Thursday, November 9, 2017

NaNoWriMo Project 2017: Kurir Bintang

Jadi, sebagai salah satu bentuk kegilaan apresiasi saya terhadap National Novel Writing Month, atau yang lebih dikenal sebagai NaNoWriMo 2017 ini, maka saya pun memulai sebuah proyek novel baru yang merupakan pengembangan dari cerpen lama yang juga dapat dibaca di blog ini.

Ya.

Kurir Bintang.

Cerpen bertema luar angkasa yang pertama kali ditulis pada tahun 2011 itu pun akhirnya saya pilih untuk dijadikan proyek novel (yang seharusnya) bakal selesai di akhir bulan November ini. Alasan utamanya adalah hanya karena saya sudah lama ingin menulis novel fiksi ilmiah bertemakan perjalanan luar angkasa, dan kebetulan kesempatan itu muncul dalam event NaNoWriMo tahun 2017 ini.

Entah apakah saya akan berhasil menaklukkan NaNoWriMo tahun ini, saya juga tidak tahu. Yang jelas ini adalah kali kesekian (tepatnya ke-6) dari usaha saya mengikuti bulan menulis tersebut.

Seluruh bab dari novel Kurir Bintang ini dapat dibaca secara ekslusif di website Storial.co.
Cerita ini juga saya turut sertakan dalam event Bulan Nulis Novel Storial 2017.

Selamat menikmati.

Red_Rackham 2017

Friday, October 27, 2017

Extra Adventure III: Pesan Dari Masa Lalu


Fio melompat dari satu bangunan ke bangunan lain dengan lincah. Keempat matanya yang awas selalu memeriksa kondisi tempat pendaratannya sepersekian detik sebelum kakinya menapak. Sesekali gadis dari ras Quadra itu memutar tubuhnya dan memperlihatkan gerak akrobatik indah yang membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum.
Seperti biasanya, hari itu Fio bertugas mengantarkan surat ke para penduduk kota Dwipantara, namun berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini dia sengaja mengambil jalan memutar karena mendengar ada hal aneh terjadi di kota di atas awan itu.
Sebuah meteorit jatuh ke distrik 8 semalam dan mengakibatkan kehebohan di sekitar area tersebut. Walaupun tidak ada korban jiwa, tapi memang ada beberapa orang yang terluka akibat hantaman benda kosmik itu. Selain itu, meskipun katanya yang jatuh hanya sebongkah meteorit, tapi kekuatan hantamannya sampai nyaris meruntuhkan sebuah gedung dan menyebabkan berbagai macam kerusakan lain pada bangunan di sekitarnya.
Belum ada kabar jelas soal seperti apa bentuk meteorit yang jatuh itu, tapi desas-desus tentu saja sudah beredar di kalangan penduduk kota dan kabar semacam itulah yang membuat Fio jadi penasaran.
Perjalanan Fio menuju ke distrik 8 kota langit Dwipantara hanya memakan waktu singkat. Tidak lama kemudian dia pun sudah berdiri di atap salah satu gedung di dekat tempat kejadian. Di sekitar gadis itu sudah berkumpul banyak orang yang ingin menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan meteorit semalam.
Tiba-tiba saja keempat mata Fio tertuju pada sosok gadis yang berada di tengah kerumunan di jalanan yang ada di bawahnya, yang tidak lain adalah Kalista Kuon. Gadis bertelinga dan berekor mirip anjing yang pernah hidup di jaman dahulu kala itu terlihat sibuk merawat luka-luka para penduduk yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.
Fio baru saja berniat untuk melompat turun untuk menyapa Kalista ketika pundaknya tiba-tiba ditepuk dari belakang. Gadis itu pun berbalik dan berhadapan dengan seorang gadis lain yang memiliki selaput sayap di kedua lengannya dan sebuah ekor yang juga memiliki sirip bersayap.
“Ngapain kamu di sini?” tanya gadis bersayap itu sambil memegangi kedua pundak Fio. Tatapan ketiga matanya tampak tajam menusuk, sementara ekornya yang bersayap tampak terangkat lurus ke atas. “Pagi ini kamu harusnya punya kerjaan kan?”
“Lua~! Untunglah kau tidak apa-apa. Kudengar rumahmu rusak juga gara-gara meteorit semalam!”
Fio menyapa gadis bersayap di hadapannya itu dengan riang. Dia sama sekali mengabaikan tatapan tajam dari Lua, dan itu membuat Lua jengkel dan langsung mencubit kedua pipi gadis Quadra di hadapannya itu.
“Kok malah balas nanya?!” geram Lua, masih sambil mencubit pipi Fio.
“Mhahaaf~!” balas Fio. “Hahu han hawahir hengan mhu~!”
Mendengar ucapan Fio, Lua Nusi, gadis penerbang dari suku Samme itu pun melepaskan pipi temannya. Dia lalu melangkah mundur sambil berkacak pinggang, sementara Fio masih mengelus-elus pipinya yang baru saja dicubit.
“Aku baik-baik aja kok. Enggak perlu khawatir,” ujar Lua. “Tapi memang rumahku jadi retak-retak dan ada jendela yang pecah. Tapi selain itu aku tidak terluka.”
“Syukurlah kalau begitu,” balas Fio sambil tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, meteoritnya sebesar apa sih? Kok sepertinya kerusakan gara-gara benturannya semalam lumayan parah ya.”
“Enggak besar-besar amat kok, cuma segini.”
Sambil bicara, Lua mengangkat sebongkah batu berwarna abu-abu yang sedari tadi dia bawa. Benda itu tidak lain adalah bongkahan meteorit yang semalam jatuh dan menghasilkan kehebohan di distrik 8. Sekilas terlihat kilatan metalik di tengah-tengah batu yang berasal dari luar angkasa itu.
“Coba lihat!” ujar Fio sambil mengulurkan tangannya.
“Nih,” balas Lua.
Dia pun mengulurkan tangannya, bermaksud memberikan batu yang dia pegang kepada Fio.
Tapi sebelum benda itu sempat berpindah tangan, tiba-tiba saja terdengar suara seruan nyaring.
“FIO, LUA~! Ternyata benar kalian di sini!”
Fio dan Lua pun langsung menoleh ke arah datangnya suara, yang tidak lain berasal dari Kalista. Ternyata gadis bertelinga dan berekor anjing itu sudah datang menghampiri kedua temannya. Tapi sayangnya perbuatannya itu membuat perhatian Fio dan Lua teralih, dan itu membuat Fio gagal menerima batu meteorit dari Lua.
“Ah!” ucap Fio dengan entengnya selagi batu angkasa itu jatuh ke lantai beton dan hancur berkeping-keping dengan diiringi suara nyaring.
Namun begitu batu meteorit itu hancur, tampak sebuah silinder metalik kusam yang terlihat dipenuhi goresan, retakan, dan penyok di seluruh permukaannya. Begitu melihat benda misterius itu, Lua yang tadinya ingin marah pada Fio, jadi justru kebingungan.
“Apa itu?” tanya Lua bingung.
“Silinder logam,” sahut Fio dengan santai. Dia lalu mengambil tabung itu dari lantai dan mengamatinya. “Tapi ini apa ya?”
“Ini ada di dalam meteorit semalam?” tanya Kalista sambil mengambil silinder misterius itu dari tangan Fio. “Ini jelas tidak alami. Maksudku ... benda ini pastinya dibuat oleh seseorang ... dan ternyata ini berat juga.”
“Ada isinya enggak ya?” tanya Lua penasaran. Kini giliran dia yang mengambil benda logam itu dari tangan Kalista, kemudian mengguncang-guncangkannya. Tidak terdengar suara apa pun dari dalam benda itu, tapi dia merasa kalau silinder logam yang ada ditangannya itu menyimpan sesuatu yang berharga.
“Kalau begitu coba dibawa ke tempat Lavi. Dia kan punya macam-macam peralatan pertukangan,” ujar Fio. Dia lalu menoleh ke arah Kalista. “Bagaimana, mau ikut?”
Kalista menyilangkan tangannya sambil menghela nafas panjang.
“Tidak kali ini. Aku masih harus membantu merawat luka beberapa orang yang semalam jadi korban benda itu,” ujar gadis dari ras Ajag itu. “Kalian duluan saja, kalau sudah selesai, aku pasti akan menyusul kalian ke tempat Lavi.”
“Baiklah kalau begitu,” ujar Fio. Dia lalu menoleh ke arah Lua, kemudian tersenyum jahil. “Mau balapan?”
Lua yang tidak pernah tahan kalau ditantang itu langsung membentangkan selaput sayap di kedua tangannya. Gadis itu balas nyengir lebar ke arah Fio.
“Yakin?” ujarnya. “Kalau kau kalah, kau harus mentraktirku makan siang.”
“Siapa takut~!” balas Fio sambil tersenyum lebar. Dia pun mengambil ancang-ancang, kemudian berseru kencang. “MULAI~!”
Bersamaan dengan aba-abanya, Fio berlari cepat dan melompat dari gedung tempatnya berdiri tadi, sementara itu Lua langsung melompat tinggi ke udara dan melayang cepat menyusuri celah-celah bangunan kota Dwipantara.
Tidak lama kemudian sosok keduanya sudah menghilang dan meninggalkan Kalista sendirian. Dia hanya bisa berdiri sendirian sembari menghela nafas panjang menyaksikan tingkah laku kedua temannya yang terlihat kekanakan itu.

****

Saturday, October 7, 2017

Everyday Adventure XV: Time Capsule



Maria berjalan melewati kerimbunan hutan yang kembali menguasai kota yang telah ditinggalkan penghuninya. Gynoid berambut hitam itu sesekali berhenti untuk mengamati rumpun bunga liar yang tumbuh di sisi jalan-jalan kuno kota.
Sejak manusia punah lebih dari 500 tahun yang lalu, alam sudah kembali menguasai reruntuhan kota yang terletak di sisi barat Bravaga. Berbagai jenis tumbuhan, termasuk tumbuhan berjalan atau Travelling Tree, saat ini tumbuh lebat dan menutupi reruntuhan bangunan beton dan logam buatan manusia. Tidak hanya itu, beberapa hewan kecil yang berhasil selamat dari Catastrophy, serta berbagai jenis Backpacker sesekali terlihat melintas atau menjulurkan kepala karena penasaran, sebelum kembali menghilang ke kerimbunan hutan.
Berbeda dengan hutan di sisi lainnya, hutan barat di luar kota Bravaga ini adalah area yang relatif aman, terutama karena keberadaan Mei sebagai pengawas hutan. Meskipun demikian, Ryouta tetap memperingatkan Maria agar tidak pergi terlalu jauh melewati batas pengawasan Mei.
Soalnya meski tubuh Space Battleship milik Mei bisa mendeteksi bahaya, tapi tetap saja lingkup pengawasannya terbatas. Ada lebih banyak area yang tidak terlindung oleh Mei dan sensor-sensor canggihnya itu.
Sebenarnya mau diperingatkan seperti apa pun, sekali Maria berniat melakukan sesuatu, dia pasti akan melakukannya. Dan kali ini, dia punya alasan bagus untuk pergi ke hutan barat ketimbang sekedar iseng.
Entah apa sebabnya, kompas aneh yang diterimanya di kafe misterius bernama Shelter 19 waktu itu kini bertingkah aneh.
Biasanya kompas itu hanya akan memperdengarkan suara senandung merdu dalam bahasa yang tidak dikenali Maria, tapi kali ini sebuah anak panah holografis muncul dan melayang di atas kompas itu. Karena penasaran, sejak pagi tadi Maria mengikuti arah yang dituju anak panah itu, dan membawanya sampai di hutan barat ini.
“Sebenarnya panah itu nunjuk ke mana sih?”
Buggy bertanya sembari merayap ke pundak Maria. Seperti biasanya, robot berbentuk kecoak raksasa itu juga ikut bertualang bersama Maria dan kebetulan hari ini dia juga sedang tidak ada pekerjaan lain.
“Entah ya,” sahut Maria dengan polosnya. “Tapi ke mana pun tujuan akhirnya, pastinya ada sesuatu yang seru deh!”
Kedua mata Buggy yang bulat langsung berbinar-binar.
“Sayang Ryouta enggak ikut. Padahal kalau ada dia kan jadi lebih seru,” komentar Buggy. Tapi dia lalu segera menambahkan dengan nada datar. “Yah, tapi dia pasti gak bakalan mau diajak menjelajah begini sih. Pastinya dia akan bilang ini terlalu berbahaya buat kita.”
Maria mengangguk sambil nyengir lebar. Tadinya dia ingin Ryouta ikut menemani petualangannya, tapi android bertubuh besar itu masih harus kerja keras membantu memperbaiki kota Bravaga paska hujan meteor beberapa waktu lalu.
“Hutan di sini semakin rimbun saja.” Buggy berkomentar setelah mengamati pemandangan di sekelilingnya. “Padahal terakhir kali aku ke sini, enggak seperti ini loh.”
Maria ikut mengamati hutan di sekitarnya. Buggy benar. Area ini benar-benar sudah berubah jadi hutan belantara. Nyaris tidak terlihat lagi bangkai-bangkai kendaraan yang berserakan di jalanan, atau gedung-gedung yang setengah roboh. Semuanya sudah tertutup oleh kerimbunan hutan yang tumbuh begitu subur, seolah alam berusaha secepat mungkin menghapuskan jejak manusia yang dulu menjajah tempat ini.
“Hei! Panahnya berubah bentuk tuh!”
Mendengar itu, Maria langsung mengalihkan pandangan ke kompas logam di tangannya. Benar kata Buggy, bentuk anak panah holografis di kompas yang dia pegang itu kini berubah menjadi lebih rumit. Lantunan musik yang keluar dari alat itu juga sudah berubah menjadi lebih bertenaga dan terdengar bersemangat.
“Sepertinya kita sudah dekat nih!”
Maria langsung bersemangat dan mempercepat langkahnya. Tanpa ragu, dia menembus semak-semak yang menghalangi jalan demi mengikuti petunjuk anak panah di kompasnya.
Selama beberapa saat, gynoid berambut hitam itu berjuang menerobos kerimbunan semak berduri yang tumbuh lebat dan menghalangi jalannya. Beberapa Travelling Tree kecil langsung bergerak menyingkir dari jalur Maria. Tumbuhan-tumbuhan yang bisa bergerak itu sekilas tampak kesal dengan perbuatan gynoid itu.
Setelah menembus kerimbunan selama beberapa menit, tiba-tiba saja Maria berhadapan dengan area terbuka yang luas.
“Whoa!”
“Wow!”
Maria dan Buggy berseru kagum sekaligus kaget melihat hutan yang tadi menyelimuti mereka, kini digantikan oleh petak-petak bekas kebakaran hebat. Kawah-kawah dengan berbagai ukuran juga tersebar di hadapan mereka.
Untungnya api yang membakar kawasan ini sudah padam dan hanya meninggalkan jejak-jejak berupa semak-semak dan pohon yang berwarna kehitaman karena bekas terbakar.
“Sepertinya efek hujan meteor waktu itu juga sampai ke sini.” Buggy bergumam sambil melayang mengitari sebuah kawah kecil di depan Maria. Kedua matanya yang tajam langsung mengamati bekas-bekas tumbuhan yang terbakar di sekelilingnya. “Untung saja kebakarannya tidak sampai merambat ke mana-mana.”
Maria mengabaikan ucapan Buggy karena anak panah di kompasnya kini menunjuk ke arah salah satu kawah yang berada tidak jauh di depannya. Tanpa ragu-ragu, Maria bergegas menuju ke arah yang ditunjuk kompas logamnya itu. Begitu sampai di dasar kawah, tiba-tiba saja kompas milik Maria berhenti bekerja.
Benda misterius itu kini diam begitu saja.
“Kok kompasnya berhenti?” Buggy bertanya sambil mendarat di atas kepala Maria.
“Entah. Tiba-tiba saja suara sama hologramnya hilang. Aneh sekali.”
Maria mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kompas miliknya itu, dengan harapan benda itu akan bekerja lagi. Tapi usahanya sia-sia, benda itu kini benar-benar berhenti bekerja.
Sambil menghela nafas panjang, Maria memandang ke sekelilingnya. Pastinya ada sesuatu di sekitar sini yang membuat kompas itu menuntunnya ke sini. Alat itu juga sepertinya berhenti bekerja begitu Maria sampai di tempat yang harus dia kunjungi.
“Hei! Apa itu?” Buggy mendadak melompat turun dan mendarat di dasar kawah. Dia lalu mulai menggali dan menyingkirkan tanah yang menimbun sebuah benda bulat yang sepertinya terbuat dari logam. “Benda apaan nih?”
Maria buru-buru menyimpan kompasnya di saku, kemudian menghampiri Buggy. Selama beberapa saat, dia memperhatikan benda logam yang masih setengah tertanam di tanah itu. Tampaknya benda itu jatuh dari luar angkasa dan mendarat di hutan ini bersama meteorit yang jatuh beberapa waktu lalu.
Sejenak Maria ragu untuk menyentuh bola logam itu. Soalnya dia sama sekali tidak tahu benda apa itu. Bisa saja itu benda berbahaya yang seharusnya tidak boleh disentuh, seperti bom misalnya.
“Buggy, kau punya pemindai energi kan? Coba dipakai deh,” ujar Maria pada temannya itu. “Jangan-jangan itu bom atau ranjau!”
“Serahkan padaku!”
Buggy menyahut sambil mengaktifkan pemindai energi miliknya itu. Butuh waktu beberapa detik bagi sistemnya untuk memproses data yang dia terima, kemudian menyimpulkan kalau benda itu tidak berbahaya. Setidaknya tidak ada sumber energi besar di dalam benda itu, meskipun permukaan bola logam itu dipenuhi bekas-bekas radiasi kosmik.
“Aman. Sepertinya ini bukan benda berbahaya. Banyak jejak radiasi kosmik, tapi yang jelas ini bukan bom.” Buggy melaporkan sambil berlagak memberi hormat kepada Maria dengan satu kakinya. “Laporan selesai~!”
Maria nyengir lebar, kemudian mengangkat bola logam yang setengah tertanam di tanah itu. Di luar dugaannya, benda aneh jauh lebih berat dari kelihatannya dan terasa sangat kokoh. Meskipun permukaannya yang terbuat dari logam terlihat meleleh bekas gesekan dengan atmosfer, tapi sepertinya keseluruhan benda itu masih utuh.
Maria kemudian menyadari kalau pola-pola yang menyelimuti permukaan bola logam itu bukan sekedar bekas lelehan logam biasa. Ada bentuk-bentuk mirip peta dunia, namun dengan formasi benua dan pulau yang agak asing baginya.
“Ini apa ya?” Maria bertanya-tanya sambil mengamati seluruh permukaan bola yang dipegangnya itu. Dia lalu melihat ada guratan tulisan di salah satu sisi bola itu. “K.E.O.? Apa artinya itu?”
Buggy memiringkan tubuhnya.
“Entah deh,” balasnya. Mendadak Buggy mendongak ke atas dan menyadari kalau langit mulai mendung. “Eh, sebaiknya kita pulang. Sepertinya cuaca bakalan berubah lagi tuh. Jangan sampai kita kena Kabut Elektrik seperti waktu itu!”
Kali ini Maria mengangguk dan tidak membantah lagi. Dia tidak mau tersesat lagi dalam badai Kabut Elektrik seperti waktu itu. Dulu Maria dan Buggy memang bisa selamat dari badai penyebab distorsi ruang-waktu itu, tapi lain kali mereka mungkin saja tidak seberuntung waktu itu.
Sambil bertanya-tanya, Maria bergegas kembali ke kota Bravaga sambil membawa bola logam KEO itu di pelukannya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu Ryouta untuk menunjukkan benda yang dia temukan di hutan itu. Maria berharap temannya itu mengenali benda bertulisan KEO itu dan bisa menjelaskan apa fungsinya.
Sambil memikirkan itu, senyum lebar pun menghiasi wajah Maria.
Pasti bakalan seru nih!

****