Thursday, December 15, 2011

Kurir Bintang

Kurir Bintang

 

“Ada yang jelas-jelas salah dengan tugas kali ini.”

William berkata sambil menggeram. Kuping anjing dan ekornya terlihat menegang ketika dia bicara. Pria dari ras Kilika, ras manusia anjing itu, terus memandangi sebuah kotak logam besar di depannya nyaris tanpa berkedip. Sesekali dia mencium beberapa sudut kotak itu dengan hidungnya yang memiliki penciuman tajam. Tapi sayangnya dia tidak mencium apapun yang mencurigakan.

“Apanya yang salah? Ini tugas yang mudah dan sama sekali tidak berbahaya. Kita tinggal mengantar kargo ini dari Bumi ke Koloni Iria-12 di orbit Uranus. Tidak sulit kan?”

Ruri membalas perkataan William. Wanita berusia 23 tahun itu berkacak pinggang sambil tersenyum lebar. Matanya yang berwarna hijau jamrud tampak berbinar-binar ketika memandangi kotak logam di depannya.

Sebagai kapten kapal Little Star, sekaligus pimpinan dari perusahaan kurir antar-planet, Wave Rider, saat ini Ruri sedang merasa sangat gembira. Bagaimana tidak, dia baru saja menerima pekerjaan yang sangat mudah, tapi bayarannya sangat besar.

DUA BELAS JUTA BILL!!. Itulah jumlah uang yang dibayar oleh pelanggannya untuk pekerjaan kali ini. Jumlah itu jelas-jelas luar biasa fantastis, mengingat untuk mengirimkan kargo sebesar dan seberat ini, biasanya hanya dikenakan biaya sebesar 250 ribu bill.

Ruri memang mengakui kalau pekerjaan ini terasa agak ganjil. Siapa memangnya yang mau menghamburkan uang jutaan bill hanya untuk mengirim sebuah kargo dari Bumi ke Uranus? Tapi dia sama sekali tidak mau melewatkan kesempatan untuk mendapatkan uang banyak seperti ini.

William sebagai orang yang pikirannya ‘cukup normal’ di antara anggota tim Wave Rider lainnya, tentu saja luar biasa curiga.

“Ruri...firasatku tidak enak. Lebih baik kita buang saja kargo ini. Bagaimana?” ujar William lagi.

Tentu saja ucapan William membuat Ruri marah.

“Enak saja! Tidak akan!” bantah Ruri dengan nada jengkel. “Aku tidak akan menyia-nyiakan pekerjaan seperti ini begitu saja! Lagipula....pikirkan ini William! Dengan uang 12 juta bill, kita akhirnya bisa memperbaiki dan meng-upgrade Little Star. Pesawat tua ini benar-benar butuh make-over besar-besaran!”

“Aku setuju dengan Ruri,”

Tiba-tiba terdengar suara lain dari pintu ruang kargo. Ruri dan William lalu menoleh dan mendapati Jagyahan, mekanik Little Star, berdiri sambil bersedekap. Empat dari enam tangan pria dari ras Unghan itu tampak memegangi kotak besi berisi peralatan mekanik. Pakaiannya yang dipenuhi bekas oli dan cairan entah apa menunjukkan kalau dia baru saja selesai memperbaiki sesuatu.

“Baru saja aku memperbaiki kebocoran di Photon Particle Accelerator, tapi perbaikan yang kulakukan hanya bersifat sementara saja. Kalau ada yang memaksa mesin kapal bekerja kelewat keras lagi, aku khawatir benda itu akan jebol. Lalu kita semua akhirnya akan jump langsung ke surga,” ujar Jagyahan dengan nada muram. “Harus kuakui William, aku sebenarnya sependapat denganmu soal pekerjaan kita kali ini. Tapi kita benar-benar butuh banyak uang untuk memperbaiki kapal butut ini.”

“Tuh kan!” ujar Ruri dengan nada penuh kemenangan. “Apa kubilang, William! Dengan uang sebanyak itu kau juga bisa membeli bone-biscuit sebanyak yang kau mau!”

William menggonggong marah. Ekor dan kupingnya langsung tegak.

“Jangan samakan aku dengan seekor anjing!!” bentak William jengkel, dia lalu menggeram dan menunjukkan deretan gigi-giginya yang runcing.

“Will! Jangan makan kapten! Kita masih butuh dia sebagai kapten Little Star.”

Seorang android wanita langsung memberi peringatan. Android itu terlihat bersandar di pinggir pagar pembatas ruang kargo. Dari ekspresi yang terlihat di wajah buatannya, android itu terlihat lelah dengan pertengkaran yang sering terjadi antara Ruri dan William.

“Ai-Oricika. Bagaimana pendapatmu?” tanya Jagyahan.

“Entah. Aku tidak peduli,” jawab Ai-Oricika dengan nada cuek. Android itu lalu menambahkan. “Tapi kalau kalian memang curiga. Kenapa kalian tidak buka saja kargo itu? Kalau isinya berbahaya tinggal kita buang saja sambil jalan. Nanti kalau ditanya kemana kargo itu, bilang saja ada kecelakaan dan kargo itu jatuh di Jupiter.”

“Oi! Yang benar saja!”

“Alasan macam apa itu, bodoh!”

William dan Ruri berseru nyaris bersamaan. Lalu keduanya terdiam dan saling pandang.

Ucapan android yang merupakan pilot Little Star itu benar. Mereka bisa saja membuka kargo itu untuk memastikan tidak ada benda berbahaya di dalam kargo itu. Berhubung akhir-akhir ini teror bom semakin marak di sekitar tata surya, mau tidak mau Ruri jadi khawatir kalau mereka sebenarnya hanya dimanfaatkan sebagai ‘kurir kematian’.

“Baiklah. Ayo kita buka kotak ini,” ujar Ruri sambil menyingsingkan lengan bajunya. “Ai! Turun kesini dan bantu aku!”

“Ogah!” tolak android itu dengan tegas.

“Jagyahan!” ujar Ruri sambil menoleh ke arah mekanik itu.

Jagyahan mengangkat keenam bahunya dan berjalan ke arah kotak logam yang ada di depan Ruri. Mekanik ahli itu lalu membuka boks peralatannya dan mengeluarkan obeng, kunci inggris, kunci pas, dan sebuah tang besar. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Jagyahan untuk membuka kunci kotak logam itu.

Tapi begitu kotak logam itu terbuka, semua anggota tim kurir Wave Rider langsung melongo. Tidak terkecuali Ai-Oricika yang merupakan seorang android.

“Apa?!” gumam Jagyahan sambil menjatuhkan kunci inggris yang dia pegang.

“Ya ampun!” ujar Ruri sambil menutup mulutnya.

“Astaganaga....!” gumam William. “Maksudku...astaga...naga!?”

Rupanya isi kotak logam itu adalah seorang gadis setengah naga dari ras Lundgen. Gadis itu menatap ke arah Ruri, Jagyahan, lalu ke arah William. Dengan nada kebingungan gadis itu lalu bertanya.

“Ehmm....ini dimana ya?”

 

***

 

“Jadi ada sekelompok orang bermantel coklat tua, bertampang seram, dan berlogat aneh yang menculikmu dari resortmu di Bumi saat kau sedang berlibur. Lalu mereka memasukkanmu ke dalam kotak logam, lalu meminta kami untuk mengantarkan kotak berisi dirimu itu sampai ke koloni Iria-12 di orbit Uranus?”

Ruri bertanya pada si gadis naga sambil memijat dahinya, kebiasaan yang selalu dia lakukan kalau dia merasa pusing atau bingung. Phi langsung mengangguk mengiyakan.

“Oke....jadi ini masalah penculikan....atau intelligent-being trafficking. Aku jelas-jelas tidak mau terlibat nih, kapten.”

Ai-Oricika langsung berkomentar sambil memegangi roda kemudi kapal Little Star.

“Aku juga!” balas Ruri dengan nada jengkel, wanita itu lalu mengambil botol air di dekat kursi kaptennya. Wanita itu lalu menggerutu sendiri. “Ini bisa rumit sekali urusannya....”

William yang mendengar gerutuan Ruri langsung menghela nafas panjang, kemudian menoleh ke arah Phi.

“Jadi, namamu tadi Phi ya?” tanya William.

Phi mengangguk.

“Benar. Namaku Phirina Hira Lugventai. Tapi orang biasa memanggilku Phi,” balas gadis naga itu. “Kalian sendiri sebenarnya siapa?”

“Kami adalah tim kurir antar planet, Wave Rider,” William lalu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku William, ahli senjata. Lalu wanita bertampang bodoh itu Ruri, dia kapten kami. Kemudian android bertampang cuek itu Ai-Oricika, pilot kapal butut ini. Orang bertangan enam yang tadi membebaskanmu itu Jagyahan, mekanik kami.”

“Ah.....salam kenal semuanya,” ujar Phi sambi membungkuk dengan sopan.

“Jadi....sebenarnya siapa kau ini, Phi?” tanya William lagi.

Phi tampak terdiam sejenak dan jelas terlihat kalau dia merasa ragu untuk menjawab pertanyaan dari William. Gadis itu memandang anggota tim kurir Wave Rider satu persatu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari William tadi.

“Aku adalah putri dari Lord Kurwana Hira Lugventai, kaisar planet Cirrus-026, pemimpin ras Lundgen. Aku juga menjabat sebagai diplomat planet Cirrus-026 untuk Bumi, dibawah organisasi Solar-Pact.”

“APPPUAAA?!”

Jawaban Phi, spontan membuat Ruri menyemburkan air yang baru saja dia minum, sementara William langsung ternganga. Hanya Ai-Oricika yang tampak biasa saja, meski reaktor di dalam tubuh android itu baru saja nyaris mengalami overload.

“Tu.....tunggu sebentar....oke....uhm....jadi kau seorang diplomat sekaligus putri kaisar di planet Cirrus-026?” tanya William. Begitu Phi mengangguk, kepala manusia anjing itu langsung terasa berputar-putar. “Sebentar....ini sangat tidak baik....bukannya kau seharusnya menghadiri konferensi antar planet di Cirrus-026 sekarang?”

“Konferensi apa?” tanya Ruri dengan tampang seperti orang bodoh.

“Agh! Makanya lihat berita sekali-kali!!!” geram William sambil mengacak-acak rambutnya. “Konferensi antar planet dibawah organisasi Solar Alliance, konferensi Solar-Pact!!. Tahun ini konferensi yang melibatkan 450 planet itu digelar di planet Cirrus-026, planet asal bangsa Lundgen. Kalian tahu sendiri, bangsa Lundgen itu salah satu bangsa terkuat di Solar Alliance. Kalau mereka tahu putri sekaligus diplomat kekaisaran mereka mendapat masalah......mereka pasti akan mulai menyalahkan Solar Alliance.”

Ruri langsung paham maksud perkataan William.

“Astaga! Itu bisa gawat sekali!” ujar wanita itu sambil memijat dahinya lagi. “Bisa-bisa pecah perang antar-planet!”

“Kapten? Kalau perang benar-benar pecah, boleh aku pensiun dari Wave Rider?” tanya Ai-Oricika dengan cueknya.

“Tentu saja tidak, android jelek!” sahut Ruri segera.

Wanita lalu berdiri dan berseru memberi perintah pada anggota timnya yang lain.

“Baiklah kalian semua! Kita ubah rute perjalanan kita!!” perintah Ruri dengan tegas. “Putar haluan, melaju pada kecepatan penuh! Kita pergi ke planet Cirrus-26!!”

 

***

 

Sayangnya perjalanan menuju planet Cirrus-26, tempat konferensi Solar Pact digelar, tidaklah mudah.

Orang-orang yang menculik Phi entah bagaimana sudah mengetahui kalau Ruri dan timnya akan pergi ke planet Cirrus-26, sehingga kapal tempur mereka sudah mencegat Little Star tidak jauh dari Jump Gate.

“Perhatian kapal Little Star. Kami perintahkan kalian untuk menyerahkan gadis Lundgen yang ada di dalam kapal kalian sekarang. Kami berjanji tidak akan menyakiti kalian kalau perintah kami kalian turuti. Tapi kalau tidak......kami akan menenggelamkan kapal kalian!”

Seorang pria bertudung coklat tampak terlihat di layar holografis yang melayang di depan ruang kendali kapal Little Star. Dari ekspresi wajah yang terlihat dari pria itu, jelas kalau dia berbohong.

“Omong kosong! Kau tetap akan menenggelamkan kapal kami meski kami menyerahkan Phi padamu!” balas Ruri. Dia lalu berdiri sambil mengacungkan jari tengahnya. “Tangkap saja kami kalau bisa!”

“TANCAP GAS!!” seru Ruri setelah memutuskan sambungan komunikasi dengan para penculik itu.

Begitu mendengar aba-aba Ruri, Ai-Oricika langsung mendorong tuas energi ke posisi maksimum. Empat mesin Ion-Thruster di belakang Little Star langsung menyala sambil menyemburkan energi, membuat kapal tua itu melaju dengan kecepatan tinggi.

Tentu saja para penculik Phi tidak tinggal diam. Kapal tempur mereka langsung melaju cepat dan mengejar Little Star.

“Ruri....apa tidak terpikir olehmu mereka akan menenggelamkan kapal ini kalau kita kabur?” tanya William dari balik bangku kendali senjatanya.

“Tidak akan! Kalau Phi adalah sesuatu yang berharga untuk ‘ditukar’ dengan sesuatu, mereka tidak akan men....”

“Kapten......Kita baru saja dikunci!” seru Ai-Oricika memberi peringatan. “TEMBAKAN PERTAMA!!!”

“Putar 50 derajat ke kiri!!! KECEPATAN PENUH!!!” jerit Ruri.

“AYE!” sahut Ai-Oricika.

Android itu langsung memutar roda kemudi kapal ke kiri, membuat Little Star bergerak menghindari sebuah Photon Torpedo yang meluncur cepat ke arah kapal itu. Guncangan keras langsung terasa oleh tim Wave Rider ketika peluru energi itu menyerempet sisi kanan kapal.

“Kita berhasil menghindar!” ujar Ai-Oricika. Android itu lalu menambahkan dengan nada muram. “Tapi kalau kita tidak menambah kecepatan, kita pasti hancur....”

“Sial!” umpat Ruri, dia lalu menekan tombol interkom dan menjerit. “JAGYAHAN!!! KITA BUTUH KECEPATAN EKSTRA!!!!”

Wajah Jagyahan langsung muncul di layar holografis dan jelas terlihat dia sedang kesulitan.

“Jangan bercanda! Sudah kubilang Photon Particle Accelerator di mesin kita bisa meledak kalau kupaksa!” balas pria itu sambil memutar sebuah katup dengan 3 tangannya, sementara 2 tangan yang lain sibuk mengetikkan sesuatu di layar panel kontrol. “Kau mau kita semua mati konyol Ruri?!”

Ruri menghantam sandaran tangan di kursi kaptennya dengan marah. Wanita itu lalu menoleh ke arah William.

“Will! Bagaimana dengan senjata kita? Apa kita bisa melawan mereka?” tanya Ruri pada ahli senjata itu.

“Mustahil! Memangnya kau pikir Linear Cannon kita sanggup menenggelamkan kapal tempur sebesar itu? Jangan konyol!” balas William dengan nada tegang.

Sebuah guncangan keras kembali terasa ketika tembakan kedua kembali menyerempet badan Little Star. Kali ini kerusakannya cukup berat hingga salah satu kabin jebol, dan memuntahkan semua isinya keluar.

“Kapten! Kabinku baru saja jebol! Pikirkan sesuatu!” desak Ai-Oricika sambil memutar lagi kemudi untuk menghindari tembakan ketiga. Kali ini Little Star berhasil menghindar dengan sempurna. “Kapten!!”

Ruri langsung duduk diam dan berpikir keras. Sesekali pandangannya jatuh ke arah Phi yang duduk diam di kursi operator komunikasi. Sebelum Ruri sempat bicara, Phi tiba-tiba bicara terlebih dahulu.

“Apa di kapal ini ada bahan yang bisa meledak?” tanya Phi pada Ruri dan William.

“Banyak! Ada sekitar 500 kg amunisi Linear Cannon dan 1 ton Compact Hidrogen Fuel di kargo kita,” jawab William dengan heran. “Memangnya kau mau apa?”

“Bisa tidak kita buang semua benda itu kebelakang, ke arah kapal tempur yang mengejar kita? Lalu kita ledakkan tepat di dekat kapal itu. Walau daya ledaknya tidak akan cukup untuk menghancurkan kapal itu, setidaknya itu akan memperlambat mereka.”

Ruri, William, dan Ai-Oricika langsung terdiam begitu mendengar ide Phi.

“Kau dengar itu Will?” tanya Ruri.

“Dengan jelas sekali,” sahut William sambil nyengir lebar. “Jadi?”

“Ayo kita lakukan!” ujar Ruri sambil mengadu kedua tinjunya. “Ai! Pastikan kau bisa menghindari semua tembakan selanjutnya!”

“Dengan catatan Photon Particle Accelerator kita tidak meledak duluan,” balas android itu dengan muram.

Ruri dan William langsung pergi ke ruang kargo dan mengenakan Constructor Suit, sebuah baju robotik sekaligus mesin yang biasa digunakan untuk pekerjaan konstruksi berat di luar angkasa. Mereka berdua langsung memindahkan semua kotak-kotak dan tabung berisi amunisi dan Compact Hidrogen Fuel ke dekat pintu kargo. Tentu saja semua kargo tersebut sudah dipasangi pemicu ledakan terlebih dahulu.

“Semoga ini berhasil....” gumam Ruri.

Wanita itu lalu menarik sebuah tuas dan membuka pintu kargo. Ruri sengaja tidak menyedot udara di dalam kargo agar begitu pintu terbuka, semua isi kargo yang sudah disiapkan langsung terlempar keluar.

Benar saja, belum lagi pintu kargo terbuka lebar, pusaran udara sudah muncul dan menerbangkan ratusan kilo kargo keluar kapal. Kargo-kargo itu tampak melayang-layang di luar angkasa dan tersebar di belakang kapal Little Star.

Dari sudut pandang para penculik Phi, awak kapal Little Star tampak sedang berusaha mengurangi beban kapal mereka untuk menambah kecepatan. Dalam kapal tempur mereka, para penculik itu tertawa mengejek karena mengetahui tindakan itu sia-sia. Mereka sama sekali tidak curiga kalau kotak-kotak dan tabung-tabung yang dibuang itu berisi bahan mudah meledak.

Dengan penuh percaya diri mereka terus mengejar Little Star dan mengabaikan kargo-kargo yang mereka lewati.

“Matilah kalian semua!” seru Ruri penuh kemenangan sambil menekan sebuah tombol holografis di depan wajahnya, tepat ketika kapal tempur lawannya itu melewati setengah dari kargo yang dia buang.

Sebuah ledakan dahsyat langsung menelan setengah kapal tempur milik para penculik Phi. Gelombang kejutnya menerpa Little Star dan secara tidak disengaja, memberikan tambahan kecepatan pada kapal tua itu. Dalam waktu beberapa menit saja, Little Star sudah mencapai Jump Gate yang akan mengantarkan mereka ke dekat planet Cirrus-26.

Sementara itu, meski ledakan akibat bom yang dilepaskan oleh Ruri dan William tidak menghancurkan kapalnya, tapi kapal tempur milik para penculik Phi itu kini tidak bisa bergerak. Ledakan barusan sudah merobek lambung kapal dan merusak sebagian besar mesin kapal mereka. Para penculik itu sama sekali tidak bisa berbuat apapun ketika melihat Little Star semakin mendekati Jump Gate.

Di dalam ruang kendali Little Star, Ruri tidak henti-hentinya tertawa puas sambil memeluk erat Phi.

“Jenius! Kau benar-benar jenius, Phi!” sorak Ruri, masih sambil memeluk Phi. “Nah, Ai, bersiaplah untuk melakukan Jump. Kita akan berkunjung ke salah satu konferensi terbesar di galaksi Bima Sakti ini.”

“Siap, kapten!” sahut android itu. Tapi dia lalu menambahkan. “Apa setelah ini aku akan dapat bonus?”

 

***

 

Berkat ide brilian dari Phi, keahlian mengemudikan kapal yang dimiliki Ai-Oricika, serta kecepatan reaksi dari Ruri dan William, semua tim Wave Rider akhirnya mencapai planet Cirrus-26 dengan selamat.

Begitu mereka muncul di dekat planet ras Lundgen itu, tim Wave Rider langsung disambut oleh pasukan gabungan Solar Alliance. Mereka rupanya sudah mengetahui perihal penculikan Phi oleh sekelompok orang tak dikenal, dan sudah melakukan penyelidikan. Tidak lama lagi para penculik itu akan segera ditahan.

“Untunglah putriku bertemu dengan orang-orang seperti kalian. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Phi ini adalah segalanya bagi saya. Terlebih, posisinya sebagai diplomat membuat saya semakin khawatir lagi.”

Lord Kurwana Hira Lugventai tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada William, Ai-Oricika, dan Jagyahan. Karena jasa besarnya, anggota tim kurir Wave Rider, mereka diundang secara khusus ke acara jamuan makan para diplomat dan utusan antar planet yang hadir di konferensi Solar-Pact.

Ai-Oricika tidak henti-hentinya memandangi seorang android pria yang tampak berdiri mendampingi utusan Martian Society. Sesekali dia memalingkan wajahnya ketika android itu menoleh ke arahnya. Sementara Jagyahan dengan santainya sudah bergabung dengan sekelompok orang yang sibuk berdebat mengenai keamanan transaksi uang antar planet.  

William berdiri diam dan memandang ke sekelilingnya. Sejak tadi dia mencari-cari dimana Ruri berada. Segera setelah dia dan anggota timnya menerima bintang penghargaan dari Lord Kurwana Hira Lugventai, wanita itu langsung menghilang begitu saja.

“Tidak bisa kupercaya....kita ada di pertemuan kelas antar-planet dan dia menghilang begitu saja?” tanya William sambil memainkan gelas anggur yang dia pegang. “Ruri itu memang sulit ditebak jalan pikirannya...”

William baru saja akan meminum anggurnya ketika tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh seseorang. Orang itu tidak lain adalah Ruri.

Wanita itu tampak tersenyum lebar dan kedua matanya berbinar-binar. Tanpa mengabaikan protes dari William, Ruri menyeret satu persatu anggota timnya menjauh dari pesta. Lalu memaksa mereka semua untuk naik ke dalam Little Star. Jelas anggota timnya merasa jengkel dengan tindakan egois Ruri.

“Kapten! Apa-apaan ini?! Seharusnya aku mendapatkan cuti setelah semua kejadian tadi!” protes Ai-Oricika.

“Android itu benar! Lagipula Little Star belum selesai diperbaiki!” timpal Jagyahan.

“Ruri! Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya William jengkel.

Wanita itu tidak menjawab dan langsung menunjukkan sebuah layar holografis di depan anggota timnya.

“Lupakan pestanya. Kita sudah dapat bintang penghargaan dan uang imbalan atas jasa kita. Sekarang kembali ke pekerjaan!” ujar Ruri dengan nada bersemangat. “Baru saja diplomat planet Herjuin memintaku mengantarkan sebuah kargo penting. Kalau berhasil, dia akan membayarku 158 juta bill!! Luar biasa sekali bukan?”

“Memangnya apa isi kargo itu, kapten?” tanya Ai-Oricika sambil memainkan jarinya.

“Tidak tahu!” sahut Ruri dengan entengnya.

Ai-Oricika langsung menepuk dahinya dan berbalik.

“Lalu....kemana kita harus mengantar kargo itu?” tanya William. Dalam hati dia sudah menduga kalau pekerjaan ini akan sama tidak beresnya dengan pekerjaan yang baru saja mereka selesaikan.

“Ke galaksi M-112,” jawab Ruri sambil menunjukan peta galaksi pada William.

“GALAKSI M-112!!??” bentak William.

“Ya. Benar sekali. Galaksi M-112” sahut Ruri dengan riang.

“Kau GILA!? Galaksi itu jaraknya 50 kali Long Jump dari sini!” bentak William lagi sambil menggeram. “Apa kau tahu berapa lama kita akan sampai di galaksi itu?!”

“Ah....paling lama 4 bulan. Tapi itu sepantar dengan imbalannya kok. Jangan khawatir!” balas Ruri lagi.

Kali ini William tidak bisa berkata apapun. Pria ahli senjata itu hanya memegangi kepalanya yang baru saja serasa mau pecah sambil menggerutu. Ai-Oricika, sang pilot langsung terkulai lesu diatas roda kemudi kapal, dia tahu kalau perjalanan ini akan sangat panjang dan tidak menyenangkan. Jagyahan langsung membenturkan kepalanya ke dinding kapal. Dia tahu bahwa sebagai mekanik kapal, pasti dia harus mati-matian menjaga agar mesin butut Little Star tidak meledak sebelum sampai di tempat tujuannya. Sementara itu Ruri, sang kapten kapal tidak berhenti tersenyum dan bahkan mulai bersenandung riang.

Kenapa aku bisa terjebak bersama tim kurir antar planet, yang isinya orang-orang sinting seperti ini?? gerutu William dalam hati.

 

 ***

~FIN~

 

Red_Rackham 2011

No comments: