Monday, February 27, 2012

Selamat Datang Di Kastil Kami~!



“Selamat datang di Kastil kami, wahai pengembara yang tersesat. Silahkan masuk. Kami sudah menunggu kedatangan anda.”
“A....apa? Dimana ini? Apa yang terjadi disini?”
Aku bertanya pada sosok pria yang berdiri di depanku itu.
“Ugh!” aku mengerang.
Kepalaku terasa ringan. Aku juga sulit berpikir dan anehnya aku tidak bisa mengingat apapun. Rasanya seperti ada yang menghapus ingatanku dengan penghapus. Semuanya nyaris putih bersih. Kecuali namaku, aku tidak ingat apa-apa sama sekali. Aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi padaku hingga aku sampai di tempat ini. Aku bahkan tidak ingat dimana aku tinggal, siapa nama orang tuaku dan sebagainya.
 “Ah. Kulihat anda masih bingung. Tidak masalah. Semuanya juga begitu pada awalnya,” ujar pria misterius itu sambil membungkuk dengan hormat. “Tapi jangan khawatir, saya akan memandu anda.”
Dia lalu mengetuk pintu gerbang raksasa dari kayu yang ada di belakangnya. Ajaib. Hanya dengan ketukan ringan, pintu gerbang itu mengayun terbuka dengan perlahan. Ketika pintu itu sudah terbuka lebar, pria misterius itu membungkuk sekali lagi.
“Sekali lagi. Selamat datang di Kastil kami,” ujar pria itu. “Perkenalkan, nama saya Losta, saya adalah penjaga gerbang Kastil sekaligus pemandu anda.”
Aku tidak bisa berkata apapun lagi karena terpana melihat pemandangan yang ada di balik pintu berat di depanku itu. Sebuah Kastil yang luar biasa megah dan besar tampak berdiri dengan kokoh. Menara-menara Kastil itu tampak menjulang menantang langit dan dihiasi dengan berbagai macam bendera serta umbul-umbul. Di halaman Kastil yang sangat luas, terlihat ada banyak orang berkerumun. Beberapa orang yang mengenakan seragam aneh tampak sibuk, sementara ada lebih banyak lagi orang yang hanya bergerombol sambil mengobrol.
“Nah. Masuklah,” ujar Losta sambil mendorongku dengan lembut.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain melangkah maju dan melewati gerbang Kastil. Tapi ketika aku baru menginjakkan sebelah kakiku di Kastil itu, tiba-tiba saja aku mendengar suara bisikan entah darimana asalnya.
Berhenti!
Seketika itu juga aku berhenti di tempat sambil memandang ke segala arah, berusaha mencari darimana asalnya suara misterius itu. Tapi selagi aku melakukan itu, suara bisikan misterius itu kembali terdengar.
Berbaliklah! Jangan masuk ke tempat ini! Pergilah!
“Hah? Apa?” tanyaku bingung.
“Ada masalah apa?”
Losta bertanya padaku sambil tersenyum. Karena bingung, aku menggelengkan kepala dan terdiam sejenak. Tapi karena suara itu tidak terdengar lagi, aku memutuskan kalau itu hanya khayalanku saja.
“Tidak. Tidak ada apa-apa.....” gumamku sambil terus berjalan. Namun begitu aku sudah berjalan cukup jauh melewati gerbang Kastil, tiba-tiba saja, pintu berat itu terayun tertutup dengan perlahan. Tentu saja aku kaget dan langsung berbalik.
“Ke.....kenapa gerbangnya tertutup?!” tanyaku dengan suara bergetar.
Aku mulai ketakutan dan itu sebenarnya wajar saja. Saat ini aku terjebak di tempat antah berantah, dengan seorang pria misterius memanduku, dan kini aku berada di dalam sebuah Kastil aneh yang gerbangnya baru saja tertutup. Lengkap sudah.
“Ah. Kita tidak ingin ada tamu tidak diundang datang ke Kastil ini. Lagipula dengan begini sekarang kau aman.” Losta menjelaskan padaku sambil tetap tersenyum. Tapi anehnya, kali ini aku merasa ada yang tidak beres dengan senyuman pria misterius itu.
Aku menelan ludah, lalu memberanikan diri bertanya pada Losta.
“Tempat apa ini? Dimana ini sebenarnya?”
Losta tampaknya sudah menunggu-nunggu pertanyaan itu. Dia langsung menepukkan kedua tangannya dan dengan nada riang langsung menjawab pertanyaanku.
“Ah. Saya senang anda bertanya,” ujar Losta. “Ini adalah Kastil. Tempat para pengembara yang tersesat berkumpul. Tempat dimana anda bisa merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Tempat tujuan akhir dari pengembaraan yang anda lakukan seumur hidup anda. Disini hanya ada 1 hukum utama...anda harus tunduk, hormat, dan patuh terhadap titah Yang Mulia Ratu. Selain hukum itu, disini anda bebas melakukan apapun, selama itu tidak mengganggu orang lain. Anda pasti akan menyukai kehidupan anda disini.”
Penjelasan Losta sama sekali tidak menjelaskan apapun. Aku malah semakin bingung gara-gara mendengar ucapannya.
“Aku tidak mengerti...” sahutku spontan.
“Ah. Semuanya begitu pada awalnya. Tapi pada akhirnya anda akan terbiasa dengan tempat ini,” ujar Losta lagi, masih sambil tersenyum. “Ayo. Kita jalan lagi.”
Pada awalnya aku cukup menyukai senyuman pria itu, tapi lama kelamaan senyumannya jadi terasa sangat....menakutkan. Tanpa sadar aku melangkah mundur tapi gara-gara itu aku jadi menabrak seseorang.
“Auw!” seru orang itu.
Aku langsung berbalik dan bermaksud meminta maaf. Tapi aku malah terpaku ditempat dengan mulut terbuka lebar. Memang aku pasti terlihat seperti orang idiot, tapi aku yakin ini reaksi yang wajar. Soalnya orang yang kutabrak tadi itu bukan benar-benar ‘orang’, melainkan seekor panda yang berdiri dengan dua kaki dan mengenakan pakaian layaknya manusia.
“Ati-ati kalau jalan! Dacal manucia!” protes manusia panda itu sambil berlalu.
Aku masih melotot ke arah makhluk aneh itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh lagi ke arah Losta. Pria itu mengangkat kedua bahunya dan tampak biasa saja melihat ada manusia panda lewat di depannya.
“Yah. Panda yang itu memang agak pemarah, walau sebenarnya dia baik hati,” sahut Losta. “Nah. Sekarang biar saya memandu anda ke sekeliling Kastil dan memperkenalkan anda pada beberapa orang penting di tempat ini. Mari.”
Meski masih shock, aku menurut saja dan mengikuti Losta. Sambil berkeliling aku baru menyadari kalau makhluk-makhluk aneh di tempat ini tidak hanya manusia panda saja. Sambil berjalan aku sempat melihat sebuah ‘pohon hidup’, yang tampak sedang mengajari sesuatu pada sekelompok orang yang duduk diam di hadapannya. Selain itu, aku sempat melihat sebuah danau besar di belakang Kastil, yang tampak dipenuhi berbagai jenis ‘manusia ikan’ yang sedang mengobrol sambil berjemur di pinggiran danau. Pemandangan yang sungguh absurd dan tidak masuk akal.
“Te....tempat yang aneh.....” gumamku dengan suara lirih pada Losta.
“Memang. Tapi jangan khawatir. Anda akan segera menemukan ‘tempat’ anda di Kastil ini. Jangan terburu-buru, nikmati saja waktu anda disini,” balas Losta, masih dengan senyuman di wajahnya.
Aku kembali terdiam dan terus bertanya-tanya dalam hati.
Sebenarnya tempat apa ini?!

****


Aku tidak terlalu ingat berapa lama aku berada di tempat ini. Yang pasti rasanya cukup lama. Sebelum aku sepenuhnya sadar, tahu-tahu aku sudah berteman dengan beberapa orang yang mungkin bisa dibilang......aneh. Tapi meskipun mereka dan tempat ini memang aneh, tapi entah kenapa aku merasa nyaman berada di Kastil ini. Meskipun aku masih tetap tidak tahu kenapa dan bagaimana aku bisa sampai di tempat ini.
“Mungkin kau dibawa alien dari planetmu, lalu ditempatkan disini. Tapi sebelumnya ingatanmu pasti dihapus dulu biar tidak bisa macam-macam.”
Tsuki berkomentar sambil duduk di tepian danau. Pemuda yang satu ini memang agak aneh dan sepertinya punya lebih dari satu kepribadian. Yang kali ini ada di depanku adalah ‘Tsuki’, satu dari entah berapa banyak kepribadian yang dia miliki. Meski begitu, Tsuki sebenarnya sangat cerdas.
“Jangan konyol! Tapi ngomong-ngomong teori itu bisa saja benar. Soalnya aku juga tidak ingat kenapa aku bisa ada di tempat ini.”
Kali ini yang bicara adalah Yume, seorang gadis bertubuh mungil yang mengenakan penutup kepala aneh, hingga hanya wajahnya yang terlihat. Diantara orang-orang yang kukenal, Yume adalah yang berpikiran cukup ‘lurus’, meski dia bisa jadi ‘liar’ kalau melihat ada gadis imut lainnya.
“Kalian berdua jangan bicara yang tidak-tidak. Lagipula tidak ada gunanya membahas hal itu. Toh kita sudah terlanjur disini dan tidak bisa kemana-mana....atau lebih tepatnya, tidak mau kemana-mana.”
Aku menoleh dan melihat temanku yang lain. Temanku yang satu ini bernama Rilme dan hampir tidak pernah menujukkan wajahnya. Wajah pemuda itu ditutup oleh topeng tengkorak yang selalu dia kenakan, hingga kadang aku pikir....tengkorak itu memang wajahnya.
“Memangnya kalian tidak pernah memikirkan alasan kenapa dan bagaimana kalian bisa sampai ke Kastil ini?”
Kali ini giliran aku yang bertanya. Anehnya, semua teman-temanku itu tampak memikirkan pertanyaanku dengan serius. Ini membuatku semakin penasaran.
“Tidak,” jawab Tsuki.
“Ehm...dulu sih. Tapi sekarang tidak lagi,” sahut Yume.
“......hmmm......” gumam Rilme.
Aku mendesah. Selalu saja begini. Dari semua orang yang kukenal di sekitar Kastil ini, mereka selalu mengatakan hal yang hampir sama kalau aku mulai bertanya pada mereka: kenapa dan bagaimana merea bisa sampai di sini?
“Tidak perlu dipikirkan dengan serius. Toh disini tidak buruk juga. Walau dari depan terlihat kecil, tapi kalian kan tahu kalau Kastil ini sebenarnya sangat luas. Meliputi juga kota di dan hutan sebelah sana itu.”
Yume bicara sambil menunjuk ke arah kejauhan. Memang ucapannya benar. Sejauh mata memandang, aku bisa melihat kota, hutan dan bahkan padang rumput, yang semuanya berada di dalam lindungan sebuah dinding yang sangat tinggi. Semua tempat itu masih merupakan bagian dari Kastil. Sungguh sebuah ‘kastil’ yang sangat luas sekali.
“Tapi apa kalian tidak pernah benar-benar memikirkan...apa yang akan terjadi kalau kalian keluar dari tempat ini?” tanyaku lagi.
“Emang ngapain aku keluar dari tempat ini?” balas Tsuki dengan nada ketus. Mendengar perubahan nada bicaranya, aku tahu yang ini adalah kepribadiannya yang lain dan kalau tidak salah...yang ini namanya Rai.
“Yah....entahlah,” balasku sambil mengangkat bahu. “Memangnya tidak ada yang rindu dengan tempat asal kalian?”
Sejenak ketiga temanku terdiam. Setelah beberapa lama, akhirnya Rilme yang bicara.
“Memangnya kau masih bisa ingat dimana kau tinggal dulu dan bagaimana kehidupanmu sebelum sampai di tempat ini?”
Ucapan Rilme langsung membuatku terhenyak. Dia benar! Aku sama sekali tidak punya ingatan tentang kehidupanku sebelum aku sampai di gerbang Kastil. Tapi aku masih merasa kalau aku harus keluar dari tempat ini dan ‘pulang’....meskipun sama sekali aku tidak tahu dimana rumahku berada.
“Mungkin kau benar.....” gumamku pada akhirnya. “Tempat ini telah menjadi segalanya bagiku....tidak mungkin aku keluar dari tempat ini....”
“Nah! Kalau kau sudah berpikiran seperti itu, bagaimana kalau kita pergi ke hutan?” usul Yume sambil tersenyum penuh semangat. “Sudah lama aku tidak mengunjungi Okami atau Kim.”
“Usul yang bagus!” sahut Rilme sambil berdiri. “Dan kalau beruntung, kita mungkin bisa menjumpai Re-α disana.”
“Kalo gitu, ayo pergi! Jangan lama-lama!” timpal Rai sambil ikut berdiri. “Oi. Ikut ga?”
Aku menggelengkan kepala.
“Tidak. Kalian pergi saja. Aku punya urusan lain.”
Aku menjawab sambil berdiri dan meninggalkan teman-temanku itu. Mereka tampak memandangiku dengan tatapan heran, tapi aku tidak peduli. Ada satu hal penting yang seharusnya kulakukan sejak dulu.
Aku harus bertemu Yang Mulia Ratu!
****
Jantungku berdebar kencang ketika memasuki bangunan utama Kastil, sebuah istana raksasa yang berdiri tepat di depan pintu gerbang. Dari Losta, orang yang memanduku waktu itu, aku tahu kalau di istana itulah Yang Mulia Ratu tinggal. Sebagai tempat tinggal seorang Ratu, istana itu memang dijaga oleh banyak penjaga.....yang sebagian besar bukan manusia. Mereka tampak memandangiku dengan tatapan penuh selidik.
Maklum saja. Walaupun sama sekali tidak ada larangan untuk masuk kesana, tapi selama aku disini, tidak ada orang –ataupun bukan orang– yang masuk ke dalam istana itu. Semuanya terkesan menjauhi bangunan megah itu. Entah apa alasannya.
Ja...jangan-jangan Yang Mulia Ratu itu adalah sosok yang kejam dan....suka memenggal kepala orang........
Tubuhku langsung gemetar ketika memikirkan kemungkinan itu. Tapi meskipun aku takut, aku harus masuk dan bertemu dengan Yang Mulia Ratu. Dari informasi yang kudengar, selain sebagai pimpinan Kastil, aku juga dengar Yang Mulia Ratu punya kekuatan ajaib yang bisa memulangkan orang dari tempat ini. Aku berharap semua informasi yang kudengar itu memang benar dan aku berharap Yang Mulia Ratu bersedia memulangkanku kembali ke ‘rumah’, walaupun aku tidak ingat dimana itu.
Setelah bertanya pada orang-orang di dalam istana, aku tahu kalau Yang Mulia Ratu ada di puncak menara utama. Dengan segera aku berjalan mendaki ribuan anak tangga di hadapanku, hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari perak dan dihias dengan ukiran rumit.
Sambil menelan ludah, aku mendorong pintu itu hingga terbuka. Ketika pintu itu terbuka, aku melihat sebuah singgasana tinggi yang berada jauh di seberang ruangan. Di atas singgasana itu, duduk seorang gadis mungil berparas imut bermahkota emas. Di sisi kiri dan kanan gadis itu, tampak berdiri seorang pria berpakaian putih dan seorang wanita berjubah perang. Selain itu sesosok seorang pria transparan tampak melayang jauh di atas singgasana.
Ketika melihat gadis mungil di singgasana itu, aku langsung mendapat kesan kalau dia adalah Yang Mulia Ratu. Walaupun rasanya mustahil kalau pimpinan Kastil ini adalah seorang anak kecil.
“Aku sudah menunggumu. Masuklah.”
Sang Ratu berbicara dengan nada tegas sambil mengacungkan jarinya ke arahku. Sayangnya aku justru terpaku ditempat dan tidak bisa bergerak. Rasanya ada sesuatu di dalam ruangan itu yang menahanku untuk melangkah masuk.
“Aku tahu yang kau inginkan. Jadi mendekatlah kemari. SEKARANG!”
Bersamaan dengan seruan Sang Ratu, tiba-tiba tubuhku melayang masuk seolah ditarik oleh sebuah tangan yang tidak terlihat. Aku langsung mengerang ketika tubuhku jatuh di depan tangga singgasana yang berlapis karpet tebal. Dengan ngeri aku memandang ke arah Sang Ratu yang duduk jauh di singgasananya.
“Y....Yang Mulia....”
“Aku tahu. Aku tahu,” sahut Sang Ratu sambil memandangku dengan tatapan bosan. “Kau ingin kembali ke tempat asalmu kan? Aku sudah tahu itu. Makanya kau kemari. Bukan begitu?”
Aku menelan ludahku.
Bagaimana dia bisa tahu?!
“Be...benar Yang Mulia. Anda benar sekali,” gumamku lagi.
Aku melihat ada kilatan aneh di mata Sang Ratu dan aku langsung berharap, semoga itu bukan berarti kalau dia akan memenggal leherku.
“Membosankan sekali. Kenapa kau ingin keluar dari tempat ini? Apa kau tidak menyukai Kastil ini?” tanya Sang Ratu. “Katakan padaku. Kenapa kau ingin ‘pulang’?”
Aku terdiam. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Jujur saja, tempat ini sangat menyenangkan. Ada banyak keajaiban dan hal menarik di tempat ini. Namun jauh di dalam hati, aku tetap ‘tahu’ kalau ini bukanlah ‘rumahku’.
“Mohon maaf Yang Mulia....hamba juga tidak tahu kenapa hamba ingin pergi dari tempat ini. Kastil adalah tempat yang luar biasa dan disini hamba juga punya teman-teman yang luar biasa. Tapi.....” Aku terdiam sejenak, lalu melanjutkan ucapanku sambil mengepalkan tangannku. “...hamba merasa ini bukan ‘rumah’ hamba. Hamba ingin kembali ke ‘rumah’ hamba yang sesungguhnya.”
Sang Ratu tampak terdiam mendengar ucapanku, lalu mendongak ke atas.
Kau benar-benar ingin pulang?
Tiba-tiba aku mendengar suara aneh dalam benakku. Suara itu sama dengan yang dulu sekali kudengar saat aku pertama kali memasuki Kastil. Aku langsung memandang ke segala arah. Tiba-tiba saja tatapanku terpaku pada si pria transparan yang melayang di atas singgasana. Pria itu langsung tersenyum ketika tatapan kami bertemu.
Ya. Ini aku, Tungie sang Hantu yang bicara padamu, ujar si pria transparan, langsung ke dalam benakku. Kenapa kau ingin kembali ke kehidupan lamamu? Kau sudah susah payah datang kemari dan percayalah padaku....kau tidak ingin kembali ke ‘tempat itu’. Lagipula, setelah mengenal tempat ini sekali, kau tidak bisa sepenuhnya ‘pulang’.
Aku tersentak.
“Apa maksudmu?” tanyaku pada Tungie. “Kalau tidak salah, waktu pertama aku mau masuk ke tempat ini, kau seperti berusaha mencegahku. Tapi kenapa sekarang kau malah melarangku untuk pulang?”
Yah...waktu itu kukira kau tidak benar-benar ingin pergi ke tempat ini. Jadi aku berusaha menghentikanmu. Soalnya orang yang datang kesini biasanya tidak akan mau kembali lagi ke ‘tempat asalnya’ sahut Tungie. Lagipula kau ini kan sebenar.....
 “Tungie, berhenti bicara! Nanti dia semakin bingung!” potong  Sang Ratu sebelum Tungie sempat menyelesaikan ucapannya.
Begitu mendengar ucapan Sang Ratu, Tungie langsung terdiam. Lalu tatapan mata Sang Ratu Kastil langsung terpaku ke arahku. Tanpa sadar aku merinding ketakutan.
“Kalau dia ingin pulang. Biarkan dia pulang,” ujar Sang Ratu sambil tersenyum penuh arti. “Tidak ada kewajiban bagi kita untuk menahannya disini. Lagipula, ini keputusannya sendiri. Apapun resikonya, dia akan menanggungnya.”
Baik, Yang Mulia.
Suara Tungie masih dapat terdengar di dalam kepalaku. Aku langsung mendongak dan terkejut melihat sosok pria itu sudah menghilang.
“Nah. Kau ingin pulang kan?” tanya Sang Ratu sambil terus memandangiku dengan tatapan penuh arti. Dia lalu menoleh ke arah pria berbaju putih yang berdiri disamping singgasananya. “Ren! Pulangkan dia ke ‘rumah’nya dan kembalikan semua ingatannya!”
“Siap, Yang Mulia,” sahut pria berbaju putih bernama Ren itu.
Ren langsung berjalan ke arahku. Dia tampak memasukkan sebelah tangannya ke balik bajunya dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti sebuah stempel berukuran besar. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibir pria itu ketika dia berjalan mendekatiku.
“Jangan takut. Ini tidak akan sakit,” ujar Ren. “Sepertinya sih begitu....”
Aku langsung ketakutan dan bersiap untuk kabur, tapi tiba-tiba saja tubuhku kaku dan tidak bisa digerakkan. Masih sambil tersenyum lebar, dia mengangkat stempel besar itu tinggi-tinggi, lalu menepukkan benda itu ke atas kepalaku.
Seketika itu juga seluruh dunia jadi terasa berputar dan tubuhku langsung roboh ke lantai. Pandanganku langsung buram dan aku jadi tidak bisa berpikir. Suara Yang Mulia Ratu terdengar bergema dalam kepalaku.
“Nah. Dengan ini kau resmi ‘dipulangkan’ dari Kastil,” ujar Sang Ratu. Sekilas aku melihatnya tersenyum lebar. “Selamat jalan....dan sampai jumpa lagi. Aku yakin kau akan segera kembali ke tempat ini.”
Setelah itu, tubuhku langsung ditelan oleh kegelapan dan aku tidak bisa merasakan apapun.

****

Ketika aku membuka mataku lagi, tahu-tahu aku sudah ada di dalam kamarku sendiri. Dengan bingung aku memandang ke segala arah untuk memastikan kalau aku benar-benar berada di dalam ‘kamarku’. Ketika melihat beberapa benda yang familiar, aku langsung yakin kalau tempat ini benar-benar kamarku. Rumahku. Tempat tinggalku.
Dengan lega aku membaringkan tubuh lagi, tapi kemudian tanganku menyentuh beberapa benda aneh. Aku terkejut melihat sebuah tabung kecil dan pil-pil berwarna putih yang berserakan di samping bantalku.
Apa ini? Tanyaku kebingungan. Obat?
Meski penasaran, aku tidak mau banyak berpikir saat ini. Yang penting sekarang aku sudah kembali ke ‘rumah’ dan semoga saja semuanya kembali normal seperti biasa. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku turun dari tempat tidurku dan berjalan ke arah pintu kamar. Aku harus memastikan kalau tempat ini benar-benar rumahku dan aku sudah kembali dari Kastil.
Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja ucapan Tungie si hantu kembali terngiang di kepalaku.
Kenapa kau ingin kembali ke kehidupan lamamu?
Aku terdiam dan berpikir sejenak, tapi entah kenapa ingatanku terasa masih buram. Aku masih tidak bisa mengingat apapun selain masa-masa sewaktu aku tinggal di Kastil.
Aneh sekali.....
Aku bergumam sambil membuka pintu kamarku.

****

Mungkin ini yang dimaksud oleh Tungie waktu itu....
Aku berpikir sambil memandangi pemandangan kota dan orang-orang yang lalu lalang jauh di bawah sana. Saat ini aku sedang berdiri di lantai paling atas sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Semuanya kacau. Semuanya berantakan. Semuanya....tidak normal.
Sejak kembali dari Kastil, perlahan-lahan ingatanku kembali. Lebih tepatnya, ingatanku tidak kembali, tapi aku dipaksa menjalani kembali apa yang ada di dalam ingatanku.
Kehidupanku ternyata benar-benar mengerikan. Lebih mirip neraka. Aku ternyata tidak lebih dari seorang pecundang yang gagal dalam hampir segala aspek kehidupanku. Di sekolah semua orang menjauhiku dan aku selalu dijadikan sasaran bullying oleh para pentolan sekolah. Tidak ada yang berusaha menolongku. Murid-murid yang melihatku disiksa malah tersenyum-senyum, bahkan ada yang terang-terangan tertawa. Di rumah, kedua orang tuaku adalah orang-orang berengsek. Mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri dan tidak menganggapku sebagai anak, bahkan mereka menganggapku sebagai beban. Aku sering dipukuli dan tidak jarang aku ditelantarkan tanpa makanan.
Aku muak dengan kehidupanku. Aku muak dengan semua hal mengerikan yang terjadi padaku setiap hari. Aku sama sekali tidak berharga. Tidak akan ada yang merasa kehilangan kalau aku tiba-tiba saja ‘menghilang’ dari dunia ini.
Tanpa sadar air mataku kembali mengalir. Aku akhirnya ingat kenapa ada tabung kecil dan pil-pil aneh ketika aku ‘terbangun’ dari Kastil. Pil-pil itu tidak lain adalah obat tidur yang sengaja kuminum sebanyak-banyaknya, dengan harapan aku tidak perlu bangun lagi dan menghadapi hidup yang mengerikan ini.
Aku mendongak menatap langit. Kali ini aku ingat perkataan Losta, orang yang menyambutku ketika aku muncul di depan gerbang Kastil.
Ini adalah Kastil. Tempat dimana anda bisa merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Tempat tujuan akhir dari pengembaraan yang anda lakukan seumur hidup anda.
Mungkin Losta memang benar. Kastil mungkin adalah tempat dimana aku seharusnya berada. Disana aku tidak pernah dianggap sebagai beban. Disana aku tidak pernah dianggap sebagai sosok yang tidak berharga. Mungkin....tempat itulah tempat yang selama ini kucari. Tempat dimana aku bisa hidup dengan tenang dan damai.
Aku sudah tidak punya keraguan lagi sekarang. Aku ingin kembali ke Kastil.
Masih sambil memandangi langit, aku melangkah maju melewati tepian gedung dengan mantap. Hal terakhir yang kurasakan adalah sebuah benturan keras dan tubuhku kembali ditelan oleh kegelapan.

****

Ketika aku membuka mata lagi, aku tahu-tahu sudah berdiri di depan sebuah gerbang kayu besar dan tebal. Seorang pria tampak berdiri di depan gerbang itu sambil tersenyum.
Aku hanya bisa berdiri terdiam dan memandangi gerbang besar itu.
“Apa? Dimana ini?” tanyaku kebingungan.
Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi padaku hingga aku sampai di tempat ini. Tapi aku tidak bisa mengingat apapun. Ingatanku nyaris putih bersih. Kalaupun ada yang bisa kuingat, itu hanyalah namaku sendiri.
Melihatku yang tampak kebingungan, si pria misterius langsung tersenyum lebar. Sambil membungkuk, pria itu berkata dengan nada riang.
“Selamat datang di Kastil kami, wahai pengembara yang tersesat. Silahkan masuk. Kami sudah menunggu kedatangan anda.”

****
~FIN??~

©red_rackham 2012
A tribute to Le Chateau de Phantasm

3 comments:

Ayu Welirang said...

Format tulisannya kok bisa rapih sih Red? Apa karena di-copas dari Ms. Word ya?

Red_Rackham (atau Red Sign) said...

@Ayu
Yep....saia copas dari Ms.Word.
.
Tapi entah kenapa saia ga terlalu suka fontnya, tapi klo fontnya di otak-atik, malah kaco jadinya.
.
Font yg enak dibaca itu klo saia copas ceritanya (+ html code-nya) dari K.com :-3

Agus Sairi said...

Keren bgt ceritanya