Saturday, October 31, 2015

8th Spiral: Blind Vision



Pertama kalinya aku bertemu dengan nenek tua itu adalah di sebuah persimpangan jalan protokol yang membelah jantung kota Jakarta.
Tidak ada yang istimewa dari nenek itu, kecuali fakta bahwa dia buta. Sebelah tangan nenek itu tampak memegangi tongkat kayu belang warna merah dan putih. Kedua matanya tertutup selagi dia berjalan. Sesekali dia diam dan sekilas terlihat seperti sedang mengamati keadaan sekelilingnya dengan kedua telinganya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dilakukan nenek itu, tapi sedetik kemudian perhatianku teralih sepenuhnya.
Soalnya nenek tuna netra itu baru saja berniat menyeberangi salah satu jalanan paling padat kendaraan di kota Jakarta!
“AWAS!”
Tanpa pikir panjang, aku berlari menghampiri nenek itu dan mencengkeram kedua bahunya, kemudian menariknya mundur, tepat sebelum si nenek tersambar oleh sebuah mobil mewah yang melintas dengan kecepatan tinggi. Sepintas aku mendengar suara sumpah serapah dilontarkan dari jendela mobil yang nyaris merenggut nyawaku itu, tapi aku tidak memperdulikannya.
“Nenek tidak apa-apa?”
Aku bertanya pada nenek itu sambil menuntunnya menjauh dari jalan raya. Pada saat yang sama aku juga mengamati sekujur tubuhnya, kemudian bersyukur karena dia tidak terluka sama sekali. Begitu menyadari hal itu, aku langsung menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan detak jantungku yang masih berada di bawah pengaruh adrenalin.
Nyaris saja!
“Terima kasih, nak,” ujar nenek itu dengan suaranya yang agak bergetar. “Nenek tidak apa-apa kok.”
“Syukurlah.”
Aku menarik nafas lega.
“Nenek mau ke mana? Mau kuantar sampai ke tempat tujuan?” tanyaku lagi. 
Tapi sang nenek menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah. Nenek tahu bagaimana kesibukanmu, nak. Sebaiknya kamu segera kembali dan mengantar titipan orang yang ada padamu. Kalau kelamaan di sini, nanti yang menerima titipan itu keburu marah padamu,” ujar sang nenek lagi sambil tersenyum dengan bibirnya yang penuh keriput. “Sudah, tidak usah mengkhawatirkan nenek, kamu lanjutkan saja tugasmu, nak.”
Aku terdiam sejenak.
Ada yang aneh dengan dengan ucapan nenek ini barusan. Dia seolah-olah tahu kalau aku bekerja sebagai kurir titipan kilat, padahal aku kan sama sekali belum mengatakan apapun tentang diriku. Jangankan pekerjaan, berkenalan saja belum.
“Eeh ... tidak masalah. Saya antar sampai ke seberang saja ya? Bagaimana?”
Sekali lagi aku menawarkan bantuan pada si nenek, yang ternyata langsung ditolak mentah-mentah olehnya.
“Tidak usah. Nenek tahu jembatannya ada di sebelah sana.” Si nenek menunjuk ke arah jembatan penyeberangan orang, sekitar seratus meter dari tempat kami berada sekarang. “Nenek tahu jalan kok. Terima kasih.”
Aku memandangi si nenek dengan perasaan bingung.
Kok dia tahu ada jembatan penyeberangan dekat sini?
Padahal dia kan tidak bisa melihat?
Karena aku juga tidak mau memaksakan bantuan pada nenek ini, pada akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku. Tadi aku cuma mampir sebentar membeli makan siang dan harus segera kembali ke kantor untuk mengambil paket lain. Yah, walau pekerjaanku nanti siang tidak menuntut jadwal khusus, tapi kalau aku terlalu lama di sini, bisa-bisa aku pulang kemalaman setelah mengantar paket berikutnya.
“Sudahlah, kamu tidak usah lama-lama di sini, nak. Tugasmu kan masih banyak.” Si nenek kembali menepuk lenganku. “Kamu hati-hati ya kalau naik motor. Biar pun sudah biasa, tapi kamu tetap harus hati-hati ya, nak. Jangan ngebut.”
Sekali lagi aku kaget karena nenek ini sepertinya tahu kalau aku selalu bepergian dengan sepeda motor. Padahal aku tidak mengatakan apapun soal itu.
Aneh sekali.
“Kalau begitu, aku permisi dulu ya.” Aku akhirnya mengalah dan melangkah menjauh dari nenek itu. “Nenek juga hati-hati ya.”
“Iya, nak.”
Sang nenek membalas sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum dan berjalan meninggalkan sang nenek, yang masih berdiri sambil menghadap ke arahku. Tidak lama kemudian, nenek itu kembali berjalan sambil meraba-raba dengan tongkatnya. Kali ini dia berhasil sampai ke jembatan penyeberangan dan menyeberang jalan dengan aman.
Tadinya aku masih ingin memastikan dia sampai ke seberang dengan selamat, tapi rasanya itu tidak perlu. Lagi pula aku sudah hampir kehabisan waktu istirahat siang.
“Saatnya kembali bekerja!”
Aku berkata pada diriku sendiri sambil berjalan menuju ke tempat partner setiaku menunggu, atau dengan kata lain, tempat parkir motor.

****


“Oh. Kita bertemu lagi ya, nak.”
Aku menatap ke arah nenek tua yang sedang duduk di kursi taman. Ini kedua kalinya aku bertemu dengan nenek buta itu. Kali ini aku tidak sengaja melihatnya sedang duduk manis di kursi yang berada di tengah sebuah taman, yang belum lama ini dibuka di pojok lapangan Monas. Tempat aku pernah bertemu dengan gadis yang merupakan penjaga daerah ini.
“Iya. Kebetulan sekali ya,” ujarku sambil menghampiri nenek itu. “Nenek sehat-sehat saja?”
Nenek itu mengangguk.
“Iya, nak. Terima kasih atas bantuannya waktu itu ya,” ujarnya sambil tersenyum. “Kamu sendiri bagaimana nak?”
“Aku baik-baik saja,” balasku. “Aku ...”
“Ya~ho~!”
Ucapanku terputus karena seorang gadis bermata hijau terang tiba-tiba saja melompat turun dari atas pohon, kemudian menepuk kepalaku. Dia lalu nyengir lebar ke arahku yang nyaris melompat mundur karena kaget.
Ya. Tidak salah lagi, dia si gadis pohon. 
Kadang-kadang dia memang muncul waktu aku berkunjung ke taman ini, dan setiap kali dia muncul, pasti dia nyaris membuatku kena serangan jantung. Kurasa dia menikmati reaksi terkejutku setiap kali dia muncul secara tiba-tiba.
Seperti sekarang ini misalnya.
“Hei! Itu tadi tidak sopan!” Aku berseru protes pada gadis itu. “Kenapa sih kau tidak bisa muncul dengan cara biasa?”
“Ah, tapi itu kan membosankan,” balas gadis pohon itu, masih sambil tersenyum lebar. Tiba-tiba matanya terpaku ke arah si nenek buta, yang kini mendongak ke arahnya. “Itu siapa?”
“Dia itu ...”
“Tidak usah dipikirkan. Nenek ini bukan siapa-siapa kok,” ujar sang nenek, seolah dia bisa mendengar ucapan si gadis pohon. “Tapi tidak setiap hari ya, nenek bisa bertemu dengan penjaga hutan seperti mu. Ini pasti hari baik buat nenek.”
Aku, dan si gadis pohon, langsung melongo. Tidak kusangka kalau nenek ini bisa mendengar suara si gadis pohon. Padahal setahuku, gadis ini benar-benar tidak kasat mata bagi orang lain. Jangankan melihat, aku yakin hampir tidak ada orang yang bisa mendengar suaranya. Yah ... hampir ... soalnya kadang ada yang bisa melihat atau mendengar suara si gadis pohon. Tapi biasanya sih anak kecil. Itu juga kalau mereka tidak langsung lari ketakutan. Entah apa yang dilihat oleh anak-anak itu, tapi aku punya firasat, beberapa dari mereka bisa melihat sosok asli si gadis pohon, yang kuduga ... tidak semanis ini.
“Kok tahu aku penjaga hutan?” Si gadis pohon bertanya pada nenek buta itu dengan nada bingung. “Kamu ini sebenarnya siapa sih?”
Alih-alih menjawab, si nenek hanya tersenyum.
“Bukan siapa-siapa,” ujarnya sambil berdiri dengan perlahan-lahan. “Nah, kalian lanjutkan saja percakapannya, nenek sudah harus pulang sekarang.”
“Ah, perlu kuantar?”
Sama seperti waktu itu, aku menawarkan bantuan pada si nenek, dan sama seperti waktu itu, dia juga menolaknya.
“Tidak perlu, nak,” tolak si nenek dengan halus. “Nenek tahu jalan pulang kok. Nah, sampai bertemu lagi. Titip salam untuk dua peliharaanmu. Jaga mereka baik-baik, ya.”
Untuk kesekian kalinya, aku tertegun mendengar ucapan nenek misterius itu. Aku sama sekali tidak pernah menceritakan padanya kalau aku punya hewan peliharaan. Tapi entah bagaimana, nenek itu tahu soal itu begitu saja. Seolah-olah dia bisa membaca pikiranku.
Atau memang begitu? 
“Hoi!” Si gadis pohon tiba-tiba menepuk pundakku. “Dia itu siapa sih? Kok seperti orang serba tahu begitu?”
Aku menoleh ke arah si gadis pohon.
“Entahlah. Aku hanya pernah ketemu dia sekali,” jawabku. “Tapi firasatku bilang dia itu bukan manusia.”
“Ah, enggak. Dia itu manusia kok,” timpal si gadis pohon.
“Serius?” tanyaku kaget.
Si gadis pohon mengangguk yakin.
“Serius,” sahutnya dengan nada mantap. “Soalnya kalau dia bukan manusia, aku pasti tahu.”
Aku menatap wajah gadis itu dengan tatapan ragu.
“Kenapa begitu?” tanyaku lagi.
Si gadis pohon mengangkat bahu, kemudian nyengir lebar.
“Soalnya aku kan bukan manusia juga~!”  

****

Kali ini aku yakin ini bukan cuma kebetulan.
Bisa dibilang ini takdir atau semacamnya, karena untuk ketiga kalinya, aku bertemu lagi dengan si nenek buta itu.
Kali ini aku bertemu dengannya selagi aku berjalan menyusuri pasar Tanah Abang untuk mengambil beberapa paket pakaian yang harus kukirimkan. Harusnya sih ini tugas Irvan yang biasanya bertugas mengantar paket-paket besar, tapi hari ini dia sedang flu dan tidak ada yang bisa menggantikan tugasnya. Berhubung aku hari ini sedang tidak ada kerjaan, jadilah aku yang dikirim untuk menggantikan tugas Irvan.
“Oh, kita ketemu lagi, nak. Kebetulan sekali ya.”
Seperti waktu itu, sang nenek langsung tahu kalau yang datang menghampirinya adalah diriku, bukan orang lain. Aku masih bertanya-tanya bagaimana dia bisa melakukan itu. Tapi kupikir itu karena orang yang kehilangan penglihatannya biasanya punya pendengaran yang tajam sebagai gantinya. Mungkin dia mengenaliku dari suaraku. Itu sebenarnya sih masuk akal, tapi kalau aku mengingat-ingat rincian pertemuan kami yang terakhir kali, firasatku bilang kalau dugaanku itu salah.
“Iya, kebetulan sekali,” ujarku. “Aku tidak menyangka bisa bertemu nenek lagi.”
Kebetulan?
Kurasa sih tidak?
Ada yang jelas-jelas aneh dengan nenek ini. Tapi tentu saja aku tidak akan mengatakan itu padanya. Aku tidak mau menyinggung perasaan orang tua ini.
“Nenek sendiri, sedang apa di sini?” tanyaku sambil berjalan di samping nenek itu. “Apa nenek sendiri saja jalan ke sini?”
“Ah, nenek tidak sendirian. Ada cucu nenek yang mengantar ke sini, tapi dia sedang pergi membeli makan siang,” ujar si nenek sambil tersenyum. “Cucu nenek itu agak mirip denganmu, nak. Dia juga orang baik, cuma dia tidak bisa melihat seperti mu.”
Aku menatap ke arah nenek itu cukup lama.
“Eeh ... maaf kalau aku kurang sopan ... apa cucu nenek juga buta?” tanyaku.
Anehnya si nenek justru tertawa mendengar pertanyaanku.
“Tidak, nak. Dia tidak seperti nenek,” ujarnya dengan nada geli. “Dia bisa melihat seperti orang biasa kok. Cuma tidak seperti mu, dia tidak bisa ‘melihat’ yang lain-lainnya. Pastinya susah ya nak, bisa lihat yang seperti itu.”
Seketika itu juga aku memahami arti perkataan nenek itu.
Yang dimaksud mungkin adalah ... yah ... sedikit kelebihan aneh yang kumiliki. Entah sejak kapan, aku tidak begitu ingat. Tapi kadang-kadang aku bisa menyaksikan sisi lain dari kota ini, bertemu penghuni kota yang tersembunyi, dan bahkan ... terlibat dalam berbagai fenomena aneh yang melibatkan sisi ganjil dari kota metropolitan ini.
Kalau dipikir-pikir, sepertinya nenek ini salah satu dari fenomena aneh itu.
Walau waktu itu gadis pohon bilang nenek ini manusia biasa, jelas sudah ada yang tidak biasa dari diri orang tua ini. Karena sudah tidak bisa menahan rasa penasaranku lagi, aku akhirnya mengutarakan pertanyaan yang muncul sejak pertama kali aku bertemu dengan nenek misterius ini.
“Kok nenek bisa tahu soal itu?” tanyaku penasaran. “Nenek ini siapa sih? Sejak pertama kali bertemu waktu itu, nenek seperti tahu segala hal soal diriku. Kok bisa begitu?”
Kali ini nenek itu mendongak ke arahku, kemudian tersenyum tipis.
“Menurutmu, nak, nenek ini siapa?”
Dia malah balik bertanya padaku, dan itu membuatku semakin kebingungan.
“Jujur saja, nak. Nenek tidak akan marah kok,” ujar si nenek lagi. Sepertinya dia tahu kalau aku bingung, sekaligus enggan menjawab pertanyaannya.
“Eeh ... nenek itu ... yah ... orang tua tuna-netra yang aneh,” ujarku jujur. “Maaf.”
Nenek itu tiba-tiba tertawa geli.
“Tidak perlu minta maaf. Itu memang benar,” ujarnya sambil tersenyum. Dia lalu menyentuh mata kirinya dengan sebelah tangan. “Mata nenek memang tidak bisa melihat hal-hal seperti yang dilihat olehmu, nak, atau oleh cucu nenek. Tapi ...”
Nenek itu terdiam sejenak, kemudian menunjuk ke arah samping kanannya.
“Nak, apa yang kau lihat?” tanyanya.
Aku mengikuti arah yang dia tunjuk dan melihat seorang penjaga toko pakaian yang sedang duduk termenung dengan wajah bosan. Pria paruh baya itu tampak mengantuk, karena beberapa kali dia menguap sambil sesekali melirik ke arah layar ponsel yang diletakkan di atas meja.
“Penjaga toko yang sedang bosan,” jawabku jujur. “Memangnya kenapa, nek?”
Sang nenek kembali tersenyum ke arahku.
“Yang nenek lihat bukan itu,” ujarnya. “Nenek melihat seorang bapak dengan tiga orang anak yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya. Istrinya bekerja sebagai TKI di luar negeri dan hanya pulang setahun sekali. Anak pertamanya sebentar lagi akan membutuhkan banyak uang untuk masuk universitas, tapi dia dan istrinya tidak sanggup membiayai kuliahnya. Anak keduanya sekolah di asrama dan sering terlibat masalah. Anak ketiganya masih kecil, saat ini tinggal bersama keluarganya di Salatiga.”
Aku hanya diam termangu mendengar penuturan nenek itu. Entah bagaimana caranya, si nenek itu seperti bisa menjabarkan kondisi kehidupan si penjaga toko yang dia ‘lihat’ itu. Sebagai ganti penglihatan normalnya yang tidak berfungsi, nenek itu seperinya dianugerahi dengan ‘penglihatan’ lainnya. Penglihatan yang jauh lebih dalam dan lebih tajam daripada penglihatannya yang telah hilang itu.
“Itu ...”
Aku terdiam sejenak.
“Jadi itu yang nenek ‘lihat’ waktu nenek ‘melihatku’?” Aku bertanya lagi pada si nenek yang kini ‘menatapku’ dengan ekspresi lembutnya. “Jadi nenek tidak melihat orang seperti yang orang pada umumnya, tapi nenek melihat kehidupannya?”
“Kurang lebih begitu, nak,” ujarnya, masih sambil tersenyum ke arahku. “Penglihatan nenek ini diambil sudah lama sekali. Tapi nenek tidak pernah menyesali itu. Nenek jadi bisa melihat dunia dari sisi lainnya, nak. Bagi nenek, itu sudah lebih dari cukup.”
Wajah nenek itu kemudian kembali berpaling padaku.
“Tapi kadang-kadang nenek merasa kalau penglihatan nenek yang sekarang ini terlalu berat, nak,” ujarnya dengan nada sendu. “Nenek jadi merasa tahu terlalu banyak. Nenek jadi melihat terlalu banyak. Tapi apa boleh buat, ini karunia yang diberikan pada nenek, jadi mau tidak mau harus disyukuri.”
Aku memandangi wajah keriput orang tua di hadapanku dengan tatapan takjub. Sulit dibayangkan seperti apa rasanya bisa melihat detail kehidupan orang lain setiap kali bertemu dengan orang.
Kalau yang punya penglihatan ajaib itu aku, pastinya aku sudah jadi gila sekarang.
“Nak,” ujar si nenek lagi, dia lalu mengulurkan tangannya ke arah wajahku. Aku mengerti dia ingin menyentuh wajahku, jadi aku menunduk dan membiarkan tangannya yang penuh keriput merabaku. “Manusia itu terhubung dengan banyak hal di dunia ini. Baik yang dia sadari atau yang tidak dia sadari. Kamu pun demikian, nak.”
Aku hanya terdiam mendengarkan ucapan nenek itu.
“Kamu bisa melihat lebih banyak hal dari orang lain, dan nenek tahu kadang itu membuatmu tidak nyaman, bingung, atau takut. Tapi kamu tidak usah khawatir, pada waktunya, kamu akan menyadari semua itu begitu berharga,” ujar nenek tua itu sambil menyentuh dahiku dengan jemarinya. “Semua manusia di dunia ini istimewa, nak. Tidak ada yang lebih istimewa dari yang lainnya. Semua pertemuan itu spesial. Tidak ada yang sia-sia. Tidak peduli sesingkat apapun pertemuan itu, kamu akan terhubung dengan yang lainnya. Suka atau tidak suka, begitulah dunia ini bekerja.”
Selagi nenek itu bicara, entah kenapa aku merasakan aliran hangat merasuk dalam dadaku. Seketika itu juga aku merasa nyaman dan suara si nenek perlahan-lahan mulai bergema, seolah-olah dia sedang bicara dalam ruangan kosong. Meskipun bergema, dan kadang terdengar gemetar, tapi suara si nenek begitu jernih dalam benakku. Seluruh kesadaranku bagaikan diselimuti oleh suaranya yang merasuk ke berbagai sudut pikiranku.
Aku memandangi wajah keriput sang nenek dengan takjub. Wajahnya terlihat begitu damai meskipun dia dibebani oleh kemampuan penglihatan ajaibnya. Senyuman tipis di bibir nenek itu seolah menunjukkan tingkat kebijaksanaan dan pengalaman hidupnya.
Dia sudah hidup begitu lama.
Dia sudah melihat begitu banyak hal.
Dia sudah belajar begitu banyak sepanjang hidupnya.
“Kamu akan melihat lebih banyak hal dari pada nenek. Kamu juga akan belajar lebih banyak hal daripada nenek. Tidak peduli sependek apapun usiamu, kamu akan menjalani hidup dengan penuh makna, nak.”
Si nenek kembali bicara, masih sambil tersenyum ke arahku. Tapi kali ini ... nenek tua itu membuka kedua matanya dan memperlihatkan bola mata yang sepenuhnya berwarna hitam, namun dipenuhi titik-titik bercahaya. Seolah-olah kedua matanya itu adalah langit malam yang cerah dan bertaburan bintang. Tapi di sisi lain, kegelapan di matanya itu terasa begitu dalam, begitu tanpa batas, sehingga seolah-olah diriku ikut tersedot masuk ke dalamnya.
Jatuh!
Jatuh!
Jatuh!
Jatuh!
Jatuh!
Aku jatuh dalam kehampaan tanpa batas!
Tanpa sadar aku melompat mundur menjauhi nenek itu. Keringat dingin mengucur deras, sementara tubuhku mendadak gemetar tanpa sebab yang jelas. Jantungku berdebar kencang, seolah-olah aku baru saja melakukan olahraga berat. Nafasku juga memburu tidak karuan. 
“Nah, sudah saatnya nenek kembali ke cucu nenek. Soalnya kalau nenek kelamaan di sini, nanti dia jadi khawatir”
Aku mengedipkan mata beberapa kali, selagi nenek itu bicara. Aku lalu menyadari kalau kedua mata nenek misterius itu sudah kembali tertutup. Melihat itu, aku jadi bertanya-tanya apakah yang kulihat barusan itu hanya ilusi semata.
“Sebenarnya nenek itu siapa?”
Untuk kesekian kalinya, aku menanyakan pertanyaan itu, dan untuk kesekian kalinya pula, sang nenek menolak menjawabnya.
“Nenek ini bukan siapa-siapa, nak. Hanya orang tua buta yang bisa melihat,” balasnya sambil tersenyum. Tapi kali ini, aku bisa melihat nada kesedihan di balik senyumannya. “Ini terakhir kalinya kita bertemu, nak. Kuharap kamu tidak akan melupakan nenek, soalnya nenek juga tidak akan pernah melupakanmu, nak.”
Aku hanya terpaku di tempat menyaksikan nenek tua itu berjalan tertatih-tatih sambil meraba-raba dengan tongkatnya. Tidak lama kemudian, sosok nenek itu pun hilang dari pandangan setelah dia berbelok ke lorong pertokoan di depan sana.
Seolah baru saja terbebas dari sihir, aku akhirnya menarik nafas lega. Tapi ingatan akan kedua mata nenek itu yang berwarna hitam pekat dan bertabur bintang-bintang, masih belum bisa hilang dari benakku.
Dan itu membuatku merinding lagi.
“Aneh sekali nenek itu ...” ujarku sambil menelan ludah.

****

Seperti yang dikatakan sang nenek ketika pada perjumpaan terakhir kami, pertemuan kami waktu itu adalah yang terakhir kalinya bagi kami berdua.
Kenapa begitu?
Sebab sehari setelah pertemuan itu, sang nenek meninggal dunia dalam tidurnya.
Dia ditemukan pagi harinya dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Menurut visum dokter, nenek itu meninggal selagi tidur. Tidak ada raut wajah kesakitan pada nenek itu, justru wajahnya penuh kedamaian. Seolah-olah dia baru saja menyambut teman lama yang sudah lama tidak dia jumpai. Dari berita yang kudengar, dia terlihat meninggal dalam damai dan tanpa rasa sakit.
Kalau ada yang bertanya kenapa aku tahu semua ini, itu karena cucu nenek itu yang menghubungiku. Jelas aku tidak pernah memberitahukan nama dan nomor ponsel ku padanya, atau pada si nenek. Tapi aku tahu kalau nenek itu pastilah yang memberikan keterangan itu pada cucunya. Kalau dia bisa ‘melihat’ seluk beluk kehidupanku dengan mudah, pastinya tidak sulit bagi nenek itu untuk sekedar tahu nama dan nomor teleponku.
Pokoknya begitu aku mendengar berita itu, aku langsung meninggalkan pekerjaanku dan menghadiri pemakamannya. Untung saja waktu itu aku sedang mengantar paket tidak jauh dari alamat taman pemakaman tempat nenek itu akan dikuburkan. Dengan cepat, aku berhasil sampai di pemakaman itu, tepat sebelum acara pemakamannya dimulai.
Karena aku tidak mengenal siapa pun, aku hanya diam dan memperhatikan seluruh prosesi pemakaman itu sampai selesai. Nyaris tidak ada isak tangis terdengar selama proses pemakaman dilangsungkan, meskipun begitu, wajah semua orang yang hadir jelas terlihat begitu kehilangan. Wajar saja, aku yakin nenek itu pastinya sangat dicintai oleh semua anggota keluarganya. Tidak seorang pun yang hadir di tempat itu yang tidak meneteskan air mata, atau terlihat mengalami kesedihan yang mendalam.
Ketika menyaksikan itu, aku sedikit bertanya-tanya, apakah nanti saat usiaku berakhir, orang-orang yang hadir di pemakamanku akan terlihat sesedih ini?
Proses pemakaman berjalan lancar, dan terasa begitu khusyuk. Tidak terasa seluruh rangkaian acara pemakaman telah selesai dilakukan. Kini saatnya mereka yang masih hidup dan bernafas untuk meninggalkan tanah orang mati ini.
Aku pun demikian, tapi tepat sebelum aku melangkah pergi, seorang pemuda berpeci, yang kurang lebih seumuran denganku, tiba-tiba datang menghampiri. Sekilas aku melihat ada sedikit kemiripan wajah antara pemuda ini dengan si nenek yang baru saja dimakamkan. Jadi aku menduga, ini adalah cucunya. Mungkin cucu yang waktu itu mengantar si nenek waktu terakhir kali aku bertemu dengannya.
“Maaf mengganggu, mas. Tapi apa mas ini kurir barang?” Dia lalu mengucapkan nama lengkapku. “Apa benar?”
Aku mengangguk.
“Benar,” ujarku, dan ekspresi wajah pemuda itu langsung terlihat cerah.
“Ah. Sudah kuduga,” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Saya cucunya, mas. Eyang bercerita tentang kurir barang yang bisa melihat makhluk halus, dan ciri-ciri mas persis seperti yang pernah dijabarkan eyang.”
“Oh,” balasku singkat. Jujur saja, aku tidak tahu harus bilang apa pada pemuda ini. “Lalu, ada perlu apa ya?”
“Mas pasti tahu kalau eyang ini ... bukan orang biasa,” ujar pemuda berpeci itu. “Benar kan?”
Aku pun mengangguk.
“Kalau begitu, mas pasti tahu kalau beliau bisa ‘melihat’ hal-hal gaib juga, seperti mas,” ujarnya lagi. “Benar kan?”
Kali ini aku mengangkat bahu.
“Kurang lebih begitu,” jawabku lagi. “Memangnya kenapa dengan itu?”
Tanpa menjawab pertanyaanku, pemuda berpeci di hadapanku itu mengeluarkan sepucuk surat dengan amplop berwarna cokelat tua. Dia lalu mengulurkan amplop itu kepadaku, yang langsung menampakkan ekspresi bingung.
“Ini apa?” tanyaku.
“Sejujurnya saya juga tidak tahu, mas. Pokoknya kemarin malam, sebelum  eyang ... meninggal ... eyang menitipkan ini pada saya,” ujarnya dengan nada suara agak bergetar. “Katanya ‘Sampaikan surat ini pada kurir barang yang datang ke pemakamanku besok. Bilang padanya untuk membuka segel surat ini hanya pada saat yang tepat. Ingat, hanya pada saat yang tepat saja! Sebelum waktunya tiba, jangan dibuka. Selain itu, sampaikan permintaan maafku padanya, karena tidak bisa banyak membantunya nanti.’”
Sejenak pemuda berpeci itu diam dan menarik nafas panjang. Aku tahu dia sedang berusaha mengendalikan emosinya, karena tadi semakin lama dia bicara, suaranya semakin bergetar karena sedih.
“Itu yang eyang katakan, tepat sebelum beliau pergi tidur semalam. Aku hanya ...” Sejenak pemuda itu terdiam lagi, seolah-olah dia kesulitan melanjutkan perkataannya. “ ... aku hanya menyampaikan pesan terakhirnya saja.”
Aku tertegun mendengar ucapan pemuda di hadapanku itu. Kali ini aku benar-benar kehabisan kata-kata dan hanya bisa menerima surat yang diberikan olehnya. Sejenak aku mengamati surat dengan amplop cokelat itu. Tidak ada tulisan apapun di amplop itu, tapi yang unik adalah segel lilin bercap seekor merak yang menyegel surat itu. Aku tidak tahu simbol ini bermakna apa dan entah kenapa aku juga enggan menanyakan soal itu pada pemuda yang berdiri di hadapanku ini.
“Tugas saya sudah selesai, mas. Sekarang saya mohon pamit.” Pemuda berpeci itu bicara sambil mengusap air mata yang tadi mulai berkumpul di sudut matanya.
Aku hanya bisa mengangguk. Aku benar-benar bingung harus berkata apa, tapi akhirnya aku hanya mengucapkan satu hal.
“Terima kasih,” ujarku.
“Tidak perlu berterima kasih, mas. Saya hanya menyampaikan pesan beliau saja,” ujar sang cucu sambil tersenyum. Dia lalu melangkah pergi meninggalkanku yang masih berdiri terpaku sembari menimang-nimang surat di tanganku.
“Ah! Saya hampir lupa!”
Tiba-tiba pemuda berpeci yang tadi berbalik dan menatap lurus ke arahku. Sebenarnya aku tidak akan terlalu memperhatikan wajah pemuda itu ... kalau saja kedua matanya tidak tiba-tiba berubah menjadi hitam kelam dan bertabur bintang berkilau.
Mata yang sama seperti mata neneknya yang baru saja dimakamkan tadi.
“Hati-hati dengan kuda hitam!” serunya sambil tersenyum tipis.
“Hah?!”
Aku tadinya ingin bertanya lebih lanjut apa maksudnya, tapi pemuda itu keburu dikerubungi oleh anggota keluarganya yang lain. Melihat itu, aku tahu tidak pantas aku seenaknya menyela dan menanyakan hal yang tidak-tidak di saat semua orang sedang berkabung.
Meskipun masih penuh dengan tanda tanya, aku berjalan meninggalkan areal pemakaman dan bergegas naik ke atas motorku lagi. Nyaris tanpa berpikir lagi, aku menyalakan mesin dan suara derum yang begitu akrab itu langsung memenuhi telingaku.
Namun selama beberapa saat aku memandangi partner tuaku yang kebetulan berwarna dasar hitam kusam itu. Gara-gara ucapan yang kudengar barusan, mau tidak mau aku jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri.
“Yang dia maksud dengan kuda hitam itu bukan kamu kan?”
Aku bertanya pada motorku sambil mengelus panel kemudinya dengan lembut. Seolah ingin protes dengan pertanyaanku, suara deruman mesinnya mendadak meninggi selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali normal.
Mendengar suara itu, tiba-tiba aku ingin tertawa.
Aku pun melakukannya sembari melaju kembali ke jalanan kota Jakarta.

****

End of 8th Spiral

Move on to the next story

No comments: