Friday, January 6, 2012

[Pegadaian Semesta]: Pertukaran Setara?

Pegadaian Semesta: Pertukaran Setara?

 

 

“Kami bisa memberikan apapun padamu, asalkan kau mau menggadaikan sesuatu yang kurang lebih setara dengan apa yang kau minta. Sebut saja. Uang? Ketenaran? Kekuasaan? Bakat? Apapun itu kami bisa memberikannya.”

Rendra hanya bisa terbaring lemah sambil mendengar ucapan yang terdengar tidak masuk akal itu. Pemuda itu memandangi seorang gadis asing yang berdiri di kamarnya.

Gadis cantik dan seksi itu berdiri dengan tampang cuek. Dia sama sekali tidak merasa bersalah meski sudah seenaknya masuk ke dalam kamar Rendra tanpa permisi. Bukannya meminta maaf, gadis itu malah mengatakan hal yang tidak masuk akal.

“Apa?” tanya Rendra setelah terdiam cukup lama.

“Aduuh! Masa kau tidak mengerti ucapanku tadi? Aku bilang kami bisa memberikan apapun yang kau minta, asal kau menggadaikan sesuatu yang bernilai setara dengan permintaanmu itu.” protes si gadis seksi sambil menunjuk ke arah Rendra. “Apa terlalu lama di rumah sakit membuat otakmu jadi kurang beres?”

“Jangan sembarangan bicara! Tubuhku memang lemah, tapi otakku tidak!”

Rendra langsung tersinggung begitu si gadis berkata seperti itu. Dia sadar kalau dirinya menderita penyakit langka yang mengacaukan sistem kekebalan tubuhnya, sehingga Rendra harus dirawat beberapa bulan di rumah sakit, setiap kali penyakitnya kambuh. Meski demikian, Rendra memang memiliki otak yang cerdas dan bakat musik yang luar biasa.

“Siapa kau ini?! Seenaknya saja masuk ke kamar orang!” seru Rendra geram sambil meraih bel pemanggil perawat di samping bantalnya. “Akan kupanggilkan suster dan satpam biar kau diusir dari sini?!”

Ancaman Rendra rupanya cukup ampuh.

“Oke. Maafkan aku kalau perkataanku tadi sudah menyinggung perasaanmu. Jadi jangan tekan tombol itu, oke? Aku tidak mau dapat masalah,” ujar si gadis sambil menunjuk ke arah tombol bel di tangan Rendra. “Mungkin penawaranku tadi terlalu tiba-tiba, jadi kau bingung. Namaku Rena dari Pegadaian Semesta. Salam kenal, Rendra Irwansyah.”

Rendra terkejut ketika gadis itu menyebut nama lengkapnya, padahal dia sama sekali belum sempat menyebutkan namanya.

“Darimana kau tahu namaku?!” balas Rendra semakin curiga.

Rena langsung menunjuk ke arah pintu masuk kamar Rendra.

“Dari papan nama yang ada di depan pintu kamarmu,” sahut Rena. “Oke. Sebelum kau semakin bingung, aku datang karena diutus Manajer Pegadaian Semesta untuk menemuimu. Katanya kau ingin menggadaikan sesuatu di tempat kami ya?”

Rendra semakin terkejut ketika mendengar nama Pegadaian Semesta disebut dua kali oleh gadis misterius itu.

Pegadaian Semesta? Tidak mungkin....gumam Rendra dalam hati.

Dia memang pernah mendengar cerita dan rumor mengenai Pegadaian Semesta, tempat untuk menggadaikan apapun untuk mendapatkan apapun yang diinginkan seseorang. Tapi selama ini Rendra yakin kalau Pegadaian Semesta itu hanya sekedar urban legend di kotanya. Dia tidak pernah menyangka kalau tempat itu sepertinya benar-benar ada.

“Ah! Kau tidak percaya dengan ucapanku ya?” ujar Rena sambil berjalan mendekati tempat tidur Rendra. “Kalau begitu ayo ikut aku ke Pegadaian Semesta. Nanti kau akan paham kalau sudah bertemu manajerku.”

Sebelum Rendra sempat mengatakan atau berbuat apapun, Rena tahu-tahu meraih tangan Rendra. Genggaman tangan Rena yang hangat dan lembut membuat jantung Rendra berdebar kencang.

Sedetik kemudian seluruh dunia seakan-akan berputar dan melebur. Pemandangan kamar rumah sakit di sekitar Rendra, tiba-tiba meleleh begitu saja dan digantikan dengan sebuah ruangan luas. Ruangan itu dipenuhi bangku-bangku kayu dan sebuah meja resepsionis besar di ujung ruangan. Tempat itu mengingatkan Rendra dengan sebuah bank....atau pegadaian.

“A....apa!!?” seru Rendra kaget setengah mati, apalagi setelah menyadari kalau dirinya sudah berdiri tegak dengan kedua kakinya. Padahal selama sebulan ini dia bahkan tidak sanggup berdiri tanpa bantuan orang lain.

“Selamat datang di Pegadaian Semesta!”

Rena langsung berseru sambil membungkuk memberi hormat. Gadis itu lalu menunjuk ke arah meja resepsionis.

“Pergilah kesana dan temui manajerku,” desak Rena.

Karena shock dan bingung setengah mati, Rendra menurut saja dan berjalan ke depan meja resepsionis. Di balik meja itu sudah berdiri seorang pria tinggi dan tegap, dengan rambut hitam yang disisir rapi. Ekspresi wajah pria itu terlalu datar hingga Rendra nyaris mengira kalau pria itu adalah sebuah manekin.

“Selamat datang di Pegadaian Semesta, Rendra Irwansyah. Aku tahu kenapa kau ada disini.”

Rendra terkejut bukan main. Dia belum memperkenalkan diri, tapi pria misterius di hadapannya ini sudah menyebutkan nama lengkapnya.

“Perkenalkan, ini Alex. Dia manajer tempat ini. Silahkan katakan apapun keinginanmu, nanti dia yang akan menjelaskan prosedur pegadaian ini padamu,” ujar Rena dengan riang.

Rendra menelan ludahnya. Semua ini terasa tidak nyata. Tapi kalau ini mimpi, semua ini terasa terlalu nyata. Rendra sudah mencoba mencubit tangannya sendiri dan cubitannya memang terasa sakit.

“A....anu...tempat apa ini?” tanya Rendra.

“Pegadaian Semesta. Tempat kau menggadaikan milikmu untuk mendapatkan apapun keinginanmu,” sahut Alex dengan nada terlalu datar, sehingga Rendra merasa sedang bicara dengan sebuah robot.

“Ehm....kenapa aku bisa ada disini?” tanya Rendra lagi.

“Karena kau memohon dalam hati agar bisa datang ke Pegadaian Semesta ini,” sahut Alex lagi. “Apa aku salah?”

Rendra terkejut mendengar ucapan Alex, karena dirinya memang pernah berharap kalau Pegadaian Semesta itu benar-benar nyata, sehingga dia bisa mewujudkan keinginannya.

Sambil menelan ludahnya lagi, Rendra bertanya pada Alex.

“Apa benar di tempat ini aku bisa menggadaikan apapun yang kumiliki....walaupun itu bukan dalam bentuk fisik....seperti bakat atau kecerdasan misalnya?”

“Benar. Kau bisa menggadaikan apapun disini. Barang-barang berharga, organ tubuh, bakat, jiwa. Apapun yang kau miliki bisa kau gadaikan untuk ditukarkan dengan sesuatu yang kau inginkan,” jawab Alex. “Jadi...Rendra Irwansyah, apa kau bersedia menggadaikan sesuatu yang kau miliki, untuk mendapatkan tubuh sehat yang tidak pernah kau miliki? Supaya kau bisa bersama dengan Yulia Irawati, gadis yang kau cintai?”

Kali ini Rendra terkejut bukan main, hingga dia tersentak mundur ke belakang. Bukan hanya Alex bisa menebak apa yang dia inginkan, tapi dia bahkan bisa menebak siapa orang yang paling Rendra cintai.

“Ba...bagaimana kau tahu soal itu??!!” seru Rendra kaget. Wajahnya langsung pucat seketika.

Yulia Irawati adalah teman sejak kecil dan merupakan gadis yang dicintai Rendra. Sudah lama Rendra menyukai gadis itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena terganjal kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan. Karena itulah Rendra menginginkan tubuh yang sehat dan normal, sehingga dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Yulia.

“Jangan pikirkan darimana aku tahu soal itu. Jadi....bagaimana?” balas Alex tanpa emosi. “Memberikanmu tubuh yang tidak bisa sakit adalah sesuatu yang mudah bagiku. Asalkan kau menggadaikan sesuatu yang setara dengan itu.”

Rendra terdiam begitu mendengar ucapan Alex. Meski dia masih tidak percaya dengan ucapan pria itu, tapi dia benar-benar menginginkan tubuh yang sehat. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Rendra mengambil keputusan.

“Baiklah. Aku menginginkan tubuh sehat yang tidak bisa sakit seperti ucapanmu tadi,” ujar Rendra. Kemudian dia buru-buru bertanya pada Alex. “Apa yang harus kugadaikan untuk mendapatkan permintaanku itu?”

Sebelum Alex sempat bicara, Rena sudah menepuk pundak Rendra.

“Berhubung tubuh sehat yang tidak bisa sakit itu harganya cukup mahal, kurasa kau bisa menggadaikan bakat atau kecerdasanmu. Sebenarnya sih kau bisa juga menggadaikan jiwa atau masa depanmu. Tapi itu tidak kami rekomendasikan,” ujar Rena sambil mengacungkan telunjuknya. “Kalau aku sih, aku akan menggadaikan bakatku. Kau kan punya bakat musik yang luar biasa. Kenapa tidak menggadaikan itu saja?”

Rendra terdiam cukup lama ketika mendengar ucapan Rena. Dia memang memiliki bakat alami untuk memainkan hampir semua jenis alat musik. Tapi dia jarang sekali bermain musik karena kondisi tubuhnya yang lemah. Rendra berpikir kalau bakatnya itu cukup pantas digadaikan untuk membayar kesehatannya.

Sambil menarik nafas panjang, Rendra akhirnya memutuskan pilihannya.

“Aku akan menggadaikan bakatku untuk mendapatkan tubuh yang sehat!”

Tanpa mengubah ekspresinya sama sekali, Alex mengangkat sebelah tangannya dan menjentikkan jarinya. Suara jentikan jarinya bagaikan suara letusan senapan, hingga Rendra menutup kedua telinga dan memejamkan matanya karena kaget.

“Pertukaran sudah terlaksana. Nikmatilah tubuh sehat yang tidak bisa sakit itu.”

Suara Alex terdengar bergema di dalam benak Rendra. Saat itu juga dia kehilangan kesadarannya.

*****

Ketika Rendra membuka matanya lagi, tahu-tahu dia sudah kembali ke ruangan tempatnya dirawat. Pemuda itu memandang sekelilingnya dengan bingung, kemudian tatapannya terpaku ke sosok gadis yang duduk di pinggir jendela.

Gadis itu berambut coklat dengan panjang sebahu, serta memiliki mata hitam yang berkilat penuh semangat. Gadis itu tidak lain adalah Yulia Irawati, sosok gadis yang dicintai Rendra.

“Ah. Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Yulia sambil berbalik menatap Rendra.

“Buruk....rasanya aku baru saja bermimpi aneh....” gumam Rendra sambil mengusap wajahnya.

“Mimpi aneh? Seperti apa mimpinya?” tanya Yulia penasaran.

“Yah. Aku didatangi seorang gadis cantik dan seksi, lalu dibawa ke sebuah ruang pegadaian yang entah ada dimana. Lalu aku ditawarkan untuk menggadaikan bakatku dengan tubuh yang sehat,” jawab Rendra jujur. “Aneh sekali kan?”

Yulia tertawa kecil mendengar ucapan Rendra. Gadis itu lalu menarik kursinya dan duduk di samping tempat tidur Rendra.

“Memang aneh. Kurasa minum obat membuatmu berhalusinasi yang aneh-aneh,” balas Yulia sambil mengulurkan potongan apel yang tadi sedang dia kupas. “Nih, biar kondisimu cepat membaik.”

Rendra meraih potongan apel itu dan dengan cepat memakannya.

“Therimua ghasih....” ujar Rendra dengan mulut penuh.

“Hei! Makan dulu baru bicara!” celetuk Yulia.

Rendra buru-buru menelan apel yang dia makan dan mengulangi ucapannya. “Terima kasih”

“Sama-sama,” balas Yulia sambil tersenyum manis.

Untuk beberapa saat, keduanya tiba-tiba saja terdiam.

“Yulia. Bolehkah aku bertanya padamu...” ujar Rendra dengan nada ragu.

“Hah? Tentu saja boleh!” sahut Yulia spontan.

“Aku benar-benar berterima kasih sekali karena kau selalu menemaniku setiap kali aku dirawat seperti ini,” ujar Rendra sambil memandangi gadis itu. “Tapi apakah selama ini kau merasa....terpaksa....atau....kerepotan....setiap kali menjagaku? Maksudku....karena aku, kau jadi tidak punya banyak waktu untuk bergaul dengan teman-temanmu.”

Yulia langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyentil dahi Rendra cukup keras, hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

“Jangan konyol! Aku sama sekali tidak merasa terpaksa atau kerepotan! Aku malah senang karena bisa selalu berada disamping orang yang kucintai seperti ini!”

“Hah?!” sahut Rendra spontan begitu mendengar ucapan Yulia. “Kau bilang apa tadi?!”

Yulia langsung menyadari kalau dia baru saja mengucapkan isi hatinya. Gadis itu langsung buru-buru berdiri dan membalikkan tubuhnya.

“Lu...lupakan saja ucapanku tadi! Ah! Coba lihat jam berapa sekarang! Waktu besuk sudah berakhir! Saatnya aku pulang!” seru Yulia sambil buru-buru menyambar tasnya yang diletakkan diatas meja. Gadis itu lalu berlari ke arah pintu kamar dan menoleh sekilas ke arah Rendra. “Sampai besok!”

Rendra melongo melihat sikap Yulia. Tapi setelah Yulia pergi, barulah pemuda itu menyadari kalau gadis itu tadi keceplosan mengatakan perasaannya. Begitu menyadari hal itu, Rendra langsung merasa melayang. Kali ini bukan karena pengaruh obat yang dia minum, tapi karena dia benar-benar merasa luar biasa senang.

Rendra lalu memandangi langit diluar jendela kamarnya.

“Pegadaian Semesta.....seandainya saja mimpi tadi itu benar-benar nyata....aku pasti sudah bisa keluar dari rumah sakit sekarang...” gumam Rendra pada dirinya sendiri. “Apa boleh buat. Mana ada tempat yang menyediakan pelayanan pegadaian semacam itu. Ada-ada saja!”

Pemuda itu lalu memejamkan matanya dan segera tertidur.

*****

“Ini sungguh sebuah keajaiban!” seru Yulia.

 “Yah...begitulah,” sahut Rendra singkat. Baginya ini bukanlah sebuah keajaiban, tapi karena dia sudah menggadaikan sesuatu di Pegadaian Semesta.

Namun bagi Yulia, kesembuhan Rendra yang begitu tiba-tiba adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Sehari sebelumnya Rendra masih terbaring lemah di rumah sakit, tapi hari ini dia sudah benar-benar sehat. Dokter yang menangani Rendra saja sampai heran dengan kesembuhannya yang terlalu tiba-tiba.

“Kenapa bisa begitu? Tadi saja dokter sampai memaksamu untuk melakukan pemeriksaan lengkap!” ujar Yulia sambil memandangi Rendra dengan seksama. “Mana ada orang yang tiba-tiba sehat dalam waktu sehari!”

Rendra mengangkat bahunya. Dia sebenarnya ingin menceritakan tentang pertukaran yang dia lakukan di Pegadaian Semesta. Tapi pada akhirnya dia mengurungkan niatnya. Rendra sebenarnya tidak menyangka kalau transaksinya di Pegadaian Semesta itu benar-benar terjadi. Tadinya dia pikir semua itu hanya mimpi belaka.

“Yah. Kurasa yang namanya keajaiban itu memang ada” balas Rendra. Dia benar-benar bahagia. Bukan hanya karena kondisi tubuhnya yang membaik secara tiba-tiba, tapi karena saat ini dia sedang berjalan bersama Yulia.

“Ah! Jangan konyol!” balas Yulia sambil menepuk pundak Rendra. “Tapi biar bagaimanapun, aku ikut gembira karena kau sudah sembuh sekarang. Nah, mulai saat ini kau harus menjaga kesehatanmu.”

“Iya. Iya. Aku tahu. Aku akan menjaga kesehatanku,” ujar Rendra dengan santai.

Sikap Rendra membuat Yulia menyikut pinggang pemuda itu, hingga Rendra mengaduh kesakitan.

“Jawabanmu terdengar sangat tidak serius,” gerutu Yulia. “Aku tidak mau kau sampai masuk rumah sakit lagi!”

Rendra langsung tersenyum mendengar ucapan Yulia. Rendra merasa gembira sekali karena Yulia benar-benar mengkhawatirkan dirinya.

“Oke! Oke!” ujar Rendra sambil nyengir dan menutup sebelah matanya lalu mengangkat sebelah tangannya. “Mulai sekarang aku berjanji untuk selalu menjaga kesehatanku dan berusaha agar tidak membuatmu repot lagi! Bagaimana?”

Yulia langsung mendengus dan memalingkan wajahnya. Rendra berani sumpah kalau dia sekilas melihat rona merah di wajah Yulia.

“I...itu lebih baik!” seru Yulia singkat. Gadis itu lalu menarik lengan Rendra, hingga membuat jantung pemuda itu berdetak 3 kali lebih kencang. “Ayo! Karena kau sudah sehat sekarang, kenapa kita tidak jalan-jalan dan mampir ke beberapa tempat sebelum pulang?”

Tanpa berpikir sama sekali, Rendra langsung menyahut “Tentu saja! Kenapa tidak?”

Ucapan Rendra membuat Yulia langsung berseri-seri. Gadis itu lalu berjalan cepat sambil menarik Rendra menyebrangi sebuah persimpangan jalan di depannya. Rendra dengan segera menyamakan langkahnya agar bisa mengimbangi kecepatan Yulia.

Sekilas ketika dia tengah melewati rambu lalu lintas yang ada di pinggir jalan, Rendra menangkap ada sesuatu yang salah pada lampu yang menyala di rambu lalu lintas itu.  

  Hijau? gumam Rendra dalam hati.

Butuh waktu beberapa detik sampai Rendra menyadari apa artinya itu. Sayangnya ketika dia menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Sebuah bayangan hitam-besar, tampak melesat cepat ke arah dirinya dan Yulia.

“Hah?”

Rendra hanya sempat mengucapkan sepatah kata sebelum seluruh dunia terasa runtuh dan kemudian kehilangan kesadarannya.

*****

Ketika Rendra sadar kembali, dia tahu-tahu sudah dikelilingi oleh banyak orang. Ekspresi wajah orang-orang yang mengerumuninya itu bercampur antara takjub, takut, heran dan mual.

Perlahan-lahan Rendra berusaha menggerakkan tubuhnya. Tapi anehnya, tindakannya itu membuat orang-orang di sekelilingnya langsung bergerak menjauh, bahkan ada yang langsung lari.

Ada apa ini? tanya Rendra dalam hati.

Sambil mengerang pelan, Rendra bangkit dengan bertumpu dengan kedua tangannya. Pemuda itu lalu tertegun melihat pemandangan di sekitarnya. Seluruh aspal tempatnya berbaring tadi tampak berwarna merah karena darahnya sendiri. Rendra lalu memandangi tubuhnya yang juga berlumuran darah.

Apa yang terjadi.....pada....ku....?

Perlahan-lahan Rendra ingat apa yang baru saja terjadi padanya. Dia dan Yulia tadi sedang berlari menyebrang jalan, tapi mereka tidak menyadari kalau lampu lalu lintas masih berwarna hijau. Tapi setelah itu semuanya kabur. Rendra lalu melihat sebuah truk yang tampak parkir melintang di tengah jalan. Seketika itu juga, Rendra menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.

Dia dan Yulia baru saja ditabrak truk!

“YULIA!!!”

Rendra langsung berlari menghampiri kerumunan orang yang berkumpul di satu sisi jalan. Jantung Rendra nyaris berhenti saat itu juga, ketika mendapati Yulia terbaring di atas aspal dengan luka parah di sekujur tubuhnya.

“YULIA!!!” sekali lagi Rendra memanggil nama gadis itu.

Sayangnya Yulia sudah tidak bisa mendengar panggilan Rendra. Tapi Rendra tahu kalau gadis itu masih hidup.

“Apa yang kalian lakukan!? Kenapa bengong saja!!! Panggil ambulans!!!!!” jerit Rendra sambil memeluk tubuh Yulia.

Beberapa orang disekitar Rendra tampak buru-buru mengeluarkan ponsel masing-masing. Sementara itu Rendra terus berusaha memanggil nama Yulia. Rendra saat itu tidak bisa memikirkan apapun kecuali Yulia.

Yulia!! Jangan tinggalkan aku!!!

*****

Rendra berjalan mondar-mandir di dalam lorong rumah sakit. Baru tadi siang dia pergi meninggalkan tempat ini, tapi sekarang dia harus kembali lagi ke tempat itu.

Pikiran Rendra semakin tidak karuan, terutama karena kondisi Yulia sudah sangat kritis saat datang ke ruang UGD. Hal itu membuat hati pemuda itu terasa diiris-iris. Menyaksikan gadis yang dia cintai meregang nyawa di depan matanya adalah sesuatu yang mengerikan.

Tapi di sisi lain Rendra juga bertanya-tanya, kenapa dia selamat tanpa luka sama sekali? Padahal pakaiannya tampak robek-robek tidak karuan dan berlumuran darah.

Kenapa aku bisa selamat!? Aku yakin aku juga tertabrak truk itu! Pakaianku juga jadi tidak karuan seperti ini! Darah juga ada dimana-mana! Tapi kemana semua luka yang seharusnya kuderita? Rendra bertanya pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka di belakang Rendra. Pemuda itu langsung berbalik dan berhadapan dengan seorang dokter yang bertampang murung.

“Dokter! Bagaimana kondisi Yulia?!” seru Rendra tanpa basa-basi.

“Kau harus tabah. Kami sudah berusaha....tapi dengan kondisi separah itu, dia mungkin tidak akan bertahan sampai besok pagi. Kami sudah menghubungi orangtuanya melalui nomor telepon yang kau berikan tadi. Mereka akan segera sampai disini,” ujar dokter itu sambil berjalan melewati Rendra dan menepuk pundak pemuda itu dengan lembut. “Pergilah ke sisinya. Aku yakin dia ingin bertemu denganmu.”

Alih-alih menuruti perkataan dokter itu, Rendra justru berlari melintasi lorong lalu menghambur keluar dari rumah sakit. Begitu sampai diluar, Rendra langsung berseru sekuat tenaga.

“KALAU KALIAN MENDENGARKU!!!! DATANGLAH PADAKU!!! PEGADAIAN SEMESTA!!!”

Rendra menunggu cukup lama. Dia mengabaikan tatapan heran dan takut dari orang-orang di sekitarnya. Tapi tidak terjadi apa-apa.

“Sialan! Kenapa ini bisa terjadi!!??” seru Rendra marah bercampur sedih. Air mata kesedihan mulai mengalir di pipinya. Dia tidak sanggup membayangkan dirinya akan kehilangan Yulia.

“Loh? Kau datang kesini lagi? Ada apa?”

Tiba-tiba Rendra mendengar suara familiar di belakangnya. Dengan segera dia berbalik dan mendapati dirinya sedang berhadapan dengan Renda dan Alex. Pemuda itu juga menyadari kalau dirinya tahu-tahu sudah berada di dalam ruangan Pegadaian Semesta.

“Kalian!!” seru Rendra sambil bergegas menghampiri Alex. “Apa aku bisa menggadaikan sesuatu untuk orang lain?! Apa aku bisa?!”

“Tentu saja bisa. Selama apa yang kau gadaikan dan yang kau minta itu setara,” ujar Alex dengan datar. “Tapi sebelum kau meminta apapun, biar kuberitahu sesuatu padamu. Kejadian yang baru saja menimpa Yulia itu adalah sesuatu yang tidak terelakkan.”

“Apa maksudmu?!” seru Rendra heran.

“Ehm...begini. Beberapa saat setelah kau datang ke Pegadaian Semesta, gadis yang bernama Yulia itu datang ke tempat kami. Dia berniat untuk menggadaikan masa depannya dengan kesembuhanmu. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia bersikeras untuk melakukan pertukaran itu,” ujar Rena sambil berjalan mendekati Rendra. “Jadi kami menukarkan masa depannya untuk mendapatkan tubuh yang tidak bisa sakit milikmu itu. Tubuhmu itu tidak akan pernah sakit dan terluka. Tidak peduli separah apapun penyakit dan luka yang akan kau derita, tubuhmu itu akan segera pulih dalam waktu singkat.”

Rendra tersentak kaget dan mundur perlahan.

“A...apa? Ja...jadi?!”

“Benar. Tubuhmu itu hasil pertukaran yang dilakukan oleh Yulia. Hanya saja dengan menukarkan masa depannya, itu artinya dia menukarkan nyawanya sendiri. Gadis itu sudah kehilangan masa depannya, jadi dia itu bisa mati dalam waktu dekat,” sahut Alex tanpa emosi sama sekali. “Ternyata kematiannya terjadi terlalu cepat. Sayang sekali.”

Rendra langsung berang dan merenggut kerah baju Alex.

“Kurang ajar!!! Kembalikan masa depannya!!!” bentak Rendra.

“Tidak bisa. Dia harus menebus sendiri apa yang dia gadaikan,” balas Alex singkat.

Ucapan Alex membuat Rendra nyaris menghajar pria itu, untung saja Rena buru-buru mencegahnya.

“Jangan mengamuk dulu! Kau masih punya kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya!” seru Rena sambil meraih tangan Rendra. “Ingat! Tubuhmu itu hasil pertukaran yang dilakukan Yulia. Itu artinya kau masih bisa menggadaikan bakatmu untuk kesembuhannya!”

Begitu mendengar perkataan Rena, Rendra langsung melepaskan kerah baju Alex. Ekspresi wajah pemuda itu langsung berubah menjadi lebih cerah.

“Be...benarkah?! Apa aku benar-benar bisa melakukan itu?! Apa dengan menggadaikan bakatku, aku bisa menyelamatkan nyawanya?!” tanya Rendra penuh harap.

“Tentu saja,” ujar Rena sambil nyengir lebar. “Yang perlu kau lakukan adalah meminta pada kami.”

Rendra tidak perlu berpikir dua kali untuk melakukan transaksi kali ini.

“Aku akan menggadaikan bakat musikku supaya Yulia kembali sehat dan bisa bersamaku lagi!” ujar Rendra.

Begitu mendengar ucapan Rendra, Alex langsung mengangkat sebelah tangannya. Pria itu lalu menjentikkan jarinya dan suara letupan keras itu kembali terdengar. Suara itu kembali membuat Rendra menutup kedua telinga dan matanya. Kemudian suara Alex kembali terdengar menggema di dalam kepalanya.

“Pertukaran sudah terlaksana. Nikmatilah sosok Yulia yang sudah sehat kembali.”

Rendra langsung membuka matanya dan segera berlari masuk ke dalam rumah sakit, lalu menghambur ke dalam ruang UGD tempat Yulia berada. Tapi sesampainya dia di ruangan itu, Rendra terpaku ditempat.

Di ruangan itu terdapat beberapa orang perawat, seorang dokter, serta kedua orang tua Yulia. Orang tua Yulia tampak menangis sedih, sementara dokter yang menangani gadis itu tampak muram.

Seketika itu juga Rendra sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi. Kepalanya langsung berputar-putar. Dia lalu menatap ke arah dipan, ke arah sosok Yulia yang terbaring kaku, dengan sepotong kain putih yang menutupi wajahnya.

Tidak! Tidak! TIDAK!! Ini tidak mungkin terjadi!! Aku baru saja meminta agar nyawanya bisa diselamatkan! Ini tidak mungkin!!

 “YULIA!!” seru Rendra pilu sambil berlari menghampiri tubuh Yulia yang sudah kaku.

 “Tidak usah teriak-teriak. Aku tidak tuli!” ujar Yulia dari balik kain putih yang menutupi wajahnya. Gadis itu lalu bangun perlahan-lahan.

Seketika itu juga, semua orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget. Salah seorang perawat malah langsung pingsan. Tapi Rendra justru menghambur ke arah Yulia dan memeluknya, tanpa mempedulikan kalau di sampingnya ada orang tua dari gadis itu. Rendra tidak bisa menahan rasa bahagia karena harapannya benar-benar terwujud. Yulia benar-benar kembali sehat! Seluruh luka di tubuh Yulia kini sudah menghilang, meski bercak-bercak darah masih memenuhi tubuh gadis itu.

“Hei! Lepaskan! Disampingmu itu ada ayah dan ibuku! Dasar bodoh!” seru Yulia sambil berusaha melepaskan pelukan Rendra. Tapi pada akhirnya dia malah balas memeluk tubuh Rendra dengan lembut. “Aku senang kau selamat. Tadinya kupikir kau akan mati bersama diriku. Tapi rupanya apa yang kuminta Pegadaian Semesta itu benar-benar terwujud ya.”

Rendra mengangguk. Dia benar-benar bersyukur karena Pegadaian Semesta itu benar-benar nyata. Tapi ketika Rendra memeluk tubuh Yulia, dia merasakan ada sesuatu yang salah dengan tubuh gadis itu. Perlahan-lahan Rendra melepaskan pelukannya.

“Yulia? Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan tubuhmu?” tanya Rendra sambil meraih pergelangan tangan gadis itu.

“Hah? Apa maksudmu?” balas Yulia keheranan. “Aku baru saja bangkit dari kematian dan seluruh lukaku sembuh seketika. Apa kau pikir itu tidak cukup aneh?”

Rendra masih terdiam dan perlahan-lahan wajahnya menjadi pucat ketika menyadari apa yang salah pada tubuh Yulia. Dengan suara bergetar, pemuda itu berkata pada gadis yang dia cintai itu.

“Yu....Yulia.....tanganmu dingin. Nadimu tidak berdenyut. Dan ketika memelukmu tadi....a....aku tidak mendengar suara detak jantungmu....” ujar Rendra terbata-bata karena shock. “A...apa yang terjadi pada tubuhmu?!”

Yulia hanya bisa melongo ketika mendengar perkataan Rendra.

*****

“Apa maksudnya ini!!!??”

Rendra berseru keras sambil menggebrak meja resepsionis di depannya. Pemuda itu benar-benar jengkel karena merasa dipermainkan oleh Alex, sang manajer Pegadaian Semesta.

“Kenapa? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?” tanya Alex dengan nada datar seperti biasa. “Yulia Irawati sudah sehat kembali, bahkan bangkit dari kematiannya. Apa itu tidak cukup? Kalau itu tidak cukup, kau harus menggadaikan lebih banyak benda lagi.”

Rendra ingin sekali melompat ke balik meja resepsionis itu dan menghajar Alex hingga babak belur, tapi dia masih berusaha menahan diri.

“Tenang...tenang! Jangan marah-marah begitu dong,” ujar Rena dengan santai.

“Apa yang sebenarnya kalian lakukan pada Yulia?! Dia memang hidup kembali dan sudah sembuh dari semua lukanya! Tapi kenapa tubuhnya tetap ‘mati’?! Jantungnya tidak berdetak, nadinya tidak berdenyut, dan tubuhnya terasa dingin?!” seru Rendra pada Rena.

Rena langsung terlihat salah tingkah. Begitu mendengar ucapan Rendra.

“Ehm...begini....ada.....sedikit masalah waktu kau meminta agar Yulia sehat kembali. Kau tahu? Saat kau selesai melakukan pertukaran dengan kami, gadis itu baru saja meninggal. Tapi berhubung kami tidak bisa membatalkan kontrak denganmu, jadi kami berikan gantinya. Yulia tetap kami bangkitkan kembali dari kematian, tapi tidak sepenuhnya ‘hidup’, berhubung harga nyawa seseorang itu mahal sekali dan hanya bisa dibayar dengan nyawa, atau yang setara. Bakat yang kau gadaikan tentu tidak cukup untuk membayar nyawa gadis itu,” ujar Rena dengan nada ragu, tapi dia lalu nyengir lebar. “Yah, lihat sisi baiknya! Dengan tubuh yang seperti itu, kau kan jadi abadi. Dan berhubung Yulia juga tidak sepenuhnya ‘hidup’, dia juga tidak bisa mati lagi dengan cara biasa. Bukankah itu bagus sekali?”

Rendra langsung menggebrak meja lagi dengan marah.

“Apanya yang bagus?! Kami jadi seperti monster sekarang!!!” bentak Rendra lagi, tapi kali ini suaranya mulai bergetar karena sudah bingung, apakah ingin marah atau ingin menangis.

“Apa kau ingin mendapatkan tubuhmu dan nyawa Yulia kembali?”

Tiba-tiba Alex berbicara dengan nada datarnya yang khas.

“Hah?” balas Rendra.

“Kalau kau menggadaikan 100 tahun pengabdianmu dan pengabdian Yulia padaku, aku akan mengembalikan kondisi tubuhmu dan nyawa gadis itu seperti semula. Tapi tentu saja setelah masa pengabdian kalian berdua berakhir,” ujar Alex sambil menatap mata Rendra.

Rendra membalas pandangan Alex dengan tatapan marah bercampur pasrah. Pemuda itu akhirnya menunduk lesu dan berkata dengan nada muram. “Ba.....baiklah....aku akan menggadaikan 100 tahun pengabdianku dan Yulia untukmu.....”

Mendengar ucapan Rendra, Alex langsung mengangkat sebelah tangannya ke udara. Sambil menjentikkan jarinya dengan keras, Alex berbicara lagi. Tapi kali ini Rendra berani sumpah kalau dia mendengar nada gembira atau penuh kemenangan dalam nada bicara pria itu.

“Selamat datang di Pegadaian Semesta, Rendra Irwansyah dan Yulia Irawati. Selamat menikmati waktu 100 tahun pengabdian kalian pada kami berdua.”

Dengan ngeri Rendra menyaksikan senyum menakutkan terukir di wajah Alex.

*****

~FIN???~

 

 

No comments: