Sunday, June 16, 2019

Everyday Adventure XX: Orabelle

Sebelumnya Maria tidak begitu peduli dengan siapa dirinya, karena baginya, ada lebih banyak hal lain yang lebih penting dan lebih menarik dari itu. Mencari peninggalan manusia, menjelajahi Bravaga, dan menemukan hal-hal baru di kota tempat tinggalnya itu jauh lebih penting dan lebih menarik bagi Maria. Namun setelah insiden yang terjadi di Colony beberapa waktu lalu, Maria pun jadi semakin bertanya-tanya tentang jati dirinya. Gynoid itu juga lalu mengingat kembali beberapa kejadian aneh yang pernah terjadi pada dirinya, terutama kilasan-kilasan misterius ketika Maria menyentuh atau berhadapan dengan benda-benda peninggalan era sebelum Catastrophy.
Tentu saja itu membuat rasa penasarannya pun juga semakin menjadi-jadi, terutama setelah Graham, seorang Automa berkedudukan tinggi yang tinggal di Colony, menyebutkan sesuatu yang membuat Maria semakin kebingungan.
Machina.
Setelah insiden yang mengakibatkan hampir seluruh sistem pertahanan Colony lumpuh, Graham menduga kalau Maria adalah sebuah Machina yang mampu menembus seluruh pertahanan digital di kota tersembunyi itu. Terlebih karena kekacauan yang terjadi di kota para Automa waktu itu terjadi setelah Maria terhubung ke sistem Colony.
Sebenarnya Maria masih tidak percaya dengan ucapan Graham, tapi berhubung Ryouta, Arslan, Kakek Tesla, dan bahkan Mother tidak mau menjawab pertanyaan seputar jati dirinya sendiri. Kini Maria berniat untuk menemui satu-satunya sosok di Bravaga yang mungkin mengetahui banyak hal soal Machina, dan yang juga mungkin mau menjelaskan asal-usul Maria sendiri. Dia tidak lain adalah Dokter, seorang Automa tua yang tinggal di tengah hutan reruntuhan kota kuno yang ada di sisi lain Bravaga.
Itu sebabnya gynoid itu kini tengah berlari dan melompat-lompat di atas atap bangunan-bangunan beton yang dibangun tidak beraturan di kota Bravaga itu. Maria ingin segera mencapai tempat tinggal Dokter dan memaksa Automa itu untuk menjawab semua pertanyaan yang sejak beberapa hari belakangan ini memenuhi cyberbrain-nya.
Kini Maria hanya bisa berharap kalau Dokter bersedia menjelaskan siapa sebenarnya dirinya itu, dan ... kalau memang dia sebenarnya adalah sebuah senjata mematikan dari era sebelum Catastrophy ... Maria benar-benar ingin tahu untuk apa dia dibuat oleh Mother dan apa perannya di kota Bravaga ini. Perang sudah berakhir ratusan tahun lalu dan seharusnya sudah tidak ada alasan lagi bagi Mother untuk membuat lagi sebuah senjata maut seperti Machina. Bahkan satu-satunya Machina yang dia kenal, yaitu Arslan, sudah lama menanggalkan tubuh dan senjata aslinya, serta meninggalkan kehidupan lamanya sebagai senjata pemusnah massal.
Karena sedang memikirkan terlalu banyak hal, Maria nyaris tidak menyadari ada sosok lain yang berdiri di tengah-tengah atap gedung, tepat di titik di mana gynoid itu seharusnya mendarat. Beruntung Maria sempat melihat sosok itu. Dengan sigap dia memutar tubuh, bermanuver di udara, kemudian mendarat dengan canggung dan pada akhirnya jatuh terduduk di lantai beton. Menyadari kalau ada yang nyaris menabraknya, sosok yang wujudnya mirip seperti seekor beruang yang terbuat dari bulu sintetis dan logam itu langsung berbalik badan ke arah Maria. Ternyata dia tidak lain adalah Borodino, rekan latih-tanding Ryouta, dan juga bekas robot perang di era Perang Bulan Kedua sebelum Catastrophy.
“Wah! Maria! Maaf aku jadi mengacaukan pendaratanmu. Kau tidak apa-apa?” tanya Borodino dengan suara cempreng khasnya sembari mengulurkan sebelah cakarnya. Maria pun menyambut uluran itu dan bergegas berdiri sambil membersihkan celana jeans pendeknya dari debu dan pasir yang menempel.
“Enggak apa-apa, salahku juga sih enggak liat-liat pas mau mendarat,” balas Maria sambil tersenyum tipis. “Sedang apa kamu di sini sendirian?”
Borodino menggaruk belakang kepalanya, yang tentu saja, bukan karena dia merasa gatal.
“Ada masalah di Central Tower. Entah gimana caranya, ada robot Generasi Baru yang kabur sebelum Mother sempat melakukan penyesuaian di sistemnya,” ujar robot mirip beruang itu. “Singkat kata, robot itu belum sepenuhnya ‘sadar’ dan itu sangat berbahaya bagi dirinya dan bagi robot lain di sekitarnya. Belum lagi ditambah kemungkinan dia diserang mutan buas atau Robot Liar kalau dia sampai keluar dari batas kota Bravaga.”
“Wah! Kalau begitu kita harus mencarinya sebelum terlambat!” seru Maria sambil mengambil ancang-ancang untuk melompat ke gedung sebelah. Untungnya dia langsung menyadari kalau dirinya tidak tahu apa-apa soal robot Generasi Baru yang melarikan diri itu. “Eh ... ngomong-ngomong bagaimana wujud robot baru itu?”
Borodino memang tidak bisa menunjukkan ekspresi wajah dengan baik, tapi robot perang kuno itu menyeringai lebar sebagai ganti senyuman. Dia pun mengakses kumpulan file foto dan detail dari robot Generasi Baru yang kabur itu, kemudian membuka kanal data nirkabel yang bisa diakses Maria.
“Sambungkan dengan kanal data yang baru kubuka, biar kukirimkan semua data soal robot itu yang kuterima dari Mother,” ujar Borodino sambil mengetuk pelipisnya dengan tangannya yang bercakar.
Maria pun menutup mata sejenak untuk mengakses data yang disiapkan oleh Borodino. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai semua data terkait robot Generasi Baru yang melarikan diri itu sampai ke cyberbrain Maria. Begitu menyaksikan foto sosok robot yang bertingkah janggal itu, Maria langsung terpaku di tempat. Pasalnya, sosok robot Generasi Baru yang sedang membuat onar itu memiliki wujud sangat humanoid seperti dirinya. Bedanya, gynoid yang fotonya sedang diamati oleh Maria itu agak sedikit lebih pendek, serta memiliki rambut pendek sebahu yang berwarna biru muda, nyaris transparan.
“Imut!” seru Maria tanpa bisa ditahan. Gynoid itu lalu membuka matanya dan menoleh ke arah Borodino. “Jadi dia ini beneran kabur dari Central Tower?”
Borodino pun mengangguk mengiyakan.
“Kok bisa?!” tanya Maria penasaran. Soalnya gynoid yang kini fotonya terus terpajang di sudut cyberbrain Maria itu tidak tampak seperti sosok yang suka membuat onar seperti dirinya. Dia juga tidak mengerti bagaimana gynoid bertampang imut itu bisa kabur dari menara di pusat Bravaga yang memiliki sistem keamanan ketat itu.
Seketika itu juga Maria langsung teringat pada dirinya sendiri, dan insiden yang terjadi di Colony beberapa waktu yang lalu. Dia pun langsung menduga kalau robot yang kabur ini juga sebenarnya seperti dirinya ... sebuah Machina ... atau setidaknya, memiliki kemampuan seperti sebuah Machina.
“Mana kutahu,” sahut Borodino sambil mengangkat bahunya. “Tapi itu tidak penting, yang penting sekarang kita harus menemukannya sebelum gynoid itu terlibat masalah. Kau mau membantu?”
Tanpa pikir panjang, Maria mengangguk mengiyakan.
“Tentu saja!” ujarnya sambil menepuk dadanya. “Aku akan membantumu mencari gynoid yang melarikan diri itu.”
“Terima kasih, Maria. Bantuanmu benar-benar sangat berarti,” ujar Borodino. Dia lalu terdiam sejenak, kemudian menoleh ke arah lain. “Aku dapat kabar kalau ada yang melihat sosok mirip gynoid baru kita itu di sisi timur kota. Kau mau ikut denganku?”
Maria kembali mengangguk mengiyakan.
“Tentu saja" sahutnya dengan segera.
“Baiklah kalau begitu ... ikuti aku!”
Seiring dengan ucapannya itu, Borodino mengambil ancang-ancang dan melompat tinggi ke gedung yang ada di sebelahnya. Maria pun langsung mengikuti robot berwujud mirip beruang itu dari belakang.
Sambil mengikuti Borodino, pikiran Maria sekilas kembali memikirkan soal jati dirinya, tapi kemudian gynoid itu menggelengkan kepalanya. Dia tahu kalau ini bukan saatnya memikirkan soal dirinya sendiri. Ada urusan lain yang lebih penting dan ini juga menyangkut keselamatan gynoid lain seperti dirinya, jadi Maria memutuskan untuk menyingkirkan pikiran-pikiran lain dan fokus pada misinya untuk menemukan gynoid yang melarikan diri itu ... sebelum robot Generasi Baru itu mendapat masalah ... atau membuat masalah lain.

****

Monday, May 6, 2019

Everyday Adventure XVIV: Maria


 Dengan diikuti Buggy, Maria berjalan menyusuri lorong bangunan serba putih mengikuti langkah Graham. Beberapa Automa yang kebetulan berpapasan dengan mereka, sempat berhenti sejenak dan jelas terlihat bertanya-tanya. Beberapa dari mereka langsung menunduk singkat, tanda hormat, sebelum akhirnya memberi jalan kepada rombongan itu.
Menyaksikan itu, Maria semakin sadar kalau Automa bernama Graham yang berjalan di depannya itu benar-benar memiliki posisi sangat penting di Colony. Terutama karena mereka baru saja melewati gerbang besar yang dilengkapi dua pasang robot bertampang mengerikan dan bersenjata berat itu dengan sangat mulus dan tanpa hambatan sama sekali.
“Profesor Graham, kami sudah menunggu Anda.”
Sesosok gadis tampan berpakaian agak mirip dengan Graham bergegas menghampiri Graham dan Maria begitu mereka melewati gerbang. Berbeda dengan Automa lain yang sejauh ini dilihat Maria di Colony, sosok gadis ini terlihat jauh lebih mirip manusia. Hanya saja, entah apa sebabnya, sensor tubuh Maria langsung bereaksi. Persis seperti yang terjadi setiap kali dia berhadapan dengan Arslan.
“Terima kasih sudah menjemputku, Shao,” sahut Graham. Dia lalu menoleh ke arah Maria, dan Buggy yang sedang bertengger di atas kepala gynoid itu. “Perkenalkan, ini Maria, gynoid Generasi Baru, dan Buggy, robot mata-mata dari era Catastrophy. Mereka berdua tamu dari Bravaga.”
Gadis bernama Shao itu menghampiri Maria, kemudian menatap tajam ke arah gynoid itu. Dan tentu saja itu membuat Maria merasa agak tidak nyaman. Tanpa sadar dia melangkah mundur.
“Ah!” ujar Shao ketika menyadari kalau tingkahnya telah membuat takut tamunya itu. Dia lalu mengulurkan sebelah tangannya. “Maaf kalau sudah membuatmu takut. Namaku Shao, asisten Profesor Graham.”
Maria pun tersenyum lebar untuk membuang rasa takutnya jauh-jauh, lalu menjabat tangan Shao.
“Perkenalkan, namaku Maria, robot Generasi Baru dari Brava ...”
Maria belum sempat menyelesaikan perkataannya ketika tiba-tiba saja pemandangan di sekitarnya berubah menjadi sebuah areal luas yang dipenuhi rongsokan ratusan, atau ribuan mesin dengan berbagai wujud, yang bertumpuk dan bercampur dengan bangkai manusia. Aroma kematian dan kehancuran menguar kuat dan menggantung di udara, sementara langit dihiasi semburat merah dan ratusan bintang jatuh, yang sebenarnya bukan sekedar meteorit biasa, melainkan merupakan potongan bulan yang tampak baru saja hancur sebagian. Jauh di depan, Maria menyaksikan sesosok gadis berpakaian serba biru yang menenteng sepucuk pistol yang masih memercikkan kilatan energi. Ketika melihat sosok itu, tiba-tiba gelombang kengerian luar biasa menerpa Maria, dan membuat gynoid melompat mundur karena ketakutan.
Seketika itu juga, Maria seolah kembali ke dunia nyata, dan di hadapannya, terlihat sosok Shao yang juga terlihat terkejut bukan main. Gadis itu terlihat memegangi sebelah tangannya dan jelas-jelas kebingungan.
“Ada apa, Shao? Ada yang salah?” tanya Graham penasaran. Dia lalu menoleh ke arah Maria, yang juga terlihat kaget bukan main. “Maria? Ada apa?”
Maria memandangi Graham sejenak, dia masih ragu dan tidak ingin menceritakan ‘kilasan’ yang dia lihat barusan ketika menyentuh tangan Shao. Oleh karena itu, Maria terpaksa berbohong kepada Automa di hadapannya itu.
“Enggak ada apa-apa. Hanya sedikit ... eh... kaget. Soalnya ada feedback energi waktu aku menyentuh tangan Shao,” ujar Maria sambil memaksakan senyuman. “Tapi enggak masalah kok. Cuma kaget doang.”
Graham tersenyum tipis.
“Ah, begitukah?” tanyanya sambil melirik ke arah Shao, asistennya itu. “Maafkan dia. Mungkin karena dia itu Machina, ada beberapa robot yang bereaksi kuat dengan sumber energi, atau Core miliknya.”
Maria terbelalak kaget, sekaligus kagum, karena tidak menyangka kalau gadis berparas androgynous di hadapannya itu juga Machina, sama seperti Arslan. Tapi sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut, Graham keburu bicara lagi sambil berjalan mendahuluinya.
“Ayo. Kita masih banyak urusan dan sebaiknya cepat diselesaikan,” ujar Graham. Dia lalu menepuk pundak Shao, dan Machina itu pun mengangguk dan mengikuti langkahnya.
Maria bertukar pandang sejenak dengan Buggy, yang masih setia bertengger di atas kepalanya, kemudian mengangkat bahu, lalu berjalan mengikuti Graham dan Shao. Sementara itu, cyberbrain gadis robot itu masih dipenuhi berbagai pertanyaan terkait pengalamannya barusan. Pasalnya, kilasan yang dia lihat tadi itu terasa begitu nyata, seolah-olah dia benar-benar berada di tengah padang kehancuran itu, dan itu membuat Maria merinding sendiri ketika dia mengingat peristiwa barusan.
Yang tadi itu apa ya? Gumamnya dalam hati.

****

Monday, December 10, 2018

Everyday Adventure XVIII: Colony


Jarak yang harus ditempuh Maria dan Buggy untuk sampai ke Colony dengan menggunakan MagLev sebenarnya hanya memakan waktu setengah jam saja, namun bagi Maria, perjalanan itu seolah-olah makan waktu seharian. Sejak naik ke dalam kereta magnet yang melayang dengan kecepatan tinggi itu, Maria sudah tidak sabar untuk turun lagi. Gynoid itu ingin segera bertemu dengan para Automa yang tinggal di Colony, yang juga merupakan perwujudan dari manusia-manusia yang tersisa di Bumi pasca terjadinya Catastrophy.
Sulit bagi Maria untuk membayangkan bagaimana kehidupan para Automa di Colony itu, sebab satu-satunya Automa yang dia kenal adalah sosok yang penyendiri dan tidak suka bersosialisasi. Selain itu, dia belum pernah mendengar informasi lengkap mengenai kondisi di dalam Colony sendiri, kecuali dari cerita beberapa robot yang konon ikut membangun kota itu di masa lalu.
“Gyamtso, sebenarnya kehidupan di Colony itu seperti apa sih?”
Maria akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Automa yang tadi menjadi pemandunya di Outpost. Gyamtso pun menoleh dan terlihat berpikir sejenak.
“Hmm ... bagaimana ya? Bisa dibilang biasa-biasa saja,” sahut Automa itu. “Sebagian Automa menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang menurut mereka menarik. Sementara yang lainnya ... yah ... memilih untuk menyelam jauh ke dalam Virtual Sphere.”
“Virtual Sphere?” tanya Maria penasaran. “Apa itu?”
“Dunia virtual. Singkatnya sih itu ruang maya di mana para Automa bisa menjalani kehidupan sesuai yang mereka mau. Sebagian besar hidup di dunia maya yang diprogram semirip mungkin dengan tempat tinggal mereka di masa lalu, sementara yang lain ... yah ... bisa dibilang bermain-main dengan kehidupan lain yang lebih seru,” jelas Gyamtso. Dia lalu terdiam cukup lama, sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya lagi. “Bisa dibilang itu adalah cara para Automa untuk melarikan diri dari kenyataan pahit bahwa dunia yang dulu mereka kenal sudah berakhir lama sekali. Bagaimanapun juga, bagi sebagian orang, runtuhnya peradaban Manusia terjadi begitu cepat. Terlalu cepat malah, sehingga sama sekali tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau peradaban kami ini begitu ... rapuh.”
Maria memandangi Gyamtso cukup lama. Meskipun Automa bertubuh setengah laba-laba itu tidak memiliki wajah yang bisa menunjukkan emosi dengan jelas, tapi Maria tahu kalau Gyamtso merasa sedih ketika dia menjelaskan soal itu.
“Yah ... tapi itu sudah terjadi lama sekali,” ujar Gyamtso lagi. “Yang penting sekarang adalah fakta bahwa kami semua masih hidup. Itu yang terpenting. Bukan begitu?”
“Betul! Itu yang terpenting~!” sahut Buggy, yang bertengger di atas kepala Maria.
Maria pun ikut mengiyakan.
“Iya. Itu yang paling penting!” ujar Gynoid itu dengan nada riang, dia lalu menoleh ke arah tumpukan berbagai barang yang ada di ruang kargo, tempatnya dan Gyamtso berada saat ini. “Ngomong-ngomong. Barang-barang yang dikirim dari Bravaga ke Colony itu apa sih?”
“Huh? Anda tidak tahu?” tanya Gyamtso kebingungan.
Maria menggelengkan kepalanya.
“Enggak tahu,” sahutnya singkat. “Enggak ada yang ngasih tahu dan aku sendiri enggak nanya sih.”
Gyamtso berjalan mendekati salah satu peti kargo, kemudian membuka dan mengeluarkan isinya, yang ternyata semacam komponen mesin.
“Suku cadang tubuh Automa, komponen mesin, dan alat-alat elektronik lainnya,” ujar Gyamtso sambil menyerahkan sebuah benda mirip tabung yang dia ambil dari peti kargo kepada Maria. “Dengan kemampuan yang dimiliki oleh Clone Replicator di Central Tower kota Bravaga, kalian bisa menciptakan berbagai macam benda berteknologi tinggi yang sudah lama hilang sejak Catastrophy menghancurkan peradaban manusia. Sementara itu, kami di Colony memiliki sumber daya mineral yang kaya dari perut bumi, tapi tidak punya teknologi yang cukup canggih untuk mengolah sebagian besar dari mereka menjadi benda-benda yang kami butuhkan. Jadi ... kami mengirim material mentah ke Bravaga, dan Bravaga mengirim balik barang-barang hasil olahan ke Colony.”
“Jadinya impas ya~!” sahut Maria sambil mengembalikan tabung yang dia terima dari Gyamtso. “Bravaga dapat bahan untuk bikin berbagai macam barang, Colony dapat barang hasil olahan Mother.”
“Ya. Singkatnya seperti itu,” ujar Gyamtso lagi. “Tapi tentu saja kami juga membiarkan Clone Replicator mengambil sebagian material mentah dari kami untuk dipakai membuat suku cadang para robot dan komponen lain yang dibutuhkan kota Bravaga.”
Maria mengangguk-angguk paham. Dia baru akan bertanya lagi ketika MagLev yang ditumpanginya perlahan-lahan mengurangi kecepatannya, kemudian berhenti dengan satu sentakan lembut yang nyaris tidak terasa.
<Stasiun akhir: Colony>
Sebuah suara mekanis terdengar bergema di saluran nirkabel terbuka milik Maria. Gynoid itu pun langsung bangkit dari kursi tempatnya duduk dan berdiri dengan tidak sabar di depan pintu kereta. Tidak lama kemudian, pintu kereta MagLev itu pun terbuka dan menampakkan sebuah ruangan luas berbentuk tabung, dengan deretan beberapa kereta MagLev lainnya di jalur-jalur lain. Suara deru mesin pun terdengar ketika beberapa alat-alat berat otomatis tampak bergerak cepat menghampiri kereta yang ditumpangi Maria, kemudian membongkar kargo-kargo besar dengan cepat dan efisien.
“Selamat datang di Colony, Maria, Buggy.”
Gyamtso berkata sambil berjalan mendahului Maria dan Buggy, ke arah sebuah kendaraan lain yang mirip sebuah trem kuno dari era lebih dari 1000 tahun yang lalu. Dia pun lalu memberi isyarat tangan kepada kedua tamunya untuk segera naik.
Nyaris sambil melompat-lompat, Maria pun bergegas menghampiri Gyamtso dan naik ke kendaraan kuno, yang jelas terlihat tidak serasi dengan tampilan stasiun besar bawah tanah tempatnya berada itu. Namun tentu saja gynoid itu tidak mempermasalahkan soal itu, sebab saat ini dia sangat bersemangat untuk bisa menjelajahi Colony, tempat tinggal para Automa itu.
“Sudah siap?” Gyamtso bertanya pada Maria, dan gynoid itu pun mengangguk. “Baiklah, kita pergi sekarang!”
Seiring dengan ucapannya, trem kuno yang mereka naiki pun bergerak perlahan menyusuri rel diiringi suara derit halus, kemudian masuk ke dalam terowongan yang ada di sisi lain stasiun. Sementara itu, Maria nyaris melompat-lompat di dalam trem karena saking semangatnya. Sikap dan ekspresi yang terpampang di wajah gynoid itu pun membuat Gyamtso tersenyum dalam hati.

****