Tuesday, January 10, 2012

[Tantangan Kencan Fantasi]: Cinta Tak Kenal Batas

Gie Yume berlari dengan langkah ringan menyusuri lorong istana. Gadis bertubuh mungil itu sedang merasa sangat gembira hari ini. Senyum manis terus tersungging di wajahnya yang cantik, meski terlihat kekanakan. Ekor Gie yang panjang dan berbulu lembut tidak henti-hentinya bergoyang ketika dia berlari.
Ketika Gie berlari menyusuri lorong istana, semua yang berpapasan dengannya langsung memberi hormat sambil menyapa dengan sopan. Gie segera membalas hormat mereka dengan senyuman manisnya, tapi dia sama sekali tidak mau memperlambat langkahnya.
Dia tidak mau sampai melewatkan salah satu saat-saat terbaik yang sudah tidak tunggu-tunggu selama beberapa hari ini.
Tidak butuh waktu lama sampai putri Kerajaan Gilvana itu tiba di pintu gerbang istananya. Di tempat itu rupanya sudah berkumpul para prajurit dan ksatria kerajaan yang mengenakan armor lengkap, serta memegang panji-panji kerajaan. Mereka semua berbaris berjajar di sisi kiri dan kanan jalan utama kastil. Diantara barisan itu, terlihat pula beberapa orang ksatria elit kerajaan yang duduk dengan gagah di atas kuda perang mereka.
Ketika Gie datang, seorang ksatria elit bertubuh besar tampak menghampiri gadis itu.
“Apa mereka sudah datang?” seru Gie pada ksatria itu.
“Belum. Anda datang tepat waktu, tuan putri,” ujar ksatria itu sambil menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.
Gie langsung bersorak gembira.
“Bagus!” Dia lalu memandangi barisan ksatria dan prajurit di hadapannya, kemdian gadis itu bertanya lagi pada si ksatria. “Ehm....dimana tempat aku bisa melihat iring-iringan nanti?”
Sang ksatria elit langsung melambaikan tangannya ke arah sebuah kuda perang yang tampak tanpa penunggang.
“Saya sudah mempersiapkan tunggangan untuk anda, tuan putri,” ujar ksatria elit itu sambil tersenyum ramah. “Anda pasti bisa melihat sosok yang anda kagumi lebih jelas, kalau anda menunggangi kuda saya.”
“Terima kasih!”
Gie segera berlari menghampiri kuda perang itu dan langsung menaikinya, tentu saja dengan dibantu oleh seorang prajurit yang memegangi tali kekang kuda tersebut.
Tepat ketika sang putri menaiki kuda perangnya, suara terompet kerajaan bergema di seluruh istana. Gie langsung menoleh ke arah gerbang istana dan melihat iring-iringan prajurit dan ksatria datang memasuki istana. Mereka semua tampak lelah dan beberapa bahkan terluka, tapi wajah para prajurit dan ksatria itu tetap terlihat tegar. Bahkan ekspresi lega, gembira dan bangga terlukis di masing-masing wajah mereka karena telah berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik.
Pasukan itu adalah pasukan yang dikirim untuk menumpas gerombolan bandit gunung yang sudah meresahkan warga di sisi Utara Kerajaan Gilvana. Tapi kini gerombolan bandit itu sudah tinggal sejarah karena Satuan Silveria, pasukan elit Kerajaan Gilvana, telah menghabisi sebagian besar dari mereka.
Sambil mengamati iring-iringan pasukan itu, Gie mencari-cari sosok yang telah dia tunggu-tunggu selama beberapa hari. Tidak sulit bagi putri itu untuk menemukannya, karena sosok yang dia cari itu adalah seorang ksatria muda yang mengenakan armor berwarna hitam.
Sosok ksatria muda itu terlihat gagah diatas kuda perangnya, yang juga mengenakan armor serba hitam. Sebilah pedang tampak terselip di sabuk pinggangnya, sementara sebuah kapak perang tergantung di sisi kiri kuda perang sang ksatria.  Ekspresi wajah ksatria muda itu memang terlihat keras, tapi tatapan matanya tampak lembut.
“Bing~!!”
Gie berseru pada sang ksatria muda sambil melambaikan tangannya. Ketika Gie berseru, kuping kucing sang ksatria muda itu langsung bergerak. Dia lalu tersenyum tipis ke arah Gie, tapi ksatria bernama Bing itu terus berderap dengan kudanya menuju ke arah halaman aula utama.
Ketika melihat sosok Bing yang tampak sehat, tanpa luka sedikitpun, Gie langsung bersyukur pada para Dewa. Dia bersyukur karena sosok ksatria yang dia kagumi, dan dia cintai itu, kembali dari medan pertempuran dengan selamat.
Perlahan-lahan Gie menyentuh liontin yang dia kenakan di balik gaunnya.
Syukurlah kau kembali dengan selamat, Bing, ujar Gie dalam hati.
****

Bing Babyshark berlutut di hadapan Raja Kerajaan Gilvana. Ksatria muda itu baru saja kembali dari misi yang diberikan kepadanya, untuk mengamankan wilayah Utara kerajaan dari para bandit gunung. Tentu saja dia berhasil menjalankan misinya dengan baik, terutama berkat bantuan rekan-rekan terlatihnya yang gagah berani.
“Jadi...kau berhasil menumpas mereka semua?” tanya sang Raja pada Bing.
Kuping kucing ksatria muda itu sempat menegak sejenak, lalu terkulai lagi.
“Maafkan hamba paduka. Hamba berhasil menumpas sebagian besar anggota bandit gunung itu beserta pimpinannya. Namun...” Bing berhenti sejenak karena ragu, tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk melanjutkan perkataannya. “....namun hamba gagal menghabisi beberapa orang penting dari kelompok bandit itu. Hamba sudah menyuruh beberapa orang pemburu, penjaga hutan dan ksatria elit untuk memburu mereka. Tapi sampai sekarang kami belum bisa menemukan mereka.”
Sang Raja yang sudah berumur cukup tua langsung mengelus janggut hitamnya.
“Begitu? Tidak masalah. Mereka akan tertangkap dan berakhir di panggung eksekusi tidak lama lagi. Hanya masalah waktu saja,” ujar sang Raja sambil berdiri dari singgasananya. Dia lalu berjalan turun dan menghampiri Bing sambil menepuk bahu ksatria itu. “Berdirilah! Kau sudah menjalankan misimu dengan baik. Kabarkan pada rekan-rekanmu. Mereka akan diberi imbalan yang pantas dan diperbolehkan bersenang-senang sampai 2 minggu ke depan. Nah. Sekarang kau boleh beristirahat.”
Ksatria Bing segera berdiri perlahan-lahan dan menatap wajah sang Raja yang berdiri di hadapannya.
“Terima kasih banyak, Yang Mulia!” ujar Bing. Dia lalu memberi hormat kepada sang Raja, kemudian berbalik dan meninggalkan ruang singgasana raja.
Tapi ksatria itu baru saja berjalan keluar ruangan beberapa langkah, ketika seseorang menubruknya dari belakang. Tentu saja karena dia sedang mengenakan baju baja, orang yang telah menabraknya itulah yang kesakitan.
“Aduuuh~~!”
Bing langsung berbalik dan mendapati sosok yang begitu dia kenal, sedang duduk di lantai. Sosok itu tidak lain adalah Gie Yume, putri Kerajaan Gilvana. Melihat sang putri tampak sedang kesakitan, Bing langsung khawatir.
“Anda tidak apa-apa tuan putri?” tanya Bing.
Pertanyaan Bing justru membuat Gie langsung merengut. Begitu melihat ekspresi wajah sang putri, Bing sang ksatria muda langsung tersenyum.
“Kamu tidak apa-apa, Gie?” tanya Bing lagi.
Kali ini ucapan Bing langsung membuat Gie balas tersenyum lebar. Putri itu segera berdiri dan memeluk tubuh ksatria yang ada di hadapannya.
“Bing! Syukurlah kau kembali dengan selamat!” seru Gie dengan penuh rasa lega.
“Aku pulang, Gie,” balas Bing dengan lembut sambil menepuk kepala sang putri.
Gie tersenyum girang dan mengibaskan ekornya. Gadis itu lalu melepaskan pelukannya dan memandangi sosok Bing yang masih mengenakan baju perangnya. Selama beberapa detik, dia terdiam.
“Bing. Apa besok kau ada waktu luang?” tanya Gie dengan penuh harap.
“Tentu saja. Yang Mulia memberi kami waktu istirahat sampai 2 minggu ke depan. Jadi tentu saja aku ada cukup waktu luang,” balas Bing. Dia lalu menambahkan sambil mengedipkan sebelah matanya. “Dan tentu saja aku akan selalu punya waktu luang untukmu.”
Wajah Gie langsung memerah karena malu dan gadis itu meninju dada Bing, tapi dia langsung mengaduh kesakitan karena tinjunya menghantam baju baja sang ksatria. Tapi putri bertubuh mungil itu lalu berjalan mundur menjauhi Bing.
“Kalau begitu, aku akan menemuimu besok pagi di Aula Ksatria. Jangan lupa kenakan pakaian terbaikmu!” seru sang putri sebelum berbalik dan berlari kecil meninggalkan Bing sendirian. Ekor Gie yang berbulu lembut tidak henti-hentinya bergoyang ketika dia berlari.
Bing hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang putri. Tapi senyuman Bing perlahan-lahan memudar. Gie memang sosok yang bisa membuat semua orang terpana dan terpikat, termasuk dirinya. Sejak Bing diangkat menjadi Ksatria Elit di Satuan Silveria dan ditempatkan di istana, dirinya sudah jatuh cinta pada sang putri. Hanya saja ada masalah yang membuat ksatria muda itu tidak berani menyatakan cintanya pada Gie, selain statusnya tentu saja.
Masalah itu pula yang membuat Bing merasa tidak pantas untuk dicintai oleh Gie. Tapi sayangnya dia tidak bisa menipu dirinya sendiri. Dia sangat mencintai Gie dan bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri bagi sang putri.
Apa yang sebaiknya kulakukan, Gie....gumam Bing dalam hati.
****
“Bing!” Gie berseru dengan nada jengkel. Kuping dan ekornya terangkat tegak menandakan kalau dia memang sedang kesal.
“Apa?” balas Bing singkat.
“Kan aku sudah menyuruhmu memakai pakaian terbaikmu! Kenapa kau malah berpakaian seperti itu?” seru Gie lagi sambil menunjuk ke arah Bing.
“Ini kan salah satu pakaian terbaik yang aku punya,” kilah Bing.
Sebenarnya perkataan Bing tidak salah juga. Saat ini dia sedang mengenakan setelan baju dilengkapi armor ringan yang biasa dia kenakan sehari-hari. Penampilan Bing sebenarnya cukup untuk membuat para gadis berseru kagum, tapi tidak dengan Gie. Putri itu malah jengkel karena Bing tetap berkeras mengenakan baju bajanya, lengkap dengan pedang kebanggannya. Padahal Gie sendiri sudah mengenakan salah satu setelan baju favoritnya demi menyenangkan Bing.
“Ya sudahlah! Ayo kita pergi!” ujar Gie pada akhirnya. Dia lalu menarik tangan Bing dan memaksa ksatria muda itu untuk mengikutinya.
Keduanya lalu berjalan menuruni bukit, tempat istana Kerajaan Gilvana berdiri, menuju ke arah kota yang terletak tidak jauh dari sana. Langkah Gie yang ringan dan cepat membuat Bing terpaksa mempercepat langkahnya juga untuk mengimbangi sang putri.
Suasana kota pagi itu sama seperti biasanya. Ramai. Jalanan utama kota Tiernog seperti biasanya dipenuhi oleh berbagai macam orang yang lalu lalang. Kereta kuda dan karavan sesekali melintas di jalanan ibukota Kerajaan Gilvana itu. Deretan pertokoan tampak berjejer rapi di sisi jalan dan berbagai jenis pedagang asongan sesekali terlihat menggelar dagangannya di tepi jalan.
Wajah Gie tampak gembira dan putri kerajaan itu sesekali berhenti di depan toko atau gerobak pedagang asongan yang ada di sisi jalan. Dia tampak tertarik dengan berbagai macam barang yang ditawarkan oleh para pedagang.
“Bing! Coba lihat ini!” Gie berseru sambil mengangkat sebuah benda yang dijual di sebuah kios kecil. Bing mengernyit ketika melihat benda itu. Benda yang diangkat putri Gie adalah awetan kepala troll yang diciutkan hingga hanya sebesar kepalan tangan.
“Ugh....jelek sekali...” celetuk Bing.
“Benarkah? Menurutku ini cukup keren,” balas Gie sambil mengamati barang mengerikan itu tanpa rasa takut sama sekali. “Kata penjualnya ini bisa membawa keberuntungan bagi yang menyimpannya.”
Yang benar saja, celetuk Bing dalam hati, sambil melirik ke arah penjual benda mengerikan itu dengan tatapan tidak percaya.
Bing mendesah. Putri Gie memang adalah sosok yang cantik, menawan, ceria dan baik hati. Hanya saja selera sang putri memang tidak wajar. Gie selalu menyukai benda-benda eksotis yang seringkali tampak sangat mengerikan di mata orang lain. 
Kamar putri Kerajaan Gilvana itu saja dipenuhi oleh terlalu banyak benda-benda menyeramkan, hingga daripada kamar seorang putri, kamar Gie lebih mirip kamar seorang Necromancer. Dan harus Bing akui, beberapa barang yang disimpan di kamar Gie memang peralatan ritual Necromancer atau Warlock sungguhan. Tentu saja para Necromancer dan Warlock kerajaan sudah menyegel atau menghapus kekuatan sihir di benda-benda ritual itu, sebelum merelakan benda-benda itu diminta oleh putri Gie. Mereka sangat menyayangi putri kerajaan mereka itu dan tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya, terutama dikarenakan selera sang putri yang memang tidak normal.
“Bing! Sudah kuputuskan!”
Tiba-tiba Gie berseru dan membuat Bing terkesiap.
“Aku akan memberikan ini sebagai hadiah karena kau sudah pulang dengan selamat!”
Gie tersenyum lebar sambil menyodorkan awetan kepala troll yang dia pegang ke arah Bing. Meski sambil mengernyitkan dahi, Bing terpaksa menerima hadiah mengerikan itu. Dia tidak mau mengecewakan sang putri dengan menolak pemberiannya.
“Terima kasih tuan putri....hamba tersanjung sekali....” ujar Bing sambil menunduk hormat. Sekilas mata ksatria muda itu melirik ke arah awetan di tangannya, sementara kuping kucing dan ekor panjangnya terkulai lemas. Selama beberapa detik, Bing mengendus awetan itu dengan hidungnya yang peka, berusaha mencium kalau-kalau ada sesuatu yang salah dengan benda itu. Tapi dia tidak mencium apapun selain wangi rempah-rempah bercampur balsam yang digunakan untuk mengawetkan kepala troll itu.
Jangan sampai benda ini hidup nanti malam dan mencoba menggigit leherku! Bing menggerutu dalam hati.
Dia memang pernah mengalami hal semacam itu, ketika Gie memberinya awetan hewan besar yang mirip seekor macan kumbang, hanya saja dengan tubuh dipenuhi duri tajam. Awetan hewan itu tiba-tiba saja jadi hidup suatu malam dan nyaris menghabisi nyawa Bing, kalau saja dia tidak sengaja terbangun malam itu.
Selesai memberi Bing hadiah yang cukup mengerikan, Gie lalu mengajak ksatria muda itu berkeliling kota. Seperti layaknya seorang gadis, Gie berkali-kali berhenti di toko aksesoris dan pakaian. Gadis itu terlihat bahagia sekali karena bisa menghabiskan waktunya bersama sosok yang dia kagumi, dan dia cintai. Bing juga begitu. Dia juga sangat menikmati saat-saat seperti ini, ketika dia dan Gie menghabiskan waktu bersama.
Tapi karena terlalu gembira, Bing tidak menyadari kalau putri Gie sudah mengajaknya berjalan melalui wilayah berbahaya di kota Tiernog. Meskipun ibukota kerajaan itu pada dasarnya adalah tempat yang damai dan aman, tapi seperti halnya semua kota di dunia, selalu saja ada satu-dua bagian kota yang sebaiknya tidak dikunjungi. Bing segera menyadari hal itu ketika melewati sebuah bar yang terlihat kumuh.
“Gie!” seru Bing sambil menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Gie kebingungan.
“Tempat ini tidak aman untukmu. Sebaiknya kita pergi secepatnya dari sini,” ujar Bing sambil berjalan cepat mendekati Gie. Kedua kupingnya tampak sibuk bergerak-gerak untuk menangkap suara apapun yang terdengar mencurigakan.
“Kenapa memangnya dengan tempat ini?” tanya Gie lagi.
“Tempat ini berbahaya. Ini adalah daerah ‘hitam’ di kota Tiernog. Ada banyak penjahat berkeliaran di tempat ini. Bahkan para ksatria enggan masuk sendirian ke daerah ini,” ujar Bing dengan nada tinggi. “Ayo!”
Tapi sebelum keduanya sempat berjalan terlalu jauh, tiba-tiba sesosok pria berwajah mirip gorila dan berlulu lebat menghalangi jalan. Begitu melihat pria itu, Bing langsung tahu kalau dirinya sedang dalam masalah.
Bing segera berbalik dan menarik tangan Gie, tapi jalan lainnya juga sudah dihadang oleh para pria bertampang sangar. Total ada 6 orang yang menghadang Bing dan Gie dan jelas mereka sama sekali tidak bermaksud baik. Di tangan masing-masing orang itu sudah tergenggam sebilah pedang. Bing sendiri sedari tadi sudah mencabut pedangnya dan mengacungkannya di depan wajahnya.
“Minggirlah! Aku tidak ingin ada masalah disini!” seru Bing dengan nada tegas kepada orang-orang yang mengepungnya. “Apa kalian tidak tahu aku adalah Ksatria dari Satuan Silveria? Kalau kalian tidak mau mati, menyingkirlah sekarang dan sarungkan pedang kalian!”
Alih-alih ketakutan, orang-orang yang mengepung Bing dan Gie justru tertawa terbahak-bahak.
“Justru karena tahu kau adalah Ksatria Satuan Silveria kami mengepungmu,” geram salah seorang dari pada pengepung Bing dan Gie. “Kau pikir kau bisa bebas begitu saja setelah kau menghancurkan kelompok kami?! Kami akan memburumu sampai ke ujung dunia kalau perlu!”
Bing memicingkan matanya dan mengubah kuda-kudanya. Dia tahu sekarang dirinya sedang berhadapan dengan siapa. Orang-orang ini sepertinya adalah sisa-sisa bandit gunung yang baru-baru ini berhasil dia tumpas bersama satuannya. Rupanya mereka mengejar Bing dan satuannya hingga ke ibukota untuk membalas dendam.
Gawat....ini tidak bagus! ujar Bing dalam hati.
“Jadi kalian berniat balas dendam?” ujar Bing sambil sekilas melirik ke arah Gie. Putri kerajaan itu tampak ketakutan dan bersembunyi di balik Bing. “Biar kuperingatkan. Sebelum kepala kalian menggelinding di tanah, lebih baik kalian semua pergi, lalu berhentilah menjadi penjahat!”
“Mengancam kami? Hah! Itu tidak akan berhasil!” seru si manusia berwajah gorila sambil mengangkat pedang besarnya. “Bunuh ksatria sial ini, lalu kita bisa jual wanitanya ke pasar budak!”
“Bing!!” Gie berseru ketakutan ketika melihat lawan-lawannya menerjang maju.
Bing sendiri langsung melompat maju ke arah salah satu lawannya dan mengayunkan pedangnya. Darah langsung menyembur ketika pedang Bing menebas tubuh lawannya itu. Tanpa berhenti, Bing melanjutkan serangannya. Bagaikan menari, Bing mengayunkan pedangnya dan menebas lawan-lawannya. Dalam waktu singkat tiga orang bandit gunung yang mengepungnya sudah terkapar tidak bernyawa di tanah.
Tapi karena terlalu sibuk menyerang dan mempertahankan diri, Bing melupakan sosok Gie yang ada di dekatnya. Akibatnya seorang lawannya berhasil menyelinap dan menjadikan sang putri sebagai sandera.
“Jangan bergerak atau leher wanita ini akan kugorok!” seru bandit yang menyandera Gie.
Bing langsung menoleh ke arah Gie dan terkejut bukan main. Tapi gara-gara itu dia jadi lengah. Salah seorang lawannya memanfaatkan kesempatan itu dan berhasil menahan pedang Bing, lalu menendang tubuh ksatria muda itu cukup keras hingga dia terlempar ke dinding.
“Agh!!” jerit Bing kesakitan. Ksatria itu berusaha bangkit dengan segera, sayangnya salah seorang bandit gunung yang menyerangnya segera mengacungkan pedangnya ke leher Bing.
“Kena juga kau!!” seru bandit yang mengacungkan pedangnya. Pria bertubuh kekar itu tampak gembira karena telah berhasil memojokkan lawannya. “Tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu cepat-cepat. Aku ingin kau menderita dulu sebelum mati!”
Bing memandangi lawannya itu dengan tatapan tajam. Dia sebenarnya tidak takut dengan ancaman sang bandit, hanya saja ksatria itu tidak mau Gie yang sedang disandera mengalami luka karena perlawanannya.
“Bing! Hajar dia! Jangan khawatirkan aku!”
Putri Gie berseru nyaring tanpa memperdulikan posisinya yang sedang terjepit. Bing terkejut karena melihat sang putri tampak tidak takut dengan bilah pedang yang menempel di lehernya.
“Tapi!” balas Bing ragu.
“Jangan macam-macam!! Kau mungkin bisa lolos, tapi wanitamu tidak akan lolos!” ancam bandit yang memojokkan Bing. “Sekarang jatuhkan pedangmu atau temanku akan menggorok leher wanita itu!”
Bing mengepalkan tangan karena geram, tapi akhirnya dia menyerah. Biar bagaimanapun lebih baik dia mati daripada membiarkan Gie terluka. Bing baru saja akan menyerah ketika hembusan angin lembut tiba-tiba saja bertiup berputar di sekitarnya. Dengan heran ksatria muda itu mengikuti arah datangnya angin dan terkejut bukan main, ketika melihat tubuh putri Gie bercahaya.
Bandit yang menyandera Gie tampak kaget dan bingung setengah mati. Tapi berkat itu, pedang yang tadinya tertempel di leher sang putri, kini bergeser sedikit. Kesempatan itu dimanfaatkan Gie dengan sebaik-baiknya.
Wahai angin! Jadilah sekutuku dan hempaskan musuh-musuhku!!
Gie berseru nyaring dalam bahasa yang tidak dikenal Bing. Sedetik kemudian tubuh sang putri diselimuti tornado mini yang membuat semua bandit yang ada disekitarnya beterbangan bagaikan dedaunan. Tubuh mereka terhempas ke segala arah dan semuanya langsung tidak sadarkan diri ketika mendarat dengan keras. Meski dahsyat, tapi anehnya angin tornado itu tidak membuat Bing ikut terlempar. Angin itu justru berputar lembut di sekitar tubuh sang ksatria sebelum akhirnya menghilang begitu saja.
Sihir?! Seru Bing kaget dalam hati. SIHIR?!
Bing hanya bisa terpaku melihat kejadian itu. Dia sama sekali tidak mengira kalau Gie, yang selama ini dia sangka hanya seorang putri yang lemah, ternyata menguasai sihir hingga tingkat seperti itu.
“Ayo Bing! Kita lari sekarang!” seru putri Gie sambil menarik tangan Bing.
Bing yang masih kebingungan hanya bisa pasrah dan membiarkan Gie menarik tangannya. Keduanya lalu lari secepat mungkin, meninggalkan wilayah berbahaya kota Tiernog. Sambil berlari Bing terus bertanya-tanya dalam hati.
Sejak kapan Gie menguasai sihir seperti itu?! ujar Bing dalam hati.
****
Setelah berhasil melarikan diri, Bing dan Gie akhirnya sampai di sebuah taman yang berada tidak jauh dari pusat kota Tiernog. Gie tampak kelelahan setelah berlari cukup lama. Putri Kerajaan Gilvana itu tampak berbaring di atas rumput sambil terengah-engah.
“Akhirnya kita lolos juga!” ujar Gie sambil tersenyum lebar, sementara Bing masih memandanginya dengan tatapa tidak percaya.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Bing melontarkan pertanyaan pada Gie.
“Gie....sejak kapan kau....”
“Sejak setengah tahun yang lalu,” potong Gie sebelum Bing sempat menyelesaikan kalimatnya. “Aku belajar sihir elemental dari Rhendie, sang Seal Master. Yah....harus kuakui aku juga belajar sedikit sihir hitam dari Smith, sang Death Bringer. Tapi yang barusan itu sihir elemental kok.”
Bing semakin terkejut lagi mendengar pengakuan Gie. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Gie rupanya benar-benar mempelajari sihir dari seorang Warlock dan Necromancer istana.
“Untuk apa?!” seru Bing dengan kedua kuping tegak karena kesal bercampur kaget. “Untuk apa kau belajar sihir? Itu...itu tidak pantas! Seorang putri pewaris kerajaan tidak pantas menggunakan sihir! Apalagi kalau itu sihir hitam!”
Gie langsung merengut mendengar seruan Bing. Putri itu langsung berdiri di hadapan sang ksatria muda. Kuping anjing dan ekornya tampak tegak karena emosi.
“Memangnya kenapa kalau aku belajar sihir untuk melindungi diriku sendiri dan....” Gie berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya lagi. “...dan untuk melindungi dirimu! Ya! Aku belajar sihir demi kau!!”
Bing semakin terkejut lagi mendengar pengakuan dari Gie.
“A....apa?” tanya Bing tergagap.
“A....aku harus mengakui sesuatu....” ujar Gie dengan suara lirih. “Setiap kali kau pergi bertugas, aku merasa sangat khawatir karena tidak bisa melakukan apapun untuk dirimu. Setiap kali kau mengangkat pedangmu demi negeri ini, aku hanya bisa diam di dalam istana dan menunggumu pulang. Aku tidak mau itu! Aku ingin bersamamu! Aku ingin bersama dirimu menempuh tugas-tugas berbahaya demi Kerajaan Gilvana! Aku tidak ingin terpisah darimu walau sedetikpun!!”
Bing makin terkejut ketika mengetahui perasaan Gie kepadanya. Rupanya putri itu juga mencintainya. Bing sebenarnya merasa gembira sekali ketika mendengar hal itu, tapi dengan segera dia kembali murung karena teringat satu masalah yang menghalangi cintanya.
Ksatria muda itu lalu menyentuh pundak Gie dengan kedua tangannya.
“G...Gie....aku ingin mengakui sesuatu....aku....aku....” Kata yang ingin diucapkan Bing terasa berat di tenggorokannya. Dia ingin mengakui bahwa dirinya sudah cukup lama menyimpan rahasia dari sang putri. Tapi dia sulit sekali mengatakan kebenaran itu.
“Apa?” tanya Gie penasaran.
Bing lalu membulatkan tekadnya dan menatap lurus ke arah mata Gie yang berbinar-binar.
“Gie...aku juga tidak ingin terpisah dari dirimu! Aku ingin selalu bersamamu! Hanya saja...” Bing berhenti sejenak. “Aku tidak pantas bersamamu.”
Gie langsung tersentak dan berseru marah.
“Kenapa?! Karena perbedaan status kita? Itu tidak pernah menjadi masalah bagiku!” seru Gie emosi.
“Bukan itu!” balas Bing.
“Lalu apa?!” sahut Gie dengan nada tinggi.
“Gie! Aku ini sebenarnya adalah seorang wanita!” seru Bing dengan nada penuh penyesalan. “Maafkan aku karena telah menipumu dan seluruh istana. Tapi itu adalah kenyataan. Aku sebenarnya adalah seorang wanita! Aku berpakaian seperti ini supaya orang-orang tidak memandang rendah diriku! Maafkan aku....sekali lagi maafkan aku.....”
Bing langsung tertunduk lesu. Dia sudah mengakui kalau dirinya sudah menipu semua orang di istana, termasuk Gie, orang yang dia cintai. Ksatria muda itu merasa begitu malu hingga dia ingin sekali mencabut pedangnya dan menusuk perutnya sendiri. Tapi dia tidak melakukan itu dan hanya terdiam. Air mata tanpa sadar bergulir di pipi Bing.
“Bing....”
Sentuhan lembut Gie di kepala Bing membuat ksatria muda itu menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah Gie. Putri pewaris Kerajaan Gilvana itu tampak sedang tersenyum lembut ke arahnya.
“Aku sudah tahu sejak cukup lama kalau kau sebenarnya adalah seorang wanita. Maafkan aku karena aku tidak pernah memberitahumu, kalau aku sebenarnya sudah mengetahui rahasiamu,” ujar Gie dengan lembut. “Biarpun kau seorang wanita, tapi kau tetap orang yang paling berarti bagiku.”
 Bing kembali terkejut dengan ucapan Gie. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sang putri sudah mengetahui rahasianya. Tapi tetap saja ksatria muda itu merasa dirinya tidak pantas untuk bersama dengan sang putri.
“Tapi....ini tidak pantas!” seru Bing lagi. “Seorang putri kerajaan tidak seharusnya jatuh cinta pada seorang ksatria muda...yang juga sesama wanita!! Gie!! Aku.....”
Seruan Bing terhenti ketika bibir Gie menempel di bibirnya. Kedua mata ksatria muda itu terbelalak lebar. Kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi bagi Bing itu rasanya bagaikan beberapa jam. Putri Gie lalu mundur beberapa langkah sambil tetap tersenyum manis ke arah Bing, sang ksatria muda.
“Aku sudah bilang meskipun kau wanita, aku tetap tidak akan berhenti menganggapmu sebagai orang yang paling berarti bagiku,” ujar Gie dengan lembut. Senyuman tulus dari putri cantik itu benar-benar bisa membuat siapapun jatuh hati seketika. Senyuman itulah yang membuat Bing jatuh cinta pada sang putri.
“Gie....” gumam Bing.
“Lagipula.....”
Gie tiba-tiba menghentikan ucapannya lalu terdiam dan menunduk sejenak. Tapi tiba-tiba saja putri pewaris Kerajaan Gilvana itu kembali mengangkat wajahnya. Anehnya kini senyuman Gie sudah digantikan dengan sebuah cengiran lebar.
“Gie?” tanya Bing heran.
“Lagipula......aku ini sebenarnya seorang laki-laki,” ujar Gie dengan riang. “Jadi tidak masalah kan kalau kau tetap bersamaku?”
Kali ini Bing tidak mampu berkata apapun. Ksatria muda itu hanya terbelalak lebar sambil melongo ketika mendengar pengakuan dari sang putri. Tadinya Bing mengira kalau itu hanya akal-akalan Gie untuk membuatnya shock. Tapi tatapan mata Gie begitu serius sehingga membuat Bing menelan ludahnya.
“G....Gie? Kau hanya bercanda kan?” ujar Bing terbata-bata.
“Tidak! Aku serius!” balas Gie, masih sambil nyengir lebar. “Maafkan aku karena aku tidak pernah memberitahukannya padamu. Tapi ini memang rahasia kerajaan sih.”
Kali ini Bing langsung jatuh pingsan ketika mendengar pengakuan dari Gie.
****
~FIN~
red_rackham_2012

No comments: