Friday, June 27, 2014

Tantangan Teen-lit: Pelindung Bumi?



Tantangan Teen-lit: Pelindung Bumi?

            “Kamu adalah orang yang terpilih sebagai Pelindung Bumi. Sekarang, bangun dan terima takdirmu!”
            Alvian Cahyadi tertegun menyaksikan seekor burung berbulu merah bertengger di jendela kamarnya, kemudian mengucapkan kalimat barusan. Dia mengucek mata beberapa kali, mengorek telinga, kemudian mencubit pipinya. Sekedar memastikan kalau dia sudah benar-benar bangun, bukan sedang bermimpi.
            “Aku masih mimpi ya? Masa sih ada burung bisa bicara?” Alvian bergumam sendiri sembari berbaring, kemudian menarik kembali selimutnya. “Selamat tidur.”
            “HEI!” Si burung merah berseru protes, kemudian meloncat ke atas tubuh Alvian. “Ini bukan mimpi, dan aku serius! Hei! BANGUN!”
            “Berisik ah! Ini kan cuma mimpi,” gerutu Alvian dari balik selimutnya. “Sudah deh, pergi sana! Aku mau tidur.”
            Mendengar ucapan Alvian, si burung merah tiba-tiba saja mematuk tubuh pemuda itu dengan paruhnya yang panjang dan tajam. Tindakannya itu membuat Alvian berteriak kaget, meloncat ke samping, kemudian jatuh dari tempat tidur.
            “SAKIT!”
Alvian berseru protes sambil mengusap belakang kepalanya yang terasa sakit setelah menghantam lantai keramik yang keras.
            “Huh! Rasakan!” dengus si burung merah. Dia lalu mengibaskan sayapnya dan menunjuk ke arah Alvian. “Dengarkan aku baik-baik, dunia tempat tinggalmu dalam masalah, dan hanya kamu yang bisa menyelamatkannya! Jadi, bangkitlah dan jadilah Pelindung Bumi!”
            “Ogah!” jawab Alvian tanpa pikir panjang.
            “HEI!” protes si burung merah. “Ini serius!”
            “Aku juga serius,” balas Alvian sambil berdiri, namun tetap menjaga jarak dari burung ganjil di atas kasurnya itu. “Memangnya siapa sih kau ini? Tahu-tahu muncul dan seenaknya bilang aku ini penyelamat atau semacamnya...”
            Si burung merah terlihat berpikir sejenak, dia lalu menepuk dada dengan sebelah sayapnya.
            “Namaku Vermeil, sang Penjaga Keseimbangan,” ujar si burung merah. Dia lalu menunjuk lagi ke arah Alvian. “Dan kau adalah Pelindung Bumi yang terpilih.”
            “Pelindung Bumi?” ulang Alvian bingung.
            “Ya, Pelindung Bumi. Orang terpilih yang akan melindungi dunia ini dari kekacauan yang dibawa oleh Utusan Kegelapan, Eldive. Dengan kekuatanmu, kau bisa menyelamatkan dunia ini sebelum seluruhnya ditelan kekuatan gelap,” ujar Vermeil lagi. “Apa kau mengerti?”
            Alvian menatap burung ajaib di depannya itu sambil memegangi kepalanya dengan sebelah tangan. Dia masih berusaha mencerna arti ucapan Vermeil barusan.
            “Sebentar... siapa yang seenaknya menunjukku jadi Pelindung Bumi?” tanya Alvian. “Tuhan?”
            Vermeil tiba-tiba saja mengalihkan pandangannya ke arah lain.
            “Eeh... bukan,” jawabnya.
            “Terus, siapa?” desak Alvian.
            “Aku,” jawab Vermeil dengan nada riang dan polos.
            “Kalau begitu, lupakan!” geram Alvian. “Aku enggak tahu kau ini sebenarnya apa, tapi jangan ganggu kehidupan normalku! Lagi pula, paling ini semua cuma lelucon. Pasti kau ini burung beo terlatih yang sengaja dikirim untuk membuatku bingung, iya kan?”
            Vermeil terdiam mendengar ucapan Alvian. Tiba-tiba saja sorot mata burung merah itu berubah menjadi tajam. Pada saat yang bersamaan, suhu kamar kos Alvian terasa meningkat tajam. Seolah-olah ada yang sedang menyalakan alat pemanas di dalam ruangan sempit itu.
            “Jadi, kau perlu bukti ya? Baiklah.”
            Nada bicara Vermeil mendadak berubah menjadi dingin. Alvian langsung merinding karena merasa baru saja membuat sebuah kesalahan fatal.
            “Akan kutunjukkan wujud asliku agar kamu tahu, aku tidak main-main!”
Vermeil bicara sambil mengangkat kedua sayapnya. Pada saat yang sama, pusaran api mendadak muncul entah dari mana dan melahap tubuh mungil burung merah itu. Hawa panas yang dihasilkan kobaran itu membuat Alvian menjerit ketakutan. Dia mengira tubuhnya akan habis terbakar oleh api ajaib yang mendadak berkobar itu. Namun anehnya, tidak satu pun barang di kamar Alvian yang ikut terbakar, begitu pula tubuhnya. Meskipun hawa panasnya nyaris tidak tertahankan, tapi tubuh Alvian masih utuh.
“Cukup! Maaf! Aku tadi enggak sopan! Jangan bakar aku!”
Akhirnya Alvian tidak tahan lagi dan memohon agar Vermeil menghentikan apinya.
Nyaris sama mendadak dengan kemunculannya, kobaran api di sekitar Vermeil menghilang begitu saja dan menampilkan wujud asli burung ajaib itu. Begitu perubahan wujudnya selesai, dia langsung berkata dengan bangga pada Alvian.
“Nah? Bagaimana? Hebat kan?” seru Vermeil.
Kali ini Alvian hanya bisa melongo.
Soalnya kali ini yang di hadapannya berdiri seorang gadis cantik berambut merah dan bersayap mungil. Gadis itu berdiri berkacak pinggang tanpa mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya... alias telanjang bulat.

****


“Jadi... sebenarnya Eldive itu seperti apa sih?”
Alvian bertanya sambil menahan kapas yang menyumbat lubang hidungnya. Setelah nyaris kehabisan darah akibat mimisan, Alvian berhasil meyakinkan Vermeil untuk mengenakan pakaian. Meskipun sempat protes, tapi akhirnya Vermeil mau mengenakan satu setel pakaian yang dipinjamkan Alvian. Tidak lama kemudian, keduanya setuju untuk pergi keluar dan mencari Eldive yang disebut-sebut Vermeil tadi.
            “Hmm... dia itu iblis dari dunia lain,” sahut Vermeil dengan entengnya. “Sekitar 10 Athurn, atau dalam hitungan kalian, 10.000 tahun yang lalu, dia muncul dan menenggelamkan peradaban awal kalian. Sekarang dia muncul lagi. Kalau tidak dicegah, hal yang sama akan terulang kembali.”
            “Apa?!” Alvian berseru kaget.
             “Aku tidak main-main,” sahut Vermeil dengan serius. “Itu alasan aku membutuhkanmu. Hanya Pelindung Bumi yang bisa menemukan dan menghancurkan Eldive sebelum dia terlalu kuat untuk dikalahkan.”
            Alvian sekilas melirik ke arah Vermeil. Kalau bukan karena sayap mungil dan mata keemasannya, Vermeil terlihat seperti gadis biasa dengan wajah cantik dan bentuk tubuh yang ideal. Pantas saja reaksi Alvian begitu kuat ketika Vermeil menunjukkan wujud aslinya tadi.
            “Hei! Kamu dengar tidak?” Vermeil protes melihat Alvian yang menatapnya dengan tatapan kosong. “Jangan bengong! Ini serius! Aku merasakan tanda-tanda kehadiran Eldive di kota ini, dan itu tidak bagus!”
            Setelah menggelengkan kepala untuk menyingkirkan bayangan mesumnya, Alvian balas bertanya pada Vermeil.
            “Eldive ada di kota ini!? Di mana?” tanya Alvian.
            Lagi-lagi Vermeil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
            “Eeh... entahlah,” jawabnya enteng.
            Jawaban Vermeil membuat Alvian kembali geram. Dia pun melotot ke arah sang gadis, yang kini mati-matian menghindari tatapan tajam dari Alvian.
            “Se... sebenarnya aku cuma pernah bertemu Eldive sekali saja... itu pun waktu dia muncul pertama kali di dunia ini 10 Athurn yang lalu,” ujar Vermeil salah tingkah. Ketika melihat Alvian menepuk wajahnya dengan sebelah tangan, dia kembali bicara.
            Sembari mengutuk takdir aneh yang menimpanya itu, Alvian bertanya-tanya kenapa dia bisa terlibat dalam masalah se-absurd ini.
            “Lalu gimana kau bisa menemukan Eldive, kalau wujudnya seperti apa saja kau tidak tahu?!” tanya Alvian.
            Vermeil tiba-tiba balik menunjuk ke arah Alvian.
            “Bukan aku yang akan mencarinya, tapi kamu, Pelindung Bumi!” ujarnya sambil tersenyum lebar.
            “Bagaimana caranya? Aku kan...”
            “Pakai ini dan berubahlah jadi Pelindung Bumi!” potong Vermeil sambil menjentikkan jari. Sedetik kemudian, sebuah ponsel bergaya futuristik muncul begitu saja dari udara. Ketika mewujud, Vermeil langsung melemparkan benda itu ke arah Alvian. “Tinggal tekan tombolnya dan... BUM! Kamu akan berubah wujud!”
            Alvian menatap benda asing di tangannya itu dengan seksama. Sekilas memang terlihat seperti ponsel canggih yang sering dia lihat di film-film sains fiksi. Tapi alih-alih ada banyak tombol, hanya ada satu tombol merah di tengah benda itu.
            “Tunggu apa lagi? Jangan lama-lama, ayo berubah!” desak Vermeil. Karena tidak sabar, dia langsung menghampiri Alvian, kemudian memaksa pemuda itu menekan tombol di ponsel canggihnya. Alvian yang terkejut tidak bisa berbuat apa-apa ketika cahaya menyilaukan mendadak menyelimuti tubuhnya.
“UWAAAH!!”
Tentu saja dia tidak malu-malu untuk berteriak. Sebab pada saat cahaya itu muncul, Alvian juga merasakan sensasi menggelenyar dan menggelegak dari dalam tubuhnya. Seolah-olah ada sesuatu yang minta dikeluarkan dengan segera, dan itu rasanya amat sangat tidak nyaman.
“He... hentikan!” seru Alvian ketakutan.
Alih-alih membantu, Vermeil justru mengacungkan jempolnya sambil melayangkan ekspresi puas di wajahnya.
“Jangan khawatir, tidak sakit kan?” ujarnya dengan nada riang.
“Iya, tapi...!!”
Protes Alvian terhenti ketika sensasi aneh dan cahaya menyilaukan yang menyelimuti tubuhnya itu mendadak hilang.
“Nah. Itu sudah selesai,” kata Vermeil. “Bagaimana rasanya?”
Alvian terdiam sejenak untuk mengamati kalau-kalau dirinya berubah menjadi burung aneh, sama seperti wujud Vermeil sebelumnya. Sekilas dia masih berwujud seperti manusia. Setidaknya dia masih memiliki sepasang tangan, dan sepasang kaki. Tapi dengan segera dia sadar kalau ada tambahan lain di tubuhnya, yang sebelumnya tidak dia miliki.
“Vermeil?” tanya Alvian.
“Ya?” jawab Vermeil singkat
“Ini apa?” Alvian kembali bertanya sambil menunjuk ke arah dadanya.
“Ayrudar,” jawab Vermeil, lagi-lagi dengan singkat.
“Ay... apa?!” tanya Alvian lagi, kali ini sambil menyentuh dadanya sendiri.
“Eh...” Vermeil terdiam sejenak untuk berpikir, kemudian tersenyum lebar. “Ayrudar... atau kalau dalam bahasa kalian, kurasa itu namanya payudara.”
Seketika itu juga Alvian menyadari kalau secara ajaib dirinya sudah berubah menjadi seorang perempuan.
           
****
           
            “Rasanya aneh...”
            Alvian berkomentar sambil memandangi bayangan dirinya di cermin kecil yang dipegangnya.
            “Jangan banyak komentar! Nanti juga terbiasa,” Vermeil berseru mengabaikan komentar gadis yang melompat di sampingnya itu. “Sekarang fokus pada energi Eldive-nya! Jangan sampai kamu kehilangan jejaknya!”
            Alvian hanya bisa merengut dan kembali berkonsentrasi.
Saat ini dia dan Vermeil sedang sibuk melompat-lompat dari satu atap ke atap rumah lainnya dengan kecepatan tinggi. Entah bagaimana, dia yang sekarang ini bisa merasakan ada ‘hawa tidak enak’ datang dari salah satu sudut kotanya. Menurut Vermeil, itu kemungkinan adalah salah satu tanda-tanda kemunculan Eldive. Hanya saja berhubung gadis itu tidak tahu seperti apa wujud iblis yang dicarinya itu, Alvian jadi semakin ketakutan. Sebab dalam benaknya sudah terbayang sosok monster mengerikan seperti yang sering dia lihat dalam film-film horor.
            “Vermeil.”
            “Ya?”
            “Boleh enggak aku kabur sekarang?”
            Vermeil menoleh ke arah Alvian, kemudian menyunggingkan senyuman tipis yang kira-kira artinya ‘kalau nekat kabur, kamu akan kupanggang’. Itu saja sudah cukup untuk membuat Alvian mengurungkan niatnya untuk lari.
            “Vermeil?”
            “Apalagi?”
            “Apa kita enggak terlalu mencolok?” Alvian kembali bertanya, tepat saat dia melompati seorang ibu rumah tangga yang sedang sibuk menjemur pakaiannya. “Apa ini enggak bakal jadi berita heboh?”
            Vermeil tertawa dengan suara merdu yang menyejukkan hati.
            “Jangan khawatir soal itu. Apapun yang kita lakukan, begitu orang yang melihat kita berbalik, dia akan melupakan kejadian yang disaksikannya barusan,” ucap Vermeil sambil tersenyum lebar. “Hebat kan? Selain itu dengan wujudmu sekarang, tidak akan ada yang tahu jati dirimu yang sebenarnya. Kujamin!”
            Meskipun masih ragu, Alvian setidaknya percaya kalau jati dirinya benar terlindung. Soalnya saat ini dia sama sekali bukan Alvian, melainkan seorang gadis cantik yang sambil melompat-lompat ala parkour di atas atap. Sama sekali tidak mencolok.
            “Ngomong-ngomong, bagaimana aku bisa mengalahkan Eldive? Katamu dia sangat kuat, sampai-sampai bisa menghancurkan dunia. Terus, bagaimana orang seperti ku bisa menang melawannya?” Alvian kembali bertanya. Kali ini, pertanyaannya benar-benar bagus.
            “Pakai itu.” Vermeil menjawab dengan singkat, kemudian menunjuk ke arah kedua tangan Alvian, yang kini tampak langsing dan berjari lentik.
            “Kedua tanganku?” Alvian balas bertanya kebingungan.
            “Ya. Memangnya pakai apa lagi?” sahut Vermeil.
            “Tidak ada senjata?” Alvian kembali bertanya. Kali ini dengan raut wajah memucat akibat membayangkan dirinya duel tangan kosong melawan seekor monster.
            “Buat apa senjata? Bikin repot saja. Langsung hantam dan selesaikan dengan ini!” Vermeil mengacungkan tinjunya yang kini dibungkus kobaran api berwarna biru. “Beres kan?”
            Alvian kembali melongo karena jawaban Vermeil yang jelas asal-asalan. Tapi sekarang dia tidak punya waktu untuk berdebat, sebab dia sudah berada sangat dekat dengan ‘hawa tidak enak’ yang dia rasakan barusan.
            “Perhatikan! Itu dia!”
            Ekspresi wajah Vermeil langsung menegang ketika mengucapkan kalimat itu. Pandangannya juga langsung tertuju ke sebuah sosok yang berdiri di antara kerumunan orang di bawah sana. Alvian ikut mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang sedang diamati Vermeil, namun dia terkejut bukan main. Sebab sosok yang diawasi gadis itu adalah seorang anak perempuan lucu yang berdiri sendirian di antara kerumunan orang.
            “Hei Vermeil, itu bukannya...”
            “Gawat! Dia melihat kita!!”
            Ucapan Alvian dipotong Vermeil yang mendadak melompat mundur. Sesaat Alvian bingung dengan tingkah gadis itu. Namun sedetik kemudian, kebingungannya berubah jadi kengerian. Sebab Vermeil tiba-tiba saja bagaikan dipukul oleh palu raksasa. Tubuhnya mendadak jatuh menembus atap rumah di bawahnya diiringi suara berdentum nyaring dan hempasan debu tebal.
            “VERMEIL!”
Alvian langsung bangkit dan hendak menolong Vermeil. Namun dia tidak sempat berbuat apa-apa, sebab sesosok anak kecil mendadak muncul di hadapannya. Berbeda dengan yang dilihatnya beberapa detik lalu, anak perempuan yang ini sama sekali tidak imut. Wajahnya berkerut mengerikan dan dihiasi senyum sadis.
            “Kakak juga datang dari dunia atas ya?” Suara anak perempuan itu terdengar berdengung janggal. “Kalau begitu, kakak akan kukirim balik ke sana ya?”
            Mampus!! Alvian menjerit dalam hati, sembari bersiap untuk lari secepat dan sejauh mungkin. Namun alih-alih melarikan diri, tubuh Alvian mendadak bergerak sendiri seolah tahu apa sebenarnya yang harus dia lakukan. Sedetik kemudian, pemuda –yang saat ini sedang berwujud seorang gadis– tahu-tahu sudah melayangkan sebuah tinju dengan kekuatan penuh.
            Karena tidak menyangka akan diserang, tinju Alvian telak mengenai targetnya. Suara dentum keras yang disusul oleh kilatan cahaya biru terang muncul saat tinju Alvian mengenai tubuh anak jelmaan Eldive. Dengan seketika tubuh mungil anak itu langsung terpental dan menghantam tembok sebuah ruko di kejauhan.
             Melihat hasil perbuatannya, Alvian hanya bisa tertegun. Dia tidak menyangka kalau ucapan Vermeil tadi itu bukan main-main. Ternyata tinju Alvian benar-benar sangat kuat bagaikan pukulan seorang manusia super.
            “Hei! Jangan bengong saja! Kejar Eldive itu! Nanti dia keburu kabur!”
            Mendadak Alvian mendengar suara Vermeil. Dia pun segera menoleh ke arah datangnya suara, dan dengan lega melihat gadis itu masih hidup. Dia tampak berdiri tegak di antara kerumunan orang yang sudah memadati jalanan di bawah sana.
            “Vermeil! Kau tidak apa-apa?”
Bukannya segera mengejar Eldive, Alvian justru balik bertanya pada Vermeil.
            “Lupakan soal diriku! Sekarang kau... MENUNDUK!!”
            Tanpa pikir panjang Alvian menunduk, tepat saat sebilah benda tajam melesat ke tempat lehernya tadi berada. Telat sedikit saja, sekarang kepalanya pasti sudah terguling di lantai. Dengan ngeri Alvian menatap ke arah monster yang berdiri tepat di depannya. Berbeda dengan sosok anak perempuan imut yang dihantamnya tadi, kali ini sosok yang menyeringai ke arahnya itu benar-benar mirip iblis, lengkap dengan tangan bercakar pisau dan mulut yang dipenuhi taring-taring tajam.
            “UWAAHH!!!”
Tanpa basa-basi, Alvian menjerit ketakutan sambil melompat mundur, hanya untuk bertemu dengan cakar tajam yang langsung menembus tubuhnya. Rasa sakit yang dirasakannya sungguh sulit dibayangkan.
Selama sesaat Alvian bagaikan buta.
Dia juga tidak ingat apakah dia sempat menjerit kesakitan atau tidak.
Yang jelas saat kembali sadar, tahu-tahu dia sudah berbaring di atas sebuah mobil yang atapnya ringsek akibat menahan jatuhnya. Dia hanya bisa pasrah melihat sang monster Eldive yang melompat menerkam ke arahnya.
“Hyaaah~~!!!!”
Suara seruan Vermeil mendadak memenuhi telinga Alvian dan memaksanya membuka mata. Dia terkejut melihat gadis itu tahu-tahu sudah menahan si monster di tembok terdekat dengan sekuat tenaga. Sementara itu api kembali berkobar dan menyelimuti tubuhnya.
“Bangun!!” Vermeil berseru dengan susah payah pada Alvian. “Kau belum mati! Bangun dan bantu aku! CEPAT!!”
Perlahan-lahan Alvian bangun dan menyadari kalau luka menganga di perutnya tadi sudah sembuh. Satu-satunya bekas yang tertinggal adalah robekan besar serta serta darah yang membasahi kaus yang dikenakannya.
“Aku harus apa?!” tanya Alvian panik.
“Tidak usah berpikir! Serahkan saja pada Pelindung Bumi dalam dirimu! Dia tahu apa yang harus dilakukan!” balas Vermeil. Dia masih berusaha mati-matian menahan Eldive dengan segenap tenaganya. “Cepat! Aku sudah tidak kuat lagi!”
Seperti perintah Vermeil barusan, Alvian berhenti memikirkan betapa mengerikannya Eldive itu, dan keinginannya untuk segera kabur dari tempat ini. Ketika melakukan itu, tiba-tiba saja Alvian tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Menyadari itu, Alvin bangkit dan merentangkan kedua tangannya ke samping. Di saat yang sama, dua buah bola cahaya berbeda warna langsung muncul dari telapak tangannya. Sambil memfokuskan pikirannya pada sang monster, Alvian menepukkan kedua tangannya hingga dua bola cahaya tadi bersatu. Suara dentum nyaring, diiringi hempasan energi dahsyat, mengiringi bersatunya kedua bola cahaya tersebut.
Seolah menyadari dirinya dalam bahaya, sang monster mendadak berontak dan tanpa terduga melemparkan Vermeil ke samping. Monster itu lalu melesat ke arah Alvian sambil meraung keras dan mengayunkan tangannya yang dipenuhi cakar tajam.
Sayangnya kali ini Alvian sudah siap dengan serangan itu. Dengan gesit, dia memutar tubuh dan membiarkan cakar si monster menghantam mobil tempatnya berdiri barusan. Selama sedetik, gerakan Eldive terhenti karena cakarnya tersangkut di antara rangka logam mobil yang ditembusnya.
            Hanya sedetik, tapi itu sudah cukup bagi Alvian.
            “MAMPUS!!”
            Sambil meraung, Alvian mengayunkan tinjunya sekuat tenaga.
Pukulan yang sudah diperkuat dengan energi dahsyat itu dengan telak menghantam tubuh sang monster.
Ledakan cahaya, diiringi kilatan energi yang menyambar ke segala arah, mengiringi hancurnya tubuh Eldive hingga berkeping-keping. Saking kuatnya ledakan itu, mobil yang ada di bawah Alvian dan monster itu langsung meledak jadi serpihan kecil. Akibat ledakan tersebut, tubuh Alvian juga ikut terlempar dan menabrak sebuah mobil boks hingga ringsek. Untungnya dia sekarang sudah jadi manusia super, kalau tidak semua tulangnya pasti remuk akibat benturan barusan.
Sambil terengah-engah Alvian menatap hasil kerjanya tadi. Sosok Eldive yang tadi begitu mengerikan kini sudah hancur berkeping-keping. Yang tersisa dari makhluk itu hanya sebuah kristal kecil yang bersinar dan melayang di udara.
“Kerja bagus.”
Vermeil berkomentar sambil melayang turun. Dia lalu mengambil kristal sisa Eldive dan dengan segera memasukkannya ke dalam sebuah kotak kecil. Setelah selesai, dia pun menoleh ke arah Alvian.
            “Tidak terlalu susah kan?” Vermeil berkomentar sambil tersenyum puas melihat hasil kerja Alvian.
            Alvian sebenarnya ingin sekali protes, tapi sepertinya dia sudah benar-benar kehabisan tenaga. Kekuatan yang beberapa saat lalu terasa meluap-luap dari dalam tubuh, kini sudah hilang sama sekali. Yang tersisa hanya rasa lelah yang luar biasa.
            “Walau ini baru pertama kalinya, tapi kerjamu bagus sekali,” puji Vermeil.
            “Vermeil?” tanya Alvian dengan nada lirih.
            “Ya?” sahut Vermeil.
            “Selamat tidur.”
            Tanpa basa-basi lagi, Alvian langsung jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri.

****

            Hal pertama yang dilihat Alvian saat kesadarannya pulih adalah langit-langit kamar kosnya yang bercat biru kusam. Tadinya dia berharap kalau semua kejadian ajaib yang telah dialaminya tadi itu hanya mimpi. Sayangnya dia langsung sadar kalau itu semua sama sekali bukan mimpi. Soalnya dia melihat Vermeil, sang gadis cantik jelmaan burung ajaib, sedang duduk di samping tempat tidurnya.
            “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.
            “Lemas...” jawab Alvian. “Tapi aku senang semuanya sudah selesai.”
            Tiba-tiba Alvian sadar ada yang aneh. Soalnya saat dia mengucapkan kalimat barusan, Vermeil langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Itu kebiasaan yang dilakukannya kalau gadis itu berusaha menyembunyikan sebuah masalah.
            “Tunggu... ada yang salah...”
            Alvian terhenyak ketika menyadari dirinya belum kembali jadi seorang laki-laki. Kedua matanya langsung terpaku pada bayangan seorang gadis imut di cermin samping kasurnya. Gadis yang tidak lain adalah dirinya sendiri.
            “Ke... kenapa aku masih begini?!” seru Alvian panik. “Vermeil!”
            “Eeh...” Vermeil masih enggan menatap mata Alvian. Dia pun terlihat salah tingkah. “Jadi... sebenarnya Eldive itu tidak cuma satu itu saja. Masih ada 8 lagi yang tersisa. Dan... eeh... sepertinya kau baru bisa kembali normal kalau semua Eldive sudah dibasmi.”
            Mulut Alvin langsung terbuka lebar mendengar penjelasan gadis yang duduk di sampingnya itu.
            “Maaf ya, sepertinya kau akan tetap seperti itu selama beberapa waktu,” ujar Vermeil lagi. “Ehehe...”
            Kali ini Alvian merasa seperti ada sesuatu yang putus dalam kepalanya, dan dia pun menjerit sekuat tenaga.
            “JANGAN BERCANDAAAA~~~!!!!!”

****

~FIN?~
red_rackham 2014

Afterwords:
Ini merupakan jawaban atas tantangan dari bang Herjuno event Tantangan PTK2014 yang diselenggarakan oleh Kemudian.com. Bagi yang kebetulan baca post ini dan kebetulan punya akun di Kemudian.com, silahkan mampir dan berikan komentarnya :D 

No comments: