Posts

Extra Adventure IV: Senandung

Raymond Thorn mengira dirinya sudah gila ketika mendengar sayup-sayup suara senandung merdu yang bergema di dalam helm powersuit yang dia kenakan. Prajurit dari Union itu awalnya mengabaikan suara misterius itu karena dia dan batalionnya sedang berada di tengah baku tembak dengan lawan-lawannya. Baru setelah pertempurannya reda, dia baru bisa memikirkan soal suara misterius itu, yang lagi-lagi kembali terdengar melalui saluran komunikasi terbuka. “Zacharia, kamu dengar suara itu?” Raymond bertanya pada rekannya sambil mengetuk helm penuh baret dan penyok yang dia kenakan. “Suara apaan?” balas temannya itu bingung. Pria kelahiran Timur Tengah itu kemudian diam sejenak untuk mencoba mencari tahu suara apa yang dimaksud oleh Raymond. Tapi dia tidak mendengar suara apa pun. “Aku tidak dengar apa-apa tuh. Emangnya kayak apa suaranya?” “Suara senandung,” sahut Raymond. “Sayup-sayup. Tapi aku yakin ini suara nyanyian. Dan ini disiarkan melalui saluran komunikasi terbuka, tanpa en...

Everyday Adventure XX: Orabelle

Sebelumnya Maria tidak begitu peduli dengan siapa dirinya, karena baginya, ada lebih banyak hal lain yang lebih penting dan lebih menarik dari itu. Mencari peninggalan manusia, menjelajahi Bravaga, dan menemukan hal-hal baru di kota tempat tinggalnya itu jauh lebih penting dan lebih menarik bagi Maria. Namun setelah insiden yang terjadi di Colony beberapa waktu lalu, Maria pun jadi semakin bertanya-tanya tentang jati dirinya. Gynoid itu juga lalu mengingat kembali beberapa kejadian aneh yang pernah terjadi pada dirinya, terutama kilasan-kilasan misterius ketika Maria menyentuh atau berhadapan dengan benda-benda peninggalan era sebelum Catastrophy. Tentu saja itu membuat rasa penasarannya pun juga semakin menjadi-jadi, terutama setelah Graham, seorang Automa berkedudukan tinggi yang tinggal di Colony, menyebutkan sesuatu yang membuat Maria semakin kebingungan. Machina. Setelah insiden yang mengakibatkan hampir seluruh sistem pertahanan Colony lumpuh, Graham menduga kalau Maria ad...

Everyday Adventure XVIV: Maria

 Dengan diikuti Buggy, Maria berjalan menyusuri lorong bangunan serba putih mengikuti langkah Graham. Beberapa Automa yang kebetulan berpapasan dengan mereka, sempat berhenti sejenak dan jelas terlihat bertanya-tanya. Beberapa dari mereka langsung menunduk singkat, tanda hormat, sebelum akhirnya memberi jalan kepada rombongan itu. Menyaksikan itu, Maria semakin sadar kalau Automa bernama Graham yang berjalan di depannya itu benar-benar memiliki posisi sangat penting di Colony. Terutama karena mereka baru saja melewati gerbang besar yang dilengkapi dua pasang robot bertampang mengerikan dan bersenjata berat itu dengan sangat mulus dan tanpa hambatan sama sekali. “Profesor Graham, kami sudah menunggu Anda.” Sesosok gadis tampan berpakaian agak mirip dengan Graham bergegas menghampiri Graham dan Maria begitu mereka melewati gerbang. Berbeda dengan Automa lain yang sejauh ini dilihat Maria di Colony, sosok gadis ini terlihat jauh lebih mirip manusia. Hanya saja, entah apa sebab...

Everyday Adventure XVIII: Colony

Jarak yang harus ditempuh Maria dan Buggy untuk sampai ke Colony dengan menggunakan MagLev sebenarnya hanya memakan waktu setengah jam saja, namun bagi Maria, perjalanan itu seolah-olah makan waktu seharian. Sejak naik ke dalam kereta magnet yang melayang dengan kecepatan tinggi itu, Maria sudah tidak sabar untuk turun lagi. Gynoid itu ingin segera bertemu dengan para Automa yang tinggal di Colony, yang juga merupakan perwujudan dari manusia-manusia yang tersisa di Bumi pasca terjadinya Catastrophy. Sulit bagi Maria untuk membayangkan bagaimana kehidupan para Automa di Colony itu, sebab satu-satunya Automa yang dia kenal adalah sosok yang penyendiri dan tidak suka bersosialisasi. Selain itu, dia belum pernah mendengar informasi lengkap mengenai kondisi di dalam Colony sendiri, kecuali dari cerita beberapa robot yang konon ikut membangun kota itu di masa lalu. “Gyamtso, sebenarnya kehidupan di Colony itu seperti apa sih?” Maria akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Au...

Everyday Adventure XVII: Outpost

Bagi robot yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya dengan tinggal di kota Bravaga, pergi keluar kota tempat tinggal para robot itu jelas terdengar merepotkan, tidak menyenangkan, atau bahkan, hanya terpikirkan oleh robot yang cyberbrain-nya sudah tidak beres lagi. Pasalnya di luar sana terdapat banyak sekali bahaya yang mengancam keselamatan siapa pun, seperti Mutan Buas, Robot Liar, Kabut Elektrik, dan berbagai macam senjata atau perangkap bekas perang di era sebelum Catastrophy, yang mungkin masih aktif. Itu sebabnya hanya sedikit sekali robot, seperti Para Pengembara, yang bersedia bepergian keluar kota Bravaga dan menantang maut demi menjelajahi dunia. Namun tentu saja tidak semua robot di Bravaga bersikap seperti itu, dan Maria adalah salah satu diantaranya. Gynoid generasi baru itu senang sekali menjelajah dan sudah pergi ke berbagai tempat di luar Bravaga, yang sebelumnya hampir tidak pernah dijamah oleh siapa pun sejak Catastrophy melanda dunia. Tentu saja sudah...

Everyday Adventure kini ada di Tokopedia~!

Image
Karena berbagai macam kesibukan dan shenanigans selama beberapa hari kemarin, saya sampai lupa untuk update info di blog sendiri. Jadi ... intinya kini Light Novel Everyday Adventure sudah dapat dibeli melalui Tokopedia. Ini merupakan usaha saya untuk menjangkau beberapa orang pembaca yang sempat menanyakan versi cetak dari cerita saya tersebut, namun mustahil untuk dapat datang sendiri ke berbagai event jejepangan dan creative market saat saya membuka stand bersama Puine /Lab21/ Kroma . Saat ini jumlah cetakan yang tersedia sangat terbatas, terutama karena merupakan jumlah yang tersisa dari penjualan saat event Comifuro beberapa bulan yang lalu. Sedikit cerita tentang kehadiran Everyday Adventure di event tersebut dapat dibaca di sini . Namun jangan khawatir, begitu stok habis, saya akan berusaha untuk cetak ulang secepat mungkin. Selain agar lebih banyak pembaca di penjuru Indonesia yang bisa menikmati versi cetak dari Everyday Adventure, juga supaya tidak ada lagi shenanigan...

[Insentif SciFi Kemerdekaan] Pilihan

Ketika Kompresor Alcubierre kapalku runtuh, aku tahu kalau nasibku tidak akan berakhir baik. Komponen utama dari kapal jelajah antariksaku itu mengalami kegagalan fungsi setelah sebutir meteorit -yang entah bagaimana caranya- menembus lambung kapal, menghantam tangki Graviton, lalu menyebabkan reaksi berantai yang menyebabkan setengah kapalku melejit terbang melewati kecepatan cahaya. Sementara setengah lagi langsung disedot menjadi spageti ke dalam Lubang Hitam yang terbentuk akibat kecelakaan, yang persentase kemungkinan terjadinya kurang dari sepersekian juta persen itu. Sialnya, atau untungnya, aku tidak tewas akibat kecelakaan itu. Yah, secara teknis sih aku sudah mati. Sembilan dari sebelas klon yang sedang mempersiapkan proses perjalanan FTL ( Faster Than Light ), atau Melampaui Kecepatan Cahaya, langsung tewas di tempat ketika mesin kapalku runtuh. Sementara dua lagi yang sedang berada di kokpit kini sudah jadi bubur yang mengotori kursi pilot dan kopilot, gara-ga...