Posts

Everyday Adventure IX

Everyday Adventure IX (Penjelajah Angkasa) Central Tower tetap saja terlihat begitu megah, tidak peduli berapa kali pun Maria melihatnya. Apalagi bila dilihat dari dekat, menara yang tingginya serasa menjangkau langit itu tampak begitu luar biasa. Itu belum ditambah fakta bahwa sebenarnya isi menara itu adalah sebuah pabrik robot yang sangat kompleks dan canggih, sehingga mampu menciptakan robot berteknologi cyber-brain dalam waktu singkat. Sambil menarik nafas dan tersenyum lebar, Maria melangkahkan kaki memasuki Central Tower. Dengan segera dia disambut oleh ruangan luas berbentuk lingkaran yang merupakan lobi depan menara itu. Seperti biasanya, ruangan itu dipenuhi beberapa robot yang ingin mendapatkan perawatan, atau penggantian suku cadang oleh Mother. Meskipun sebenarnya saat ini sudah cukup banyak robot ahli reparasi di kota Bravaga, sebagian besar robot generasi lama masih bergantung pada perawatan dari Mother, terutama mereka yang dibuat pada era sebelum Catastro...

2nd Spiral: Old Man on The River Bank

Matahari bersinar terik dengan sepenuh tenaga, seolah-olah sedang berusaha memanggang apapun yang berada di bawahnya. Udara panas bergelombang menghiasi jalanan kota Jakarta yang dilalui berbagai kendaraan bermotor tanpa henti. Meskipun demikian, frekuensi kendaraan yang melintas tampak lebih rendah dari biasanya. Kemacetan yang biasanya mengular di hampir sebagian besar jalanan protokol ibukota negara itu, siang ini tidak banyak terlihat. Salahkan serangan udara panas yang baru-baru ini melanda Indonesia. Konon katanya sih karena efek pemanasan global atau semacamnya. Yang jelas hanya orang gila yang mau keluar di jalanan kota Jakarta yang sedang panas membara seperti sekarang ini. Sialnya aku termasuk dalam golongan orang gila itu. Sembari terengah-engah karena kepanasan, aku memacu motorku melintasi jalanan yang cukup sepi untuk ukuran kota metropolitan seperti Jakarta. Tentu saja sepi, sebab sebagian orang yang lebih waras akan memilih untuk berteduh sampai udara panas s...

1st Spiral: Road To Nowhere

Sama seperti hari-hari biasanya, hari ini pun aku berkendara melewati jalanan padat merayap yang begitu akrab bagiku. Saking akrabnya, aku sampai yakin kalau aku bisa melewatinya dengan mata tertutup. Yah... sebenarnya tidak sampai segitu juga sih. Soalnya begitu aku melakukannya, pastinya aku akan segera menabrak sesuatu, atau tertabrak sesuatu. Dan aku tidak cukup berani –atau gila– untuk mencoba mengendarai motor dengan mata tertutup di tengah jalanan kota metropolitan seperti ini. Itu sama saja meminta malaikat maut buru-buru turun dari langit dan mencabut nyawaku. Sore itu situasi jalanan sama seperti sebelumnya. Macet. Mobil, motor, truk, bis, sepeda, becak, semuanya berdesakan dalam satu alur jalanan yang sama. Semuanya terlihat dipaksa untuk berada dalam situasi yang sama. Ada berbagai ekspresi yang bisa kulihat di wajah-wajah mereka. Lelah, gembira, jengkel, sedih, sampai yang membiarkan emosinya hilang ditelan asap kendaraan yang menggantung di udara. K...

Everyday Adventure VIII

Everyday Adventure VIII (Para Pengembara) Hari itu kota Bravaga tidak terlihat seperti biasanya. Kota yang dihuni oleh ratusan ribu robot dari berbagai generasi itu tampak lengang, seolah-olah seluruh kota memutuskan untuk menghentikan semua aktivitasnya. Jalanan kota yang biasanya dipadati berbagai jenis robot, kini sama sekali kosong. Begitu pula dengan berbagai pusat aktivitas lainnya. Seolah-olah kehidupan di kota Bravaga mendadak lenyap begitu saja. Namun tentu saja bukan itu yang terjadi. Hari ini adalah hari spesial bagi para robot di kota Bravaga, karena merupakan hari di mana mereka akan kedatangan tamu spesial yang hanya datang setahun sekali. Mereka adalah para Pengembara, robot-robot penerbang tangguh yang hidup dengan berkelana ke seluruh penjuru dunia. Setiap tahunnya, mereka akan datang dan singgah di kota Bravaga untuk melepas lelah, memperbaiki diri, serta berbagi pengalaman dan teknologi kuno yang berhasil mereka dapatkan.   Tidak bisa dipungk...

Tantangan Teen-lit: Pelindung Bumi?

Tantangan Teen-lit: Pelindung Bumi ?             “Kamu adalah orang yang terpilih sebagai Pelindung Bumi. Sekarang, bangun dan terima takdirmu!”             Alvian Cahyadi tertegun menyaksikan seekor burung berbulu merah bertengger di jendela kamarnya, kemudian mengucapkan kalimat barusan. Dia mengucek mata beberapa kali, mengorek telinga, kemudian mencubit pipinya. Sekedar memastikan kalau dia sudah benar-benar bangun, bukan sedang bermimpi.             “Aku masih mimpi ya? Masa sih ada burung bisa bicara?” Alvian bergumam sendiri sembari berbaring, kemudian menarik kembali selimutnya. “Selamat tidur.”             “HEI!” Si burung merah berseru protes, kemudian meloncat ke atas tubuh Alvian. “Ini bukan mimpi, dan aku serius! Hei! BANGUN!”   ...

Everyday Adventure VII

Everyday Adventure VII (Tersesat) “Ini amat sangat tidak bagus ... !” Buggy berseru sambil berpegangan erat di punggung Maria, sementara hembusan angin disertai debu partikel nano-material bertiup kencang di sekitar kedua robot itu. Saking kuatnya tiupan angin itu, langkah Maria berkali-kali oleng karena tidak kuat menahan terjangannya. “Kau benar! Ini tidak bagus!” sahut Maria sambil berjalan maju dengan susah payah. Meskipun sudah mengerahkan semua tenaga yang dia punya, tapi gynoid itu tetap saja kesulitan untuk melangkah maju melawan arah angin. Dia lalu memicingkan mata, berusaha untuk melihat menembus kabut tebal berlapis debu nano-material berwarna keperakan dan kilatan listrik yang sesekali muncul di udara. Sayangnya pandangannya nyaris tertutup total oleh debu keperakan yang menerpa wajahnya. “Kau tidak apa-apa, Buggy?!” Maria berteriak pada Buggy yang masih berusaha berpegangan di bajunya. “Tidak! Semua sistem navigasi dan komunikasiku mati dengan sukses, t...

Everyday Adventure VI

Everyday Adventure VI (Kembang Api) “Hore~! Laut~!!” Maria bersorak kegirangan ketika melihat hamparan air yang terlihat nyaris tanpa batas itu. Tanpa pikir panjang, gynoid berambut hitam itu berlari meninggalkan Ryouta dan Buggy yang masih berdiri di atas tembok pembatas area pantai. Keduanya saling pandang sejenak. Kalau saja keduanya bisa tersenyum, Ryouta dan Buggy pasti sudah tersenyum lebar saat ini. Melihat tingkah Maria yang selalu bersemangat memang tidak pernah gagal untuk membuat keduanya merasa senang. “Ayo! Sedang apa kalian disana?! Ini pantai loh! Laut!” Maria kembali bersorak sambil melambaikan kedua tangannya. “Ayo ke sini, terus kita main di dalam sana!” “Iya! Aku ke sana!” sahut Ryouta sambil balas melambaikan tangannya. Dia lalu berjalan menuruni tangga tembok tebal yang dibangun beberapa puluh tahun yang lalu. Tembok beton setebal beberapa inci itu dibuat untuk mencegah serbuan air laut yang tiap tahun masih saja naik. Sambil berja...