Posts

13th Spiral: Glimpse Out of Time

Semua orang yang tinggal di kota Jakarta pasti menyadari kalau laju kehidupan di ibukota negara itu begitu cepat. Orang-orang saling berpacu satu sama lainnya untuk menggapai tujuan masing-masing. Waktu pun seolah berlalu lebih cepat bagi siapa pun yang tinggal ataupun bekerja di Jakarta. Seolah-olah sang Waktu tidak ingin melambat, apalagi berhenti sejenak dan membiarkan penghuni kota untuk beristirahat melepas lelah dan beban kehidupan mereka. Sehingga tidak jarang ada yang bilang kalau orang-orang yang tinggal di Jakarta jadi lebih cepat tua ketimbang mereka yang tinggal di kota lainnya. Dan tentu saja aku juga merasakan hal itu. Terkadang rasanya aku baru saja memejamkan mata sejenak di malam hari, tahu-tahu matahari sudah terbit dan aku pun harus kembali melanjutkan rutinitasku setiap hari. Meskipun pada dasarnya aku menikmati pekerjaanku sebagai kurir barang, tapi ada waktu-waktu tertentu ketika aku mempertanyakan tujuan hidupku sendiri. Pasalnya rutinitas hidupku sehari...

Everyday Adventure XIII: Musik dan Emosi

Catastrophy. Sebuah nama yang diberikan kepada peristiwa besar yang melanda dunia lebih dari 500 tahun yang lalu. Sebuah peristiwa yang menandai akhir dari peradaban manusia yang telah menguasai bumi selama ribuan tahun. Peristiwa itu juga merupakan awal dari era generasi baru pengganti manusia, yang kini hidup dengan mengais sisa-sisa peradaban mantan penguasa bumi tersebut. Mereka adalah para robot. Mesin-mesin canggih berteknologi tinggi yang memiliki kesadaran individu, serta dibekali dengan simulasi emosi yang, ironisnya, membuat mereka bersifat lebih manusiawi ketimbang para penciptanya. Belajar dari masa lalu yang kelam, para robot berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan para penciptanya dan berusaha mengembalikan kondisi dunia yang telah rusak paska kepunahan manusia. Namun tentu saja hidup mereka tidak mudah. Karena banyaknya teknologi yang hilang atau rusak setelah Catastrophy terjadi, sebagian besar masyarakat robot yang tersisa harus berjuang keras untuk se...

12th Spiral: Me and My New (Old) Motorbike

Bagi kebanyakan orang, sebuah sepeda motor itu tidak lebih dari kendaraan beroda dua yang meminum bensin jenis premium atau pertamax. Hanya sekedar alat untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Alat untuk membawa barang, atau alat untuk bisa terlihat keren di hadapan teman dan pacar. Tapi bagiku, sepeda motor tua yang sudah kumiliki selama bertahun-tahun itu lebih dari sekedar alat transportasi belaka. Motor ini adalah temanku. Partnerku. Itu sebabnya aku hampir tidak bisa menahan air mataku ketika melihat sosoknya yang begitu mengenaskan di hadapanku ini. Sekujur tubuh motor hitamku itu hancur berantakan akibat kecelakaan beruntun yang nyaris merenggut nyawaku beberapa minggu lalu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sungguh sebuah keajaiban aku masih selamat dari kecelakaan itu, meskipun aku sempat mati suri. Soalnya waktu aku melihat-lihat foto-foto kecelakaan itu di media online, aku merinding sendiri. Terlebih karena konon katanya aku terjepit diantara mobil Ferar...

[Antologi LCDP] - New Beginning

Image
Antologi LCDP - New Beginning Jadi, singkat kata, pada akhir tahun 2016 kemarin, saya sebagai salah satu anggota inti LCDP memaksa berinisiatif menghadirkan sebuah tantangan cerpen sebagai pengakhir tahun 2016 dan menyambut tahun 2017. Plus sebagai ajang melintasi Rintangkarya yang konon menjangkiti cukup banyak warga LCDP. Tema yang diusung adalah "New Beginning", yang intinya adalah sesuatu yang baru. Dunia baru, kehidupan baru, teman baru, selingkuhan pacar baru, dan sebagainya. Meskipun dengan limit waktu yang cukup singkat, ada 14 penulis yang sukses melindas melewati sang RintangKarya dan menghasilkan 14 cerpen yang terangkum dalam e-book antologi LCDP ini. Selamat menikmati. Download disini Ctt: E-book ini bebas dibagikan kemana pun dan kepada siapa pun, selama isinya (sebagian, maupun seluruhnya) tidak diubah dan tidak dijadikan bahan komersial. 

11th Spiral: End of Dream

“Kalau kau membaca surat ini, itu artinya kau tahu ini adalah saat yang tepat untuk membaca pesan terakhir, sekaligus satu-satunya bantuan yang bisa kuberikan untuk membalas jasa-jasamu. Tidak perlu bersedih atau merasa bersalah. Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku tahu kalau akhir hidupku sudah dekat dan aku tahu kau akan membutuhkan bantuanku di saat aku sudah tidak lagi bisa membantumu secara langsung. Saat ini kau pasti sedang bingung karena tiba-tiba saja kau terbangun dan mendapati dirimu sedang berdiri di peron kereta api yang berada di tengah hutan rimba. Tidak perlu takut. Tidak lama setelah kau selesai membaca pesanku, sebuah kereta uap akan datang dan menawarkan tumpangan. Berikan karcis yang ada di saku kanan celanamu kepada sang kondektur, kemudian naiklah ke dalam kereta, lalu kau akan sampai di tempat tujuanmu selanjutnya. Aku tahu ini membingungkan. Aku tahu kau juga ketakutan. Tapi percayalah, kau tidak pernah sendirian dan bantuan akan datang pada saa...

10th Spiral: Primordial Beats

Ketika aku mengendarai motorku menyusuri sudut-sudut kota Jakarta, aku menyadari kalau tidak banyak orang yang mengingat kalau kota ini sudah sangat tua. Maklum saja, kemegahan gedung-gedung pencakar langit, barisan kendaraan bermotor di jalanan, serta semua ingar-bingar kehidupan modern telah menutupi usianya yang sesungguhnya. Laju kehidupan yang begitu cepat dan tak kenal ampun juga membuat orang jarang berhenti dan memikirkan masa lalu ibukota Indonesia ini. Biarpun begitu, tapi setidaknya kota yang menjadi ibukota negara Indonesia ini sekarang sudah berusia lebih dari empat ratus delapan puluh tahun. Usia yang sangat tua bagi ukuran manusia, tapi masih begitu muda bagi kota ini. Hanya saja, terkadang aku merasa kalau itu bukan usianya yang sesungguhnya. Kota ini, bukan, seluruh wilayah ini jauh, jauh lebih tua dari seluruh peradaban manusia. Sayang tidak banyak yang menyadari soal itu. Ah, tapi itu tidak penting sekarang. Soalnya yang penting adalah setiap kali kota ini...

Everyday Adventure XII: Mother

Everyday Adventure XII (Mother) Kalau ada satu hal yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun yang pernah berkunjung ke kota Bravaga, pastinya itu adalah sebuah menara tinggi besar yang berdiri tepat di pusat kota. Central Tower. Menara yang sekaligus menjadi jantung kehidupan kota Bravaga adalah salah satu karya terakhir dari ras manusia yang sudah lama punah akibat Catastrophy. Menara tinggi yang menantang langit itu adalah bukan hanya sekedar sebuah monumen. Jauh di dasar bangunan megah itu, terdapat sebuah pabrik canggih yang dikendalikan oleh sebuah kecerdasan buatan yang disebut oleh warganya dengan panggilan: Mother. Tentu saja nama itu bukan hanya sekedar panggilan sayang dari warga kota, nama itu juga menunjukkan bahwa Mother adalah ibu dari sebagian besar robot berteknologi Cyberbrain yang hidup di Bravaga. Pasalnya banyak robot yang tinggal di kota itu merupakan generasi lama yang dibangkitkan kembali, diperbaiki, atau bahkan dibuat ulang oleh Mother. It...