Saturday, September 9, 2017

Everyday Adventure XIV: Para Petarung



Ryouta memutar tubuh dan dengan cepat menghindari pukulan sebuah robot beruang raksasa yang meluncur deras ke arahnya. Telat sedikit saja, tinju baja sebesar wajan penggorengan akan menghantam kepalanya. Dengan kelincahan yang tidak terlihat dari tubuhnya yang besar dan berat, Ryouta beberapa kali menghindari pukulan lawannya sembari mencari celah untuk menyerang balik.
Pengalamannya sebagai Guardia yang bertempur pada Perang Bulan Kedua ratusan tahun lalu membuat Ryouta dengan mudah membaca dan memperkirakan gerakan lawan. Dengan satu gerakan cepat, Ryouta menghindari satu lagi serangan dan kali ini membalas dengan sebuah pukulan keras. Suara dentang nyaring bergema ketika tubuh robot beruang yang melawannya itu jungkir balik dan menghantam lantai beton dengan keras.
“OUT~!”
Ryouta mendengar seruan keras dan melangkah mundur menjauhi lawannya. Sementara itu, sebuah robot berkaki empat buru-buru menghampiri lawan Ryouta dan membantunya berdiri. Sejenak robot beruang itu tampak goyah, tapi tidak lama kemudian dia berhasil berdiri tegak dan memegangi kepalanya. Meskipun baru saja dihajar dengan kekuatan setara hantaman sebuah truk, tapi ekspresi di wajah robot besar itu justru terlihat gembira.
“Hyaah~~! Yang tadi itu luar biasa!” seru robot beruang itu dengan suara cempreng, yang benar-benar tidak sesuai dengan perawakannya yang besar dan menakutkan. “Memang bekas prajurit era Perang Bulan itu beda ya.”
“Jangan merendah, Borodino, kau sendiri juga dulunya robot perang,” balas Ryouta sambil mengulurkan tangannya.
Borodino nyengir lebar dan memperlihatkan taring-taring logam di mulutnya. Robot beruang itu menjabat erat tangan Ryouta, kemudian menepuk pundak android bermata satu itu.
“Yah, tapi tidak sebanding dengan robot yang bisa menghadapi Machina sepertimu deh,” ujar Borodino dengan ramah. “Terima kasih atas bantuannya hari ini.”
Ryouta melangkah mundur, kemudian membungkuk sekilas untuk memberi hormat.
“Sama-sama,” ujarnya. Dia lalu berbalik dan memandangi robot-robot lain yang sedari tadi sudah berkumpul di ruangan yang sama dengannya. “Ayo. Siapa lagi?”
Tentu saja tidak ada yang cukup berani untuk menjawab tantangannya. Kalau robot prajurit seperti Borodino saja bisa dijatuhkan dengan mudah, apalagi robot lain yang memang tidak didesain untuk bertarung. Sementara itu, mereka yang dulunya juga prajurit dengan terang-terangan menolak tantangan Ryouta.
Apa boleh buat, gumam Ryouta dalam hati.
Sambil menghela nafas, Ryouta melangkah mundur dari arena tanding yang berbentuk lingkaran. Saat ini dia dan beberapa bekas robot perang yang tinggal di kota Bravaga sedang mengadakan latihan bela diri di sebuah sasana latih tanding kuno. Memang janggal, mengingat mesin tidak membutuhkan latihan rutin seperti itu. Tapi bagi sebagian robot yang dulu pernah merasakan kejamnya medan perang, ada satu hal yang mereka sepakati bersama:
‘Tubuh yang tidak pernah dilatih akan jadi karatan dan tidak berguna.’
Itulah alasan mereka berkumpul dan berlatih tanding seperti ini. Meskipun sudah tidak ada lagi alasan bagi para bekas prajurit itu untuk menggunakan kemampuan mereka di kota Bravaga, tapi di luar sana, ada banyak bahaya yang mengintai. Robot liar serta mutan buas berkeliaran dengan bebas dan siap menerkam robot manapun yang sedang tidak waspada. Bagi Ryouta, dia punya alasan yang lebih penting dari sekedar menjaga kemampuannya. 

Maria.
Gynoid itu kelewat sering terlibat dalam kejadian berbahaya, yang sebagian besar diakibatkan oleh ulah usilnya sendiri. Ryouta sudah malas menghitung berapa kali dia harus menyelamatkan Maria dari kejaran mutan buas, atau robot liar. Dan berhubung saat ini Ryouta sudah tidak lagi memiliki tubuh Guardia yang dilengkapi berbagai macam senjata, dia harus bergantung pada kemampuan tubuhnya saat ini untuk melindungi Maria.
“RYOUTA~~!”
Mendadak Ryouta mendengar suara yang kelewat akrab baginya. Namun begitu dia berbalik, tahu-tahu saja ada telapak kaki mungil yang mendarat telak di wajahnya. Karena tidak siap menghadapi serangan kejutan itu, Ryouta tidak bisa menghindar atau bertahan. Akibatnya robot besar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang di atas lantai. Suara dentuman berat bergema di dalam ruangan seiring dengan mendaratnya tubuh besar Ryouta di lantai beton.
“OUT~!”
Kali ini yang berseru nyaring adalah Borodino. Robot beruang itu terlihat susah payah menyembunyikan ekspresi gelinya melihat Maria masih berdiri di atas wajah Ryouta dengan wajah polos. Dan dia tidak sendiri, beberapa robot lainnya juga terlihat menahan tawanya menyaksikan kejadian barusan.
Awalnya Maria kebingungan, tapi begitu menyadari apa yang baru saja terjadi, dia buru-buru melompat minggir dan langsung salah tingkah. Apalagi ketika melihat Ryouta menegakkan tubuh sambil menatap tajam ke arahnya.
“Eh? Maaf?” ujar Maria sambil menggaruk belakang lehernya. “Hehe ...”
Ryouta mendengus kesal dan berdiri tegak.
“Ada apa sekarang?” ujarnya pada Maria.
“Kalian sedang apa sih?” Maria balas bertanya pada Ryouta sambil memandangi sekumpulan robot yang berkumpul di dalam ruangan. Satu persatu melambaikan tangan ke arah Maria, yang dibalas dengan lambaian penuh semangat dari gadis robot itu. Selesai menyampaikan salam, dia lalu menoleh ke arah Borodino yang berjalan menghampirinya.
“Dan pemenangnya adalah Maria~!” Borodino tiba-tiba saja meraih sebelah tangan Maria dan mengangkat tangan gynoid itu tinggi-tinggi di udara. “Hore~!”
“HORE~!” Hampir semua robot dalam ruangan itu berseru nyaring.
“Hore?” Maria ikut berseru, meskipun dia masih kebingungan. “Eh, sebenarnya ada apa sih ini?”
“Kami sedang latih tanding. Dan dari tadi enggak ada satu pun dari kami yang bisa menjatuhkan Ryouta.” Borodino menjelaskan dengan nada geli. Dia lalu nyengir lebar ke arah Maria. “Sampai kamu datang.”
Menyadari dirinya baru saja mengalahkan Ryouta dalam sebuah latihan bela diri, kedua mata Maria langsung berbinar-binar. Dia lalu menoleh ke arah Ryouta yang sedang berdiri tegak sambil membersihkan pakaiannya dari debu yang menempel.
“Benarkah itu?” seru Maria penuh semangat.
“Cuma kebetulan,” balas Ryouta masam. “Kalau aku tidak lengah tadi, tidak mungkin robot seperti Maria bisa menjatuhkanku.”
“Sayangnya kau lengah, dan itu berbahaya loh.”
Arslan tiba-tiba saja melangkah masuk ke dalam ruangan sambil berkacak pinggang. Robot penerbang yang merupakan perwakilan dari kelompok Pengembara itu terlihat anggun seperti biasanya. Tubuhnya yang ramping dan sayap elangnya membuat sosok Arslan tampak menonjol dibandingkan sebagian besar para Pengembara yang memiliki sayap bermesin jet. Anehnya, begitu Arslan melangkah masuk, beberapa robot yang berkumpul dalam ruangan seolah-olah mengerut karena ketakutan.
Maria tidak begitu mengerti kenapa beberapa robot di ruangan itu bersikap aneh. Padahal kan tidak ada yang perlu ditakuti dari Arslan.
“Arslan~!” Maria berseru ke arah Arslan dan berjalan menghampirinya.
“Yo!” sapa Arslan singkat. Dia lalu memandang berkeliling dan memperhatikan satu persatu robot petarung yang ada di dalam ruangan luas itu. Beberapa robot yang tidak sengaja beradu mata dengannya buru-buru mengalihkan pandangannya. “Banyak juga kali ini.”
“Begitulah. Makin banyak yang merasa kalau tubuh mereka mulai kaku dan karatan,” balas Borodino sambil menepuk perutnya, yang tentu saja terbuat dari logam tebal. “Ada beberapa anak generasi baru juga yang penasaran, jadi sekalian saja kuajak ke sini.”
Arslan menoleh ke arah kerumunan di sekitarnya dan mendapati beberapa robot generasi baru seperti Maria yang berdiri di sana. Seperti halnya Maria, mereka juga terlihat antusias menyaksikan pertarungan antar robot yang baru saja terjadi. Beberapa dari mereka malah baru saja terlibat dalam acara latih tanding yang sedang berlangsung ini.
“Ah, bagaimana kalau kau dan Ryouta bertanding? Pasti akan jadi contoh yang bagus buat anak-anak baru ini.” Borodino tiba-tiba saja merangkul pundak Arslan, sembari menatap ke arah Ryouta dan Maria yang berdiri berdampingan.
Entah kenapa, usulannya langsung membuat beberapa robot yang berada dalam ruangan itu menahan nafas, atau berseru tertahan. Jelas mereka tidak setuju dengan usulan Borodino barusan, namun tidak cukup berani untuk mengutarakan ketidaksetujuan mereka.
“Bagaimana menurutmu, Ryouta?” Borodino bertanya sambil menunjuk ke arah Ryouta dengan tangannya yang bercakar tajam. “Kau berani?”
Suara dentang nyaring membuat Maria terlonjak kaget. Ternyata Ryouta baru saja mengadu kedua tinjunya yang besar dan kokoh.
“Boleh saja!” sahut Ryouta dengan suara nyaring. Dia pun bergerak maju dengan langkah tegap dan penuh keyakinan.
“Ayo sini.” Arslan membalas ucapan Ryouta dan ikut melangkah maju.
Kini kedua robot yang berasal dari era sebelum Catastrophy itu berdiri berhadap-hadapan. Maria berani sumpah kalau dia melihat udara di sekitar Ryouta dan Arslan seolah bergelombang karena panas. Di saat yang sama, Maria juga seperti mendengar suara dengung samar yang muncul entah dari mana asalnya.
Kok perasaanku jadi tidak enak ya?
Maria bertanya-tanya dalam hati. Soalnya ini pertama kalinya dia melihat tatapan mata Ryouta yang benar-benar dipenuhi api semangat. Padahal biasanya mata bulat besar itu lebih sering terlihat muram dan terkadang seperti melihat dunia dengan cara yang sangat berbeda dengan robot lain pada umumnya. Di sisi lain, kobaran api semangat yang sama-sama membara juga terlihat di balik mata-mata Arslan yang kecil, namun sangat tajam.
Sikap keduanya itu membuat Maria sedikit takut.
“Oh. Ini akan sangat menarik sekali.” Maria mendengar Borodino berkomentar sambil melangkah mundur dari Ryouta dan Arslan. Robot mirip beruang itu lalu mengangkat sebelah tangannya. “Perhatian, ini adalah latih tanding. Siapa yang berhasil menjatuhkan lawannya ke lantai, dialah pemenangnya! Seperti biasanya, tidak boleh ada senjata energi, pisau progresif, EMP, proyektil, atau peledak. Bertandinglah dengan adil dan jujur!”
Bersamaan dengan seruan Borodino, tiba-tiba saja kerumunan robot yang berada di sekitar Ryouta dan Arslan langsung menjauh sejauh-jauhnya. Beberapa dari mereka bahkan terlihat ingin sekali kabur dari ruangan latih tanding ini, tapi tidak bisa karena posisi mereka terjepit dengan robot lainnya.
“Siap?” seru Borodino sambil memandang ke arah Ryouta dan Arslan bergantian. Dia lalu mengayunkan tangannya dan berseru keras. “MULAI!”
Hal terakhir yang bisa Maria ingat adalah suara dentuman dahsyat, diiringi dengan gelombang kejut yang menerbangkan tubuh rampingnya.
Setelah itu semuanya gelap.

****

Ketika membuka matanya lagi, yang pertama kali Maria lihat adalah wajah besar bermata satu, yang tidak lain adalah Ryouta.
“Kau sudah sadar?” Android kekar itu bertanya pada Maria dengan suara lembut.
“Apa yang terjadi?” tanya Maria kebingungan. “Di mana ini?”
Dia lalu memandang berkeliling dan menyadari dirinya berada di dalam ruang perawatan ringan di Central Tower. Ruangan itu biasanya digunakan untuk memperbaiki kerusakan ringan, atau sekedar perawatan rutin bagi para robot yang tinggal di kota Bravaga. Maria lalu menyadari kalau ruangan itu kini penuh dengan setidaknya selusin robot yang juga tidak sadarkan diri.
“Ada apa ini?” tanya Maria kebingungan sambil menegakkan tubuh, kemudian menoleh ke arah Ryouta. “AAH! RYOUTA?!”
Maria menjerit kaget melihat tubuh Ryouta yang tampak mengenaskan. Tangan kiri android besar itu hilang dan hanya menyisakan rangka dalam di pangkal pundak. Jaket hijau lengan buntung favoritnya sudah berubah jadi kain rombeng, sementara beberapa pelat pelapis tubuhnya sudah hilang dan menampakkan rangka pelindung dalam yang terbuat dari carbotech-titanium. Selain itu, ada bekas penyok dan goresan di sekujur tubuh Ryouta.
Sekilas pandang, Ryouta seperti baru saja dihajar habis-habisan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat dari mantan Guardia itu.
“Ke ... kenapa tubuhmu bisa begitu?!” Maria berseru ngeri sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. “Apa yang terjadi?”
“Yah ... “
“Kami kelepasan.”
Tiba-tiba Arslan menyahut dari belakang Ryouta.
“AH!?”
Maria berseru tertahan melihat sosok Arslan yang berbaring di dipan. Tubuh robot itu sama parahnya dengan Ryouta, atau bahkan lebih parah lagi. Kaki kiri Arslan remuk redam dan tidak bisa digerakkan, sedangkan separuh sayap kanannya hilang. Selain itu, pelindung dadanya juga penyok begitu parah, sehingga membuatnya tidak bisa memutar atau membungkukkan badan. Itu yang menyebabkan robot Pengembara itu terpaksa berbaring di dipan.
“Sebenarnya ... apa yang terjadi?” Maria bertanya dengan nada ngeri melihat kondisi kedua temannya yang rusak berat. “Apa ada serbuan mutan buas atau robot liar?”
Sejenak Ryouta dan Arslan saling pandang, lalu keduanya kembali menatap ke arah Maria yang matanya mulai berkaca-kaca. Gynoid itu benar-benar tidak tega melihat dua temannya itu dalam kondisi yang begitu mengenaskan.
“Sebenarnya ... ini bukan gara-gara robot liar atau mutan buas.” Ryouta akhirnya menjawab dengan enggan.
“Ini gara-gara latih tanding barusan,” timpal Arslan dengan nada geli. “Kami kelepasan dan mengerahkan semua kemampuan yang kami punya. Jadi begini deh akibatnya. Apa boleh buat, biar tubuh kami sudah jadi begini, sedikit banyak kami berdua adalah bekas robot perang. Ada hal-hal yang kadang membuat diriku dan Ryouta terlalu asyik sampai lupa, kalau kami sudah tidak lagi hidup di jaman perang.”
Ryouta mengangguk mengiakan.
“Apalagi ditambah fakta kalau kami bekas Guardia dan Machina,” ujar Ryouta sambil memeriksa pelat pelindung dadanya yang penyok dan penuh goresan. “Dulu kami dibuat memang untuk saling menghancurkan. Walau sekarang sudah tidak lagi begitu, ada kalanya sifat asli kami sebagai mesin perang begitu kuat hingga sulit dikendalikan.”
“Itu benar. Ada saat-saat di mana aku juga lupa kalau diriku ini sudah bukan lagi sebuah mesin penghancur,” timpal Arslan sambil berusaha menegakkan tubuh, meskipun itu mustahil dilakukan. “Kau tidak usah khawatir, Maria, ini bukan pertama kalinya kami begini. Tapi sudah lama juga ya sejak duel yang terakhir. Berapa tahun? Sepuluh?”
“Tiga puluh tahun,” sahut Ryouta sambil mengangkat tiga jarinya. Dia lalu menoleh ke arah Maria. “Waktu itu, hasilnya tidak seri seperti sekarang ini. Aku yang menang.”
Arslan merespon ucapan Ryouta dan menepuk pinggang android besar itu dengan sebelah tangannya.
“Hei! Waktu itu kau juga sudah tidak bisa bergerak lagi, sedangkan aku masih berdiri tegak loh!” protes Arslan.
“Biar masih berdiri, tapi semua sistemmu sudah dimatikan paksa kan? Itu artinya aku yang masih sadar yang menang!” bantah Ryouta.
Maria menghela nafas panjang melihat tingkah Ryouta dan Arslan yang terkesan kekanakan. Tapi dia kemudian tertawa tertahan. Rasanya lucu melihat dua robot yang dulunya sangat ditakuti di medan perang, kini bisa bersikap seperti dua anak kecil yang tidak mau kalah dalam sebuah permainan. Membayangkan hal itu membuat Maria tertawa kecil, dan senyuman di wajah gynoid itu dengan sukses membuat Ryouta dan Arslan berhenti bertengkar. Keduanya ikut tersenyum dalam hati melihat ekspresi gembira kembali hadir di wajah Maria.
“Nah! Kalau kalian sudah selesai bertengkar, sekarang lapor ke Mother dan pergi ke ruang perbaikan besar sana!” Maria melompat turun kemudian menepuk dada Ryouta dengan sebelah tangannya. “Cepat sembuh, biar kau bisa menemaniku main lagi!”
Maria lalu menoleh ke arah Arslan yang terbaring di dipan, dia pun menghampiri sang Pengembara itu dan meletakkan sebelah tangannya di dahi robot penerbang itu.
“Kau juga ya,” ujar Maria. “Kau dan Ryouta sudah bukan mesin perang lagi, jadi harusnya sih kalian tidak perlu sering-sering bertengkar begini. Dan cepat sembuh juga ya.”
Arslan mengangguk dan balas mengacungkan jempolnya ke arah Maria. Sikap Arslan membuat Maria kembali tersenyum lebar.
“Nah, sudah dulu ya, aku mau cari Buggy dulu! Dia pasti kaget mendengar kalian berdua bertengkar sampai harus direparasi begini.”
Tanpa basa-basi lagi, Maria berlari keluar dari ruang perawatan dan segera menghilang dari hadapan Ryouta dan Arslan. Sementara itu, kedua robot petarung itu saling pandang sejenak. Cukup lama keduanya terdiam, sebelum akhirnya Arslan mengucapkan satu kalimat yang membuat Ryouta terkejut.
“Kau beruntung punya Maria.” Arslan berkata pada Ryouta dengan nada serius. “Jaga dia baik-baik. Suatu saat nanti, dia akan memegang peranan besar di kota ini. Kalau saat itu akhirnya tiba, kau harus selalu ada di sisinya. Kau mengerti itu, Ryouta?”
Ryouta menatap lurus ke arah Arslan. Dia bingung dengan maksud ucapan mantan Machina itu. Dengan sepenuh hati Ryouta berharap pertarungannya dengan Arslan tadi tidak sampai merusak cyber brain temannya itu.
“Aku tidak mengerti kau bicara apa,” balas Ryouta mengakui. “Tapi aku akan selalu menjaga Maria. Lagi pula, kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mengawasi dan menyelamatkannya dari masalah?”
Arslan tertawa ringan. Dia lalu menatap ke arah langit-langit ruang perawatan yang berbentuk setengah lingkaran.
“Sungguh ... kau ini benar-benar beruntung sampai membuatku merasa iri.”

****

Walaupun Mother bisa memperbaiki semua jenis robot di Bravaga, ternyata dia butuh waktu lebih lama dalam menangani Ryouta dan Arslan. Setelah hampir seminggu penuh bekerja, akhirnya Mother selesai memperbaiki dua robot bekas mesin perang tersebut.
Tentu saja mereka baru diperbolehkan pulang setelah menerima wejangan panjang lebar dari kakek Tesla. Robot kelabang raksasa yang tinggal di Central Tower itu memperingatkan Arslan dan Ryouta akan bahaya kekuatan mereka sendiri. Sebab saat duel seminggu lalu, kekuatan penuh keduanya juga menyebabkan beberapa robot yang ada dalam ruang latihan mengalami kerusakan ringan. Untungnya tidak ada yang serius, tapi dari yang didengar Ryouta, beberapa robot generasi baru menolak untuk ikut dalam ajang latihan duel lagi untuk kedua kalinya.
Setelah berjanji tidak akan melakukan duel lagi, akhirnya Ryouta dan Arslan diperbolehkan keluar dari Central Tower. Dan tentu saja di luar mereka berdua sudah disambut oleh Maria dan Buggy.
“Kakek Tesla marah ya?” tanya Maria sambil nyengir lebar ke arah dua robot petarung kuno itu.
“Begitulah. Dia melarang kami untuk berduel lagi sementara waktu ini,” ujar Arslan sambil mengangkat bahunya. “Yah ... aku juga tidak mau sering-sering latihan dengan Ryouta. Pukulannya keras dan sakit sekali. Dia ini memang tidak tanggung-tanggung kalau berkelahi.”
Ryouta mendengus mendengar ucapan Arslan, kemudian bergumam dalam hati.
Padahal sendirinya dia tidak ragu-ragu untuk mencoba mencabut kepalaku.
“Yah. Karena sudah sembuh. Aku akan kembali ke tempat para Pengembara dulu. Mereka pasti bakal marah juga kalau mendengar aku duel lagi dengan Ryouta,” ujar Arslan sambil mengedipkan sebelah mata utamanya ke arah Maria. Dia lalu menoleh ke arah Ryouta dan mengulurkan sebelah tangannya. “Senang bisa berduel denganmu lagi.”
Ryouta menjabat tangan Arslan. “Sama-sama.”
Tanpa basa-basi lagi, Arslan merentangkan sayap dan melompat pergi. Diiringi suara dengung mesin anti-gravitasi, Arslan melesat tinggi membelah langit kota Bravaga. Dalam waktu singkat, robot penerbang itu sudah hilang dari pandangan.
“Seperti biasanya, dia tetap saja santai dan cuek,” celetuk Ryouta. “Tidak berubah sama sekali.”
“Masa sih?” balas Maria.
“Sejak dibangkitkan Mother, Arslan memang punya sifat seperti itu.” Buggy menyahut sambil melompat ke atas kepala Ryouta. Dia lalu mengetuk kepala robot bermata satu yang ditumpanginya itu. “Beda sekali dengan yang satu ini.”
“Berisik,” gerutu Ryouta sambil balas menepuk tubuh temannya itu. Dia lalu menghela nafas panjang. “Kita harusnya bersyukur Arslan yang sekarang bukan seperti yang dulu. Sifatnya yang santai dan cengengesan itu tidak banyak berubah. Tapi sebagai Machina, dia adalah mesin pembunuh yang tidak kenal belas kasihan. Arslan yang dulu bisa meratakan satu kota dan membasmi apapun yang bergerak sambil bersiul-siul riang.”
“Sayap Kematian.” Sekali lagi Buggy berkomentar sambil pindah ke pundak Ryouta. “Itu julukan Arslan waktu perang dulu. Sama seperti Ryouta, kemunculannya di medan perang artinya kehancuran bagi lawan-lawannya.”
Ryouta mengangguk. Ingatan pertempurannya dengan Arslan pada pertengahan Perang Bulan Kedua masih segar dalam benaknya. Ada banyak kilatan cahaya, ledakan, bangunan yang melayang dan runtuh, jeritan penuh kebencian, dan sosok Machina biru bersayap lebar yang menebar kematian di mana-mana.
Dia masih ingat bagaimana para Guardia yang lain berjatuhan sebagai korban keganasan Arslan pada perang itu. Dia juga masih ingat bagaimana gedung-gedung tinggi yang dulunya berdiri megah, tiba-tiba saja rata dengan tanah diiringi jerit kematian yang bergema sampai ke dalam relung dada logam Ryouta.
“Tapi itu dulu kan?”
Ucapan Maria membuat Ryouta terbangun dari lamunannya. Dia menoleh ke arah robot gadis yang berjalan di sampingnya itu.
“Sekarang Arslan kan bagian dari Pengembara. Dia punya tugas mulia mencari mesin-mesin kuno sekaligus menyebarkan teknologi dari Mother.” Maria bicara sambil berbalik ke arah Ryouta dan berjalan mundur. Dia lalu menunjuk ke arah temannya itu. “Dan kau jadi pekerja bangunan yang membantu membangun kota Bravaga. Sekaligus jadi pelindung kota. Kalian ini sudah berubah loh. Kalian bukan lagi mesin perang yang menakutkan.”
“Tapi itu bukan berarti masa lalu kami yang kelam bisa di ...”
Ucapan Ryouta terhenti saat jari telunjuk Maria menyentuh mulutnya. Senyuman lebar terukir di wajah Maria saat dia melakukan itu. Kedua matanya yang jernih menatap langsung ke satu-satunya mata besar yang dimiliki Ryouta.
“Yang berlalu, biarlah berlalu,” ujar Maria lembut. “Yang penting sekarang adalah menatap jauh dan melangkah ke masa depan sambil mengingat masa lalu sebagai pelajaran.”
Ryouta terdiam sambil  memandangi Maria. Rambut hitam panjang yang berkilauan diterpa sinar matahari sore membuat gynoid itu tampak begitu cantik di mata Ryouta. Selama beberapa detik, dia berani sumpah kalau generator tubuhnya tiba-tiba saja mengalirkan denyut energi besar ke seluruh tubuhnya. Ada sensasi aneh di sekujur tubuh mesin perang kuno itu ketika dia melihat sosok Maria yang dihiasi latar belakang kota Bravaga dan matahari terbenamnya yang berkilau oranye terang.
“Tumben kau mengatakan sesuatu yang bijak.”
Tiba-tiba Buggy berkomentar sambil melayang mengitari Maria. Robot kecoa raksasa itu lalu mendarat dan bertengger dengan nyaman di pundak Maria.
“Hehehe ... itu kudapat dari buku di perpustakaan,” sahut Maria malu-malu. “Keren kan?”
Ryouta tersenyum lebar dalam hati.
Ucapan Maria memang benar.
Meskipun ingatan akan perang yang telah dilaluinya bukanlah sesuatu yang menyenangkan, Ryouta sama sekali tidak mau menghapus ingatan itu. Ingatan itu adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari diri Ryouta. Tanpa ingatannya di masa perang sebelum Catastrophy, maka Ryouta yang seperti sekarang ini mungkin tidak akan ada. Tanpa pengalamannya berperang melindungi ras manusia yang telah punah, maka kepribadian robot bernama Ryouta ini tidak akan terbentuk.
Meskipun menyedihkan dan menyakitkan, semua hal tentang perang yang dialami Ryouta adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa dipisahkan atau dihapuskan begitu saja. Dan itu disadari betul oleh Ryouta.
“Iya. Ucapanmu yang tadi itu keren.” Ryouta berkomentar sambil mengusap kepala Maria dan membuat gynoid itu tersenyum girang. “Nah, sekarang ayo kita pulang.”
Maria mengangguk dan berlari-lari kecil mendahului Ryouta, diiringi Buggy yang terbang berputar di sekeliling gadis robot itu. Sikap keduanya membuat Ryouta tersenyum lebar dalam hati. Dia pun teringat ucapan Arslan soal dirinya dan Maria beberapa waktu lalu. Sembari melangkah cepat menyusul Maria, Ryouta bergumam dalam hati.
Kau benar. Aku memang beruntung, Arslan.

****
-FIN?-

red_rackham 2017

No comments: