Monday, August 3, 2015

3rd Spiral: Beyond The Coffee Taste



Sore hari.
Matahari baru saja terbenam dan hari pun mulai gelap, namun itu semua tidak menghentikan derap kehidupan yang nyaris tanpa henti di kota Jakarta. Teriknya sinar matahari yang telah menghilang, dengan sigap telah digantikan oleh gemerlap lampu-lampu kota yang terkadang kelewat terang, hingga mengalahkan cahaya dingin bulan purnama di atas sana. Itu belum ditambah dengan sinar lampu ratusan –kalau tidak ribuan– kendaraan yang terjebak macet di hampir sebagian besar jalanan ibukota. Bagaikan barisan kunang-kunang, kendaraan dengan berbagai jenis memadati jalanan dan bergerak perlahan, nyaris dengan ritme lambat yang teratur.
Rush hour kedua.
Saat di mana warga yang sebagian besar tinggal di kota-kota satelit sekitar Jakarta, berjuang untuk bisa kembali ke rumah masing-masing sebelum larut malam. Saat di mana banyak dari mereka harus menempuh berjam-jam perjalanan penuh kemacetan sebelum akhirnya bisa kembali ke rumah masing-masing.
Biasanya sih aku juga jadi bagian dari iring-iringan malam di jalanan kota, tapi hari ini agak sedikit berbeda. Di hari-hari biasa kalau sudah jam segini, aku akan berkendara di atas partner tuaku sambil sesekali menggerutu karena terjebak macet yang rasanya semakin parah tiap tahunnya.
Biasanya begitu ... tapi tidak untuk sore ini.
“Baiklah. Di mana aku sekarang?”
Aku duduk di atas motorku sambil memandang ke sekeliling, kemudian ke arah smartphone tua yang baru saja kehabisan baterai pada saat yang sangat tidak tepat. Ponsel pintar yang sudah berumur beberapa tahun itu hampir selalu sukses mematikan dirinya sendiri pada saat aku paling membutuhkan bantuannya.
Sungguh pintar.
“Gawat ... ini di daerah Jakarta yang sebelah mana sih?”
Aku menggaruk kepalaku sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel yang sudah kehabisan baterai, berharap alat canggih itu kembali menyala dengan suatu keajaiban. Tapi tentu saja tidak ada yang terjadi. Layarnya tetap gelap, dan aku pun masih tersesat.
Biasanya kalau sudah begini, aku akan mencari pedagang kaki lima terdekat, kemudian menanyakan arah tujuanku. Tapi entah kenapa, daerah yang kukunjungi kali ini begitu sepi, sehingga seolah-olah ini bukan bagian dari kota Jakarta lagi.
Jalanan yang terbentang di hadapanku benar-benar kosong dan dibatasi oleh dinding-dinding batako tinggi. Sepertinya sih ini daerah yang baru dikembangkan oleh pengembang properti, sehingga tidak ada bangunan lain di sekitar sini.
Masalahnya sepinya itu sungguh kelewatan! Sudah lebih dari setengah jam aku melintasi jalanan yang agak mirip labirin ini, tapi aku belum sekalipun melihat ada kendaraan lain yang melintas. Saking sepinya, aku jadi ngeri kalau ini sebenarnya tempat paling ampuh bagi para begal untuk menjalankan aksinya.
Maklum saja, akhir-akhir ini ulah begal kendaraan bermotor semakin mengerikan. Mereka tidak segan-segan melukai, ataupun menghabisi nyawa korbannya. Tapi jujur saja, aku agak ragu mereka akan mencoba merampok motor tua yang kukendarai ini. Toh mau dijual ke tukang loak pun, harganya tidak seberapa.
“Aduh! Ini benar-benar menyebalkan!”
Sambil menghela nafas panjang, aku kembali menyalakan mesin motorku. Deru mesin empat tak tua langsung terdengar menggetarkan udara malam yang mulai mendingin. Setelah sekali lagi memastikan kalau tidak ada orang di sekitarku, aku pun melaju perlahan-lahan tanpa petunjuk arah sama sekali.
Seperti tadi, yang kulihat dari tadi hanyalah jalanan sempit yang diapit oleh tembok batako tinggi. Tidak ada bangunan lain. Hanya sesekali ada pohon-pohon tua yang terlihat menyembul dari balik tembok beton yang memagari pinggiran jalan. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Belum lagi ditambah fakta sekarang pandanganku agak kabur karena terhalang kabut tipis yang mulai muncul di sekitarku.
Ini benar-benar masih di kota Jakarta kan?
Kok perasaan aku seperti sudah berada di daerah pinggiran pedesaan begini?
Pakai ada kabut segala! Ini sebenarnya di mana sih?!
Dengan perasaan yang semakin tidak karuan, aku mempercepat laju motorku. Sebenarnya itu tindakan konyol, karena bisa saja aku menabrak sesuatu atau terperosok lubang di jalanan yang juga nyaris gelap total ini.
Setelah beberapa menit berkendara tanpa arah, tiba-tiba saja aku mencium aroma yang begitu khas, dan begitu kukenal.
Aroma kental khas kopi yang baru saja diseduh.

Tanpa pikir panjang, aku memutar kenop gas dan langsung melaju secepat yang motorku bisa. Mesin tua di kuda besiku meraung protes karena dipaksa bekerja terlalu keras, tapi dengan tabah, dia tetap bertahan melaju dengan mantap. Aku hanya berharap mesin itu tidak sampai jebol. Soalnya hal terakhir yang kuperlukan sekarang adalah mesin motor yang berhenti berfungsi karena dipaksa bekerja terlalu keras.
Setelah melintasi jalanan yang berliku-liku nyaris tanpa henti, akhirnya aku melihat cahaya di depan yang berasal dari sebuah kedai kopi di pinggir jalan. Aku sama sekali tidak berpikir dua kali ketika memutuskan untuk mampir di sana. Sebab saat ini aku butuh dua hal: petunjuk arah dan secangkir kopi hangat.
Begitu aku memasuki halaman kedai itu, ada beberapa hal yang langsung menarik perhatianku. Dari dekat kedai itu terlihat sudah sangat tua, namun terawat dan memancarkan kesan antik yang begitu kuat. Desain bagian depan kedai yang ukurannya lumayan besar itu langsung mengingatkanku pada rumah-rumah kuno yang masih tersisa di kawasan Kota Tua. Desain jendela, pintu, dan atap kedai ini lebih mirip dengan rumah para tuan tanah di masa penjajahan Belanda. Ada sedikit sentuhan ornamen Betawi, tapi selebihnya didominasi ornamen khas Eropa.
Sebuah plang nama berwarna perak terpampang di dinding depan kedai itu.
Koffie Zonder Grenzen.
Entah apa artinya itu, tapi nama itu terdengar keren dan cocok sekali dengan gaya ke barat-baratan dari kedai ini. Dan aku yakin siapa pun pemiliknya, dia pasti punya selera artistik yang bagus! Hanya sayangnya tempat seantik ini ada di entah-di mana-ini. Mungkin saja ini salah satu bangunan yang pemiliknya menolak untuk digusur saat daerah ini dikembangkan oleh pengembang properti.
Ngomong-ngomong ... sudah saatnya aku berhenti mengagumi bangunan ini. Hari sudah semakin malam dan aku harus segera pulang ke rumah. Soalnya besok akan ada tugas lain menunggu untuk dikerjakan!
Setelah memastikan motorku terkunci dengan aman, aku pun melangkahkan kaki memasuki kedai kopi antik itu. Begitu masuk, aku langsung disambut oleh aroma kopi yang menguar begitu kuat dan menggugah seleraku sebagai seorang penikmat kopi. Di luar dugaan, kedai itu cukup ramai dengan pelanggan. Setidaknya ada sepuluh orang yang sudah duduk santai menikmati secangkir kopi hangat, sambil sesekali berbicara dengan sesamanya.
Anehnya ketika aku masuk, semua pelanggan di kedai ini langsung menoleh ke arahku dengan tatapan  yang ganjil. Ada yang melihatku dengan tatapan penuh tanya, ada juga yang langsung tersenyum lebar. Tapi itu hanya berlangsung sejenak, hanya beberapa detik, kemudian mereka kembali berpaling dan melanjutkan aktivitas masing-masing.
Yang membuatku heran dan sedikit takut bukan hanya karena sikap mereka, tapi karena pakaian yang dikenakan oleh para pelanggan di kedai antik ini. Beberapa dari mereka terlihat mengenakan pakaian yang hanya pernah kulihat di buku-buku sejarah, di sisi lain ada beberapa orang yang berpakaian seperti di film-film fiksi ilmiah.
Aneh sih.
Tapi sekarang itu bukan masalah utama. Soalnya sekarang aku hanya punya dua pilihan:
Masuk ke kedai antik penuh orang berpakaian aneh ini, atau berkendara tanpa arah sampai motor mogok kehabisan bensin.
Tentu aku akan memilih pilihan pertama.
Tidak ada yang lebih menjengkelkan selain tersesat malam-malam di jalan yang sepi, sambil kelelahan mendorong motor butut yang kehabisan bahan bakar.
Setelah menarik nafas panjang dan menenangkan diri, aku pun melanjutkan langkah memasuki kedai bernama Koffie Zonder Grenzen ini.
“Pertama kali ke sini, tuan?”
Seorang pelayan berambut pirang dan bermata biru langsung menghampiriku. Sekali lihat saja aku tahu dia ini bukan orang Indonesia tulen. Perawakan dan aksennya yang aneh membuatku yakin dia bukan lahir dan besar di negara ini.
“Iya,” sahutku. “Sebenarnya aku agak tersesat juga. Untung saja aku menemukan kedai ini, jadinya aku pikir tidak ada salahnya aku mampir minum kopi sambil mencari petunjuk jalan.”
“Oh. Tuan tersesat? Kenapa bisa sampai sini?” tanya pelayan itu kebingungan. “Tidak biasanya.”
Mendengar ucapannya, aku semakin kebingungan.
“Apa maksudnya?” balasku.
“Tuan, kalau mau tuan bisa duduk sebentar dan menikmati secangkir kopi. Saya akan meminta tuan Manajer untuk membantu tuan.” Tanpa menjawab pertanyaanku, pelayan itu menyodorkan selembar menu dan menunjuk ke arah meja kosong di salah satu sudut ruangan. “Silakan bersantai dulu, tuan.”
Aku hanya bisa mengangkat bahu sambil berjalan ke arah meja yang ditunjuk pelayan tadi. Begitu aku duduk, aku segera menyadari kalau menu di tanganku ini juga ditulis dengan bahasa yang sama anehnya dengan nama kedai kopi ini.
“Koffiemelk 2 Nitz? Zwarte koffie 5 Nitz? Koffie koning 15 Nitz?” gumamku. “Ini bahasa apa sih?”
“Baru pertama kali ke sini?”
Seorang pria berpakaian pelayan kembali menghampiriku. Tapi berbeda dengan yang tadi, sepertinya pelayan yang satu ini punya kedudukan lebih tinggi. Itu terlihat dari sikapnya dan sikap para pelayan lain yang agak membungkukkan kepala ketika melintas di dekatnya.
Sepertinya dia Manajer kedai ini.
“Iya,” jawabku. “Anda ini?”
“Glibert. Panggil saja begitu,” sahutnya tanpa basa-basi. “Aku manajer sekaligus pemilik kedai ini. Ada yang bisa kubantu?”
Selama beberapa saat aku terdiam dan mengamati sosok di depanku itu. Tidak ada yang aneh dari perawakan pria itu, selain fakta bahwa kedua matanya memiliki iris berwarna hijau terang dan topeng gas metalik yang tergantung di depan dadanya. 
“Sebenarnya aku agak tersesat dan ponsel ku mati, jadi aku tidak tahu arah,” ujarku sambil memainkan menu di tanganku. “Kalau mau ke Kalimalang, aku harus lewat mana ya?”
“Kalimalang?” tanya Glibert kebingungan. “Di mana itu?”
Ucapannya membuatku jadi bingung.
Loh? Kok malah balik bertanya?
“Kalimalang. Itu loh, bagian dari Planet Bekasi!” jawabku sambil setengah bercanda.
Anehnya Glibert seolah langsung paham begitu aku menyebutkan nama ‘Planet Bekasi’. Apa nama julukan itu lebih terkenal di daerah ini dari pada nama Kalimalang. Padahal harusnya semua orang yang tinggal di sekitar Jabodetabek ini kenal dengan yang namanya daerah Kalimalang.
“Wah, kalau dari planet lain, agak sulit ya,” ujar Glibert dengan nada serius. “Anda datang ke sini naik apa?”
Pertanyaannya membuatku semakin kebingungan.
“Naik motor?”
“Pakai mesin Trans-Plane Drive atau Degeneracy Cycle?” tanya Glibert lagi.
“Eeh? Mesin empat tak seratus sepuluh cc?”
“Empat tak? Apa pakai bahan bakar Neutral Proton?” sahut Glibert dengan nada penasaran yang tidak dibuat-buat.
“Bukan, eeh ... Pre ... premium?”
“Premium Neutron Block?!” balas Glibert, kali ini dengan nada terkejut. “Wah! Itu bukan barang yang mudah didapat di sekitar sini.”
Aku hanya tersenyum bingung setengah mati, soalnya obrolan kita berdua jelas-jelas seratus persen tidak nyambung!
Aku bicara soal ‘A’, Glibert ini menyambung bicara soal ‘Z’.
Sebelum semuanya jadi semakin membingungkan dan mulai membuatku sakit kepala, aku mengangkat sebelah tanganku untuk menghentikan percakapan aneh ini.
“Eh, anda tahu jalan balik ke Bekasi tidak?” ujarku. “Maaf. Aku datang dari Bekasi, bukan Planet Bekasi, walaupun akhir-akhir ini tempat tinggalku itu sering diejek dengan nama itu. Konon katanya sih itu gara-gara gerhana bulan beberapa waktu lalu. Tapi intinya ... maaf. Aku bukan orang planet lain.”
Tiba-tiba saja Glibert tertawa terbahak-bahak. Suaranya yang jernih memenuhi ruangan kedai yang cukup luas itu, hingga membuat semua pelanggan menatap ke arahnya dengan tatapan heran.
Begitu juga aku.
“Maaf! Aku sudah tidak sopan,” ujar Glibert menahan tawa. “Kupikir anda benar-benar datang dari Planet Bekasi. Maaf. Aku tadi sempat bingung. Kukira tadi anda serius.”
Serius dari mana?
Aku menggerutu dalam hati sambil mendengus kesal.
“Maaf, sekali lagi maaf,” ujar Glibert. “Kalau hanya kembali ke Bekasi sih mudah. Anda hanya perlu keluar dari kedai ini ke arah kanan. Ikuti jalan saja sampai ujung. Nanti anda pasti akan sampai di rumah.”
Walaupun masih kebingungan, aku merasa lega karena akhirnya aku mendapat petunjuk arah yang sedikit lebih jelas. Meski sebenarnya itu rasanya kok kelewat simpel. Aku hanya perlu berkendara mengikuti jalan saja, kemudian aku sampai di rumah.
“Nah. Anda sekarang sudah tahu arah jalan pulang,” ujar Glibert. “Bagaimana kalau anda mencoba secangkir kopi di sini?”
Aku berpikir sejenak. Sebenarnya sih aku penasaran dengan rasa kopi di kedai aneh ini, tapi jam ku menunjukkan pukul delapan malam. Ini sudah terlalu malam bagiku, terutama karena aku harus berkendara entah berapa jam lagi untuk sampai ke rumah. Jadi aku memutuskan untuk pulang saja.
Sayang sih. Tapi aku tidak mau pulang terlalu malam dan besoknya telat bangun karena kelelahan.
“Maaf. Sebenarnya aku ingin mencicipi kopi di sini, tapi rasanya aku harus pulang sekarang.”
Glibert tersenyum mengerti. Pria itu lalu menjentikkan jarinya dan seorang pelayan buru-buru menghampiri sambil membawa sebuah kantung kertas berwarna cokelat.
“Karena anda sudah susah-susah datang ke sini, ini ada sedikit oleh-oleh. Anggap saja salam perkenalan dari ku.” Glibert menyodorkan kantung kertas yang dibawa pelayannya tadi. “Tidak usah sungkan. Ambil saja. Itu biji Koffie Koning yang belum digiling. Yang terbaik di tempat ini. Walau hanya sedikit, aku ingin anda mencicipi kopi istimewa dari tempatku ini.”
Sejenak aku ragu, tapi sepertinya tidak sopan kalau aku menolak begitu saja. Tapi setidaknya aku bisa memberi kartu namaku. Kalau seandainya Glibert butuh jasa kurir, aku akan mengantarkan satu paketnya dengan gratis!
“Terima kasih. Sayangnya sekarang ini aku tidak bisa memberi balasan apa-apa,” ujarku sambil menerima pemberian itu, kemudian menyodorkan kartu namaku. “Kalau butuh kurir untuk mengantarkan pesan, aku bersedia membantu kapan saja.”
Glibert tersenyum ketika membaca kartu namaku.
“Tentu saja,” ujarnya.
Dia pun berdiri dan memanduku untuk berjalan keluar kedai kopi anehnya itu. Ternyata di depan sana seorang pelayan kedai sudah membawakan motorku ke depan pintu kedai. Aku menyadari kalau pelayan itu adalah pelayan yang pertama kali menyapaku begitu aku masuk ke kedai Koffie Zonder Grenzen.
Entah bagaimana caranya dia membuka kunci gembok pengaman dan kunci setang motorku, tapi yang jelas motor tua itu sudah berada di sampingnya. Aku benar-benar bersyukur pelayan itu bukan maling. Kalau tidak, partner setia ku itu pastinya sudah raib sekarang.
“Kendaraan anda agak bermasalah, tapi sudah saya perbaiki sedikit,” ujar pelayan itu sambil menepuk jok motorku. “Mudah-mudahan anda tidak keberatan.”
Tentu saja tidak keberatan, malah sebaliknya!
Tapi aku sekarang jadi benar-benar tidak enak dengan orang-orang di kedai aneh ini. Aku juga jadi merasa bersalah karena tadi sempat curiga dan sedikit mengira ini tempat orang-orang aneh berkumpul. Tapi ternyata mereka semua orang baik.
“Terima kasih banyak. Kalian sudah benar-benar membantuku. Aku jadi tidak enak,” ujarku mengakui. “Sekarang aku bingung bagaimana caranya aku membalas kebaikan kalian.”
“Tidak usah repot-repot,” sahut Glibert, dia pun mengangkat kartu namaku ke depan wajahnya. “Kalau butuh, aku pasti akan menghubungimu. Kalau saat itu tiba, mohon bantuannya ya.”
Aku balas tersenyum, kemudian mengulurkan tanganku ke arahnya. Anehnya Glibert menolak berjabat tangan dan hanya balas tersenyum tulus. Walaupun aku merasa sikapnya itu janggal, aku tidak mau mempertanyakan soal itu. Sudah terlalu banyak pertanyaan yang berputar dalam kepalaku dan aku tidak mau sakit kepala gara-garanya.
“Kurasa sudah saatnya anda pergi,” ujarnya lembut. “Kabutnya sudah mulai menipis dan malam sudah mulai larut.”
Walaupun merasa aneh, aku akhirnya berjalan menghampiri sepeda motor tua ku, menaikinya, kemudian menyalakan mesinnya. Suara mesin tuanya kembali meraung seperti biasanya. Anehnya, suara itu justru membuatku merasa aman dan nyaman. Rasanya seperti mendengar suara seorang sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu.
Sejenak aku menoleh ke arah Glibert, pelayannya, dan kedai aneh bernama Koffie Zonder Grenzen. Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan mencuat dari dalam benakku.
“Ngomong-ngomong Koffie Zonder Grenzen itu artinya apa?”
Tanpa bisa ditahan, aku tahu-tahu mengutarakan isi pikiranku keras-keras di hadapan Gilbert dan pelayannya. Glibert tertawa pelan mendengar perkataanku.
“Kopi Tanpa Batas,” jawab Glibert. “Tapi kurasa namanya agak terlalu panjang. Sebenarnya sudah lama aku berniat merenovasi kedai ini jadi bergaya wild west dan mengganti namanya jadi Shelter 19. Supaya mudah diingat, sekaligus ganti suasana. Entah sudah berapa lama tempat ini bergaya Eropa kuno. Kurasa di masa depan nanti, nama Shelter 19 akan jadi lebih populer ketimbang Koffie Zonder Grenzen.”
Aku mengangkat bahu.
Mungkin saja.
Apalagi kalau tempat ini akhirnya selesai dibangun oleh pengembang properti. Bisa saja kedai aneh itu jadi terkenal. Rasanya sih belum ada kedai kopi bertema Eropa klasik, ataupun wild west di sekitar Jabodetabek. Kurasa tempat ini akan jadi terkenal nantinya, terlebih karena anak-anak muda jaman sekarang senang nongkrong di tempat-tempat unik seperti ini.
“Kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih atas bantuannya!”
Setelah mengenakan helm, aku pun memacu motorku kembali ke jalan raya. Sesekali aku melirik ke arah kaca spion, tepatnya ke arah kedai Koffie Zonder Grenzen yang terlihat semakin mengecil di belakang sana, hingga akhirnya menghilang di balik tikungan jalan yang kulalui.
Begitu kedai ganjil itu tidak terlihat lagi, aku pun kembali memfokuskan pikiran untuk kembali ke rumah sembari ditemani aroma kopi yang menenangkan pikiran.

****

Aneh tapi nyata.
Jalanan yang kulalui waktu itu benar-benar mudah. Aku hanya perlu mengikuti jalanan berkelok-kelok yang dibatasi dinding batako, hingga akhirnya aku tahu-tahu keluar ke arah jalan raya di sekitar daerah Babelan, Bekasi. Meskipun ternyata aku nyasar kelewat jauh dari arah rumahku, setidaknya aku sudah berada di daerah yang kukenal baik.
Yah. Walaupun pada akhirnya aku tetap pulang terlalu malam dan besoknya nyaris terlambat masuk kerja karena ketiduran. Untung saja aku punya Koffie Koning yang kudapatkan dari kedai Koffie Zonder Grenzen.
Di luar dugaan, rasa kopi yang dihasilkan dari biji kopi yang kudapatkan waktu itu sungguh tiada tara! Ini pertama kalinya aku merasakan rasa kopi yang begitu nikmat, agak sedikit asam sih, tapi ada campuran rasa cokelat dan rempah-rempah yang anehnya membuatku jadi merasa bersemangat. Rasanya tubuhku jadi segar, pikiranku jernih, dan perasaanku pun jadi tenang.
Pokoknya luar biasa!
Bicara soal kedai aneh itu, belakangan aku mencoba untuk menyusuri jalan tempatku tersesat waktu itu dan sungguh mengherankan karena aku tidak bisa menemukan kedai itu di mana pun. Daerah tempatku tersesat waktu itu memang kawasan yang baru dibuka untuk dikembangkan jadi ‘kota modern’, tapi sama sekali tidak terlihat ada kedai bergaya Eropa kuno di sana. Aku sudah mencoba bertanya pada orang-orang yang kutemui di sekitar sana, tapi tidak seorang pun yang mengetahui kalau ada kedai kopi bernama Koffie Zonder Grenzen di sana.
 Mau tahu hal yang lebih aneh lagi?
Sejak motorku katanya ‘diperbaiki sedikit’ oleh pelayan di kedai kopi aneh waktu itu, partner tua ku itu berubah jadi luar biasa ... hemat bensin hingga batas tidak masuk akal! Pokoknya kemampuannya menghemat bahan bakar aku jamin bisa membuat produsen motor lain gigit jempol kaki karena iri.
Entah apa yang sudah dilakukan si pelayan, yang jelas aku benar-benar berterima kasih padanya. Dan tentu saja aku juga berterima kasih pada Glibert atas kopi ‘kelas dewa’ yang telah diberikannya padaku. Entah kapan lagi aku bisa bertemu dengan mereka dan membalas jasa mereka padaku. Walaupun rasanya agak tidak mungkin, mudah-mudahan saja kartu nama yang kuberikan waktu itu bisa menjadi penghubung bagi kami. Mudah-mudahan saja suatu saat nanti dia benar-benar akan menghubungiku untuk membantunya. Dan kalau saat itu tiba, aku pasti akan sebisa mungkin membalas bantuannya di malam itu.
Tapi yang jelas, ini hari libur, dan ritual pertamaku di pagi hari adalah menyeduh segelas kopi hangat.
Tentu saja aku akan menikmati kopi nikmat yang kudapat dari Glibert di Koffie Zonder Grenzen waktu itu. Tidak ada yang lebih nikmat selain bersantai di hari Minggu pagi sambil menyeruput kopi lezat, dan mungkin setelah itu aku akan mencoba mencari lokasi kedai kopi aneh itu lagi. Entah ketemu atau tidak, pokoknya yang penting aku sudah mencoba mencarinya.
Tapi sekarang ... waktunya minum kopi!
Sambil mengangkat secangkir Koffie Koning, aku menatap lurus ke arah ikan peliharaanku, yang kini balas menatapku dengan tatapan cerdasnya.
“Hidup Koffie Koning!”
Dan aku pun mengabaikan tatapan heran dari ikan hitam yang berenang di akuariumku itu.

****

End of 3rd Spiral

Move on to the next story





No comments: