Saturday, June 10, 2017

13th Spiral: Glimpse Out of Time



Semua orang yang tinggal di kota Jakarta pasti menyadari kalau laju kehidupan di ibukota negara itu begitu cepat. Orang-orang saling berpacu satu sama lainnya untuk menggapai tujuan masing-masing. Waktu pun seolah berlalu lebih cepat bagi siapa pun yang tinggal ataupun bekerja di Jakarta. Seolah-olah sang Waktu tidak ingin melambat, apalagi berhenti sejenak dan membiarkan penghuni kota untuk beristirahat melepas lelah dan beban kehidupan mereka. Sehingga tidak jarang ada yang bilang kalau orang-orang yang tinggal di Jakarta jadi lebih cepat tua ketimbang mereka yang tinggal di kota lainnya.
Dan tentu saja aku juga merasakan hal itu.
Terkadang rasanya aku baru saja memejamkan mata sejenak di malam hari, tahu-tahu matahari sudah terbit dan aku pun harus kembali melanjutkan rutinitasku setiap hari. Meskipun pada dasarnya aku menikmati pekerjaanku sebagai kurir barang, tapi ada waktu-waktu tertentu ketika aku mempertanyakan tujuan hidupku sendiri. Pasalnya rutinitas hidupku sehari-hari terasa begitu-begitu saja. Bahkan Terkadang rasanya begitu hambar dan stagnan.
Yah, meskipun belakangan ini hidupku jadi sedikit lebih menarik gara-gara aku lumayan sering mengalami berbagai macam hal aneh. Walaupun kejadian semacam itu membuatku ketakutan, tapi jauh di lubuh hatiku, aku malah berterima kasih. Berkat berbagai kejadian supranatural yang kualami itu, hidupku jadi terasa lebih bermakna dan aku pun jadi merasa sedikit lebih istimewa.
Biarpun begitu, aku tetap tidak bisa berhenti memikirkan sebenarnya apa tujuanku tetap hidup di dunia ini?
Padahal sebenarnya aku seharusnya sudah tewas dalam kecelakaan maut setahun yang lalu. Yah ... sejujurnya sih aku sempat mati suri selama beberapa menit waktu itu, tapi pada akhirnya aku bangkit lagi. Seolah-olah malaikat maut belum sudi mengambil nyawaku.
Kenapa aku masih dibiarkan hidup?
“Entah ya. Mungkin memang belum waktunya kau mati?”
Dengan entengnya Irvan menjawab pertanyaanku itu. Saat ini kami berdua sedang mengendarai mobil melintasi kota Jakarta untuk mengantarkan paket dan surat titipan klien perusahaan. Seperti biasanya, Irvan yang menyetir sementara aku bertindak sebagai navigatornya.
“Mungkin juga kau punya peranan penting di dunia ini. Entah apa. Yang pasti kau tidak boleh mati dulu sebelum kau memenuhi perananmu itu,” ujar Irvan lagi sambil membetulkan letak spion tengah mobil boks yang kami naiki. Dia lalu melirik ke arah daftar pengiriman barang di tanganku. “Ngomong-ngomong paket kita berikutnya kemana?”
Sekilas aku membaca daftar yang ada di tanganku, kemudian tersenyum lebar.
“Sudah habis,” ujarku senang. “Sekarang kita bisa mampir dulu untuk beristirahat sebelum kembali ke kantor. Tugas kita sudah selesai hari ini.”
Alih-alih ikut senang, Irvan malah mengernyitkan dahinya.
“Yakin sudah selesai? Sudah dicek semua belum?” tanyanya kebingungan.
“Sudah dan tidak ada lagi paket yang harus dikirim hari ini,” jawabku. “Memangnya kenapa?”
“Coba lihat di belakang sana. Masih ada satu lagi tuh!”
Irvan memberi isyarat dengan jempolnya dan menunjuk ke arah ruang kargo di belakang kabin pengemudi. Aku pun melepaskan sabuk pengamanku sejenak dan mengintip dari balik jendela kecil yang terhubung ke ruang kargo, atau boks, di belakang mobil. Dan ternyata memang benar! Masih ada satu paket lagi yang belum kami antar. Tapi masalanya, kenapa paket itu tidak ada di daftar?
“Coba minggir dulu, biar aku cek,” ujarku.
Irvan pun bergegas mencari area kosong di tepi jalanan untuk parkir sejenak. Tidak lama kemudian kami pun sudah berhenti di depan sebuah minimarket. Tanpa menunda-nunda lagi, aku pun membuka pintu ruang kargo dan mengambil satu-satunya paket yang tersisa disana. Paket itu berukuran tidak terlalu besar dan sepertinya muat untuk memasukkan sebuah bola sepak. Tidak ada yang istimewa dari paket berbungkus coklat itu ... kecuali nama dan alamat pengirimnya.
Glibert.
Koffie Zonder Grenzen.
“AH!” seruku terkejut.
“Kenapa?!” Irvan langsung buru-buru turun dari mobil dan menghampiriku. Wajahnya terlihat khawatir. “Ada apa? Ada yang aneh?”
Aku pun menunjukkan stiker bertuliskan nama dan alamat pengirimnya pada Irvan. Dia pun ikut terbelalak kaget. Soalnya aku sudah pernah bercerita soal kafe misterius bernama Koffie Zonder Grenzen, tempat aku tersesat beberapa waktu lalu dan mendapatkan mesin ‘ajaib’ untuk motorku. Tentu saja aku juga sudah bercerita soal Gliber, si manajer kafe yang tidak kalah misteriusnya itu.
“Ini paket dari kafe aneh itu?” tanya Irvan. “Kok bisa ada disini? Sejak kapan? Padahal aku sendiri yang memasukkan semua paket kita hari ini ke dalam kargo, tapi ... sumpah! Aku sama sekali tidak ingat pernah memasukkan yang satu ini.”
Aku mengangkat bahu.
Kalau kafe Koffie Zonder Grenzen itu bisa muncul dan hilang secara misterius, aku sama sekali tidak heran kalau apa pun yang berkaitan dengan tempat itu juga bisa begitu saja nongol di tempat tidak terduga. Seperti paket ini misalnya.
“Kira-kira apa isinya?” tanya Irvan penasaran.
Aku mengguncang paket di tanganku itu dengan lembut, takut isinya ada yang rusak atau pecah. Tapi aku tidak mendengar suara apa pun. Selain itu, paket ini terasa ringan dan beratnya mungkin tidak lebih dari satu atau dua kilogram saja.
“Entahlah, tapi aku tidak mau seenaknya membuka paket orang,” ujarku. “ Apalagi dari kafe itu.”
Irvan mengangguk setuju.
“Pilihan yang tepat,” timpalnya. “Lalu, kemana paket itu harus diantar?”
“Monas” jawabku singkat.
“Monas?” tanya Irvan lagi.
“Monas,” tegasku.

****


Perjalanan kami menuju ke Monas bisa dibilang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada hal aneh yang terjadi. Walaupun sempat terjebak kemacetan agak panjang di sekitar Thamrin, tapi akhirnya aku dan Irvan berhasil sampai di lapangan parkir Monas. Tidak lama kemudian kami berdua pun sudah berjalan kaki melintasi monumen yang menjadi ikon kota Jakarta tersebut.
Tidak banyak orang yang berkeliaran di sekitar Monas, terlebih karena hari ini bukan hari libur. Hanya sesekali terlihat petugas keamanan atau penjaga kebersihan yang bekerja di sekitar taman, serta beberapa orang turis yang terlihat kelelahan. 
Kemudian pandanganku terpaku ke arah Monas yang berdiri tegak di hadapanku. Monumen putih setinggi 132 meter itu terlihat gagah seperti biasanya. langit kota Jakarta yang biru pucat terlihat kontras dengan puncak Lidah Api yang terbuat dari tembaga berlapis 50 kilogram emas. Kalau aku tidak salah ingat, di dalam Monas ada museum yang menggambarkan sejarah bangsa Indonesia sejak nenek moyangnya sampai waktu Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi. Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga aku tidak berkunjung ke museum di dalam monumen terkenal itu.
“Hei, jangan bengong! Ayo!”
Irvan menyenggol tanganku karena aku mendadak berhenti berjalan dan terdiam ditempat. Aku pun buru-buru menyesuaikan langkahku. Begitu sampai di depan pintu masuk, kami disambut oleh seorang satpam yang kemudian menyuruh kami berdua untuk masuk ke Ruang Musem Sejarah yang terletak di bawah Monas. Anehnya penjaga keamanan itu tidak memberi tahu kami tepatnya kemana kami harus menaruh paket yang kami bawa ini. Dia juga tidak memberi tahu siapa yang harus kami temui untuk menyerahkan paket ini. Sudah begitu, sikap si satpam juga terkesan kaku dan acuh dengan kehadiran kami berdua.
“Kaku sekali satpam tadi,” gerutu Irvan sambil berjalan menyusuri ruangan.
Saat ini kami berdua sudah berada di dalam Ruang Museum Sejarah. Seperti yang kuingat waktu terakhir kali aku kesini, tempat ini memang terlihat megah dan menakjubkan. Seluruh ruangan dilapisi marmer dan terdapat lebih dari 50 jendela berisi diorama kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari jaman kerajaan, era perjuangan kemerdekaan, sampai jaman Orde Baru. Tidak hanya itu, suara bung Karno juga terdengar nyaring dari pengeras suara yang tersebar di sekitar ruangan.
Tiba-tiba saja aku merinding. Bukan hanya karena mendengar suara Bapak Proklamasi yang terdengar tegas dan berapi-api, tapi juga karena menyadari kini di dalam ruang museum ini hanya ada aku dan Irvan saja. Sama sekali tidak ada pengunjung lain di sekitar kami.
“Mana nih yang mau nerima paket?” tanya Irvan sambil memandang berkeliling, sementara aku cuma bisa mengangkat bahuku.
“Entahlah. Sudah begitu kenapa kok tempat ini sepi sekali,” balasku. “Seperti kubur ...”
“Selamat datang di Monas. Ada yang bisa saya bantu?”
Tiba-tiba saja ucapanku dipotong oleh suara seorang perempuan dari belakang. Karena kaget aku langsung berputar dan melangkah mundur. Begitu juga Irvan. Dia juga sama terkejutnya sepertiku.
Di hadapan kami sekarang berdiri seorang perempuan yang mengenakan seragam yang mirip dengan seragam Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Daerah Jakarta. Bedanya hanya warna seragam yang dikenakan perempuan ini adalah biru tua, alih-alih hijau pudar seperti yang biasanya dipakai pegawai pemerintahan kota Jakarta. Sebuah pelat nama dari logam bertuliskan ‘Gita’ tersemat di kantong dada sebelah kiri PNS di hadapanku ini.
“Mbak Gita? Kami mau mengantarkan paket dari tuan Glibert,” ujarku sambil mengulurkan paket berbungkus coklat di tanganku. Tapi wanita di hadapanku ini malah terlihat bingung. Aku pun mencoba menjelaskan sedikit siapa Glibert itu. “Glibert, manajer kafe Koffie Zonder Grenzen.”
Begitu mendengar nama kafe itu disebut, ekspresi wajah wanita PNS di hadapanku itu langsung berubah.
“Ah! Tentu saja!” ujarnya sambil menepukkan tangannya. “Maafkan saya. Belakangan ini saya sibuk sekali. Kondisi kota akhir-akhir ini memang agak tidak sehat, jadinya pekerjaan saya jadi semakin banyak, sampai-sampai lupa kalau saya memang menunggu paket dari Glibert. Terima kasih sudah mau mengantar sampai kemari.”
“Oh, baguslah kalau begitu,” ujarku, masih sambil mengulurkan paket ditanganku, yang tidak kunjung diterima oleh perempuan di hadapanku ini. Karena penasaran, aku pun akhirnya memberanikan diri bertanya. “Ada masalah?”
Gita tersenyum ke arahku. Dia lalu menerima paket yang kuulurkan sejak tadi dan memeluknya dengan lembut, seolah-olah perempuan itu sedang memeluk seorang bayi.
“Tidak,” ujarnya singkat. “Tapi apa Anda tahu isi paket ini?”
Aku pun menggelengkan kepala sambil memasang tampang bingung. Begitu juga dengan Irvan, yang ikut-ikutan menggelengkan kepalanya.
“Kami tidak tahu, soalnya kami tidak membuka paketnya. Itu melanggar peraturan perusahaan,” kata Irvan dengan nada serius. “Selain jelas itu bakal bikin klien kami marah dan bisa bikin kami dipecat.”
“Baguslah kalau begitu,” balas Gita lagi. “Jangan khawatir. Isinya bukan benda berbahaya ataupun barang terlarang. Hanya saja memang paket ini tidak boleh dibuka sembarangan. Nanti isinya bisa rusak dan tidak bisa dipakai lagi.”
 “Memang isinya apa?”
Pertanyaan itu terlempar begitu saja dari mulutku sebelum aku sempat mencegahnya. Tapi mendengar pertanyaanku itu, Gita kembali tersenyum lembut.
“Kalian mau lihat isinya?” ujar Gita, dia lalu pun memberi isyarat agar kami berdua mengikutinya. “Ikuti saya.”
Sejenak aku dan Irvan saling berpandangan, tapi kemudian kami pun sepakat untuk mengikuti Gita. Sepertinya rasa penasaran kami berdua sudah sulit dibendung. Tanpa bicara sepatah kata pun, aku berjalan mengikuti Gita ke arah satu-satunya elevator di dalam Monas. Tidak lama kemudian, kami bertiga sudah berada di dalam lift yang sempit dan jelas terlihat sudah terlalu tua.
“Sudah pernah naik ke pelataran atas?” tanya Gita padaku dan Irvan. Kami berdua pun mengangguk. “Kita juga akan ke atas, tapi kali ini ke tempat yang di luar batas monumen ini. Saya sebenarnya hampir tidak pernah membawa orang lain naik ke Level Pengamat, tapi kali ini spesial karena sepertinya Glibert percaya pada kalian. Kalau tidak, tidak mungkin dia meminta kalian mengirimkan paket penting ini kepada saya.”
“Apa maksudmu?” tanyaku penasaran.
Gita mengabaikan pertanyaanku. Dia sedang sibuk menekan tombol-tombol lantai di panel kendali elevator dalam kombinasi yang cukup panjang. Setelah beberapa saat, PNS muda itu pun menoleh ke arahku dan Irvan, kemudian tersenyum penuh arti.
“Oh, saya lupa bilang. Ini bakalan terasa tidak nyaman buat yang tidak biasa. Tapi bertahanlah,” ujar Gita sambil menekan tombol untuk menutup pintu elevator yang sedari tadi terbuka lebar. “Cuma sebentar saja.”
Belum sempat aku berkata atau berbuat apapun, pintu elevator menutup dengan cepat, dan tiba-tiba saja kedua mataku dibutakan oleh kilatan cahaya. Di saat yang bersamaan, kedua telingaku pun berdenging hebat. Aku berusaha berteriak tapi entah memang tidak ada suara yang keluar, atau telingaku sedang tidak berfungsi, soalnya aku tidak bisa mendengar apa pun. Selain itu, aku pun tidak bisa berasakan lantai di bawahku dan bahkan sepertinya indra perabaku pun lumpuh karena aku tidak bisa merasakan apa pun ... itu ... atau memang sebenarnya tidak ada apa pun di sekitarku?
Tanpa bisa berbuat apapun, aku hanya bisa bersabar dan berharap ini akan segera berakhir ... dan semoga ini tidak berakhir dengan aku dan Irvan hanya tinggal nama saja ...

****

 “Selamat datang di Level Pengamat.”
Itu adalah kalimat pertama yang kudengar setelah akhirnya seluruh indraku sepertinya sudah kembali berfungsi seperti sedia kala. Aku pun mengerjapkan mata beberapa kali dan menyadari kalau kami sekarang berada di dalam sebuah ruangan yang luas dan gelap. Aku tidak bisa melihat batas antara lantai, dinding, dan langit-langit ruangan ini, tapi sepertinya ruangan ini berbentu heksagonal kalau melihat dari jendela lebar yang ada di ujung masing-masing sisi ruangan.
“Ini dimana?”
“Yang barusan apaan?!”
Aku dan Irvan bertanya pada saat yang bersamaan pada Gita yang berdiri sambil tersenyum manis di hadapanku. Secara tidak sadar, kami berdua ternyata sudah terbaring di lantai. Untungnya posisiku masih lumayan wajar, soalnya Irvan terlihat baru saja menungging sambil memegangi kedua telinganya. Dia terlihat salah tingkah ketika menyadari kalau semuanya sudah kembali normal.
“Maafkan saya. Proses transfer pertama kali memang terasa tidak mengenakkan. Tapi saya yakin efeknya sudah hilang sekarang,” ujar Gita sambil meletakkan bungkusan paket dari Glibert ke atas sebuah meja, yang sepertinya baru saja muncul entah dari mana. Dia lalu menoleh ke arah kami berdua yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. “Ini Level Pengamat. Tempat saya bekerja sehari-hari. Di sini lah saya mengawasi perkembangan kota Jakarta dan sekitarnya. Karena tempat ini ada di luar batasan kota Jakarta yang biasanya, ruang ini hanya bisa diakses dengan melompat keluar dari lipatan ruang kota Jakarta yang sesungguhnya. Dan itu selalu mengakibatkan efek samping untuk ornag yang pertama kali melakukannya.
Gita lalu menunjuk ke arah deretan sofa, yang aku berani sumpah, beberapa saat yang lalu tidak ada di sana. Sofa berwarna putih itu sepertinya baru muncul begitu saja, lengkap dengan sebuah meja bundar yang juga berwarna putih.
“Silahkan anda berdua duduk dulu sementara saya membuka paket ini,” ujarnya.
Meskipun masih kebingungan, dan juga ketakutan, aku dan Irvan akhirnya memutuskan untuk menuruti ucapan Gita. Begitu kami duduk di sofa, Irvan langsung menarikku mendekat dan berbisik dengan nada panik.
“Ini tempat apa?! Kita mau diapakan?!” bisiknya sambil menarik telingaku.
Aku pun terpaksa menepis tangannya dan mendorongnya menjauh.
“Mana kutahu,” balasku sambil memandang ke sekeliling. Kemudian aku pun menyadari kalau kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan sudah hilang dan digantikan dengan cahaya putih temaram. Berkat itu aku jadi bisa melihat kalau kami saat ini berada di dalam sebuah ruangan luas yang nyaris tidak ada apa-apanya. Kecuali sofa tempat kami duduk, dan meja tempat Gita meletakkan paket dari Glibert.
Dan tentu saja sudah jelas kalau kami sudah tidak lagi berada di dalam Monas. Soalnya aku sama sekali tidak ingat ada ruangan seperti ini di dalam monumen kenegaraan itu. Sepertinya kami tadi baru saja ‘dipindahkan’ ke suatu tempat ... entah dimana ...
“Maaf membuat kalian menunggu.”
 Gita kembali berjalan menghampiri kami berdua sambil menunjukkan sebuah benda berbentuk seperti bola berwarna oranye yang dia letakkan di atas kedua telapak tangannya. Permukaan bola itu tampak berkilau dan benda itu sendiri mengeluarkan pendaran cahaya dengan ritme lambat yang beraturan. Sejenak bola itu terlihat bergelenyar seolah tidak terbuat dari benda padat dan samar-samar aku bisa melihat struktur rumit, namun beraturan dengan pola tertentu, di dalam benda misterius tersebut.  
“Apa itu?” tanyaku, masih sambil menjaga jarak. Soalnya aku tidak tahu apa yang bakal terjadi seandainya aku terlalu dekat dengan PNS misterius itu.
“Hiperkubus,” ujar Gita singkat, seolah-olah dia menganggap kami bisa mengenali apa sebenarnya benda misterius yang dia pegang itu. 
“Tidak terlihat seperti kubus,” timpal Irvan kebingungan.
Gita tersenyum.
“Memang tidak terlihat seperti kubus, soalnya ini Dekaract,” ujar perempuan itu lagi, masih sambil tersenyum. “Ini 10-Cube, atau Hiperkubus 10 dimensi. Pada dimensi sebanyak ini memang bentuknya tidak lagi terlihat seperti kubus. Tapi ini sebenarnya tetap sebuah kubus.”
Aku menggelengkan kepala. Tanda bahwa aku masih tidak mengerti. Begitu pun Irvan, yang juga ikut-ikutan menggelengkan kepalanya.
“Apa fungsinya?” tanyaku penasaran.
“Oh. Kalian mau tahu?” Gita balas bertanya. “Biar saya tunjukkan.”
Sebelum aku dan Irvan sempat berkata atau berbuat apapun, Gita tahu-tahu sudah melemparkan Dekaract di tangannya ke udara. Sedetik kemudian benda itu mendadak lenyap begitu saja. Nyaris bersamaan dengan itu, mendadak kami semua sudah berada di sebuah padang rumput luas di sore hari, dengan langit yang dihiasi oleh bulan purnama. Hanya saja ukuran bulan tersebut berkali-kali lipat lebih besar dari yang biasanya kulihat di langit. Di kejauhan, aku bisa melihat sosok orang-orang yang berkumpul di depan sebuah pohon yang sedang terbakar. Karena terlalu jauh, aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka, tapi yang jelas … orang-orang itu terlihat mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit hewan. Sesaat kemudian, aku jelas-jelas melihat sekawanan gajah berbulu melenggok dengan anggun di kejauhan.
Astaga! Ini mustahil!
Aku pun berseru dalam hati ketika menyadari kalau aku sedang menyaksikan sekawanan Mammoth, atau gajah purba, ... yang itu artinya ... orang-orang di sekeliling pohon terbakar itu adalah manusia purba!
“Yang kalian lihat ini adalah Jakarta, atau lebih tepatnya, area tempat kota Jakarta akan berdiri suatu saat nanti. Kalau penanggalanku tidak salah, saat ini kita berada di sekitar satu setengah juta tahun yang lalu. Waktu itu Homo erectus masih menjelajahi tanah Jawa dan manusia modern belum muncul.”
Gita bicara sambil memandang ke sekitarnya, dan sekali lagi, sebelum aku dan Irvan sempat bertanya atau berbuat apapun, perempuan berseragam PNS itu menepukkan tangan. Dalam sekejap, seluruh pemandangan di sekitarku pun berubah dengan cepat. Seolah-olah aku sedang menyaksikan sebuah film yang sedang dipercepat.
Padang rumput jadi hutan belantara.
Manusia purba jadi mangsa.
Turun salju, hutan pun hilang.
Manusia purba mati.
Salju mencair, padang rumput kembali.
Manusia purba baru, datang.
Hutan kembali.
Manusia purba baru, berjaya.
Turun salju lagi, hutan pergi.
Manusia purba baru, mati
Salju hilang, air laut naik.
Air laut surut, sungai berkuasa, rawa pun muncul.
Manusia purba lebih baru, datang.
Berkembang biak.
Desa pun lahir.
Lalu kota.
Lalu kerajaan.
Kerajaan hilang dan timbul.
Pendatang asing tiba.
Jakarta lahir.
Berkumpul.
Berselisih.
Perang.
Ada kemenangan, ada kekalahan.
Manusia semakin maju.
Kota semakin besar.
Era modern tiba.
Jakarta semakin padat.
Terlalu banyak manusia.
Kemudian, tiba-tiba seperti ada yang menekan tombol pause dan aku pun berdiri di tepat depan Monas. Kota Jakarta di sekitarku pun sudah terlihat seperti kota Jakarta yang kukenal baik. Hanya saja waktu seolah-olah –atau  memang benar-benar– berhenti. Aku pun mengerjapkan mata karena tidak percaya. Sepertinya aku baru saja dibawa melihat proses munculnya kota Jakarta, mulai dari jaman prasejarah sampai masa sekarang.
“Mustahil ... Yang barusan itu mustahil!”
Aku mendengar Irvan bergumam di sampingku. Dia terlihat pucat dan ekspresinya menunjukkan antara campuran kagum dan takut setengah mati. Wajar saja sih, soalnya kami seperti baru saja diperlihatkan segala proses berkembangnya ‘Jakarta’ dari satu juta tahun lalu sampai saat ini. Aku lalu menoleh ke arah Gita yang balas tersenyum penuh arti kepadaku.
“Di dalam Dekaract ini tersimpan semua memori dan informasi tentang tempat ini. Semuanya. Bahkan jauh sebelum tempat ini dijadikan ‘kota’ oleh manusia. Dengan akurat, benda ini merekam semua kejadian yang terjadi di kota Jakarta, jadi sewaktu-waktu kita bisa melihat masa lalu dengan mudah,” ujar Gita. Dia lalu memandang ke arah kota Jakarta modern. “Tapi tidak hanya itu, karena berada di dimensi yang lebih tinggi dan tidak terikat oleh waktu, maka Dekaract juga bisa melakukan ini ...”
Lagi-lagi sebelum ada yang sempat protes, Gita menepukkan tangannya dan dunia pun kembali dipercepat.
Kota meluas, melahap area sekitarnya.
Air laut naik, kota pun tenggelam.
Kota mengapung lahir.
Perang.
Manusia mati.
Dari puing-puing, Jakarta baru pun lahir.
Berkembang.
Bertumbuh.
Bertumbuh.
Dan bertumbuh.
Lalu Laut Jawa mengering.
Manusia meninggalkan bumi.
Jakarta jadi kota mati.
Peradaban manusia runtuh.
Jakarta kembali jadi padang rumput dan rawa-rawa luas.
Selama beberapa saat aku berdiri di tengah rawa luas yang serasa nyaris tanpa ujung. Tapi sebelum aku sadar, tahu-tahu aku sudah kembali ke dalam ruangan luas tempat kami berdiri sebelumnya. Gita pun tampak sudah berdiri sambil memeluk benda aneh yang dia sebut sebagai Dekaract itu. Sementara aku dan Irvan hanya bisa terperangah. Otakku masih terlalu sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi, tapi perlahan-lahan, aku pun sadar kalau aku baru saja menyaksikan masa depan kota Jakarta!
Mustahil memang.
Tapi kan aku sudah beberapa kali mengalami kejadian-kejadian yang sama mustahilnya, jadi aku tidak terlalu syok. Beda dengan Irvan, yang kini benar-benar pucat pasi. Aku jadi merasa kasihan pada temanku yang satu itu.
“Tadinya kupikir saya kehilangan benda ini, tapi ternyata saya tidak sengaja meninggalkannya di Koffie Zonder Grenzen,” ujar Gita sambil mengelus-elus hiperkubus di pelukannya itu. “Untung saja. Kalau sampai hilang, saya bisa kena masalah besar. Soalnya tugas saya mengawasi Jakarta jadi jauh lebih rumit tanpa bantuan Dekaract ini. Karena itu, aku benar-benar berterima kasih pada kalian berdua yang sudah mau datang kemari dan mengantarkan benda ini kepadaku.”
Gita berhenti sejenak, kemudian menatap lurus ke arah mataku.
“Terima kasih,” ujarnya lagi.
“Sama-sama,” balasku.
Sejenak kami berdua terdiam dan suasana mendadak terasa canggung. Perlahan-lahan, aku bergeser ke arah Irvan yang masih berusaha menenangkan diri. Sambil nyengir nakal, aku mencubit pipinya dan membuatnya mengerang kesakitan.
“Ngapain sih?!” protesnya sambil melangkah menjauh.
“Kupikir kau butuh seseorang untuk memastikan kalau kau tidak sedang bermimpi,” ujarku. Kemudian aku menoleh ke arah Gita, yang masih berdiri tegak di tempatnya sambil tersenyum. Meskipun dia tidak mengatakan apa pun, tapi aku seperti sudah bisa menangkap maksud pandangannya. “Kurasa sudah saatnya kami pamit. Aku yakin kau bisa mengantar kami pulang ... iya kan?”
Mendengar pertanyaanku, Gita pun tertawa tertahan.
“Tentu saja,” ujarnya. Dia lalu mengangkat sebelah tangannya. “Itu semudah ...”
“... menjentikkan jari,” potongku, tepat ketika Gita menjentikkan jarinya yang lentik.
Dan aku pun mengedipkan mata.
Ketika mataku terbuka lagi, tahu-tahu aku sudah berada di dalam mobil boks, lengkap dengan Irvan yang duduk di depan kemudi. Kemudian aku dan temanku itu saling berpandangan. Tentu saja kami masih bingung, karena sedetik yang lalu kami berada di dalam ruang antah-berantah, lalu dalam sekejap mata kami sudah kembali ke dalam mobil.
“Yang tadi itu ...”
“... bukan mimpi,” potongku.
“Kenapa kau bisa yakin?” tanya Irvan.
Aku pun menunjuk ke arah sebuah benda mungil di atas dashboard mobil. Irvan pun mengikuti arah telunjukku dan dia langsung terperangah.
Soalnya sebuah benda yang mirip miniatur dari Dekaract kini teronggok di sudut dashboard mobil boks kami. Tapi berbeda dengan hiperkubus milik Gita, Dekaract yang ini sama sekali tidak berpendar, terlihat jauh lebih transparan, dan berwarna biru, alih-alih oranye.
Perlahan-lahan aku meraih benda itu. Karena takut akan ada kejadian aneh lainnya, aku menutup mata ketika jariku menyentuh benda ajaib itu, dan kemudian menunggu beberapa saat. Tapi sepertinya tidak ada apa pun yang terjadi, jadi aku akhirnya berani untuk mengambil benda itu dan mengamatinya selama beberapa saat.
 “Apa benda itu aman?” tanya Irvan takut-takut.
Aku mengangguk.
“Sepertinya begitu ...” ujarku sambil mengetukkan jari ke permukaan hiperkubus yang wujudnya lebih mirip sebuah bola itu. “Nah, sekarang sebaiknya kita kembali ke kantor. Biar kita tidak pulang terlalu sore. Kau masih sanggup nyetir?”
Irvan menangguk, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Sepertinya dia masih berusaha memproses kejadian aneh yang baru kami alami tadi. Dan dalam diam, mobil boks kami pun kembali menyusuri jalanan kota Jakarta yang masih saja padat.

****

Belakangan aku menyempatkan diri untuk kembali ke Monas dan berkunjung ke Ruang Museum Sejarah. Tapi tentu saja aku tidak bisa kembali ke tempat misterius yang dinamakan Level Pengamat itu. Ditambah lagi, waktu aku bertanya-tanya pada pegawai yang bertugas atau satpam, tidak satupun dari mereka yang mengenal PNS perempuan bernama Gita. Sebenarnya sudah kuduga sih, soalnya waktu bertemu dengannya pertama kali, aku bisa menduga kalau Gita bukan berasal dari dunia ini.
Selain itu, aku juga jadi penasaran dengan yang namanya hiperkubus, atau 10-cube, atau Dekaract yang dipakai Gita untuk memperlihatkan masa lalu dan masa depan Jakarta kepadaku. Ternyata, hiperkubus itu tidak lebih dari sekedar nama untuk sebuah bangunan geometri yang disusun dari kubus dan memiliki lebih dari 2 dimensi, sedangkan Dekaract adalah nama yang diberikan pada hiperkubus yang memiliki 10 dimensi ruang. Sama sekali tidak ada informasi yang kutemukan soal bagaimana bisa sebuah benda geometri semacam itu menyimpan rekaman masa lalu atau memperlihatkan kilasan masa depan.
Hanya saja ada sebuah teori matematis yang menyatakan kalau perjalanan melintasi waktu akan melibatkan sesuatu yang memiliki dimensi lebih tinggi dari dimensi tempat kita tinggal. Dan kalau aku tidak salah ingat, Gita waktu itu memang menyebutkan kalau Dekaract miliknya itu ‘berada di dimensi yang lebih tinggi dari waktu’, sehingga benda kecil itu mampu melakukan hal yang memang kedengarannya mustahil.
Bagaimana caranya hiperkubus aneh itu melakukannya? Jangan tanya aku.
Saat ini aku sedang berdiri di dalam ruang pelataran di puncak Monas sembari memainkan miniatur Dekaract yang kutemukan di dashboard mobil boks perusahaan. Karena hari ini hari Minggu, tentu saja ada banyak orang yang ikut melihat pemandangan kota Jakarta dari puncak monumen negara ini.
Sambil memandang ke arah deretan gedung-gedung bertingkat di sekitarku, aku pun jadi teringat pemandangan kota Jakarta masa depan yang diperlihatkan oleh Dekaract. Waktu itu, aku ingat melihat gemerlap kota yang tumbuh jauh melebihi imajinasi liar siapa pun. Namun dengan mudah, alam menyapu segalanya dan pada akhirnya sama sekali tidak ada yang tersisa dari kemegahan kota megapolitan ini.
Pada akhirnya semuanya akan kembali ke asalnya. Kota Jakarta yang megah ini, suatu saat nanti akan kembali menjadi rawa-rawa dan padang rumput luas seperti sedia kala. Bahkan peradaban manusia di kota Jakarta masa depan yang terlihat menakjubkan, seperti yang waktu itu diperlihatkan Gita padaku dan Irvan, suatu saat akan runtuh kembali ke ketiadaan. Alam memang tidak bisa selamanya dilawan dan ditindas. Suatu saat apa yang hilang oleh perbuatan manusia akan kembali lagi ke tanah ini.
Bagaimana dengan manusianya?
Kalau apa yang kulihat waktu itu memang benar-benar akan terjadi, maka manusia seharusnya akan bertahan hidup di tempat lain di luar Bumi. Yah ... semoga saja pada masa itu, manusia sudah menemukan planet lain sebagai tempat tinggal baru. Dengar-dengar Mars bakal segera dikunjungi dan dibuat jadi mirip Bumi.
Tapi untuk saat ini, aku, dan semua orang yang ada di kota ini hanya bisa hidup sebaik mungkin untuk masa sekarang.
Dan mungkin … sekalian mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi di masa depan.

****

End of 13th Spiral
Move on to the next story


No comments: