Posts

Everyday Adventure XII: Mother

Everyday Adventure XII (Mother) Kalau ada satu hal yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun yang pernah berkunjung ke kota Bravaga, pastinya itu adalah sebuah menara tinggi besar yang berdiri tepat di pusat kota. Central Tower. Menara yang sekaligus menjadi jantung kehidupan kota Bravaga adalah salah satu karya terakhir dari ras manusia yang sudah lama punah akibat Catastrophy. Menara tinggi yang menantang langit itu adalah bukan hanya sekedar sebuah monumen. Jauh di dasar bangunan megah itu, terdapat sebuah pabrik canggih yang dikendalikan oleh sebuah kecerdasan buatan yang disebut oleh warganya dengan panggilan: Mother. Tentu saja nama itu bukan hanya sekedar panggilan sayang dari warga kota, nama itu juga menunjukkan bahwa Mother adalah ibu dari sebagian besar robot berteknologi Cyberbrain yang hidup di Bravaga. Pasalnya banyak robot yang tinggal di kota itu merupakan generasi lama yang dibangkitkan kembali, diperbaiki, atau bahkan dibuat ulang oleh Mother. It...

Everyday Adventure XI: Cloud Fish

Everyday Adventure XI (Cloud Fish) Hari itu kota Bravaga terlihat berbeda dari biasanya. Kota yang sepenuhnya dihuni oleh robot dan mesin itu terlihat begitu hijau dan dipenuhi dengan bunga yang berwarna-warni. Semak belukar terlihat menghiasi jalanan utama yang membelah kota, sementara beberapa pohon tinggi terlihat bertengger dengan posisi tidak wajar di beberapa sudut kota. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat seolah sedang setengah memanjat bangunan-bangunan kota yang terbuat dari beton dan baja. Bukan. Kota para robot ini bukannya sudah ditinggalkan oleh penghuninya dan kemudian berubah menjadi hutan belantara, seperti nasib kota-kota lain di sekitarnya. Hanya saja, untuk kali ini, hutan belantara lah yang ‘mendatangi’ kota Bravaga. Pohon, semak, dan tanaman menjalar yang baru saja menginvasi kota itu tidak lain adalah ‘Travelling Trees’, atau ‘Pohon Pengembara’, yang kadang juga disebut sebagai ‘Tumbuhan Berjalan’. Tentu saja kemunculan mereka tidak lengkap ...

9th Spiral: Thunderclap

Ada yang bilang kalau cuaca di jaman sekarang ini susah ditebak perilakunya. Bisa jadi pagi hari hujan deras, kemudian siangnya matahari bersinar dengan terik, diikuti dengan gerimis di sore hari, dan hujan angin di malam hari. Apalagi cuaca di kota Jakarta. Sudah tidak aneh lagi ketika di satu sisi kota sedang dilanda hujan lebat disertai angin kencang, tapi di kota satelit terdekat sama sekali tidak ada tanda-tanda akan hujan. Cuaca lokal yang sulit diprediksi –dan menyebalkan– sudah bukan lagi hal baru bagiku. Sudah sering aku berkendara dalam dua sampai tiga tipe cuaca sekaligus hanya dalam rentang waktu beberapa jam saja. Mungkin itu sebabnya sekarang ini televisi sudah hampir tidak pernah lagi menampilkan yang namanya ramalan cuaca, sebab ramalan itu hampir bisa dipastikan akan meleset. Yah, sebagai gantinya sih sekarang aku bisa menggunakan aplikasi di smartphone untuk melihat ramalan cuaca setiap hari, tapi tetap saja hasilnya sering salah total. Seperti sekarang m...

8th Spiral: Blind Vision

Pertama kalinya aku bertemu dengan nenek tua itu adalah di sebuah persimpangan jalan protokol yang membelah jantung kota Jakarta. Tidak ada yang istimewa dari nenek itu, kecuali fakta bahwa dia buta. Sebelah tangan nenek itu tampak memegangi tongkat kayu belang warna merah dan putih. Kedua matanya tertutup selagi dia berjalan. Sesekali dia diam dan sekilas terlihat seperti sedang mengamati keadaan sekelilingnya dengan kedua telinganya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dilakukan nenek itu, tapi sedetik kemudian perhatianku teralih sepenuhnya. Soalnya nenek tuna netra itu baru saja berniat menyeberangi salah satu jalanan paling padat kendaraan di kota Jakarta! “AWAS!” Tanpa pikir panjang, aku berlari menghampiri nenek itu dan mencengkeram kedua bahunya, kemudian menariknya mundur, tepat sebelum si nenek tersambar oleh sebuah mobil mewah yang melintas dengan kecepatan tinggi. Sepintas aku mendengar suara sumpah serapah dilontarkan dari jendela mobil yan...

7th Spiral: Kingdom of Cats

Konon katanya kucing itu kalau hidup terlalu lama, dia akan berubah jadi siluman. Yah ... setidaknya itu kata orang Jepang sih. Sejujurnya aku tidak pernah ambil pusing soal itu. Setidaknya tidak sampai aku benar-benar mengetahui kalau ungkapan itu bukan cuma omong kosong belaka. Pagi itu seperti biasanya aku pergi ke kantor, kemudian meluncur kembali ke jalanan padat kota Jakarta untuk mengantar paket-paket klienku. Setelah berkutat dengan kegilaan dan kengerian lalu lintas kota, sorenya aku pulang ke rumah. Tapi tidak seperti biasanya, sewaktu aku melintasi jalan yang biasa kulalui, aku menyadari ada sesuatu yang lain. Tepat di tengah jalan, aku melihat seekor kucing tergolek lemas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya dia baru saja ditabrak oleh kendaraan yang melintas di jalanan. Dari kondisinya, lukanya sih tidak terlihat parah, tapi kucing itu tidak bisa bergerak. Entah karena syok, atau memang ada luka dalam yang tidak terlihat dari luar. Yak. Aku tahu t...

6th Spiral: Lady of The Trees

Setiap kali aku melihat jalan protokol yang menjadi halaman depan kota Jakarta, aku tidak pernah berhenti untuk merasa takjub dengan pemandangan yang kulihat. Deretan gedung-gedung tinggi berdiri kokoh menentang langit, seolah-olah benar-benar ingin menggapai awan jauh di atas sana. Jalanan lebar yang tidak pernah lengang dari berbagai jenis kendaraan yang melintas, dan tidak jarang, berhenti total selama berjam-jam karena kepadatan lalu lintas yang luar biasa. Kalau terus berjalan menyusuri jalanan ini, aku pasti akan sampai ke sebuah tanah lapang yang dihiasi sebuah monumen dengan puncak emas. Monas. Salah satu ikon ibukota negara ini. Di hari-hari biasa, tempat itu tidak terlalu ramai dikunjungi orang. Tapi begitu memasuki akhir pekan atau hari libur nasional, bisa ratusan orang tiba-tiba tumpah ruah memadati lapangan itu. Aku pun demikian. Hampir setiap akhir pekan aku datang ke lapangan Monas untuk berolahraga, kemudian duduk-duduk santai menyaksikan keramaian di seki...

5th Spiral: Midnight Ship

Kata orang hujan itu membawa berkah. Kurasa sih begitu ... kalau turunnya di tempat lain, bukan di Jakarta. Di kota Megapolitan ini hujan lebat selama beberapa jam berturut-turut tidak pernah gagal membawa masalah. Air yang tumpah dari langit, tidak bisa lagi ditahan oleh aliran sungai yang menyempit dan tergusur oleh megahnya bangunan-bangunan kota Jakarta. Lahan-lahan hijau yang dulunya berfungsi bagaikan spons, kini sudah tertutup oleh lapisan aspal dan beton tebal. Pohon-pohon yang dengan senang hati menyerap kelebihan air, sudah lama sekali hilang dan digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit. Tentu saja akibatnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Banjir. Hampir setiap beberapa tahun sekali Jakarta selalu lumpuh akibat banjir yang melanda sebagian besar wilayahnya. Genangan air yang bertahan berhari-hari di berbagai sudut kota seolah mengingatkan penduduknya akan wujud asli kota ini sebelum manusia datang. Aliran sungai-sungai yang telah lama hilang dan terlupa...