Saturday, November 12, 2011

Surga Buku

Surga Buku

 

Rasa penat dan lelah mendera tubuh serta pikiranku. Maklum saja, setiap hari aku harus menempuh perjalanan selama 3 jam pulang-pergi ke tempat kerjaku. Belum lagi ditambah kemacetan yang terjadi sepanjang jalan, serta tumpukan pekerjaan yang selalu menyapaku setiap pagi di kantor.

Tapi semua itu akan segera lenyap ketika aku pulang ke rumah. Rumahku memang bukan sebuah rumah mewah yang besar, namun aku sangat mencintai rumah itu.

Kenapa?

Tentu saja karena di dalam rumah berukuran sedang itu, tersimpan sebuah sanctuary khusus hanya untukku. Tempat dimana aku bisa mengistirahatkan pikiranku dari segala kesibukan dunia nyata. Tempat dimana jiwa dan pikiranku bisa lepas dari tubuhku dan pergi mengunjungi dunia-dunia lain yang (mungkin) tidak pernah terbayangkan orang lain.

Sambil tersenyum aku berjalan ke kamar belakang rumahku. Dengan sebuah kunci, aku membuka pintu dan masuk ke dalam surga kecil milikku itu. Begitu aku masuk ke dalam, aku disapa oleh rak-rak tinggi berisi ratusan buku yang sudah aku koleksi selama bertahun-tahun. Ketika masuk, aku seakan-akan bisa mendengar mereka semua berbisik pelan kepadaku.

“Baca aku!”

“Aku ini menarik loh. Ayo buka tubuhku!”

“Ceritaku pasti menarik, ayo ambil aku!”

Mendengar bisikan-bisikan pelan di sekelilingku itu, senyumku semakin lebar. Inilah surgaku. Sanctuary-ku. Tempat pikiranku beristirahat. Inilah perpustakaan pribadi miliku. Tempat pertama yang kubuat ketika aku membangun rumahku. Tempatku melarikan diri dari realitas dunia ini.

Aku duduk di sofa empuk yang sengaja kusediakan di tengah-tengah ruangan. Sambil duduk aku memandangi deretan buku-buku yang terus berbisik kepadaku. Tiba-tiba pandanganku jatuh ke sebuah buku tua di deretan buku di rak yang ada di hadapanku. Tanpa buang waktu, aku mendekati rak itu dan menarik buku tua itu dari tempatnya.

When The Earth Spinning Backwards

Itulah judul buku yang kuambil. Buku itu memang sebuah buku berbahasa inggris dan dari sampulnya, buku itu lebih tua dari rata-rata buku yang ada di perpustakaan ini. Aku tidak terlalu ingat kapan aku membeli buku itu, tapi kurasa buku itulah yang akan kubaca dan kujelajahi. Sambil tersenyum aku kembali duduk dan membuka buku itu.

Ketika aku membuka buku tua itu, seperti biasanya dunia di dalam buku itu langsung melompat keluar dan terlihat dengan jelas di depan mataku. Seolah-olah aku benar-benar masuk ke dalam buku tersebut.

Perlahan-lahan aku menjelajahi dunia di dalam buku dan semakin tersedot masuk ke dalam buku tua itu. Buku yang sedang kubaca ini menceritakan tentang kisah sekelompok ilmuwan yang menyadari kalau putaran bumi semakin lama semakin lamban, dan mulai bergerak berlawanan arah dengan yang seharusnya. Cerita yang sungguh aneh dan terkesan tidak masuk akal. Tapi cara sang penulis menuangkan dunia dalam pikirannya di buku ini sungguh luar biasa. Aku benar-benar tersedot ke dalam pergulatan pikiran dan perjuangan para tokoh-tokohnya.

Hingga aku sama sekali tidak sadar kalau aku sudah tidak berada di dalam perpustakaan pribadiku lagi. Ketika aku akhirnya beristirahat sejenak dan menutup buku tua itu, aku terperanjat karena melihat perpustakaan kecil milikku...tiba-tiba saja sudah berubah menjadi sebuah perpustakaan yang luastnya sungguh tidak masuk akal.

Sejauh mata memandang, yang kulihat hanyalah deretan rak buku yang menjulang tinggi ke langit. Rak-rak buku itu tampak dipenuhi oleh buku yang jumlahnya tidak terhitung karena saking banyaknya. Aku hanya bisa terngaga melihat keajaiban yang tiba-tiba muncul di depan mataku ini.

Dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini?

Dengan bingung aku bangkit dari sofa dan mulai menjelajahi tempat ajaib yang tidak masuk akal ini. Ketika aku berjalan menyusuri rak-rak buku, aku menyadari kalau aku tidak mendengar suara bisikan-bisikan seperti yang biasa kudengar di perpustakaanku.

Aku jadi penasaran dan berhenti di depan sebuah rak. Di rak yang berada sejajar dengan pandanganku, aku melihat sebuah buku tebal yang sampulnya tampak unik karena seperti terbuat dari kaca atau kristal.

Karena penasaran, aku mengambil buku itu dan bermaksud untuk membacanya. Tapi sebelum aku sempat membuka buku itu, tiba-tiba aku mendengar seseorang menegurku.

“Aku tidak akan membuka buku itu kalau aku jadi kau.”

Aku langsung berbalik dan berhadapan dengan seorang kakek tua dengan janggut panjang berwarna putih. Meski di sudah terlihat sangat tua, tapi kedua mata kakek itu masih memancarkan semangat hidup yang luar biasa.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Buku itu berisi dunia yang lebih baik tidak kau lihat, kalau kau masih ingin kewarasanmu terjaga,” ujar kakek tua itu sambil tersenyum. Dia lalu membungkuk dan memberi hormat dengan gaya bangsawan. “Selamat datang di Perpustakaan Glanvnore, pusat informasi lintas-dunia. Namaku Curio, penjaga perpustakaan ini.”

Aku memandangi kakek itu dengan tatapan bingung.

“Perpustakaan....Glanvnore?”

“Betul. Tempat ini merupakan gudang informasi, dimana kau bisa ‘melihat’ dan ‘merasakan’ informasi apapun yang ada di dalam buku di sini,” ujar kakek Curio. “Dari ekspresi wajahmu kau sudah tahu kalau setiap buku memiliki dunianya sendiri.”

Aku mengangguk pelan karena itu memang benar.

“Aku memang bisa melihat dan menjelajahi dunia yang ada dalam buku. Tapi kenapa aku bisa sampai disini?”

“Itu karena kau membawa buku yang sudah lama aku cari,” ujar kakek Curio sambil menunjuk ke arah buku di tanganku.

“Ini?” tanyaku sambil mengangkat buku berbahasa asing yang tadi sedang kubaca.

“Benar. Kalau kau mau memberikan buku itu padaku, aku akan memberikan hadiah yang sangat menarik,” ujar kakek Curio sambil menarik sebuah buku tipis bersampul merah dari rak di sampingnya. “Ini adalah buku yang membuatmu bisa membaca buku apapun di perpustakaan ini. Yang perlu kau lakukan hanya membuka buku, lalu pikirkan apa yang ingin kau baca. Maka halaman buku ini akan terisi dengan informasi atau cerita yang kau inginkan.”

Aku menerima buku tipis itu dan menyerahkan buku tua yang kubawa. Ketika menerima buku milikku, kakek Curio tampak berseri-seri. Dia lalu tersenyum padaku dan berkata, “terima kasih banyak. Nikmatilah buku itu.”

Tiba-tiba saja aku tersentak dan tahu-tahu saja aku sudah berada di perpustakaan pribadiku.

Mimpi?

Aku lalu menyadari kalau buku tua yang tadi kubaca, sudah berganti dengan sebuah buku tipis bersampul merah. Seketika itu juga aku sadar kalau kejadian tadi itu bukan mimpi.

Penasaran dengan ucapan kakek Curio, aku langsung membuka buku tipis itu sambil memikirkan cerita yang ingin kubaca. Rupanya buku ini memang buku ajaib! Halaman yang kubaca tiba-tiba saja dipenuhi tulisan yang tampak digoreskan dengan tinta hitam.

Ketika melihat kejaiban itu, aku kembali tersenyum.

Buku ini akan menjadi surga kecilku yang baru.

*****

~FIN~



Dibuat demi mengikuti lomba yang diadakan oleh Surgabukuku

Buat empunya Surgabukuku.wordpress.......saia minta Paket A ~Philosophy~ Dunia Sophie, Mizan Gold Edition (Jostein Gaarder) kalau saia menang (o__<)b

1 comment:

Melisa said...

Wah, cerpennya keren!
*jadi bingung* :-S