Wednesday, December 29, 2010

Everyday Adventure I: UIang Tahun

Setelah lama ga menyentuh blog ini, akhirnya gw update lagi.
Kali ini updatenya berupa sebuah cerpenyang terinspirasi dari gambar gw sendiri ^__^

Yang akan gw posting berikut ini adalah versi indonesianya, tapi di akhir post ini akan gw kasih link utk versi inggrisnya.

Btw, gambar berikut adalah desain karakter dari Ryouta, Maria, dan Buggy:

Android gathering - unfinished by ~redrackham on deviantART

Selamat membaca ^____^.




Everyday Adventure I: Ulang Tahun



Hari ini Ryouta terbangun bukan karena alarm di jam internalnya menyala, tapi karena suara ribut di luar kamarnya. Android bertubuh besar itu langsung duduk dan mendengarkan suara ribut apa yang membuatnya terbangun. Tapi karena dia baru bangun, sistemnya belum aktif sepenuhnya sehingga dia duduk dulu selama beberapa detik sebelum akhirnya telinga elektroniknya bisa menangkap satu kata yang dibawa angin masuk ke dalam kamarnya.
“BERHENTI!! DASAR KAU PENCURI CILIK!!!”
Seketika itu juga Ryouta langsung bangun dan menyambar jaket hijau lengan buntung miliknya dan berlari keluar kamar.
Hanya ada satu robot atau android di kota Bravaga yang seringkali dipanggil dengan sebutan ‘pencuri cilik’.
“Maria....” gerutu Ryouta sambil berlari ke jalan. Dia lalu melompat tinggi ke atas salah satu bangunan bertingkat di dekatnya dan memandang berkeliling. Dengan cepat mata besarnya menangkap sosok ramping Maria yang melompat-lompat diatas bangunan, sementara seorang android gemuk, yang melaju di atas 4 roda, mengejarnya di jalanan.
Ryouta mengenali android gemuk itu sebagai pemilik sebuah toko suplai energi di dekat rumahnya, dan memang sering menjadi sasaran pencurian oleh Maria.
Sebenarnya Maria bukan robot miskin yang sampai harus mencuri untuk bisa bertahan hidup. Hanya saja Maria punya sifat buruk, dia sangat suka tantangan dan senang membuat masalah. Dan dia sering menyeret Ryouta atau Buggy ke dalam masalah yang dia buat.
Ryouta menepuk wajahnya dan menggerutu. “Gadis itu memang tidak pernah belajar!”
Dia lalu mengambil ancang-ancang dan berlari mengejar Maria. Tubuh Ryouta memang besar serta tampak kokoh dan berat, tapi bukan berarti dia lamban. Kalau Ryouta serius, dia bisa dengan mudah mencapai kecepatan 80 km/jam dalam waktu singkat.
Dengan kecepatan seperti itu, Ryouta berhasil menyusul Maria dengan cepat. Begitu dia berhasil menyusul gynoid itu, dia langsung menarik sebelah tangan Maria, memutar tubuh gynoid itu di udara, dan menjatuhkannya dengan cukup ‘lembut’ di atas atap sebuah bangunan. Semuanya terjadi sangat cepat hingga cyber-brain Maria hampir tidak sanggup memproses apa yang baru saja terjadi.
“OUCH!!!” seru Maria kaget ketika tiba-tiba dia sudah membentur beton yang keras.
“Lagi-lagi kau mencuri memangnya kau tidak punya uang?” ujar Ryouta dengan nada jengkel. Dia lalu menahan Maria di lantai dengan sebelah tangannya.
“Agh! Lepaskan aku!” seru Maria sambil memberontak, tapi percuma karen Ryouta jelas jauh lebih kuat darinya.
“Kali ini kau harus meminta maaf atas perbuatanmu,” balas Ryouta sambil mendesah dan mengangkat tubuh Maria dengan mudah lalu membawanya di pundak. Maria jelas memberontak tapi Ryouta tetap membawa gynoid itu turun dan menghadap si pemilik toko suplai energi. Dia lalu memaksa Maria meminta maaf di hadapan pemilik toko itu.
Maria memang meminta maaf, tapi dari ekspresinya jelas sekali kalau dia jengkel setengah mati pada Ryouta. Ryouta tentu saja menyadari itu, tapi dia memilih untuk mengabaikannya.
****
“Ryouta!!! Kenapa kau menghentikanku!?”
Maria membentak Ryouta sambil memandang temannya itu dengan tatapan menantang. Ryouta menepuk kepala Maria dengan lembut dan membalas seruan gynoid berambut hitam panjang itu.
“Kau ini memang tidak pernah belajar,” gerutu Ryouta. “Sudah kubilang kalau kau tidak punya uang untuk membeli energi, kau bisa minta padaku.”
Maria memalingkan wajahnya dengan kesal.
Ryouta mendesah lagi. Android itu lalu memandang ke arah kejauhan, ke arah reruntuhan kota yang berada di selatan kota Bravaga, kota tempat tinggalnya. Reruntuhan kota itu dulunya adalah salah satu kota terbesar di dunia sebelum bencana besar yang disebut Catastrophy menerpa, lebih dari 500 tahun yang lalu.
Catatan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam bencana itu sudah lama hilang dan tidak ada robot yang masih mengingat kejadiannya. Sekarang yang tersisa hanya dongeng yang disampaikan secara turun-temurun di antara para robot. Apapun yang terjadi saat itu, bencana itu telah mengakibatkan kepunahan ras yang menciptakan para robot. Ras manusia.
Saat ini tidak ada lagi manusia yang tersisa di dunia. Yang tersisa hanya bayangan kejayaan ras mereka pada masa lalu dan bayangan kehancuran yang menimpa mereka.
“Ryouta!!” bentak Maria lagi.
“Apa?” balas Ryouta.
“Kau belum meminta maaf padaku karena sudah berbuat kasar tadi! Kalau kau tidak melakukannya, aku tidak mau lagi dekat-dekat dengamu!” ancam Maria sambil menunjuk ke arah Ryouta.
Ryouta menggerutu lagi dan membungkuk singkat sambil berkata “Maaf.”
Maria mendengus karena merasa Ryouta tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Dia lalu menyikut perut android besar itu dan berkata “Itu saja tidak cukup! Untung aku tidak terluka. Coba sampai ada yang rusak, kau harus bertanggung jawab!”
Ryouta hendak membantah dan mengatakan kalau dia tidak mungkin begitu ceroboh dan melukai Maria, tapi dia sadar tindakannya tadi pagi memang agak keterlaluan. Mau bagaimana lagi? Dibangunkan pagi-pagi oleh suara ribut dan harus mengejar temannya yang sedang membuat masalah, memang membuat Ryouta agak senewen.
“Maaf ... aku tidak sengaja,” ujar Ryouta lagi sambil menggosok belakang lehernya. “Maaf, Maria.”
Tapi Maria jelas masih marah. Dia menyibakkan rambut hitam panjangnya dan memalingkan wajahnya. Ryouta mendesah dan berkata “Kalau begitu biar kutemani kau seharian ini ke manapun kau mau pergi. Aku janji!”
Begitu dia mengatakan itu, Ryouta langsung sadar kalau dia tidak seharusnya berkata seperti itu. Maria langsung berbalik dan kedua matanya berbinar-binar. Ryouta tahu kalau dia baru saja membuat sebuah kesalahan besar.
“Benarkah!?” seru Maria dengan nada penuh semangat.
“Errh ... benar ...” balas Ryouta dengan terpaksa.
Maria langsung melompat gembira dan berseru “Yeah!”
Ryouta menepuk wajahnya lagi dan memutar bola mata satu-satunya yang dia miliki dan bertanya pada Maria. “Lalu ke mana kau mau pergi?”
Maria tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah reruntuhan kota yang ada di selatan. Seketika Ryouta langsung menyilangkan kedua tangannya.
“Ooh, tidak...tidak! Kita tidak akan ke sana!” ujar android itu.
Maria langsung menatap marah ke arah Ryouta.
“Kenapa?! Kau kan sudah janji untuk menemaniku ke mana saja hari ini!” seru Maria.
Ryouta ingin sekali membenturkan kepalanya ke tiang listrik di sampingnya. Tapi karena itu hanya akan membuat blok kota ini mengalami mati listrik, dia mengurungkan niatnya.
Dia benar-benar menyesal telah menjanjikan hal itu pada Maria. Dengan lesu Ryouta akhirnya mengalah. “Baiklah...aku akan menemanimu ke sana. Tapi aku peringatkan kau kalau di sana itu berbahaya.”
Maria mengangguk.
“Ya! Aku tahu itu!” sahutnya sambil tersenyum puas.
“Di sana banyak mutan buas dan robot-robot liar yang berbahaya. Belum lagi medannya yang berat dan beberapa reruntuhan bisa runtuh setiap saat,” ujar Ryouta lagi.
“Aku tahu itu!” balas Maria lagi. Dia lalu menambahkan. “Makanya aku mengajakmu!”
Ryouta menepuk wajahnya lagi.
Maria memang keras kepala ... sekali dia ingin sesuatu, dia pasti akan berjuang sampai dapat ... gerutu Ryouta dalam hati.
“Oooi! Kalian lagi ngapain?”
Tiba-tiba terdengar seruan dari udara.
Maria dan Ryouta mendongak dan melihat sebuah robot berbentuk mirip seekor kecoa raksasa melayang turun dengan cepat ke arah mereka. Robot itu lalu mendarat di sebuah kotak kayu tua di samping Maria.
“Buggy!” sapa Maria. Dia lalu menepuk tubuh robot serangga yang berukuran sebesar kepala manusia itu.  “Kami baru akan pergi ke reruntuhan kota di selatan sana. Kau mau ikut?”
Sebelum Buggy sempat menjawab, Ryouta sudah tahu jawaban apa yang akan dilontarkan robot serangga itu. Masalahnya Buggy punya sifat yang mirip dengan Maria, yaitu suka tantangan dan mencintai petualangan.
“Ikut!!” jawab Buggy penuh bersemangat.
Ya ampun ... gerutu Ryouta lagi.
****
Seperti yang diingat oleh Ryouta, perjalanan melintasi reruntuhan kota di selatan Bravaga memang tidak pernah mudah. Ryouta sendiri hampir tidak pernah mau masuk ke reruntuhan kota itu kalau tidak dipaksa oleh Maria.
“Maria...sebenarnya apa yang kau cari di kota ini?” tanya Ryouta dengan nada jengkel. Android itu lalu menyingkirkan sebuah tiang listrik yang melintang di tengah jalan dengan sebelah tangannya.
“Rahasia,” balas Maria sambil tersenyum nakal. Gynoid itu dengan lincah melompat-lompat ringan di antara reruntuhan gedung yang berserakan di jalan yang mereka lalui. Sementara Buggy dengan enaknya melayang-layang di udara.
“Buggy? Apa kau melihat sesuatu yang berbahaya?” seru Ryouta pada robot mirip serangga itu.
“Tidak ada!” balas Buggy dari angkasa. Robot itu berputar sekali lagi di angkasa sebelum akhirnya terbang rendah di samping Maria.
“Perjalanan ini akan asyik kan?” tanya Buggy riang. Maria balas mengangguk.
“Tentu saja!” sahut Maria, dia lalu menoleh ke arah Ryouta dan menambahkan. “Akan lebih asyik lagi kalau tidak ada satu android yang terus menggerutu dan mengeluh.”
Ryouta balas melotot dengan satu matanya. Maria tertawa geli dan melompat lebih jauh ke depan.
“Hati-hati! Banyak bagian reruntuhan ini yang tidak stabil!” seru Ryouta memperingatkan.
Maria mengabaikan peringatan Ryouta dan terus melompat-lompat sambil bersenandung riang, diikuti Buggy yang terbang mengitarinya.
Grrh ... coba kalian dengarkan nasihatku sedikit saja! gerutu Ryouta dalam hati.
Mata besar android itu menyapu ke sekelilingnya, berusaha menemukan apapun yang mungkin berbahaya. Tapi nihil. Dia tidak menemukan apapun kecuali beberapa ekor hewan pengerat dan mutan kecil yang tidak berbahaya.
Mungkin hanya aku yang terlalu khawatir...gumam android itu lagi.
Dia lalu mengaktifkan mode detektor panas di matanya. Berbeda dengan Maria yang merupakan gynoid serba guna, Ryouta adalah sebuah Guardia, android tempur yang diciptakan sebagai mesin perang. Meski sudah tidak dilengkapi senjata lagi, tapi dia masih punya sensor-sensor pendeteksi khusus yang tidak dimiliki oleh Maria. Sebenarnya Buggy juga memiliki sensor yang sama dengan Ryouta, hanya saja robot serangga itu terlalu malas untuk menggunakannya.
Ketika detektor khusus di matanya itu aktif, semua yang dilihat Ryouta langsung berubah menjadi kemerahan. Dia melirik ke arah Maria dan Buggy yang tubuhnya menyala berwarna oranye-putih. Tapi Ryouta langsung menyadari ada sinyal panas lain di dekat kedua temannya itu. Dan ukurannya sangat besar.
“MARIA, BUGGY!!!”
Ryouta berseru keras sambil berlari ke arah kedua temannya itu.
Maria dan Buggy berbalik dan menatap Ryouta kebingungan. Tapi tidak lama karena dinding di dekat kedua robot itu tiba-tiba meledak dan membuat keduanya terlempar dan menghantam dinding lain.
Dari balik asap dan debu yang mengepul, melangkah sebuah robot besar dengan dua mata yang bersinar buas. Robot itu memiliki sepasang lengan yang lebih panjang dari kakinya dan terlihat sangat berbahaya. Ketika asap mulai menipis, Ryouta bisa melihat kalau robot itu adalah robot liar. Sebutan bagi robot dengan sistem kecerdasan buatan kuno yang sudah rusak, atau diprogram hanya untuk berperang. Mereka sangat berbahaya karena sering menyerang robot atau android lain tanpa alasan yang jelas.
Robot itu memandangi Maria dan Ryouta bergantian, lalu memutuskan kalau Maria lebih mudah diserang. Sambil melepaskan suara raungan keras, robot itu menyerbu ke arah Maria. Gynoid itu langsung melompat menghindar sambil menggotong Buggy. Tangan besar robot liar itu gagal menyentuh tubuh Maria dan menghantam bangkai mobil yang tergeletak di atas jalan. Bangkai mobil yang terbuat dari logam itu langsung terlontar ke udara dan mendarat jauh di seberang jalan.
Menyaksikan Maria diserang, Ryouta tentu tidak tinggal diam, dia langsung meraih potongan besi, sisa dari sebuah lampu jalan, dan mengayunkan benda berat itu ke arah si robot liar. Tubuh Ryouta yang dirancang untuk menghadapi situasi seperti ini langsung bereaksi dan mengeluarkan seluruh kekuatannya. Ryouta bisa mendengar sendi-sendinya menderu dan reaktor nuklirnya berdengung keras, ketika dia mengerahkan seluruh tenaganya.
Suara dentang logam yang saling beradu langsung bergema ketika potongan besi yang diayunkan Ryouta menghantam dada si robot liar. Robot liar itu langsung jatuh terjengkang dan menghantam reruntuhan gedung di dekatnya.

(Art by Mukhlis Nur / Sinlaire)


Mata merah robot liar itu berkedip-kedip kebingungan, karena mendadak tubuhnya baru saja menerima benturan yang luar biasa kuat. Selagi robot liar itu belum bangkit, Ryouta berlari ke arah si robot liar dan mengangkat potongan besinya tinggi-tinggi, lalu menghantamkan besi itu sekali lagi ke arah kepala si robot liar.
Hantaman itu begitu kuat hingga kepala si robot liar langsung hancur seketika. Serangan dahsyat Ryouta itu juga sekaligus menghentikan gerakan robot liar itu untuk selamanya. Tubuh si robot liar langsung terkulai lemas, setelah sempat kejang-kejang selama beberapa detik.
Melihat lawannya sudah kalah, Ryouta melemparkan besi yang dia bawa dan menghela nafas lega. Dia lalu berjalan menghampiri Maria dan Buggy yang masih terpana melihat aksinya. Android besar itu lalu mengulurkan tangannya.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Ryouta.
Maria menyambut uluran tangannya dan berdiri, lalu melepaskan Buggy. Gynoid itu menatap Ryouta beberapa lama lalu memalingkan wajahnya dan berkata dengan suara pelan.
“Terima kasih.......”
Ryouta menghela nafas lega dan mengelus kepala Maria dengan lembut.
“Untung kalian tidak apa-apa,” ujar Ryouta dengan perasaan lega. Dia lalu menambahkan lagi. “Sudah kubilang tempat ini berbahaya. Kenapa kau begitu ingin datang kemari?”
Maria teridam, lalu berkata lagi. “Maaf....”
Ryouta menggaruk belakang lehernya lalu berbalik. “Sudahlah, ayo kita pulang saja.”
Dia baru saja berjalan pergi ketika Maria tiba-tiba menarik tangannya.
Ryouta menoleh dan mendapati Maria memandangnya dengan tatapan memohon. Ryouta benci kalau Maria sudah melakukan itu karena dia pada akhirnya pasti memenuhi apa permintaan robot perempuan itu.
“Kumohon...temani aku sampai tempat tujuanku....” pinta Maria. “Kalau kau tidak ikut semuanya akan sia-sia...”
Ryouta memandangi Maria cukup lama, dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Buggy. Robot serangga itu mengangkat kedua tangan mungilnya dan berkomentar.
“Sudahlah...ikuti saja apa mau Maria,” ujar Buggy dengan santainya. “Toh kau tidak mungkin membiarkannya berkeliaran sendiri di tempat ini.”
Ryouta menepuk wajahnya lagi.
“Baiklah. Tapi hati-hati dan jangan jauh-jauh dari ku!” ujar Ryouta pada akhirnya.
Sikap Maria langsung berubah drastis. Ekspresi wajahnya menjadi cerah dan dia melompat  gembira.
“Yeah! Ayo kita lanjutkan petualangan kita!!” seru Maria penuh semangat sambil mengacungkan tinjunya ke angkasa.
“Yeah! Ayo!” timpal Buggy.
Ryouta hanya bisa mendesah jengkel dan menepuk wajahnya sekali lagi.
Ya ampun...gerutu android itu.
****
Perjalanan mereka selanjutnya lebih ringan karena tidak ada lagi robot liar atau mutan yang mencoba menyerang mereka. Tapi pada saat yang sama, hari semakin gelap dan berjalan pada malam hari di reruntuhan seperti ini sangat berbahaya. Banyak robot liar dan mutan yang lebih aktif pada malam hari.
“Maria, masih berapa jauh lagi?” tanya Ryouta dengan tidak sabar.
“Sebentar lagi!” balas Maria. Dia lalu berhenti dan menunjuk ke arah sebuah gedung di depannya. Gedung itu adalah bekas sebuah stadion olahraga yang sebagian sudah runtuh. Stadion itu masih tampak menyisakan kemegahannya ketika masih digunakan sebagai pusat kegiatan olahraga.
Tanpa menghiraukan Ryouta, Maria langsung berlari masuk ke dalam stadion, diikuti oleh Buggy.
“Hei! Jangan seenaknya pergi sendiri!!” seru Ryouta sambil berlari menyusul mereka berdua.
Tapi Maria dan Buggy sudah jauh meninggalkannya dan dia akhirnya kehilangan jejak kedua temannya itu. Sambil mendesah Ryouta masuk ke dalam stadion hingga akhirnya dia berada di lapangan stadion tersebut.
Ryouta mengaktifkan lagi sensor panas di matanya dan berusaha menemukan Maria dan Buggy. Berkat kemampuannya itu, dia dengan segera menemukan di mana mereka berdua berada. Ternyata Maria sedang melambai ke arahnya dari tribun penonton paling atas yang ada di seberang lapangan, sedangkan Buggy sedang bertengger di deretan bangku penonton di belakang Maria.
“RYOUTA!!!” seru Maria dengan suara sekeras mungkin. “Maaf karena hari ini aku sudah bersikap sangat egois dan tidak menghiraukan semua perkataanmu!!”
Ryouta menatap ke arah Maria dan menghela nafas. Dia lalu balas berseru pada gynoid itu.
“Sudah biasa!! Kau tidak perlu minta maaf!!”
Maria diam sejenak, lalu dia tampak mengambil sesuatu dari balik bangku penonton di belakangnya. Ryouta langsung mengaktifkan fungsi telefoto di matanya dan berusaha melihat apa yang dipegang oleh Maria. Tampaknya benda itu adalah sebuah tombol yang terhubung dengan kabel.
“RYOUTA!!!” seru Maria lagi.
“Apa??” balas Ryouta.
“SELAMAT ULANG TAHUN!!!!”
Bersamaan dengan seruan Maria, lampu-lampu berwarna-warni langsung menyala di tribun tempatnnya berdiri. Lampu-lampu itu sengaja disusun sedemikian rupa hingga membentuk kalimat ‘Happy B’day Ryouta!’
Ryouta melongo melihat kalimat itu. Dia sama sekali tidak ingat kalau hari ini adalah hari dia diaktifkan, atau dengan kata lain, hari lahirnya. Semua kejadian yang terjadi hari ini membuatnya lupa.
Kalau Ryouta punya kantung air mata, dia pasti sudah meneteskan air mata karena terharu.
“Ya ampun! Tidak kusangka...” gumam android besar itu.
“Selamat ulang tahun Big Boy!” ujar Buggy yang meluncur turun dari langit-langit stadion. Dia lalu menjatuhkan sesuatu yang dia bawa, ke tangan Ryouta. “Yang ini hadiah dari ku.”
Ryouta menerima benda itu dan langsung berseru pada Buggy. “Terima kasih Buggy! Aku memang sudah lama ingin memiliki lagi unit GPS ini!”
“Haha! Aku tahu milikmu rusak waktu kecelakaan 3 bulan yang lalu, jadi aku berikan yang baru,” balas robot serangga itu.
Kalau mulut Ryouta bisa tersenyum, android itu pasti akan tersenyum lebar. Dia tidak menyangka kalau kedua temannya mau repot-repot dan bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk hari ini.
“Ryouta!!”
Tiba-tiba Maria menabrak sambil memeluk Ryouta dari belakang dan membuat android besar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh.
“Terima kasih Maria...aku tidak menyangka sama sekali...kau dan Buggy yang menyiapkan semua ini?” ujar Ryouta masih sambil memeluk Maria yang berbaring di atas tubuhnya. Maria mengangguk penuh semangat.
Ryouta menutup matanya sejenak lalu bergumam lagi. “Sekali lagi terima kasih...”
Maria menggelengkan kepalanya. Air mata bahagia menetes dari pipinya. Gynoid itu lalu tersenyum manis.
“Tidak perlu berterima kasih. Ini tidak seberapa,” balas Maria. “Seharusnya aku yang harus berterima kasih padamu. Kau selalu menjagaku agar tidak terlibat masalah besar. Kau juga selalu menyelamatkanku setiap kali aku dalam bahaya. Jadi ini sama sekali tidak sepadan dengan semua hal yang telah kau lakukan.”
 Ryouta mengelus kepala dan wajah Maria dengan lembut.
“Sudah. Lupakan saja,” ujar android bermata satu itu dengan suara lembut. “Aku melakukannya tanpa mengharap balas jasa. Tapi...terima kasih...ini hari ulang tahun terindah dalam hidupku sekali lagi terima kasih.
Maria langsung memeluk erat tubuh besar Ryouta dan berbisik.
“Aku mencintaimu Ryouta,”
“Aku juga, Maria,”
“Aku juga mencintai kalian berdua,” timpal Buggy sambil berputar di atas Maria dan Ryouta.
Kedua android itu langsung menatap heran ke arah Buggy.
“Apa?” tanya Buggy. “Kenapa cuma kalian yang boleh berbahagia?? Aku juga mau!”
Ryouta dan Maria langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar ucapan Buggy. Suara tawa mereka bergema di seluruh penjuru reruntuhan kota dan terbawa angin, hingga sayup-sayup bisa terdengar oleh telinga android yang sensitif di perbatasan kota Bravaga. Suara tawa dari keduanya seakan mengingatkan kota itu akan kejayaannya di masa lalu dan menebarkan kebahagiaan yang tidak pernah lagi terasa di kota tersebut sejak ratusan tahun yang lalu.
****
-FIN?-



Red_Rackham_2010

Nah, berikut ini link versi inggrisnya yg gw posting di Deviantart ^___^
Everyday Adventure (english version)

No comments: