Wednesday, September 9, 2015

6th Spiral: Lady of The Trees



Setiap kali aku melihat jalan protokol yang menjadi halaman depan kota Jakarta, aku tidak pernah berhenti untuk merasa takjub dengan pemandangan yang kulihat. Deretan gedung-gedung tinggi berdiri kokoh menentang langit, seolah-olah benar-benar ingin menggapai awan jauh di atas sana. Jalanan lebar yang tidak pernah lengang dari berbagai jenis kendaraan yang melintas, dan tidak jarang, berhenti total selama berjam-jam karena kepadatan lalu lintas yang luar biasa. Kalau terus berjalan menyusuri jalanan ini, aku pasti akan sampai ke sebuah tanah lapang yang dihiasi sebuah monumen dengan puncak emas.
Monas.
Salah satu ikon ibukota negara ini. Di hari-hari biasa, tempat itu tidak terlalu ramai dikunjungi orang. Tapi begitu memasuki akhir pekan atau hari libur nasional, bisa ratusan orang tiba-tiba tumpah ruah memadati lapangan itu.
Aku pun demikian.
Hampir setiap akhir pekan aku datang ke lapangan Monas untuk berolahraga, kemudian duduk-duduk santai menyaksikan keramaian di sekitarku. Terkadang aku membawa buku untuk kubaca sambil bersantai, bersama sedikit camilan atau bekal makan siang yang sengaja kubawa dari rumah.
Itu kalau cuacanya bagus. Tapi kalau sedang hujan, tentu saja aku tidak akan repot-repot berkendara dari rumahku di Bekasi sampai ke sini. Hari ini sih seharusnya cuacanya bagus, sebab tadi pagi kulihat matahari bersinar dengan gembira di langit. Selain itu tidak ada awan yang terlihat di atas sana. Jadinya kupikir hari ini akan jadi hari yang cerah.
Tapi nyatanya dugaanku salah.
Tidak lama setelah aku sampai ke lapangan Monas, cuaca berubah dengan kecepatan yang nyaris sulit dipercaya. Awan gelap dengan cepat menutupi langit, suhu udara pun menurun, dan tidak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya.
Sialnya aku sedang tidak bawa payung atau jas hujan.
Jadi mau tidak mau aku sekarang harus mencari tempat berteduh dari hujan. Masalahnya, satu-satunya tempat berteduh terbaik bagiku saat ini adalah di kawasan perkemahan yang berada tidak jauh dari tempatku duduk tadi. Tidak ada bangunan tempat berlindung di sana, tapi setidaknya pohon-pohon rindang yang tumbuh di kawasan itu bisa mengurangi jumlah tetesan air hujan yang mengenai tubuhku.
Dan di sanalah aku sekarang ini. Seorang pria bertampang memelas yang setengah basah kuyup karena hujan.
“Aduh! Kok tiba-tiba saja hujan deras begini sih?!”
Aku menggerutu sambil bersandar pada pohon di belakangku. Untung saja pohon ini kanopinya tertutup lapisan dedaunan yang cukup lebat, sehingga tetesan air hujan tidak sampai ke tubuhku dengan kekuatan penuh. Tapi tetap saja aku jadi semakin basah kuyup. Parahnya lagi, aku tidak bawa pakaian ganti. Tentu saja tidak, soalnya aku kan tidak berniat untuk basah-basahan seperti ini.
Kalau cuaca tidak segera berubah jadi cerah, mau tidak mau aku terpaksa pulang dengan pakaian basah kuyup. Aku tahu itu bukan ide bagus. Soalnya berkendara dengan baju basah sama saja mengundang penyakit. Terutama paru-paru basah. Aku pernah mengalaminya sekali dan tidak mau lagi kena penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Tapi kalau dilihat dari situasinya, kemungkinannya cukup besar aku akan sakit kalau mencoba pulang sekarang.
“Sungguh sial!”
Aku menggerutu lagi sambil memandangi langit yang dihiasi awan gelap, dan petir yang menyambar di langit dengan diiringi suara menggelegar. Kalau melihat kondisinya sih hujan ini tidak akan berhenti sampai setidaknya satu jam ke depan.
“Hoi langit, jangan plin-plan dong! Kalau cerah, ya harusnya cerah!”
Aku menggerutu sambil memandang ke arah langit gelap, yang sesekali dihiasi kilatan halilintar. Sulit dipercaya kalau tadi pagi langitnya begitu cerah dan matahari sungguh-sungguh bersinar dengan teriknya.
“Jangan seenaknya menyalahkan langit ah.”
Jujur saja. Aku terlonjak kaget. Aku sama sekali tidak mengira akan ada orang yang mengomentari ucapanku. Spontan aku langsung menoleh ke belakang, lalu ke samping kanan-kiri. Tapi aku sama sekali tidak melihat siapa pun di sekitarku.
“Di sini! Di atas sini!”
Mendadak aku mendengar suara itu lagi. Kali ini aku mengikuti petunjuknya dan menengadah ke atas, tepatnya ke cabang pohon di atasku.
Kejutan!
Di atas cabang pohon itu duduk seorang gadis berambut hitam sebahu yang sedang tersenyum lebar ke arahku. Kedua matanya yang berwarna hijau terang terlihat selalu memancarkan keceriaan, tapi di saat yang sama, aku menyadari ada kilau kebijaksanaan di dalam sana. Sesuatu yang rasanya tidak pas terlihat di wajahnya yang masih terlihat seperti anak ABG. Sementara itu senyumnya yang lebar membuat wajahnya jadi semakin imut. Aku lihat dia mengenakan pakaian yang cukup modis, yah, setidaknya untuk usianya yang terlihat masih seperti gadis remaja belasan tahun.
Masalahnya cuma satu ... aku yakin seribu persen kalau gadis yang sedang duduk di atas pohon itu bukan manusia.
Bukan!
Bukan karena tubuhnya transparan atau punggungnya bolong, tapi karena tidak ada gadis waras yang mau bertengger di atas pohon di tengah hujan lebat seperti ini.
Itu.
Atau gadis itu memang agak kurang waras.
“Kaget ya? Maaf deh kalau begitu.” Gadis pohon itu kembali bicara dengan nada geli. Sepertinya dia tahu kalau aku nyaris kena serangan jantung ketika melihat sosoknya yang sedang asyik nangkring di atas dahan pohon seperti itu. “Kau tidak apa-apa?”
Aku menarik nafas panjang, berusaha menenangkan jantungku yang masih berdebar kencang tidak karuan. Tapi sepertinya gadis ini tidak bermaksud buruk, jadi setidaknya aku bisa agak tenang sedikit.
“Tidak,” sahutku. “Tapi aku nyaris kena serangan jantung tadi.”
“Ahaha~! Maaf ya~!”
Gadis pohon itu mendadak melompat turun dan mendarat dengan suara lembut tepat di depanku. Saking dekatnya, aku bisa mencium bau harum tubuhnya, yang anehnya agak mirip dengan aroma beri liar yang dulu sering kutemukan di hutan pegunungan. Tanpa sadar aku melangkah mundur dan hingga punggungku menyentuh pohon yang ada di belakangku.
“Sedang apa kau di sini?” Si gadis pohon bertanya lagi padaku, masih dengan senyum lebar yang terkembang di wajahnya. “Jarang sekali ada orang yang mau datang ke sini.”
“Kenapa?” Aku balas bertanya padanya.
“Soalnya tempat ini terkenal angker.”
Yap!
Dengan entengnya gadis pohon itu mengakui kalau sudut kawasan perkemahan tempatku berlindung sekarang ini adalah tempat yang menyeramkan.
Terima kasih!
“Tapi tidak usah takut. Ada aku di sini~!”
Sebelum aku sempat mengucapkan apapun, dan sebelum aku sempat mengambil ancang-ancang untuk jurus langkah-seribu, si gadis pohon sudah bicara lagi.
“Yang lainnya tidak akan macam-macam kok kalau ada aku. Percaya deh!”
Biarpun dia bilang begitu, sekarang aku punya dua alasan untuk benar-benar takut. Pertama, gadis pohon ini jelas bukan manusia. Kedua, pastinya ada alasan bagus bagi makhluk-makhluk lainnya untuk menghindari kontak dengan gadis pohon ini.
Yang jelas, ini pertanda tidak bagus!
Aku harus segera pergi dari sini secepatnya!
“Eh. Kalau begitu maaf sudah mengganggu, aku ...”
“Loh, kok buru-buru pergi?”
Tiba-tiba si gadis pohon menarik lenganku dan menghentikan langkahku. Anehnya tidak seperti yang kuduga, genggaman tangannya hangat. Tidak dingin seperti yang kukira. Aku tidak tahu itu pertanda bagus atau tidak.
“Eeh ... aku ... aku masih punya urusan lain!” ujarku sambil berusaha terlihat wajar, meski tentu saja ekspresiku tampak aneh.
“Hujan-hujan begini? Jangan bohong ah.” tanya si gadis pohon sambil tersenyum lebar. Tapi tiba-tiba dia terdiam dan ekspresinya seolah-olah menunjukkan kalau dia baru menyadari sesuatu yang penting. “Ah! Aku tahu!”
Seiring dengan ucapannya, dia melepaskan genggaman tangannya kemudian melangkah mundur. Ekspresinya sekarang terlihat serba salah.
“Maaf. Sudah lama aku tidak bertemu orang seperti mu. Aku jadi terlalu bersemangat,” ujarnya dengan wajah agak memerah. “Kau pasti takut denganku ya?”
Kali ini jantungku kembali berdetak kencang. Kali ini aku bingung apa sebabnya. Soalnya sulit ditebak apakah itu karena aku masih takut dengan sosok gadis ini atau aku terpesona melihat kecantikannya.
Akhirnya aku mengakui kalau alasan sebenarnya adalah yang kedua.
“Ti ... tidak. Aku tidak takut. Hanya kaget saja,” ujarku. “Tidak tiap hari aku bertemu dengan ... eeh ... penunggu pohon?”
Tiba-tiba sang gadis pohon tertawa lepas. Suara tawanya terdengar jernih, sejernih suara desiran dedaunan yang tertiup angin sepoi-sepoi. Pokoknya suara tawanya itu membuatku merasa nyaman dan lebih tenang.
“Penunggu pohon ya?” ujarnya geli. “Yah, bisa dibilang begitu sih. Soalnya kalau ada yang bertanya apa aku ini, aku juga sudah lupa. Masalahnya sudah lama sekali tidak ada yang ingat denganku sih.”
Aku mengamati sosoknya sekali lagi. Kalau dilihat sekilas sih gadis di hadapanku ini mirip seperti manusia, bahkan pakaiannya juga cukup modis mengikuti jaman. Tapi tetap saja semua instingku menyatakan kalau gadis ini bukan manusia. Yah ... dia juga mengakui sih kalau dirinya bukan manusia.
“Eh ... apa kau ini ... hantu?” tanyaku ragu-ragu, aku masih takut kalau pertanyaanku ternyata menyinggungnya.
“Hantu? Wah! Tentu saja bukan. Penunggu pohon yang kamu maksud itu sih antara wewe gombel atau sundel bolong,” sahutnya sambil mendengus kesal. “Aku lebih dari sekedar itu. Aku menjaga semua pohon di daerah ini, dan kau harusnya merasa beruntung. Tidak setiap hari aku muncul di hadapan manusia seperti ini loh!”
Sekali lagi aku memandangi sosoknya yang mungil. Yah, harus kuakui wewe gombel atau sundel bolong tidak mungkin ada yang seimut ini. Aku sudah pernah lihat satu, dan itu saja sudah cukup untuk membuat jantungku nyaris lompat ke kerongkongan.
“Terus ... kenapa kau tiba-tiba muncul?”
Gadis pohon itu mengangkat bahunya.
“Entah ya. Aku lihat kau ada di bawah pohon favoritku, jadi kusapa saja,” ujarnya sambil kembali nyengir lebar. “Dan untung saja kau tidak langsung lari terbirit-birit seperti yang lainnya.”
Aku menghela nafas panjang, kemudian memandang ke sekelilingku. Selain diriku dan gadis-bukan-manusia ini, tidak ada lagi orang lain di sekitar kami. Tentu saja begitu, soalnya tempat ini memang agak remang-remang, bahkan di siang hari seperti ini. Pepohonan yang tumbuh rapat, semak belukar, dan jalan setapak yang tidak terawat terlihat menghiasi pemandangan sekitarku. Sepertinya sudah lama areal perkemahan ini tidak dipergunakan.
Entah apa alasannya.
“Ngomong-ngomong kau sendirian?”
Aku bertanya tanpa pikir panjang, dan pertanyaanku sepertinya membuat si gadis pohon merasa sedih. Ekspresi ceria di wajahnya tiba-tiba berubah jadi muram. Dia pun ikut memandang ke sekelilingnya, ke kerimbunan hutan kecil yang secara ajaib masih tersisa di tengah kepungan hutan beton kota Jakarta.
“Dulunya yang seperti ku ada banyak. Dulu sekali. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi.”
Gadis pohon itu berhenti sejenak.
“Aku tidak tahu ke mana perginya yang lain. Yang jelas sebelum aku benar-benar menyadarinya, tahu-tahu hutanku sudah tidak ada lagi. Pohon-pohon yang dulu berdiri tegak sejauh mata memandang, sudah hilang, berganti dengan bangunan-bangunan beton. Jalan setapak di antara semak belukarnya juga sudah tidak ada lagi, berganti dengan jalanan berlapis aspal yang selalu dipenuhi kotak-kotak besi berjalan. Dan hewan-hewannya ... yah ... entah mereka semua lari ke tempat lain atau malah sudah diburu sampai punah.”
Gadis pohon itu menghela nafas panjang, kemudian tersenyum tipis ke arahku. Ekspresi wajahnya begitu sedih sehingga dadaku jadi sesak dibuatnya. Wajah gadis pohon itu masih dipaksakan untuk terlihat ceria, tapi ada kesedihan mendalam dibalik kedua matanya yang berwarna hijau cerah itu. Jelas dia sudah kehilangan terlalu banyak hal yang sangat berarti baginya, sementara dia sendiri tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya.
“Yah, apa boleh buat. Kami sudah tidak dibutuhkan lagi di sini,” ujar si gadis pohon lagi. Dia lalu menepuk batang pohon yang kupakai untuk bersandar tadi. “Tempat ini juga begitu. Tidak lama lagi mereka akan hilang dan berganti dengan sesuatu yang baru. Aku tidak tahu akan jadi apa tempat ini, tapi yang jelas pohon, semak, dan tanah ini akan segera hilang dan berganti rupa.”
Aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Rasanya apapun yang kukatakan nantinya tidak lebih dari sekedar ucapan kosong yang tidak berarti apa-apa. Aku juga tidak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya. Soalnya apa yang dikatakan gadis penunggu pohon itu memang benar.
Kalau dilihat dari kondisi tempat ini yang tidak terawat, cepat atau lambat pemerintah kota pasti akan melakukan sesuatu. Yang terburuk adalah mengubah tempat ini jadi tempat parkir, ruko, atau malah mall kecil.
Kalau saja orang-orang kota ini menyadari pentingnya keberadaan lahan hijau seperti ini, pastinya hutan kecil ini tidak akan hilang begitu saja. Coba kalau hutan ini dirawat sedikit, pastinya tidak akan terlihat angker lagi. Minimal tidak terlihat seperti tempat jin buang anak, atau tempat para psikopat mengubur korbannya.
Kalau saja tempat ini adalah sebuah taman bermain maka ...
Tunggu!
Itu dia!
“Aku tidak bisa janji, tapi aku akan melakukan sesuatu agar tempat ini tidak hilang begitu saja.”
“Eh?! Serius?”
Ekspresi wajah si gadis pohon mendadak jadi cerah begitu mendengar ucapanku.
Aku mengangguk.
“Aku punya ide. Tapi aku tidak tahu apakah ideku ini akan berhasil atau tidak,” ujarku lagi.
“Oh! Tidak masalah!” sahut si gadis pohon dengan mata berbinar-binar. “Ide apa itu?” 
Aku menjelaskan ideku pada si gadis pohon. Aku tidak benar-benar yakin kalau ideku ini akan berhasil, tapi setidaknya aku akan berusaha. Tidak akan kubiarkan tempat seperti ini hilang begitu saja ditelan perkembangan kota Jakarta yang kelewat pesat.

****

Ideku waktu itu sederhana.
Bagaimana kalau hutan kecil tidak terawat itu diubah menjadi semacam taman kota?
Memang tempat itu tetap akan banyak berubah, tapi setidaknya ideku itu akan membuat hutan kecil itu bertahan di tengah desakan pembangunan kota yang semakin tidak terarah.
Caranya?
Memang tidak mudah. Tapi aku kenal beberapa orang di kelompok masyarakat yang peduli dengan hal-hal semacam itu. Jadi yang bisa kulakukan adalah menyuarakan ideku mengubah hutan kecil di pojok kawasan Monas itu menjadi sebuah taman kota kepada mereka. Kemudian biar kelompok-kelompok itu yang akan melakukan kampanye, petisi, dan semacamnya.
Perlahan tapi pasti, ideku ini akan sampai ke telinga para penguasa kota. Dan ketika saat itu tiba, aku berharap mereka yang duduk di singgasana pemerintahan masih punya otak, atau sedikit nurani, untuk melindungi apa yang tersisa dari hutan yang dulu pernah menyelimuti daerah ini. Aku berharap mereka melihat bahwa kota ini butuh ruang hijau, tidak hanya untuk bernafas dan menyerap air hujan, tapi juga sebagai arena bermain bagi anak-anak kota metropolitan ini.
Awalnya aku agak pesimis ini akan berhasil, soalnya ... yah ... perkembangan kota ini terkadang kelewat tidak terkendali. Uang dan keuntungan jadi raja, sehingga bangunan apapun yang menghasilkan uang, pasti akan segera berdiri meskipun kerugian sebenarnya bisa jauh lebih menakutkan dari sekedar kebangkrutan. Tapi kadang orang-orang yang punya kekuasaan di kota ini sudah terbutakan oleh uang, oleh karena itu asalkan menghasilkan keuntungan, apapun pasti dilakukan. Proyek yang tidak menguntungkan seperti yang tertuang dalam ideku itu rasanya tidak mungkin akan lolos sebagai bagian dari program pembangunan kota Jakarta.
Oleh karena itu aku nyaris tidak bisa percaya kalau ideku itu ternyata benar-benar membuahkan hasil!
Memang butuh waktu sampai dua bulan hingga ideku sampai didengar oleh dewan kota, dan butuh waktu tiga bulan lagi sampai ada keputusan untuk mengubah hutan kecil itu jadi taman kota. Tapi yang jelas, aku benar-benar melakukan sesuatu sebisaku, untuk menjaga agar rumah terakhir si gadis penjaga pohon itu tidak musnah begitu saja.
Dan pada akhirnya, di sinilah aku, di bawah pohon rindang yang menaungi tempat yang kini ramai dikunjungi oleh anak-anak dan orang tuanya di akhir pekan. Tempat yang dulunya hanyalah hutan kecil tidak terawat yang terancam hilang tergusur hutan beton di sekitarnya.
“Aku tidak percaya ini benar-benar nyata!”
Aku mendengar suara si gadis pohon dari dahan pohon di atas kepalaku.
“Aku juga tidak percaya kalau ideku itu benar-benar akan terwujud,” ujarku mengakui. “Yah, tapi maaf kalau hutanmu ini jadi ... yah ... ramai seperi ini.”
Aku memandang ke depan, ke arah sekelompok anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran di sela-sela pepohonan rindang yang menaungi mereka. Di sekitar mereka tampak beberapa orang pasangan muda sedang asyik bermesraan, sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan di depan umum, apalagi di depan anak-anak. Tapi yang jelas, tempat yang dulunya sepi dan angker ini, sekarang jadi ramai dikunjungi banyak orang.
Terlalu ramai malah, sehingga kesunyian hutan ini kini benar-benar hilang sepenuhnya.
“Tidak. Tidak masalah kok kalau begini. Sejujurnya aku malah senang.” Si gadis hutan kembali bicara sambil bergantung terbalik dari dahan pohon tempatnya duduk tadi. “Setidaknya dengan begini aku tidak kesepian lagi.”
Dia lalu tersenyum dan melambaikan tangan ke arah seorang anak kecil yang berdiri terbengong-bengong. Aku menyadari kalau tatapan matanya terarah ke sosok si gadis pohon yang masih bergantung terbalik di dahan. Alih-alih lari ketakutan, anak itu malah balas tersenyum dan melambaikan tangannya. Tidak lama kemudian dia berbalik dan bergegas bergabung bersama teman-temannya.
Sebenarnya aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya anak tadi bisa melihat sosok gadis pohon. Entah apa yang dia lihat, tapi sepertinya di mata anak kecil itu, si gadis pohon bukan sosok yang perlu dia takuti.
“Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya tidak ingin tempat seperti ini hilang begitu saja ditelan kota yang semakin buas” ujarku sambil bersandar di pohon. “Kurasa ak ...”
Ucapanku berhenti karena si gadis pohon mendadak mengecup keningku.
Seketika itu juga jantungku serasa meloncat keluar dari kerongkonganku.
Aku sama sekali tidak bisa mengucapkan apapun selain terdiam sambil terbelalak menatap seorang gadis yang sedang bergantung terbalik di depan mataku. Senyuman lebar menghiasi wajahnya yang kini terlihat begitu cantik. Kedua matanya yang berwarna hijau cerah terlihat begitu jernih, sekaligus begitu tua dan begitu penuh akan kenangan masa lalu.
“Sayang sekali ya kau ini manusia~!”
Sang gadis pohon lalu menghilang, meninggalkan suara tawanya yang polos, nyaring, dan jernih bagaikan aliran air sungai di pegunungan. Bersamaan dengan kepergiannya, angin lembut dan hangat mendadak berhembus di antara pepohonan di sekitarku. Suara gemeresik dedaunan terdengar bersahut-sahutan, seolah-olah pohon-pohon di taman kota ini ingin mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kupahami.
Sambil menarik nafas panjang dan menenangkan diri, aku berbalik dan menatap pohon beringin tertua di area taman kota baru ini.
Benar ... sayang sekali ya ...

****

End of 6th Spiral

Move on to the next story


1 comment:

Unknown said...

Terus berkarya gan.
terharu baca ceritanya