Saturday, April 12, 2014

Everyday Adventure VI




Everyday Adventure VI
(Kembang Api)





“Hore~! Laut~!!”
Maria bersorak kegirangan ketika melihat hamparan air yang terlihat nyaris tanpa batas itu. Tanpa pikir panjang, gynoid berambut hitam itu berlari meninggalkan Ryouta dan Buggy yang masih berdiri di atas tembok pembatas area pantai. Keduanya saling pandang sejenak. Kalau saja keduanya bisa tersenyum, Ryouta dan Buggy pasti sudah tersenyum lebar saat ini. Melihat tingkah Maria yang selalu bersemangat memang tidak pernah gagal untuk membuat keduanya merasa senang.
“Ayo! Sedang apa kalian disana?! Ini pantai loh! Laut!” Maria kembali bersorak sambil melambaikan kedua tangannya. “Ayo ke sini, terus kita main di dalam sana!”
“Iya! Aku ke sana!” sahut Ryouta sambil balas melambaikan tangannya. Dia lalu berjalan menuruni tangga tembok tebal yang dibangun beberapa puluh tahun yang lalu. Tembok beton setebal beberapa inci itu dibuat untuk mencegah serbuan air laut yang tiap tahun masih saja naik.
Sambil berjalan, dia melirik ke arah kondisi reruntuhan kota Megapolitan yang dulu berdiri megah di sisi selatan kota Bravaga. Sejak Catastrophy melanda dunia beberapa ratus tahun lalu, kota itu kini berubah menjadi kota mati. Kini tempat itu dihuni oleh tetumbuhan yang bisa bergerak, mutan, dan robot liar, sehingga jarang sekali ada robot yang pergi ke sana. Kecuali Maria dan Buggy tentunya. Keduanya secara rutin menjelajahi tempat itu dan mengabaikan segala macam bahaya yang mungkin mengincar mereka.
Semenjak manusia punah setelah Catastrophy, tepian laut yang selama ini tertahan oleh kokohnya bangunan buatan manusia, kini mulai kembali menguasai sebagian daratan. Nyaris sepertiga kota sudah kembali tenggelam ke dasar lautan dan menjadi hunian berbagai jenis makhluk laut, yang anehnya, selamat dari Catastrophy. Bahkan banyak diantara makhluk-makhluk itu yang kini telah bermutasi menjadi monster laut ganas.
Semoga saja nanti Maria tidak membuat masalah dengan makhluk-makhluk semacam itu... gumam Ryouta dalam hati.
Meskipun ini sudah ke sekian kalinya dia membawa Maria pergi ke pantai, tapi gadis robot itu tetap saja membuat masalah baru. Terakhir kali, Ryouta harus bergulat selama beberapa jam melawan seekor gurita dengan tentakel berduri di dasar laut. Kali ini dia tidak mau lagi menghadapi monster laut semacam itu, sebab dia sendiri baru tahu kalau kekuatan lengan gurita bisa merusak sendi-sendi lengannya.
“Hei!? Jam berapa sih acara puncak festivalnya?”
Maria berdiri di hadapan Ryouta sambil nyengir lebar. Ryouta balas menatap Maria sejenak. Ternyata gynoid itu sudah melepas pakaiannya dan berganti dengan baju renang model one-piece suit. Gaya Maria saat ini mengingatkan Ryouta akan atlet renang manusia yang pernah dia lihat di masa lalu.
“Setelah matahari terbenam,” jawab Ryouta.
Hari ini memang ada sebuah festival khusus yang hanya diadakan 10 tahun sekali, dan hanya diadakan di satu-satunya pantai aman yang ada di pinggiran reruntuhan kota. Karena ini adalah peristiwa spesial, pantai berpasir putih yang biasanya lengang itu, hari ini menjadi padat oleh berbagai tipe robot yang datang dari kota Bravaga. Ryouta bahkan bisa mengenali beberapa Automa yang sengaja datang dari kota asalnya jauh di utara sana. Mereka semua datang terutama untuk menyaksikan peluncuran 2 kembang api akbar yang menjadi puncak festival hari ini.
Starburst dan Moonflower.
Dua nama kembang api legendaris yang hanya bisa disaksikan setiap 10 tahun sekali.
“Masih ada banyak waktu sampai festivalnya benar-benar dimulai. Jadi kau dan Buggy bisa bermain sepuas kalian. Tapi ingat! Jangan bikin masalah!” Ryouta kembali bicara sambil mengangkat telunjuknya. “Nah, sekarang kalian boleh pergi.”
Maria kembali nyengir lebar, dan sikapnya itu langsung membuat Ryouta menepuk wajahnya. Dia tahu itu artinya Maria tidak akan repot-repot mengindahkan peringatan yang baru didengarnya itu.
“Kuralat ucapanku. Aku akan ikut kalian,” ujarnya dengan enggan.
“Nah, begitu dong! Masa sudah jauh-jauh ke sini kau cuma mau duduk berjemur di pinggir pantai?” goda Buggy yang dari tadi menumpang di punggung Ryouta.
Ryouta tidak membalas. Perhatiannya teralih ke arah dua robot berkaki empat berukuran besar, yang sedang sibuk bermain bola di atas pasir. Dia mengenali keduanya sebagai Rachnoss 15 dan Rachnoss 291, dua robot yang sama-sama dibuat pada masa perang sebelum Catastrophy. Melihat sikap kekanakan bekas mesin penghancur itu, Ryouta mau tidak mau merasa geli. Aneh rasanya melihat robot yang dulu dirancang untuk meratakan sebuah kota, kini asyik bermain seperti itu. Namun rasanya lebih aneh lagi bagi Ryouta, sebab di masa lalu, entah sudah berapa ratus seri Rachnoss yang dia hancurkan dalam pertempuran.
Maria yang melihat perubahan sikap Ryouta, langsung tahu kalau mood temannya itu pasti akan berubah lagi. Dan kalau sudah begitu, biasanya bekas android perang itu akan mulai mengeluh dan menggerutu. Tentu saja itu akan membuat Maria merasa kesal.
“Buggy! Ayo kita lomba siapa yang duluan sampai ke air!”
Tanpa pikir panjang lagi,  Maria berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah deburan ombak di depannya. Buggy yang segera terpancing, langsung melompat dari punggung Ryouta dan berlari dengan kaki-kaki kecilnya mengejar Maria.
Melihat kedua temannya mulai bersikap hiperaktif, Ryouta tidak punya pilihan kecuali mengejar mereka sebelum salah satu, atau keduanya, terlibat dalam masalah. 

****

Seperti yang diingat Ryouta waktu terakhir kali datang kemari, reruntuhan kota bawah air ini masih saja luar biasa. Berkat kompleksitas puing-puing, reruntuhan gedung, dan berbagai bangkai kendaraan yang teronggok di dasar lautan, berbagai hewan laut kini menghuni kota yang telah tenggelam itu. Warna-warni yang ditunjukkan makhluk-makhluk itu benar-benar menakjubkan. Ikan merah bertotol hitam dengan taring seukuran ibu jari, belut laut beracun yang konon sanggup membunuh seekor paus, dan anemon pink yang bergerak meliuk-liuk untuk memikat korbannya. Makhluk-makhluk semacam itulah yang kini menghuni kota bawah air yang telah lama ditinggalkan manusia itu. Menakjubkan sebenarnya melihat bagaimana alam dengan cepat mengubah kota berteknologi canggih itu, menjadi taman bawah air yang eksotis dan indah.
<Ryouta! Lihat cacing ini! Hebat kan?>
Maria berseru melalui jaringan komunikasi, sembari mengangkat seekor cacing transparan yang baru saja menelan bulat-bulat seekor ikan berwarna kekuningan. Makhluk yang seperti datang dari dunia lain itu menggeliat tidak nyaman dalam genggaman Maria.
<Jelek sekali,> komentar Ryouta. <Taruh lagi di tempat kau mengambilnya. Kau tidak boleh seenaknya menyentuh atau mengambil hewan-hewan itu!>
Sambil merengut, Maria melepaskan cacing besar yang segera menghilang ke balik bangkai berkarat sebuah tank tempur.
<Tidak peduli berapa kali pun kulihat, tempat ini selalu menakjubkan! Tapi ... bisa tolong aku tidak?>
Ryouta dan Maria langsung menoleh ke arah Buggy yang baru saja berkomentar. Ternyata saat ini robot berbentuk kecoa raksasa itu baru saja jadi santapan seekor anemon mutan. Setengah tubuh logamnya sudah masuk ke dalam mulut sang monster, sebelum Ryouta menariknya keluar dengan paksa.
<Sudah kubilang! Jangan bikin masalah!> protes Ryouta.
<Hei! Aku kan tidak sengaja. Lagi pula jeli pink itu yang mencoba mengubahku jadi kudapan!> balas Buggy. <Memangnya monster itu tidak bisa bedakan antara robot dan menu makan malam?>
Ryouta nyaris tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Buggy. Soalnya kalau melihat bentuknya sekilas, Buggy yang meluncur dengan mesin jet di dalam air, terlihat mirip seperti seekor udang yang ukurannya kelebat besar.
<Aku tahu apa yang kau pikirkan, jadi lebih baik kau diam saja deh,> gerutu Buggy, seolah dia baru saja membaca apa yang dipikirkan Ryouta. <Lebih baik kau cari Maria, dia sudah sibuk mengutak-atik isi bekas toko di bawah sana.>
Mendengar ucapan Buggy, Ryouta langsung menoleh dan melihat kalau Maria sudah berada beberapa puluh meter di bawah. Gadis android itu kini tampak sibuk membongkar isi mini market yang kini lebih mirip sebuah gua.  
<Ada yang kau temukan?> tanya Ryouta.
Maria mengangkat bahunya.
<Tidak banyak yang menarik. Soalnya sebagian besar barangnya sudah hancur sama sekali, nyaris tidak ada bekasnya. Yah, anehnya beberapa botol-botol minuman kaca ada yang masih utuh,> balasnya sambil mengangkat sebuah botol kaca berwarna hijau kusam. <Tapi aku mungkin akan membawa pulang satu-dua botol ini. Soalnya beberapa terlihat cantik dan pas untuk koleksiku.>
Ryouta memandangi dua botol yang sedang dipegang Maria. Keduanya tampak seperti bekas botol minuman ringan, yang ajaibnya, masih berisi penuh meski sudah berada di dasar laut selama ratusan tahun. Dan kebetulan Ryouta mengenali merk minuman ringan yang ditunjukkan Maria itu.
<Ah. Itu dulu minuman yang amat sangat terkenal di kalangan manusia,> celetuk Ryouta sambil menunjuk ke arah botol di tangan Maria. <Konon negara pembuatnya bahkan harus sampai melarang minuman ini dijual ke negaranya sendiri, karena menyebabkan ketagihan dan banyak penyakit berbahaya.>
Maria mengangkat sebelah alisnya karena heran.
<Benarkah?> ujarnya spontan. <Terus, kenapa manusia membuat sesuatu yang akhirnya merusak mereka sendiri?>
Ryouta mengangkat bahu.
<Entahlah. Tapi kau bisa lihat contohnya yang paling jelas saat ini kan?> ujarnya sambil menepuk dadanya sendiri.
Seketika itu juga Maria langsung salah tingkah. Dia takut ucapannya barusan sudah menyinggung perasaan Ryouta. Sebab android yang berdiri di hadapannya saat ini, dulu adalah sebuah Guardia. Mesin perang. Meskipun dibuat untuk bertahan menghadapi serbuan senjata humanoid yang dinamakan Machina, Guardia juga sering diterjunkan ke garis depan untuk menggempur pasukan lawannya, yang sering kali, adalah pasukan manusia.
<Eh ... maaf ...> ujar Maria sambil menundukkan kepalanya.
Ryouta mengelus kepala gynoid itu dengan lembut.
<Lupakan saja,> ujarnya sambil mendongak ke atas. Dia lalu menyadari kalau hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi matahari akan terbenam. Itu artinya acara utama festival hari ini akan segera dimulai.
<Ayo kita kembali ke pantai. Kau tidak mau ketinggalan acara puncaknya kan?> tanya Ryouta sambil menepuk kepala Maria.
<Tentu saja!> seru Maria penuh semangat. <Ayo!>
Tanpa basa-basi lagi, gynoid itu langsung melesat keluar dari toko dan bergegas menuju permukaan. Sementara itu Ryouta masih berdiri memandangi bagian dalam mini market yang sudah penuh ditumbuhi oleh berbagai jenis karang terumbu. Sejenak dia seperti bisa melihat sosok-sosok manusia berjalan lalu-lalang di antara rak-rak penuh barang, sambil tertawa atau sesekali menggerutu melihat label harga yang tertera di sana. Meski tidak pernah sekalipun berbelanja, tapi Ryouta sering mengamati perilaku orang-orang semasa dia menjadi penjaga kompleks Starchild di akhir masa hidup pertamanya. Waktu itu tidak banyak manusia yang sadar kalau hari-hari terakhir dalam hidup mereka semakin dekat.
Selama beberapa saat, ada sensasi aneh tiba-tiba dirasakan oleh android bertubuh besar itu. Rasanya seperti ada yang sedang meremas generator utamanya, padahal sistem mengatakan mesin bertenaga nuklir itu baik-baik saja. Di saat yang sama, dia pun merasa sedih melihat sebagian kota yang dulu begitu dia cintai, kini sudah berubah menjadi puing-puing seperti ini.
Andai saja Perang Bulan Kedua tidak pernah terjadi. Apakah kota ini tetap akan menjadi kota terbesar di benua Asia?
Ryouta bertanya-tanya dalam hati. Dia pun seolah bisa membayangkan kondisi sebuah kota Megapolitan megah, yang dipenuhi berbagai macam robot dan manusia. Semuanya hidup damai, tanpa ada yang saling menyerang atau membunuh. Tapi kenyataan telah berkata lain, kota Megapolitan yang ada dalam pikiran Ryouta hanyalah khayalan belaka. Nyatanya kota itu kini sudah hancur, dan manusia yang dulu memadati kota itu kini sudah punah. Lenyap. Nyaris tidak ada bekasnya lagi.
<Ryouta! Jangan lama-lama, nanti kita ketinggalan acara utamanya!>
Seruan Maria melalui jaringan komunikasi membuat Ryouta tersadar. Dia pun segera berbalik dan berjalan kembali ke arah pantai. Benaknya kembali dipenuhi ingatan akan situasi kota pada masa lalu, dan itu membuatnya merasa semakin sedih.

 ****

Tidak butuh waktu lama sampai mereka tiba di pantai yang semakin dipadati oleh robot dengan berbagai bentuk dan ukuran. Semua robot yang ada di pantai itu kini memusatkan perhatian mereka pada siluet dua kapal besar yang berlabuh tidak jauh dari tepi pantai. Di atas masing-masing kapal tersebut, telah berdiri tegak sebuah benda mirip roket dengan ukuran yang mencengangkan. Tinggi benda tersebut nyaris setengah dari seluruh panjang kapal yang membawanya, dan diameternya juga terlihat mengagumkan, hingga benda itu jadi mirip seperti sebuah bangunan pencakar langit.
Ketika melihat kedua kapal itu, Maria langsung menoleh ke arah Ryouta dengan mata berbinar-binar. Dia pun langsung menunjuk-nunjuk ke arah kapal-kapal yang berlabuh beberapa mil dari pantai itu.
“Ryouta! Ryouta! Itu apa?!” seru Maria kegirangan. “Itu kapal apa? Dan roket yang ada di kapal itu apa?”
“Kapal yang paling panjang itu namanya S.S. Freedom dan yang kelihatan lebih tebal dan besar itu S.S. Brajamusti. Dua kapal tempur kuno terbaik pada masanya.” Tiba-tiba seorang robot berkepala televisi kuno menjawab pertanyaan Maria. Dia lalu menunjuk ke arah sebuah roket raksasa yang berada di atas masing-masing kapal. “Roket yang di atas S.S. Freedom itu Moonflower dan yang ada di kapal satunya lagi itu Starburst.”
“Dokter? Kau datang juga?” Ryouta langsung menyapa robot berkepala televisi itu. “Tidak biasanya.”
Automa bernama Dokter itu menoleh ke arah Ryouta sambil menyalakan sebatang rokok.
“Begitulah. Aku juga tidak mau melewatkan malam istimewa seperti ini,” balas Dokter sambil menghisap rokoknya. “Tidak setiap malam ada pertunjukan heboh seperti ini.”
“Halo Dokter~!” Maria menyapa Dokter sambil meraih sebelah tangannya yang berlapis kulit buatan. “Senang kau bisa datang juga.”
“Ya,” jawab Dokter singkat sambil memperhatikan sosok Maria sekilas. Seperti yang diingatnya pada pertemuannya terakhir kali, gynoid itu tetap terlihat sehat dan sangat bersemangat. “Kulihat kau tetap tidak banyak berubah. Masih saja cantik.”
Maria tersipu malu mendengar ucapan Automa di hadapannya itu, sementara Ryouta langsung mendengus, entah apa alasannya.
“Oi! Perhatikan! Acaranya sudah mulai tuh!” Buggy tiba-tiba memotong sambil merayap naik ke atas kepala Ryouta. Dia pun menujuk ke arah salah satu kapal perang raksasa yang ada di kejauhan. Seketika itu juga, perhatian Maria, Ryouta, dan Dokter teralih ke arah dua kapal perang yang segera akan membuka acara.
“Kayaknya tahun ini S.S. Brajamusti dapat kehormatan dengan meluncurkan Starburst duluan. Ini tidak biasanya,” komentar Ryouta sambil memfokuskan pandangannya ke arah kapal besar jauh di hadapannya itu. “Ah, ini dia!”
Seiring dengan ucapan Ryouta, lampu-lampu kapal S.S.Brajamusti berubah menjadi lampu peringatan berwarna merah. Nyaris pada saat yang sama, mesin jet yang terpasang di roket Starburst menyala diiringi dengan suara deru dahsyat. Saking kuatnya, suara mesin roket itu sampai terdengar jelas, bahkan di ujung pantai tempat Maria, Ryouta, Buggy, dan Dokter berada. Suara deru roket itu membuat dada Maria bergetar dan dia pun jadi semakin tidak sabar melihat kehebatan roket kembang api spesial itu.
Selama beberapa detik, api disertai asap dan kilatan listrik mengiringi deru mesin roket Starburst yang menyala dengan kuat. Tidak lama kemudian, kunci penahan roket raksasa itu terbuka dan Starburst pun melesat tinggi ke langit malam berhiaskan bintang-bintang dan pecahan yang tersisa dari bulan.
Kejadian selanjutnya tidak akan pernah dilupakan Maria sampai kapan pun.
Roket Starburst yang sedang meluncur tinggi di udara, tiba-tiba saja meledak dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Hingga seolah-olah seluruh daerah kota Bravaga baru saja kedatangan tamu berupa sebuah miniatur bintang. Saking silaunya cahaya yang ditimbulkan ledakan itu, Maria sampai harus menutupi wajahnya dengan tangan untuk menghalau cahaya yang terasa berlebihan itu.
Namun pertunjukan yang disajikan Starburst tidak sampai di situ saja. Hanya selang beberapa detik kemudian, bintang mini yang menyala di udara itu hancur terburai menjadi miliaran bola-bola cahaya kecil yang tersebar ke segala arah. Suara dentuman dahsyat terdengar bersamaan dengan terburainya bintang mini tersebut. Suara menggelegar itu menggema ke seluruh cakrawala, hingga menggetarkan rongga dada Maria, dan itu membuatnya semakin kagum.
“Ryouta! Ini luar biasa! Itu sungguh...!”
Seruan Maria terputus karena menyaksikan S.S. Freedom yang bersiap meluncurkan roketnya ke angkasa. Berbeda dengan Starburst yang meluncur dengan suara deru nyaring, Moonflower melesat ke langit nyaris tanpa suara. Dengan anggun, roket raksasa itu meluncur naik dengan diiringi kilatan biru dan percikan-percikan cahaya yang berpendar ke segala arah.
Cukup lama roket yang sunyi dan tenang itu meluncur naik, sebelum akhirnya meledak dengan dahsyat di udara. Seperti halnya saat menyaksikan Starburst, kedua mata Maria terbelalak lebar melihat ledakan Moonflower yang membentuk wujud mirip seperti kelopak bunga yang bertumpuk-tumpuk. Selama beberapa detik, bunga cahaya raksasa itu berpendar dengan anggun di langit dalam kesunyian yang menenangkan hati. Suasana pantai nyaris sunyi, sehingga yang terdengar hanyalah suara debur ombak, desir dedaunan, dan suara protes makhluk-makhluk hutan yang tidurnya bau saja terganggu.
Maria melirik ke arah Ryouta dan Dokter yang kini menundukkan kepala seraya menutup satu-satunya mata yang dia punya. Selain keduanya, Maria menyaksikan ada cukup banyak robot dan Automa yang melakukan hal serupa. Mereka seolah sedang mengheningkan cipta, atau mengenang sesuatu yang menyedihkan. Meskipun banyak dari para robot dan Automa itu tidak memiliki wajah yang bisa menampakkan ekspresi, tapi suasana sendu seolah menggantung di atas pantai. Semua robot dan Automa yang sedang menundukkan kepala itu seolah sedang mengenang sesuatu yang membuat mereka merasa sedih dan rindu, dan itu membuat Maria penasaran.
Selama detik-detik yang sunyi itu. Tidak ada yang bicara. Semuanya tenang. Baru ketika bunga ilusi yang berpendar di langit itu menghilang, para robot dan Automa yang berkumpul di pantai mulai berbicara. Mereka bersorak gembira dan saling berkomentar tentang kembang api menakjubkan yang baru mereka lihat barusan. Meskipun sudah pernah melihat festival ini berkali-kali selama hidupnya, tapi robot generasi lama seperti Ryouta dan Buggy, ataupun Automa seperti Dokter, tidak pernah berhenti mengagumi pertunjukan indah barusan itu. Apalagi Maria, yang baru pertama kalinya menyaksikan festival kembang api spesial seperti ini.
“Hebat! Ryouta! Buggy! Itu tadi menakjubkan! Luar biasa!” Maria bersorak gembira sambil tanpa sadar terus saja memeluk tubuh besar Ryouta. “Kau lihat tadi?! Rasanya seperti mimpi saja! Ada bintang besar berpijar terang di langit, dan ada bunga cahaya raksasa yang mekar di atas sana! Ryouta, YANG TADI ITU LUAR BIASA!”
Ryouta melirik ke arah Maria yang kini ganti memeluk erat Buggy, yang sepertinya senang sekali diperlakukan seperti itu. Sementara itu Dokter kembali menyalakan sebatang rokok lagi sambil menatap ke arah langit yang berhiaskan bintang dan pecahan-pecahan bulan. Beberapa detik kemudian, puluhan kembang api biasa melesat ke udara dan meledak dalam berbagai warna dan bentuk.
Nyaris pada saat yang bersamaan, Ryouta dan Dokter menghela nafas panjang.
Bagi mereka yang dibuat atau lahir sebelum masa Catastrophy, festival ini merupakan sebuah pengingat, bahwa di masa lalu banyak di antara robot dan Automa yang hadir di sini pernah saling berperang dan saling menghancurkan. Kembang api bernama Moonlight dan Starburst itu juga sebenarnya adalah senjata pemusnah massal, yang masih tersisa dari jaman peperangan sebelum dan sesudah Catastrophy terjadi. Bagi beberapa robot generasi tua yang dulu merupakan mesin perang seperti Ryouta, pemandangan barusan seolah mengingatkan kembali akan kengerian medan perang yang pernah mereka lalui pada masa lalu.
Tanpa sadar, tatapan mata Ryouta bertemu dengan duet Rachnoss yang berdiri berdampingan. Bagai sebuah perjanjian yang tak terucap, keduanya saling menganggukkan kepala, kemudian kembali menatap langit yang masih dipenuhi letusan kembang api dengan berbagai warna.
“Lebih dari 500 tahun yang lalu, kota ini adalah yang terhebat, terbesar, dan tercanggih di seluruh daratan Asia. Tapi lihat sekarang. Semuanya sudah jadi puing-puing. Kami yang dulu menguasai daratan ini pun, kini sudah tinggal sejarah dan mesin tua seperti ku. Tidak bisa dipercaya, tapi ini sebuah kenyataan.”
Tiba-tiba Dokter berkomentar sambil menatap ke arah laut,  tepatnya ke arah dua kapal perang raksasa yang masih berlabuh dengan tenang setelah menunaikan tugasnya malam ini. Dia lalu menoleh ke sekitarnya, ke arah para robot dan beberapa Automa yang dengan penuh suka-cita, saling bercanda, berdansa, dan bermain dengan gembira. Sulit dipercaya bahwa beberapa di antara mereka dulunya adalah mesin-mesin penghancur kejam yang tidak kenal ampun.
“Ya,” sahut Ryouta singkat sambil mengangkat sebelah tangannya. “Rasanya janggal menyaksikan diriku tetap berdiri di tempat ini, padahal para pencipta ku semuanya sudah musnah ditelan Catastrophy. Belum lagi ditambah mereka yang lebih dahulu tewas akibat perang dan bencana lain. Aneh kalau mesin perang seperti ku tetap hidup, sementara mereka yang tidak pernah terlibat perang, kini sudah tidak ada lagi.”
Tiba-tiba Maria memeluk Ryouta dengan erat.
“Tidak ada yang janggal ah!” protesnya. “Ryouta bisa hidup sampai sekarang ini adalah sebuah keajaiban, dan kurasa kau harus menghargai itu. Soalnya kalau tidak ada kamu, aku dan Buggy mungkin sekarang sudah mati juga.”
Ryouta balas menepuk pelan kepala gadis robot yang memeluk tubuh besarnya itu. Maria balas tersenyum lebar ke arah robot perang yang dipeluknya.
“Maria benar. Adalah sebuah keajaiban kita semua masih bisa berdiri di sini, di tempat ini.” Dokter kembali berkomentar, sambil menyelipkan sebatang rokok ke sela-sela mulut logamnya. “Walaupun ingar-bingar peradaban manusia sudah lama hilang dari tempat ini, kurasa itu tidak buruk juga. Setidaknya sekarang tempat ini bisa kembali ramai dengan kehadiran robot-robot seperti kalian. Lumayan.”
Maria dan Ryouta saling pandang sejenak, sebelum kembali menatap ke arah Automa yang berdiri di depan mereka itu. Berbeda dengan keduanya, dulu Dokter adalah manusia, sebelum proyek Transhumanisme mengubahnya menjadi mesin berteknologi cyber-brain seperti sekarang ini.
Sejak bertemu dengan Automa itu beberapa waktu yang lalu, Maria jadi lumayan sering mengunjungi Dokter untuk bertanya-tanya soal kehidupan manusia di masa lalu. Tapi setiap kali Maria melakukan itu, animasi mata di layar kepala Dokter seolah menunjukkan kerinduan mendalam akan terlalu banyak hal, sama seperti saat ini.
“Dokter...” gumam Maria.
“Ah, sudahlah! Itu semua sudah berlalu,” ujar Dokter lagi sambil menyalakan batang rokok yang terselip di mulutnya. “Sekarang lebih baik aku pulang. Masih ada pekerjaan besar menantiku di rumah.”
Sambil melambaikan tangannya, Automa tua itu berbalik dan mulai berjalan ke arah tempat tinggalnya, yang berada di antara reruntuhan dan hutan kota.
Sebelum Dokter pergi terlalu jauh, Maria tiba-tiba melangkah maju dan berseru pada Automa itu.
“Dokter! Berhenti merokok deh, katanya itu tidak baik untuk kesehatan!”
Tanpa bicara sepatah-kata pun, Dokter tertawa sambil melambaikan sebelah tangannya. Tidak lama kemudian sosoknya yang mengenakan jas putih sudah hilang di antara kerumunan robot yang sedang bergembira di pantai.
Selama beberapa saat, Ryouta dan Maria kembali terdiam. Keduanya sedang memikirkan perkataan Automa, mantan manusia, yang baru saja bicara dengan mereka.
Memang benar, kini manusia berdarah-daging telah lama punah dari muka bumi. Tapi anak-anak buatan manusia, para robot berteknologi cyber-brain, masih terus hidup. Dan semoga saja hidup mereka akan terus bertahan untuk waktu yang sangat lama, hingga akhirnya bumi siap untuk menerima kembali kehadiran para anak-anak bintang, yang masih berkelana di luar sana.

-FIN?-

red_rackham 2014

No comments: