Wednesday, December 28, 2011

Pahlawan

Pahlawan

 

 

Dulu manusia dan frameless hidup berdampingan dengan cukup harmonis di Vandaria. Meskipun perbedaan diantara kedua ras di Vandaria itu telah menciptakan jurang pemisah, namun setidaknya mereka masih bisa hidup bersama tanpa masalah berarti.

Setidaknya sampai seorang frameless angkuh bernama Seraph memutuskan untuk mendirikan sebuah kerajaan baru. Kerajaan khusus bagi para frameless, yang kemudian menjajah ras manusia. Kerajaan itu bernama Edenion.

Selama ratusan tahun sejak Kerajaan Edenion berdiri, ras manusia dan sebagian ras frameless telah dibuat menderita. Hingga akhirnya seorang frameless tanpa nama yang dijuluki Sang Raja Tunggal, mendirikan kerajaan tandingan. Kerajaan Nirvana.

Dengan berdirinya Kerajaan Nirvana, kerajaan dan negeri lain yang selama ini dipaksa tunduk dibawah kekuasaan tiran Kerajaan Edenion, akhirnya mulai memberontak.   Pemberontakan yang semakin meluas akhirnya memicu terjadinya perang besar antara Kerajaan Edenion dan Kerajaan Nirvana.

Tentu saja dimana ada perang, selalu saja akan lahir para pahlawan atau hero, yang melakukan tindakan-tindakan heroik. Merekalah sosok-sosok orang yang dipuja, dihormati dan diagungkan, namun juga disegani dan ditakuti oleh baik frameless maupun manusia di Vandaria.

Tapi sebagaimana yang diketahui dan dipercayai banyak orang....tidak semua orang bisa menjadi seorang pahlawan. Konon para pahlawan adalah sosok yang dipilih langsung oleh para Vanadis, bahkan ada segelintir orang percaya bahwa para hero adalah mereka yang merupakan titisan para Vanadis.

Entah cerita itu benar atau tidak, para pahlawan adalah sosok yang kukagumi sejak kecil.

Memang konyol...tapi sejak kecil aku selalu bermimpi menjadi seorang pahlawan yang akan dikenang sepanjang jaman.

Itulah sebabnya aku menjadi seorang ksatria.

Kupikir ini adalah jalan tercepat untuk menjadi seorang pahlawan, karena para ksatria juga dituntut untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Tidak jarang kami dituntut untuk melakukan tindakan heroik dalam berbagai kasus. Sehingga tidak heran kalau banyak hero yang dulu adalah seorang prajurit atau ksatria dari suatu kerajaan.

Berbekal pikiran itu, aku menjalani hidupku sebagai seorang ksatria dengan sepenuh hati dan berhasil mencapai tingkatan yang cukup membanggakan bagi sebagian besar orang.

Saat ini aku adalah seorang ksatria dari Satuan Azmaria, pasukan elit yang dimiliki oleh Kerajaan Celeoniel, sebuah kerajaan kecil di sisi timur benua Vandaria.

Meski aku sudah beberapa kali melakukan tindakan yang menurutku heroik bersama rekan-rekanku di Satuan Azmaria, seperti membasmi kawanan perampok, membunuh monster laba-laba yang meneror hutan, menyelamatkan sebuah desa dari serbuan makhluk buas dan sebagainya. Tapi tetap saja aku bukan seorang pahlawan. Orang-orang masih mengenal dan menyebutku sebagai Theodore Roland, sang ksatria dari Satuan Azmaria. Tidak seorangpun pernah menyebutku sebagai seorang pahlawan atau hero.

Aku masih tidak mengerti....sebenarnya apa yang membuat seseorang itu disebut sebagai hero atau pahlawan?

Pertanyaan itu tidak pernah berhasil kujawab. Setidaknya tidak sampai aku bertemu dengan kedua orang itu.

Seorang hero atau pahlawan, dan follower atau pengikutnya.

Pasangan yang dihormati sekaligus ditakuti oleh lawan dan kawan.

Mereka adalah Aquamarine Sophia dan Reidin sang Pembantai Ksatria. Duo petarung legendaris yang namanya dikenal hampir di seluruh penjuru Vandaria. Dua orang yang namanya disebut saja sudah bisa membuat orang gentar, apalagi melihat sosok mereka berdua secara langsung.

 Aku bertemu mereka berdua dalam sebuah pertempuran di Lembah Dua Sungai yang masih merupakan wilayah Kerajaan Celeoniel.

Ketika Kerajaan Nirvana mengumumkan perang terhadap Kerajaan Edenion, Kerajaan Celeoniel yang sudah lama tertindas, dengan segera menyatakan diri bergabung bersama Kerajaan Nirvana dalam perang tersebut.

Tentu saja sebagai akibatnya, perang juga pecah di wilayah Kerajaan Celeoniel yang sebagian besar adalah perbukitan dan hutan lebat. Kondisi ini menguntungkan bagi kami, Satuan Azmaria, yang terbiasa bertempur di tempat-tempat tersebut. Hanya saja kami selalu kalah jumlah.

Lembah luas dengan padang rumput yang dibatasi oleh dua sungai ini telah menjadi area pertempuran sengit antara pasukan Kerajaan Celeoniel dan Kerajaan Edenion. Sayangnya saat ini pasukan Kerajaan Edenion berada diatas angin setelah berhasil memukul mundur pasukan berkuda kami.

“Roland! Awas dibelakangmu!!!”

Aku mendengar seruan salah seorang rekanku dan dengan segera berbalik sambil mengangkat perisaiku.

Suara denting nyaring terdengar ketika sebuah broad sword menghantam perisai logam yang kukenakan di tangan kiriku.

Aku mengernyit ketika tangan kiriku terasa ngilu akibat kekuatan serangan itu. Tentu saja aku tidak diam saja dan balas mengayunkan bastard sword di tangan kananku.

Tidak kusangka, ksatria frameless yang mencoba membunuhku ini lebih tangguh dari perkiraanku. Dia berhasil menepis pedangku dengan perisai bulat yang dia kenakan di tangan kirinya dan menyerang lagi dengan pedangnya.

Namun kali ini aku sudah lebih siap dan dengan sigap menyambut serangannya dengan pedangku. Aku mengerahkan seluruh kekuatan yang kumiliki dan membuat pedang lebar lawanku tersentak balik. Akibatnya aku mendapat kesempatan emas untuk menusuk dadanya dan menghabisi nyawanya.

Sayangnya aku salah perhitungan.

Serangan tusukan yang kulancarkan ke arah lawanku itu justru berbalik menjadi bumerang mematikan bagiku.

Frameless itu berhasil menghindari pedangku dengan gerak memutar yang cepat dan anggun, lalu kembali melancarkan tebasan cepat ke arah kepalaku.

Sial!!! Tidak sempat!!!!

Aku berseru panik dalam hati sambil mengangkat sebelah tanganku yang berperisai untuk menahan pedangnya. Tapi kali ini aku terlalu lambat sehingga aku ikut terjungkal kebelakang dan jatuh ke tanah, akibat kekuatan serangan lawanku itu.

Dengan ngeri aku melihat ksatria frameless itu berjalan cepat ke arahku sambil memutar pedangnya, lalu tersenyum penuh kemenangan.

Mati-matian aku berusaha berdiri secepat mungkin tapi gara-gara serangan lawanku tadi, pedangku tidak sengaja terlepas dan berada jauh dari jangkauanku. Lebih buruk lagi, perisaiku juga terbelah dan tangan kiriku terluka cukup parah akibat serangan barusan.

Menyadari buruknya kondisiku saat ini, seketika itu juga aku tahu kalau ajalku sudah di depan mata.

“Mati!!” seru ksatria itu sambil mengayunkan pedangnya ke arah tubuhku.

Aku mengatupkan rahang, bersiap untuk merasakan bilah pedang tajam itu menebas tubuhku. Tapi ketika sedetik lagi ksatria frameless itu berhasil mendaratkan pedangnya ke tubuhku, aku melihat seberkas cahaya berwarna biru.

Sedetik kemudian, tubuh lawanku itu terbelah dua dan jatuh ke tanah.

Apa?! Seruku kaget dalam hati.

Kemudian aku terkesiap ketika melihat sosok seorang ksatria berdiri di depanku. Ksatria itu mengenakan baju zirah ringan yang berwarna biru dan menggenggam sebuah pedang yang juga berwarna biru langit. Sosok itu tampak begitu agung dan menawan, terlebih lagi karena dia adalah seorang wanita berambut pirang yang juga bermata biru cerah.

Begitu melihat sosok ksatria wanita itu, aku langsung bergumam tanpa sadar.

“Aquamarine....” gumamku.

Sang pahlawan wanita legendaris....Dewi Yang Tersenyum....sambungku dalam hati.

“Hei! Bangun! Jangan duduk saja disana seperti orang bodoh!!”

Tiba-tiba aku merasa tubuhku dibangunkan dengan paksa oleh seseorang. Aku langsung menoleh dan menatap ke arah seorang pria yang juga mengenakan baju zirah ringan. Hanya saja desain baju pelindung ksatria ini jauh dari kesan ksatria, bahkan lebih terkesan ‘jahat’, meski warnanya sama-sama biru seperti milik sang ksatria wanita. Sebilah zweihander, pedang panjang dan tebal yang dia sandang, mengukuhkan image petarung buas pada ksatria itu.

Iblis Biru....Sang Pembantai Ksatria....gumamku dalam hati. Aku tidak berani menyebutkan nama julukan ksatria itu karena takut dia marah dan menebas tubuhku dengan pedang besarnya.

“Kalau masih mau hidup, mundur sana!” bentak sang Iblis Biru sambil mendorongku menjauh dan berjalan mendekati rekannya, sang Aquamarine. Dia lalu menunjukkan senyum mengerikan sambil bergumam pada rekannya itu. “Bagaimana Sophia? Ada lawan yang kuat?”

Sophia, Sang Aquamarine, tersenyum lembut mendengar ucapan rekannya itu. Senyumannya tampak sangat menawan, kalau saja dia tidak sedang berdiri di tengah medan perang. Melihat seorang ksatria wanita yang tersenyum lembut seperti itu diantara orang-orang yang sedang saling bunuh, justru membuat sosok pahlawan legendaris itu menjadi tampak menakutkan.

 

 

“Hmmm.....ada satu-dua jendral frameless yang tampak agak tangguh. Kenapa tidak coba kau lawan saja, Reidin?” balas Sophia sambil memutar pedangnya dalam gerak melingkar yang anggun, namun mematikan. “Akan lebih baik kalau kita segera membereskan mereka sebelum para jendral itu merepotkan kita dan pasukan yang kita dukung ini.”

Ucapan Sophia langsung membuat Reidin, sang Pembantai Ksatria nyengir lebar. Kedua matanya langsung berkilat mengerikan dan dipenuhi hasrat membunuh yang kuat, hingga membuatku merinding.

“Tunggu apalagi kalau begitu?! MAJU!!!”

Reidin menerjang maju ke arah barisan ksatria frameless berbaju baja yang ada di depannya, diikuti Sophia yang berlari ringan di belakang pengikutnya, sang Pembantai Ksatria.

Aku hanya bisa terpaku ditempat melihat aksi kedua orang petarung itu. Ketika aku menoleh ke samping, rupanya tidak hanya aku yang terpana melihat Sophia dan Reidin beraksi, rekan-rekanku yang lain tampak terpana melihat aksi duo petarung itu. Sosok Sophia, sang Aquamarine bagaikan seorang penari yang menari dengan anggun diantara lawan-lawannya, sementara Reidin, sang Pembantai Ksatria mengayunkan zweihander-nya dengan buas dan membelah tubuh para ksatria frameless berbaju baja dengan mudahnya.

“Dewi dan Iblis....”

Aku mendengar rekanku bergumam sambil melangkah ke depan, tapi lalu berhenti. Sepertinya dia tadinya bermaksud membantu duo petarung yang sedang menyerbu lawan-lawannya itu.

Aku mengepalkan tanganku ketika melihat aksi kedua orang tersebut.

Jelas sekali kemampuanku sangat jauh dibawah Sophia maupun Reidin. Biarpun aku adalah seorang ksatria dari pasukan elit, tetap saja rasanya aku tidak akan sanggup menandingi kehebatan keduanya.

“Apa yang kalian tunggu!? Jangan diam saja!! Maju!! Ini kesempatan kita! Aquamarine dan Pembantai Ksatria akan membukakan jalan bagi kemenangan kita!!! MAJU!!! MAJU!!!”

Tiba-tiba aku mendengar suara seruan dari belakang dan melihat Jendral Graham, pimpinan Satuan Azmaria berseru diatas kudanya sambil mengacungkan pedangnya ke depan. Dia lalu memacu kudanya melesat melewati barisan pasukan Kerajaan Celeoniel yang terpaku melihat aksi Sophia dan Reidin.

Aku terkesiap dan langsung meraih pedangku, kemudian lari menyerbu ke arah pasukan lawan bersama rekan-rekanku yang lain.

Sekarang moral pasukan Kerajaan Celeoniel kembali. Kali ini meski kami kalah jumlah dibandingkan pasukan Kerajaan Edenion, tapi aku yakin pertempuran ini pasti bisa kami menangkan.

Sungguh aneh rasanya kalau kehadiran seorang pahlawan dan pengikutnya bisa membalikkan keadaan. Tapi itulah yang terjadi sekarang.

Pasukan kami yang tadinya terdesak mundur, kini balik mendesak maju dan perlahan-lahan menekan mundur pasukan Kerajaan Edenion.

Tidak butuh waktu lama sampai suara terompet nyaring terdengar dari sisi Kerajaan Edenion. Begitu mendengar suara terompet itu, pasukan kerajaan frameless itu langsung berbalik dan mundur dengan cepat.

 Begitu melihat pasukan lawan mundur, aku langsung bersorak sambil mengacungkan pedangku ke udara. Sorakanku disambut sorakan dari rekan-rekanku yang lain. Mereka juga mengacungkan senjata masing-masing sambil bersorak gembira.

Pandanganku lalu jatuh ke sosok Sophia dan Reidin yang berdiri di garis paling depan. Mereka berdua menoleh ke arah kami yang bersorak gembira.

Secara tidak sengaja, pandanganku dan sang Aquamarine bertemu. Hero wanita itu lalu tersenyum lembut ke arahku. Senyuman itu begitu menawan hingga bisa membuat hati pria manapun luluh, tapi sayangnya aku tidak bereaksi seperti itu.

Dadaku justru terasa sesak ketika melihat senyumannya.

Aku langsung membalikkan badan dan berjalan menjauh dari medan perang.

Perasaanku jadi tidak karuan.

Sophia dan Reidin....kenapa aku harus bertemu mereka sekarang? gumamku dalam hati.

****

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Meski aku sudah berkali-kali mencoba memejamkan mataku, tapi tetap saja aku tidak bisa masuk ke alam mimpi. Padahal biasanya sangat mudah sekali, mengingat aku ini tipe orang yang sangat mudah tertidur dimanapun.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak.

Aku meraih pedangku lalu berjalan keluar tenda.

Saat ini aku dan pasukan Kerajaan Celeoniel sedang beristirahat di pos pertahanan yang berada di tepi Hutan Merah yang berada dekat Lembah Dua Sungai. Tempat ini adalah tempat yang strategis untuk mendirikan perkemahan prajurit, karena terlindung hutan di belakang perkemahan yang memudahkan kami untuk mundur dengan cepat, seandainya musuh melancarkan serangan kilat.

Sambil berjalan, aku sesekali menyapa prajurit atau ksatria yang sedang jaga malam, tapi aku membiarkan pikiranku melayang.

Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Sophia dan Reidin, duo petarung legendaris itu di tempat ini. Melihat sosok mereka sudah membuatku merasa tidak enak, apalagi karena tadi aku baru saja diselamatkan oleh keduanya.

“Yo!”

Tiba-tiba seseorang menepukku dari belakang. Kalau aku tidak mengenali suaranya, mungkin aku sudah mencabut pedangku dan berusaha menebas orang itu.

“Yo...” balasku muram, lalu menoleh ke arah orang yang menyapaku itu. “Sedang apa malam-malam begini disini, Reidin?”

Reidin, sang Pembantai Ksatria tertawa pelan mendengar pertanyaanku.

“Kau sendiri sedang apa, Roland?” balas pria tinggi besar itu. “Jalan-jalan cari angin?”

Aku mengangkat kedua bahuku.

“Begitulah...”

Sejenak kami berdua terdiam.

“Jadi....bagaimana kabarmu?” tanya Reidin. “Sudah lama sekali sejak kau pergi ke Akademi Ksatria di kota Zorya. Rupanya sekarang kau sudah jadi ksatria di Satuan Azmaria. Selamat!”

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya membalas perkataannya.

“Kabarku baik-baik saja. Dan terima kasih atas ucapan selamatnya,” balasku dengan nada ketus.

“Hei! Kenapa sih kau ini? Apa kau tidak gembira bertemu lagi denganku dan Sophia?” tanya Reidin sambil menepuk punggungku.

“Tentu saja aku gembira bisa bertemu kalian lagi....hanya saja....”

Aku membiarkan ucapanku menggantung di udara.

“Kau masih merasa rendah diri karena statusmu sekarang?” tanya Reidin lagi.

Pertanyaan pria itu bagaikan panah yang menembus dadaku.

Rasanya sakit.

“Tidak! Itu...”

“Akui saja. Aku tahu itu sejak lama,” potong Reidin sambil berjalan melewatiku. “Aku tahu kau masih iri dengan gelar hero yang dimiliki Sophia.”

Sekali lagi ucapan pria itu benar-benar tepat sasaran. Aku merasa begitu jengkel sekaligus malu, hingga rasanya aku ingin sekali menggali lubang dan mengubur diriku sendiri.

Aku memandangi pria di depanku. Aku sudah mengenali pria ini dan sang Aquamarine, jauh sebelum keduanya menjadi legenda di tanah Vandaria ini.

Kami dulu adalah teman main sejak kecil, waktu kami semua masih tinggal di sebuah desa kecil yang sekarang termasuk dalam wilayah Kerajaan Nirvana.

Sejak kecil kami sering bermain bersama dan kami begitu akrab hingga kami saling mengenal sifat masing-masing dengan sangat baik.

Dari dulu Reidin, sang Pembantai Ksatria, Iblis Biru, Dewa Perang, adalah sosok anak yang tegas dan sangat pemberani. Dia juga senang tantangan, suka berkelahi dan sepertinya tidak punya rasa takut. Akibatnya orang-orang desa menjauhinya karena sifatnya itu. Tapi dibalik itu aku tahu dia adalah orang yang baik dan penuh perhatian.

Sebaliknya, Sophia sang pahlawan, Aquamarine, Dewi Yang Tersenyum, atau Malaikat Biru, sejak dulu terkenal murah senyum dan senang membantu orang lain. Sifatnya yang ramah membuatnya disukai banyak orang, tapi dibalik itu dia adalah sosok gadis pemberani yang rela berkorban demi orang lain. Hanya saja dia punya sifat serupa dengan Reidin, yaitu kelewat berani hingga terkesan tidak punya rasa takut.

Berbeda sekali dengan diriku yang sejak dulu dikenal penakut dan kurang percaya diri. Reidin dan Sophia selalu berada di depanku setiap kali kami melakukan sesuatu. Mereka berdua sejak dulu adalah sosok yang kukagumi....bahkan hingga saat ini. Lebih dari rasa kagum, sebenarnya aku iri dengan mereka berdua.

Itulah alasan utama aku meninggalkan desa tempatku lahir untuk menjadi seorang ksatria di Akademi Ksatria di kota Zorya. Aku berusaha mendahului Sophia dan Reidin untuk menjadi seorang pahlawan atau hero.

Sayangnya semua itu tidak tercapai.

Justru Sophia yang malah mendapatkan gelar hero sejak dia memutuskan untuk berkelana dan menjadi sosok pahlawan yang dikagumi, serta disegani di Vandaria. Reidin juga tidak kalah hebat. Meski hanya dianggap sebagai pengikut Sophia sang Aquamarine, tapi kehebatan Reidin juga menjadi buah bibir orang-orang di hampir seluruh penjuru Vandaria sebagai sang Pembantai Ksatria.

Aku yang berusaha melangkah maju lebih dahulu, justru sekarang tertinggal jauh di belakang.

“Roland,” ujar Reidin lagi.

Aku terkesiap dan menatapnya dengan tatapan tajam.

“Apa?!” balasku dengan ketus.

“Kau masih ingin jadi seseorang yang diberi gelar pahlawan?” tanya Reidin.

Aku terdiam. Aku malu mengakuinya tapi sampai saat ini aku masih ingin menjadi seorang hero.

“Ya....” ujarku dengan nada muram. “Memangnya kenapa? Apa aneh kalau aku masih ingin disebut sebagai pahlawan? Apa aneh kalau aku ingin dikenal dan dikenang oleh para penduduk Vandaria?”

Reidin mendengus mendengar ucapanku.

“Cih! Memang apa bagusnya jadi hero?” balas pria itu dengan nada jengkel.

Aku terkejut mendengar ucapannya. Bukannya dia berkelana bersama Sophia untuk menjadi seorang pahlawan?

“Apa maksudmu?” tanyaku heran. “Bukankah kau selama ini berpetualang dan membantu orang-orang selama perjalananmu untuk menjadi seorang hero?”

Reidin tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanku.

“Ahahahahahahaha~~!!” tawanya begitu keras hingga aku yakin suaranya bisa membangunkan beberapa orang prajurit yang tidur di tenda di dekat kami. Reidin masih tertawa beberapa saat sebelum akhirnya berhenti tertawa tiba-tiba dan menatapku dengan tatapan serius.

“Konyol!” ujar Reidin dengan nada ketus. Dia lalu bertanya padaku dengan nada serius. “Memangnya kau pikir hero atau pahlawan itu apa?”

“Orang yang dipuja, dikagumi, diagungkan, disegani oleh masyarakat Vandaria. Orang-orang yang telah melakukan perbuatan heroik yang begitu hebat hingga kisah mereka selalu diceritakan turun-temurun oleh generasi selanjutnya. Mereka adalah pria dan wanita yang sosoknya selalu dikenang oleh orang-orang yang pernah mereka selamatkan atau mereka bantu. Mereka....”

“....adalah orang-orang yang dikutuk menjalani kehidupan yang mengerikan.”

Reidin memotong perkataanku sebelum aku selesai bicara. Ucapannya membuatku tertegun.

“Apa maksudmu?” tanyaku spontan.

Reidin menghela nafas panjang lalu mendongak menatap langit malam yang dipenuhi bintang.

“Kau pikir seorang hero atau pahlawan adalah sosok agung menyerupai para Vanadis? Itu semua omong kosong! Orang seperti Sophia sang Aquamarine adalah mereka yang dengan semena-mena dikutuk oleh masyarakat Vandaria,” ujar Reidin dengan nada jengkel. “Kau pikir hero itu adalah gelar yang bisa kau dapatkan sendiri? Tidak! Gelar pahlawan adalah gelar kutukan yang seenaknya diberikan oleh orang-orang di sekitarmu.”

Aku semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Reidin.

“Kutukan?” tanyaku makin kebingungan.

 

“Ya! Kutukan! Seseorang yang diberi gelar pahlawan dituntut untuk selalu melakukan aksi heroik. Menyelamatkan kota, membasmi monster, memburu para penjahat, menggulingkan penguasa tiran dan sebagainya. Mereka selalu dituntut dan dipaksa untuk melakukan hal-hal mengerikan yang kadang tidak ingin mereka lakukan. Buruknya lagi....orang-orang yang menuntut mereka untuk melakukan itu, rata-rata tidak menyadari beratnya tuntutan yang mereka ajukan pada para hero,” ujar Reidin lagi dengan suara berat karena dipenuhi emosi. “Seorang pahlawan selalu dituntut untuk menyelamatkan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan mereka, dan mengabaikan dirinya sendiri atau orang-orang yang mereka cintai. Dan kalau mereka gagal memenuhi tuntutan masyarakat Vandaria, mereka akan dilupakan begitu saja.”

Pria itu lalu menarik bajuku dan memaksaku mendekat.

“Kau pikir berapa banyak hero yang akhirnya dilupakan karena gagal dalam tugas yang dibebankan pada mereka? Berapa banyak orang-orang ‘terpilih’ yang harus mati karena sesuatu yang bahkan bukan urusan mereka? Katakan padaku Roland....apa tujuanmu menjadi seorang hero?” ujar Reidin sambil melepaskan bajuku dan mendorong tubuhku menjauh. Dia lalu memandang ke arah tenda-tenda besar di kejauhan, ke arah tenda para jendral dan tenda Sophia sang pahlawan. “Aku tidak pernah suka ketika orang-orang mulai menjuluki Sophia sebagai seorang hero, lalu memberinya gelar kehormatan macam-macam. Karena sejak itu dia tampak menderita.....padahal tidak sepantasnya dia hidup seperti ini. Kalau aku tahu akan jadi begini, sejak awal aku akan mencegahnya pergi meninggalkan desa dan berpetualang.”

Aku kembali tertegun mendengar penuturan pria yang dijuluki Pembantai Ksatria itu.

Selama ini hal-hal seperti yang diucapkan Reidin tidak pernah terlintas dalam benakku. Kupikir menjadi seorang pahlawan itu adalah sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi mendengar penjelasan Reidin, aku jadi berpikir ulang.

Benarkah seorang hero adalah orang yang dikutuk oleh warga Vandaria? Tanyaku dalam hati.

“Lupakan saja mimpimu untuk menjadi seorang hero, Roland,” ujar Reidin sambil menepuk bahuku. “Menjadi seorang ksatria jauh lebih baik. Setidaknya kau punya tujuan hidup yang jelas. Daripada hidup terombang-ambing oleh keinginan dan tuntutan masyarakat Vandaria.”

Setelah mengatakan itu, Reidin melangkah pergi. Tapi sebelum dia berjalan lebih jauh, dia langsung dihentikan oleh seseorang.

“Reidin! Jangan menakut-nakuti Roland! Kau tahu dia itu mudah sekali terpengaruh dengan perkataan buruk seperti itu!”

Suara itu terdengar jernih dan lembut hingga terasa menyejukkan hati, tapi disaat yang sama nada tegas dalam ucapannya memberi kesan berwibawa.

Aku berbalik dan mendapati seorang wanita berambut pirang panjang dan bermata biru sedang berkacak pinggang di depan Reidin. Wanita itu tidak lain adalah Sophia.

“Sophia? Sedang apa kau disini?” tanya Reidin kaget.

“Aku tidak bisa tidur dan memutuskan ingin berjalan-jalan sebentar. Lalu aku tidak sengaja mendengar suara tawamu. Karena kupikir ada sesuatu yang menarik, aku datang saja kesini,” sahut Sophia dengan santainya. Dia lalu menatapku dengan matanya yang biru cerah. “Halo Roland. Lama sekali tidak bertemu. Apa kau baik-baik saja? Bagaimana lukamu? Maaf aku tidak bisa datang untuk membantumu lebih cepat tadi siang.”

Aku menelan ludah.

Dia rupanya masih mengingat dengan jelas kalau dia telah menyelamatkan nyawaku dalam pertempuran tadi siang.

Kenyataan ini membuatku merasa semakin merasa tidak berguna. Bagaimanapun juga aku adalah seorang ksatria dari pasukan elit. Meski Sophia sekarang adalah seorang pahlawan, rasanya tetap memalukan sekali kalau aku sampai diselamatkan olehnya.

“Tidak apa-apa...aku baik-baik saja. Lukaku sudah disembuhkan oleh para Penyembuh. Jangan khawatir....” ujarku dengan nada muram.

“Ngomong-ngomong kau sudah jadi ksatria di Satuan Azmaria ya? Itu hebat sekali! Selamat!” seru Sophia dengan riangnya.

“Yap! Dia memang hebat!” sahut Reidin sambil nyengir lebar dan menepuk punggungku lagi. “Dia sudah bukan lagi Roland si cengeng yang selalu menangis setiap kali terjatuh.”

Aku langsung balas meninju pundaknya dengan ringan. Reidin langsung tertawa lepas, diikuti dengan Sophia yang juga ikut tertawa. Aku hanya tersenyum melihat sosok kedua teman lamaku ini.

“Jadi.....kudengar tadi Reidin menceritakan hal-hal buruk mengenai kehidupan hero ya?” tanya Sophia tanpa basa-basi.

Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Ya...” jawabku singkat. Aku lalu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku sebelum sempat kucegah. “Sophia....apa yang membuatmu diberikan gelar hero? Aku sudah melakukan banyak hal heroik tapi tidak seorangpun menjulukiku sebagai seorang pahlawan. Tetap saja aku dikenal sebagai Roland sang Ksatria....”

Sophia memiringkan kepalanya dan tampak bingung. Lalu sambil tersenyum polos dia menjawab dengan seenaknya. “Aku tidak tahu.”

“Hah!?” seruku spontan. “Apa maksudmu kau tidak tahu! Kau ini seorang hero! Seorang pahlawan!!”

“Justru karena itu aku tidak tahu. Kan aku yang menerima gelar hero itu. Bukan yang memberikannya,” sahut Sophia dengan nada santai. “Aku tidak pernah meminta dijuluki pahlawan. Orang-orang saja yang tiba-tiba saja memberikan gelar pahlawan padaku. Aku tidak tahu kenapa.”

Aku jadi terdiam mendengar ucapan Sophia. Aku sama sekali tidak menyangka kalau salah satu pahlawan terkenal di jaman ini akan mengatakan hal itu.

“Sudah kubilang. Gelar hero itu tidak didapatkan, tapi diberikan,” celetuk Reidin. “Sudahlah. Jangan dipikirkan terus. Istirahat saja. Besok kita akan bertempur lagi melawan para penjajah itu.”

“Benar loh. Istirahat yang cukup. Besok bisa jadi kita mengalami pertempuran yang lebih dahsyat dari kemarin,” timpal Sophia sambil berjalan mundur dan melambaikan tangannya ke arahku. “Tidur yang nyenyak ya!”

Aku tidak bisa menahan senyumku ketika melihat tingkah Sophia yang kekanakan. Meski sudah dinobatkan sebagai seorang pahlawan yang dikagumi banyak orang, sifat Sophia tidak lantas berubah menjadi angkuh dan sombong. Sikap periang, polos dan murah senyumnya masih saja sama. Tidak berubah sama sekali. Begitu pula dengan Reidin. Dia masih terlihat sama seperti dulu. Pemberani, tegas, tidak kenal takut, namun penuh perhatian.

Tidak seperti diriku yang sekarang. Entah sejak kapan aku menjadi angkuh dan bersikap seakan-akan gelar seorang hero adalah segalanya.

Mungkin aku yang berubah terlalu banyak....gumamku pada diriku sendiri.

****

Aku tidak tahu apakah para hero itu juga memiliki kemampuan meramal atau melihat masa depan.

Celetukan Sophia, mengenai pertempuran selanjutnya yang akan lebih berat dari pertempuran kemarin, kini sungguh-sungguh terjadi.

Keberadaan Aquamarine dan Pembantai Ksatria dalam pasukan Kerajaan Celeoniel benar-benar berdampak pada peningkatan moral prajurit lainnya. Kami semua maju ke medan pertempuran dengan penuh percaya diri dan berhasil memukul mundur pasukan Kerajaan Edenion.

Tapi hanya untuk beberapa saat, sampai pasukan bantuan Kerajaan Edenion tiba di medan pertempuran.

Ketika pasukan itu muncul dan menyerbu ke tengah barisan depan pasukan kami, semuanya jadi kacau. Terlebih karena banyak diantara frameless-frameless itu adalah penyihir. Pasukan kami kembali terdesak meski pada awal pertempuran kami sempat berada diatas angin.

 “Sial! Mereka terlalu banyak!!!” seruku sambil menebas kepala salah seorang lawanku, lalu melompat mundur dan memunggungi rekanku.

Frameless keparat! Mereka tidak ada habisnya!!!” umpat rekanku sambil mengangkat perisainya dan menangkis sebilah tombak yang dilemparkan ke arahnya. “Kalau begini terus kita bisa habis!!”

Aku langsung menggertakkan gigiku. Rekanku ini benar. Kalau kami tidak melakukan sesuatu, kami semua pasti habis dibantai.

Sekilas aku melirik ke arah sosok Sophia di kejauhan. Hero yang dijuluki Aquamarine itu sedang sibuk berduel dengan seorang jendral frameless yang rupanya sangat tangguh. Reidin yang biasanya selalu berada di samping Sophia tidak kelihatan. Ketika aku mengarahkan pandanganku ke arah lain, aku melihat sosok Reidin dan zweihander-nya sedang sibuk menahan gelombang serangan dari sisi lain.

Kemudian aku memandang ke arah barisan pasukan lawan. Disana aku mendapati seorang pria yang mengenakan baju pelindung keemasan, tampak duduk dengan santainya diatas seeekor kuda perang. Meski hanya sekilas, aku langsung bisa menebak kalau pria itu adalah panglima dari pasukan Kerajaan Edenion. Pemimpin aksi penyerbuan ke kerajaan kami ini.

Begitu melihat sosok pria itu, aku langsung tahu apa yang harus kulakukan. Meski tahu yang akan kulakukan ini gila dan lebih mirip aksi bunuh diri, tapi aku tidak peduli.

Kalau tidak ada yang segera melakukan sesuatu...kami semua hampir bisa dipastikan pasti akan mati.

Tanpa pikir panjang lagi aku berlari menerjang ke arah barisan pertahanan lawan. Tentu saja pasukan lawan tidak tinggal diam. Mereka langsung berusaha membunuhku, tapi entah apa yang terjadi saat itu, aku tidak tahu pasti. Yang kutahu waktu itu adalah bahwa instingku berhasil menunjukkan sisi terlemah dari barisan pertahanan itu dan berhasil menembusnya, meski dengan susah payah.

Dalam waktu cukup singkat, aku tahu-tahu sudah berhadapan langsung dengan sang panglima Kerajaan Edenion.

Sekali lagi, tanpa pikir panjang aku mengacungkan pedangku ke arahnya dan berseru lantang.

“Aku Theodore Roland, ksatria dari Satuan Azmaria Kerajaan Celeoniel, menantangmu untuk duel satu lawan satu!! Kalau kau punya nyali, lawan aku!!!” seruku dengan lantang dan penuh percaya diri.

Panglima itu terdiam sejenak lalu tertawa terbahak-bahak.

“Bocah konyol! Memangnya kau bisa mengalahkanku?” ujar panglima itu sambil melompat turun dari kuda perangnya dan menghunus pedangnya yang berwarna hitam. “Aku terima tantanganmu! Majulah!”

Aku menelan ludah.

Adrenalin rush gila-gilaan yang baru saja kurasakan memilih saat yang sangat tidak tepat untuk berhenti. Aku mulai merasa ketakutan. Terlebih karena melihat sikap penuh percaya diri lawanku ini. Dari gerak-geriknya, aku bisa membaca kalau panglima yang satu ini jauh....jauh lebih tangguh daripada diriku.

Sayangnya sudah tidak mungkin lagi bagiku untuk mundur, karena panglima itu tiba-tiba menerjang ke depan sambil mengayunkan pedangnya.

Aku menepis serangan itu dengan perisai di tangan kiriku dan balas menyerang dengan pedang di tangan kananku.

Sayangnya seranganku terlalu lambat hingga bisa diatasi oleh sang panglima dengan mudah. Pria berbaju baja keemasan itu langsung melancarkan serangan balasan ke arah leherku, untungnya berhasil kuhindari meski dengan susah payah. Tapi serangannya tidak berhenti sampai disitu saja. Dia terus menerus menyerang hingga aku kewalahan.

Sama sekali tidak ada peluang bagiku untuk balas menyerang. Aku hanya bisa mati-matian menghindar, menepis, dan menangkis serangan-serangan yang dilancarkan lawanku. Tidak tanggung-tanggung, serangannya begitu cepat dan kuat. Hingga berkali-kali aku dipaksa mundur ke belakang ketika menerima serangannya.

“Kenapa?! Kenapa hanya bertahan saja?! Kemana semangatmu yang tadi bocah!? Ayo balas seranganku!!!” seru panglima Kerajaan Edenion itu dengan nada penuh kemenangan. “Ayo! Serang aku!!!”

Aku tidak bisa membalas ucapannya karena sibuk mempertahankan nyawaku. Tapi dari nada bicaranya, aku tahu kalau panglima itu sudah menyadari sepenuhnya kalau tadi aku hanya nekat dan sama sekali bukan lawan tanding yang sepantar dengannya.

Sekarang aku pun sadar kalau perbedaan kemampuan diantara kami berdua terlalu jauh. Hampir bisa dipastikan aku akan kalah tidak lama lagi.

Ayo Roland! Kau pasti bisa!!! Seruku dalam hati untuk menyemangati diriku sendiri.

Bagaikan sebuah keajaiban.

Tiba-tiba kesempatan itu datang begitu saja.

Entah karena lengah akibat merasa sudah akan menang, atau memang hanya sekedar ceroboh, panglima itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi diatas kepalanya. Sepertinya dia bermaksud membelah tubuhku jadi dua dengan satu tebasan.

Sayangnya tindakan itu berakibat luar biasa fatal.

Pertahanannya jadi terbuka lebar dan tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini.

Sambil berseru keras aku menunduk dan menerjang maju ke depan sambil mengayunkan pedangku dengan kedua tangan.

Frameless panglima Kerajaan Edenion itu terbelalak lebar ketika melihat bilah pedangku melesat ke arah pinggangnya, menembus lapisan baju baja yang dia kenakan, lalu membelah tubuhnya jadi dua.

“Mustahil....!” seru panglima itu ketika melihat tubuhnya tiba-tiba terbelah dua tepat di pinggang. Tidak butuh orang pintar untuk mengetahui kalau panglima itu langsung tewas, bahkan sebelum kedua potongan tubuhnya itu jatuh ke tanah.

Aku masih tertegun di tempat sambil memegangi bastard sword-ku yang kini berwarna merah oleh darah sang panglima frameless.

Pasukan Kerajaan Edenion dan Celeoniel yang ada di sekitarku langsung membisu dan berhenti bertarung. Seketika itu juga keadaan sekelilingku jadi hening,  sampai terderngar suara seruan di kejauhan.

“HIDUP ROLAND SANG KSATRIA!!!”

Aku langsung menoleh ke arah datangnya suara dan terkejut melihat Reidin bersorak sambil mengacungkan pedang panjangnya ke udara.

Perlahan-lahan sorakan Reidin memicu sorakan lainnya. Dengan segera medan pertempuran, yang berada di Lembah Dua Sungai itu, dipenuhi dengan suara sorak-sorai para ksatria dan prajurit Kerajaan Celeoniel.

Semuanya memanggil-manggil dan mengelu-elukan namaku.

Sementara itu, begitu melihat pimpinan tertinggi mereka tewas di tangan musuh, pasukan frameless dari Kerajaan Edenion langsung mundur. Moral mereka jatuh begitu mengetahui kalau panglima kerajaan mereka telah dibunuh oleh seorang ksatria muda dari kerajaan kecil seperti Celeoniel. Tanpa basa-basi, mereka semua langsung berbalik dan melarikan diri dari medan pertempuran.

Aku masih berdiri terpaku di tempat. Masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja kulakukan.

Aku baru saja mengalahkan seorang panglima frameless dari Kerajaan Edenion, seorang diri, dalam sebuah duel satu lawan satu!!

Sesuatu yang nyaris tidak mungkin dilakukan oleh seorang ksatria muda seperti diriku.

“Rolaaaand~~~!!!”

Seruan seorang wanita membuatku tersadar dari kondisi trance-ku. Aku langsung menoleh dan terkejut setengah mati ketika melihat Sophia sang hero berlari ke arahku. Wanita itu langsung menabrakku sambil memeluk erat tubuhku.

Gara-gara itu aku jadi kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan sukses.

“Aduh! Apa-apaan ini!? Lepaskan!” protesku pada Sophia.

Bukannya apa-apa, aku sebenarnya senang sekali bisa dipeluk wanita secantik Sophia. Tapi masalahnya dia adalah seorang pahlawan dan kami masih berada di tengah medan pertempuran. Tidak sepantasnya pahlawan legendaris seperti Sophia sang Aquamarine seenaknya memeluk seorang ksatria sepertiku.

“Roland! Waktu aku melihatmu nekat menyerbu ke arah barisan pertahanan lawan dan menantang seorang panglima perang, jantungku nyaris copot!!” ujar Sophia sambil perlahan-lahan melepaskan pelukannya dan membiarkanku duduk di depannya. “Kupikir kau akan mati tadi!”

Sebelum aku sempat berkata apapun, wanita itu kembali memelukku dengan erat.

“Aku khawatir setengah mati! Tapi tadi kau keren sekali!” puji Sophia, masih sambil memelukku, yang mati-matian berusaha melepaskan pelukan eratnya.

“Kerja bagus, Roland,” timpal Reidin yang rupanya sudah berdiri di sampingku dan Sophia yang masih terus berpelukan. “Aksimu tadi memang nekat. Tapi keberanianmu benar-benar luar biasa. Apa yang mendorongmu melakukan tindakan gila seperti tadi?”

Aku mengangkat bahuku.

“Entahlah....” jawabku jujur karena memang benar aku tidak yakin apa yang telah mendorongku bertindak heroik tadi. “Aku hanya merasa harus melakukan sesuatu, atau kita kita semua akan mati....”

“Sungguh keberanian yang luar biasa, ksatria Roland.”

Aku menoleh dan melihat Jendral Graham berjalan ke sampingku sambil tersenyum lebar.

Aku mengangguk pelan karena merasa tersanjung. Tapi ucapannya yang berikutnya lah yang membuatku terkejut bukan main.

“Dalam perang kali ini kau adalah pahlawan bagi kami semua! Bukan begitu, Aquamarine? Pembantai Ksatria?” ujar Jendral Graham sambil memandangiku, Sophia dan Reidin bergantian.

“Benar sekali!” jawab Sophia dengan riang.

“Tepat! Dia memang pahlawan!” timpal Reidin. “Akan pantas sekali kalau dia dijuluki hero Roland, sang Ksatria Pemberani.”

Aku hanya bisa terpaku di tempat sambil memandangi wajah ketiga orang yang ada di sekelilingku ini. Kalian pasti tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat ini.

Hero Roland sang Ksatria Pemberani? Gumamku dalam hati.

Julukan itu tidak buruk juga....

****

~FIN?~


Author's note:
Dikirimkan sebagai entry dalam Lomba Cerpen Vandaria Saga

1 comment:

Ayu Welirang said...

ajarin nulis fantasi dong :D