Posts

Everyday Adventure XXIII: Dia Yang Beristirahat

Ryouta menunduk tepat ketika lengan logam yang nyaris sama besar dengan tubuhnya itu melesat di atas kepalanya, kemudian menghantam sebatang pohon hingga batang kayu pohon yang tebal dan kokoh itu pun langsung hancur berkeping-keping. Karena serangannya meleset, Robot Liar yang sedang dihadapi Ryouta itu meraung frustasi sembari mengayunkan lengan yang satunya lagi. Tapi kali ini Ryouta tidak menghindar, dengan tenang dia mengangkat sebelah tangannya dan menahan gempuran itu dengan perisai energi transparan yang muncul di lengannya. Suara dentum kencang pun bergema, diiringi debu yang beterbangan ke segala arah. Sang Robot Liar tersentak kaget karena serangannya bisa ditahan oleh lawan yang bertubuh jauh lebih kecil darinya. Karena kaget, robot yang bagian-bagian tubuhnya terdiri dari campuran berbagai jenis mesin dan robot lainnya itu pun melangkah mundur ... dan itulah kesempatan yang ditunggu Ryouta sejak tadi. <Anti-Machina Weapon terisi penuh> Sebuah suara elektron...

Everyday Adventure XXII: Sang Insinyur

“Kamu yakin dia lagi di sini hari ini?” Maria bertanya pada Ryouta selagi dia berjalan menuruni tangga curam yang entah mengarah ke mana. Gynoid berambut hitam itu lalu menoleh ke belakang, ke arah gynoid lain yang berjalan mengikutinya dengan ekspresi bingung bercampur takut. Gynoid itu tidak lain adalah Orabelle, yang sejak tadi hanya berjalan dalam diam sambil sesekali mengamati kondisi sekitarnya dengan sensor-sensor sensitifnya. Kedua matanya yang berwarna keemasan tampak mengamati tiap sudut lorong tangga curam yang dilewatinya.   “Aku ... yakin!” sahut Ryouta sambil membungkuk dan merangkak melewati lorong yang semakin sempit. “Buggy dan teman-temannya bilang kalau sudah sekitar sebulan ini dia mengurung diri di sini. ... dan aku benar-benar ingin ngobrol panjang lebar dengan siapa pun Builder yang membangun tempat ini! Tempat ini benar-benar menyebalkan!” Ryouta menggerutu sambil mendobrak paksa sebuah pintu kayu tanpa kunci atau pun gagang pintu, yang terlihat seper...

Everyday Adventure XXI: Masa Lalu Yang Hilang

Orabelle berjalan menyusuri hutan reruntuhan kota sembari sesekali memperlambat langkah dan mengamati pemandangan di sekitarnya. Kedua matanya yang berwarna keemasan sesekali berkilat ketika dia menggunakan sensor-sensor yang tertanam di mata elektroniknya itu untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahaya di sekitarnya. Sementara itu, cyberbrain-nya dengan cepat memproses semua informasi yang dia lihat dan rasakan, kemudian mengolahnya untuk memastikan tidak ada apa pun yang akan tiba-tiba menyergapnya dari belakang, atau dari sudut mati sensor-sensor canggihnya. Meskipun terkesan berlebihan, tapi wajar saja Orabelle bertingkah paranoid seperti itu. Pasalnya, saat ini gynoid Generasi Baru itu sedang berdiri di tengah hutan lebat yang kini sudah kembali menguasai ‘hutan beton’ setelah tempat itu ditinggalkan oleh para penghuninya pasca Catastrophy melanda dunia. Hutan yang dipenuhi oleh Travelling Tree, atau tumbuhan yang bisa bergerak itu tampak menakutkan bagi Orabelle yang baru pe...

Extra Adventure IV: Senandung

Raymond Thorn mengira dirinya sudah gila ketika mendengar sayup-sayup suara senandung merdu yang bergema di dalam helm powersuit yang dia kenakan. Prajurit dari Union itu awalnya mengabaikan suara misterius itu karena dia dan batalionnya sedang berada di tengah baku tembak dengan lawan-lawannya. Baru setelah pertempurannya reda, dia baru bisa memikirkan soal suara misterius itu, yang lagi-lagi kembali terdengar melalui saluran komunikasi terbuka. “Zacharia, kamu dengar suara itu?” Raymond bertanya pada rekannya sambil mengetuk helm penuh baret dan penyok yang dia kenakan. “Suara apaan?” balas temannya itu bingung. Pria kelahiran Timur Tengah itu kemudian diam sejenak untuk mencoba mencari tahu suara apa yang dimaksud oleh Raymond. Tapi dia tidak mendengar suara apa pun. “Aku tidak dengar apa-apa tuh. Emangnya kayak apa suaranya?” “Suara senandung,” sahut Raymond. “Sayup-sayup. Tapi aku yakin ini suara nyanyian. Dan ini disiarkan melalui saluran komunikasi terbuka, tanpa en...

Everyday Adventure XX: Orabelle

Sebelumnya Maria tidak begitu peduli dengan siapa dirinya, karena baginya, ada lebih banyak hal lain yang lebih penting dan lebih menarik dari itu. Mencari peninggalan manusia, menjelajahi Bravaga, dan menemukan hal-hal baru di kota tempat tinggalnya itu jauh lebih penting dan lebih menarik bagi Maria. Namun setelah insiden yang terjadi di Colony beberapa waktu lalu, Maria pun jadi semakin bertanya-tanya tentang jati dirinya. Gynoid itu juga lalu mengingat kembali beberapa kejadian aneh yang pernah terjadi pada dirinya, terutama kilasan-kilasan misterius ketika Maria menyentuh atau berhadapan dengan benda-benda peninggalan era sebelum Catastrophy. Tentu saja itu membuat rasa penasarannya pun juga semakin menjadi-jadi, terutama setelah Graham, seorang Automa berkedudukan tinggi yang tinggal di Colony, menyebutkan sesuatu yang membuat Maria semakin kebingungan. Machina. Setelah insiden yang mengakibatkan hampir seluruh sistem pertahanan Colony lumpuh, Graham menduga kalau Maria ad...

Everyday Adventure XVIV: Maria

 Dengan diikuti Buggy, Maria berjalan menyusuri lorong bangunan serba putih mengikuti langkah Graham. Beberapa Automa yang kebetulan berpapasan dengan mereka, sempat berhenti sejenak dan jelas terlihat bertanya-tanya. Beberapa dari mereka langsung menunduk singkat, tanda hormat, sebelum akhirnya memberi jalan kepada rombongan itu. Menyaksikan itu, Maria semakin sadar kalau Automa bernama Graham yang berjalan di depannya itu benar-benar memiliki posisi sangat penting di Colony. Terutama karena mereka baru saja melewati gerbang besar yang dilengkapi dua pasang robot bertampang mengerikan dan bersenjata berat itu dengan sangat mulus dan tanpa hambatan sama sekali. “Profesor Graham, kami sudah menunggu Anda.” Sesosok gadis tampan berpakaian agak mirip dengan Graham bergegas menghampiri Graham dan Maria begitu mereka melewati gerbang. Berbeda dengan Automa lain yang sejauh ini dilihat Maria di Colony, sosok gadis ini terlihat jauh lebih mirip manusia. Hanya saja, entah apa sebab...

Everyday Adventure XVIII: Colony

Jarak yang harus ditempuh Maria dan Buggy untuk sampai ke Colony dengan menggunakan MagLev sebenarnya hanya memakan waktu setengah jam saja, namun bagi Maria, perjalanan itu seolah-olah makan waktu seharian. Sejak naik ke dalam kereta magnet yang melayang dengan kecepatan tinggi itu, Maria sudah tidak sabar untuk turun lagi. Gynoid itu ingin segera bertemu dengan para Automa yang tinggal di Colony, yang juga merupakan perwujudan dari manusia-manusia yang tersisa di Bumi pasca terjadinya Catastrophy. Sulit bagi Maria untuk membayangkan bagaimana kehidupan para Automa di Colony itu, sebab satu-satunya Automa yang dia kenal adalah sosok yang penyendiri dan tidak suka bersosialisasi. Selain itu, dia belum pernah mendengar informasi lengkap mengenai kondisi di dalam Colony sendiri, kecuali dari cerita beberapa robot yang konon ikut membangun kota itu di masa lalu. “Gyamtso, sebenarnya kehidupan di Colony itu seperti apa sih?” Maria akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Au...