Tuesday, July 28, 2015

Everyday Adventure IX



Everyday Adventure IX
(Penjelajah Angkasa)

Central Tower tetap saja terlihat begitu megah, tidak peduli berapa kali pun Maria melihatnya. Apalagi bila dilihat dari dekat, menara yang tingginya serasa menjangkau langit itu tampak begitu luar biasa. Itu belum ditambah fakta bahwa sebenarnya isi menara itu adalah sebuah pabrik robot yang sangat kompleks dan canggih, sehingga mampu menciptakan robot berteknologi cyber-brain dalam waktu singkat.
Sambil menarik nafas dan tersenyum lebar, Maria melangkahkan kaki memasuki Central Tower. Dengan segera dia disambut oleh ruangan luas berbentuk lingkaran yang merupakan lobi depan menara itu. Seperti biasanya, ruangan itu dipenuhi beberapa robot yang ingin mendapatkan perawatan, atau penggantian suku cadang oleh Mother. Meskipun sebenarnya saat ini sudah cukup banyak robot ahli reparasi di kota Bravaga, sebagian besar robot generasi lama masih bergantung pada perawatan dari Mother, terutama mereka yang dibuat pada era sebelum Catastrophy.
Melihat Maria datang, beberapa robot yang sedang mengantre langsung menyapa gynoid berambut hitam itu.
“Halo, Maria~!”
“Loh? Mau dirawat juga ya?”
“Pagi, Pembuat Masalah.”
“Sendirian saja? Mana Ryouta dan Buggy? Biasanya kalian bertiga?”
Dalam waktu singkat Maria sudah dikerumuni oleh berbagai jenis robot yang ingin menyapanya. Meskipun Maria adalah biang onar di kota Bravaga, tapi dia juga cukup tenar, bukan hanya karena ulahnya, tapi juga karena sifatnya yang energik dan supel. Tidak heran banyak robot yang langsung mengenali gynoid itu begitu dia datang.
“Eeh... ada yang lihat Ryouta? Harusnya dia sudah datang duluan ke sini.”
Maria mengangkat kedua tangan, berusaha untuk keluar dari kepungan para robot yang masih ingin menyapa dan berbicara dengannya. Mendengar pertanyaan itu, sebuah robot berkepala tabung dan bermata satu, langsung menjawab.
“Ah, kalau sang Guardia sih tadi masuk ke level bawah, ke pabrik.” ujar robot itu sambil menunjuk ke arah pintu elevator di seberang lobi. “Ada satu Pengembara yang juga ikut bersamanya. Entah mau apa mereka berdua.”
“Begitu? Kalau begitu aku pergi dulu ya!”
Tanpa banyak bicara lagi, Maria melompat tinggi di atas kerumunan yang mengelilinginya, kemudian mendarat ringan di lantai. Gerakannya yang anggun membuat beberapa robot berseru kagum, beberapa di antara mereka bahkan sempat bertepuk tangan.
Senyum lebar tersungging di bibir Maria selagi dia menekan tombol di dalam elevator. Tidak butuh waktu lama bagi Maria untuk sampai ke pabrik yang berada di bawah tanah Central Tower. Begitu pintu elevator terbuka, dia langsung melihat sosok Ryouta yang sudah berdiri menantinya. Di samping android bertubuh besar itu berdiri Arslan sang Pengembara, yang beberapa waktu lalu mampir ke kota Bravaga.
“Oh! Akhirnya kau datang juga.”
Arslan menyapa Maria dan berjalan menghampiri gynoid itu.
“Kenapa sih kalian tiba-tiba memanggilku ke sini? Ada apa nih?”
Maria bertanya penuh semangat. Dia sama sekali tidak tahu kenapa Ryouta dan Arslan tiba-tiba menyuruhnya datang ke pabrik bawah tanah Central Tower. Padahal biasanya Ryouta melarang Maria untuk seenaknya masuk ke pabrik ini, dan itu adalah satu-satunya larangan yang tidak pernah dilanggarnya. Soalnya dia tahu kalau ada banyak mesin sensitif di bawah Central Tower, sehingga kalau Maria nekat berbuat onar, bisa-bisa fungsi seluruh menara itu bisa lumpuh.
“Ada sedikit tugas dari Mother, dan kupikir tugas kali ini pastinya menarik bagimu.” Arslan menjawab pertanyaan Maria sambil menyikut pinggang Ryouta. “Ayo, tunjukkan padanya.”
Ryouta menghela nafas, kemudian berjalan menyingkir dan memperlihatkan sebuah kotak logam besar yang tadi berada di belakangnya. Kotak yang sepenuhnya berwarna hitam itu tampak kokoh dan juga terlihat sangat berat. Di permukaan kotak itu, tertera sebuah tulisan besar ‘G5’ dengan tinta putih.
“Apa itu?” tanya Maria penasaran.
“Ini suku cadang untuk mesin sebuah Space Battleship,” sahut Ryouta singkat. “Beberapa waktu lalu Mother akhirnya bisa mereplikasi komponen rumit ini. Jadi sekarang kita diminta untuk mengantarkan benda ini pada yang membutuhkannya.”
Maria memiringkan kepala karena bingung.
Space Battleship? Memangnya di Bravaga ada robot yang butuh komponen mesin pesawat luar angkasa?” tanyanya heran. Dia lalu ganti menatap Arslan. “Apa ada anggota Pengembara butuh suku cadang seperti itu?”
Mendengar ucapan Maria, Arslan langsung menoleh ke arah Ryouta, yang segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Kau belum cerita soal itu ya?” tanya Arslan.
“Belum,” sahut Ryouta singkat. Sebelum Arslan sempat bertanya lagi, Ryouta buru-buru bicara. “Aku tahu kau mau tanya apa. Jadi langsung saja kujawab: belum waktunya.”
Arslan mendengus. “Selalu saja begitu,” ujarnya sambil melirik ke arah Maria. “Ini komponen yang diminta oleh Mei beberapa tahun yang lalu. Tapi waktu itu Mother belum punya cetak birunya. Baru sekarang komponen itu bisa dibuat berkat cetak biru yang kami temukan beberapa waktu lalu.”
 “Mei? Siapa itu?” tanya Maria penasaran.
Arslan tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu.
“Automa di Space Battleship G5, Ganymedes. Dia itu satu di antara sekian banyak kapal pelindung armada Project Starchild ratusan tahun yang lalu.”

****

Saturday, July 18, 2015

2nd Spiral: Old Man on The River Bank



Matahari bersinar terik dengan sepenuh tenaga, seolah-olah sedang berusaha memanggang apapun yang berada di bawahnya. Udara panas bergelombang menghiasi jalanan kota Jakarta yang dilalui berbagai kendaraan bermotor tanpa henti. Meskipun demikian, frekuensi kendaraan yang melintas tampak lebih rendah dari biasanya. Kemacetan yang biasanya mengular di hampir sebagian besar jalanan protokol ibukota negara itu, siang ini tidak banyak terlihat.
Salahkan serangan udara panas yang baru-baru ini melanda Indonesia. Konon katanya sih karena efek pemanasan global atau semacamnya. Yang jelas hanya orang gila yang mau keluar di jalanan kota Jakarta yang sedang panas membara seperti sekarang ini.
Sialnya aku termasuk dalam golongan orang gila itu.
Sembari terengah-engah karena kepanasan, aku memacu motorku melintasi jalanan yang cukup sepi untuk ukuran kota metropolitan seperti Jakarta. Tentu saja sepi, sebab sebagian orang yang lebih waras akan memilih untuk berteduh sampai udara panas siang hari ini mereda.
Kalau lebih panas dari ini ... otakku bisa matang!
Aku menggerutu sambil mendahului sebuah bus kota yang melaju santai di sisi kiri jalan. Tapi berkat udara panas ini, pekerjaanku mengantar paket jadi sedikit lebih cepat. Kemacetan yang biasanya menghiasi jalanan sepanjang kanal raksasa ini hilang bagaikan di sihir oleh tukang sulap kawakan.
Udara terasa semakin panas saja, terutama karena aku mengenakan balutan jaket kulit yang sengaja kupakai untuk menghindari masuk angin dan penyakit paru-paru basah. Sayangnya dalam kondisi semacam ini, jaket itu justru malah membuatku merasa semakin terpanggang. Rasanya aku ingin sekali melepaskan semua pakaianku dan berkendara dalam keadaan telanjang bulat.