Saturday, February 25, 2012

I'm Home


Angin kuat disertai partikel debu radioaktif mendera tubuhku, membuatku sulit berjalan maju ke depan. Meskipun sudah mengenakan exoskeleton suit, tapi tetap saja kekuatan baju canggih itu tidak sanggup melawan kekuatan alam.
“George!! Berapa lama lagi kita harus berjalan?! Aku sudah tidak sanggup bergerak lagi!”
Aku berseru ke arah rekanku yang berjalan di depan. Terlihat jelas kalau dia juga kesulitan untuk bergerak menembus badai pasir ganas ini. Langkahnya yang tadi begitu tegap, kini terlihat limbung karena hempasan angin yang begitu kuat.
“Tinggal sedikit lagi!! Kalau kita bisa berjalan melewati badai ini, kita akan sampai di checkpoint selanjutnya!!”
George membalas perkataanku melalui jaringan komunikasi di pakaian canggihnya.
“Bertahanlah! Aku tahu kau bisa bertahan! Jangan menyerah!”
George berseru lagi padaku. Aku langsung berusaha melangkah maju dan memaksa mesin di sendi-sendi exoskeleton suit-ku bekerja lebih keras. Suara dengung generator dan derak samar roda gigi di pakaian canggihku itu langsung memenuhi telingaku.
Ayolah! Jangan sampai ada part yang rusak!!
Aku berdoa semoga pakaianku tidak memutuskan untuk rusak sekarang. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan nyawaku akan melayang dalam hitungan menit. Tidak ada manusia yang bisa bertahan dalam badai yang tercemar debu radioaktif seperti ini. Kalau tidak karena exoskeleton suit yang kukenakan, aku tidak akan bisa berjalan di luar seperti ini.
Sejak perang nuklir 40 tahun yang lalu, udara dan tanah di bumi sudah tercemar berat oleh berbagai jenis radioaktif dan bahan-bahan berbahaya lainnya. Akibatnya manusia sekarang dipaksa untuk tinggal di shelter-shelter di bawah tanah, serta hanya bisa keluar kalau mengenakan exoskeleton suit seperti ini.
Langkahku semakin berat, meski sudah ditopang dan dibantu oleh sendi-sendi mekanik exoskeleton suit-ku. Kami terus berjalan dan akhirnya tiba di sebuah gunung karang raksasa, yang memiliki sebuah gua di bawahnya. Aku melihat George masuk ke dalam gua itu dan segera mengikutinya.
Gua itu tidak luas, tapi setidaknya terlindung dari badai pasir yang mengamuk diluar. Aku langsung duduk di lantai gua dan menghembuskan nafas lega. Sudah 4 hari kami berjalan kaki seperti ini dan paling tidak sudah 3 kali kami menghadapi ganasnya kekuatan alam, seperti badai pasir ini.
“Akhirnya bisa istirahat...” ujar George sambil mengambil sebuah piramida metalik dari dalam ranselnya. Dia segera meletakkan piramida itu di tanah, lalu memutar puncaknya. Sebuah selubung mirip jeli langsung keluar dari piramida metalik itu, kemudian membentuk semacam piramida kenyal yang melindungi kami berdua. Pada saat yang sama, suara mendesis terdengar ketika mekanisme air purifier di piramida itu bekerja.
Setelah menunggu beberapa saat, aku menekan sebuah tombol di sisi kiri helm exoskeleton suit-ku. Dengan suara mendesis dan berderak pelan, helm titanium yang kukenakan akhirnya terbuka. Aku membiarkan rambut panjangku tergerai keluar, lalu menoleh ke arah George, yang juga sudah membuka helmnya.
“Badai yang menakutkan,” celetuk George. “Untung kita bisa bertahan sampai di checkpoint ini.”
Aku langsung mencibir ke arah George.
“Yeah. Tapi kalau badai ini tidak berhenti besok, aku tidak bisa bergerak,” gerutuku sambil mengambil bungkusan makanan dari tasku. “Persediaan energi di exoskeleton suit-ku tinggal seperempat. Kalau kita tidak melihat matahari besok, aku tidak akan bisa membuat SOL untuk bajuku ini.”
“Kalau begitu berdoa saja semoga besok badai ini sudah reda,” balas George sambil tersenyum. “Dengan begitu kita bisa melanjutkan perjalanan lagi dan kau bisa membuat SOL untuk bajumu itu.”
Aku mendengus kesal. Kadang-kadang sikap optimis George bisa membuatku jengkel.
“Berapa jauh lagi kita dari tujuan kita?” tanyaku sambil membuka bungkusan makanan yang kupegang, lalu mulai memakan isinya. “Dan yang lebih penting lagi....apa tempat yang kau bicarakan itu benar-benar ada?”
“Kalau dengan berjalan kaki. Kita seharusnya akan sampai ke tujuan 4 hari lagi,” balas George sambil menekan beberapa tombol di komputer mini, yang ada di pergelangan tangannya. Sebuah peta holografis langsung muncul di depan pria itu. Dia lalu menunjuk ke arah sebuah titik merah di peta itu. “Ini tempat yang akan kita tuju, unknown area no.25. Tempat ini benar-benar ada. Setidaknya di peta...”
Aku memandangi peta holografis itu sejenak. Kalau saja George tidak menerima sinyal misterius dari area itu, kami tidak akan melakukan perjalanan yang terkesan konyol ini. Isi sinyal komunikasi yang dia terima itu sangat sederhana.
Kami ada disini...
Hanya satu kalimat singkat itulah isi pesan yang ter-encode dalam sinyal misterius yang diterima George. Setelah memaksaku melacak asal sinyal itu, kami menemukan sinyal ini dikirim dari unknown area no. 25, area yang seharusnya tidak ada apa-apanya itu.
Tadinya kupikir ini hanya ulah iseng seseorang, tapi setelah mengamati sistem kode sinyal yang digunakan untuk mengirimkan pesan itu, aku terkejut. Sistem kode dalam sinyal itu terlalu canggih dan rumit untuk ukuran keisengan yang dilakukan seseorang. Bahkan kalau melihat dari tipe sinyalnya, sinyal ini hanya bisa ditangkap oleh peralatan penerima sinyal canggih, seperti yang ada di fasilitas penelitian dalam shelter tempat kami tinggal.
“Irene, tidurlah. Malam ini biar aku yang berjaga. Kau pasti lelah setelah berjuang menembus badai pasir tadi.”
Ucapan George membuyarkan lamunanku. Aku langsung melotot ke arah pria itu.
“Jangan meremehkanku! Biar aku perempuan, tapi aku tidak lemah!” protesku.
George mengabaikan protesku dan melambaikan tangannya.
“Ya..ya..aku tahu. Sekarang tidur sana! Besok perjalanan kita bisa saja lebih berat dari hari ini,” balas George sambil nyengir lebar.
Aku melemparkan bungkus makanan ke arahnya, kemudian bangkit dan mengambil sebuah silinder hitam dari ranselku. Dengan satu sentuhan ringan, silinder itu mendesis membuka dan berubah menjadi sebuah kapsul seukuran tubuh manusia, yang terbuat dari serat nano-carbon.
“Selamat tidur!”

Aku berkata dengan nada ketus sambil membungkus tubuhku dengan kapsul itu. Tidak lama kemudian aku sudah tertidur pulas.

****


Perjalanan kami di hari berikutnya tidak lebih mudah, meskipun badai pasir sudah reda dan matahari bersinar dengan teriknya. Dataran rendah yang datar dan beralaskan pasir yang tadi kami jelajahi, kini sudah berganti menjadi lereng-lereng gunung yang terjal dan curam. Unknown area no.25 memang adalah daerah pegunungan karang yang belum pernah dijelajahi siapapun sejak 40 tahun yang lalu. Sehingga tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik pegunungan tinggi ini.
Aku berhenti sejenak sambil memandangi lereng terjal yang sedang kudaki bersama George. Ini sudah hari ke-4 sejak kami beristirahat di dalam gua, saat terjebak badai pasir. Kalau perhitungan dan peta milik George itu benar, maka di balik gunung ini kami akan mendapatkan jawaban mengenai apa, atau siapa yang mengirimkan sinyal misterius itu.
“Kau tidak apa-apa??”
George berseru padaku dari atas. Pria itu sedang duduk diatas batu yang cukup besar sambil memandang ke arahku.
“Tidak! Aku akan segera naik! Pergilah duluan!!”
Perlahan-lahan aku mulai mendaki lagi lereng gunung yang curam ini. Untungnya dengan kekuatan lengan exoskeleton suit-ku, kegiatan memanjat gunung seperti ini menjadi sesuatu yang mudah. Hanya saja aku harus tetap hati-hati. Kalau aku salah pijakan, aku akan segera terjun bebas ke dasar jurang yang dalamnya lebih dari 600 meter ini.
Setelah berjuang beberapa saat, akhirnya aku sampai di puncak gunung. Begitu sampai, aku langsung memandang berkeliling dan melihat George sedang berdiri terpaku di pinggiran tebing. Karena penasaran, aku langsung menghampiri pria itu dan menepuk pundaknya.
“Ada apa? Kenapa kau....Astaga!”
Aku berseru kaget ketika melihat apa yang membuatnya terpaku ditempat. Jauh di bawah pegunungan tinggi yang sudah kudaki ini, tampak kerimbunan hutan lebat yang membentang sejauh mata memandang. Dari atas gunung ini saja, aku bisa melihat beberapa pohon yang tumbuh terlalu tinggi sampai menembus awan.
“Itu............apa?” tanyaku sambil melongo.
“Hutan....memangnya apalagi?” sahut George spontan.
“Bukan! Maksudku...kenapa ada hutan disini?” tanyaku lagi. “Sejak kapan ada hutan yang bisa tumbuh lebat di tanah yang dipenuhi debu radioaktif dan bahan beracun ini?!”
“Mana kutahu. Tapi itulah tempat yang kita tuju. Unknown area no. 25. Tempat asal sinyal misterius yang kuterima waktu itu,” jawab George sambil mengecek lagi peta holografisnya. “Tidak salah lagi.”
Aku memandangi hutan itu sejenak. Hutan itu sangat tidak normal sekali dan seperti bukan berasal dari dunia ini.
“Ayo kita turun kesana.”
Ucapan George spontan membuatku tersentak kaget.
“Apa kau gila?! Kita bahkan tidak tahu ada makhluk apa saja di dalam sana?!” seruku sambil meninju pundak George.
“Yah. Mau bagaimana lagi? Memangnya kalau sudah sejauh ini, kau mau pulang begitu saja? Tentu tidak kan? Aku tahu kau bukan orang seperti itu.”
Aku melotot ke arah George karena ucapannya benar mengenai sifatku. Aku lalu meraih senapan yang tergantung di sisi tas ranselku dan mengokangnya.
“Kalau begitu. Persiapkan senjatamu. Aku tidak yakin disana aman.”
George langsung meraih senapannya dan juga mengokang senjata itu. Dia lalu menoleh ke arahku.
“Oke. Ayo kita berangkat.”
Tanpa menunggu jawabanku, George langsung berjalan menuruni lereng landai yang menjadi jalan setapak menunju ke hutan dibawah sana. Aku langsung mengikuti pria itu sambil berharap siapapun, atau apapun yang mengirim sinyal misterius itu, tidak akan berusaha membunuh kami.

****

“Ini menakjubkan...”
Aku mendengar George bergumam sambil berjalan. Harus kuakui dia benar. Hutan ini benar-benar menakjubkan. Aku sama sekali tidak pernah berpikir akan melihat kerimbunan hutan seperti ini diluar shelter. Tadinya kupikir tanah diluar sini sudah tidak cocok untuk ditumbuhi tumbuhan apapun. Tapi hutan ini benar-benar mematahkan anggapanku.
“Kira-kira siapa yang mengirimkan sinyal misterius itu?”
Aku bertanya pada George.
“Entahlah. Tapi yang jelas siapapun atau apapun itu, mereka punya teknologi yang sama canggih dengan yang kita punya,” balas George. Tiba-tiba dia berhenti mendadak dan mengacungkan senapannya ke arah kerimbunan semak. “Siapa itu!!”
Aku langsung berbalik dan mengarahkan senapanku ke arah George mengacungkan senapannya. Aku menelan ludah. Suara gemerisik dedaunan di semak-semak itu membuatku semakin tegang. Jariku sudah melingkar di pelatuk senapan, siap menarik picunya kapanpun diperlukan.
“Siapa disana?! Tunjukkan wujudmu!”
 Aku berseru sambil berjalan mendekati George. Aku melihat kalau dia sama tegangnya denganku. Tapi kemudian ketegangan kami berubah menjadi keterkejutan ketika melihat sosok manusia berjalan keluar dari kerimbunan semak hutan. Yang membuatku sangat terkejut adalah kenyataan bahwa dia tidak mengenakan helm, masker, ataupun pakaian pelindung lainnya. Dia hanya mengenakan pakaian tipis seadanya.
Mustahil! Bagaimana dia bisa bertahan di udara yang tercemar seperti ini?!
Sekilas aku melihat ke arah hologram yang tampak di helm exoskeleton suit yang kukenakan. Kadar debu radioaktif di udara sangat tinggi, sehingga harusnya manusia tidak bisa bertahan dalam kondisi seperti ini. Tapi gadis itu bisa.
“Akhirnya kalian datang!”
Gadis itu berseru riang sambil berjalan cepat mendekati kami, tapi langkahnya kemudian terhenti ketika melihat senjata di tanganku dan George. Anehnya dia tidak takut dan justru tersenyum lebar.
“Selamat datang. Kami sudah menunggu kalian berdua.”
Aku dan George saling pandang sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangan kami ke gadis misterius itu.
“Siapa kau? Apa kau yang mengirimkan sinyal radio berisi pesan singkat kepada kami?” tanyaku.
Gadis misterius itu mengangguk.
“Benar. Ikutlah denganku. Kami sudah menunggu kalian sejak lama.”
Tanpa menunggu jawaban dariku atau dari George, gadis itu berbalik dan mulai berjalan menembus kerimbunan hutan. Aku dan George saling pandang lagi, tapi akhirnya kuputuskan untuk mengikuti gadis itu. Begitu pula dengan George. Dia segera berjalan mengikutiku dan si gadis misterius.
Kami bertiga berjalan menyusuri kerimbunan hutan, hingga akhirnya sampai di sebuah lapangan luas yang tampaknya berada tepat di tengah hutan lebat ini. Ketika sampai di lapangan terbuka itu, si gadis misterius langsung berhenti dan berbalik ke arah kami.
“Kita sampai.”
Aku dan George langsung memandang ke segala arah. Tapi selain sebuah lapangan berumput yang luas dan dikelilingi hutan, kami tidak melihat apapun.
“Apa maksudmu? Siapa sebenarnya kau ini?”
Aku bertanya pada si gadis misterius sambil mengacungkan senapanku.
“Aku adalah utusan dari ras Ignantia. Ras berakal yang lebih maju daripada manusia di bumi. Wujudku ini kuambil dari wujud kalian, agar kalian tidak takut padaku. Sudah lama kami menunggu ada yang datang karena panggilan kami.”
Ucapan gadis itu langsung membuatku melongo.
Alien? Itu tidak mungkin!
“Oke....jadi kau ini alien? Lalu kenapa kau mengirimkan sinyal komunikasi itu? Apa tujuanmu?”
George bertanya sambil berjalan mendekati gadis itu. Dia sama sekali tidak takut pada kemungkinan bahwa si gadis alien itu akan menyerangnya.
“Kami ingin membawa sebanyak mungkin manusia dari bumi. Kami ingin menyelamatkan kalian. Bumi sudah tidak lagi bisa dihuni oleh manusia karena kesalahan ras kalian sendiri. Jadi sebelum kalian punah, kami sudah menyiapkan planet baru untuk kalian tinggal.”
Ucapan gadis alien itu membuatku curiga. Untuk apa alien sepertinya repot-repot datang ke bumi, apalagi sampai repot-repot menyiapkan planet untuk tempat tinggal manusia selanjutnya. Rasanya tidak masuk akal.
“Hah? Apa? Kenapa kau mau repot-repot berbuat seperti itu? Apa istimewanya manusia bagi kalian?” tanyaku.
“Manusia adalah satu-satunya ras berakal yang berhasil mengembangkan peradabannya tanpa banyak campur tangan dari ras-ras berakal lainnya. Kalian istimewa. Kalau dibiarkan berkembang beberapa ratus tahun lagi, kalian akan mampu berada sejajar dengan ras-ras berteknologi tinggi seperti kami,” ujar si gadis alien. “Sayangnya kalian sudah merusak dunia kalian sendiri. Kalau kalian dibiarkan saja, dalam beberapa ratus tahun berikutnya, kalian akan sepenuhnya punah dari bumi. Sebagai ras yang bertugas menjaga ras-ras berakal yang sedang berkembang, kami ras Ignantia berkewajiban untuk menyelamatkan kalian.”
Aku terdiam karena memikirkan ucapan si gadis yang mengaku alien itu. Ucapannya memang masuk akal. Shelter tempatku dan George tinggal pun tidak akan bertahan terlalu lama. Persediaan makanan yang ada nyaris tidak mencukupi, sementara jumlah manusia yang tinggal di shelter itu semakin banyak.
“Lalu seandainya kami menerima tawaranmu, apa yang harus kami lakukan?”
Ucapan George membuatku tersentak kaget. Aku langsung berbalik dan mengguncang bahu pria itu.
“George!? Apa kau gila?! Apa yang membuatmu percaya pada gadis aneh ini?” seruku marah. Aku lalu beralih memandangi si alien dan mengacungkan senapanku ke arah kepalanya. “Jangan-jangan ini semua hanya usahanya untuk memanen manusia, lalu entah akan dia gunakan untuk apa! Jangan percaya kata-katanya!”
“Kalau kau tidak percaya. Itu wajar saja. Kami tidak akan memaksa kalian untuk mempercayai kami. Tapi yang pasti. Niat kami untuk menyelamatkan ras kalian itu tulus,” ujar si gadis lagi. Dia lalu mengangkat sebelah tangannya.
Sebuah kilatan cahaya membuatku terpaksa menutup mata dan ketika aku membuka mata lagi, aku melihat sesuatu yang luar biasa menakjubkan.
Sebuah UFO yang berbentuk seperti sebuah cakram tampak melayang rendah di angkasa. Ukuran benda itu sama besar dengan lapangan luas tempat kami berada sekarang. Benda raksasa itu mengeluarkan suara dengungan rendah, yang anehnya tidak kudengar tadi.
“Luar biasa...” gumam George lirih.
“Ini adalah kendaraan yang akan kami gunakan untuk memindahkan manusia secara bertahap. Mungkin akan butuh waktu lama sampai seluruh manusia bisa kami pindahkan dari bumi. Tapi kami tidak peduli. Sebisa mungkin kami ingin menyelamatkan kalian dari kepunahan.”
Aku memandangi sosok si alien dengan terkejut. Wujudnya kini sudah tidak lagi serupa manusia, melainkan lebih mirip seekor monster bertanduk yang berdiri dengan dua kaki. Ekor panjang dan tebal tampak melingkar di sekitar kakinya. Meskipun wujudnya mengerikan, tapi tatapan mata alien itu tetap tampak lembut. Aku sama sekali tidak melihat niatan buruk di mata alien dari ras Ignatia itu.
“Bagaimana keputusan kalian?”
Si alien itu kembali bertanya pada kami berdua. Aku menoleh ke arah George. Pria itu tiba-tiba saja melangkah maju ke arah si alien. Aku hendak berseru memperingatkannya, tapi tatapan mata George membuatku terdiam. George lalu memandangi alien berwujud mengerika di depannya itu.
“Alien. Apa kau benar-benar akan membawa manusia ke dunia baru, ke dunia dimana kami bisa hidup tanpa takut terkontaminasi debu radioaktif atau bahan beracun lainnya?”
“Ya. Itulah maksud kami datang ke bumi.”
“Kalau begitu. Tunjukkan padaku dimana planet itu berada. Kemudian bawa aku kembali ke bumi, agar aku bisa memberitahu semua orang kalau kau tidak berbohong.”
“Tentu saja. Tapi perjalanan ke planet itu dan kembali ke bumi, setidaknya akan memakan waktu 5 tahun, bahkan dengan teknologi yang kami miliki.”
“Aku tidak peduli. Aku harus memastikan semuanya aman dan kau tidak berbohong.”
Si alien terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
“Aku paham. Kalau begitu ikutlah dengan kami.”
Setelah mengatakan itu, sebuah lubang tiba-tiba terbuka dari bawah UFO yang melayang di udara. Dari lubang itu, sebuah sinar tampak jatuh mengenai tubuh George dan si alien. Kemudian keduanya terangkat ke udara secara perlahan-lahan.
“George!!! Tunggu!! Apa yang mau kau lakukan?!! George!!”
Aku berseru sekuat tenaga dan berjalan ke arah sinar itu, berharap sinar aneh itu akan menarikku juga ke atas. Tapi ternyata tidak. Kakiku tetap menapak tanah.
“Irene! Aku akan pergi sebentar! Tunggulah di shelter. Aku pasti akan kembali!!” seru George sambil nyengir dibalik helm titanium yang dia kenakan. “Aku akan memastikan alien ini tidak berbohong, lalu aku akan kembali untuk menjemputmu dan semua orang di shelter!”
“George! Berhenti! Kau tidak tahu apakah ucapannya benar atau hanya sebuah tipuan! Kembali kesini!!”
Aku kembali berseru sekuat tenaga. Tapi sepertinya keputusan George sudah bulat. Dia sama sekali mengabaikan seruanku dan malah melambaikan tangannya.
“Irene!! Aku pasti kembali! Aku janji!!”
Itulah ucapan terakhir yang kudengar dari George, sebelum tubuhnya menghilang ke dalam piring terbang yang melayang di udara. Kemudian dengan diiringi suara dengung nyaring, UFO raksasa itu melesat cepat ke udara dan menghilang dibalik awan debu radioaktif yang menggantung rendah di langit.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain terduduk pasrah dan mulai menitikkan air mata.

****

“Bibi Irene! Kau ada dimana?”
Aku tersentak bangun dan menoleh ke arah pintu ruangan yang kubiarkan terbuka. Sambil merapikan rambutku, aku langsung berjalan keluar ruangan. Seorang anak perempuan tampak berjalan menyusuri lorong sambil memanggil namaku.
“Aku disini Jeanne. Ada apa?”
Begitu mendengar namanya dipanggil, Jeanne langsung menoleh dan berlari ke arahku. Gadis kecil itu lalu memelukku dengan erat. Dia lalu memandangi wajahku yang terlihat kusut karena baru bangun tidur.
“Bibi...bibi habis tidur di ruang komunikasi lagi ya?”
Aku mengelus kepala Jeanne dan menggendongnya, lalu kembali berjalan ke arah ruang komunikasi. Setelah menurunkan Jeanne di atas kursi yang biasa kugunakan, aku memandangi peralatan canggih yang ada di ruangan itu.
Sudah 5 tahun berlalu sejak George pergi bersama alien yang mengaku berasal dari ras Ignatia dan mengaku berniat menyelamatkan manusia dari kepunahan. Selama 5 tahun ini aku selalu menunggu sinyal kepulangan dari George dan alien itu. Tapi sinyal itu tidak pernah datang, hingga aku mulai merasa kalau sebenarnya George ditipu oleh ucapan manis si alien.
“Apa bibi sedang menunggu pesan dari seseorang?”
Aku terdiam dan kembali mengelus kepala Jeanne dengan lembut. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menangkap perhatianku. Sebuah sinyal asing tampak baru saja diterima oleh mesin pemindai sinyal yang ada di sudut ruangan.
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke arah mesin itu dan mulai melakukan decoding terhadap sinyal itu. Jantungku berdebar tidak karuan ketika jemariku menari diatas keyboard. Tiba-tiba aku berhenti mengetik dan tanpa sadar mulai menangis.
“Bibi kenapa?” tanya Jeanne sambil mengelus tanganku.


Aku menoleh ke arah gadis kecil itu dan memeluknya dengan erat, hingga membuat Jeanne kebingungan. Aku terus memeluknya sementara layar komputer disampingku masih menampilkan satu kalimat, yang merupakan hasil decoding sinyal asing yang kuterima.
Irene, i’m home...

****

~FIN~

Also available at Aksarayana Vol. 4

1 comment:

Agus Sairi said...

Wow, ini keren bgt Ceritanya