Saturday, December 31, 2011

Everyday Adventure II

Everyday Adventure II: Tahun Baru


“Ryouta!!!”
Ryouta langsung berbalik ketika mendengar seruan itu. Android bertubuh besar itu terkejut bukan main ketika melihat sosok gynoid yang berlari ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, gynoid berambut hitam panjang itu langsung melompat dan memeluknya, hingga membuat Ryouta nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi dengan segera dia menyeimbangkan dirinya, lalu berseru dengan marah pada robot gadis yang menubruknya itu.
“Maria?! Sedang apa kau disini?!”
“Sedang mengganggumu,” sahut Maria sambil nyengir lebar.
Ryouta langsung mendesah kesal. Saat ini dirinya tengah berada di area konstruksi sebuah gedung baru yang sedang dibangun. Sebagai salah satu android yang diciptakan dengan kekuatan fisik yang besar, Ryouta menggunakan kekuatannya itu untuk membantu pembangunan gedung-gedung di kota Bravaga.
“Kalau begitu minggir sana! Tempat ini berbahaya!” gerutu Ryouta sambil mendorong tubuh Maria agar menjauh dari dirinya. Tapi gynoid itu masih saja berdiri di depan Ryouta.
“Aku tahu itu. Tapi kan ada Ryouta disini,” sahut Maria, masih dengan nada riang.
Ryouta langsung menepuk wajahnya. Dia lalu menarik kerah baju Maria dan menarik tubuh gynoid itu menyingkir dari area konstruksi. Tentu saja Maria memberontak, tapi usahanya sia-sia karena Ryouta jauh lebih kuat darinya. Pada akhirnya gynoid itu pasrah ketika temannya itu menyeretnya keluar. Ryouta baru mau melepaskan Maria setelah membawa gynoid itu keluar pagar yang membatasi area konstruksi tempatnya bekerja.
“Jadi...mau apa kau kesini? Bukannya sudah kubilang jangan dekat-dekat area konstruksi! Tempat ini berbahaya!” ujar Ryouta sambil melepas helm titanium yang dia kenakan.
“Ah! Tidak akan berbahaya. Kan ada kamu disini,” balas Maria, masih sambil nyengir lebar dan itu membuat Ryouta mulai jengkel.
“Maria!” geram Ryouta. “Kau...!”
“....aku kemari untuk mengajakmu pergi nanti malam,” potong Maria sambil berjalan mundur beberapa langkah. “Apa kau lupa nanti malam ada apa?”
Ryouta berpikir sejenak, lalu dia teringat kalau hari ini adalah hari terakhir di kalender tahun ini. Dengan kata lain, malam nanti adalah malam pergantian tahun. Malam tahun baru. Dia baru ingat soal itu sekarang, karena akhir-akhir ini dia disibukkan dengan pekerjaan konstruksinya yang harus segera diselesaikan.
Astaga! Itu sebabnya kenapa akhir-akhir ini aku banyak melihat hiasan-hiasan dan robot-robot berpenampilan aneh di Bravaga! Kenapa aku sampai lupa!
 Ryouta langsung menepuk kepalanya lagi.
“Nah! Kau sudah ingat kan!” ujar Maria lagi. “Malam ini ada festival malam tahun baru di sekitar Central Tower dan tentu saja aku ingin kau pergi bersamaku.”
Kalau dia bisa tersenyum, Ryouta pasti tersenyum lebar. Dia merasa senang sekali karena Maria sampai repot-repot datang ke tempat kerjanya, hanya untuk mengajaknya pergi ke festival malam tahun baru.
“Ayolah! Kau kan tidak kerja malam nanti...” ujar Maria lagi dengan nada merajuk.
Ryouta langsung menepuk kepala Maria dan mengusapnya dengan lembut.
“Tentu saja aku akan pergi bersamamu,” balas Ryouta.
Maria langsung bersorak gembira dan melompat dengan riangnya.
“Yeah!!”
Tanpa menunggu lagi, Maria langsung berbalik dan berlari menjauh. Gynoid itu lalu melambaikan tangannya ke arah Ryouta, lalu berseru nyaring.
“Kalau begitu aku tunggu jam 8 malam di depan toko energi Genie Lamp!!”
Segera setelah menyerukan kalimat itu, Maria langsung melompat tinggi dan menghilang di antara atap gedung-gedung tinggi yang ada di sisi jalan.
Ryouta langsung menghembuskan nafas lega karena Maria akhirnya pergi. Dia lalu berbalik dan bersiap untuk kembali bekerja, tapi android itu sempat berhenti sejenak.
Tidak terasa...tahun ini pun sudah hampir berakhir.
Ryouta bergumam pada dirinya sendiri, sambil memandang ke arah sebuah menara besar yang berada tepat di tengah-tengah kota Bravaga.

****

Malam tahun baru di kota Bravaga adalah sesuatu yang sangat spesial bagi penghuninya. Untuk memperingati momen pergantian tahun tersebut, setiap tahun selalu diadakan festival dan karnaval meriah di kota para robot tersebut. Gedung-gedung kota yang biasanya terlihat begitu ‘biasa’ dan tidak menarik, kini sudah dihiasi berbagai macam akesoris dan ornamen yang tampak mencolok. Warna-warna cerah sengaja disapukan di berbagai sudut kota, ditambah dengan hiasan lampu-lampu berwarna-warni yang melintang di antara gedung-gedung, membuat suasana kota Bravaga menjadi sangat meriah.
Beberapa robot bahkan sengaja menghias diri dengan cat dengan warna-warna mencolok, atau mengganti bagian tubuh mereka dengan bentuk-bentuk yang aneh dan tidak wajar. Ada juga robot yang mengenakan berbagai jenis aksesoris berwarna-warni, hingga mereka tampak  lucu dan aneh karena dandanan nyentrik mereka.
“Kemana dia? Lama sekali!”
Ryouta menggerutu sambil mengecek jam internal yang terpasang di dalam tubuhnya. Dia mulai jengkel karena sudah setengah jam dia berdiri di depan toko energi Genie Lamp, namun sosok Maria belum terlihat juga.
“Sabar. Wanita itu butuh waktu lebih lama dari pria dalam soal berdandan.”
Buggy yang sudah datang lebih awal dari Ryouta, berkomentar sambil bertengger di atas papan nama yang ada di samping pintu toko. Kedua mata robot berbentuk mirip kecoak raksasa itu tampak berbinar-binar. Jelas sekali kalau dia sangat menikmati suasana kota yang sangat meriah ini.
“Yang benar saja...” gerutu Ryouta lagi sambil memutar satu-satunya mata yang dia punya.
“Ryouta~! Buggy~!! Maaf aku terlambat!!”
Ryouta dan Buggy langsung menoleh ke arah sosok yang memanggil nama mereka berdua. Sosok itu tidak lain adalah Maria. Tapi kali ini Maria tampak berbeda dengan biasanya. Setidaknya pakaian yang dia kenakan.
Kalau biasanya Maria mengenakan pakaian yang sederhana dan terkesan tomboi, kali ini gynoid itu tampak anggun dengan gaun yang dia kenakan. Rambut panjangnya yang berwarna hitam, terlihat sangat kontras dengan gaun biru langit yang dia kenakan. Sekilas robot gadis itu terlihat bagaikan seorang putri.
“Astaga! Kau cantik sekali!”
Buggy langsung berkomentar sambil terbang menghampiri Maria. Robot itu lalu terbang berputar sekali sebelum mengacungkan jempol mungilnya.
“Gaun itu memang cocok sekali untukmu,” puji Buggy lagi.
Maria tampak tersipu malu.
“Ah! Jangan seperti itu! Aku jadi malu!” balas Maria sambil memegangi kedua pipinya.
“Ayo! Sana temui Ryouta! Dia sudah menggerutu terus dari tadi!”
Buggy lalu mendorong Maria agar berjalan lebih cepat. Keduanya lalu sampai di depan Ryouta yang tidak henti-hentinya memandangi Maria.
“A...apa?! Kenapa kau menatapku seperti itu?” ujar Maria sambil berkacak pinggang. “Apa ada yang aneh dengan pakaianku?”
Ryouta langsung menyadari hal itu dan memalingkan wajahnya. Dia sadar kalau tadi dia sempat terpana dengan sosok Maria yang tampak anggun dan cantik, sehingga membuatnya terdiam selama beberapa saat.
“Tidak. Tidak ada yang aneh. Ayo kita pergi sekarang!” balas Ryouta sambil berjalan mendahului Maria.
Melihat sikap acuh Ryouta, Maria langsung cemberut tapi dia tetap saja berjalan mengikuti Ryouta. Dia merasa agak kecewa karena Ryouta tampak tidak terkesan dengan penampilannya.
“Jangan terlalu dipikirkan,” celetuk Buggy, seolah-olah robot itu bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Maria. “Biar cuek begitu, Ryouta tadi sebenarnya sangat terkesan dengan kecantikanmu. Hanya saja...yah...kau tahu sendiri sifatnya seperti apa.”
Maria memandangi Buggy sejenak, lalu tersenyum lebar dan menepuk sisi tubuh Buggy.
“Kau benar. Sekarang ayo kita nikmati festival ini!” seru Maria sambil segera berlari kecil mengejar Ryouta.
“Ayo~!” timpal Buggy sambil melayang diatas kepala Maria dengan riang.

****

Festival malam tahun baru di kota Bravaga berpusat di sebuah lapangan luas berbentuk lingkaran, yang berada tepat di tengah kota. Lapangan itu tampak terbentang melingkar mengelilingi sebuah menara tinggi yang disebut Central Tower. Menara tertinggi di kota Bravaga tersebut adalah tempat tinggal Mother, ibu dari semua robot yang hidup di kota tersebut. Mother sendiri merupakan sebuah mesin canggih yang mampu menciptakan dan menyediakan berbagai macam suku cadang bagi semua robot yang tinggal di Bravaga. Sesuatu yang beberapa ratus tahun yang lalu merupakan hal yang mustahil didapatkan oleh mereka yang tinggal di kota para mesin itu.
Lapangan Central Tower yang biasanya sepi itu, kini tampak ramai dengan berbagai macam robot yang sudah berkumpul di sana. Beberapa di antara mereka tampak menjual berbagai macam barang dan membuka stand jualan, namun ada juga yang terlihat sedang melakukan atraksi dan mempertunjukan keahlian mereka. Sebagian besar robot tampak hanya berjalan santai mengitari stand dan para seniman jalanan, tapi semuanya telihar gembira dan menikmati suasana ramai di lapangan tersebut.
“Coba lihat! Ramai sekali disini!”
Maria berseru gembira sambil memandang ke segala arah. Gynoid itu tampak begitu bersemangat dan antusias, meski setiap tahun selalu datang ke festival ini.
“Tentu saja ramai. Hampir seluruh penduduk kota Bravaga berkumpul di lapangan ini,” sahut Ryouta. Dia lalu menambahkan dengan nada mengejek. “Awas. Jangan sampai terpisah nanti kau tersesat.”
Maria langsung merengut dan menyikut pinggang Ryouta.
“Memangnya aku anak kecil!” protes Maria. Tapi dia tidak bisa marah lama-lama, karena suasana meriah di festival malam pergantian tahun itu membuatnya kembali bersemangat. Dengan riang gadis android itu menarik tangan Ryouta.
“Ayo! Kita bersenang-senang!!”

(Art by Mukhlis Nur / Sinlaire)


Maria benar-benar membuat Ryouta mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia tampak terkagum-kagum ketika melihat sekelompok robot memamerkan kemampuan akrobatik mereka. Dia juga tampak begitu gembira ketika menari bersama Buggy di atas sebuah panggung musik kecil. Pokoknya, malam itu Maria benar-benar bersenang-senang.
Sosok Maria yang menari riang diiringi alunan musik memukau banyak robot yang hadir di festival itu. Sang gynoid cantik itu kini menari berputar di atas panggung dan membuat beberapa robot yang tadinya asyik menari, kini justru memandangi Maria dengan tatapan kagum. Gerak tariannya yang riang dan penuh semangat benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan sangat terkesan. Kini sosok Maria benar-benar menjadi pusat perhatian semua robot yang hadir di sekitar panggung musik tersebut.
Meski tidak bisa tersenyum, tapi sebenarnya saat ini Ryouta sedang tersenyum lebar. Dia juga menikmati suasana ramai dan riang gembira dari festival malam tahun baru ini. Biasanya Ryouta enggan menuruti kemauan Maria yang seringkali kekanakan, tapi kali ini dia membiarkan robot gadis itu berbuat sesukanya. Hanya saja Ryouta bersyukur karena kali ini Maria bisa menahan diri dan tidak membuat masalah.
Ryouta mulai kembali mengingat-ingat berbagai masalah yang sudah dibuat oleh Maria tahun ini. Android besar itu teringat satu masalah serius, ketika Maria secara tidak sengaja merusak Solar Converter di Solar Field. Gara-gara itu, setengah kota Bravaga harus mengalami pemadaman bergilir karena kekurangan pasokan listrik.
Kuharap tahun depan dia tidak membuat terlalu banyak masalah...gumam Ryouta dalam hati.
“Ryouta!”
Seruan Maria membuat Ryouta tersentak dari lamunannya. Dia lalu menoleh dan melihat gynoid itu sedang memandang ke arahnya dengan tatapan tajam.
“Apa?” balas Ryouta agak ketus.
“Ayolah! Bersenang-senang sedikit! Dari tadi kau terlihat tidak bersemangat!” ujar Maria. Dia lalu menunjuk ke arah lain, tepatnya ke arah Buggy yang sedang melakukan gerakan akrobatis di udara bersama sebuah robot lainnya. “Coba lihat si Buggy! Dia saja terlihat begitu bersemangat.”
“Sikapnya itu lebih mirip robot yang cyber-brain-nya baru saja kena arus pendek,” celetuk Ryouta.
Maria langsung merengut lagi ketika mendengar ucapan Ryouta. Tapi gynoid itu lalu tertunduk lesu. Dia tampak sedih karena melihat Ryouta yang tampaknya tidak menikmati saat-saat bersamanya itu.
“Ryouta...apa kau tidak suka berjalan bersamaku seperti ini?” tanya Maria dengan suara lirih. Dia lalu menengadah dan matanya terlihat berkaca-kaca. “Apa kau sebenarnya merasa sangat terpaksa datang ke festival ini bersamaku? Kalau memang begitu, lebih baik aku pulang saja...”
Maria baru saja akan berbalik dan berlari pulang. Sayangnya ketika gynoid itu berbalik, dia tersandung gaunnya sendiri dan kehilangan keseimbangannya. Maria pasti akan terjatuh kalau saja Ryouta tidak buru-buru menahan tubuhnya.
“Dasar ceroboh!” gerutu Ryouta.
“Eh?!” seru Maria kaget.
Dengan lembut Ryouta membantu Maria berdiri, kemudian menepuk pelan kepala gynoid itu.
“Aku tidak pernah bilang aku tidak suka pergi ke festival ini bersamamu,” balas Ryouta sambil menghela nafas panjang. “Dasar bodoh.”
“Apa katamu!?” balas Maria jengkel.
Tanpa memperdulikan seruan marah Maria, Ryouta tiba-tiba saja menarik tangan robot gadis itu dan memaksanya mengikuti langkahnya.
“Ryouta! Mau kemana?!” seru Maria kebingungan.
“Sudahlah! Ikut saja!” balas Ryouta, kali ini dengan nada riang hingga membuat Maria heran. Tapi akhirnya gynoid itu tidak berkata apapun dan berusaha mengikuti langkah lebar Ryouta. Meski masih bingung, tapi Maria sekarang merasa penasaran dan berdebar-debar. Dia mulai bertanya-tanya apa yang menyebabkan Ryouta tiba-tiba bersikap seperti aneh.
Aku jadi penasaran! Seru gynoid itu dalam hati.

****

“Mau apa kita disini?”
Maria bertanya sambil memandang ke sekelilingnya. Saat ini dirinya dan Ryouta sedang berada di depan sebuah menara tua yang sudah tidak terpakai lagi. Menara tinggi masih terlihat kokoh itu berada cukup jauh dari lapangan melingkar Central Tower, tempat festival malam tahun baru diadakan.
“Ryouta! Tempat ini sudah tidak pernah digunakan lagi entah sejak kapan! Memangnya ada apa disini?” tanya Maria lagi.
Dia sebenarnya tahu kalau menara tua yang ada di hadapannya itu sudah berdiri sejak lama sekali, konon katanya menara itu jauh lebih tua daripada Central Tower yang ada di pusat kota Bravaga. Maria bahkan pernah mendengar kalau umur menara tua ini sama dengan bekas kota metropolitan milik manusia, yang kini jadi reruntuhan di perbatasan selatan kota Bravaga.
Yang jelas ... tempat ini terlarang untuk dimasuki. Maria saja yang gemar menjelajahi kota, tidak pernah masuk ke dalam menara tua ini.
“Sudahlah! Ayo masuk!”
Ryouta mengabaikan pertanyaan Maria dan membuka pintu besi tua yang ada di depannya. Suara derit nyaring terdengar ketika tangan besar Ryouta membuka pintu yang tampak sudah bertahun-tahun tidak dibuka itu. Segera setelah pintu menara itu terbuka, Ryouta langsung melangkah masuk diikuti oleh Maria.
“Gelap!” keluh Maria ketika masuk dan mendapati kalau ruangan di dalam menara itu gelap-gulita. Tapi sedetik kemudian lampu-lampu yang menempel di dinding menara menyala dan seluruh isi ruangan jadi terlihat dengan jelas.
Sebuah tangga melingkar yang menuju ke puncak menara tampak terlihat menempel di dinding. Kedua mata Maria terbelalak ketika melihat deretan lukisan tampak berjejer rapi di dinding menara. Lukisan-lukisan itu tampak sangat tua dan cat di beberapa lukisan terlihat pudar atau mengelupas, tapi apa yang terlukis di sana masih terlihat cukup jelas.
“Uwaah~! Tempat apa ini?!” seru Maria sambil berlari menaiki tangga, lalu mengamati satu-persatu lukisan yang ada di dinding. “Seperti sebuah galeri...”
“Tempat ini memang sebuah galeri kuno,” balas Ryouta sambil berjalan menaiki tangga spiral. “Ayo. Kita naik ke tingkat paling atas.”
Tanpa perlu di suruh, Maria langsung berlari mendahului Ryouta dan akhirnya sampai di puncak menara. Di puncak menara yang cukup tinggi itu, terdapat sebuah lonceng besar berwarna hitam yang tampak sudah sangat tua. Lonceng itu berada di tengah-tengah lantai puncak menara yang mirip sebuah podium terbuka. Dari ruangan itu, pemandangan kota Bravaga yang dipenuhi lampu berwarna-warni dapat terlihat dengan jelas. Sungguh sebuah pemandangan yang indah.
“Waah~!” seru Maria terkagum-kagum.
Tapi sebenarnya bukan pemandangan kota Bravaga yang membuat gadis itu berseru kagum, melainkan lonceng raksasa yang ada di tengah ruangan. Ketika melihat lonceng itu, Maria tidak tahan untuk tidak mencoba membunyikan lonceng raksasa itu. Gynoid itu langsung menoleh ke segala arah dan akhirnya mendapati sebuah tali baja terulur di sisi lain ruangan.
Maria baru saja akan menarik tali itu untuk membunyikan lonceng, ketika tangan besar Ryouta menghentikannya.
“Tunggu dulu. Belum saatnya,” ujar Ryouta sambil mengacungkan telunjuk di depan wajahnya.
“Apa maksudnya?” tanya Maria heran. “Sebenarnya menara ini tempat apa sih? Tadi kau bilang ini adalah sebuah galeri kuno. Siapa sih yang membuat galeri ini?”
“Manusia,” balas Ryouta. “Dulu sekali...”
“Kalau begitu ... menara ini juga dibuat oleh manusia?” tanya Maria dengan mata berbinar-binar. Dia selalu bersemangat ketika berbicara mengenai nenek moyangnya yang sudah punah itu.
“Tentu saja. Sayangnya aku tidak tahu pasti siapa yang membuat menara ini. Tapi yang jelas para pencipta menara ini ingin mengabadikan setiap tahun istimewa yang mereka lewati,” ujar Ryouta sambil menunjukkan sebuah lukisan yang tadi dia ambil sambil naik ke puncak menara. Lukisan itu menggambarkan situasi ketika sebuah roket luar angkasa diluncurkan. Orang-orang di dalam lukisan itu tampak melambaikan tangan dengan penuh suka cita ke arah roket yang sedang meluncur ke angkasa. “Kurasa ini salah satu cara manusia mengabadikan momen-momen indah dalam hidup mereka. Dengan menuangkan perasaan yang mereka rasakan saat itu ke dalam kanvas kosong. Sehingga orang-orang setelah mereka masih bisa melihat dan merasakan perasaan itu, bahkan setelah pelukisnya tidak ada lagi di dunia ini.”
Maria memandangi lukisan yang dibawa Ryouta itu dengan seksama. Meski lukisan itu sudah kusam dan tampak mulai pudar, tapi perasaan bahagia dan kagum yang dituangkan oleh pelukisnya masih bisa dirasakan oleh gynoid itu.
“Manusia memang mengagumkan...” gumam Maria.
“Ya. Sayang sekali mereka sudah lama punah,” balas Ryouta. Tiba-tiba android bertubuh besar itu menoleh ke arah langit di luar menara. “Sudah hampir saatnya.”
“Hah?” tanya Maria kebingungan.
Ryouta lalu meletakkan lukisan yang dia bawa ke sudut ruangan, lalu meraih tali lonceng dan melambaikan tali itu ke arah Maria.
“Ayo. Beberapa detik lagi tengah malam. Sudah saatnya lonceng dibunyikan,” ujar Ryouta pada Maria. “Apa kau tidak mau menjadi robot pertama yang memberitahukan detik pertama tahun baru pada semua robot lainnya?”
Kedua mata Maria langsung terbelalak lebar dan berlari menghampiri Ryouta. Kedua tangan gynoid itu segera meraih tali lonceng, bersiap untuk membunyikan lonceng tua itu.
“Ini benar-benar membuatku berdebar-debar!” seru Maria kegirangan.
Ryouta mengangguk.
“Bersiaplah...” ujar Ryouta. “Sepuluh detik lagi menjelang pergantian tahun...9...8...7...6...5...”
“...4...3...2...1...” Maria menyambung perkataan Ryouta, lalu berseru sekuat tenaga sambil menarik tali baja, yang terhubung dengan lonceng raksasa di tengah ruangan. “SELAMAT TAHUN BARU!!!”
Bersamaan dengan seruan Maria, suara lonceng terdengar bergema dengan sangat nyaring ke seluruh penjuru kota Bravaga. Suara lonceng itu rupanya sangat jernih dan membuat para robot yang sedang berpesta di lapangan Central Tower segera menoleh ke arah datangnya suara.
Awalnya mereka heran ketika mendengar suara lonceng nyaring itu, namun satu-persatu, mereka mulai bersorak menyambut datangnya tahun baru. Suara sorakan riang bisa terdengar di seluruh penjuru Bravaga. Membuat malam hari di kota para robot itu terasa begitu hidup, seperti di siang hari. Seluruh penduduk kota terdengar begitu antusias dalam menyambut lembaran baru dalam kehidupan mereka.
Suara sorak-sorai para penduduk kota Bravaga tentu saja terdengar jelas dari ruangan lonceng di puncak menara, tempat Ryouta dan Maria berada. Meski suara lonceng yang mereka bunyikan tidak kalah nyaring, tapi keduanya bisa mendengar suara sorakan penuh suka-cita dari para penduduk kota Bravaga.
“Ryouta!” seru Maria.
“Apa?” balas Ryouta.
“Selamat tahun baru!!”
“Selamat tahun baru juga!! Semoga tahun depan menjadi tahun yang bermakna bagi hidupmu,” balas Ryouta dengan nada riang.
“...dan semoga tahun depan aku tidak terlalu sering tertangkap kalau sedang membuat masalah,” timpal Maria sambil nyengir lebar.
Ryouta langsung melotot ke arah Maria tapi android bertubuh besar itu lalu tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa selama beberapa saat, kemudian terdiam tiba-tiba.
“Ehm...kau tidak serius kan?” tanya Ryouta.
“Aku serius!” balas Maria dengan nada serius, tapi dengan ekspresi jahil.
Ekspresi wajah Maria langsung membuat Ryouta menepuk wajahnya dengan keras.
Astaga! Sepertinya tahun depan akan tetap jadi tahun yang berat ... setidaknya untukku...
Ryouta bergumam dalam hati sambil memandangi wajah Maria yang dihiasi senyuman lebar. Android bertubuh besar itu lalu mendesah dan memalingkan wajahnya ke arah langit malam kota Bravaga.
Tapi sudahlah ... selamat tahun baru untuk kita semua!
****
-FIN?-

1 comment:

Anonymous said...

gynoid itu apa ya?

(Rikku)