuah tanah lapang berumput yang rupanya ada di puncak bukit.

“Kita sampai~!” seru Felis dengan nada riang sambil berjalan ke tengah lapangan.

Aku makin bingung karena di lapangan ini sama sekali tidak ada apa-apa.

“Tempat apa ini?” tanyaku kebingungan.

Felis berputar di tempat, lalu memandangku dengan tatapan gembira. Gadis itu lalu menunjuk ke arah langit. Aku mengikuti arah yang dia tunjuk, lalu terdiam.

Bulan sudah naik sampai tepat diatas kepala dan warna bulan benar-benar indah.

Akibat gerhana bulan, bulan purnama kali ini berwarna merah terang. Tidak hanya itu, karena langit yang sedikit berkabut dan dingin di malam hari, tampak lingkaran halo di sekitar bulan. Membuat suasana malam terasa semakin indah, sekaligus terasa ‘mistis’.

“Ini adalah satu-satunya tempat di kota ini, dimana kita bisa melihat bulan dan langit dengan sangat jelas,” ujar Felis sambil berjalan menghampiriku. “Ini tempat spesial bagiku. Setiap kali aku sedih atau kecewa, aku selalu menyendiri disini. Tempat ini jauh sekali dari keramaian jadi tidak ada polusi udara, suara, dan cahaya disini.”

Aku menutup mataku.

Felis benar.

Tempat ini benar-benar tenang dan membawa rasa damai.

Suara hiruk-pikuk kota yang biasanya selalu kudengar, kini digantikan oleh suara desir angin, dedaunan, dan suara serangga malam yang bersahut-sahutan.

Suara-suara alam itu membuat hati dan pikiranku jadi lega dan terasa tenang.

Tanpa sadar aku duduk di atas rumput dan memandang menerawang ke arah kota yang bisa terlihat dari tebing di depan. Kota kecil nan sibuk itu tampak berkilauan karena lampu-lampu jalan, rumah, dan gedung yang menyala sepanjang malam.

Meski ini sudah hampir tengah malam, entah mengapa aku merasa enggan untuk pulang.

“Felis. Ini benar-benar tempat yang indah dan damai. Terima kasih karena sudah membawaku ke tempat seperti ini,” ujarku sambil menoleh ke arah Felis yang berdiri di sampingku.

Gadis itu tersenyum manis sambil membungkuk ke arahku.

“Tidak, harusnya aku yang berterima kasih, Aisyah. Berkat dirimu, malam ini benar-benar terasa sangat istimewa,” balas Felis sambil tersenyum. Tapi kemudian senyumnya jadi terkesan sedih.

Gadis berambut putih panjang itu lalu berbisik di telingaku.

“Maafkan aku. Tapi sudah saatnya kau pulang, Aisyah. Meski aku ingin sekali bersamamu sampai besok pagi, tapi ini saatnya kita berpisah.”

Aku hendak protes karena aku juga masih belum mau berpisah dengan Felis. Tapi tiba-tiba saja aku merasa luar biasa mengantuk, dan tanpa sadar aku tertidur.

Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku, sayup-sayup aku mendengar suara Felis.

“Terima kasih banyak, sahabat manusiaku, Aisyah.”

Lalu semuanya gelap.

****

Aku terbangun keesokan harinya dengan perasaan bingung.

Kenapa bingung? Tentu saja bingung karena aku tiba-tiba saja sudah berada di atas kasurku yang empuk. Padahal terakhir kali kuingat, aku sedang berdiri bersama Felis di sebuah padang rumput kecil di puncak bukit.

Tapi aku tidak bisa lama-lama bingung karena aku harus segera mandi, ganti baju, lalu pergi ke sekolah. Sayangnya di sekolahpun pikiranku tidak bisa tenang. Bayangan Felis terus tergambar di benakku. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke tempat pertama kali aku bertemu dengan Felis, yaitu di puncak jalan tanjakan yang biasa kulalui setiap pulang sekolah.

Sayangnya aku sama sekali tidak bisa menemukan sosok Felis di tempat itu. Sambil menahan rasa kecewa akupun pulang dan mencoba lagi lain waktu.

Tapi tidak peduli berapa kalipun aku mengunjungi tempat itu atau berapa lama aku menunggu disana...Felis tidak pernah datang.

Kini sudah lebih dari 2 bulan sejak aku pertama kali bertemu dengan Felis, gadis ‘kucing’ misterius itu. Kalau kuingat-ingat lagi. Rasanya pertemuanku dengan Felis terasa seperti sebuah mimpi yang singkat, namun indah. Satu-satunya yang membuatku yakin 100% kalau itu semua bukan mimpi adalah kalung dengan bandul berbentuk seekor kucing gemuk warna putih yang kupakai. Kalung itu kubeli ketika aku dan Felis bermain di pusat perbelanjaan, dan kami berdua mengenakan kalung yang sama.

Aku mendesah lesu.

Hari inipun aku menunggu di taman kecil di puncak tanjakan yang akhir-akhir ini jadi sering kukunjungi. Rasanya seperti sudah jadi kebiasaan saja aku menyempatkan diri duduk di taman dan memandangi kota berhiaskan cahaya matahari tenggelam yang  berwarna kemerahan.

Sampai akhirpun aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Felis....

Masih banyak hal yang ingin kubicarakan dengan gadis itu. Masih banyak hal yang ingin kukatakan. Dan masih banyak hal lain yang ingin kulakukan bersamanya. Meski pertemuan kami terasa kelewat singkat, tapi aku merasa diantara kami berdua telah terjalin sebuah ikatan persahabatan.

Jujur saja, aku merasa sedih karena sepertinya kami tidak bisa mempertahankan ikatan persahabatan itu.

Aku baru saja berniat untuk  pulang ketika tiba-tiba aku melihat seekor kucing anggora berbulu putih tampak berdiri memandangiku dari seberang jalan. Tadinya aku tidak terlalu peduli sampai aku memperhatikan kalung kucing yang dia kenakan.

Bandul kalung itu tampak berbentuk seekor kucing gemuk berwarna putih.

Begitu melihat bandul kalung itu, aku langsung terbelalak dan tanpa sadar berlari ke arah kucing itu.

Entah karena kaget atau apa, kucing anggora putih itu langsung melarikan diri. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari mengejarnya.

Felis! Itu pasti Felis!

Aku terus berseru dalam hati sambil berlari mengejar kucing itu, tidak peduli kemana dia pergi. Aku bahkan rela memanjat pagar rumah orang atau menerobos lubang besar di tembok beton untuk mengejar kucing putih itu.

Keinginanku untuk bertemu dengan Felis lagi benar-benar mengalahkan akal sehatku. Aku terus berlari mengejar kucing itu hingga akhirnya aku sampai di tanah lapang berumput yang ada di puncak bukit. Tempat terakhir kali aku melihat Felis.

Sambil terengah-engah karena terus berlari nyaris tanpa henti, aku memandang ke sekelilingku. Kucing anggora putih itu sudah menghilang dan tidak kelihatan lagi jejaknya.

Kecewa karena aku gagal bertemu dengan Felis untuk entah kesekian kalinya, aku sudah tidak tahan lagi.

Tanpa sadar air mata mengalir di pipiku dan akupun terduduk, kemudian mulai menangis tanpa suara.

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Yang pasti ketika akhirnya aku merasa lebih tenang, matahari sudah tenggelam dan bulan purnama sudah mulai menampakkan wujudnya.

Sudahlah...kalau kami emang tidak ditakdirkan untuk bertemu lagi. Aku bisa menerimanya. Setidaknya kenangan indah itu masih tersisa dalam benakku....

Aku bergumam dalam hati sambil menarik nafas panjang dan berbalik, siap untuk pulang.

Tapi baru saja aku berjalan beberapa langkah, aku mendengar suara tawa kecil dari belakang. Suara tawa itu sangat familiar di telingaku. Suara tawa itulah yang ingin kudengar lagi selama 2 bulan terakhir ini.

Aku langsung menghapus bekas air mata di wajahku, lalu berbalik dan berseru gembira.

“Felis~! Akhirnya kita bertemu lagi!”

****

~FIN?~